Perguruan tinggi merupakan agen perubahan (agent of change). Sementara itu, faktor pendorong perubahan yang paling dominan adalah informasi. Informasi melahirkan ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan akan menghasilkan inovasi baru. Begitu seterusnya. Siklus pengembangan ilmu pengetahuan ini menjadi lebih pesat dewasa ini dibandingkan dengan beberapa dekade yang lalu. Apa yang menyebabkan perubahan keadaan ini? Jawabannya adalah perkembangan teknologi informasi.
Sarana teknologi informasi, Internet khususnya, telah membuat peralihan dan pengolahan informasi hingga reproduksi ilmu pengetahuan baru terasa semakin terpacu tanpa dapat dikendalikan dan dipastikan kapan dan dimana akan terjadi. Sesuatu yang sebelumnya tidak terbayangkan akan dihadapi, tiba-tiba telah muncul menjadi bagian dari gaya hidup. Kita pun akan merasa ketinggalan apabila tidak mengambil bagian dalam perubahan tersebut. Sekedar mengambil satu contoh dari sekian banyak inovasi baru yang hadir
di sekeliling kita adalah bisnis online melalui e-commerce. Belanja yang dahulunya dilakukan orang dengan cara mendatangi toko untuk membeli sesuatu, kini kegiatan tersebut digantikan dengan media aplikasi untuk memesan barang yang ingin dibeli. Pelanggan tidak perlu secara fisik hadir ke pasar atau mall atau plaza atau tempat perbelanjaan lainnya untuk membeli keperluannya. Pelanggan cukup duduk didepan komputer atau laptop, atau bahkan cukup menggunakan smartphone untuk memesan barang yang diinginkan. Barang akan datang dengan sendirinya di tempat pelanggan setelah pelanggan melakukan transaksi pembayaran online pula. Pergeseran gaya berbelanja online ini berpengaruh pada menurunnya pengunjung pusat-pusat perbelanjaan tradisional, bahkan banyak yang tutup karenanya. Selanjutnya, pembayaran parkir di plaza pada contoh lainnya, sekarang dilakukan hanya dengan men-scan barcode kartu parkir dan kita sudah dapat mengambil kenderaan dan keluar. Uang tidak lagi harus disimpan didalam dompet, melainkan disimpan didalam aplikasi penyimpanan uang untuk membayar berbagai keperluan. Kita sudah memiliki uang digital. Berbagai aplikasi yang menyimpan uang digital diantaranya adalah OVO, Dana, Link Aja dari Telkomsel, dan lain-lain. Tentunya ini merupakan fasilitas lain selain kartu ATM. Kita telah masuk kedalam gaya hidup digital. Kita dipaksa oleh lingkungan untuk mempelajari hal-hal baru yang tak terbayangkan sebelumnya, yaitu memanfaatkan berbagai sarana digital untuk bisa bertahan hidup dalam era digital. Inilah yang disebut dengan “disrupsi.”
Disrupsi sendiri berarti adalah inovasi.(Kasali, 2018a, p. 34) Berbagai inovasi baru telah mengusik ‘zona nyaman’ kehidupan kita. Konsep perubahan teknologi (disruptive technology) membawa perubahan perilaku yang disebabkan oleh berbagai pilihan teknologi yang ada termasuk perubahan dalam praktek-praktek perilaku yang mengiringinya. Didalam dunia akademik, pergeseran teknologi
lahir ketika pendidik menggunakan teknologi dengan cara yang tak pernah terbayangkan oleh para pencipta teknologi itu sendiri. Para akademisi yang memanfaatkan perangkat teknologi dengan cara yang baru, cara yang tak pernah diduga, memungkinkan para peneliti dan perancang untuk mengkonsepsi dunia sosial dari sudut pandang yang berbeda, menggali dari perkembangan inovasi yang berpengaruh. Di perguruan tinggi, pergeseran dari model pembelajaran transmisi ilmu pengetahuan, konten paket dan ceramah sebagai gambaran otoritas kepada model pembelajaran konstruktif dan informal yang melandasi bangunan ilmu pengetahuan dan pengawasan mahasiswa dalam belajar menyajikan berbagai peluang pendidikan yang beragam untuk proses belajar yang lebih mendalam.(Rambe, 2012)
Revolusi informasi telah memberikan pengaruh yang sangat besar bagi pola pendidikan di perguruan tinggi. Berbagai sumber bahan ajar dan pembelajaran tersedia secara digital dalam bentuk electronic book (e-book) atau electronic journal (e-journal). Buku yang dahulunya dikemas dalam bentuk cetak, kini disajikan secara digital. Dengan demikian memudahkan penggunanya untuk berbagi dan memindahkan informasi dari satu penngguna ke pengguna lainnya.
Kasali (2018a, p. 414) menyarankan bahwa perguruan tinggi harus melakukan disrupsi bagi dirinya sendiri. Perguruan tinggi perlu mengembangkan inovasi-inovasi baru dalam proses Pendidikan yang tidak selalu mempertahankan pola-pola pembelajaran yang tradisional. Oleh karena itu, menurutnya, ada beberapa gelombang disruptif dalam Pendidikan, diantaranya adalah:
• “On-demand”. Perguruan tinggi menyediakan jasa pendidikan dan keterampilan termasuk perkuliahan ujian memenuhi kebutuhan pasar.
