BAB III : Tongkonan dan Kapitalisme
C. Industri Pariwisata
2. Rambu Solo’ dan Kemegahannya
Sebuah narasi yang umum tersebar di masyarakat luas adalah bahwa “jika mau menikah dengan orang Toraja, cek dulu apakah neneknya sudah meninggal!” ungkapan ini sebenarnya bentuk penolakan orang-orang terhadap teknis pelaksanaan ritus rambu
solo‟, bukan biaya pernikahan yang besar, tetapi pada upacara kematian. Penolakan
tersebut sangat lazim terjadi di masyarakat luas, karena di dalam upacara kematian ditampilkan sebuah kemegahan, kemeriahan yang tidak sedikit biayanya.
Rambu solo‟ hari-hari ini, memang menampilkan kemeriahan, kemegahan, tidak
tanggung-tanggung rumpun keluarga almarhum mempersiapkan acara setelah kematian di jauh-jauh hari. Biasanya almarhum disemayamkan di tongkonan sampai bertahun-tahun, untuk menunggu kesiapan keluarga melaksanakan ritual kematian. Anggaran ritus tersebut mencapai angka minimal ratusan juta. Menurut kepercayaan aluk todolo, rambu solo‟ adalah sebuah ritus kematian Toraja, setiap kurban (babi,kerbau) yang disembelih akan menjadi bekal almarhum menuju nirwana (puya). Jadi, semakin banyak hewan kurban disembelih, semakin mudah almarhum sampai ke nirwana.89
Dengan demikian, ini menjadi salah satu daya tarik para wisatawan untuk melihat upacara kematian di Toraja yang dianggap unik.
Catatan pentingnya, rambu solo tersebut merupakan salah satu ritual yang berpusat pada tongkonan. Di bab-bab sebelumnya telah saya jelaskan bahwa ritus
rambu solo‟, merupakan turunan dari tongkonan. Patokan ritus rambu solo ini
mengikuti arah angin tongkonan rambu solo dilaksanakan di sisi barat tongkonan, karena di sanalah matahari terbenam (simbol kegelapan:kematian). Semenjak tongkonan menjadi ikon, rambu solo‟ ikut terbawa oleh konstruksi industri pariwisata sebagai bagian upacara kematian orang Toraja, dan terus-terus menerus dinarasikan untuk menarik wisatawan masuk Toraja.
Rambu Solo dianggap menarik bagi wisatawan asing karena unik, eksotis, dan
mewah. Para asosiasi pariwisata di Toraja berkerja sama dengan agen-agen dari negara-negara Eropa, dengan jualan tongkonan dan rambu solo‟. Orang-orang Toraja di perantauan, banyak mempertontonkan keberhasilan mereka pada saat melaksanakan ritus kematian. Seperti upacara kematian alm Ne‟ Sarrin, di Sereale Kabupaten Toraja
89
John Liku-Ada‟, Pr, Aluk To Dolo Menantikan Kristus: Ia Datang Agar Manusia Mempunyai
Utara menghabiskan anggaran miliaran rupiah, untuk menghapus status rendahnya di kampung. Acara ini banyak menarik wisatawan dan beberapa media untuk meliput. 90 Dengan demikian, dapat dilihat bagaimana orang Toraja mencoba mempertontonkan kekayaan dan kesuksesan melalui ritus tersebut. Penyebabnya bukan hanya karena adat, tetapi ada embel-embel ekonomi pariwisata di balik istilah adat. Masalahnya adalah,
rambu solo‟ diterima mentah-mentah sebagai ritus kematian orang Toraja, padahal tidak
hanya satu macam saja bentuknya. Yang demikian disebabkan oleh narasi industri pariwisata dengan bentuk ritus unik dan megah. Jadi, hal ini terkonstruksi di dalam alam bawa sadar masyarakat Toraja, seakan-akan kesemuanya itu adalah adat.
Kompas.com pernah meliput Toraja melalui ritus rambu solo‟, dengan judul sangat provokatif, “Rambu Solo, Upacara Pemakaman Khas Toraja yang Tersohor”. Pada tulisan itu, narasi kemegahan dan kemeriahan menjadi salah satu patokan kesuksesan ritual rambu solo‟ sehingga almarhum mendapat kelancaran menuju puya (nirwana), dan rohnya dapat setara dengan para dewa (membali puang).91
Kepercayaan tersebut sebenarnya, memang ada di dalam masyarakat Toraja, namun saat ini tidak lagi seperti demikian. Paham tentang bekal roh untuk menjadi titisan dewa adalah konsep yang sangat dekat dengan ajaran agama suku, sedangkan orang Toraja saat ini banyak menghidupi agama-agama modern (Islam, Kristen). Lantas apa yang mempengaruhi orang Toraja untuk tetap melakukan ritus tersebut? Tentu bukan lagi karena paham tersebut, tetapi prestise keluargalah yang dimunculkan.
