Jurnal Guru Fisika Indonesia Vol 2 Tahun I April 2016 61belajar pada siklus I dan II Peningkatan ini dapat
DIDIK DALAM MENDESAIN SEBUAH PRESENTASI Bakhiar
Guru Fisika SMA N 1 VII Koto Sungai Sarik [email protected]
Abstrak
Rendahnya hasil belajar Teknologi dan Informasi dan Komunikasi(TIK) di SMA N 1 VII Koto pada materi Desain Presentasi Power Poindisebab beberapa faktor diantaranya yaitu :kurangnya ketersediaan sarana komputer, sehingga peserta didik harus belajar dengan menggunakan komputer satu berdua dan bahkan satu bertiga, sementara itu materi Power Poin membutuhkan latihan yang intensif, sehingga timbul permasalahan yaitu peserta didik memiliki keterbatasan waktu dalam belajar sehingga tidak memunculkan kreatifitas, tidak tuntasnya materi pada waktu yang telah ditetapkan, dan penyampaian materi berupa teori sering lupa sehingga kesulitan dalam mengerjakan latihan serta kurangnya penerapan materi TIK dalam mata pelajaran lain.Untuk mengatasi hal tersebut metode yang tepat untuk mengatasi adalah dengan metode Tutor Sebaya dan kolaborasi dengan mata pelajaran fisika dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode Tutor Sebaya dan Kolaborasi dengan Mata Pelajaran Fisika dapat meningkatkan kreatifitas siswa kelas XII IPA-1. Dari 26,67 % pada kondisi awal menjadi 50,00 % pada kondisi akhir
Kata Kunci : KreatifitasBelajar, Metode Tutor Sebaya ,Tindakan Kelas, SMA N 1 VII Koto Sungai Sarik. PENDAHULUAN
Teknologi Infromasi dan Komunikasi (TIK) merupakan salah satu mata pelajaran pada tingkat SMA pada kurikulum KTSP yang cukup memegang peranan yang sangat penting dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional. Salah satu tujuan pendidikan adalah terciptanya peserta didik nantinya yang siap pakai di dunia kerja. Untuk memenuhi hal tersebut penguasaan terhadap Teknologi dan Informasi adalah syarat mutlak untuk dipenuhi.
PowerPoint sebagai bagian dari materi TIK kelas XII di SMA memberikan kompetensi kepada peserta didik untuk bisa berkreatvitas untuk membuat desain-desain presentasi yang berguna dalam kehidupan seperti membuat presentasi sebagai tugas mata pelajaran atau kuliah, presentasi nantinya sebagai tugas dari perusahaan atau kantor. Peserta didik yang menguasai dan mampu berkreatvitas dalam menggunakan software tersebut akan berguna nantinya oleh peserta didik di pendidikan yang lebih tinggi dan di dunia kerja. Penguasaan pada materi PowerPoint juga akan mendukung segala bentuk jenis pekerjaan yang membutuhkanpresentasi pada publik.
Selama ini pembelajaran TIK di SMA N 1 VII Koto dilakukan dengan penggunaan komputer satu berdua bahkan satu bertiga di dalam pembelajaran TIK sementara peserta didik yang satu mengerjakan latihan sesuai dengan petunjuk pendidik
peserta didik yang lain hanya menonton dan menyaksikan temannya dalam bekerja, hal ini menyebabkan kurangnya motivasi, kurang berminat yang berakibat rendahnya kreativitas peserta didik dalam pembelajaran PowerPoint. Sementara itu materi PowerPoint membutuhkan latihan yang intensif untuk mengaplikasikan teori-teori tentang desian sebuah presentasi yang baik, agar peserta didik dapat berkarya dan menciptakan sebuah presentasi sesuai dengan yang diinginkan. Pembelajaran yang bergantian menggunakan komputer memberikan efek rendahnya kreativitas dan hasil belajar peserta didik.
