Best practice ini merupakan pengalaman karena kesulitan siswa dalam memahami materi aliran kalor secara radiasi dan tidak tersedianya media yang dapat digunakan dalam eksperimen materi tersebut, maka dirancanglah alat sederhana yang mengaplikasikanan konsep suhu dan kalor dengan judul “limas kaca tenaga surya sebagai aplikasi efek rumah kaca dan pengomposan” sebagai media pembelajaran dan pada gilirannya dapat memancing terbentuknya life skill bagi siswa. Penelitian ini berbentuk penelitian pengembangan yang dijadikan best practice yang menghasilkan produk karya kreatif dan inovatif sebagai alat peraga dalam pembelajaran dan dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari hari dan dapat digunakan oleh teman sejawat.Subjek penelitian adalah siswa kelas X MIA 5 SMAN I Unggul Bukittinggi yang berjumlah 31 orang.Temuan penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan limas kaca tenaga surya dapat meningkatkan kompetensi pembelajar dalam mengaplikasikan konsep kalor dan efek rumah kaca serta dapat dimanfaatkan untuk proses pengomposan.
Kata kunci : Limas kaca, effek rumah kaca , life skill PENDAHULUAN
PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 19 menyatakan bahwa “ Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberi ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”.
Fisika merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari peristiwa dan fenomena alam. dengan kejadian nyata dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun dalam kenyataan masih ada persepsi orang tentang pelajaran fisika sebagai pelajaran yang menakutkan, penuh rumus- rumus dan susah dipahami.
Guru sebagai orang yang terlibat langsung dalam pembelajaran diharapkan dapat merobah paradigma ini, yaitu dengan menciptakan iklim pembelajaran yang menarik, bersemangat dan memotivasi siswa melalui berbagai strategi. Dari bermacam teori dan model pembelajaran yang penulis pelajari, baik yang konvensional sampai kuantum, ada beberapa anasir pertanyaan yang menjadi masalah, diantaranya; 1) apa yang akan diajarkan, 2) siapa yang belajar, 3) apa mamfaatnya, 4) dengan cara
apa diajarkan, 5)bagaimana mengontrolnya 6) apa aplikasinya.
Keenam masalah ini, menuntut jawaban satu persatu. Apa yang akan diajarkan menyangkut bobot materi dan penguasaan materi, seberapa hebatnya strategi mengajar dikuasai, tetapi tanpa penguasaan bahan yang baik, tidak akan berpengaruh kepada keberhasilan siswa. Dalam hal ini diperlukan pengembangan bahan ajar untuk mendukung strategi yang dipilih.
Siapa yang belajar, berrrhubungan dengan karakter belajar siswa, diantaranya adalah pemahaman tentang psikologis remaja dan gaya belajar nya. Siswa visual, audio, dan kinestetik atau kombinasi beberapa gaya belajar menuntuk pengajar memadukan antara pemahaman teori dan praktikum Siswa kinestetik atau yang lainnya, tidak akan pernah puas kalau semua disajikan berupa teori saja, kenyataannya Masih banyak pembelajaran yang hanya disajikan dalam bentuk teori belaka, karena itu dibutuhkan eksperimen dan perwujudan nyata dalam kehidupan, terutama untuk mempersiapkan life skill dalam menjawab tantangan zaman.
Apa manfaatnya, pertanyaan ini yang sangat berpengaruh kepada siswa, terutama dalam memotivasi mereka terhadap topik-topik tertentu. Dengan mempelajari apa manfaatnya, diharapkan terjalin rangsangan emosi, sehingga dapat memancing
32
motivasi dan jaringan penyimpanan di otak yang lebih permanen.Berhubungan dengan apa manfaat ini penulis berusaha mencari tahap aplikasi dari konsep- konsep yang dipalajari, sehingga dapat membuahkan ketrampilan yang disebut dengan life skill
Dengan cara apa diajarkan, pertanyaan ini yang menjadi inti dari best praktice ini. Lufri (2005;1) Menyatakan Kurang berhasilnya siswadalam pembelajaran fisika, salah satu disebabkan penggunaan metode yang kurang tepat. Kendatipunadalaboratorium, namun metode ceramah masih mendominasi dalam penyajian materi.Lufri (2005:1).Setelah sekian lama mengajarkan konsep hantaran kalor secara radiasi, terdapat kesulitan siswa memahaminya, tergambar dari hasil UH yang berhubungan dengan topik ini. Kenyataan selama ini yan pernah di praktikumkan hanya konsep konduksi dan konveksi, sedangkan konsep radiasi sering luput dari praktikum karena tidak tersedianya peralatan praktikum yang memadai berhubungan dengan konsep radiasi ini, karena itu diciptakan alat praktikum dengan nama limas kaca tenaga surya, yang dapat digunakan untuk memperjelas konsep radiasi matahari pada topik Aliran Kalor.