Orang-orang Toraja saat ini malu jikalau tidak dapat melaksanakan ritual rambu
solo‟ untuk keluarganya yang meninggal, bahkan tidak sedikit mendapat hujatan dari
90
Hasil wawancara tokoh gereja Toraja, Daud Sangka P di Mengkendek, Tana Toraja, tanggal 05-Februari-2020
91
https://foto.kompas.com/photo/read/2018/11/9/154175241700f/1/Rambu-Solo-Upacara-Pemakaman-Khas-Toraja-yang-Tersohor, diakses pada 03-April-2020
orang-orang kampung.92 Catatan Volkman, Toraja menjadi gempar saat orang Toraja yang memiliki kekayaan menolak untuk memotong kerbau:
One critic of this system, who I call Pak L, is a prominent Christian, active in politics and the Toraja church as well as in education and the hotel business. In the mid-1970s he created something of a stir when he refused to “cut buffalo” for his very rich and noble father‟s funeral. Instead, he channeled the funds into local school and irrigation projects. By 1978 his actions were widely discussed in both town and village, but as he himself had predicted, most people were too bound up with the problem of shame and honor to emulate his mode
Inilah akibat dari narasi ekonomi pariwisata, rambu‟ solo sebagai satu-satunya ritus kematian di Toraja yang membuat orang Toraja melaksanakan ritus dengan kemegahan dan kemeriahan. Malah tindakan emansipasi membuat orang-orang Toraja gempar karena dianggap tidak melakukan ritus adat dengan benar, padahal tindakan L di atas mencoba membangun sebuah peradaban kemanusian, melalui pembangunan pendidikan. Sikap-sikap kritis, malah dikaburkan dengan jargon “adat dan budaya”, seperti yang diungkapkan dalam buletin ikatan mahasiswa Toraja di Bandung
Dunamika pada tahun 1978:
The lack of work has caused many Toraja to migrate to other areas, and encouraged young children to continue their education in large cities. Of those who have migrated, and have successfully ac-cumulated some cash, even those who can be classed as intellectuals, it is nonetheless difficult to change their way of thinking or their orientation, especially about the problem of death ceremonies.In fact, it is they who act as sponsors, relied upon by their families in the villages, to pay for funerals. It is deeply regrettable, but such is the reality. It is clear that the death ritual must be maintained as the identity (identitas] of the Toraja people. Among somany thousands of existing peoples, this is a unique culture, with noble values, second tonone on earth.93
92
Hasil wawancara tokoh gereja Toraja, Daud Sangka P di Mengkendek, Tana Toraja, tanggal 05-Februari-2020.
93Toby Alice Volkman, “Great Performances: Toraja Cultural Identity in the 1970s,” American
Paling tidak, saya dapat melihat bahwa hegemonisasi kebudayaan Toraja, melalui tongkonan sampai pada praktek-praktek ritual di dalam masyarakat Toraja. Kebanyakan kaum intelektual Toraja yang telah merantau mendapatkan pendidikan malah tidak menampakkan sikap kritis. Menggunakan istilah Gramsci, kaum intelektual ini malah dapat diidentifikasikan sebagai „intelektual tradisional‟. Keadaan ini mengakibatkan, hilangnya kebudayaan pinggiran yang hanya menyisakan ingatan di kepala orang-orang Toraja.
Oktoviandi Rantelino menyatakan bahwa hilangnya budaya pinggiran di Toraja dikarenakan budaya tersebut tidak menarik untuk dijadikan sebagai jualan pariwisata. 94 Memang secara signifikan, bentuk ritus dari orang-orang tana‟ karurung dan tana
kua-kua‟ kini tidak nampak lagi di dalam masyarakat Toraja. Selain ritus itu tidak menarik
untuk dijadikan jualan industri pariwisata, ritus tersebut telah dianggap sebagai ritus untuk orang-orang kelas rendahan.
