BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL SERIBU BANGAU
2.4 Psikoanalisa Sigmund freud
2.4.3 Dinamika Kepribadian
Naluri (insting) merupakan representasi psikologi bawaan dari eksitasi pada tubuh yang diakibatkan oleh munculnya suatu kebutuhan tubuh, misalnya makan, minum, dan seks. Freud beranggapan bahwa naluri manusia ada dua macam yaitu:
1. Insting internal (life instincts), mengatakan bahwa tujuan hidup ini adalah untuk memenuhi kebutuhannya. Insting kehidupan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan.
2. Insting eksternal (death instincts), sesuai pembelajaran biologi, Freud mengemukakan fakta yang jelas bahwa semua yang hidup dapat rusak dan mati. Salah satu komponen dari death instincts adalah dorongan agresi, paksaan untuk menghancurkan, keinginan untuk berkuasa, dan membunuh.
3. Kecemasan
Kecemasan merupakan bagian yang tidak kalah penting dari teori Freud, artinya kecemasan ini merupakan variabel penting dari hampir semua teori kepribadian. Pada umumnya kecemasan dapat didefenisikan suatu keadaan perasaan keprihatinan, rasa gelisah, ketidak tentuan, atau takut dari kenyataan.
Fungsi kecemasan adalah memperingatkan sang pribadi akan bahaya, ia merupakan isyarat bagi ego bahwa kalau tidak dilakukan tindakan-tindakan tepat, maka bahaya itu akan meningkat sampai ego dikalahkan, (Suryabrata, 2010 :139).
Apabila kecemasan timbul, maka akan mendorong orang untuk melakukan sesuatu atau tindakan supaya tegangan dapat dihilangkan. Untuk menghadapi kecemasan yang berlebihan, sistem ego terpaksa mengambil tindakan ekstrim untuk menghilangkan tekanan itu. Tindakan tekanan itu disebut mekanisme pertahanan, sebab tujuannya adalah untuk mempertahankan ego terhadap kecemasan. Freud mengemukakan tiga jenis kecemasan, yaitu:
1. Kecemasan Realitas
Menurut E Koeswara (1991:45), kecemasan realitas adalah kecemasan individu terhadap bahaya-bahaya yang akan datang dari luar dan derajat kecemasan semacam itu sangat tergantung kepada ancaman nyata. Kecemasan realitas ini merupakan kecemasan individu yang diakibatkan dari rasa ketakutan dalam
menghadapi kenyataan disekitarnya atau ketakutan terhadap dunia luar. Bahaya itu berasal dari keadaan dalam lingkungan seseorang yang mengancam untuk mencelakakannya.
2. Kecemasan Neurotis
Kecemasan neurotis adalah kecemasan karena khawatir tidak mampu mengatasi atau menekan keinginan-keinginan primitifnya, ketakutan terhadap tidak terkendalinya naluri-naluri yang menyebabkan seseorang melakukan suatu tindakan yang bisa mendatangkan hukuman. Menurut Freud ( dalam Suryabrata, 2002:139 ), kecemasan neurotis adalah kecemasan kalau insting-insting tidak dapat dikendalikan dan menyebabkan orang berbuat sesuatu yang dapat di hukum.
3. Kecemasan Moral
Menurut Suryabrata, (2010:139), kecemasan moral adalah kecemasan kata hati. Kecemasan moral adalah hasil dari konflik antara Id dan Super ego, yang secara dasar merupakan ketakutan akan suara hati individu sendiri. Ketika individu termotivasi untuk mengekspresikan impuls instingtual yang berlawanan dengan nilai moral yang termasuk dalam Super ego individu itu maka ia akan merasa malu atau bersalah. Kecemasan moral menjelaskan bagaimana berkembangnya Super ego. Biasanya individu dengan kata hati yang kuat akan mengalami konflik yang lebih hebat daripada individu yang mempunyai kondisi toleransi moral yang lebih longgar.
