• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Struktur komunitas ikan terumbu

Hasil pengamatan komunitas ikan terumbu yang terdata selama 1 tahun menunjukkan kekayaan spesies ikan terumbu sebesar 76 spesies yang termasuk kedalam 17 famili. Jumlah spesies tertinggi yang ditemukan selama pengamatan adalah famili Pomacentridae sebanyak 25 spesies, disusul dengan famili Labridae sebanyak 15 spesies. Sedangkan pada penelitian Utami (2010) di area transplantasi karang Pulau Kelapa ditemukan 85 spesies ikan terumbu yang tergabung ke dalam 19 famili. Perbedaan kekayaan jenis ikan terumbu pada kedua penelitian disebabkan karena luas area pengamatan dan kondisi lingkungan perairan yang berbeda. Luas pengamatan pada penelitian Utami (2010) lebih besar dibandingkan dengan penelitian ini, yaitu 675 m2 dan 500 m2. Sedangkan kondisi

lingkungan perairan juga sangat mempengaruhi penyebaran ikan terumbu di perairan. Pada penelitian Utami (2010), kondisi lingkungan perairan tergolong kondisi baik, sedangkan pada penelitian ini tergolong dalam perairan dengan kondisi sedang karena terdapat beberapa parameter perairan yang melebihi baku mutu peraiaran, sehingga ikan terumbu lebih banyak di area transplantasi karang pulau Kelapa dibandingkan dengan Pulau Karya. Ikan terumbu lebih memilih habitat yang sesuai dengan karakteristiknya dan akan bermigrasi ke habitat lain jika habitat tidak sesuai dengan karakter ikan terumbu (Aktani 2003).

Kelimpahan ikan terumbu yang terdata selama pengamatan sebanyak 3483 ind/500 m2. Kelimpahan ikan terumbu yang paling tinggi terdapat pada famili Pomacentridae sebanyak 1615 ind/500 m2 dan Labridae sebanyak 649 ind/500 m2, disusul dengan famili Scaridae dan Siganidae yang masing-masing famili sebanyak 368 ind/500 m2 dan 352 ind/500 m2. Tingginya famili Pomacentridae dan Labridae, diduga karena melimpahnya turf alga dan organisme invertebrata yang melimpah pada daerah transplantasi karang yang merupakan sumber makanan bagi kedua famili ini. Selain itu famili Pomacentridae merupakan ikan terumbu yang memiliki spesies yang paling banyak, yaitu sekitar 300 spesies dan sebagian besar berasosiasi dengan terumbu, memakan berbagai jenis invertebrata, alga dan zooplankton (Kuiter 1992, Allen et al. 2003).

Pomacentridae merupakan famili ikan terumbu yang mendominasi di Kepulauan Seribu (Aktani 2003). Famili ini memiliki tingkat kelentingan yang sangat tinggi, yaitu kurang dari 15 bulan (Froese & Pauly 2011). Kelentingan adalah waktu yang dibutuhkan dalam proses menggandakan populasinya. Sehingga dapat dikatakan ikan famili ini menggandakan jumlah populasinya atau bereproduksi dalam waktu kurang dari 15 bulan. Selain itu Pomacentridae juga sangat dipengaruhi oleh karakteristik morfologi dari substrat, bahkan beberapa spesies diantaranya cenderung menggunakan terumbu karang sebagai habitat daripada sebagai sumber makanan (Karnan 2000). Oleh sebab itu, dapat diduga dengan adanya rak dan substrat pada daerah transplantasi karang menarik famili ini untuk hidup di habitat transplantasi karang.

Labridae yang banyak muncul di daerah transplantasi karang berasal dari genus Halichoeres dan Thalassoma, yaitu masing-masing sebanyak 394 ind/500

m2 dan 102 ind/500 m2. Genus Halichoeres yang ditemukan sebanyak 7 spesies yang didominasi oleh spesies Halichoeres chloropterus dan Halichoeres melanurus. Sedangkan genus Thalassoma yang ditemukan hanya 1 spesies, yaitu

Thalassoma lunare. Genus Halichoeres dan Thalassoma tergolong ikan mobile invertebrate feeder yang memakan berbagai jenis hewan invertebrata seperti krustasea dan moluska (Ferreira et al. 2004). Ikan dari genus Halichoeres dan

Thalassoma ini dapat dijumpai dimana-mana pada daerah terumbu karang, karena ikan jenis tersebut toleran pada habitat yang bervariasi (Karnan 2000). Kelimpahan ikan terumbu secara umum dapat dilihat dengan jelas pada gambar 6 berikut ini.

