• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. STRUKTUR ORGANISASI

2. Direktorat Perencanaan Usaha dan Pengembangan Dana

4. Direktorat Dana Rehabilitasi Fasilitas Pendidikan; 5. Satuan Pemeriksaan Intern; dan

6. Kelompok Jabatan Fungsional.

Untuk menciptakan tata kelola yang baik dalam pengelolaan DPPN, di luar struktur tersebut, LPDP dilengkapi dengan Dewan Penyantun dan Dewan Pengawas. Dewan Penyantun terdiri dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Keuangan, dan Menteri Agama. Adapun struktur organisasi LPDP dapat digambarkan sebagai berikut:

| Melayani untuk Indonesia Jaya

7

Gambar I.1

Struktur Organisasi LPDP

1. Direktorat Keuangan dan Umum

Direktorat Keuangan dan Umum mempunyai tugas melaksanakan koordinasi penyusunan renstra, Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) tahunan, rencana kerja dan anggaran satuan kerja, pengelolaan anggaran, akuntansi dan pelaporan, penyelesaian transaksi (setelmen), pengelolaan sumber daya manusia, serta urusan umum Lembaga Pengelola Dana Pendidikan.

Direktorat Keuangan dan Umum menyelenggarakan fungsi:

a. Penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) tahunan, rencana kerja dan anggaran satuan kerja;

b. Pengelolaan anggaran dan keuangan;

c. Penyusunan sistem dan manual akuntansi, laporan keuangan dan kinerja, serta akuntansi atas setiap transaksi;

d. Pelaksanaan setelmen;

e. Perencanaan, pengembangan dan pengelolaan sumber daya manusia; dan f. Pelaksanaan urusan kerumahtanggaan.

Direktorat Keuangan dan Umum terdiri dari dua divisi, yaitu:

Dewan Pengawas Direktur Utama

Direktorat Keuangan dan Umum

Divisi Anggaran dan Akuntansi

Divisi Sumber Daya Manusia dan

Umum Direktorat Perencanaan Usaha dan Pengembangan Dana Divisi Perencanaan Usaha dan Manajemen Data Divisi Pengembangan Dana Kelolaan Direktorat Dana Kegiatan Pendidikan Divisi Penyaluran Dana Kegiatan Pendidikan Divisi Evaluasi Penyaluran Dana Kegiatan Pendidikan Direktorat Dana Rehabilitasi Fasilitas Pendidikan

Divisi Penyaluran Dana Rehabilitasi Fasilitas Pendidikan Divisi Evaluasi Penyaluran Dana Rehabilitasi Fasilitas Pendidikan Satuan Pemeriksaan Internal

Menteri Keuangan Dewan Penyantun

| Melayani untuk Indonesia Jaya

8

a. Divisi Anggaran dan Akuntansi mempunyai tugas melakukan koordinasi

penyiapan bahan penyusunan rencana strategis, Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) tahunan, rencana kerja dan anggaran satuan kerja, pengelolaan anggaran operasional dan pelaksanaan setelmen, penyusunan sistem dan manual akuntansi, serta penyusunan laporan keuangan dan kinerja organisasi.

b. Divisi Sumber Daya Manusia dan Umum mempunyai tugas melakukan perencanaan kebutuhan pengadaan, penempatan dan pengembangan sumber daya manusia, serta pelaksanaan urusan umum dan kerumahtanggaan.

2. Direktorat Perencanaan Usaha dan Pengembangan Dana

Direktorat Perencanaan Usaha dan Pengembangan Dana mempunyai tugas melaksanakan penyusunan kebijakan teknis perencanaan usaha berupa rencana strategis bisnis, penyusunan rencana bisnis tahunan, pengembangan dana kelolaan dan pendapatan, pengelolaan kerjasama pendanaan, penyusunan rencana penyaluran dana, riset serta manajemen data.

Direktorat Perencanaan Usaha dan Pengembangan Dana menyelenggarakan fungsi:

a. Penyiapan penyusunan kebijakan teknis perencanaan usaha berupa rencana strategis bisnis dan rencana bisnis tahunan;

b. Penyiapan pengembangan dana kelolaan dan hasil pendapatan; c. Pengelolaan kerja sama pendanaan;

d. Penyiapan penyusunan rencana penyaluran dana; dan e. Riset dan manajemen data.

