BAB III : Tongkonan dan Kapitalisme
B. Narasi tana’: Sebuah Konstruksi
1. Dinamika tana’ di dalam Masyarakat Toraja
Dalam pengalaman, saya melaksanakan penelitian di Toraja selama dua bulan. Saya berdiskusi dengan beberapa kalangan, baik itu masyarakat biasa, para mahasiswa, pendeta, dan budayawan, mereka sepakat bahwa aristokrasi di balik tongkonan kini tidak ada lagi. “Inang tae mo sussinna tu, saba sarani mi kik,”(sudah tidak adalagi yang seperti itu, sebab kita telah menjadi Kristen).
Memang setelah kekristenan masuk ke Toraja, gereja sangat menentang tana‟ karena menurut ajaran Kristen, di hadapan Tuhan semua manusia sama. Dalam kenyataannya, gereja, pemerintah, lembaga adat, bahkan para peneliti kebudayaan hanya menggunakan narasi bentuk material kebudayaan bangsawan tanpa mengakomodasi kebudayaan pinggiran. Sikap yang demikian adalah bentuk apologet ideologi pemilik kepentingan dengan dalih sebagai budaya yang adi luhung. Keadaan tersebutlah yang menjadi risalah awal untuk pembahasan dinamika tana‟ di Toraja.
Bagi masyarakat Toraja, khususnya agama suku (aluk todolo), agama dan adat merupakan satu kesatuan yang tidak bisa didikotomikan. Ketika orang melakukan ritus adat perkawinan dan ritus kematian, tentu mempunyai kaitan langsung dengan pemahaman keagamaan.65 Untuk melakukan ritus-ritus yang ada, semuanya ada batasan
65
Hasil wawancara tokoh adat, Andarias Paonganan, di Ulusalu, Tana Toraja, tanggal 28-Januari-2020.
yang perlu ia tempuh. Batasan-batasan tersebutlah yang diidentikkan dengan dengan
tana‟.
Menurut kamus Toraja-Indonesia, tana‟ adalah patok. Tana‟ menjadi sebuah patokan untuk menentukan jenis ritus macam apa yang akan ditempuh. Ada 4 patok (tana‟) di dalam masyarakat Toraja, tana‟bulaan: patok emas (ketentuan bagi
puangkaum bangsawan), tana bassi: patok besi (ketentuan bagi to makaka), tana‟ karurung: ujung patok (ketentuan bagi orang-orang bebas), tana kua‟-kua‟: patok
gelagah (ketentuan bagi para kaunan/budak).66
Sebelum saya lebih jauh menjelaskan dinamika tana‟, umumnya orang-orang Toraja biasanya menyamakan tana‟ dan kasta, namun ini tentu berbeda, karena konteksnya istilah kasta sangat dekat dengan Hinduisme.
Memang ada sedikit kemiripan antara tana‟ dan kasta pada sistemnya.67
Hal ini wajar terjadi di Toraja, sejak adanya surat keputusan direktorat Jenderal Bimas Hindu Budha Dd/H/200-VII/69 pada tahun 1969 yang menyatakan aluk todolo dikategorikan sebagai sebuah sekte dari Hindu Dharma.68
Hal ini terjadi mungkin saja untuk memasukkan aluk todolo sebagai agama resmi di Indonesia, karena konteksnya pada tahun 1969 orang-orang yang tak beragama, dianggap sebagai komunis.
Menurut seorang budayawan Simon Petrus, tana‟ dipahami hanya sebatas peran dan fungsinya, tidak lebih dari itu. Artinya, orang Toraja mempunyai patokan dasar yaitu tana‟. Misalnya di dalam suatu wilayah adat, tana‟ bulaan menjadi pemegang pemerintahan adat, tana‟ bassi sebagai pembantu untuk melaksanakan pemerintahan adat, tana‟ karurung sebagai masyarakat biasa, dan tana‟ kua‟-kua‟ sebagai budak
66
J Tammu and H Van der Veen, Kamus Toradja-Indonesia (Rantepao: Jajasan Perguruan Kristen Toradja, 1972), 601.
67
Meillassoux, Marx, kapital & antropologi: kumpulan tulisan terpilih antropologi Marxis, 2015, 218.
