1.1 Umum
2.1.8 Menjadikan Puskesmas dan Posyandu berikut
tombak mempercepat penerimaan masyarakat Jajaran dinas kesehatan, mulai dari kabupaten, kecamatan, sampai di desa merupakan para penggiat Stop BABS yang potensial, disamping merubah perilaku hidup bersih merupakan tugas pokok dan fungsi mereka, kapasitas sumber daya manusianya pun relaif memenuhi syarat. Petugas sanitarian, bidan desa, termasuk kader posyandu yang berasal dari masyarakat merupakan ujung tombak pelaksanaan Stob BABS yang dapat diandalkan.
Keterlibatan sanitarian sudah jelas, karena memang bidang tugasnya, sehingga peran supervisi melekat pada dirinya. Sedangkan peran bidan, dilakukan seiring dengan tugasnya melayani kesehatan ibu dan anak, termasuk dalam proses persalinan, sehingga peran memberikan moivasi lebih menonjol. Beberapa contoh sukses atas peran jajaran dinas kesehatan adalah di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan yang bertumpu pada igur kepala puskesmas dan bidan desa. Sementara di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat keterlibatan akif kepala Dinas Kesehatan beserta jajarannya dalam upaya menjadikan program Stop BABS sebagai program prioritas pemerintah daerah.
Salah satu faktor pendorong percepatan pencapaian desa Stop BABS di Kabupaten Sumedang adalah pelaihan kepada petugas sanitasi Puskesmas dan Kader Posyandu/Dasawisma sejak awal. Pelaihan dilakukan 2 angkatan dalam 1 tahun anggaran, sedangkan
kegiatan pemicuan dilakukan di seiap dusun. Pemicuan dilakukan oleh kader Posyandu dengan dikoordinasikan oleh sanitarian Puskesmas.
2.1.9 Adopsi program Stop BABS dalam proyek AMPL mempercepat upaya pengarusutamaan program Stop BABS
Kemampuan pemerintah daerah dalam pembangunan AMPL masih relaif terbatas. Untuk itu, pemerintah pusat melalui sumber dana hibah dan pinjaman banyak melakukan intervensi pembangunan AMPL di daerah. Pembangunan AMPL diserahkan pelaksanaannya melalui proyek AMPL yang tersebar di seluruh Indonesia.
Seluruh proyek AMPL telah mengadopsi program Stop BABS. Keberadaannya di hampir seluruh Indonesia membantu pemerintah pusat dalam memperkenalkan program Stop BABS kepada pemerintah daerah maupun pelaku pembangunan AMPL lainnya. Keterlibatan proyek AMPL dalam pelaksanaan program Stop BABS akan membantu mempercepat pengarusutamaan program di daerah.
Sebagai contoh, proyek WSLIC-2 telah berhasil membebaskan 37 desa dari praktek BABS, proyek CWSH menghasilkan 8 desa Stop BABS, Pamsimas menghasilkan 5 desa Stop BABS, TSSM menghasilkan 62 desa Stop BABS, WES Unicef menghasilkan 1 desa Stop BABS. Sementara jumlah desa yang dalam pendampingan proyek AMPL mencapai sekitar 2.000 desa. Kesemuanya berpotensi menjadi desa Stop BABS dalam waktu dekat.
2.1.10 Mahasiswa berpotensi menjadi ujung tombak pemicuan Stop BABS melalui program Kuliah Kerja Mahasiswa
Program kuliah kerja mahasiswa yang mengerahkan mahasiswa dalam jumlah banyak ke desa- desa, merupakan ajang yang potensial dalam melibatkan mahasiswa dalam pelaksanaan Stop BABS. Dengan pembekalan yang memadai, mahasiswa dapat berperan menjadi fasilitator pemicu perubahan di ingkat masyarakat. Melalui kerja sama antara pemerintah daerah dan perguruan inggi, dapat dibangun suatu sinergi untuk membantu masyarakat desa dalam memperbaiki kualitas hidupnya.