Direktorat Perencanaan dan Pengembangan Dana terdiri atas:

a. Divisi Perencanaan Usaha dan Manajemen Data mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan kebijakan teknis perencanaan usaha berupa rencana strategis bisnis dan rencana bisnis tahunan, koordinasi penyusunan rencana penyaluran dana, riset, pengelolaan data dan informasi, serta pelaporan usaha.

b. Divisi Pengembangan Dana Kelolaan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan kebijakan teknis pengembangan dana kelolaan dan hasil pendapatan, dan pengelolaan kerja sama pendanaan.

| Melayani untuk Indonesia Jaya

9

3. Direktorat Dana Kegiatan Pendidikan

Direktorat Dana Kegiatan Pendidikan mempunyai tugas melaksanakan penyusunan rencana penyaluran dana kegiatan pendidikan, verifikasi dan penilaian atas proposal kegiatan pendidikan, penyaluran dana untuk kegiatan pendidikan, monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan penyaluran dana kegiatan pendidikan.

Direktorat Dana Kegiatan Pendidikan menyelenggarakan fungsi:

a. Penyiapan bahan dan koordinasi untuk penyusunan rencana penyaluran dana kegiatan pendidikan;

b. Pelaksanaan verifikasi dan penilaian atas proposal kegiatan pendidikan dan penyaluran dana untuk kegiatan pendidikan; dan

c. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi atas penyaluran dana kegiatan pendidikan.

Direktorat Dana Kegiatan Pendidikan terdiri atas:

a. Divisi Penyaluran Dana Kegiatan Pendidikan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan dan koordinasi penyusunan rencana penyaluran dana kegiatan pendidikan, verifikasi dan penilaian atas proposal kegiatan pendidikan dan menyalurkan dana untuk kegiatan pendidikan.

b. Divisi Evaluasi Penyaluran Dana Kegiatan Pendidikan mempunyai tugas melakukan monitoring dan evaluasi atas penyaluran dana beasiswa.

4. Direktorat Dana Rehabilitasi Fasilitas Pendidikan

Direktorat Dana Rehabilitasi Fasilitas Pendidikan mempunyai tugas melaksanakan penyusunan rencana penyaluran dana rehabilitasi fasilitas pendidikan akibat bencana alam, verifikasi dan penilaian atas proposal, penyaluran dana, monitoring dan evaluasi atas pelaksananaan penyaluran rehabilitasi fasilitas pendidikan akibat bencana alam.

Direktorat Dana Rehabilitasi Fasilitas Pendidikan menyelenggarakan fungsi: a. Penyiapan bahan dan koordinasi untuk penyusunan rencana penyaluran

dana untuk rehabilitasi fasilitas pendidikan akibat bencana alam;

b. Pelaksanaan verifikasi dan penilaian atas proposal, serta penyaluran dana untuk rehabilitasi fasilitas pendidikan akibat bencana alam; dan

c. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi atas penyaluran dana rehabilitasi fasilitas pendidikan.

| Melayani untuk Indonesia Jaya

10

Direktorat Dana Rehabilitasi Fasilitas Pendidikan terdiri atas:

a. Divisi Penyaluran Dana Rehabilitasi Fasilitas Pendidikan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan dan koordinasi penyusunan rencana penyaluran dana rehabilitasi fasilitas pendidikan, verifikasi dan penilaian atas proposal rehabilitasi fasilitas pendidikan, menyalurkan dana untuk rehabilitasi fasilitas pendidikan.

b. Divisi Evaluasi Penyaluran Dana Rehabilitasi Fasilitas Pendidikan mempunyai tugas melaksanakan monitoring dan evaluasi atas penyaluran dana rehabilitasi fasilitas pendidikan akibat bencana alam.

5. Satuan Pemeriksaan Internal

Satuan Pemeriksaan Intern mempunyai tugas melaksanakan pemeriksaan intern atas pelaksanaan tugas Lembaga Pengelola Dana Pendidikan. Fungsi Satuan Pemeriksaan Intern adalah:

a. Penyusunan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan audit charter dan audit program;

b. pelaksanaan audit berbasis risiko khususnya pada aktivitas usaha Lembaga Pengelola Dana Pendidikan; dan

c. Melakukan reviu terhadap laporan keuangan untuk meyakinkan bahwa isi, penyajian, dan pengungkapannya sesuai dengan standar akuntansi pemerintah dan standar akuntansi keuangan yang berlaku.