BAB III
ANALISIS PSIKOLOGIS TOKOH UTAMA PADA NOVEL SERIBU BANGAU (SENBAZURU) KARYA YASUNARI KAWABATA
3.1 Sinopsis Cerita
Seribu Bangau dikenal sebagai novel serius yang tergolong misteri, yakni menonjolkan cerita tentang pembunuhan mengerikan terhadap seorang wanita yang korbannya terbunuh karena dianggap telah membuat patah hati terhadap Kikuji. Yang dianggap membunuh kekasihnya sendiri. Cerita ini di selingi dimana Kikuji mempunyai seorang sahabat yang baik, namun lima bulan kemudian kekasihnya itu meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Kisah ini tentang hasrat yang menyala, penyesalan dan juga kenangan yang sangat sensual yang menghubungkan betapa Kikuji dekat dengan yang hidup dan yang sudah mati.
Kikuji adalah seorang laki-laki yang umurnya beranjak usia remaja.
Dimana saat ia ber umur delapan tahun Kikuji telah di ajak ayahnya mengunjungi rumah kekasihnya, dan mereka melihatnya diruang sarapan. Kemudian Kikuji bertemu dengan si gadis pemilik kain Seribu Bangau itu di Kuil Engakuji dalam acara minum teh. Dimana pertemuan dengan sigadis, Yukiko Inamura, di tentukan oleh Kurimoto Chikako sorang perempuan ( atau laki-laki ) yang telah mengabdi pada ayah Kikuji untuk merawat pondok teh. Tak hanya bertemu dengan kekasihnya, Kikuji juga bertemu dengan sahabatnya Fumiko.
Cerita ini dimulai saat Kikuji berusia sekitar duapuluh tahun. Dan kekasihnya berusia empat puluh lima tahun, namun ia telah membuat Kikuji melupakan usianya itu saat mereka bercinta. Kikuji merasa bahwa dia tengah mendekap perempuan yang lebih muda darinya. Dalam upacara minum teh dia berlaku sigap dengan penuh semangat. Kikuji merasakan seluas senyuman menghiasi bibirnya, dan kemudian tampak dua perempuan muda bergegas di belakangnya. Dia berhenti, memberi mereka kesempatan mendahuluinya.
‘’Apakah anda tahu pondok yang dipesan Nona Kurimoto mungkin ke arah ini?’’
‘’Ya, benar.’’Keduanya menjawab bersamaan.
Kikuji sudah tahu, dan dia bisa melihat dari pakaian mereka bahwa mereka sedang menuju ke sebuah upacara minum teh. Dia bertanya sebab dia ingin meyakinkan diri bahwa dirinya benar-benar hendak serta. Salah satu gadis itu jelita dia menjinjing sesuatu yang di bungkus dengan tablak, corak Seribu Bangau menghiasi kain krep berwarna merah muda itu. Kemudian terjadi percakapan yang cukup panjang tentang Kikuji dan mendiang kekasihnya hingga berakhir pada hubungan terlarang.
Kikuji bersembunyi- sembunyi membututi seorang laki-laki. Kikuji juga sering menakut-nakuti kekasihnya. Seluruh kecemburuannya yang terpendam seakan meledak. Kekasihnya yang pendiam dan bijaksana, terkejut oleh campur tangan yang membara itu, khawatir akan apa yang mungkin dipikirkan oleh Kikuji dan yang dipikirkan orang lain.
‘’Cobalah untuk tidak menebar racun terlalu luas, bila kamu tidak keberatan.’’ Bahkan ibu Tokoh Utama butuh protes.
‘’ Kamu simpan saja racun sialan itu di tubuhmu, itu sumber persoalannya. Kuasai dirimu, tumpahkan semuanya keluar. Lihat betapa kurusnya dirimu. Memang ada sesuatu yang tidak baik dengan kekasihnya itu. Kikuji mengira kalau dia menangis bergulingan, semua orang akan mengerti dengan perasaan sakit hatinya, tetapi kekasihnya sendiri tidak peduli dengan perasaannya itu. Dalam perkiraannya kekasihnya telah mengabaikan perasaannya.
