• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Inovasi dan Tingkat Penerimaan

Sebagaimana dikatakan sebelumnya, bahwa sebuah inovasi tidak serta merta diterima oleh masyarakat. Ada proses pengambilan keputusan yang terjadi sebelum seseorang memutuskan untuk

mengadopsi atau menerima inovasi. Tingkat penerimaan inovasi seseorang ditentukan oleh karakteristik inovasi itu sendiri. Rogers (1995, p. 15) menguraikan bahwa karakteristik inovasi itu adalah sebagai berikut:

• Manfaat relatif (relative advantage) yaitu tingkat dimana inovasi dianggap lebih baik daripada ide atau praktek atau produk yang sebelumnya. Hal ini biasanya diukur melalui perspektif ekonomis, akan tetapi faktor prestis sosial kenyamanan, kepuasan, juga merupakan faktor yang penting. Yang paling penting adalah bagaimana seseorang menganggap bahwa inovasi tersebut bermanfaat. Semakin tinggi seseorang menganggap inovasi tersebut bermanfaat semakin cepat tingkat tingkat penerimaannya. • Kesesuaian (compatibility) yaitu tingkat dimana inovasi dianggap

sebagai sesuatu yang konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman yang lalu dan kebutuhan orang yang yang akan mengadopsi. Sebuah ide yang tidak seseuai dengan nilai dan norma yang berlaku tidak akan diterima secepat inovasi yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku.

• Kompleksitas (complexity) merupakan tingkat dimana inovasi dianggap sulit untuk dipahami atau digunakan. Beberapa inovasi mudah dipahami oleh anggota-anggota komunitas tertentu; sementara yang inovasi lain lebih sulit sehingga lambat untuk diadopsi. Biasanya ide-ide baru yang lebih simple untuk dipahami akan diadopsi lebih cepat daripada inovasi yang membutuhkan orang yang mengadopsinya mengembangkan skil dan pemahaman baru.

• Dapat diuji coba (trialability) merupakan tingkat dimana inovasi dapat diuji coba secara terbatas. Inovasi yang dapat dicoba terlebih dahulu akan lebih cepat diterima daripada inovasi yang tidak memberikan layanan percobaan. Inovasi yang memberikan uji coba merupakan representasi berkurangnya ketidak pastian

karena diberikan kesempatan untuk mempelajari terlebih dahulu. • Dapat diamati (observability) merupakan tingkat dimana hasil

dari sebuah inovasi dapat dirasakan juga oleh orang lain. Orang yang akan mengadopsi inovasi membutuhkan diskusi dengan kolega atau orang lain sebelum memutuskan untuk mengadopsi sebuah inovasi.

Para penerima inovasi selalu mencari hal baru tentang inovasi apa lagi yang akan mereka peroleh, namun sisi yang lain penerima inovasi juga berfikir apakah akan selamanya kita terus diberi hal baru sementara yang lama masih dapat digunakan. Perhitungan resiko apakah itu resko material sampai pada resiko immaterial bagi penerima inovasi sangatlah wajar, dan ini menjadi karakteristik tetap selama inovasi itu digunakan atas dasar sukarela.

Hal lain yang perlu dicatat juga adalah bahwa para penerima inovasi mempertimbangkan waktu, apakah mereka akan menyia-nyiakan waktu hanya untuk mencoba, sementars hal rutin telah membatasi mereka untuk sesuatu yang penting. Namun demikian bagi para penggiat inovasi, mencoba mengkategorikan para penerima inovasi salah satunya adalah: Molenda (1993) menyimpulkan teori dan komponen utilisasi ke dalam tiga bentuk tahapan, yaitu penggunaan (usage), instalasi (installation), dan institusionalisasi (institutionalization). Bagaimana hubungan ketiganya ini dapat dilihat pada gambar 5.

Inovasi diawali dari pemakaian, apakah itu dilakukan secara spontan maupun hanya sesekali. Dari sana kemudian masuk dalam perencanaan program apakah ditetapkan secara permanen atau tidak sebagai sebuah system. Akhir dari kegiatan ini adalah nilai nilai inovasi telah terterima dengan baik menyatu dalam organisasi sekaligus menjadi brend atau penanda bahwa hal tersebut telah tersubsistem pada kehidupan dalam mencapai tujuan. Begitu juga

Gambar 5 Hubungan tahapan penggunaan inovasi

halnya dengan langkah langkah inovasi sebagai sebuah proses, lima langkah yang pernah dikembangkan oleh Rogers dapat dilihat sebagaimana gambar berikut:

Gambar 6 Tahap proses inovasi dalam organisasi Sumber (Rogers, 1995, p. 420)

Kelima langkah di atas jelas menggambarkan bahwa inovasi adalah sebuah proses keputusan untuk dilakukan. Dengan keputusan tersebut maka tahap demi tahap harus dipatuhi untuk menjadikan inovasi sampai pada difusi dan akhirnya adopsi dengan benar.