6. Kelompok Jabatan Fungsional

Pejabat Fungsional mempunyai tugas melakukan kegiatan sesuai dengan jabatan fungsional masing-masing berdasarkan peraturan perundang-undangan.

7. Dewan Pengawas

Dalam PP. No. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, pasal 34 diatur bahwa untuk melaksanakan pengawasan BLU dapat membentuk Dewan Pengawas. Dalam Tata Kelola LPDP diatur, Dewan Pengawas bertugas melakukan pengawasan terhadap:

a. Pengelolaan endowment fund dan dana cadangan pendidikan yang dilakukan oleh Direksi;

b. Pelaksanaan Rencana Strategi Bisnis (Renstra) yang dilakukan oleh Direksi; c. Pelaksanaan Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) oleh Direksi; dan

| Melayani untuk Indonesia Jaya

11

8. Dewan Penyantun

Dalam PMK nomor 252/PMK.01/2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja LPDP pasal 32 disebutkan bahwa Dewan Penyantun mengatur ketentuan pelaksanaan lebih lanjut PMK tersebut. Dewan Penyantun memiliki fungsi:

a. Mengarahkan strategi kebijakan umum pengelolaan DPPN oleh LPDP; b. Menetapkan perencanaan jangka panjang serta tujuan LPDP;

c. Menetapkan kebijakan umum pengembangan dan penyaluran DPPN; dan d. Menetapkan proporsi alokasi DPPN untuk endowment fund dan dana

| Melayani untuk Indonesia Jaya

12

BAB II

RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN

TAHUN 2012

A. GAMBARAN KONDISI LPDP

1. Kondisi Internal

a. Organisasi

LPDP berdiri berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 252/PMK.01/2011 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Lembaga Pengelola Dana Pendidikan. Dalam peraturan tersebut dinyatakan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan Dana Pengembangan Pendidikan Nasional baik dana abadi pendidikan (Endowment Fund) maupun Dana Cadangan Pendidikan sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 18/KMK.05/2012 tentang Penetapan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan pada Kementerian Keuangan sebagai Instansi Pemerintah yang Menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, LPDP ditetapkan sebagai BLU penuh. Dengan penetapan tersebut, LPDP diberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan sesuai dengan PP No. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum.

Memperhatikan peraturan tersebut, diperlukan beberapa kelengkapan organisasi, yaitu Dewan Penyantun dan Dewan Pengawas. Dewan Penyantun terdiri dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Keuangan, dan Menteri Agama. Sedangkan Dewan Pengawas terdiri dari Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan, dan unsur independen.

Disamping itu, untuk menciptakan tata kelola yang baik, harus disusun pula Kebijakan Umum mengenai Pengelolaan DPPN, yang meliputi kebijakan pengelolaan dana, kebiajakan penyaluran dan kebijakan pendukung. Kebijakan tersebut diperlukan mengingat LPDP merupakan satuan kerja yang harus patuh pada peraturan perundang-undangan dan dana yang

| Melayani untuk Indonesia Jaya

13

dikelola LPDP merupakan dana dari APBN yang harus

dipertanggungjawabkan, sementara risiko yang kemungkinan terjadi tidak bisa dihilangkan seluruhnya.

Selain itu, untuk memastikan proses penyelesaian tugas dan fungsi penempatan dan penyaluran dana beserta tugas dan fungsi pendukung di back office telah melalui tata urutan dan dilakukan oleh unit yang memiliki tanggung jawab dan kewenangan melaksanakan tugas dan fungsi tersebut, diperlukan Standard Operation Procedure (SOP). Untuk tugas dan fungsi yang penyelesaiannya memerlukan metode kerja/formula/rumus yang terstandar dan baku dapat pula disusun manual/petunjuk teknis penyelesaian pekerjaan.