Angin senja menggerisikkan dedaun muda. Kikuji melangkah berlahan, topinya ada di tangan. Dari kejauhan dia melihat kekasihnya berdiri dibawah bayangan gerbang utama. Dia mencari jalan untuk menghindarinya. Jika berjalan ke atas ke kanan atau ke kiri, dia mungkin bisa meninggalkan kuil melalui pintu keluar yang lain. Pada akhirnya dia berjalan menuju gerbang. Rasa gusar tertampang di wajahnya. Sangat jelas dia tidak ingin bertemu dengan ku.’’Kata-kata itu mungkin lugas, juga mungkin penuh dengan pertimbangan, namun jawabannya cukup terus terang.
Kikuji amat tidak nyaman, Dan tampak ganjil Karena mengharapkan rasa simpati kekasihnya sebagai suatu keharusan. Namun suasana hatinya tak jelas apakah tidak merasa suka atau tidak percaya. Di dalamnya ada nostalgia yang dalam dan penuh kasih. Kekejaman yang di rasakan Tokoh Utama, akibat apa yang dilakukan kekasihnya itu telah membuatnya kehilangan sebagian kekuatannya, meskipun belum sepenuhnya musnah. Masih saja terlihat kemungkinan bahwa kekasihnya itu memperlakukan dirinya dengan hina. Tokoh
Utama melihat tanda-tanda melihat kekejian dalam dirinya sendiri, dan dia menemukan sesuatu yang menggoda dalam benaknya bahwa dia bisa melukai kekasihnya itu dengan ringan hati. ‘’Apakah kamu sering datang datang ke acara Kurimoto?’’ Tokoh Utama bertanya. ‘’Bukankah kamu sudah cukup bersamanya?’’
‘’ Aku menerima surat darinya, aku amat sangat merindukannya , aku merasa sangat kesepian. ‘’Dia bicara dengan kepala tertunduk. “Dan apakah dia ikut serta?’’ dia telah menyeberangi rel kreta dan melewati Stasiun Kamakura Utara, dan menaiki bukit di seberang Kuil Engakuji. Mereka pergi ke losmen di atas bukit untuk menikmati makan malam, kareana kekasihnya masih bicara tentang kekasihnya. Tokoh utama tidak harus mendengarkan. Sungguh itu suatu perasaan ganjil, dan jauh di lubuk hatinya bersemayam seberkas bayangan gelap, seakan menebar bisa bersama rasa sesal datang pula rasa ternoda dan jijik, dan kebencian pada kekasihnya dan menekannya hingga membuatnya mengatakan sesuatu yang lebih keji. “Namun aku memang merasa sedikit ingin mencekik seseorang’’dia menekuk leher jenjangnya. ‘’Leherku kurus, kamu pasti tidak akan kesulitan. ‘’Bisakah kamu mati sekarang?’’ tidak ada bedanya aku akan menua dan mati karena satu atau lain hal. Tiba-tiba Kikuji mencekik leher kekasihnya itu, Kemudian terkena serangan jantung. Kekasihnya merasa takut dan tidak tahu mau berbuat apalagi. Kikuji tidak segera menelpon dokter. Dan berlahan-lahan kekasihnya tidak berdaya dan akhirnya meninggal dunia. Dia melihat mentari senja kala sebagaimana yang ia lihat setelah menghabiskan malam bersama kekasihnya. Rona merah sang surya itu tampak hendak mengalir menyelusup di
antara reranting. Taman itu nyenyat dalam gelap membelakangi mentari. Sinar mentari yang mengalir di sela-sela reranting itu tenggelam di dalam mata letihnya, dan ia mengatupkannya. Burung-burung bangau pada kain kekasihnya itu terbang membelah mentari senja, yang sirep di dalam matanya.
