• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dimensi Fitur Produk

BAB II KERANGKA TEORI

2.2 Fitur Produk

2.2.2 Dimensi Fitur Produk

Menurut Isliko (Sari, 2016:49) fitur produk diukur melalui tiga indikator yaitu:

1. Keragaman fitur

2. Fitur sesuai dengan harapan 3. Fitur memiliki keunggulan

Sedangkan menurut Mullins et al, 2005 (Puteri, 2015:35) apabila perusahaan ingin mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam pasar, perusahaan harus mengerti aspek dimensi apa saja yang digunakan oleh konsumen untuk mebedakan produk yang dijual perusahaan tersebut dengan produk pesaing.

Dimensi fitur terdiri dari:

1. Kinerja produk 2. Pelengkap produk 2.3 Keputusan Pembelian

2.3.1 Pengertian Keputusan Pembelian

Menurut Schiffman dan Kanuk (2004:547) keputusan pembelian adalah pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian, artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan, haruslah tersedia beberapa alternatif pilihan. Dengan kata lain, keputusan pembelian adalah saat dimana seseorang

akanmenentukan apakah ia akan membeli atau tidak membeli terhadap suatu produk.

Keputusan pembelian adalah sebuah pendekatan penyelesaian masalah pada kegiatan manusia untuk membeli suatu barang atau jasa dalam memenuhi keinginan dan kebutuhannya yang terdiri dari pengenalan kebutuhan dan keinginan, pencarian informasi, evaluasi terhadap alternatif pembelian, keputusan pembelian, dan tingkah laku setelah pembelian (Swastha dan Handoko, 2000:15).

Dari beberapa pernyataan para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa keputusan pembelian adalah kegiatan seseorang untuk memilih dan menerapkan keputusan dari dua atau lebih alternatif untuk membeli suatu produk untuk memenuhi kebutuhannya.

2.3.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian

Menurut Abdullah dan Tantri (2016:112) ada beberapa faktor utama yang memengaruhi perilaku pembelian. Gambar berikut memperlihatkan sebuah model terinci dari faktor-faktor yang memengaruhi perilaku pembelian konsumen

Sumber: Abdullah dan Tantri, 2016 Budaya

Gambar 2.1 Model Terperinci Mengenai Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perilaku Pembelian

1. Faktor Budaya

Faktor-faktor budaya mempunyai pengaruh yang paling luas dan mendalam terhadap perilaku konsumen.

Kultur, kultur (kebudayaan) adalah determinan paling fundamental dari keinginan dan perilaku seseorang. Seseorang memperoleh serangkaian nilai (values), persepsi, dan perilaku melalui keluarganya dan institusi-institusi utama lainnya.

Subkultur, setiap kultur terdiri dari sub-subkultur yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik bagi para anggotanya. Subkultur mencakup kebangsaan, agama, kelompok ras, dan daerah geografis. Banyak subkultur membentuk segmen pasar yang penting, dan para pemasar kerapkali merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan.

Kelas Sosial, semua masyarakat manusia menunjukkan stratifikasi sosial.

Stratifikasi kadang-kadang berupa sistem kasta, namun yang lebih sering adalah stratifikasi dalam bentuk kelas sosial. Kelas sosial adalah divisi atau kelompok yang relatif homogen dan tetap dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan anggota-anggotanya memiliki nilai, minat, dan perilaku yang mirip.

2. Faktor Sosial

Perilaku seseorang konsumen juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial seperti kelompok acuan (kelompok referensi), keluarga, serta peran dan status sosial.

Kelompok Acuan, banyak kelompok memengaruhi perilaku seseorang.