b. Sumber Daya Manusia

Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 252/PMK.01/2011 diatur bahwa pegawai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan berasal dari Pegawai Negeri Sipil pembinaannya dilakukan oleh Menteri Keuangan melalui Sekretaris Jenderal sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Agar pelaksanaan tugas setiap direktorat dilaksanakan oleh SDM yang memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan organisasi, Direktur Keuangan dan Umum (Direktur KU) dan Direktur Perencanaan Usaha dan Pengembangan Dana (Direktur PUPD) berasal dari Kementerian Keuangan. Sedangkan Direktur Dana Kegiatan Pendidikan (Direktur DKP) dan Direktur Dana Rehabilitasi Fasilitas Pendidikan (Direktur DRFP) berasal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pada tahun 2012, telah bertugas secara penuh pada LPDP 6 orang, yaitu Direktur Utama, Direktur Keuangan dan Umum, Direktur Perencanaan Usaha dan Pengembangan Dana. Status kepegawaian ketiga direksi tersebut masih merangkap pada unit kerja yang lama. Direksi tersebut dibantu tiga orang staf yang status kepegawaiannya berada masih berada pada Biro SDM. Di samping itu, pada waktu diperlukan, telah bertugas pula dua orang dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang telah diusulkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pada tahun 2012 telah ada sebanyak 23 orang yang berasal dari PNS, ditambah dengan beberapa orang dari pasar tenaga kerja untuk mengisi posisi tenaga profesional, seperti manajemen risiko, auditor dan penasehat

| Melayani untuk Indonesia Jaya

14

investasi. Di samping itu juga diperlukan tenaga klerikal seperti caraka,

tenaga kebersihan, sekretaris, sopir, dan tenaga keamanan.

c. Sumber Daya Keuangan

Pada tahun 2010, Dana Pengembangan Pendidikan Nasional (DPPN) yang dialokasikan dalam APBN adalah sebesar Rp1.000.000.000.000. Pada tahun 2011, DPPN yang dialokasikan dalam APBN adalah sebesar Rp2.617.700.000.000. Pada tahun 2012, melalui APBN Tambahan/Perubahan TA 2012, dialokasikan kembali sebesar Rp7.000.000.000.000. Dana Pengembangan Pendidikan Nasional tersebut adalah anggaran pendidikan yang dialokasikan untuk pembentukan Endowment Fund dan Dana Cadangan Pendidikan yang bertujuan untuk : 1) Endowment Fund untuk menjamin keberlangsungan program pendidikan

bagi generasi berikutnya sebagai bentuk pertanggungjawaban antargenerasi.

2) Dana cadangan pendidikan untuk mengantisipasi keperluan rehabilitasi fasilitas pendidikan yang rusak akibat bencana alam.

Dalam rangka melaksanakan amanah UU tersebut di atas, pada tahun 2012 ini penggunaan pendapatan direncanakan adalah sebagai berikut:

1) Belanja atas Pengelolaan Endowment Fund yaitu penyaluran dana untuk kegiatan pendidikan dan rehabilitasi fasilitas pendidikan sebesar Rp239.428.740.000; dan

2) Belanja Operasional LPDP yaitu untuk melaksanakan tugas dan fungsi sebesar Rp11.858.264.000, dengan perincian sebagai berikut :

Tabel II.1

Anggaran LPDP tahun 2012 untuk Setiap Output

No. Output Jumlah (Rp)

1. Layanan dukungan manajemen 3.343.333.000

2. Dokumen analisis dan evaluasi 749.200.000

3. Laporan hasil verifikasi 241.388.124.000

4. Layanan perkantoran 1.982.291.000

5. Kendaraan Bermotor *) 1.348.000.000

6. Perangkat Pengolah Data dan Komunikasi 583.000.000 7.. Peralatan dan Fasilitas Perkantoran 289.056.000

8. Gedung/Bangunan 1.604.000.000

TOTAL 251.287.004.000

*) Revisi output Kendaraan Bermotor untuk mengakomodir pendapatan hibah kendaraan bermotor roda empat senilai Rp590.050.000

| Melayani untuk Indonesia Jaya

15

d. Sarana dan Prasarana

Pada tahun 2012 ini, sarana dan prasarana fisik yang dimiliki oleh LPDP belum memadai bagi pelaksanaan tugasnya baik dalam bentuk gedung kantor dan peralatan. Untuk sementara waktu, sarana prasarana yang digunakan LPDP adalah sebagai berikut:

 Gedung kantor pada saat ini menempati Gedung A.A. Maramis II Lantai 2 di komplek perkantoran Kementerian Keuangan Jl. Lapangan Banteng Timur Nomor 1, Jakarta Pusat.