Gambar 6. Kelimpahan ikan terumbu secara umum di area transpantasi karang Pulau Karya

Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa kelimpahan ikan setiap pengamatan memiliki kelimpahan yang berbeda-beda. Kelimpahan ikan terumbu yang tertinggi terdapat pada pengamatan bulan Mei 2011 sebanyak 1255 ind/500 m2. Sedangkan kelimpahan ikan terumbu terendah terdapat pada bulan Juni 2010 sebanyak 261 ind/500 m2. Kelimpahan ikan terumbu yang berbeda setiap pengamatan dapat diduga karena pengaruh kondisi perairan, musim dan sumber makanan. Demikian juga penelitian Hallacher (2003) yang menyatakan bahwa distribusi ikan terumbu tergantung akan pengaruh musim dan sumber makanan yang ada. Besarnya perubahan kelimpahan dan komunitas ikan terumbu tergantung pada seberapa besar pengaruh perubahan musim dan sumber makanan

0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600

Juni '10 September '10 Januari '11 Mei '11 Juli '11

K elim pa ha n (ind /5 0 0 m 2) Bulan pengamatan

yang ada mempengaruhi famili ikan tersebut. Fluktuasi kelimpahan ikan terumbu setiap famili dapat dilihat dengan jelas pada gambar 7 berikut ini.

Gambar 7. Kelimpahan ikan terumbu berdasarkan famili di area transplantasi karang Pulau Karya 0 200 400 600 800 Caesionidae Centriscidae Chaetodontidae Labridae Nemipteridae Pomacentridae Scaridae Siganidae Balistidae Caesionidae Centriscidae Chaetodontidae Labridae Lutjanidae Mullidae Nemipteridae Pomacanthidae Pomacentridae Scaridae Serranidae Siganidae Chaetodontidae Labridae Mullidae Nemipteridae Pomacentridae Scaridae Siganidae Centriscidae Chaetodontidae Ephippidae Labridae Mullidae Nemipteridae Pomacentridae Scaridae Siganidae Chaetodontidae Gobidae Labridae Mullidae Nemipteridae Pomacanthidae Pomacentridae Scaridae Scorpionidae Terapontidae Ju li '1 1 Me i '1 1 Jan u ar i '1 1 Sep tem b er '1 0 Ju n i '1 0

Kelimpahan ikan (ind/500 m2)

Wa k tu peng a m a ta n

Tingginya kelimpahan ikan terumbu pada bulan Mei 2011 ini didominasi oleh famili Pomacentridae sebesar 63,27% dan Labridae sebesar 17,29%. Sedangkan pada bulan Juni 2010, kelimpahan ikan terumbu didominasi oleh famili Pomacentridae sebesar 29,50% dan Nemipteridae sebesar 18,77%. Pada bulan Mei 2011, tingginya famili Pomacentridae didominasi oleh spesies ikan

Amblyglyphidodon curacao dan Pomacentrus alexanderae. Kedua genus tersebut merupakan ikan diurnal yang aktif mencari makan pada siang hari sehingga ikan ini sering ditemukan melimpah pada saat siang hari. Selain itu, kedua genus tersebut merupakan ikan mayor, yaitu ikan terumbu yang berperan dalam rantai makanan (Utami 2010). Sedangkan pada bulan Juli 2010 merupakan kelimpahan ikan yang paling rendah. Rendahnya kelimpahan ikan pada bulan terseut diduga karena faktor lingkungan perairan. Berdasarkan hasil analisis kualitas perairan, kondisi perairan pada bulan tersebut terdapat beberapa parameter yang tidak sesuai dengan baku mutu perairan KepMen LH 51/2004 yang dapat menyebabkan gangguan pada ikan, yaitu amonia dan nitrat serta pH. Kadar amonia pada bulan tersebut > 0,3 mg/l sehingga bersifat toksik bagi ikan. Disamping itu, pH yang tinggi pada bulan tersebut menyebabkan amonia tidak terionisasi sehingga mengakibatkan amonia bersifat toksik. Ikan tidak dapat toleransi pada kadar amonia bebas yang terlalu tinggi karena dapat mengganggu proses pengikatan oksigen oleh darah dan pada akhirnya menyebabkan sufokasi. Dengan demikian, rendahnya kelimpahan ikan pada bulan Juni 2010 karena faktor lingkungan perairan sehingga menyebabkan ikan bermigrasi ke habitat yang lebih baik.