Dihari setelah hari ketujuh sejak upacara pemakaman. Kikuji merasa menyesal karena mengatakan hal buruk kepada kekasihnya itu, dan bertanya apakah yang membuatnya mati, terpikir disaat itu bahwa Kikuji mengakui bahwa penyebabnya adalah pebuatannya yang keji. Setelah mengirim kekasihnya ke liang lahad, seharusnya hari-hari damai itu kembali. Namun kenyataannya tidak begitu. Perbuatannya itu membuatnya gelisah. Setelah kejadian itu Kikuji sering menghabiskan waktunya di kamar, tidak mau bertemu muka dengan siapa pun.
Karena terus mengingat kejadian itu dan tidak bisa menahannya lagi. ’’Aku adalah orang yang harus merasa malu.’’Rasa malu itu meutupi wajahnya.’’Seandainya aku bisa menghilang.’’Rasa sakit menusuk menembus dadanya.’’ Aku membuatnya mati.’’Saya pikir sudah cukup bila orang yang meninggal di maafkan, mungkin dia meminta dimaafkan. Apakah ada keringanan beban juga bagi si mati? mendengar kata-kata Fumiko membuat diri kuatir akan orang yang telah mati, apakah dalam banyak hal itu suatu kesalahan. Orang mati tidak menuntut pertimbangan moral pada orang yang masih hidup. Kikuji kembali menatap foto kekasihnya.
Cerita ini berakhir dengan Kikuji bertemu dengan sahabat baiknya dengan seorang gadis yang bernama Fumiko. Hubungan Fumiko dan Kikuji pun menjadi dekat. Namun masih dibayangi oleh kematian kekasihnya. Fumiko telah
mengatakan bahwa kematian ada dikakinya. Kaki Kikuji pun mendadak membeku. Dia mengusap mukanya dengan sapu tangan. Darahnya terasa hilang ketika dia mengusap, sapu tangan itu basah dan gelap. Dia merasakan keringat dingin membasahi punggungnya. Dan lima bulan kemudian Fumiko menghilang dan menjauh darinya tanpa alasan yang jelas. Gadis itu telah menjadi mutlak dan tak ada bandingannya. Gadis itu telah menjelma sebuah keputusan dan tujuan.
Kikuji pada akhirnya mampu menguak jalan menembus tirai yang gelap, dan buruk itu. Kenyataannya orang mungkin berfikir, menunjukkan betapa dalam Kikuji telah tenggelam dalam jerat kutukan itu, betapa menyeluruh kelumpuhannya. Namun Kikuji merasakan sebaliknya, bahwa dia sudah terlepas dari kutukan dan kelumpuhannya. Itu serupa dengan seorang pecandu yang telah terbebaskan dari kecanduannya dengan menenggak obat dalam dosis besar.
Seakan ingin meraih kembali kebahagiaan yang tercuri selama ini.
3.2 Analisis Kondisi Psikologis Dan Struktur Kepribadian Tokoh Utama 3.2.1 Id
Cuplikan 1 ( hal 60)
Masih saja terlihat bahwa kekasihnya memperlakukan Kikuji dengan hina. Kikuji banyak menemukan tanda-tanda kekejian di dalam dirinya dan suatu hari dia menemukan sesuatu yang menggoda dalam benaknya bahwa dia bisa melukai kekasihnya itu dengan ringan hati.
‘’Kamu jangan bercanda soal itu. Namun aku memang merasa ingin mencekik seseorang.’’Oh? Terima kasih.’’Dia menekuk lehernya.
Analisis
Dari cuplikan di atas terlihat bahwa Kikuji begitu menderita. Hari demi hari bayangan cemburu selalu menghantui fikirannya dan itu membuat Id yang merupakan keinginan bawah sadar manusia muncul. Karena kebingungan atas apa yang menimpa dirinya. Kikuji berusaha untuk menghabisi kekasihnya sendiri.
