• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelompok Perantauan: Melanggengkan atau Melawan?

BAB IV: Membicarakan Kembali Identitas Toraja

B. Kelompok Perantauan: Melanggengkan atau Melawan?

Male undaka ringgi‟ (mencari uang), istilah yang sangat sering diucapkan ketika anak

muda Toraja akan melakukan perjalanan ke perantauan. Tentunya tujuan dari merantau adalah mendapatkan sesuap nasi, dan hidup yang lebih baik dari sebelumnya di kampung halaman. Mereka merasa perlu untuk keluar mencari pengalaman di luar Toraja.

Menurut Volkman (1984) orang Toraja tidak mengenal tradisi merantau, seperti orang-orang muda Minang yang mencari kebijaksanaan dan pengalaman untuk merantau. Orang-orang Toraja cenderung menyukai untuk tinggal dekat dengan rumah (inan lamunan lolo) (Volkman 1984: 157). Pada era pemerintahan kolonial tahun 1930-an, karena depresi hebat atas kemelaratan dan hutang-hutang keluarga, para pemuda meninggalkan rumah menuju Ujung Pandang (saat ini Makassar)(Volkman 1984: 157). Artinya, pada era itu orang Toraja mulai mengenal istilah merantau, karena mau tidak mau mereka harus mencari uang di luar daripada harus melarat di kampung. Selain itu, konteksnya memungkinkan untuk merantau, karena tidak ada lagi perang antar kampung, dan penculikan orang-orang Toraja untuk dijadikan budak oleh tentara-tentara kerajaan terdekat.

Pasca krisis ekonomi di Indonesia, pada akhir 1960-an para pemuda-pemudi Toraja melakukan perjalanan menuju pulau Kalimantan bekerja sebagai buruh

perusahaan minyak, dan kayu. Selain itu ada juga yang bekerja di perusahaan nikel Luwu Timur (PT. INCO). Peluang kerja pada era “Tinder boom” di Kalimantan, perusahaan-perusahaan membutuhkan 25.000 tenaga kerja, ini dimanfaatkan oleh pemuda-pemudi Toraja untuk menjadi kesempatan bekerja, dan memutuskan merantau (Bigalke 2016: 288).Seorang perantau dari desa Baruppu, Petrus Patola, merasakan keadaan yang sangat sulit di Toraja pada tahun 1960-an, ketika pekerjaan yang tersedia hanya sebagai petani, berburu dan mencari kayu damar di hutan. Hasil dari pekerjaan tersebut bahkan tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga pada akhir 1960-an ia memutusk1960-an untuk pergi ke Malaysia bekerja sebagai buruh perusaha1960-an “kayu balak” (Patola, Wawancara 18/04/2020). Dengan demikian, di era ini memang peningkatan minat merantau orang Toraja signifikan naik, untuk memperbaiki ekonomi keluarga pasca krisis ekonomi 1960-an di Indonesia, berbeda dengan sebelumnya saat orang Toraja tidak mengenal tradisi merantau, dan hanya berani merantau dekat dengan Toraja (Makassar).

Ada fakta menarik ditemukan oleh Volkman (1984) yang tidak terekam oleh Bigalke, khususnya perantau dari desa tondok litak di kaki gunung Sesean, “When job

opportunities arose in Kalimantan, these young Toraja, particularly those from poor or low-status families, left their homeland and crossed the Makassar Straits” (Volkman

1984: 158). Artinya, data penting ini dapat menjadi salah satu tolak ukur bahwa bukan hanya karena krisis ekonomi negara saja yang menyebabkan orang Toraja merantau, tetapi juga karena adanya faktor tekanan status sosial.

Istilah “undaka ringgi” memang pada dasarnya adalah mencari rupiah untuk memenuhi kebutuhan, namun motivasi tersebut tidak sepenuhnya hanya karena ekonomi (memenuhi kebutuhan hidup). Faktanya, ketika orang Toraja yang

terasosiasikan dengan budak-miskin berhasil diperantauan, akan kembali ke kampung untuk meningkatkan status sosialnya di masyarakat. Seperti catatan Volkman (1987) berikut ini:

Although the migrants‟ purpose is often expressed as “looking for money” (undaka‟ ringgi„), cash itself is not the only attraction of merantau work. What is especially attractive for the many poor or low-status migrants is the potential to convert cash into symbolic capital: new status in the Toraja highlands. The stigma of inherited low status is less visible far from home, yet most migrants do not stay away indefinitely. Nor are they satisfied with buying blue jeans, gold watches, and large radios, although these items certainly are desired and acquired. Sending money to the village to be used in building bigger and better houses is quite common, for the house remains, as it was traditionally, an important representation of the family‟s worth and history. Still, none of these signs are real substitutes for the ultimate demonstration of value and honor (siri‟)through providing and dividing meat on the ritual field (Volkman 1984: 158).

