IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.6. Dinamika makroalga di daerah transplantasi karang
Makroalga merupakan salah satu produsen di ekosistem terumbu karang sehingga ikan-ikan terumbu herbivora menjadikan makroalga sebagai makanannya (Diaz-Pulido & McCook 2008). Secara alami makroalga merupakan biota yang sangat cepat tumbuh dan menempati setiap ruang yang kosong. Kehadiran makroalga ini menjadikannya sebagai kompetitor bagi terumbu karang, khususnya dalam hal niche (ruang). Selama pengamatan pada daerah transplantasi karang, persen penutupan makroalga selalu berfluktuasi dan cenderung menurun
setelah bulan Januari. Berikut lebih jelasnya grafik perubahan makroalga setiap pengamatan.
Gambar 15. Grafik luas penutupan makroalga di area transplantasi karang Pulau Karya
Persen penutupan makroalga mengalami puncaknya terdapat pada bulan Januari yang merupakan musim barat atau musim penghujan. Tingginya persen penutupan makroalga pada bulan Januari diduga karena tingginya nitrat dan fosfat pada bulan tersebut serta sedikitnya ikan herbivora pada bulan tersebut. Hal ini sesuai dengan hasil analisis kondisi perairan pada bulan tersebut yang menunjukkan bahwa kandungan nitrat dan fosfat telah melebihi baku mutu KepMen LH 51/2004. Keberadaan fosfat dan nitrogen yang berlebihan pada perairan dapat menstimulir terjadinya ledakan alga (Boney 1989 in Effendi 2003). Disamping itu, menurut Mayakun & Prathep (2005) menyatakan bahwa kelimpahan dan keanekaragaman makroalga dipengaruhi oleh faktor musim barat dan timur. Melimpahnya Padina minor pada bulan Januari dapat diduga karena adanya run off nutrien selama musim penghujan sehingga menyebabkan pengkayaan nutrien di perairan.
Menurut Green & Bellwood (2009), ikan herbivora dan echinoids
merupakan hewan pemakan alga. Sehingga keberadaan hewan tersebut diduga mempengaruhi perubahan makroalga di daerah transplantasi karang. Hubungan antara dua kelompok biota berdasarkan kelimpahan ikan terumbu herbivora dengan persen penutupan makroalga dianalisa dengan menggunakan regresi linear sederhana. Hasil analisis regresi linear sederhana dapat dilihat pada gambar 16 dan lampiran 2. 0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 14% 16%
Gambar 16. Regresi linear sederhana antara kelimpahan ikan herbivora dengan percent
cover makroalga
Hasil analisis regresisi linear sederhana antara kelimpahan ikan terumbu herbivora dengan makroalga diperoleh R2 (determinasi) sebesar 0,4189 atau 41,89%. Hasil ini menunjukkan bahwa penelitian ini hanya mampu 41,89% menggambarkan kondisi sebenarnya. Sedangkan R korelasi diperoleh sebesar 0,6472 yang menunjukkan bahwa hubungan/korelasi antara kelimpahan ikan herbivora dengan persen penutupan makroalga tergolong erat. Rendahnya R determinasi menunjukkan bahwa ikan herbivora memiliki kecenderungan dalam mempengaruhi makroalga. Untuk mengetahui apakah kecenderungan tersebut memberikan dampak yang nyata terhadap makroalga maka dianalisis menggunakan anova single factor yang dapat dilihat pada tabel 5 dibawah ini.
Tabel 5. Anova single factor
Source of Variation df MS F P-value Fcrit
Between Groups 1 73041.59 7.1956 0.0278 5.3176 Within Groups 8 10150.75
Total 9
Pada selang kepercayaan 95%, Fhitung (7,1957) > Ftabel (5,3176) maka tolak H0 atau dengan kata lain kelimpahan ikan herbivora memberi pengaruh yang nyata terhadap luas penutupan makroalga. Hasil ini menunjukkan bahwa kelimpahan ikan terumbu herbivora ikut andil dalam memberi pengaruh terhadap
y = -0.0002x + 0.1082 R² = 0.4189 0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 14% 16% 0 100 200 300 400 % cove r Padina m inor
perubahan makroalga di daerah transplantasi karang. Hubungan ikan herbivora dan makroalga telah banyak diteliti. Pada beberapa penelitian, secara statistik telah menunjukkan hubungan yang signifikan. Salah satunya adalah penelitian McCook (1996) menunjukkan bahwa makroalga Sargassum siliquosum yang ditransplantasi dari terumbu di paparan dalam ke paparan tengah tidak dapat tumbuh dengan baik jika dikurung dengan hewan herbivora. Keberadaan ikan terumbu herbivora memberikan keuntungan tersendiri bagi terumbu karang, yaitu sebagai resilience. Selain itu, juga menyediakan ruang untuk menempelnya larva planula karang dari kompetisi ruang dengan alga (Green & Bellwood 2009). Berikut dibawah ini merupakan komposisi tipe fungsional ikan herbivora.