Dampak dari kreativitas yang rendah tersebut berdampak pula pada hasil pembelajaran yang rendah juga. Hal ini sesuai dengan pengalaman penulis sudah 3 tahun mengajar di kelas XII yaitu kelas XII IPA-1 , khusus untuk Standar Kompetensi Menggunakan perangkat lunak pembuat presentasikemampuan peserta didik masih rendah. Pada tahun ajaran 2014-2015 dari 30peserta didik dalam membuat presentasi menggunakan PowerPoint hanya 10 (33,33 %) orang siswa yang tuntas dengan KKM 75 , sisanya 20 orang (66,66%) di bawah KKM,
Kemungkinan penyebab dari permasalahan diatas adalah guru belum menggunakan metode, strategi dan cara yang dapat mengakomodir keterbatasan dan kekurangan dalam proses
64
pembelajaran TIK, untuk itu guru harus berupaya menggunakan metode yang dapat menutupi kekurangan sarana yang tersedia di sekolah dan metode yang dapat meningkatkan gairah dan motivasi peserta didik sehingga dapat meningkatkan kreativitas peserta didik dalam berkreasi dalam membuat sebuah presentasi menggunakan PowerPoint. Salah satu caranya adalah menggunakan metode tutor sebaya dan berkolaborasi dengan mata pelajaran lain dalam segi isi presentasi dalam meningkatkan kreativitas yang bermanfaat dalam proses pembelajaran .
Metode tutor sebaya merupakan sebuah metoda dengan melibatkan peserta didik dalam membimbing temannya yang lain, menurut Arikunto (1986: 77) tutor sebaya adalah seseorang atau beberapa orang peserta didik yang ditunjuk oleh pendidik sebagai pembantu pendidik dalam melakukan bimbingan terhadap kawan sekelasnya. Intisari dari model pembelajaranTutor Sebaya adalah pembelajaran yang terpusat padapeserta didik, dalam hal ini peserta didik belajar daripeserta didik lain yang memiliki status umur,kematangan/harga diri yang tidak jauh berbeda daridirinya sendiri (Djamarah dan Zain, 2002: 29). Metode ini juga memberikan peluang kepada peserta didik untuk bebas bertanya kepada temannyajika ada hal yang kurang paham atau materi yang tidak dimengerti begitu juga dengan peserta didik yang sebagai tutor akan dapat lebih mendalam dalam materi yang dikuasainya melalui pemberian bimbingan kepada temannya. Metode tutor sebaya dapat membuat peserta didik belajar dan saling bertukar informasidengan peserta didik lain, sehingga peserta didik tidakakan merasa malu untuk bertanya dan mengemukakanpendapat. Sesuai dengan pendapat Sukmadinata(2007: 5-6) yang menyatakan bahwa bantuan belajardari teman sebaya dapat menghilangkankecanggungan, bahasa teman sebaya lebih mudahdipahami, selain itu dengan teman sebaya tidak adarasa enggan, rendah diri dan maluDari penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwa metode tutor sebaya akan memberikan peluang dan keluwesan bagi peserta didik dalam berintreaksi dalam lingkungan belajar sehingga peserta didik merasa lebih enjoy dan nyaman sehingga dapat mengeluarkan potensi dirinya dalam berkreativitas.
Kreativitas erat kaitannya hubungannya dengan hasil belajar, hal ini seperti yang dijelaskan oleh Asrori (2007:60) yang mengatakan bahwa perkembangan kreativitas erat kaitannya dengan perkembangan kognitif karena kreativitas sesungguhnya merupakan perwujudan dari pekerjaan otak. Hal ini berarti kreativitas mencakup kemampuan kompetensi kognitif dan kemampuan psikomotor
yang merupakan komponen hasil belajar pada mata pelajaran TIK pada kurikulum KTSP. Utami Munandar (1992:47) dalam Asrori (2007:62) mendefinisikan kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan dan orisinalitas dalam berpikir serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan. Lebih lanjut juga dijelaskan kreativitas merupakan suatu hasil intereaksi peserta didik dengan lingkungannya. Kreativitas terdiri dari empat kategori yaitu product, person, process dan press. Product menenkankan pada hasil karya yang kreatif, person memandang kreativitas dari segi ciri- ciri individu yang menandai kpribadian yang kreatif, process menekankan bahwa kreatif melalui sebuah proses, sedangkan procces menekankan pentingnya faktor-faktor pendukung timbulnya kreativitas pada seseorang. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa kreativitas adalah suatu hasil yang baru dari suatu individu atau memperbaiki karya yang ada atau menggabungkan karya untuk hasil yang baru melalui suatu proses intereaksi dengan lingkungan dengan cara berfikir divergen yang berguna untuk kehidupan.