Hal terpenting di sini adalah bahwa perantau-perantau Toraja yang sukses merasa perlu mempertimbangkan merantau sebagai batu loncatan untuk memperbaiki ekonomi dan status sosial di kampung. Artinya, hal ini jugalah yang menjadi penyebab munculnya kontestasi antara orang kaya lama (bangsawan) dan orang kaya baru (perantau). Orang-orang yang dahulu dianggap budak, kini juga merasa perlu untuk mengangkat derajat ketika sukses di perantauan melalui ritual-ritual adat. Tentu kontestasi itu terbentuk secara otomatis karena berada dalam arena hegemoni wacana tongkonan.

Memang ada banyak orang Toraja perantauan (budak) yang termakan bujuk rayu dari aktifitas yang dominan di Toraja, namun ada juga yang malah melakukan perlawanan terhadap ideologi tersebut. Seperti Petrus Patola, ia menolak untuk ikut mengadakan ritual kematian orang tuanya (rambu solo‟):

Pada tahun 1990-an, melalui surat saya menyatakan menolak untuk pergi ke kampung melakukan ritual kematian (rambu solo‟) bapak saya, karena tuntutan dari kampung sangat berat. Apalagi saya mencari uang sangat sulit di Malaysia, dan punya anak yang masih sekolah. Biayanya pun tak sedikit,

apalagi mau ditambah dengan beban mantunu tedong (mengurbankan kerbau). Saya akan semakin kesulitan (Patola, wawancara 14/04/2020).

Selain masalah ekonomi, ia juga merasa aneh dengan keadaan saat ini, karena adanya perubahan yang terjadi dalam ritual rambu solo‟, jauh berbeda dengan dahulu:

Yang membuat saya juga mempertimbangkannya, karena saya mendapati perubahan rambu solo‟ (dahulu-sekarang). Sekarang orang mantunu hanya untuk tendeng (pamer) kekayaan, padahal dulu yang saya dapati tidak seperti ini. Apalagi sekarang kita Kristen, jadi tidak perlu lagi seperti itu (Patola, wawancara 18/04 2020).

Menariknya ia berada pada dua fase bentuk rambu solo‟, dahulu dan sekarang. Ini membuatnya dapat berfikir secara kritis untuk tidak mau terhegemoni oleh wacana tongkonan. Sikap mengasingkan diri dari budaya memang bisa disebut sebagai perlawanan, tetapi penghindaran diri terhadap budaya (enggan balik ke kampung) bukanlah jalan yang tepat, karena sikap itu tidak dapat menyelesaikan masalah.

Menurut Gramsci, counter-hegemony membutuhkan intelektual organik, tidak hanya melawan, tetapi ada proses katarsis akan kesadaran blok sejarah. Paling penting dari itu adalah, intelektual organik adalah agen yang lahir di dalam konteks produksi suatu budaya dominan, namun secara sadar memahami konteks sosial tersebut, lalu ikut bersama-sama dengan kelompok sosial kelas tertindas untuk berjuang (Jones 2008: 85). Sosok Petrus Patola memang tidak sepenuhnya masuk dalam kategori tersebut, namun pengalaman melawannya itu penting. Sikap Petrus ini menandakan bahwa sekuat-kuatnya hegemoni, akan tetap ada perlawanan dari orang tertindas.

Orang-orang elite di Toraja kebanyakan melanggengkan ideologi kelas penguasa. Ini terlihat jelas dalam pemaparan saya di Bab IIbahwa tokoh-tokoh elite (pemerintah, gereja, tokoh adat, akademisi) telah menguasai arena-arena di dalam masyarakat, sehingga ideologi tersebut menjadi dominan. Faktanya tidak semua begitu,

ada tokoh elite bangsawan memiliki alasan tersendiri untuk menolak ideologi dominan di Toraja. Tokoh elite merupakan kelas dominan di dalam masyarakat, dihormati dengan nilai yang didapatkan dan diciptakan. Misalnya nilai kekayaan, kehormatan, dan pengetahuan (Haryanto, 2017: 87). Tentunya, orang-orang yang berada dalam kelas ini punya kesempatan memanfaatkan nilai-nilai pada dirinya untuk memperdaya masyarakat lapisan bawah.