Gambar 17. Komposisi tipe fungsional ikan terumbu herbivora di area transplantasi karang Pulau Karya
Pada tingkat komposisi fungsional ikan terumbu herbivora pada daerah transplantasi karang selama pengamatan ini cenderung didominasi oleh kelompok ikan grazers dan scrapers. Kedua kelompok ikan ini merupakan ikan herbivora pemakan turf alga dan hanya scrapers yang mampu menghilangkan substrat ketika memakan turf alga. Kelompok ikan grazers dan scrapers didominasi oleh famili Scaridae dan Siganidae (dapat dilihat dilampiran 5). Kelompok grazers dan
scrapers diduga dapat mempengaruhi makroalga yang ada di daerah transplantasi karang. Hal ini berdasarkan penelitian Paddack & Cowen (2006) menyatakan bahwa kelompok ikan grazers merupakan salah satu ikan yang dapat membatasi pertumbuhan atau penyebaran makroalga dengan cara memakan alga yang baru
0% 20% 40% 60% 80% 100% P er se ntas e Waktu pengamatan Browsers Grazers/detrivors Large excavators/bioreders Small excavators/scrapers
tumbuh. Alga yang baru tumbuh (turf alga) merupakan suksesi alga sebelum makroalga tumbuh, sehingga dengan memakan turf alga maka akan menghilangkan bibit atau calon makroalga.
Ikan terumbu herbivora merupakan agen penting dari bioerosion pada terumbu karang, yaitu penghapusan materi dari matriks karang dengan proses biologis. Kelompok ikan bioreders memainkan peran kunci dalam bioerosion dengan menggali atau memakan permukaan matriks terumbu atau koral hidup. Materi ini diproses oleh rahang khusus kelompok ikan bioreders, sehingga menjadi sedimen dan dikembalikan ke karang atau daerah sekitarnya melalui pembuangan kotoran dari ikan tersebut (Choat 1991). Bioerosion memainkan peran penting dalam ketahanan terumbu karang dengan membuang karang mati dan membersihakan substrat untuk kolonisasi oleh organisme bentik, memfasilitasi penyelesaian, pertumbuhan dan kelangsungan hidup alga dan terumbu karang. Ikan terumbu herbivora juga dapat memainkan peran penting dalam mengembalikan fase alga ke fase karang (Hoey & Bellwood 2007). Kehadiran hewan herbivora juga dibutuhkan anakan karang agar makroalga tidak menghalanginya dari sinar matahari untuk proses fotosintesis. Laju kelangsungan hidup koloni karang tergolong rendah dengan adanya makroalga yang tumbuh didekatnya (Lirman 2001).
Makroalaga juga dipengaruhi oleh echinoids, salah satunya adalah
Diadema sp. atau lebih dikenal dengan bulu babi. Diadema sp. ini merupakan hewan pemakan alga non-crustose (alga yang tidak keras). Berdasarkan penelitian Hernandez et al. (2008) yang menyatakan bahwa Diadema aff. antillarum dapat mengendalikan makroalga non-crustose secara signifikan. Sehingga dapat diduga bahwa Diadema sp. Juga mempengaruhi perubahan makroalga Padina minor, karena Padina minor merupakan makroalga tipe fleshy. Secara alami makroalga merupakan biota yang sangat cepat menempati setiap ruang yang kosong. Jika herbivora dihilangkan dari kawasan tersebut maka makroalga akan melimpah pada daerah transplantasi karang yang dapat menginvasi terumbu karang. Oleh sebab itu, untuk mengendalikan makroalga perlu adanya kehadiran hewan herbivora baik ikan herbivora maupun echinoids. Disamping itu kondisi perairan dan musim juga mempengaruhi kelimpahan makroalga di suatu perairan.