• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Dimensi dan Gap Kualitas Pelayanan

Secara keseluruhan uraian di atas adalah tentang pengukuran kinerja

pemerintah secara umum. Sedangkan instrumen pengukuran kinerja

pelayanan publik sampai saat ini belum ada, maka dapat dilakukan dengan

menggunakan instrumen pengukuran kinerja pelayanan yang

dikembangkan oleh Zeithaml, Parasuraman dan Berry dalam buku mereka

yang berjudulDelivering Quality Service(1990: 25-26), dimana indikator yang digunakan merupakan ukuran kinerja pelayanan untuk sektor swasta,

yaitu diantaranya:

a. Tangibles (bukti fisik), yaitu bentuk fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai, dan sarana komunikasi.

b. Reliability(keandalan), yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan.

c. Responsiveness (daya tanggap), yaitu kemampuan para staf untuk membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan

tanggap.

d. Assurance (jaminan), yaitu mencakup pengetahuan, kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staf sehingga pelanggan bebas

dari bahaya resiko dan keragu-raguan.

e. Empathy (empati), meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan keinginan untuk

2. Gap Model

Pada kenyataanya pelayanan yang diberikan oleh suatu perusahaan

atau instansi pemerintah tidak selalu memberikan tanggapan positif dari

konsumen atau masyarakat secara umum. Hal ini disebabkan karena

adanya beberapa gab atau kesenjangan yang menyebabkan penyajian atau

penyampaian layanan tidak berhasil. Sebagaimana dikemukan oleh

Zeithaml, Parasuraman dan Berry (1990: 37-45), kesenjangan itu

diantaranya sebagai berikut:

a. Gap 1 (gap harapan konsumen-persepsi manajemen). Ini terjadi

apabila, terdapat perbedaan antara harapan-harapan konsumen dengan

persepsi manajemen terhadap harapan-harapan konsumen.

b. Gap 2 (gap persepsi manajemen-persepsi kualitas). Gap persepsi

kualitas akan terjadi apabila terdapat perbedaan antara persepsi

manajemen tentang harapan-harapan konsumen dengan spesifikasi

kualitas pelayanan yang dirumuskan.

c. Gap 3 (gap persepsi kualitas-penyelenggaraan pelayanan). Gap ini

lahir jika pelayanan yang diberikan berbeda dengan spesifikasi kualitas

pelayanan yang telah dirumuskan.

d. Gap 4 (gap penyelenggaraan pelayanan-komunikasi eksternal). Terjadi

akibat dari adanya perbedaan antara pelayanan yang diberikan dengan

e. Gap 5 (gap kualitas pelayanan). Gap kualitas pelayanan ini terjadi

karena pelayanan yang diharapkan oleh konsumen tidak sama dengan

pelayanan yang senyatanya diterima oleh konsumen.

D. Kantor Bersama Samsat 1. Dasar Hukum

Dalam melaksanakan tugasnya sebagai bagaian dari pelayanan publik,

Kantor Bersama Samsat memungut Pajak Kendaraan Bermotor berdasar

pada hukum (http://www.lantas.polri.go.id), yaitu:

a. Instruksi Bersama Menteri Pertahanan Keamanan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan Nomor: Ins/03/1999, Nomor: 29 Tahun 1999 dan Nomor 6/IMK.014/1999 tentang Pelaksanaan Sistem Administrasi Manunggal Di Bawah Satu Atap dalam Penerbitan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor, Surat Tanda Coba Kendaraan Bermotor, Tanda Nomor Kendaraan Bermotor, Tanda Coba Kendaraan Bermotor dan Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor serta Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan.

b. Surat keputusan Bersama Kapolri, Dirjen PUOD dan Dirut PT. (Persero) Jasa Raharja No. Pol : Skep/06/X/1999, Nomor 973– 1228 dan Nomor : Skep/02/X1999 tanggal 15 Oktober 1999 tentang Pedoman Tata Laksana Sistem Administrasi Manunggal Di Bawah Satu Atap dalam Penerbitan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor, Surat Tanda Coba Kendaraan Bermotor, Tanda Nomor Kendaraan Bermotor, Tanda Coba Kendaraan Bermotor dan Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor serta Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan di kantor Bersama Samsat.