Kelompok acuan seseorang terdiri dari semua kelompok yang mempunyai pengaruh langsung (tatap muka) atau pengaruh tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang. Kelompok-kelompok yang mempunyai pengaruh langsung terhadap seseorang disebut kelompok keanggotaan (membership groups). Ini merupakan kelompok di mana orang tersebut ikut serta dan

berinteraksi. Sebagian merupakan kelompok primer, seperti keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja, yang mana orang tersebut secara terus-menerus berinteraksi dengan mereka. Kelompok primer cenderung bersifat informal. Seseorang juga termasuk dalam kelompok sekunder, seperti kelompok religius, kelompok profesi, dan kelompok asosiasi perdagangan, yang cenderung bersifat lebih formal dan mempunyai interaksi yang tidak begitu rutin. Orang-orang juga dipengaruhi oleh kelompok-kelompok di mana mereka bukan anggotanya. Kelompok seseorang yang ingin masuk disebut kelompok aspirasional. Kelompok disokiatif adalah kelompok yang nilai atau perilakunya ditolak oleh seorang individu. Kelompok acuan menghubungkan seorang individu dengan perilaku dan gaya hidup baru, juga mempengaruhi sikap dan konsep diri seseorang karena biasanya seseorang berhasrat untuk menyesuaikan diri dengan kelompoknya, dan kelompok acuan menciptakan tekanan untuk keseragaman yang mungkin memengaruhi pilihan produk dan merek aktual seseorang.

Keluarga, anggota keluarga merupakan kelompok acuan primer yang paling berpengaruh. Keluarga dapat dibedakan menjadi dua dalam kehidupan pembeli. Keluarga orientasi (family of orientation) terdiri dari orang tua

seseorang. Dari orang tua, seseorang memperoleh orientasi terhadap agama, politik, dan ekonomi serta pemahaman atas ambisi pribadi, penghargaan pribadi dan cinta. Pengaruh yang lebih langsung terhadap perilaku pembelian sehari-hari adalah keluarga prokreasi (family of procreation) seseorang, yakni pasangan hidup dan anak-anaknya.

Peran dan Status, seseorang berpartisipasi dalam banyak kelompok sepanjang hidupnya – keluarga, klub, organisasi. Posisi orang tersebut dalam setiap kelompok dapat ditentukan berdasarkan peran dan status. Suatu peran terdiri atas kegiatan-kegiatan yang diharapkan dilakukan oleh seseorang.

Setiap peran membawa suatu status. Orang akan memilih produk yang mengomunikasikan peran dan status mereka dalam masyarakat.

3. Faktor Pribadi

Keputusan seseorang pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi, yaitu usia pembeli dan tahap siklus hidup, pekerjaan, kondisi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri pembeli.

Usia dan Tahap Siklus Hidup, orang membeli barang dan jasa yang berbeda sepanjang hidupnya. Selera orang akan pakaian, perabot mebel, dan rekreasi juga berhubungan dengan usia. Konsumsi juga dipengaruhi oleh tahap-tahap dalam siklus hidup keluarga.

Pekerjaan, pekerjaan seseorang juga memengaruhi pola konsumsinya. Para pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok pekerjaan yang mempunyai minat lebih dari rata-rata pada produk dan jasa mereka. Sebuah perusahaan bahkan dapat mengkhususkan produk mereka hanya untuk kelompok pekerjaan tertentu.

Kondisi Ekonomi, pilihan produk sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi seseorang. Kondisi ekonomi meliputi pendapatan yang bisa dibelanjakan (tingkat pendapatan, stabilitas, dan pola waktunya), tabungan dan kekayaan, utang, kemampuan untuk meminjam, dan sikap terhadap belanja versus menabung.

Gaya Hidup, orang-orang yang berasal dari subkultur, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama mungkin saja mempunyai gaya hidup yang berbeda.

Kepribadian dan Konsep Diri, banyak pemasar menggunakan konsep yang berhubungan dengan kepribadian – konsep diri seseorang. Teori konsep pribadi memiliki berbagai variasi catatan keberhasilan dalam memprediksi respon konsumen terhadap suatu produk.

4. Faktor Psikologis

Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi pula oleh empat faktor psikologis utama – motivasi, persepsi, pengetahuan, serta keyakinan dan sikap.

Motivasi, seseorang memiliki banyak kebutuhan pada setiap waktu tertentu.

Sebagian kebutuhan bersifat biogenik. Kebutuhan yang demikian berasal dari keadaan psikologis berkaitan dengan tensi atau ketegangan. Kebutuhan yang lain bersifat psikogenik. Kebutuhan yang demikian berasal dari keadaan psikologis berkaitan dengan tensi seperti kebutuhan akan pengakuan, penghargaan, atau rasa kepemilikan. Sebagian besar kebutuhan psikogenik tidak cukup kuat untuk memotivasi orang tersebut untuk bertindak secara langsung. Suatu kebutuhan menjadi motif bila telah mencapai tingkat intensitas yang memadai. Motif adalah kebutuhan yang cukup untuk

mendorong seseorang agar bertindak. Pemenuhan kebutuhan tersebut akan mengurangi rasa ketegangannya.