Keterlibatan perguruan inggi pertama kali oleh Universitas Tirtayasa pada tahun 2007, melalui pelaihan yang diikui 108 orang, terdiri dari 26 dosen, 5 sanitarian dari 5 Puskesmas lokasi KKM serta 7 orang peserta tambahan dari P2KP Banten, yang dilanjutkan dengan pemicuan CLTS di 14 desa. Program kemudian berjalan dengan lebih baik pada tahun 2008, masih di 5 Kecamatan, Carenang, Curug, Pontang, Tirtayasa, Tunjung Teja di kabupaten Serang. Pada tahap awal dilaih sebanyak 75 orang terdiri dari 34 dosen, 14 mahasiswa, sisanya berasal dari PKK, Sanitarian, Bidan,
2.1.11 Format dan bentuk pemantauan yang sederhana
oleh kader di ingkat desa mendukung upaya
pemantauan dan evaluasi program Stop BABS secara keseluruhan
Salah satu kendala dalam pelaks-anaan program AMPL selama ini adalah kesulitan memperoleh data yang dapat diandalkan. Sebagian besar disebabkan bentuk format pelaporan yang rumit dan sulit dipahami. Melalui pelaksanaan program Stop BABS kemudian ditemui beberapa upaya pencatatan kemajuan pelaksanaan kegiatan yang sederhana dan dilaksanakan langsung oleh kader di lapangan.
Dari format yang tersusun dari daerah inilah kemudian diharapkan data yang didapatkan dapat serta tokoh masyarakat; dilanjutkan dengan 5 dosen dan 1 mahasiswa mengikui pelaihan Keterampilan Dasar Fasilitasi. Melalui koordinasi dengan Pokja AMPL Banten serta Pokja AMPL Kabupaten Serang, hasilnya lebih baik, sehingga sudah ada beberapa kampung yang mencapai Stop BABS.
Sedangkan di Universitas Gajah Mada telah dilaih 22 mahasiswa yang tergabung dalam komunitas
Waterplan Community terkait Teknis Pemicuan
CLTS. Pelaihan ditangani oleh Pokja AMPL Nasional bekerjasama dengan LPPM UGM, dilanjutkan pemicuan CLTS di Desa Hargomulyo, Gedangsari Kabupaten Gunung Kidul; serta dikembangkan masing masing di 2 desa di Kabupaten Gunung Kidul dan Sleman. Sementara STIKES Falatehan Serang, yang ikut serta dalam pelaihan tahun 2008 sebanyak 2 dosen dan 1 mahasiswa sedang mengembangkan desa model, di Desa Terumbu, Kecamatan Kilasah di kota Serang.
berkembang menjadi data nasional. Sementara format pemantauan dan evaluasi dapat menjadi embrio bagi upaya mendapatkan format pemantauan dan evaluasi yang mudah, dan dapat dilaksanakan.
Sebagai contoh, PCI melalui programnya di kabupaten Pandeglang, Banten mengembangkan format pemantauan dan evaluasi yang sederhana. Kader atau Tim CLTS desa melakukan pemantauan, kemudian petugas lapangan PCI melakukan rekap perkembangan seiap desa, dan digabungkan di ingkat kecamatan. Format pemantauan dan evaluasi tersebut terus dikembangkan PCI melalui programnya di Kabupaten Nabire, Papua; Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, NAD.
Sementara di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, pemantauan dilakukan melalui kunjungan rumah oleh Kader Dasa Wisma. Pencatatan atas perubahan perilaku menggunakan formulir yang disiapkan oleh Dinas Kesehatan. Selain itu dipergunakan Siker STBM melalui
Program Lingkungan Sehat Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, maupun Pamsimas. Hasil pemantauan kader tersebut kemudian dicatat dalam format laporan yang disiapkan Dinas Kesehatan
Sumedang, untuk kemudian direkap oleh Puskesmas dan Dinas Kesehatan sehingga akhirnya tersedia laporan perkembangan program Stop BABS bulanan.