Kreativitas dipengaruhi oleh beberapa faktor, Utami Munandar (1988) dalam Asrori (2007:74) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas adalah : usia, tingkat pendidikan orang tua, tersedianya fasilitas, dan penggunaan waktu luang. Clark (1983) juga sudah menjelaskan bahwa faktor pendukung perkembangan kreativitas diantaranya situasi memungkinkan timbulnya banyak pertanyaan dan situasi yang mendorong dalam rangka menghasilkan sesuatu. Hal ini berarti kreativitas akan muncul jika ada kebebasan dan adanya tuntutan yang membuat peserta didik terpancing untuk berkreasi dengan baik.
PowerPoint merupakan adalah program aplikasi untuk membuat presentasi secara elektronik yang handal. Presentasi Power Point dapat terdiri dari teks, grafik, objek gambar, clipart, movie, suara dan objek yang dibuat program lain (Purnomo Hadi 2009). Program ini pun dapat dicetak secara langsung menggunakan kertas, atau dengan menggunakan transparansi untuk kebutuhan presentasi melalui Overhead, serta dapat dicetak untuk ukuran slide film. Apabila dibutuhkan dibagikan kepada audiens sebagai bahan pendukung dalam presentasi, maka kita dapat mencetaknya seperti notes, handout dan outline. Kita juga dapat menampilkan presentasi secara online baik melalui internet maupun intrane.
Pada tingkat SMA materi tentang PowerPoint dipelajari di kelas XII semester 2 dengan SK Menggunakan perangkat lunak pembuat
65
presentasi dan terdiri dari 3 KD (kompetensi dasar ) yaitu : KD 1.1 “Menunjukkan menu ikon yang terdapat dalam perangkat lunak pembuat presentasi” , KD 1.2 “Menggunakan menu, ikon yang terdapat pada perangkat lunak pembuat presentasi” dan KD 1.3 “Membuat presentasi teks variasi tabel grafik, gambar dan diagram”. Dari ketiga KD tersebut peserta didik akan mampu membuat sebuah presentasi yang baik. Agar peserta didik dapat membuat sebuah presentasi yang baik sesuai dengan maksud yang di buat yaitu sebagai alat untuk menjelaskan sebuah ide, keyakinan atau materi dalam pembelajaran, maka diambil materi pelajaran yang banyak memerlukan penggunaan fitur-fitur dalam software PowerPoint yaitu materi pelajaran Fisika.
Kolaborasi materi presentasi dengan materi fisika sesuai dengan kajian literatur sebelumnya yang menyatakan bahwa salah faktor pendukung peserta didik untuk berkreativitas adalah adanya tuntutan. Setelah berkordinasi dengan guru fisika, bahwa salah satu tugas materi fisika adalah membuat presentasi untuk materi Induksi elektromagnetik. Dengan adanya kerjasama ini maka peserta didik dalam berkreativitas membuat presentasi tidak asal-asalan dan akan sesuai dengan tujuan yang diinginkan yaitu menyampaikan isi materi pelajaran tentang mata pelajaran fisika, untuk tujuan atau konten ini penilaiannnya diserahkan pada guru fisika dan diambil sebagai nilai pendukung bagi penilaian hasil belajar TIK dari segi penilaian konten atau isi.
Kreativitas peserta didik dalam materi membuat presentasi ini lebih menekankan kepada product yang dihasilkan oleh peserta didik, yang dilihat dari segi kegrafisan (mempraktekkan teori yang sudah ada) , isi (content), dan cakupan komponen objek dalam presentasi (sebagai Peraga). Kreativitas lebih dihubungkan dan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran TIK dalam ranah psikomotor untuk setiap pertemuan atau setiap indikator .