• “Open sourse”. Perguruan tinggi menyediakan layanan “open source” untuk jasa-jasa pendidikan dan keterampilan.
memproduksi aplikas mobile yang responsive dengan kebutuhan pasar akan pendidikan.
• Kurikulum yang personal dan “tailor made.” Konten kurikulum perguruan tinggi seyogyanya dapat dirancang sesuai kebutuhan pebelajar.
• Layanan konten tanpa batas. Menyediakan konten tanpa batas yang dapat diakses bukan hanya oleh mahasiswanya saja, tetapi juga oleh masyarakat umum.
• Platform pendidikan kolaboratif. Perguruan tinggi mampu menciptakan kerjasama dalam bidang pendidikan
• Kursus dan materi gratis secara online. Perguruan tinggi menyediakan dan mengembangkan materi dan bahan ajar gratis secara online yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa dan masyarakat umum.
Tuntutan disrupsi dunia pendidikan, khususnya yang mem-pengaruhi perguruan tinggi seperti yang diungkapkan oleh Kasali diatas, menuntut pengembangan konten digital. Jika perguruan tinggi bertahan pada pola pendidikan yang “status quo” atau model konvensional dimana kuantitas konten cetak menjadi andalan satu-satunya, yang secara tradisi diturunkan dari waktu ke waktu hingga saat ini, maka perguruan tinggi akan tergilas oleh teknologi dengan sendirinya dan akan ditinggalkan.
Menurut Ismail Fahmi di Indonesia, perkembangan perpus-takaan digital diawali pada tahun 2001 dengan proyek yang diberi nama Indonesian Digital Library Network (IndonesiaDLN) (Theng & Foo, 2005) yang merupakan inisiatif dari Institut Teknologi Bandung. Aplikasi ini dikembangkan dengan menggunakan perangkat lunak open source yang disebut Ganesha Digital Library (GDL). Mayoritas anggota IndonesiaDLN adalah universitas-universitas baik yang berada dibawah pemerintah maupun swasta. Sementara komunitas non akademik sangat sedikit yang memakai aplikasi ini. Pertumbuhan
jaringan perpustakaan digital ini melaju sangat pesat sehingga hanya dalam kurun waktu tiga tahun sudah mencapai lebih dari 90 universitas di Indonesia di berbagai wilayah, meliputi Sumatera hingga Jawa, mengadopsi sistem aplikasi Digital Library Network ini. Inisiatif awal ini diikuti dengan berkembangnya jejaring komunitas dan wilayah seperti Environmental Digital Library Network (JPLH) dan Muhammadiyah Digital Library Network (MDLN). Pada saat proyek perpustakaan digital di berbagai negara mengembangkan protoklol OAI-PMH untuk mengharvest data, Indonesia belum mampu mengikuti perkembangan ini karena kondisi akses Internet di Indonesia pada saat itu berbasis Dial-Up, bukan Unlimited.
Terlepas dari berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh informasi digital di perguruan tinggi sebagaimana digambarkan diatas, kenyataannya dari berbagai survey yang diselenggarakan oleh beberapa universitas di Amerika, masyarakat masih lebih suka menggunakan sumber bacaan tercetak daripada digital. Dengan alasan bahwa bahan bacaan cetak masih lebih nyaman bagi mata, otak dan meta kognitif, 90 persen masyarakat Amerika dan Jerman merasa lebih mudah berkonsentrasi dengan bahan bacaan cetak daripada digital atau elektronik. Namun demikian penerbit menyebutkan bahwa penjualan buku elektronik semakin meningkat secara signifikan sebesar 18 persen.(Moodie, 2016) Inilah barangkali yang menjadi alasan mengapa perpustakaan di perguruan tinggi masih mempertahankan buku cetak disamping menambahkan peng-adaan buku elektronik. Sedikit sekali perpustakaan di perguruan tinggi yang benar-benar menyediakan koleksi digital sepenuhnya yang hanya dapat diakses dengan menggunakan media elektronik seperti komputer atau laptop. Akan tetapi, bukan tidak ada perpustakaan yang menyediakan layanan perpustakaan digital sepenuhnya tanpa koleksi cetak sama sekali. Salah satu contohnya adalah perpustakaan Biological Sciences di Queensland University di
Brisbane, Australia yang menyediakan akses 24 jam per hari selama 7 hari setiap minggu.
Gambar 1 Perpustakaan Biological Sciences Library Queensland University Sumber: koleksi pribadi penulis
Gambar 2 Mesin ATM Buku
Didalam gedung perpustakaan bertingkat tiga yang dapat diakses sepanjang waktu ini tersedia berbagai perangkat dan mesin elektronik yang dilengkapai dengan berbagai meubelair; sementara koleksi buku dengan rak-raknya tidak tersedia. Perangkat elektronis
dan mesin yang disediakan meliputi komputer, mesin photocopy, fax dan scanner, televisi untuk memesan workstation (meja dengan perangkat PC), telepon, mesin ATM buku, serta sarana untuk istirahat yang disebut dengan energy pod. Gambar dibawah ini merupakan beberapa diantara perangkat yang tersedia didalam perpustakaan digital di Queensland University, Australia yang dikunjungi pada tahun 2015.