BAB II LANDASAN TEORI
2.2 Tata Ruang Perpustakaan Sekolah
2.2.2 Dimensi Kualitas pada ruangan perpustakaan
Desain ruang yang baik selain memikirkan hal – hal umum, juga harus memiliki kualitas yang sesuai untuk perpustakaan disekolah. Menurut McDonald dalam Niegaard (2007: 13) telah mendefinisikan 10 kriteria penilaian sebuah ruang perpustakaan yang berkualitas yaitu :
a. Fungtional (Fungsional)
Ruang perpustakaan yang fungsional memungkinkan untuk melakukan perubahan dalam mengikuti dan beradaptasi dengan perubahan kebutuhan pengguna atau lingkungan dari perpustakaan itu sendiri. Ruang yang fungsional juga memiliki fungsi ruang yang sesuai dengan tujuan layanan yang ingin dicapai. Ruangan perpustakaan dikatakan fungsional apabila dapat memudahkan pegawai maupun pengunjung dalam memenuhi tujuan serta kebutuhannya untuk mendukung kinerja perpustakaan secara keseluruhan dalam memberikan layanan informasi yang maksimal.
b. Adaptable (Mampu beradaptasi)
Ruang yang adaptable merupakan kondisi ruang perpustakaan yang fleksibel dan mudah untuk dialih fungsikan. Fleksibel dalam mengahadapi dan mengikuti perubahan dimasa yang akan datang seperti perubahan teknologi informasi yang semakin berkembang. Hal ini bertujuan agar dikemudian hari mendatang jika terjadi dan diharuskan mengalami perubahan, maka dapat dilakukan dengan biaya, tenaga serta hambatan yang seminimal mungkin.
c. Accessible (mudah diakses)
Ruang yang accessible merupakan ruang sosial yang mduah diakses serta menjamin kebebasan baik oleh pengguna maupun staf atau pegawai didalamnya. Akses dalam hal ini yaitu dapat dengan mudah dipahami oleh seluruh pengguna perpustakaan termasuk pegawai dan staff didalamnya. Menyediakan fasilitas yang dapat memudahkan pengguna dalam mencari informasi secara mandiri.
d. Varied (bervariasi)
Perpustakaan menyediakan ruang yang beragam dalam pembelajaran, penelitian, mencari kesenangan serta ruangan untuk media yang beragam dalam mengakses informasi. perpustakaan menyediakan pilihan ruang diskusi, seminar, ruang baca yang bervariasi (private room/silent room), hingga penggunaan perabot seperti meja baca yang bervariasi. Keberagaman ini akan semakin berkembang mengiringi perkembangan kebutuhan manusia dan juga perkembangan jaman dengan teknologi kecanggihannya.
e. Interactive (interaktif)
Ruang perpustakaan yang interaktif adalah ruang yang telah terorganisasi dengan baik, yang dapat menghubungkan interaksi antara
pengguna dengan layanan yang tersedia, yaitu adanya keseimbangan antara ruang untuk koleksi, layanan, pembaca serta perangkat teknologi.
f. Conducive (kondusif)
Ruang yang memiliki kualitas keramahan yang tinggi terhadap manusia, dapat memberikan motivasi serta inspirasi bagi pengguna dan juga pegawai didalamnya. Suasana ruang yang kondusif diantaranya berkaitan dengan system pencahayaan yang tidak mengganggu, penggunaan perabot ruangan seperti meja dan kursi yang nyaman digunakan dan tidak mudah capek saat menggunakannya, pengaturan suara dalam ruangan dan juga mengatasi gangguan suara dari luar ruangan, serta penyediaan media hiburan bagi pengguna maupun pegawai perpustakaan seperti suara alunan music.
g. Environmentally suitable (sesuai dengan lingkungan)
Kualitas ruang perpustakaan dapat menyesuaikan dengan kebutuhan lingkungan yang ada. Dalam hal ini memberikan kenyamanan bagi penghuninya baik staff, pustakawan maupun pengguna perpustakaan.
Tidak hanya mereka, namun juga nyaman bagi kelestarian bahan pustaka, klelestarian peralatan dan perlengkapan yang ada.
Penyesuaian ruang terhadap lingkungan dapat berkaitan dengan faktor suhu, pencahayaan, system sirkulasi udara, kelembaban, debu dan tingkat poipulasi harus terkontrol dengan baik.
h. Safe and Secure (aman dan terjamin)
Aman untuk pengguna, pegawai, koleksi, fasilitas, sarana dan prasarana hingga keamanan dari gedung perpustakaan itu sendiri.