68
pelayan bagi para bangsawan.69 Sedangkan menurut Daud Sangka Palisungan, tana‟ adalah struktur di dalam masyarakat Toraja. Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh identitas keluarga (tongkonan) dari mana ia berasal. Secara tidak langsung Palisungan, menyatakan bahwa hierarki cukup kuat dalam masyarakat Toraja. Bahkan, menurutnya di daerah selatan Toraja (saat ini kabupaten Tana Toraja) sangat kuat konstruksinya, karena dipahami dalam kerangka teologis (penciptaan). Menurut mitologinya, struktur tersebut telah tercipta dari langit, makanya manusia pertama juga turun kedunia bersama dengan budaknya(kaunan). Mitologi tersebut juga mengkonstruksi bahwa,tana‟ bulaan adalah orang keturunan dewa. Oleh karena itu, sampai saat ini masih ada orang Toraja yang menghargai dan mengagung-agungkan keturunan puang (bangsawan).70
Para peneliti beranggapan bahwa orang Toraja sangat dekat dengan tradisi lisan dan memvisualisasi bentuk-bentuk kebudayaan dengan simbolisasi. Itulah sebabnya, banyak narasi mitologi terus menerus menyatakan bahwa kaunan-nya (budak) tercipta di langit. Seperti misalnya, di dalam ritus merok71 ada nyanyian pasomba tedong ada narasi penciptaan budak telah ada dari langit.72
Narasi tersebut berbunyi,Tuhan membuat boneka dari tanah liat di atas langit lalu menamainya dengan Pottokalembang sebagai budak dari para bangsawan.73
Tidak penting kebenaran narasi tersebut, tetapi bagi saya hal ini yang menjadi salah satu faktor mengapa narasi-narasi kebangsawanan diartikulasikan terus menerus, untuk mempertegas status identitas di masyarakat. Masalah tersebut tentu tidak berdiri
69
Hasil wawancara budayawan Toraja, Simon Petrus, di Makassar, tanggal 05-Februari-2020. 70
Hasil wawancara tokoh gereja, Daud Sangka di Mengkendek, Tana Toraja, tanggal 05-Februari-2020.
71
Merok adalah salah satu upacara bangsawan, yaitu penahisan tongkonan. 72
Hetty Nooy-Palm, The Sa‟dan-Toraja: A Study of Their Social Life and Religion. (New York: Springer, 2014), 43.
73
sendiri, ada beberapa faktor yang menyebabkan tana‟ menjadi kaku definisinya saat ini. Salah satu faktor penting adalah modernisasi kehidupan sosial masyarakat Toraja.
Seorang sosiolog asal Toraja, Oktoviandi Rantelino menyatakan bahwa perubahan terjadi melalui modernisasi yang memberi pengaruh penting pada paradigma masyarakat Toraja tentang dirinya.
Cara pandang kita (orang Toraja) tentang tana‟ masih sangat dipengaruhi oleh feodalisme barat. Ini menjadi petanda bahwa orang Toraja juga dipengaruhi pandangan luar (modernisasi:misalnya Agama, pendidikan, pemerintahan, sampai ekonomi). Bahkan orang Toraja sampai mengklaim bahwa cara pandang dari luar itu, adalah cara pandang miliknya sendiri. Karena itu, saat ini, sebenarnya kita harus sadar dalam posisi abu-abu. Tidak sepenuh bebas dari cara pandangan luar, dan tidak sepenuhnya juga pandangan tersebut adalah milik orang Toraja. Kesadaran tersebutlah yang biasa kita sebut sebagai kesadaran di pasca-kolonial.74
Pernyataan tersebut mengklaim bahwa memang konstruksi budaya dari luar cukup banyak mempengaruhi kesadaran masyarakat Toraja. Saya melihat ini sebagai salah satu argumentasi bahwa sebenarnya tidak ada yang asli, murni, dan mutlak dalam klaim konstruksi budaya masyarakat Toraja hari-hari ini. Konstruksi tersebut menjadi kesempatan bagi aristokrasi untuk menguasai elemen-elemen penting di dalam masyarakat Toraja (ekonomi, politik, agama dan budaya). Seperti di dalam dunia politik hari ini, kebanyakan menggunakan politik tongkonan untuk mendapatkan suara dari masyarakat. Karena mitosnya, hanya orang-orang berketurunan bangsawan yang dapat menjadi pemimpin sejak dahulu kala di Toraja.
Bagi saya, tana‟ yang dianggap sebagai stratifikasi sosial, ataupun struktur dalam masyarakat Toraja hanyalah konstruksi dari para budayawan, agamawan, akademisi, dan sifatnya tidak mutlak sebagai sebuah klaim kebenaran. Konstruksi tersebut banyak dipengaruhi oleh ideologi modernisme. Di balik itu ada kepentingan
74
Hasil wawancara akademisi, Oktoviandi Rantelino di Mengkendek, Tana Toraja, tanggal 05-Maret-2020.
ekonomi-politik oleh orang-orang tertentu. Untuk itu saya akan menelusuri bagaimana
tana‟ membentuk konstruksi biner.