Siker STBM ditempel di seiap rumah.
Foto : Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang
2.1.12 Deklarasi Stop BABS (ODF) memicu daerah lainnya
Deklarasi ODF di Desa Sawe Kecamatan Huu di Kabupaten Dompu oleh Bupai Dompu, deklarasi ODF di Desa Sukawening Kecamatan Ganeas oleh Bupai Sumedang, serta pemberian Penghargaan Museum Rekor Indonesia (Muri) kepada kabupaten Pandeglang untuk Pembuatan Jamban Terbanyak Tanpa Subsidi Selama Satu Tahun (sekitar 2.000 jamban), adalah contoh deklarasi yang kemudian memicu, desa lain di wilayah kabupatennya masing masing; bahkan memicu kabupaten lainnya.
2.1.13 Peluang usaha penyediaan fasilitas sanitasi
dasar paska pemicuan Stop BABS .
Sesuai dengan judul programnya, Sanitasi Total dan Pemasaran Sanitasi, maka yang menjadi perhaian adalah bagaimana menjawab permintaan masyarakat akan sarana sanitasi dasar, yang murah, sehat dan ramah lingkungan. Adalah Sumadi yang menunjukkan, pengabdian dan totalitas dalam menggauli profesinya menuju kesuksesan, bukan hanya sebagai sanitarian, namun, juga sebagai pengusaha
yang berurusan dengan sanitasi dasar ini. Berurusan dengan inja sudah pasi menjijikkan. Tetapi, idak bagi Sumadi yang berprofesi sebagai sanitarian Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
Persoalan seputar inja bagi sanitarian adalah persoalan pening yang bila idak ditangani dengan benar bisa menjadi malapetaka. ”Kalau mereka sakit- sakitan, uangnya habis dipakai berobat, ya miskin terus,” kata Sumadi. Prihain dengan rendahnya kesadaran masyarakat menggunakan jamban, Sumadi melakukan survei di Desa Begendeng, Kecamatan Jaikalen, kabupaten Nganjuk. Begendeng dipilih sebagai sasaran survei karena pola sanitasi masyarakatnya yang buruk. Desa ini terletak di muara Sungai Brantas dan Sungai Widas. ”Di dua sungai itulah masyarakat melakukan MCK (mandi, cuci, kakus) sehari-hari,” kata Sumadi. Hasil survei tak jauh dari dugaan. Dari 267 rumah di Begendeng, tercatat hanya empat rumah yang memiliki jamban dengan desain
tangki sepik berbentuk kotak. Saat itu biaya membuat jamban sangat mahal bagi warga yang umumnya bekerja sebagai petani dan buruh. Sumadi berinisiaif membuat desain tangki sepik dengan model silindris. Model silindris lebih cocok digunakan di daerah seperi Jaikalen yang memiliki kontur tanah yang selalu bergerak. ”Model silindris jauh lebih kuat karena iik tekannya hanya satu, yaitu di tengah, sedangkan model kotak lebih gampang roboh,” jelas Sumadi. Dengan model tersebut, Sumadi mampu menekan harga pembuatan jamban hingga Rp 440.000. Meski harganya jauh lebih murah, saat diperkenalkan banyak warga yang masih ragu. Saat itu baru 10 keluarga yang tertarik memesan jamban kepada Sumadi. ”Waktu itu saya beri jaminan, kalau dalam waktu lima tahun jambannya amblek, uang mereka kembali,” kata Sumadi. Jaminan dan harga murah yang ditawarkan Sumadi menarik minat warga untuk mendatar. Selain itu, disediakan juga fasilitas penyedotan inja.
2.2 Pendanaan
2.2.1 Opimalisasi sumber daya yang ada dengan mengadopsi program Stop BABS kedalam program yang telah berjalan
Salah satu upaya daerah dalam membiayai program Stop BABS adalah dengan cara mengadopsi kegiatan Stop BABS kedalam program yang telah berjalan. Tentunya hal ini dengan mudah dapat dilakukan karena pada dasarnya kegiatan Stop BABS adalah bagian dari kegiatan PHBS.