Persepsi, seseorang yang termotivasi akan siap bertindak. Bagaimana orang yang termotivasi tersebut akan benar-benar bertindak dipengaruhi persepsinya mengenai situasi tertentu. Persepsi didefinisikan sebagai proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur, dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang bermakna. Persepsi tidak hanya tergantung pada stimuli fisik, tetapi juga pada stimuli yang berhubungan dengan lingkungan sekitar dan kondisi individu tersebut.

Keyakinan dan Sikap, melalui bertindak dan belajar, orang-orang memperoleh keyakinan dan sikap. Kedua faktor ini kemudian memengaruhi perilaku pembelian mereka. Keyakinan adalah pikiran deskriptif yang dianut seseorang mengenai suatu hal. Keyakinan ini mungkin didasarkan pada pengetahuan, opini, atau kepercayaan. Keyakinan ini mungkin ada atau mungkin pula tidak mengandung unsur emosional.

2.3.3 Peran Dalam Pembelian

Ada lima peran yang dimainkan orang dalam keputusan pembelian menurut Abdullah dan Tantri (2016:124), yaitu:

1. Pencetus ide (initiator), orang yang pertamakali mengusulkan untuk membeli produk atau jasa tertentu.

2. Pemberi pengaruh (influence), orang yang pandangan atau pendapatnya memengaruhi keputusan pembelian.

3. Pengambil keputusan (decider), orang yang memutuskan setiap komponen dalam keputusan pembelian.

4. Pembeli (buyer), orang yang melakukan pembelian aktual.

5. Pemakai, orang yang mengonsumsi atau menggunakan produk atau jasa yang dibeli.

2.3.4 Jenis-Jenis Perilaku Pembelian

Pengambilan keputusan konsumen bervariasi sesuai dengan jenis keputusan pembelian. Assael (Abdullah dan Tantri, 2016:125) membedakan empat jenis perilaku pembelian konsumen berdasarkan tingkat keterlibatan pembeli dan tingkat perbedaan antara berbagai merek, yaitu:

1. Perilaku pembelian kompleks, konsumen mempunyai perilaku pembelian kompleks jika mereka sangat terlibat dalam suatu pembelian dan menyadari adanya perbedaan signifikan antara berbagai merek.

2. Perilaku pembelian mengurangi ketidaksesuaian (Disonansi), kadang-kadang konsumen sangat terlibat dalam suatu pembelian, tetapi tidak melihat banyak perbedaan dalam merek.

3. Perilaku pembelian menurut kebiasaan, banyak produk yang dibeli dengan keterlibatan konsumen yang rendah dan tidak ada perbedaan merek yang signifikan.

4. Perilaku pembelian mencari variasi, beberapa situasi pembelian ditandai dengan keterlibatan konsumen yang rendah, tetapi perbedaan mereknya signifikan.

2.3.5 Proses Pengambilan Keputusan Pembelian

Menurut Abdullah dan Tantri (2016:129) proses pembelian konsumen melalui lima tahap: pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan perilaku purnabeli.

Sumber: Abdullah dan Tantri, 2016

Gambar 2.2 Model Proses Pembelian Lima Tahap

1. Pengenalan Kebutuhan, proses pembelian dimulai ketika pembeli menyadari adanya masalah atau kebutuhan. Pembeli merasakan adanya perbedaan antara keadaan aktual dengan keadaan yang diinginkannya.

2. Pencarian Informasi, seseorang konsumen yang tergerak oleh stimuli akan berusaha untuk mencari lebih banyak informasi, yang dapat dibedakan menjadi dua tingkatan. Keadaan pencarian informasi yang lebih ringan disebut perhatian yang memuncak (heightened attention).

3. Evaluasi Alternatif, sebagian besar model terbaru dari proses evaluasi konsumen berorientasi secara kognitif, yaitu mereka menganggap bahwa konsumen sebagian besar melakukan penilaian produk secara sadar dan rasional.