Ada narasi perlawanan yang menarik dari seorang keluarga elite Toraja bernama Tino Saroengallo, akrab dipanggil Tino, seorang keturunan bangsawan dari Tongkonan kesu. Melalui visualisasi upacara kematian ayahnya di Toraja dengan lugas menggugat ideologi dominan di dalam buku berjudul “Ayah Anak Beda Warna!

Anak Toraja Kota Menggugat”. Menariknya, ia menunjukan kejanggalan pada upacara

adat tersebut, mulai dari rapat awal, sampai pada selesai pemakaman. Bahkan di awal Saroengallo (2008) mengungkapkan alasan menulis pengalaman, yaitu rasa geram yang menghantui setelah upacara kematian ayahnya (Saroengallo 2008: XIV).

Persiapan panjang dilalui oleh Tino dan keluarganya dalam mengupacarakan ayahnya. Bahkan pembicaraan tersebut telah ada sebelum ayahnya meninggal, Tino telah diminta oleh sepupunya Victor Kassi untuk menanyakan ke ayahnya, bagaimana upacara adatnya dan di mana tempatnya dilaksanakan. Sebagai penuluan108

tongkonan kesu‟, ayahnya Tino Renda Sarungallo, menjawab sebagai berikut:

“Enaknya memang dikubur di Jakarta,” ujarnya. “Tetapi, repotnya saya jadi

penuluan di tongkonan kesu. Jadi harus dikubur di kampung (Toraja). Mau

tidak mau, harus dikubur di sana”(Saroengallo 2008: 5).

Narasi ini memang masih ada terdapat di kalangan masyarakat Toraja. Dahulu pada saat masih memeluk agama leluhur (aluk todolo), narasi upacara kematian memang

108

sangat relevan dibicarakan sebelum meninggal, karena upacara kematian itu dapat menentukan jalan keselamatan. Anehnya, sebagai orang Kristen upacara tersebut masih dipertahankan dengan klaim adat.

Saat Renda Sarungallo meninggal di Jakarta pada tahun 2002, keluarga Tino di Jakarta sepakat melalui rapat untuk memakamkannya di Toraja, namun keputusan tersebut memang memunculkan perdebatan antara saudara-saudara Tino Saroengallo dengan keluarga besar, yang jadi permasalahan adalah biaya. Seperti yang ia ungkapkan dalam pembicaraan dengan temannya Yusuf:

“Semua jelas. Biaya juga jelas. Yang tidak jelas adalah uangnya,” ujar saya kepada Yusuf. “Brengsek! Seperti waktu produksi Yink Yank aja”(Saroengallo 2008: 50).

Walaupun Tino seorang sutradara yang cukup terkenal di Indonesia, tetap saja biaya sangat diperhitungkannya. Apalagi setelah menghadapi berbagai perdebatan di dalam rapat, diputuskan bahwa bentuk upacara yang akan dilaksanakan adalah rapasan

sundun109

, dengan 24 ekor kerbau, dan memakan 2-4 hari (Saroengallo 2008: 55). Situasi ini membuat Tino mengenal lebih dekat adat Toraja, yang baru kali itu dia terlibat langsung dengan tekanan adat istiadat Toraja.

Emosi Tino naik turun dengan keadaan di Toraja. Ia merasa sangat terpojokkan dengan aturan adat yang menganggap ayahnya sebagai penuluan Tongkonan kesu. Dengan status tersebut, dewan adat mengharuskan keluarga mengadakan upacara yang meriah. Pada sesi pleno adat, para keluarga dan tetua adat menjelaskan kedudukan ayahnya sebagai penuluan. Hal ini membuat ia geram, karena ujung-ujungnya kedudukan itu membuat Tino bersama saudara yang diberatkan secara ekonomi.

109

Bahkan Tino sangat marah, karena seorang doktor antropologi menyetujui putusan dewan adat tersebut:

Saya berharap akan ada uraian lain dengan pendekatan yang lebih modern, lebih segar. Tapi, tidak. Sang cendekiawan sebaliknya memperkuat uraian yang panjang lebar sebelumnya. “Sudah cukup itu,” tegasnya “apa yang dikatakan tadi sudah jelas.” Nah, lo! Marahlah saya. Seorang doktor antropologi saja tidak bisa membawa pembaharuan dalam adat, tidak berupaya memodernisasi penafsiran adat padahal sudah begitu banyak keluarga yang terjepit hutang karena upacara pemakaman, tetapi malah menggunakan kedudukan ayah saya untuk mengembalikan kejayaan masa lampau. Upacara adat penuh bagi sang penuluan. Tak dapat lagi saya menahan emosi. “Gila! Betul-betul kudu dipentokin nih baru sadar,” batin saya marah (Saroengallo,2008:125–26).