Salah satu contoh adalah upaya Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Jawa Barat mengadopsi kegiatan Stop BABS kedalam kegiatan terkait seperi Program
Pengembangan Kompetensi-Indeks Prestasi manusia (PPK-IPM), dan Program Desa Siaga. Bentuk opimalisasi pembiayaan diantaranya pembiayaan kegiatan pelaihan Stop BABS dibiayai dari dana PPK-IPM dan Desa Siaga yang dilakukan di desa. Sedangkan kegiatan pemicuan dibiayai dari anggaran Klinik Sanitasi. Sehingga kebutuhan dana ekstra bagi pelaksanaan program Stop BABS dapat diminimalkan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang juga bekerjasama dengan Bank Jabar dalam memanfaatkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) melalui program Desa Binaan. Program Stop BABS merupakan salah satu kegiatannya, yang akan dimulai tahun 2010 di 10 desa.
2.2.2 Masyarakat mempunyai inisiaif sendiri dalam menyelesaikan keterbatasan pendanaan
Pada dasarnya masyarakat yang sudah terpicu dapat membangun sarana jamban sesuai dengan kemampuannya. Tidak ada alasan bagi masyarakat miskin untuk idak mampu membangun sarana jamban yang paling sederhana (lihat Boks Contoh Mbok Supi di Kabupaten Trenggalek). Namun demikian,
Rumah dan Jamban mbok Supi di Desa Tumpuk, Kecamatan Tugu, Trenggalek, bangga dengan jambannya seharga 4,5 juta rupiah, hasil menabung dari penghasilannya sebagai pemijat, selama setahunan.
pada beberapa kasus, khususnya daerah sulit perlu diperimbangkan pendanaan alternaif untuk membantu masyarakat yang idak mampu. Apabila dimungkinkan dapat didorong pembentukan unit kredit masyarakat untuk pembangunan jamban.
Sebagai contoh Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) desa Sungai Rangas Hambu Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar Baru mengembangkan jamban melalui arisan jamban. Terobosan ini dilakukan karena harga per-unit jamban relaif mahal. Dengan anggota 38 orang, mereka melakukan arisan jamban Rp 25.000,-/orang /bulan. Perlahan tapi pasi jumlah keluarga yang memiliki jamban meningkat. Begitu juga dengan Jorong Parang Doto, Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sawahlunto Sijunjung, yang memanfaatkan keberadaan Kelompok Tani Perempuan. Seiap pertemuan kelompok mereka melakukan arisan kloset, dan seiap pertemuan terdapat dua orang yang mendapat giliran memperoleh kloset.
Beberapa wanita Kelompok Arisan Jamban desa Rorurangga Pulau Ende, NTT juga memprakarsai hal yang sama. Sii Sarifah, seorang ibu muda dua anak, bersama dengan beberapa ibu rumah tangga mendirikan kelompok ini di desanya. “Dalam waktu dekat, saya akan memiliki jamban rumah tanggasaya sendiri,” kata Sii antusias. Pelaksanaan ini didukung oleh sebuah peraturan desa di masing-masing 7 desa di Pulau Ende.
Sementara Bengkel Sanitasi Desa Bocor Kabupaten Kebumen, Jawa tengah mengereditkan cetakan bangunan atas dan kloset senilai Rp 60.000 sebanyak 6 kali.
Masyarakat Desa Salam Harjo salah satu desa CWSHP di Kabupaten Bengkulu Utara, telah mendapat kemudahan dari toko material terdekat untuk menyicil kebutuhan membuat jamban seperi semen, PVC, bahkan kloset. Cicilan dilakukan seiap minggu dari hasil kebun penduduk berupa kopi dan kelapa sawit. Masyarakat Desa Salam Harjo yang awalnya hanya memiliki 16 jamban, selama berselang 2 bulan semua kepala keluarga yang mencapai 118 KK di desa itu telah memiliki jamban keluarga.