Yang terlintas dipikirannya hanyalah memenuhi kinginan Id dan insting internalnya, yaitu membunuh. Jika kekasihnya mati, mungkin masalah yang menimpanya sudah selesai. Dalam hal ini Ego melakukan tindakan yang diinginkan oleh Id. Hal ini sesuai dengan teori Sigmund Freud bahwa Id selalu menginginkan atau mendorong hal-hal yang dikehendaki agar perasaan puas segera diwujudkan.
Kondisi psikologis yang dialami Kikuji adalah kecemasan tentang kenyataan yang harus diterima bahwa kekasihnya telah berselingkuh. Karena sudah kecewa kehidupannya menjadi tidak tenang. Insting eksternal yang ada dalam pikirannya sejalan dengan Id nya sehingga membuat Ego sulit untuk mengontrol keduanya.
Cuplikan 2 (hal 54)
‘’Maafkan aku aku ingin bertemu dengan mu, dan aku tidak bisa pergi.’’
Di sekitar matanya ada cekungan dan kerutan, dan noda gelap dibawahnya.
Lipatan kelopak matanya mempertegas adanya kepedihan. Dan mata yang memohon itu berkilau oleh air mata.
Analisis
Nampak dalam kalimat ‘’Maafkan aku, aku ingin bertemu dengan mu, dan aku tidak bisa pergi.
Bahwa terdapat indeksikal dorongan keinginan Id yang besar. Keinginan untuk tidak menerima kenyataan, keinginan untuk tidak membiarkan kekasihya selingkuh.
Kondisi psikologis Kikuji yaitu ia merasa akan selalu ada bayang-bayang masa lalunya dengan kekasihnya, dan Kikuji akan sulit melupakan semua kenangannya. Insting internal yang ada dalam fikirannya di tambah dengan kecemasan yang ada dalam hatinya, menimbulkan Id sebagai pembunuhan alam bawah sadarnya.
Cuplikan 3 (hal 93)
Setiap kali ia melihat kekasihnya itu, sesuatu yang kelam di dalam hati Kikuji semakin tumbuh besar. Dia semakin merasa sesak.
‘’Ya. Aku bilang agar tidak ada yang menghalangi.’’Tidak ada jalan lain selain membunuhnya.’’
Analisis
Nampak bahwa insting mati (eksternal) yang ada di dalam dirinya mendorong keinginan Id dan insting mati (eksternal) yang besar, yaitu membunuh. Selain itu, kecemasan atas kenyataan yang telah terjadi pada Kikuji, yaitu pengalaman buruknya terus mempengaruhi alam bawah sadarnya sehingga menutup kemungkinan Ego dan Super ego dapat mengontrol keinginan dari Id dan instingnya.
Cuplikan 4 (hal 101)
‘’Mengapa membawa mangkuk ini’’ ? ‘’kenapa jawab fumiko.’’Kikuji menyentuh mangkuk itu dan memutar-mutar mangkuk itu di atas lututnya. Namun ia menghindari menyentuh bibir mangkuk itu.
Sejak hari itu. Kikuji tersiksa oleh ingatannya lagi. Setiap kali ia melihat mangkuk itu. Sentuhan tangan yang menjijikkan seperti meniupkan napas di sekujur tubuhnya. Ketakutan mengguncang dalam hatinya. Ia bertekad akan memecahkan mangkuk yang sering di gunakan kakasihnya itu.
Analisis
Dari cuplikan di atas terlihat bahwa kecemasan dan insting eksternal yang ada dalam hati Kikuji terus menghantui pikirannya. Kekasihnya telah meninggalkan luka dalam hatinya, semua hal itu membuat Kikuji tidak bisa tenang. Id yang merupakan dorongan bawah sadar muncul dan mendorong Ego untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan dari Id tersebut. Karena takut di hantui
bayangan kekasihnya. Kikuji memecahkan mangkuk itu. Ego yang seharusnya dapat menahan impuls dari Id, tidak dapat mengontrol keinginan dari Id tersebut.
