• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dipicu, Terpicu, dan Memicu Pengalaman PC

Dalam dokumen Stop Buang Air Besar Sembarangan. Commun (Halaman 75-80)

Dipicu, Terpicu, dan Memicu.

Pengalaman PCI Indonesia dalam mengimplementasikan Program Stop BABS

Bagaimana proses perkenalan PCI dengan pendekatan CLTS ? Project Concern Internaional (PCI) pada akhir tahun 2003 mulai melaksanakan proyek Child Health Opportuniies Integrated with Community Empowerment/CHOICE (Warga Akif Hidup Anak Sehat – WAHANA Sehat) di wilayah Kabupaten Pandeglang, provinsi Banten. Terdapat 5 kecamatan yang menjadi lokasi kegiatan, yaitu kecamatan Sakei (10 desa), Paia (2 desa), Sukaresmi (3 desa), Pagelaran (10 desa), dan Angsana (5 desa). Pemilihan lokasi sasaran ini salah satunya berdasarkan criteria cakupan sarana air bersih dan sanitasi yang rendah.

Pada pertengahan perjalanan proyek, PCI memperoleh informasi adanya suatu metode/pendekatan baru dalam transformasi perilaku sanitasi masyarakat, yaitu Community-Led Total Sanitaion (CLTS) yang diperkenalkan oleh WSP-EAP World Bank di Indonesia pada Oktober tahun 2005.

Awal perkenalan dengan CLTS dimulai keika bertemu dengan Agus Priatna yang pada saat itu bertugas sebagai fasilitator WASPOLA untuk wilayah provinsi Banten. Setelah menerima penjelasan CLTS yang salah satu keunggulannya adalah pada perubahan perilaku dan pembangunan swadaya oleh masyarakat (tanpa subsidi), maka PCI meminta kepada WASPOLA untuk memperoleh pelaihan pelaih (Training of the Trainer/TOT) tentang CLTS.

Pada Desember 2005, WASPOLA bersama dengan Pokja AMPL melaksanakan TOT CLTS kepada PCI. Selanjutnya pada Januari 2006, PCI langsung mulai melakukan pemicuan ke masyarakat dengan menurunkan fasilitator-fasilitator yang telah memperoleh TOT ke lokasi-lokasi sasaran kegiatan CHOICE.

Apa yang mendorong tertarik dengan CLTS ?

Pada dasarnya terdapat 2 (dua) alasan utama mengapa PCI berharap besar dengan pendekatan CLTS, yaitu:

• Prevalensi diare di lokasi kegiatan CHOICE cukup inggi,

namun idak tersedia alokasi dana untuk kegiatan

sanitasi.

• Belajar dari kegagalan proyek sanitasi yang lalu

(pemerintah, LSM, termasuk PCI di Aceh) yang terlalu mengutamakan infrastruktur dan mengenyampingkan soal budaya dan perilaku masyarakat, sehingga sarana

yang telah dibangun tetap terbengkalai idak

dipergunakan masyarakat. Upaya apa yang telah dilakukan ?

Sampai Mei 2006, sudah hampir 5 bulan berjalan, namun masyarakat masih tetap belum berubah perlakunya dalam BAB dan belum membuat jamban keluarga. Masyarakat tetap saja BAB di kebun, sungai, saluran irigasi dan berbagai tempat terbuka lainnya. Masyarakat masih belum sepenuhnya terpicu untuk merubah perilaku sanitasinya. “Kegagalan” ini mendorong PCI untuk melakukan studi banding pada bulan Mei 2006 ke Kabupaten Musi Banyuasin dan Lumajang yang telah berhasil dalam pelaksanaan pendekatan CLTS. Bahkan idak hanya staf PCI yang melakukan studi banding, selang idak lama kemudian PCI juga mengajak Camat, Dokter Puskesmas dan Kepala Desa untuk juga belajar ke Kabupaten Musi Banyuasin dan Lumajang.

Kekurang tepatan strategi pemicuan menjadi pangkal “kegagalan” PCI dalam menerapkan pendekatan CLTS di Kabupaten Pandeglang. Belajar dari hasil studi banding ke Kabupaten Lumajang dan Musi Banyuasin, maka PCI melakukan perubahan strategi pemicuan dari langsung oleh fasilitator kepada masyarakat diubah dengan mengikutsertakan kader- kader posyandu, karang taruna, pemimpin informal, LSM lokal, organisasi keagamaan dan aparat pemerintah setempat. Pemicuan sekarang menjadi aksi kolekif seluruh komponen masyarakat setempat.