2.2.3 Perubahan skema dana bergulir menjadi non subsidi lebih menjanjikan
Jauh sebelum program Stob BABS diperkenalkan, pembangunan sanitasi khususanya di perdesaan banyak mempergunakan skema dana bergulir. Dana bergulir tersebut berupa dana stimulan yang diberikan oleh proyek kepada kelompok masyarakat. Anggota kelompok kemudian menentukan urutan penerima bantuan. Secara teoritis hal ini cukup baik, tetapi dalam praktek banyak ditemui kegagalan, terlihat dari kenyataan bahwa dana hanya bergulir satu kali pada penerima gelombang pertama. Masyarakat miskin juga hampir tidak dapat mengakses dana tersebut, karena tidak memiliki kemampuan untuk menyicilnya.
Secara umum, ditengarai faktor penyebab kegagalan adalah belum terjadinya perubahan perilaku masyarakat sehingga belum timbul adanya kebutuhan masyarakat terhadap jamban. Kemudian tidak ada hukuman bagi penerima bantuan yang tidak mengembalikan dana bergulir tersebut.
Sementara perubahan dana bergulir sanitasi menjadi tanpa subsidi melalui program Stop BABS, terbuki menunjukkan kinerja yang lebih baik. Lebih banyak masyarakat yang terpicu membangun sarana jamban, walaupun tanpa dana simulan. Hasilnya ini terlihat di berbagai lokasi proyek WSLIC-2, diantaranya Kabupaten Ciamis (Jawa Barat), Muara Enim (Sumatera Selatan), Trenggalek (Jawa Tengah), Bone (Sulawsi Selatan), Sawahlunto Sijunjung (Sumatera Barat). Sedangkan di lokasi proyek CWSH hasilnya terlihat di Kabupaten Sambas (Kalimantan Barat).
2.3 Sosial dan Budaya
2.3.1 Kampiun sebagai penggerak utama program Stop BABS
Keberhasilan pencapaian stop buang air sembarangan, sebagai hasil dari pemicuan, tergantung banyak hal, tetapi yang utama adalah keberadaan kampiun. Kampiun adalah orang yang terpicu, termoivasi dan memiliki komitmen dalam pelaksanaan program. Dalam beberapa hal, kiprah kampiun ini idak selalu mendapatkan dukungan dari sistem yang ada, namun demikian kampiun tetap melakukan kegiatan sesuai dengan kapasitasnya. Seorang kampiun dapat berasal dari berbagai golongan, baik pegawai pemerintah, swasta, pemuka masyarakat, tokoh agama, guru sekolah, ibu rumah tangga, bahkan pemuda.
Dipercayai bahwa pada seiap keberhasilan pelaksanaan program Stop BABS terdapat seorang kampiun yang mengawal. Jika semua disebutkan satu per satu, akan banyak sekali nama yang perlu dicantumkan. Namun dari sejumlah nama tersebut, beberapa yang dapat disebutkan sementara ini adalah Drg. Agusin yang
telah berhasil membebaskan Kecamatan Lembak, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan dari perilaku buang air bebas sembarangan. Kecamatan Lembak merupakan kecamatan Stop BABS (ODF) yang pertama di Indonesia. Muhamad Sholeh dari Dinas Kesehatan dan Sudarto dari Bappeda berkiprah dalam pengawalan program Stop BABS yang dilakukan oleh Plan Internaional Indonesia di kabupaten Grobogan. Ekki Riswandiyah dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Jawa Barat berhasil memanfaatkan semua sumber daya yang ada untuk penyelenggaraan Stop BABS yang juga didukung oleh Bupai Sumedang yang terlibat dalam pencanangan desa Stop BABS (ODF).