 Sarana dan prasarana lainnya untuk sementara menggunakan barang inventaris Biro Umum Sekretariat Jenderal.

Di samping sarana dan prasarana fisik, LPDP juga memerlukan perangkat teknologi informasi untuk menunjang operasionalnya terutama dalam rangka pengembangan dana (investasi), penyaluran beasiswa dan rehabilitasi fasilitas pendidikan yang rusak akibat bencana alam.

e. Riset dan data pendukung

Sebagai satuan kerja yang harus mengembangkan dana, LPDP harus mengembangkan database yang dapat digunakan untuk proses perencanaan portofolio penempatan dana, valuasi instrumen penempatan dana dan pengambilan keputusan penempatan dana sekaligus pelaksanaan manajemen risiko finansial. Saat ini riset dan data pendukung masih belum ada dan direncanakan baru mulai dilaksanakan pada bulan Agustus 2012.

Di samping itu, mutlak pula dibangun data base untuk penyaluran dana pendidikan, yang bisa digunakan untuk perencanaan, terutama penentuan sasaran penyaluran, baik dilihat dari sisi kewilayahan maupun jenjang pendidikan. Data base juga diperlukan sebagai bahan monitoring dan pengembangan manajemen risiko operasional penyaluran dana pendidikan.

2. Kondisi Eksternal

a. Kondisi Pendidikan di Indonesia

Kondisi pendidikan terus mengalami perbaikan. Hal tersebut terlihat dari beberapa indikator, diantaranya adalah tingkat buta huruf, pendidikan yang telah dilalui penduduk dengan usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi kasar, dan disparitas antar kabupaten/kota.

Namun, beberapa indikator yang diterbitkan lembaga international, misalnya World Economic Forum, kualitas SDM di Indonesia masih relatif tertinggal

| Melayani untuk Indonesia Jaya

16

yang berdampak pada rendahnya daya saing perekonomian Indonesia.

Global Competitiveness Report 2011 yang diterbitkan oleh World Economic Forum menunjukkan tingkat daya saing Indonesia berada pada peringkat yang relatif rendah, yakni pada peringkat 46. Dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti China, Malaysia, Thailand dan Singapura, Indonesia masih di bawah negara-negara tersebut. China berada pada peringkat 26, Malaysia berada pada peringkat 21, Thailand berada pada peringkat 39 dan Singapura berada pada peringkat 2. Peringkat Indonesia hanya lebih baik dibandingkan dengan Vietnam yang berada pada peringkat 65 dan Philipina 75. Tabel peringkatan daya saing beberapa negara 4 tahun terakhir adalah sebagai berikut :

Tabel II.2

Peringkat Daya Saing Indonesia

No Negara GCI 2009 GCI 2010 GCI 2011 Peringkat Nilai Peringkat Nilai Peringkat Nilai

1 Singapora 3 5.55 3 5.48 2 5.63 2 Malaysia 24 4.87 26 4.88 21 5.08 3 China 29 4.74 27 4.84 26 4.90 4 Thailand 36 4.56 38 4.51 39 4.52 5 Indonesia 54 4.26 44 4.43 46 4.38 6 Vietnam 75 4.03 59 4.27 65 4.24 7 Philipines 87 3.90 85 3.96 75 4.08

Sumber : The Global Competitiveness Report 2011-2012, World Economic Forum

Global Competitiveness Report 2011 juga menunjukkan, beberapa pilar yang mempengaruhi daya saing Indonesia yang tidak optimal tersebut, yaitu kelembagaan (institutions), infrastruktur, kondisi ekonomi makro, termasuk pilar kondisi kesehatan dan pendidikan dasar dan pilar pendidikan tinggi dan pelatihan. Beberapa pilar yang mempengaruhi peringkat daya saing Indonesia selengkapnya adalah sebagai berikut :