Selain keamanan diperlukan juga jaminan atau kepercayaan pengguna maupun pegawai mengenai rasa aman itu sendiri. Jika rasa kepercayaan akan keamanan sudah terciptakan maka pengguna maupun pegawai akan dengan leluasa dan tanpa khawatir untuk memasuki perpustakaan, menggunakan layanannya, mencari informasi, belajar hingga bekerja didalamnya sekalipun.
i. Efficient (efisien)
Ruang peprustakaan yang efisien yaitu ekonomis dalam penggunaan ruang, staff, dan biaya operasional. Artinya peprustakaan harus memanajemen se-efisien dan se-ekonomis mungkin dalam mengelolanya. Perpustakaan dapat melakukan pemanfaatan tata ruang yang baik sehingga dapat menciptakan efisiensi jarak dan waktu, mempertimangkan lagi koleksi yang jarnag digunakan, melakukan kerjasama atau kolaborasi dalam peminjaman koleksi antar peprustakaan, mempertimbangkan pemanfaatan energy listrik yang bijak salah satunya dengan mengadakan perangkat teknologi yang digunakan berdasarkan tingkat kegunaannya.
j. Suitable for Information Technology (tepat untuk teknologi informasi) Ruang perpustakaan dapat menyesuaikan dengan kemajuan teknologi yanga da. Peprustakaan juga perlu memperhitungkan dan menafsirkan teknologi apa yang akan digunakan dimasa yang akan datang. Ruang peprustakaan yang berkualitas tentunya dapat mengikuti kebutuhan
pengguna dan menyesuaikannya dengan perkembangan teknologi yang ada.
Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan sekolah harus memiliki kriteria penilaian untuk tercapainya kualitas sebuah ruangan peprustakaan untuk menciptakan, merencanakan, hingga membangun sebuah perpustakaan yang berkualitas dapat memberikan nilai guna bagi pengguna dan pegawainya serta perpustakaan yang aman dapat mengikuti perkembangan zaman tanpa mengabaikan aspek kenyamanan, kepentingan dan kebutuhan pemakai pustakawan maupun pemustaka
2.3 Jenis dan Luas Ruang Perpustakaan Sekolah Menurut SNP
Ruang bagi perpustakaan merupakan hal penting setelah koleksi bahan pustaka. Dalam ruang – ruang perpustakaan pemustaka beraktifitas. Ruangan yang nyaman akan menarik orang untuk datang ke perpustakaan. Jenis dan luas ruangan tergantung dari jenis layanan perpustakaan, jumlah siswa dan guru sekolah serta jenis koleksi perpustakaan. Menurut Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah menyatakan bahwa :
Luas gedung Perpustakaan Sekolah paling sedikit 0.4 m2 x jumlah siswa, dengan ketentuan bila 3 sampai dengan 6 rombongan belajar luas gedung paling sedikit 72 m2 , 7 sampai dengan 12 rombongan belajar luas gedung paling sedikit 144 m2 , 13 sampai dengan 18 rombongan belajar luas gedung paling sedikit 216 m2 , 19 sampai dengan 27 rombongan belajar luas gedung paling sedikit 288 m2.
Sebagaimana Gedung/ruangan peprustakaan paling sedikit meliputi :
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Ruangan Perpustakaan harus memperhatikan luas sebuah ruang perpustakaan agar menghasilkan penataan ruang perpustakaan yang optimal serta menunjang kelancaran tugas perpustakaan sebagai lembaga pemberi jasa. Dengan adanya standard dan teori mengenai tata ruang, sangatlah berguna bagi pengelola perpustakaan dalam merancang sebuah penataan ruang perpustakaan.
2.3.1 Ruang/Area Koleksi
Ruang/area koleksi adalah ruangan yang berfungsi untuk penempatan koleksi bahan pustaka baik berupa bahan tercetak yaitu buku, majalah, surat kabar, kliping, brosur maupun bahan terekam seperti kaset, film, mikrofish, slide, piringan hitam dan lain-lain. Luas ruang koleksi ditentukan dengan mengetahui banyaknya koleksi yang dimiliki.