Setiap famili ikan terumbu memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda- beda serta homeostasis terhadap perubahan lingkungan yang ada. Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa setiap pengamatan memiliki famili yang berbeda-beda sehingga meyebabkan perubahan kelimpahan ikan terumbu berbeda-beda. Ikan yang memiliki karakteristik teritorial (Aktani 2003), yaitu famili Pomacentridae merupakan famili yang selalu ditemukan setiap pengamatan. Selain itu, famili Labridae, Nemipteridae dan Scaridae juga merupakan famili ikan terumbu yang selalu ditemukan pada setiap pengamatan meskipun tidak terlalu melimpah jumlahnya setiap pengamatan dibandingkan dengan famili Pomacentridae. Berbeda halnya dengan famili-famili lain seperti

famili Siganidae yang ditemukan melimpah pada saat bulan Mei-Juli yang merupakan musim timur.

Kelimpahan ikan terumbu yang memiliki karakteristik teritorial tidak selalu statis, namun dapat berubah akibat perubahan musim atau pengganggu dari luar (predator). Perubahan kelimpahan dan struktur komunitas yang sangat besar terjadi akibat perubahan musim. Perubahan kelimpahan dan struktur komunitas mulai bulan Januari-April. Hal ini sesuai dengan penelitian Myrberg & Thresher (1974) in Hallacher (2003) yang menyatakan bahwa perubahan kelimpahan ikan yang sangat besar terjadi pada bulan Januari-April. Hal ini terkait siklus reproduksi tahunan ikan terumbu dimana kegiatan reproduksi puncaknya terjadi pada bulan April dan minimal pada bulan Januari. Sedangkan untuk kondisi struktur komunitas ikan terumbu dapat dilihat pada gambar 8 dan lampiran 2.

Gambar 8. Indeks ekologis ikan terumbu di area transplantasi karang Pulau Karya

Indeks keanekaragaman (H’) pada setiap pengamatan menunjukkan kisaran antara 2,54-3,09. Sedangkan indeks keseragaman (E) berkisar antara 0,68- 0,95. Indeks keanekaragaman dan keseragaman tertinggi ditemukan pada awal pengamatan, yaitu pada bulan Juni 2010 sedangkan yang terendah ditemukan pada akhir-akhir pengamatan, yaitu pada bulan Mei 2011. Indeks dominansi berkisar antara 0,05-0,16 yang tertinggi ditemukan pada akhir-akhir pengamatan, yaitu pada bulan Mei 2011 dan yang terendah ditemukan pada awal pengamatan, yaitu pada bulan Juni 2010.

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 Nila i indek s Waktu pengamatan Indeks Keanekaragaman ( H' ) Keseragaman ( E ) Dominansi ( C )

Pada pengamatan bulan Juni 2010, diperoleh nilai indeks keanekaragaman sebesar 3,09 dan keseragaman sebesar 0,95 yang tergolong tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas ikan terumbu di Pulau Karya stabil dan penyebarannya merata. Sedangkan indeks dominansi diperoleh nilai 0,05 yang tergolong rendah. Hal ini menunjukan bahwa dalam komunitas ikan terumbu tersebut tidak terjadi dominansi dari salah satu spesies. Sedangkan pada pengamatan bulan Mei 2011 merupakan bulan yang memiliki indeks yang paling rendah dibandingkan dengan bulan-bulan pengamatan yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa pada bulan Mei 2011 komunitas ikan terumbu cukup tertekan dengan perubahan lingkungan yang ada dibandingkan dengan bulan- bulan yang lain. Walaupun begitu, komunitas ikan terumbu masih dalam kondisi sedang dan penyebaran individu tergolong sedang serta dominansi yang masih rendah sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap struktur komunitas ikan terumbu tersebut.

Jika dilihat tren struktur komunitas ikan terumbu (gambar 8) selama pengamatan menunjukkan penurunan sampai bulan Mei 2011 dan mengalami peningkatan pada bulan pengamatan terakhir, yaitu bulan Juli 2011. Hal ini mengindikasikan bahwa selama kondisi komunitas ikan terumbu mengalami tekanan terus-menerus sampai bulan Mei 2011 dan mengalami recovery pada bulan terakhir pengamatan. Jika dilihat dari kondisi perairan menunjukkan adanya tekanan karena terdapat beberapa parameter perairan yang melebihi baku mutu KepMen LH 51/2004, yaitu pada bulan Juni 2010 dan Mei 2011. Parameter tersebut adalah pH, amonia, nitrat dan fosfat. Amonia dapat menjadi racun bagi biota air jika melebihi 0,3 mg/l, sedangkan nitrat dan fosfat dapat menyebabkan ledakan alga/makroalga diperairan jika melebihi 0,2 mg/l (Effendi 2003). Ikan- ikan akan cenderung beruaya mencari habitat yang lain ketika kondisi habitatnya sudah tidak sesuai dengan ikan terumbu tersebut.

Dokumen terkait