| Melayani untuk Indonesia Jaya

17

Tabel II.3

Perkembangan Score dan Ranking 12 Pilar Indikator GCI Indonesia

Sumber : The Global Competitiveness Report 2010 - 2011, World Economic Forum

Bila dibandingkan dengan negara-negara lain, pada pilar kesehatan dan pendidikan dasar, kualitas pendidikan di Indonesia relatif tertinggal. Indonesia berada pada peringkat 64 dari 142 negara. Dibandingkan dengan negara tetangga, peringkat Indonesia lebih rendah daripada Singapura (3), Malaysia (33), dan Filipina (42). Kondisi yang sama juga terjadi pada indikator pendidikan tinggi dan pelatihan. Pada Indikator ini, Indonesia berada pada peringkat 69 dari 142 negara. Dibandingkan dengan negara tetangga, peringkat Indonesia lebih rendah daripada Malaysia (38), Thailand (62) dan Singapura (4).

Rendahnya peringkat pilar kesehatan dan pendidikan dasar Indonesia dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya kualitas pendidikan dasar yang rendah dan primary education enrollment rate. Sedangkan untuk pilar pendidikan tinggi dan training dipengaruhi oleh beberapa faktor faktor diantaranya secondary education enrollment rate, secondary education enrollment rate, quality of the education system dan sebagainya.

| Melayani untuk Indonesia Jaya

18

Tabel II.4

Perkembangan Ranking Indikator Pendidikan Indonesia menurut GCI

Sumber : The Global Competitiveness Report 2010-2011, World Economic Forum

Ketertinggalan pendidikan di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain juga terlihat indikator lain, seperti perbandingan jumlah mahasiswa strata 3 di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain. Pada tahun 2011, jumlah mahasiswa S3 di Indonesia berjumlah 23.000 orang atau sebesar 98 orang per satu juta penduduk. Angka ini jauh di bawah negara-negara maju, misalnya Amerika, yang mahasiswa S3-nya berjumlah 3.100.000 orang atau 9.850 orang untuk setiap satu juta penduduk. Bahkan dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia, Indonesia juga masih jauh tertinggal. Jumlah mahasiswa S3 di Malaysia mencapai 14.000 orang atau 509 orang per satu juta penduduk. Dengan asumsi pertambahan mahasiswa S3 di Indonesia

| Melayani untuk Indonesia Jaya

19

sebesar 15% per tahun, Indonesia baru bisa menyamai Malaysia pada

kondisi saat ini pada tahun 2022. Data perbandingan mahasiswa S3 Indonesia dengan beberapa negara adalah sebagai berikut :

Tabel II.5

Perbandingan Mahasiswa S3 Beberapa Negara

Negara Jumlah S3 Tahun 2011

Populasi S3 per 1 Juta Penduduk Indonesia 23.000 234.000.000 98 Malaysia 14.000 27.500.000 509 India 1.690.000 1.198.000.000 1.410 Jerman 328.000 82.200.000 3.990 Perancis 320.000 62.300.000 5.136 Jepang 819.000 127.200.000 6.438 USA 3.100.000 314.700.000 9.850

Sumber : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2012

Dilihat dari indikator jumlah publikasi ilmiah, Indonesia sebenarnya telah mengalami perkembangan, yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel II.6

Data Publikasi Indonesia per tahun 1996-2010

Sumber : SCImago Journal & Country Rank, 2012

Namun, bila dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia masih tertinggal. Indonesia berada posisi 64 dari 236 negara yang terdata. Peringkat ini lebih rendah dibandingkan negara ASEAN yang lain. Singapura unggul pada ranking 32, disusul Thailand 42, dan Malaysia 43.

| Melayani untuk Indonesia Jaya

20

Sementara itu, dalam hal prasarana fasilitas pendidikan, sebagai

konsekuensi letak geografis Indonesia yang berada pada daerah bencana, kerusakan fasilitas pendidikan di Indonesia menunjukkan angka yang cukup memprihatinkan. Sebaran kerusakan fasilitas pendidikan tersebut dapat disajikan dalam diagram lingkar sebagai berikut :

Gambar II.1

Kerusakan Fasilitas Pendidikan di Berbagai Propinsi

Sumber : Badan Nasional Penanggulangan Bencana

Kondisi pendidikan sebagaimana tersebut di atas tidak lepas dari kondisi sosial, ekonomi, budaya, teknologi dan politik antara lain :