Cuplikan 5 ( Hal 107 )
Kikuji menghabiskan waktunya di dalam kamar, tidak mau bertemu muka dengan siapapun. Tubuhya, terus gemetaran. Wajahnya yang gelisah, dan penghianatan kekasihnya tidak lepas dari ingatannya. Semakin bertambah hari, bukannya semakin lupa, tapi dia semakin ingat dan ingat, seperti merasakan semua lagi.
Suatu malam, Kikuji tidak bisa menahannya lagi, jadi dia mengurung dirinya di kamar, Jadi dia tak sadarkan diri dikamar, jatuh pingsan. Tidak peduli dirinya mati atau pun hidup. Saat dia sadar. Namun ternyata dia ada di rumah sakit dan di sebelahnya ada sahabatnya yang sedang menangis
Analisis
Dari cuplikan di atas terlihat bahwa Kikuji begitu menderita. Hari demi hari bayangan kekasihnya selalu menghantui fikirannya dan itu membuat Id yang merupakan keinginan bawah sadar manusia muncul. Karna penderitaan yang menimpa dirinya. Kikuji berusaha menghabisi dirinya sendiri. Yang terlintas difikirannya hanyalah memenuhi keinginan Id dan Insting internalnya yang ingin bunuh diri. Jika dirinya mati, mungkin masalah yang menimpanya sudah selesai, namun dia tidak memikirkan bagaimana perasaan sahabatnya jika nyawanya tidak tertolong. Dalam hal ini ego melakukan tindakan yang di inginkan Id. Di sini berarti ego mengalami kegagalan dalam hal mengontrol keseimbangan Id dan
superego. Hal ini sesuai dengan teori kepribadian Sigmund Freud bahwa Id selalu menginginkan atau mendorong hal-hal yang dikehendaki agar perasaan puas segera diwujudkan.
Kondisi psikologis yang dialami Kikuji adalah kecemasan tentang kenyataan yang harus di terima bahwa dirinya telah membunuh kekasihnya sendiri. Insting internal yang adadalam fikirannya sejalan dengan Id nya sehingga membuat ego sulit untuk mengontrol keduanya.
3.2.2 Ego
Cuplikan 1 ( Hal 109 )
‘’Aku tidak ingin melihat wajahnya.’’Kikuji menuntut kepada sahabatnya.
Namun, sahabatnya memandang Kikuji dengan tatapan serius. ‘’Tidak… kau akan menemui kekasihmu.” ’’Hah?’’ Kikuji menutup telinganya. Menemuinya?
Apa yang kau katakan? Adalah tidak mungkin, jika tidak ada kehidupan di dalam dirimu.
Analisis
Dalam cuplikan “Tidak…kau akan menemui kekasihmu.’’ Adalah tidak mungkin jika tidak ada Kehidupan di dalam dirimu. Sahabatnya mengatakan bahwa Kikuji harus tetap menemui kekasihnya. Tidak semua manusia harus membenci dan dendam terhadap orang yang kita sayangi. Kata maaf bisa membendung kesalahan yang di lakukan seseorang. Di sini super ego mengalami keberhasilan karna ego dapat mengontrol keseimbangan antara Id dan super ego.
Cuplikan 2 ( Hal 118 )
‘’Sekarang cepat kembali nanti sahabatmu khawatir.’’
Kekasihnya yang sudah puas langsung pergi dengan selingkuhannya tanpa mengucapkan terima kasih. Kikuji berfikir jika memang dia harus membunuhnya, harus secepatnya.
Mungkin ada satpam keamanan di daerah taman, maupun di sekelilingnya. Tapi saat itu Kikuji tidak bertekad untuk melakukan rencananya setelah satu bulan Kikuji menemui kekasihnya di tempat yang sama dan dia memang melakukannya.