Selain itu, Abdul Sikin, pegawai pemerintah Kecamatan Huu di Kabupaten Dompu, NTB akif melakukan pelaihan pemicuan, mengatur strategi pemicuan, dan pemantauan pelaksanaan Stop BABS di Kecamatan Huu. Encep Mahmud, Kepala Desa Sindanglaya, Kabupaten Pandeglang membuat SK Kepala Desa tentang Tim Pemberantas Tai. Saefudin Juhri sebagai Kepala Desa/Kuwu Marga Jaya turun langsung melakukan pemicuan. Sulastri, dari Desa Kenongo, dan Masduki dari Desa Tanggung, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, serta Cicih Sukaesih Kader Desa
Drg. Agusin, Kepala Puskesmas Kec. Lembak, Kab. Muara Enim, Sumatera Selatan.
Foto : WASPOLA
Sukawening, Kecamatan Ganeas, Kabupaten Sumedang, misalnya, merekalah yang menjelaskan peningnya perubahan kebiasaan dan rencana kerja kepada warga masyarakat di desanya masing masing, sehingga desanya mencapai Stop BABS (ODF).
Pada kondisi tertentu, bahkan kampiun sendiri masih melakukan praktek BABS. Untuk itu, kampiun tersebut yang terlebih dahulu membangun jamban, supaya menjadi contoh yang nyata bagi masyarakatnya. Misalnya, hal ini terjadi dengan Lukman – kader Desa Meunasah, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya. Segera setelah menyelesaikan pelaihan pembuatan jamban oleh Fasilitator Teknik Program WES Unicef yang dilaksanakan oleh PCI di Tapaktuan dan sekitarnya, Lukman membangun sendiri jambannya dan kemudian masyarakat mengikuinya.
2.3.2 Kaum perempuan sebagai kampiun program Stop BABS dan pendorong utama perubahan
perilaku masyarakat.
Keseharian kita menunjukkan bahwa kaum perempuanlah yang akiitasnya paling banyak berhubungan dengan sanitasi, sehingga melibatkan perempuan menjadi relaif lebih mudah Ternyata
Lukman, kader dari desa Meunasah kecamatan Susoh, kabupaten Aceh Barat Daya, sedang menjelaskan proses pembuatan jamban. Foto : PCI Aceh
kemudian hal ini terbuki dalam pelaksanaan program Stop BABS, baik sebagai kampiun dalam pelaksanaan program maupun sebagai pendorong utama perubahan perilaku di ingkat masyarakat.
Di ingkat Kabupaten, kita patut mencatat Ekki Riswandiyah dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Jawa Barat lewat program Lingkungan Sehatnya telah berhasil membawa sebanyak 55 dusun dan 16 desa mencapai ODF dalam dua tahun, bahkan mulai memperkenalkan pilar lain STBM, yaitu pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat. Joice Irmawai dari Bappeda Kabupaten Pandeglang, Banten yang sedang mengembangkan program Stop BABS di 6 kecamatan bersama Pokja AMPL serta 2 kecamatan dengan LSM LAZ Harfa. Begitu juga dengan Dian Mardiani dari Bappeda Kabupaten Serang, melalui Pokja AMPL bekerja sama dengan Universitas Tirtayasa, Serang serta ihak lainnya sedang gencar mendorong perubahan perilaku masyarakat agar BAB pada jamban yang dibangun sendiri.
Di tingkat kecamatan atau Puskesmas, Drg, P Agusine Siahaan, Mkes yang secara Fenomenal pada tahun 2008 berhasil membawa Kecamatan Lembak Muara Enim di wilayah Puskesmas yang
Ibu Sulastri didepan papan bertuliskan Dusun Margosari Desa Kenongo, Kecamatan Gucialit, Lumajang, Wilayah Sadar Jamban, 100% penduduk menggunakan jamban leher angsa. Foto : Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang
dipimpinnya, melipui 18 desa mencapai ODF dan saat ini sedang mengembangkan hal yang sama di tempat kerjanya yang baru di Puskesmas Batu Aji, Batam, Riau.