Penataan ruang koleksi sebagai tempat penyimpanan sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan semua kegiatan di perpustakaan baik aspek layanan maupun kegiatan pendukung layanan perpustakaan. Sebagaimana Menurut Departemen Pendidikan Nasional RI (2004: 5) Menyatakan bahwa :
Ruang koleksi adalah tempat penyimpanan koleksi perpustakaan, luas ruangan ini tergantung pada jenis dan jumlah bahan pustaka yang dimiliki serta besar kecilnya luas bangunan perpustakaan. Ruang koleksi dapat
terdiri dari suatu ruangan atau beberapa ruang misalnya ruang koleksi buku, ruang koleksi majalah, ruang koleksi referensi, ruang koleksi audio visual dan lain-lain.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa penataan ruang koleksi harus sesuai dengan kebutuhan jumlah bahan pustaka dan luas ruang koleksi harus sesuai dengan jumlah bahan pustaka yang dimiliki agar koleksi tersebut dapat memenuhi kebutuhan pengguna perpustakaan tersebut.
2.3.2 Ruang/Area baca
Ruang/area baca merupakan ruang yang digunakan oleh pengguna atau pengunjung perpustkaan untuk membaca bahan pustaka. Ruang baca bukanlah sekedar ruangan untuk membaca, melainkan sebagai sarana perekaman informasi dari sumber ilmu agar lebih “khusyuk”. Penempatan ruang baca pada umumnya berdekatan dengan koleksi, atau ruang koleksi dan ruang baca digabungkan dalam suatu ruangan jika layanan dilakukan dengan system terbuka. Fasilitas baca adalah perlengkapan perpustakaan yang disediakan diruang baca untuk keperluan pengunjung perpustakaan seperti meja baca dan kursi baca.
Sebagaimana menurut Departemen Pendidikan Nasional RI (2004: 5) menyatakan bahwa “ Ruang baca adalah ruang yang digunakan untuk membaca bahan pustaka. Luas ruangan ini tergantung pada jumlah pembaca/pemakai jasa perpustakan “
Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa penataan ruang baca dan perlengkapan yang tersedia harus ditata dan dirawat dengan baik sehingga dapat menunjang penyelenggaraan perpustakaan sekolah secara efektif dan efisien. Dengan adanya ruang baca diharapakan dapat meningkatkan motivasi
siswa dalam membaca sehingga melahirkan pendidikan yang berkualitas dan anak didik yang mampu beranalisis.
2.3.3 Ruang/Area Staff
Secara umum ruang/area staff adalah suatu tempat kegiatan seseorang dalam melakukan aktifitas suatu pekerjaan. Aktifitas pekerjaan seorang pustakawan berada di ruang pengolahan. Sebagaimana menurut Departemen Pendidikan Nasional RI (2004: 5) menyatakan bahwa :
Ruang kerja teknis administrasi/ruang staff adalah ruangan yang dipergunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan seperti pemrosesan bahan pustaka mulai dari pengadaan sampai bahan pustaka tersebut siap untuk disajikan kepada pemakai perpustakaan, ruang tata usaha untuk kepala perpustakaan dan stafnya dan ruang untuk memperbaiki bahan pustaka yang rusak.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa penataan ruang kerja staff ditata seefisien mungkin guna menjamin adanya tempat dan keluasan kerja yang baik bagi setiap pustakawan. Tujuan penataan ruang kerja yang baik untuk memperlancar komunikasi, mempermudah koordinasi dan pengawasan.
Dengan demikian meningkatkan efisiensi kerja pustakawan pada umumnya.
2.3.4 Ruang/Area Khusus
Secara umum ruang/area khusus merupakan ruang tersendiri yang diperuntukkan untuk suatu kegiatan pertemuan yang dilakukan pengguna untuk menunjang aktifitas diperpustakaan. Biasanya pada ruang khusus terdapat kedap suara, dimana ruangan ini bebas dari suara dari luar ruangan.
Sebagaimana menurut Departemen Pendidikan Nasional RI (2004: 5) menyatakan bahwa “ Ruang khusus adalah ruang yang terdiri dari kamar kecil, ruang diskusi/pertemuan, ruang bercerita untuk anak-aanak dan ruang lain untuk kantin”
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa ruang khusus perpustakaan terdiri dari ruang-ruang kecil dimana pengguna perpustakaan melakukan aktiftas nya untuk berdiskusi dan bertukar pikiran sehingga tidak terdengar dari kebisingan diluar dan tidak menganggu konsentrasi pengguna yang ada didalam ruang khusus perpustakaan.