Analisis
Cuplikan di atas menggambarkan bahwa Id yang ada dalam diri Kikuji dapat dikontrol oleh ego. Hal ini dapat terlihat dalam kalimat ‘’Kikuji berfikir jika memang dia harus membunuhnya, harus secepatnya. Ego bekerja sebagai prinsip realita berusaha mengontrol Id dan Insting mati (eksternal) untuk behati-hati melihat kenyataan. Kenyataan bahwa mungkin ada yang memantau gerak-geriknya atau pun yang bisa dijadikan barang bukti atas tindakan yang dilakukannya.
Cuplikan 3 ( Hal 120 )
Setelah pekerjaan selesai. Sebenarnya Kikuji hari ini ingin menjalankan rencananya, tapi mau gimana lagi. Kikuji tidak boleh melakukan tindakan mencurigakan, seperti membolos saat pekerjaan di kantornya belum selesai.
Analisis
Dari cuplikan diatas terlihat bahwa Ego dan kecemasan neurotis yang merupakan suatu kecemasan atas apa yang mungkin terjadi, yang dalam hal ini adalah kecemasan atas kemungkinan diketahuinya gerak-gerik Kikuji dalam melakukan proses pembunuhan, dapat mengontrol dorongan Id nyaa itu.
Keinginan Id untuk segera dipuaskan dapat terhenti oleh Ego dan juga kecemasan neurotis. Ego di dalam dirinya memutuskan untuk jangan gegabah dan ter buru-buru dalam bertindak. Dalam hal ini Id mengikuti keinginan dari Ego.
Cuplikan 4 ( Hal 122 )
‘’Apa ada yang datang?’’ Tanya Kikuji.
‘’Ah, tidak ada yang datang, mugkin karna tempat ini agak terpencil juga.’’Kata sahabatnya.
Percakapan berhenti disitu, tapi Kikuji sudah bisa sedikit lega. Saat ini tidak apa-apa. Hanya itu yang menjadi penolongnya.
‘’Pasti tidak ada apa-apa yang ditemukan di daerah taman itu. Yang penting, lebih baik setelah ini tidak membunuh lagi.’’Bisik Kikuji dalam hati.
Sambil memaksa dirinya percaya seperti itu, hari senin dia bekerja seperti biasanya. Namun, kekhawatirannya jika penyelidikan tiba-tiba berbalik arah tidak bisa ia hilangkan. Mungkin bagi dia sudah tidak ada lagi kehidupan masa depan. Dengan perasaan yang berat dia pun melanjutkan pekerjaannya.
Analisis
Dari cuplikan di atas bahwa Kikuji merasa cemas atas tindakan yang sudah dia lakukan. Ego yang terus saja berbisik di dalam hatinya meyakinkan dirinya untuk tidak memenuhi keinginan Id, yaitu membunuh. Dengan kata lain, Ego dapat mengontrol keinginan atau kebutuhan dari Id. Dan lagi, kecemasan moral mendorong Ego dan super ego dalam mengalahkan Id. Ketika Kikuji sadar atas perbuatannya, dia merasa ketakutan dan menyesal. Takut menerima hukuman dari tindakannya yang tidak sesuai dengan aturan moral.
Cuplikan 5 ( Hal 126 )
‘’Kenapa aku jadi seperti ini? Padahal kekasih ku sudah mati. Knapa
perasaan ku gelisah? Lebih baik aku tidak menimbulkan bahaya.’’Pikir Kikuji.
Lebih dari ini akan berbahaya. Lebih baik dia menghentikannya. Tentu saja Kikuji mengerti hal itu dari kepalanya, tapi perasaannya yang kuat semakin berubah menjadi ombak yang liar dan seperti hendak menyobek kekasihnya itu.
Analisis
Dari cuplikan kalimat ‘’Lebih baik aku tidak menimbulkan bahaya.’’
Tentu
Saja Kikuji mengerti hal itu dari kepalanya, tapi perasaannya yang kuat semakin berubah menjadi ombak yang liar dan seperti hendak menyobek
Saja Kikuji mengerti hal itu dari kepalanya, tapi perasaannya yang kuat semakin berubah menjadi ombak yang liar dan seperti hendak menyobek