4. Keputusan Pembelian, dalam tahap evaluasi, konsumen membentuk preferensi di antara merek-merek dalam kelompok pilihan. Konsumen mungkin juga membentuk minat pembelian untuk membeli merek yang paling disukai. Ada dua faktor yang berintervensi di antara minat pembelian dan keputusan pembelian. Faktor-faktor ini ditunjukkan dalam gambar di bawah ini:

Sumber: Abdullah dan Tantri, 2016

Gambar 2.3 Tahap-tahap di antara Evaluasi Alternatif dan Keputusan Pembelian

Faktor sikap orang lain menentukan sejauh mana sikap orang lain dapat mengurangi alternatif yang disukai seseorang.

a. Perilaku Setelah Pembelian, setelah membeli produk, konsumen akan merasakan tingkat kepuasan atau ketidakpuasan tertentu.

b. Perilaku Purnabeli, setelah membeli suatu produk, konsumen mungkin akan menemukan kekurangan atau cacat. Sebagian pembeli tidak akan mengiginkan produk cacat, sementara yang lain mungkin indeferen terhadap kekurangan tersebut, dan sebagian lagi bahkan mungkin menganggap kekurangan tersebut menambah nilai produknya.

2.4 Kerangka Berpikir

Menurut Uma Sekaran (Sugiyono, 2012:88) kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.

Dalam suatu proses pembelian, seorang konsumen akan mempertimbangkan lebih dahulu tentang produk apa yang akan dibelinya, apa manfaatnya, apa kelebihannya dari produk lain, sehingga konsumen memiliki keyakinan untuk mengambil keputusan untuk membeli produk tersebut. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian oleh konsumen, seperti fitur produk. Selain

itu lifestyle (gaya hidup) juga merupakan salah satu faktor pendorong keputusan pembelian. Seperti yang dikemukakan Kotler (1996:241) bahwa lifestyle (gaya hidup) seseorang mempengaruhi keputusan pembelian oleh konsumen.

Berdasarkan teori maka dapat dilihat kerangka berpikir yang menggambarkan hubungan dari variabel independen, dalam hal ini adalah lifestyle (gaya hidup) (X1), dan fitur produk (X2) terhadap variabel dependen yaitu keputusan pembelian (Y) yang dilakukan oleh konsumen.

Variabel-variabel tersebut akan dianalisis dalam penelitian sehingga diketahui seberapa besar pengaruh masing-masing variabel tersebut dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Kerangka berpikir dapat dilihat sebagai berikut:

Sumber: Diolah Peneliti (2016)

Gambar 2.4 Kerangka Berpikir 2.5 Hipotesis

Menurut Sugiyono (2012:93), hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian oleh karena itu rumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.

Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan Lifestyle (Gaya Hidup)

(X1) Fitur Produk

(X2)

Keputusan Pembelian (Y)

masalah penelitian belum jawaban empirik. Berdasarkan kerangka berpikir, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H1 : Lifestyle (gaya hidup) berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk Apple pada mahasiswa Ilmu Administrasi Niaga/Bisnis Universitas Sumatera Utara.

H2 : Fitur produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk Apple pada mahasiswa Ilmu Administrasi Niaga/Bisnis Universitas Sumatera Utara.

H3 : Lifestyle (gaya hidup) dan fitur produk berpengaruh secara simultan terhadap keputusan pembelian produk Apple pada mahasiswa Ilmu Administrasi Niaga/Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2.6 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu merupakan faktor pendukung bagi sebuah penelitian.

Demikian penelitian ini juga dibuat dengan dukungan penelitian terdahulu diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Winda Clarinda (2014), “Pengaruh Gaya Hidup, Merek, Dan Kelompok Referensi Terhadap Keputusan Pembelian Smartphone Iphone Di Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Sumatera Utara”. Hasil penelitian ini adalah:

a. Secara simultan, gaya hidup, merek, dan kelompok referensi

berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian smartphone iphone di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas

Sumatera Utara

b. 55% variabel keputusan pembelian dapat dijelaskan oleh gaya hidup, merek, dan kelompok referensi.