2.3.5 Ruang/Area Pelayanan
Secara umum pelayanan diperpustakaan dapat diartikan sebagai suatu bentuk kegiatan atau aktifitas dalam memberikan jasa layanan kepada pengunjung perpustakaan. Ruang pelayanan perpustakaan yang efektif dan memadai harus didasarkan pada kebutuhan pengguna.
Sebagaimana menurut Departemen Pendidikan Nasional RI (2004: 5) menyatakan bahwa “ Ruang pelayanan adalah tempat peminjaman dan pengembalian buku, meminta keterangan pada petugas, menitipkan barang atau tas, mencari informasi dan buku yang diperlukan melalu kartu katalog”
Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa ruang pelayanan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan pengguna perpustakaan. Pengguna perpustakaan dapat menikmati fasilitas layanan yang diberikan oleh perpustakaan.
Layanan – layanan yang diberikan antara lain layanan sirkulasi, layanan referensi, dan layanan penelusuran informasi.
2.3.6 Ruang/Area Multimedia
Perpustakaan menyediakan koleksi dan ruang yang menunjang koleksi audiovisual dan semua yang bernuansa teknologi. Perpustakaan akan menunjang kegiatan pemustaka dengan menyediakan ruang multimedia dan wifi. Umumnya area multimedia dipisahkan dengan area lain yang terdapat didalamnya terdapat meja, kursi, dan komputer yang sesuai dengan jumlah peralatan yang tersedia.
Sebagaimana Menurut Nurjanah (2009) menyatakan bahwa :
Saat ini koleksi multimedia pada sebuah perpustakaan dapat dipakai sebagai salah satu alat yang sangat membantu dalam meningkatkan keunggulan bersaing di era pasar global. Tuntutan zaman dan gejolak pengguna jasa perpustakaan saat ini telah ditandai dengan keinginan untuk dilayani serba cepat, tepat, dan instan, dan tidak saja dalam format alfanumerik tetapi juga grafik citra, suara, dan video secara interaktif.
Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa ruangan multimedia mampu beradaptasi terhadap perkembangan zaman sekarang ini.
Dimana ruangan multimedia tepat untuk kemajuan teknologi yang ada dan ruangan multimedia yang tentunya dapat mengubah kebutuhan pengguna dan menyesuaikannya dengan perkembangan teknologi yang ada.
2.4 Perpustakaan Sekolah
2.4.1 Pengertian Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan merupakan pusat informasi yang memiliki tugas dan fungsi yang harus dijalankan setiap saat dan memberikan pelayanan yang optimal.
Eksistensi perpustakaan sebagai suatu tempat untuk memperoleh informasi dianggap sangat penting demi terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas.
Menurut Standard Nasional Perpustakaan (SNP) bidang perpustakaan dan perguruan tinggi pada tahun 2011, Menjelaskan Perpustakaan Sekolah adalah :
Tempat satuan pendidikan formal di lingkungan pendidikan dasar dan menengah yang merupakan bagian integral dari kegiatan sekolah yang bersangkutan, dan merupakan pusat sumber belajar untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan.
Selain itu perpustakaan Menurut Pawit M. Yusuf (2010: 1) menjelaskan bahwa “perpustakaan merupakan suatu tempat yang didalamnya terdapat kegiatan pernghimpunan, pengolahan, dan penyebarluasan pelayanan segala macam informasi baik yang tercetan dan terekam dari berbagai macam media”
Berdasarkan dari penjelasan tersebut dapat dibuat kesimpulan bahwa perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang berada dilingkungan sekolah dan dikelola sepenuhnya oleh sekolah. dihubungkan dengan proses belajar mengajar disekolah bahwa perpustakaan sekolah memberikan sumbangan yang berharga dalam upaya meningkatkan aktifitas siswa serta meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran. Pengelolaan perpustakaan yang baik dapat mendukung sekolah mencapai tujuannya khususnya melayani civitas akademika sekolah dan tujuan
pada umumnya, yaitu masyarakat sekitar sekolah tersebut dalam memanfaatkan perpustakaan sekolah.