1) Geografis, Demografis, Sosial, Budaya dan Lingkungan

Kondisi sosial, budaya, dan lingkungan yang mempengaruhi pengelolaan dana pengembangan pendidikan antara lain :

a) Indonesia sebagai negara kepulauan dan termasuk dalam negara rawan bencana, yang banyak menimbulkan kerusakan pada fasilitas pendidikan;

b) Laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi;

c) Kesenjangan aksesibilitas terhadap pendidikan antara penduduk perkotaan dan pedesaan, antara penduduk kaya dan miskin, antara wilayah maju dan wilayah tertinggal; dan

d) Perbedaan persepsi kebutuhan pendidikan dari aspek budaya (etnis dan gender).

| Melayani untuk Indonesia Jaya

21

Sumber: Bank Indonesia

2) Ekonomi

Kondisi ekonomi yang mempengaruhi pengelolaan Dana Pengembangan Pendidikan Nasional antara lain :

a) Tingginya angka kemiskinan dan pengangguran; b) Kesenjangan pertumbuhan ekonomi antarwilayah;

c) Meningkatnya daya saing dan isu globalisasi ekonomi yang mengancam perekonomian nasional;

d) Komitmen pemenuhan pendanaan minimal 20% (dua puluh persen) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

3) Politik, Pertahanan dan Keamanan

Kondisi politik, pertahanan dan keamanan yang dapat mempengaruhi pengelolaan Dana Pengembangan Pendidikan Nasional antara lain : a) Kemungkinan adanya ketidakstabilan politik, pertahanan dan

keamanan;

b) Ancaman disintegrasi bangsa; dan

c) Ketidakselarasan peraturan perundangan yang berdampak pada penyelenggaraan pendidikan.

b. Kondisi Ekonomi Makro

Selama tahun 2011, kondisi perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan cukup signifikan. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar II.2

| Melayani untuk Indonesia Jaya

22

Tabel tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi naik dari 6,1% pada

tahun 2010 menjadi 6,5 persen menjadi sebesar 6,50% tahun 2011.

Pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang kuat, yang didorong oleh peningkatan pendapatan riel karena inflasi yang rendah. Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh pendapatan dari hasil ekspor yang tumbuh tinggi sepanjang tahun 2011. Tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut tentu menggembirakan, karena terjadi ketika perekonomian global kurang kondusif yang ditandai rendahnya pertumbuhan ekonomi negara-negara Eropa dan Amerika. Tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya lebih rendah bila dibandingkan dengan China dan India.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I tahun 2012 ini juga mengalami keadaan yang relatif stabil seperti tahun 2011 yakni sebesar 6,5% (yoy). Kestabilan ini bersumber dari kestabilan konsumsi rumah tangga dan akselerasi investasi. Konsumsi rumah tangga masih didorong oleh optimisme konsumen sehingga konsumsi tumbuh dengan stabil. Sedangkan akselerasi investasi didukung oleh agresifitas investor di tengah iklim usaha yang semakin baik dan kondusif, semakin kuatnya pendanaan, dan terjadinya percepatan pembangunan proyek infrastruktur terutama dalam bidang kelistrikan.

Inflasi pada tahun 2011 juga relatif terkendali, yaitu sebesar 3,79%. Tingkat inflasi ini lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2010 yaitu sebesar 6,96% yang terus mengalami kestabilan sampai dengan kuartal I tahun 2012 yang besarnya 0,88% (qtq) dan 3,79% (yoy). Tekanan inflasi ini masih tetap terkendali meskipun sedikit mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Beberapa factor yang mempengaruhi tingkat inflasi antara lain adalah ekspektasi yang meningkat sejalan dengan rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Sepanjang triwulan I 2012, beberapa factor eksternal yang mendorong inflasi antara lain kenaikan harga komoditas internasional non pangan terutama komoditas emas dan energy yang meningkat cukup signifikan serta depresiasi nilai tukar rupiah terhadap US Dollar.

| Melayani untuk Indonesia Jaya

23

Gambar II.3

Perkembangan Inflasi per Triwulan I 2012

Dokumen terkait