Sebagai lembaga besar yang menaungi seluruh kegiatan pendidikan, Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar bekerja sama dengan Departemen Agama Kabupaten Blitar mengeluarkan peraturan yang sangat membantu dalam pelaksanaan pendidikan karakter terutama karakter religius. Hal ini diterima secara positif oleh kepala sekolah SMP Negeri 01 Udanawu merealisasikannya kedalam kegiatan pembelajaran. Kebijakan yang dikeluarkan oleh departemen agama yakni setiap sekolah umum wajib mengadakan Madrasah Diniyah yang tertuang dalam bentuk ekstrakulikuler.
Hal ini dijelaskan oleh bapak Sulistyono sebagaimana berikut, “Kegiatan Madrasah Diniyah merupakan kegiatan wajib yang dikondisikan oleh kabupaten, dengan bentuk kegiatan diluar sekolah atau biasa disebut ekstrakulikuler Madrasah Diniyah”56. Dengan mempertimbangkan bila kegiatan ini berbentuk ekstrakulikuler yang berada diluar jam pembelajaran, maka kurang efektif bila harapan seluruh siswa dapat menghadirinya.
Akhir dari hasil rapat antara kepala sekolah dengan guru, dalam tataran praktiknya kegiatan Madrasah Diniyah ini menjadi kegiatan pagi, bukan termasuk mata pelajaran akan tetapi tetap berbentuk ekstrakulikuler yang dilaksanakan diwaktu pagi hari. Sebagaimana beliau menjelaskan, “susah bila kegiatan ini menjadi ekstra diluar pembelajaran bila harapan semua bisa mengikuti. Sehingga kegiatan ini dilaksanakan pada pagi hari dengan tetap menjadi kegiatan ekstrakulikuler yang wajib diikuti peserta didik”57.
Kegiatan ini disambut positif oleh guru Agama. Bapak Ma’shum juga merasa senang dengan adanya program ini disekolah, sehingga bila Madrasah Diniyah dijadikan sebagai kegiatan pagi, sudah dipastikan seluruh siswa pasti mengikutinya. Sebagaimana ungkapan beliau, “Dan ini hukumnya wajib bagi seluruh siswa untuk mengikutinya. Program ini sangat membantu kami dalam upaya
56Wawancara dengan bapak Sulistyono selaku kepala sekolah pada tanggal 15 April 2015 57Wawancara dengan bapak Sulistyono selaku kepala sekolah pada tanggal 15 April 2015
mencerdaskan siswa dalam baca tulis Al-qur’an serta mendalami kitab-kitab”.58
Madrasah diniyah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pagi untuk setiap kelas dengan tiga jam setiap minggunya. Pengajar yang mengemban sebagai guru madrasah diniyah diambil dari luar yang ahli dalam bidangnya.
Bapak Sulistyono menjelaskan sebagaimana berikut:
Untuk ustadz, kami bekerjasama dengan koordinator MADIN Kecamatan Udanawu. Ini yang kami lakukan bila guru dan karyawan belum mampu untuk membina siswa dalam kegiatan khusus. Maka kami mengambil masyarakat atau pelatih dari luar sekolah sebagaimana kegiatan ekstrakulikuler yang lain. Kerjasama yang terjalin tersebut diharapkan dapat merekatkan hubungan dan memberikan manfaat satu sama lain. Sebagai bentuk terimakasih pihak sekolah kepada ustadz MADIN, maka pihak sekolah memberikan uang saku/ pesangon kepada ustadz pada setiap pertemuannya karena jasa mereka yang telah mendidik siswa.
Sebagaimana diungkapkan oleh bapak Sulistyono bahwa: Disini ustadz MADIN ada 6 orang, untuk pembagian kelasnya, maka masing-masing kelas ada 2 orang ustadz MADIN. Sebagai bentuk terimakasih terhadap jasa mereka, maka kami dari pihak sekolah hanya mampu memberikan pesangon 35.000 setiap pertemuannya.59
Kegiatan ini merupakan bentuk usaha pemerintah kabupaten untuk menanggulangi buta huruf hijaiyah karena kurangnya kesadaran siswa serta orang tua untuk mengikuti MADIN disekitar
58 Wawancara dengan bapak Ma’shum selaku guru Pendidikan Agama Islam kelas IX
pada 22 tanggal April 2015
lingkungannya. Hasil akhir dari kegiatan ini adalah ketika siswa lulus, maka setiap siswa berhak mendapatkan sertifikat MADIN dari kabupaten. Bapak Sulistyono menambahkan, “Tujuan akhir dari kegiatan ini adalah setiap siswa berhak untuk mendapatkan sertifikat MADIN, dimana sertifikat tersebut nantinya menjadi syarat untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi di wilayah kabupaten Blitar.”60
b. Faktor Penghambat 1) Media Massa
Seiring dengan perkembangan yang global termasuk didalamnya kebudayaan dan cara hidup yang berpengaruh terhadap pola tingkah laku serta cara berfikir manusia, media cetak dan media elektronik telah berkembang secara pesat dan menjadi kebutuhan primer pada setiap individu. Mereka seakan dimanjakan dengan fitur-fitur yang diberikan oleh alat serba canggih dengan banyak kemudian dalam mengakses berita dari penjuru dunia dan telah menggeser budaya surat-menyurat dalam berkomunikasi jarak jauh menjadi panggilan cepat dengan biaya yang lebih terjangkau.