2.4.2 Tujuan Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan sekolah sebagai sumber informasi yang memiliki tujuan sebagai sarana penunjang pendidikan. Perpustakaan merupakan bagian penting dalam proses pendidikan, pembelajaran dan kebudayaan serta merupakan jasa inti perpustakaan sekolah. Menurut saleh (dalam Sukardi, 2005: 11) menyatakan bahwa “tujuan perpustakaan sekolah adalah untuk membina minat membaca anak sehingga membaca merupakan suatu kebiasaan bagi siswa agar membaca menjadikannya kegemarannya”
Sedangkan Menurut Zahara (2003) Tujuan Umum perpustakaan sekolah adalah:
Diselenggarakannya sebagai suatu perangkat kelengkapan pendidikan untuk bersama-sama dengan kelengkapan – kelengkapan yang lain guna meningkatkan ketaqwaan terhadapat Tuhan Yang Maha Esa, Kecerdasan dan Keterampilan, Mempertinggi budi pekerti dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air agar dapat menumbukan manusia-manusia pembangunan yang dapat mmebangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas Pembangunan Nasional yang berasaskan Pancasila dan UUD 1945
Didirikannya perpustakaan sekolah tidak terlepas dari tujuan diselenggarakannya pendidikan sekolah secara keseluruhan, yaitu untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan selanjutnya. Tujuan dari perpustakaan sekolah adalah sebagai berikut :
a. Mendorong dan mempercepat proses penguasaan teknik membaca para siswa
b. Membantu menulis kreatif bagi para siswa dengan bimbingan guru dan pustakawan
c. Menumbuhkembangkan minat dan kebiasaan membaca para siswa d. Menyediakan berbagai macam sumber informasi untuk kepentingan
pelaksanaan kurikulum
e. Mendorong, menggairahkan, memelihara, dan memberi semangat membaca dan semangat belajar bagi para siswa
f. Memperluas, memperdalam, dan memperkaya pengalaman belajar para siswa dengan membaca buku dan koleksi lain yang mengandung ilmu pengetahuan dan teknologi, yang disediakan oleh perpustakaan
g. Memberikan hiburan sehat untuk mengisi waktu senggang melalui kegiatan membaca, khususnya buku-buku dan sumber bacaan lain yang bersifat kreatif dan ringan seperti fiksi, cerpen, dan lainnya.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan perpustakaan sekolah adalah untuk membentuk siswa-siswi yang berkarakter dan berintelektual dengan memanfaatkan ruangan perpustakaan sebagai tempat memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuan dan teknologi serta mewujudkan kemandirian para pemustaka yang aktif, kreatif dan mandiri dalam menyelenggarakan pendidikan dengan menyediakan sumber-sumber informasi.
2.4.3 Fungsi Perpustakaan Sekolah
Fungsi perpustakaan sangatlah penting dalam dunia pendidikan sekarang ini. Sebagaimana yang dinyatakan Oleh Wiji Suwarno (2009: 42) bahwa :
Perpustakaan merupakan penjabaran lebih lanjut dari semua tugas perpustakaan. Fungsi perpustakaan tersebut antara lain adalah pendidikan dan pembelajaran, informasi, penelitian, rekreasi, dan preservasi. Fungsi fungsi itu dilaksananakan dalam rangka pencapaian tujuan perpustakaan.
Sementara dalam dunia pendidikan perpustakaan sekolah merupakan bagian terpadu dalam system kurikulumnya yang mempunyai fungsi untuk :
1. Menjadi pusat kegiatan belajar mengajar untukpendidikan seperti tercantum dalam kurikulum sekolah
2. Sebagai pusat penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa mengembangkan kreatifitas dan imajinasinya.
3. Menjadi pusat rekreasi dengan membaca buku – buku dan mengisi waktu luang
4. Pusat belajar mandiri bagi siswa
5. Menyediakan sumber rujukan yang tepat guna untuk kegiatan konsultasi bagi pengajar dan pelajar.
Dilihat dari fungsi perpustakaan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa seseorang akan tertarik dengan sesuatu apabila tahu bahwa sesuatu itu berguna, menyenangkan bagi dirinya sehingga akan termotivasi untuk mengetahui lebih dalam dan serius.begitupula dengan peprustakaan, jika masyarakat sudah merasa membutuhkan peprustakaan sementara perpustakaan dianggap berguna dan menyenangkan maka disanalah peran, tugas , dan fungsi perpustakaan diaplikasikan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Menurut Arikunto (2002: 136) metode penelitian adalah cara digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitian.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan agar peneliti dapat mendeskripsikan secara jelas dan terperinci tentang analisis desain tata ruag baca perpustakaan sekolah di SMP Swasta Sultan Iskandar Muda
Menurut Moelong (2006: 6) “penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek peneliti misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan.