Bagaimana mengontrolnya, masalahnya adalah kerana ada tiga ranah yang menjadi acuan penilaian, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.Kenyataannya tidak semua topik dapat di praktikumkan, karena dengan cara ini ketiga ranah dapat diakses. Kalau metoda ceramah, hanya kognitif saja yang dapat diakses penilaiannya.
Apa aplikasinya, pertanyaan ini apabila ditinjau secara neorologi, jika ada bentuk aplikatif dari sebuah konsep akan menimbulkan kesan bagi siswa. Kesan menimbulkan kekuatan pada jaringan otak untuk mengingat kembali apa yang pernah dipelajari karena melibatkan faktor emosional yang berhubungan langsung dengan otak bawah sadar (unconsicouse mind). Kenyataan tersebut juga mendasari lahirnya alat ini. Tahap aplikasi ini merupakan tahap berfikir high order thinking (HOT), kenyataan ini merupakan kesulitan tersendiri didalam pembelajaran.
Kondisi yang diharapkan adalah adanya penguasaan materi yang kuat, dapat mengakses semua gaya belajar, siswa faham akan manfaat pembelajaran, terdapat beragam metoda pembelajaran, adanyo kontrol ketiga ranah penilaian, dan terdapat aplikasi dalam kehidupan.
Issu tren saat ini adalah adanya pemanasan global yang menyebabkan naiknya suhu permukaan atmosfir bumi, salah satu penyebabnya adalah akibat dari effek rumah kaca. Pada pada pembelajaran fisika
kelas sebelas semester 2 terdapat topik yang membahas pemanasan global. Dalam kenyataannya sering terjadi miskonsepsi dari siswa terhadap pengertian rumah kaca. Kerancuan pemahaman ini membutuhkan alat praktikum atau demonstrasi agar didapat konsep yang jelas terutama untuk materi pemanasan global kelas sebelas semerter dua.
Berdasarkan kenyataan yang demikian dibutuhkam media berupa media yang memanfaatkan bahan daur ulang, limbah kaca, mebel bekas sebagai media pembelajaran dengan judul “Mas Caga Surya
Kasi Radiasi Kaca Pos”Limas Kaca Tenaga surya
sebagai Aplikasi Effek Rumah Kaca dan Pengomposan. Dengan adanya karya ini diharapkan pembelajaran jadi menyenangkan dan memupuk jiwa enterpreneur dalam bentuk life skill untuk menyonsong era globalisasi kedepan.
Metode
Metode yang digunakan adalah diskriptif kwalitatif untuk mengambarkan proses pembuatan alat dan manfaat dalam pembelajaran, sehingga dapat mengakses gaya belajar para pembelajar. Apabila pembelajaran hanya disampaikan dengan ceramah , siswa yang kinestetik melewati dengan mengantuk dan tidak fokus. Diharapkan dengan adanya media ini pembelajar yang mempunyai beragam gaya belajar dapat terakses.
Hasil
Pembuatan alat terbagi beberapa tahapan. Tahap pertama adalah disain untuk keperluan Praktikum pembelajaran suhu dan kalor sub bahagian aliran kalor secara radiasi dan konsep rumah kaca. Pengembangan alat ini terjadi berdasarkan disain awal berbentuk limas kaca ukuran minimalis. Tahapan berikutnya adalah disain dalam bentuk makro, sehingga dapat dimanfaatkan untuk pengeringan sampah dan mempercepat proses pengomposan.