2. Silfanus Barita (2014), “Pengaruh Kualitas Produk, Desain Produk, Dan Fitur Produk Terhadap Keputusan Pembelian Smartphone Samsung Pada Staff Whana Visi Indonesia Jakarta”. Hasil penelitian ini adalah:

a. Secara serempak variabel kualitas produk, desain produk, dan fitur produk berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian

b. Variabel kualitas produk dan desain produk berpengaruh positif dan tidak signifikan. Sedangkan variabel fitur produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.

c. 27,1% variabel keputusan pembelian dapat dijelaskan oleh variabel kualitas produk, desain produk dan fitur produk.

3. Hutami Permita Sari (2016), “Pengaruh Citra Merek, Fitur, Dan Persepsi Harga Terhadap Keputusan Pembelian (Studi Pada Konsumen Smartphone Xiaomi di DIY)”. Hasil penelitian ini adalah:

a. Terdapat pengaruh positif citra merek terhadap keputusan pembelian.

Hal ini dibuktikan dari nila t hitung sebesar 5,763.

b. Terdapat pengaruh positif fitur terhadap keputusan pembelian. Hal ini dibuktikan dari nilai t hitung sebesar 2,481.

c. Terdapat pengaruh positif persepsi harga terhadap keputusan pembelian.

Hal ini dibuktikan dari nilai t hitung sebesar 6,393.

d. Citra merek, fitur, dan persepsi harga secara simultan berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian. Hal ini dikuktikan dengan hasil pengujian diperoleh nilai F hitung sebesar 68,043.

4. Nanda Amelia (2016), “Pengaruh Citra Merek, Harga, Dan Gaya Hidup Terhadap Keputusan Pembelian Produk Fashion Imitasi (Studi Pada Mahasiswa Strata I FISIP USU)”. Hasil penelitian ini adalah:

a. Secara serentak citramerek, harga dan gaya hidup, berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk fashion imitasi.

b. Harga dan gaya hidup berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk fashion imitasi, sedangkan citra merek tidak berpengaruh signifikan.

c. Citra merek, harga dan gaya hidup mempengaruhi keputusan pembelian produk fashion imitasi sebesar 29,5%.

5. Memori Karina Hasugian (2016), “Pengaruh Gaya Hidup, Harga, Dan Kelompok Referensi Terhadap Keputusan Pembelian Pada Bioskop The Premiere (Studi Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara)”. Hasil penelitian ini adalah:

a. Gaya hidup berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian pada bioskop the premiere.

b. Harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian pada bioskop the premiere.

c. Kelompok referensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian pada bioskop the premiere.

d. Secara simultan gaya hidup, harga, dan kelompok referensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian pada bioskop the premier

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Bentuk Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode eksplanasi asosiatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih (Sugiyono, 2012:100). Adapun yang dihubungkan dalam penelitian ini adalah variabel independen yaitu lifestyle (gaya hidup), fitur produk dan variabel dependen yaitu keputusan pembelian.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Menurut Sugiyono (2012:13), penelitian kuantitatif adalah penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang terletak di Jalan Dr. A. Sofyan No. 1 Kampus USU – Medan. Penelitian ini dilaksanakan pada Desember 2016 – Januari 2017.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi, populasi bukan hanya

jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh objek/subjek itu (Sugiyono, 2012:115).

Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Ilmu Administrasi Niaga/Bisnis Universitas Sumatera Utara Angkatan 2013-2016 yang masih aktif kuliah dan menggunakan produk Apple yang jumlahnya tidak diketahui.

3.3.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representative (mewakili) (Sugiyono, 2012:116). Sampel yang diambil pada

penelitian ini harus Mahasiswa Ilmu Administrasi Niaga/Bisnis Universitas Sumatera Utara Angkatan 2013-2016 yang menggunakan produk Apple, Untuk menentukan jumlah sampel yang mewakili populasi dalam penelitian digunakan rumus Rao Purba karena jumlah populasinya tidak diketahui, maka jumlah sampel minimal ditentukan dengan rumus Rao Purba (Sujarweni, 2015:155), yaitu:

Keterangan:

n : Ukuran Sampel

Z : Tingkat distribusi normal pada taraf signifikan 5% = 1,96

moe :Margin of Error Max, yaitu tingkat kesalahan maksimal yang ditolerir sebesar 10%

Berdasarkan rumus tersebut, maka diperoleh perhitungan sebagai berikut:

= 96,04 atau 96 responden

Berdasarkan rumus di atas, maka jumlah sampel 96 responden. Namun, karena ada unsur pembulatan dan untuk memudahkan perhitungan maka peneliti mengambil sebanyak 100 responden.