Dalam pendekatan kualitatif deskriptif data – data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata gambar bukan angka-angka. Data tersebut berasal dari naskah, wawancara, observasi, dan dokumentasi.
3.2 Karakteristik Informan
Menurut Molong responden atau informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian.
Teknik yang digunakan dalam pemilihan informan menggunakan purposive sampling, artinya teknik penentuan sumber data mempertimbangkan terlebih dahulu, bukan diacak. Artinya menentukan informan sesuai dengan kriteria terpilih yang relevan dengan masalah penelitian.
Dalam menentukan informan, peneliti membutuhkan sebuah gambaran yang luas dan juga mendalam terhadap sebuah fenomena sosial. Informan dalam penelitian ini adalah Civitas Akademika SMP Sultan Iskandar Muda Yaitu Kepala Perpustakaan, Desainer Interior, dan Siswa
No Kode Informan Jabatan
1 1.1 Kepala Perpustakaan
2 1.2 Arsitek desain interior
3 1.3 Kelas VII
4 1.4 Kelas VIII
5 1.5 Kelas IX
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Salah satu bagian dari proses pengujian data ialah teknik pengumpulan data . dalam pengumpulan data tentunya perlu teknik yang dapat digunakan secara tepat sesuai dengan masalah yang berhubungan dengan penelitian. Maka penulis menggunakan beberapa metode yang dapat mempermudah penelitian. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah :
a. Observasi (Pengamatan)
Arikunto (2006: 156) mengemukakan bahawa observasi atau disebut juga dengan pengamatan adalah suatu kegiatan yang meliputi pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala atau fenomena yang diselidiki dengan menggunakan seluruh alat indra.
Dari beberapa macam observasi yang ada, peneliti menggunakan jenis observasi partisipasi (participant observation) yaitu peneliti terlibat langsung dengan kegiatan sehari – hari orang yang diteliti atau yang digunakan sebagai sumber data peneliti.
Observasi dilakukan di SMP Sultan Iskandar Muda untuk memberikan beberapa peran serta beberapa kemungkinan kepada peneliti. Peneliti berpeluang langsung mendapatkan akses khusus kepada subjek penelitian.
b. Wawancara (Interview)
Menurut Moelong (2006: 186) wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua pihak yaitu antara pewawancara (interviewer) dan terwawancara (interviewee) dengan maksud tertentu.
Tujuan wawancara adalah untuk mengumpulkan data dan informasi yang lengkap, akurat, dan adil. Pedoman wawancara diperlukan agar tidak menyimpang dari tujuan penelitian, pedoman wawancara juga disusun berdasarkan teori yang berkaitan dengan masalah yang diteliti untuk mendukung wawancara.
Wawancara dilakukan kepada Civitas akademika SMP Sultan Iskandar Muda sebagai interaksi tatap muka dimana peneliti berusaha mendapatkan
informasi dari subjek penelitian atas pertanyaan yang disampaikan secara langsung.
c. Dokumentasi
Menurut Sugiyono (2015: 329) dokumentasi adalah suatu cara yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi dalam bentuk buku, arsip, dokumen, tulisan angka, dan gambar yang berupa laporan serta keterangan yang dapat mendukung penelitian. Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data kemudiaan ditelaah. Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian meliputi area koleksi, area baca, area staff, dan area lain-lain.
d. Studi Kepustakaan
Yaitu mengumpulkan data melalui berbagai literature dan dokumen yang berkaitan dengan masalah penelitian yaitu dengan berbagi jurnal dan buku.
3.4 Analisis Data
Menurut Sugiyono (2010: 333) analisis data adalah mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara,observasi dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sebelum memasuki lapangan dan setelah dilapangan adapun prosesnya yaitu :
a. Analisis data sebelum memasuki lapangan. Penelitian kualitatif telah melakukan analisis data sebelum peneliti memasuki lapangan.
Analisis dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan atau data sekunder yang akan digunakan untuk menentukan focus penelitian ini masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah masuk selama dilapangan (sugiyono 2013: 336)
b. Analisis data setelah dilapangan . dalam penelitian kualitatif analisis data dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban narasumber. Bila jawaban dari narasumber belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi sampai tahap tertentu.
3.5 Data dan Sumber Data
3.5 Data dan Sumber Data