Pada tahun 1978, diadakan ritus kematian orang besar (to kapua) di Rantepao, yaitu Ne Atta‟. Anggarannya 90 juta rupiah yang pada tahun itu nilainya sangatlah banyak. Sikap gereja saat itu cukup kritis, melihat hal tersebut hanyalah sebagai tontonan para turis, bukan lagi sebagai ritual keagamaan.
According to a Kompas newspaper story of 19October 1978, many Toraja, particularly those associated with the Christian church, suspected that the entire ceremony was more of a tourist “spectacle” than a religious ritual.” Ne„ Atta‟ was in fact a Christian, yet his funeral included colorful aluk elements that had long been forbidden by the church, such as the construction of a carved effigy, defended by Ne‟ Atta‟ ‟s family as a “portrait.” Whether such departures from established Christian practice were indeed motivated by commercial interests is difficult to say, although
94
Hasil wawancara akademisi, Oktoviandi Rantelino di Mengkendek, Tana Toraja, tanggal 05-Maret-2020
many Toraja felt this was the case. Whatever the sponsors‟ motivations, the funeral did draw numerous tourists.95
Fakta-fakta ini memperkeruh persoalan. Intensitas pelaksanaan rambu solo‟ saat ini semakin beramai-ramai dilakukan. Orang-orang Toraja menjadi seperti kecanduan, gereja malah memiliki sifat konservatif dengan alibi reinterpretasi, kontekstualisasi, reaktualisasi Injil ke dalam budaya.96
Misalnya pemotongan hewan kurban dipahami dapat membagun relasi sosial di dalam masyarakat, dan secara teologis orang yang berduka tetap dapat berbagi. Tetapi, menurut saya pandangan ini pincang karena hanya mengkritisi konsep keagamaan leluhur yang melekat dalam ritus rambu solo‟. Alhasil Gereja Toraja malah tidak sama sekali mengkritisi aspek kemegahan dan kemeriahan. Padahal ajaran agama kristen menolak dan menentang hal yang demikian. Situasi ini wajar terjadi karena kelas bangsawan sangat berpengaruh di dalam gereja Toraja.
Tino Saroengallo dalam mempersiapkan upacara kematian ayahnya, alm Renda Sarungallo, banyak melakukan protes terhadap para tetua kampung. Entah itu biaya
rambu solo‟ yang sangat besar, teknisnya berbelit-belit, dan bahkan sampai frustasi atas
persoalan di dalam ritus. Ketika Tino memprotes, selalu saja istilah “adat” terdengar dari keluarganya.97 Jawaban yang didapatkan Tino Saroengallo, umum terjadi di dalam keluarga-keluarga Toraja. Istilah adat malah menjadi senjata ampuh orang-orang Toraja untuk membenarkan tindakan mereka di dalam ritual rambu solo. Pada tahun 2009, ayah saya harus meminjam uang ke bank, sebesar 50 juta rupiah untuk membiayai ritus kematian kakek saya. Ketika ditanyai, ayah saya beralasan “mau bagaimana lagi sudah
95Volkman, “Great Performances”, 162. 96
https://bps-gerejatoraja.org/artikel/single/perjumpaan-kekristenan-dengan-ritus-rambu-tuka-dan-rambu-solo-di-toraja-dari-perspektif-teologi-biblika/16, diakses pada 02-April-2020. 97
Tino Saroengallo, Ayah Anak, Beda Warna! Anak Toraja Kota Menggugat (Yogyakarta: Tembi, 2008).
seperti itu adat kita di Toraja”. Klaim adat ini salah satu bentuk kesadaran palsu,
sehingga laju pelaksanaan terus menerus meningkat.
Salah satu ideologi yang mempengaruhi kesadaran itu adalah kapitalisme. Kapitalisme memberi banyak sumbangan negatif yang tidak dilihat secara kritis oleh orang Toraja. Perilaku komodifikasi budaya terlihat jelas, menguntungkan orang tertentu. Pelaku industri pariwisata memang lebih banyak diambil alih oleh orang-orang Toraja keturunan bangsawan atau orang-orang Toraja yang sukses diperantauan seperti di dunia perhotelan, transportasi, agensi.98
Orang-orang yang tidak memiliki modal ekonomi, dan modal budaya akan tersingkir, dan lebih memilih untuk merantau keluar Toraja. Ketika sukses diperantauan kembali ke kampung untuk mempertontonkan kesuksesan mereka.