Maka sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah nonprobability sampel dengan dengan teknik sampling yang digunakan adalah Sampling Insidental yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, siapa saja yang

secara kebetulan atau incidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2012:122).

3.4 Definisi Konsep

Defenisi konsep merupakan istilah khusus untuk menggambarkan secara tepat fenomena yang diteliti. Konsep ini digunakan untuk menggambarkan secara abstrak yang dibentuk dengan jalan membuat generalisasi terhadap sesuatu yang khas. Defenisi konsep ini dilakukan agar ada batasan terhadap masalah variabel yang diteliti dan menyederhanakan pemikiran sehingga tujuan dan arah penelitian jelas dan tidak menyimpang. Defenisi konsep dalam penelitian ini adalah:

1. Lifestyle (gaya hidup)

Lifestyle (gaya hidup) adalah keseluruhan pola hidup seseorang yang

diekspresikan dalam aktivitas, minat dan opini yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian dari produk Apple.

2. Fitur Produk

Fitur Produk adalah unsur-unsur produk yang dipandang penting oleh konsumen dan seringkali digunakan oleh konsumen sebagai dasar dan pertimbangan untuk membuat keputusan pembelian.

3. Keputusan Pembelian

Keputusan pembelian adalah proses pengintegrasian yang mengombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua perilaku alternatif atau lebih dan memilih salah satu diantaranya.

3.5 Definisi Operasional

Menurut Sujarweni (2015:77), defenisi operasional adalah penelitian dimaksudkan untuk memahami arti setiap variabel penelitian sebelum dilakukan analisis instrumen serta sumber pengukuran berasal darimana. Adapun defenisi operasional dalam penelitian ini adalah:

1. Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi variabel dalam penelitian ini adalah Lifestyle (gaya hidup) (X1).

2. Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi variabel dalam penelitian ini adalah Fitur Produk (X2).

3. Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel independen, dalam penelitian ini adalah Keputusan Pembelian (Y).

Tabel 3.1 Defenisi Operasional

Variabel Definisi Indikator Skala

Pengukuran

Lifestyle (gaya hidup)

(X1)

Lifestyle (gaya hidup) adalah keseluruhan pola hidup seseorang yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opini yang berpengaruh terhadap keputusan

Lanjutan Tabel 3.1 Defenisi Operasional

Variabel Definisi Indikator Skala

Pengukuran

Fitur Produk (X2)

Fitur produk adalah unsur-unsur produk yang dipandang penting oleh konsumen dan seringkali

digunakan oleh

konsumen sebagai dasar dan pertimbangan untuk mengambil keputusan perilaku alternatif atau lebih dan memilih salah

Sumber: Abdullah dan Tantri (2016), Sumarwan (2002), Thom W. A. Isliko (2008), diolah peneliti (2016)

3.6 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data untuk mendapatkan data-data ataupun informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan dua teknik pengumpulan data, yaitu :

1. Data Primer

Data primer adalah data yang berasal langsung dari responden/objek penelitian (Sunyoto,2013:10). Data responden sangat diperlukan untuk

Apple. Dalam hal ini data diperoleh secara langsung dengan membagi kuesioner atau daftar pernyataan kepada mahasiswa yang menggunakan produk Apple.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui data yang diteliti dan dikumpulkan oleh pihak lain yang berkaitan dengan permasalahan penelitian (Sunyoto, 2013:10). Data sekunder juga sifatnya melengkapi atau mendukung data primer. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari jurnal, buku-buku, penelitian terdahulu, serta tulisan-tulisan yang ada relevansinya dengan masalah yang diteliti.

3.7 Skala Pengukuran

Skala pengukuran data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala

Skala pengukuran data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala

Dokumen terkait