SMPN 1 Udanawu sebagai sekolah umum yang mayoritas warganya baik dari guru, karyawan, serta siswa mengikuti perkembangan, juga turut mengambil posisi untuk menikmati kecanggihan masa kini. “seluruh guru menggunakan media elektronik
untuk kepentingan tertentu dan browsing internet, ada beberapa yang masih konsisten memesan majalah pendidikan dan koran untuk mengetahui kabar masa kini”.61Tutur ibu Sholikah.
Banyak dampak positif yang dapat diambil bila pemakai bisa memposisikan perkembangan dengan mengambil manfaat yang baik, seperti guru-guru yang menggunakan ini sebagai salah satu alat untuk menambah wawasan pengetahuan masa kini yang nantinya dapat dijadikan sebagai tambahan sumber belajar saat guru menyampaikan materi. Namun untuk siswa masih dikatakan rawan bila mereka memianfaatkan media ini, karena umur siswa berada pada masa-masa serba ingin tahu dan mencoba hal baru. Hal lain karena bila barang- barang itu terbawa maka akan mengganggu proses dan tujuan pembelajaran di sekolah.
Antisipasi dampak negatif dari perkembangan ini pihak sekolah memiliki kebijakan untuk melarang siswa membawa handphone sebagai media elektronik dan majalah, tabloid dan serta novel untuk non elektroniknya. Ibu Sholikah menuturkan, “ kebijakan yang kami berikan kepada siswa untuk menyikapi hal ini adalah siswa dilarang barang elektronik, majalah, novel,dan tabloid kedalam lingkungan sekolah”.62 kebijakan itu sudah berlangsung lama sejak handphone marak ditangan masyarakat sekitar tahun 2004 hingga sekarang yang mengalami perkembangan yang progres. Antisipasi ini diberlakukan untuk seluruh
61
Wawancara dengan ibu Sholikah selaku waka kurikulum pada tanggal 15 Mei 2015
siswa dan dilakukan pemeriksaan secara berkala oleh guru BP dan wali kelas.
Ibu Sholikah menambahkan bahwa:
Pemeriksaan dilakukan secara kondisional tanpa jadwal yang terstruktur. Agar siswa berlaku wajar tanpa menutupi keseharian yang mereka bawa. Dari pemeriksaan tersebut kami pernah mendapatkan handphone siswa. Setelah kami mengecek file didalamnya, ada gambar tidak senonoh. Inilah yang kami khawatirkan bila tidak ada pengawasan secara ketat, kami tidak ngn menciptakan siswa yang memiliki karakter negatif. Yang jelas, tujuan kami adalah menciptakan jiwa religius dan nasionalis kepada siswa serta dapat menempatkan perkembangan media ke tempat yang tepat.63
Setelah mendapati barang rampasan dari siswa yang melanggar peraturan, maka konsekuensi yang harus diterima siswa adalah penahanan barang selama dia dinyatakan lulus dari sekolah. Lanjut beliau“ barang rampasan menjadi tawanan sekolah. Bila satu sampaidua kali siswa mengulangi, maka ada surat peringatan dan panggilan orang tua. Bila melakukan kesalahan lagi maka siswa dikeluarkan”64. Demikian ibu Sumarmi menjelaskan terkait antisipasi perkembangan media elektronik maupun nonelektronik. Seluruh upaya ini pihak komite dan guru lakukan tidak lain adalah agar tujuan pembelajaran tercapai serta tercipta budaya yang tidak ketergantungan terhadap alat elektronik dan tercipta kenyamanan di sekolah dengan tetap mempertahankan loyalitas dalam IMTAQ dan IPTEK.
63Wawancara dengan ibu Sholikah selaku waka kurikulum pada tanggal 15 Mei 2015 64Wawancara dengan ibu Sholikah selaku waka kurikulum pada tanggal 15 Mei 2015