Peristiwa tersebut membuat Tino naik darah, karena para tetua adat sangat mendewakan sosok ayahnya sebagai penuluan, ditambah seorang Doktor Antropologi malah tidak memberi pendapat layaknya sebagai seorang cendekiawan. Tino berbicara di depan para tetua adat, bahwa ia tidak mendewakan ayahnya, tetapi lebih menghargainya sebagai orang tua:

Kami menghormatinya sebagai ayah. Bukan sebagai tetua adat, atau

penuluan. Sejak kecil kami mendengar bahwa kami berasal dari keluarga

bangsawan di Tana Toraja. Sejak kecil pula kami tahu bahwa ayah kami banyak membantu keluarga besar di kampung. Kami juga tahu ketika ayah kami dinobatkan menjadi ketua adat menggantikan Ne‟ Reba. Kami juga mendengar dan menyaksikan betapa ayah kami seringkali menolong kerabat yang merantau ke Jakarta seperti membantu mereka dalam mencari pekerjaan. Tapi sekali lagi saya tekankan bahwa yang kami kenal adalah Renda Sarungallo sebagai seorang ayah. Kami tidak pernah hidup berlebihan (Saroengallo 2008: 126).

Alasan Tino membicarakan itu semata-mata ingin menegaskan bahwa Renda Sarungallo bukanlah dewa yang harus diagungkan, sehingga upacara mutlak dilakukan dengan meriah. Apa yang dihadapi Tino ini memang sangat sulit karena berhadapan

dengan politik kampung110karena para tetua adat bersama dengan masyarakat menggunakan klaim adat yang sifatnya kaku, dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Perlawanan dari Tino memang ada, tetapi hal tersebut tidak dapat membendung semangat kerabat dan masyarakat di kampung untuk upacara adat yang diinginkan, sehingga upacara tersebut tetap dilaksanakan dengan tingkatan rapasan sundun. Kerbau yang awalnya disepakati 24 ekor, malah berubah menjadi 35 ekor. Jadi menurutnya, keputusan diawal mutlak tentang jumlah kerbau adalah omong kosong!(Saroengallo 2008: 264). Pengalaman ini membuat ia paham sebagai orang Toraja sangat tertekan apabila masih terikat dengan kampung halaman (Saroengallo 2008: xiii).

Tulisan Tino menarik untuk amati di sini, paling tidak posisinya sebagai seorang bangsawan tidak membuat ia melanggengkan hegemoni di Toraja. Malah sebaliknya, Tino menunjukkan perlawanan. Bahkan secara tegas di dalam pengantar, menyarankan kepada masyarakat Toraja seperti ini:

Kepada masyarakat Toraja yang tinggal di Toraja, sebab saya ingin agar mereka menyadari bahwa sudah waktunya diadakan pertemuan adat akbar untuk mengkaji kembali tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun tapi sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman ini. Mengikuti adat melahirkan tuntutan biaya yang tidak tanggung-tanggung besarnya, dan kondisi ekonomi tidak lagi dapat mendukung pelaksanaan upacara-upacara adat semacam itu (Saroengallo 2008: xiii).

Awalnya Tino sangat berjarak dengan kehidupan orang-orang yang mengalami tekananan adat Toraja, namun setelah mengalami langsung dirinya sangat paham akan konteks orang-orang yang terhegemoni. Merespon hal tersebut, selain menulis buku, Tino sebagai seorang yang aktif di dunia perfilman, membuat film

110

Istilah ini muncul di dalam masyarakat Toraja karena adanya usaha para tokoh adat menuntut keluarga melaksanakan ritus, namun disisi lain hal tersebut memberatkan keluarga.

dokumenter berjudul “They Live To Die” bersama dengan Garry Hayes pada tahun 2010. Film tersebut secara eksplisit memberi gambaran audio visual praktik hidup orang Toraja hidup untuk mati, karena membuang-buang hasil kerja kerasnya (materi) di dunia pada saat upacara rambu solo‟.

Gramsci menyatakan bahwa aktor intelektual organik lahir dalam tekanan dominasi, dan merespon tekanan tersebut dengan melawan (Strine 1991: 1). Dengan demikian, melihat uraian sebelumnya saya mengkategorikan Tino Saroengallo sebagai aktor intelektual organik. Sikap Tino tidak hanya sebatas menolak, namun ada usaha melawan dengan melakukan menyadaran kepada masyarakat melalui film, justru Tino banyak mendorong dan mendukung anak-anak muda membuat film dokumenter, seperti karya Yesintia Tiku“Aku Bukan

Toraja”, tentang perjudian adu kerbau di dalam rambu solo‟.