Metode
Jenis penilitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas. Menurut Yudhistira 2013, bahwa PTK adalah action research yang dilaksanakan guru dalam kelas. Action research pada hakikatnya merupakan rangkaian “riset-tindakan”, yang dilakukan secara siklus, dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Konsep pokok action research menurut Kurt Lewin terdiri dari empat komponen yaitu : (1) perencanaan (planning), (2) tindakan (acting), (3) pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflecting).
Subjek dari Penelitian ini, Siswa kelas XII IPA-1 sebanyak 30 orang, dengan 23 orang perempuan dan 7 orang laki-laki, pemilihan kelas yang akan dijadikan subjek penelitian didasari bahwa peneliti guru di kelas tersebut. Yang terlibat dalam penelitian ini saya guru TIK dan dibantu guru TIK lain sebagai pengamat.
Penelitian dilakukan dalam dua siklus. Siklus 1 dilakukan 6 kali pertemuan dan siklus II juga 4 kalipertemuan. Variabel yang dimamati, Metode Tutor sebaya dan kolaborasi sebagai penyebab dan kreativitas belajar sebagai akibat. Penelitian ini dilakukan di SMA N 1 VII Koto Sungai Sarik semester 1 Tahun Pelajaran 2014-2015 pada kelsa XII IPA-1
Dalam penelitian ini, peneliti dibantu oleh guru lain sebagai observer dan peneliti sendiri. Peneliti sebagai perencana tindakan artinya peneliti membuat perangkat pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Perlu diketahui bahwa yang mengajar atau melaksanakan tindakan adalah peneliti sendiri, peneliti sebagai pengumpul data, penganalisis data dan sekaligus pembuat laporan hasil penelitian. Sesuai dengan hakekat penelitian tindakan kelas, siklus kedua merupakan perbaikan siklus pertama.
Data yang diperoleh pada penelitian ini adalah sumber data sekunder diperoleh dari hasil pengamatan yang dilakukan kolaborator. Sumber data adalah seluruh peserta didik kelas XII IPA-1 sebanyak 30 orang, dengan 23 orang perempuan dan 7 orang laki- laki, peserta didik merupakan sumber data secara klasikal.
Untuk mengumpulkan data dalam penelitian tindakan kelas ini digunakan instrumen penelitian. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Lembar observasi/pengamatan untuk mencari data kreativitas belajar XII IPA-1 siklus I dan II. tekniknya dengan pengamatan atau observasi.
Kegiatan kreativitas yang diamati dalam penelitian ini yaitu kegrafisan, isi dan cakupan komponen objek dalam presentasi. Untuk isi pengamatan diambil hanya satu kali untuk setiap siklus atau diambil pada hasil desain presentasi terakhir dengan meminta penilaian dri guru fisika. Untuk kegrafisan dan komponen presentasi kriteria disesuai dengan kriteria penilaian materi untuk setiap pertemuan atau penilaian untuk setiap indikator.
Data pengamatan kreativitas peserta didik dilakukan untuk setiap pertemuan, kemudian untuk satu siklus diambil data kreativitas rata-rata, kemudian dianalisis dalam bentuk presentase. Presentase aktifitas dalam proses pembelajaran di tentukan dengan menggunakan formulasiPerolehan data selama penelitian akan dianalisis sebagai berikut:
66
P =N
n
x 100 %. (1) Keterangan :P = Presentasi kreativitas peserta didik n = Jumlah peserta didik yang berkreatvitas N = Jumlah siswa yang hadir
Tabel 1. Pedoman penskoran
Kriteria pencapaian indikator adalah 60 % siswa mencapai rerata skor kreativitas belajar lebih besar dari 3,00 (kualifikasi baik) pada siklus 1 dan 70 % peserta didik mencapai rerata skor aktivitas belajar lebih besar dari 3,00 (kualifikasi baik) pada siklus II. Skor lebih besar dari 3,00 (kualifikasi baik) merupakan skor kreativitas belajar dalam skala maksimum 5.