2. Pengertian

Masyarakat secara umum mengenal Kantor Bersama Samsat hanya

sebagai tempat pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan

pengurusan Bea-Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB), tetapi

Dengan pengertian yang diberikan seperti dibawah ini Kantor Bersama

Samsat dapat dimengerti peranannya secara jelas (www.lantas.polri.go.id),

yaitu:

SAMSAT singkatan dari sistem Administrasi Manunggal di Bawah Satu Atap, yaitu suatu sistem kerjasama secara terpadu antara Polri, Dipenda dan PT Jasa Raharja (Persero) dalam pelayanan untuk menerbitkan STNK/TNK yang dikaitkan dengan pemasukan uang ke Kas Negara baik melalui PKB, BBN-KB dan SWDKLLJ dan dilaksanakan pada satu kantor yang diberi nama KANTOR BERSAMA SAMSAT.

3. Gedung Kantor Bersama Samsat

Untuk menunjang kegiatan operasional, Kantor Bersama Samsat

dilengkapi dengan gedung dengan pendekatan sebagai berikut:

a. Pengadaan, pemeliharaan serta pengembangan prasarana dan sarana

Kantor Bersama Samsat dilaksanakan oleh pemerintah daerah dan

bantuan dari instansi terkait pada Kantor Bersama Samsat.

b. Dalam perencanaan pembangunan Kantor Bersama Samsat terlebih

dahulu diadakan koordinasi/konsultasi antar instansi terkait.

4. Pengelolaan Bersama Kantor Samsat

Susunan keanggotaan Tim Pembina Samsat terdiri dari unsur

Departemen Dalam Negeri, Markas Besar kepolisian Negara Republik

Indonesia, Departemen Keuangan dan PT (Persero) Jasa Raharja. Biaya

Tim Pembina samsat dibebankan kepada biaya operasional melalui

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Propinsi dan PT. (Persero) Jasa

5. Koordinator Samsat

Dalam mengatur teknis administrasi dan teknis operasional

ditetapkan koordinator Kantor Bersama Samsat. Anggota koordinator

tersebut diantaranya yaitu Dirlantas, Polda/Kabag Lantas, Polwil/Kasat

Lantas, Polwiltabes, dan Polres/Polresta.

Tugas pokok dari koordinator Samsat antara, lain yaitu:

a. Mengkoordinir ketiga instansi di luar kegiatan teknis

administrasi/teknis operasional masing-masing instansi.

b. Mengatur tata ruang kerja dan tata ruang kerja gedung Kantor Bersama

samsat

c. Menentukan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan guna menunjang

operasional Samsat.

d. Mempertanggungjawabkan seluruh kegiatan kepada Tim Pembina

Samsat Daerah.

6. Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor

Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Terpadu mempunyai tugas

melaksanakan sebagian tugas Kantor Pendapatan Daerah di bidang

penyelenggaraan pelayanan terpadu, diantaranya adalah pemungutan Pajak

Kendaraan bermotor.

a. Pengertian

Berikut ini merupakan beberapa pengertian yang berhubungan dengan

pajak kendaraan bermotor secara langsung (http://www.jakarta.go.id):

1) Kendaraan Bermotor (KBM) adalah semua kendaraan beroda dua atau lebih beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis

jalan darat, dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang bergerak.

2) Pemilik Kendaraan Bermotor adalah orang atau badan/badan hukum yang namanya tercantum di dalam Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).

3) Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) adalah pajak yang dipungut atas

pemilikan dan penguasaan kendaraan bermotor.

b. Obyek dan Subjek Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)

Kepemilikan dan atau penguasaan kendaraan bermotor merupakan

objek pajak. Sedangkan orang pribadi atau badan yang memiliki dan

atau menguasai kendaraan bermotor menjadi subjek pajak.

Karena Pajak Kendaraan Bermotor merupakan pajak yang bersifat

kebendaan maka tidak memperhatikan keadaan subjek pajak.

c. Sistem pemungutan

Sistem pemungutan yang berlaku pada Pajak Kendaraan Bermotor

pada dasarnya menganut sistem self assessment(penetapan pajak oleh wajib pajak sendiri). Dalam sistem ini wajib pajak harus aktif, sedang

fiskus dalam pelaksanaannya hanya memberi bimbingan, pengarahan

dan mengawasinya.

Keuntungan sistem ini bahwa wajib pajak dapat langsung mengontrol

pajaknya, kesalahan penetapan pajak dapat dengan mudah dikoreksi

Dokumen terkait