BAB II. LANDASAN TEORI
C. DINAMIKA ANTARA PERSEPSI TERHADAP KEPEMIMPINAN
Karyawan Pria yang Dipimpin Oleh Wanita
Karyawan merupakan aset berharga bagi suatu perusahaan karena karyawan dan perusahaan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Karyawan memegang peran utama dalam menjalankan kehidupan perusahaan.
Peran serta adalah sebuah bentuk peran serta yang positif dengan mengoptimalkan kemampuan yang dimilikinya untuk kepentingan perusahaan dalam mencapai dan mewujudkan tujuan perusahaan. Peran serta yang optimal tersebut dapat ditunjukkan dalam sikap karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu kinerja karyawan itu sendiri. Kinerja karyawan dalam suatu perusahaan adalah hal yang sangat penting dalam mendukung maju-mundurnya sebuah perusahaan. Kinerja karyawan sangat diperlukan dalam kegiatan perusahaan, karena apabila dikelola secara tepat maka akan memberikan nilai tambah bagi suatu perusahaan. Apabila karyawan memiliki kinerja yang tinggi, maka laju roda perusahaan pun akan berjalan lancar dan akhirnya akan menghasilkan pencapaian yang baik bagi perusahaan.
Terbentuknya kinerja yang tinggi tidak terlepas dari beberapa pihak yang ada di dalam perusahaan tersebut. Kinerja sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan kerja. Salah satunya faktor yang mempengaruhi adalah kepemimpinan (Posner dalam Prasetyo, 2010).
Seorang pemimpin menyadari bahwa diri mereka tidak memiliki semua jawaban atas segala sesuatu yang timbul dalam perusahaan. Untuk itu pemimpin memerlukan bantuan dan partisipasi dari anggotanya. Hal ini dikarenakan berhasil tidaknya suatu pemimpin juga sangat ditentukan oleh penerimaan dan persepsi dari anggota-anggotanya (Harris dalam Hartini, 1999). Dapat dikatakan bahwa pemimpin juga sangat ditentukan oleh penerimaan dan persepsi dari anggota-anggotanya dalam mengartikan pemimpin itu sendiri dan dapat berguna dalam melakukan penilaian terhadap pemimpin tersebut.
Hubungan antara pemimpin dan karyawan merupakan hal yang sangat penting, karena efek yang ditimbulkan dari hubungan tersebut dapat menghasilkan hal yang efektif bagi kelangsungan sebuah organisasi. Dalam hal ini hubungan antara pemimpin dan karyawan dapat mempengaruhi hasil persepsi karywan terhadap pemimpin.
Hasil-hasil dari persepsi ini akan menentukan perasaan yang dialami oleh para karyawan. Baik itu perasaan nyaman atau sebaiknya mengenai kondisi tempat bekerja. Selain itu, karyawan juga merasa dihargai, didukung serta diperhatikan yang pada akhirnya perasaan seperti ini akan berpengaruh pada perilaku karyawan tersebut di dalam perusahaan.
Selain itu, perusahaan sangat memerlukan seseorang yang mampu mengatur dan merencanakan segala sesuatunya hingga terbentuk suatu kesamaan tujuan yaitu seorang pemimpin. Dengan adanya pemimpin maka arah dari sebuah perusahaan akan semakin jelas untuk dibawa ke arah
tujuan yang hendak dicapai. Pemimpin merupakan tulang punggung dan penentu kehidupan sebuah perusahaan. Pemimpin merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan setiap perusahaan. Maka, perusahaan akan mencari sosok yang dianggapnya memiliki potensi untuk menjadi pemimpin.
Hal ini mengkaitkan persepsi terhadap kepemimpinan yang akan mempengaruhi kinerja karyawan. Akan tetapi, berbeda halnya ketika jenis kelamin antara pemimpin dan karyawan berbeda. Hal ini dapat menyebabkan pengaruh terhadap kinerja karyawan. Menurut Castello & Zalkind (dalam Prasetyo, 2010) mengungkapkan bahwa seorang pemimpin dipersepsikan dan dinilai bagaimana tingkah lakunya oleh bawahan dan persepsi tersebut menentukan bagaimana atasan tersebut diterima oleh bawahan. Hal ini juga didukung oleh Hartini (1999) bahwa perilaku antara bawahan dan atasan dalam suatu organisasi juga dipengaruhi oleh persepsi. Persepsi bawahan mengenai kepemimpinan atasannya, akan menentukan perilaku bawahan.
Tak jarang pula perbedaan jenis kelamin antara pemimpin dengan karyawan membuat pengaruh terhadap kinerja karyawan. Entah dengan meremehkan sosok wanita ataupun karyawan pria merasa lebih bisa sehingga tidak fokus dalam pekerjaannya. Secara khusus, persepsi atau tanggapan yang muncul diantara kaum pria dan wanita akan berbeda. Pria yang dalam kehidupan sosial budayanya selalu mendapatkan tempat teratas dalam segala aspek kehidupan. Budaya ini sulit menerima kehadiran
pemimpin wanita sehingga banyak pihak memperkirakan kaum pria akan memiliki persepsi negatif terhadap kepemimpinan wanita. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pihak MPR yang menolak kepemimpinan wanita, bahkan ada yang mengerahkan massa untuk melegitimasi pendapat tersebut (Wahid,2001). Selain itu, API (Almanak Parpol Indonesia) menyatakan hampir seluruh partai politik tidak setuju diberlakukannya kouta terhadap kaum wanita karena pihak wanita cenderung dianggap tidak pantas menduduki posisi atas (sitat dalam Rahayu, Soeseno, Seda dan Soegono, 2002).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sahrah (2004) ada perbedaan persepsi terhadap kepemimpinan wanita antara subjek pria dan wanita. Dikatakan bahwa antara laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan dalam mempersepsikan kepemimpinan perempuan. Laki-laki lebih cenderung negatif dalam mempersepsikan kepemimpinan perempuan dibanding kelompok perempuan dalam mempersepsikan kepemimpinan perempuan. Hal ini berkaitan bagaimana karyawan menanggapi dan mengamati kepemimpinan wanita yang ada atau bagaimana karyawan mempersepsikan kepemimpinan wanita yang ada. Bias Gender tersebut menyebabkan seorang wanita kesulitan untuk memperoleh posisi yang lebih tinggi daripada seorang pria. Selain itu, walaupun seorang wanita dapat menjabat posisi yang lebih berkuasa daripada pria, wanita akan selalu berada dibawah pria. Misalkan gaji seorang wanita akan berada dibawah
gaji seorang pria atau penghasilan lebih minim daripada pria (Spector dalam Sahrah, 2004).
Dikatakan demikian karena hubungan jenis kelamin antara pemimpin dengan karyawan mempengaruhi persepsi karyawan. Hal ini yang menyebabkan adanya pengaruh terhadap kinerja karyawan. Setiap karyawan memiliki persepsi masing-masing terhadap pemimpinnya, khususnya pemimpin wanita. Apabila seorang karyawan memiliki persepsi yang baik atau positif terhadap pemimpinnya, maka kesan yang tertinggal dalam diri karyawan tersebut akan berlanjut membentuk suatu sikap atau perilaku yang positif pula. Perilaku tersebut dapat berupa kinerja yang baik oleh karyawan. Akan tetapi sebaliknya ketika memiliki persepsi negatif terhadap pemimpin wanita, karyawan akan memiliki penilaian yang negatif terhadap pemimpin yang mengakibatkan kinerja yang buruk.