Per Desember 2006, 6 bulan setelah pemicuan ulang dengan strategi baru, sebanyak 2.000 jamban keluarga telah dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Arinya, dalam tempo hanya 6 bulan, paling idak ada 2.000 rumah tangga yang telah mengubah perlakunya dari BAB di tempat-tempat terbuka menjadi menggunakan sarana jamban masing-masing di rumahnya. Sekarang jamban bukan hanya sekedar sarana sanitasi, namun telah menjadi kebanggaan yang meningkatkan posisi sosial mereka di lingkungan.

Sampai dengan berakhirnya proyek CHOICE pada September 2007, telah dilakukan pemicuan terhadap 96 kampung dari 120 kampung di 29 desa di 10 kecamatan lokasi sasaran. Sebanyak 18 kampung telah dinyatakan Stop BAB di sembarang tempat (open defecaion free - ODF). Pengguna jamban meningkat dari 20.9% menjadi 63.6% di kampung- kampung yang sudah dipicu. Sebagai penghargaan, PCI bekerjasama dengan LSM lokal LAZ HARFA memberikan sarana air bersih kepada kampung-kampung yang telah ODF.

Keberlanjutan dan perluasan

Pemicuan atau triggering sekarang menjadi “kata” yang merakyat di lokasi-lokasi sasaran proyek dan sekitarnya. Kata itu pula yang menjadi kata kunci dan mengawali kegiatan kampanye sanitasi PCI dan juga sekarang digunakan oleh kawan- kawan LSM, kader posyandu, sanitarian, pemimpin informal dan aparat pemerintah lokal (desa dan kecamatan) di Kabupaten Pandeglang. Keberlanjutan menjadi kata kunci berikutnya, dan bagaimanakah PCI melakukan upaya-upaya agar terjamin keberlanjutan dari apa yang telah dihasilkan?

 Mempersiapkan staf proyek dan mitra untuk menerapkan pendekatan CLTS :

 • Membangun kemitraan dengan pemerintah (Bappeda,

 Dinas Kesehatan, Pokja AMPL, Pemerintah Kecamatan

 dan Puskesmas)

• Memberikan pelaihan kepada staf proyek dan mitra kerja, termasuk LSM lokal dan organisasi keagamaan (Aisyiyah dan Muhammadiyah)

 Advokasi kepada semua pemangku kepeningan di semua

ingkatan.Program Air Bersih dan Sanitasi dilanjutkan oleh LSM lokal mitra PCI (LAZ HARFA) di 10 desa. Sampai

 April 2008, ada tambahan 3 kampung yang Stop BAB sembarangan.

 Proses pemicuan tetap dilanjutkan oleh Puskesmas dan LSM mitra (LAZ HARFA).

 Pembangunan jamban dan peningkatan kualitas jamban terus dilanjutkan oleh masyarakat.

Tidak hanya itu, PCI juga melakukan berbagai kegiatan untuk memperluas penerapan metode/pendekatan CLTS. Berbagai upaya yang telah dilakukan adalah:

• “Scaling up” ke proyek PCI lainnya.

• Membantu Pokja AMPL memperkenalkan CLTS ke kabupaten lainnya di Provinsi Banten

• Membagi pengalaman, pengetahuan dan keterampilan kepada lembaga lain ( LSM lokal dan internasional, perguruan inggi, dan lain-lain).

• Memperkenalkan pendekatan CLTS kepada provinsi/ kabupaten lain (Kabupaten Nabire, Tangerang, Lebak dan Serang, propinsi Aceh dan DIY)

• Memperkenalkan CLTS kepada LSM lain dan LSM Internasional (World Relief, Islamic Relief, CCF, Care).

• Promosi pendekatan CLTS terus dilanjutkan oleh eks staf PCI melalui berbagai lembaga/proyek.

• Membantu Yayasan Pancur Kasih, Penis division, menerapkan pendekatan CLTS di 7 desa di Kecamatan Ambawang, Kabupaten Ponianak dan 7 desa di Kecamatan Karangan Kabupaten Landak, Kalimantan Barat dan Surfaids di Pulau Nias.

(Diedit dari tulisan Dipicu, Terpicu dan Memicu, Dr Agusin Raintung, Health Advisor PCI Indonesia, Majalah Percik, Juni 2009 )

Dalam dokumen Stop Buang Air Besar Sembarangan. Commun (Halaman 75-80)

Dokumen terkait