Sedangkan di Nagari Jorong Padang Doto, Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sawahlunto Sijunjung, kelompok tani wanita berhasil membawa perubahan, sekaligus membukikan mereka mampu mempengaruhi ibu-ibu atau perempuan lainnya di jorongnya, dari perempuan untuk perempuan dalam menciptakan lingkungan yang sehat melalui pencapaian Stop BABS. Sementara di Kabupaten Sumedang, kader Dasa Wisma seperi Cicih Sukaesih dari Desa Sukawening, Kecamatan Ganeas, Kabupaten Sumedang, memulai kegiatan pemicuan pada tahun 2007, dan menjelang akhir tahun 2008 mencapai Stop BABS, dan mendapatkan seriikat Stop BABS/ODF dari Bupai Sumedang.
2.3.3 Pemilihan waktu pemicuan menentukan keberhasilan
Waktu pemicuan harus disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat. Pada umumnya masyarakat akan dapat dikerahkan untuk pertemuan seiap saat, namun demikian perlu dicermai kegiatan utama masyarakat, yang berkaitan dengan mata pencaharian mereka seperi pertanian, peternakan, dan sebagainya. Pada daerah pertanian, pemicuan akan lebih baik apabila dilakukan setelah panen. Selain kegiatan produkif relaif idak ada, masyarakat juga dalam kondisi memiliki uang, sehingga dapat segera membangun sarana jambannya apabila terpicu.
Salah satu contoh keberhasilan program Stop BABS dengan memperhaikan kalender musim tanam
adalah di Nagari Jorong Padang Doto, Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sawahlunto Sijunjung. Karena berkaitan dengan kalender musim pertanian, di jorong ini yang berperan sekaligus dalam program Stop BABS adalah Kelompok Tani Wanita Jorong Padang Doto.
Selain itu, pemicuan perlu memperimbangkan musim. Pada musim hujan, menggali lubang—yang merupakan aksi spontan pertama setelah terpicu---relaif sulit dilakukan, disamping itu lubang yang dibangun bisa tergenang air hujan. Kondisi ini mempengaruhi semangat masyarakat dalam menyelesaikan sarana jamban. Hal ini dapat dilihat di Desa Sukadame, Kecamatan Pagelaran di Kabupaten Pandeglang, yang kondisi tanahnya mudah longsor dan cepat berair (kedalaman 1 meter) jika musim hujan.
2.3.4 K a r a k t e r i s t i k s o s i a l b u d a y a d a e r a h
mempengaruhi teknik pemicuan.
Teknik pemicuan untuk iap daerah dapat berbeda. Pada satu daerah masyarakat terpicu untuk merubah cara BAB karena rasa malu. Pada daerah lain, masyarakat terpicu karena kejadian khusus, misalnya adanya kecelakaan saat BAB, misalnya ada yang terbawa arus sungai saat BAB, ada yang digigit ular saat BAB di kebun. Di daerah lainnya lagi, masyarakat idak terpicu dengan rasa malu, idak terpicu dengan kejadian-kejadian khusus, tetapi mereka terpicu dengan pendekatan pemahaman keagamaan bahwa air yang
Pengurus Kelompok Tani Jorong Padang Doto, ikut andil dalam men-Stop BABS-kan Jorongnya.
mengandung kotoran manusia idak pantas digunakan untuk bersuci.
Sebagai contoh, Desa Cimande, Kabupaten Bogor. Setelah pemicuan, masyarakat belum bergerak. Karena belum bergerak, Kepala Desa berinisiaif untuk mencari bantuan, sampai datanglah bantuan 12 zak semen dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. Hanya saja yang terjadi kemudian, hanya 12 jamban itulah yang terbangun. Menyadari kesalahan tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor idak mau melakukan kesalahan tersebut lagi, karena bantuan akan memaikan upaya pencapaian Stop BABS. Akhirnya, melalui perjuangan yang panjang dan lama, sampai menemukan cara yang tepat yaitu meminta bantuan Ustadz Desa