Pada akhirnya kini, siapa yang paling berperan dalam kegiatan inovasi, difusi dan adaptasi, apakah yang memiliki ide, yang mengembangkan ide, atau pimpinan kelompok penerima ide. Tentu ketiganya memiliki peran yang berbeda tetapi semua memiliki andil dalam proses inovasi. Jadi inovasi tanpa kerjasama para pemerannya tidaklah berarti apa apa. Diantara mereka dapat dikatagorikan sebagai berikut:

a) Para Inovator

Mereka adalah orang yang pertama sekali memperoleh ide atau gagasan dari sebuah inovasi, mereka pula yang pertama menggunakannya, mereka pula yang biasanya mendapatkan keuntungan tetapi juga kerugian dari inovasi tersebut. Jadi resiko ada pada mereka innovator tadi. Dalam penelitian mereka hanya ssekitar 2,50 % dari populasi pengguna inovasi, dimana ciri ciri mereka antara lain adalah orang yang senang terhadap tantangan khususnya tantangan baru, mereka yang memiliki kelebihan uang untuk mengambil resiko dari apa yang mereka putuskan.

b) Para printis atau pelopor inovasi

Dalam kelompok sasaran atau masyarakat atau komunitasa tertentu, biasanya ada pemimpin atau orang yang memiliki kelebihan dibanding orang lain. Mereka inilah yang disebut perintis, atau pelopor dari inovasi, karena dengan keadaan mereka selalu dihadapkan mereka untuk memulainya dulu baru orang lain, baru anggota, baru komunitas. Jadi mereka dikarenakan kedudukan atau keadaan mereka sebelum inovasi

ini dilakukan, itu adalah menjadi bagian penyebab utama mereka disebut sebagai perintis, atau pelopor dari satu inovasi.

c) Pimpinan dari kelompok penerima inovasi.

Penerima inovasi adalah masyarakat pengguna dari inovasi dalam kehidupan sehari hari, merekalah yang menilai apakah inovasi layak untuk diteruskan, dijadikan bagian dari kehidupan, atau mungkin justru ditolak. Dalam hal ini pimpinan masyarakat memiliki peran yang cukup besar, apakah itu pimpinan yang mewakili untuk inovasi tertentu, atau pimpinan yang alami menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Catatan penting dalam hal ini bahwa, para pengguna inovasi memiliki posisi yang sangat kuat terhadap keberlangsungan inovasi, difusi dan adopsi. Maka pimpinan dari mereka adalah menjadi kunci kebehahasilan dari proses yang sedang dijalankan.

Bagaimana kelompok masyarakat melihat inovasi dalam kehidupan mereka, maka hal ini dapat dilihat dari dua bagian penting yakni para pembuat inovasi yang disebut dengan perilaku sumber, dengan mereka yang menggunakan inovasi dalam hal ini disebut dengan perilaku penerima. irisan dari keduanya menjadi penting ketika komunikasi penyebaran inovasi dilakukan. Untuk lebih jelasanya, maka hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1 Perilaku Penerima dan Sumber terhadap Inovasi

Inovasi banyak dilakukan di masyarakat, di organisasi, di pemerintahan, bahkan di pada perorangan tertentu. Tidak ada rumus yang sama bagimana cepanya satu respon atau perubahan yang terjadi apakah pada seorang, komunitas atau masyarakat yang lebih luas. Dari banyak penelitian Rogers, khusunya dari Sembilan penelitian beliau yakni; anthropology, early sociology, rural sociology, education, public health and medical sociology, communication, marketing and management, geography, general sociology and other traditions yang dilakukan, maka Roges sendiri setelah meneliti bertahun tahun tentang kegiatan inovasi, difusi serta adopsi ini. Khususnya dalam bidang pendidikan, maka hal ini tidaklah memberikan hal yang cukup kuat tentang proses inovasi.

Sungguh satu hal yang unik, dimana para ahli biasanya menemukan hal baru dari bidang peneltian dan pendidikan, akan tetapi justru pada kelompok ini kegiatan inovasi difusi dan adopsi hanya dapat diasumsikan 8% berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya.

TEchNoloGy AccEPTANcE moDEl

(TAm)