169
tanggal 1 September 2007, yang dalam polis asuransi tersebut disebutkan sebagai tertanggung adalah PT. BANK SYARIAH QQ PT. KARTIKA NUSANTARA RIEZKYTAMA (bukti P-5);
- Bahwa, oleh karena PT KARTIKA NUSANTARA RIEZKYTAMA telah melakukan wanprestasi, PT BANK SYARIAH mengajukan permohonan eksekusi kepada Pengadilan Negeri Batam, dan berdasarkan Berita Acara Sita Eksekusi dari Pengadilan Negeri Batam Kapal motor “KARUNIA 1903” tidak ditemukan di seluruh pelabuhan di wilayah perairan Republik Indonesia. Demikian halnya berdasarkan hasil investigas PT. ASOKA BAHARI NUSANTARA surveyor independen yang berkompeten untuk melakukan investigasi Kapal Laut menyatakan Kapal “KARUNIA 1903” dinyatakan tidak ditemukan (bukti-P.6);
- Bahwa Kehilangan Kapal “KARUNIA 1903” tersebut telah pula dilaporkan kepada Kepolisian Kota Besar Balerang Daerah Kepulauan Riau (bukti-P.7). Oleh karenanya hilangnya Kapal Motor “KARUNIA 1903” telah terjadi Total Loss Only (TLO);
- Bahwa, PT. BANK SYARIAH telah mengajukan klaim asuransi kepada PT ASURANSI SYARIAH tanggal 27 Januari 2008 (bukti – P.8), akan tetapi PT ASUARANSI SYARIAH menolak untuk menanggung risiko atas hilangnya Kapal Motor “KARUNIA 1903” (bukti P-9). Bahwa dengan demikian PT ASURANSI SYARIAH telah melakukan wanprestasi atas kesepakatan yang tertuang dalam Polis Asuransi Nomor: 1.902.06.400.000002 halmana PT ASURANSI SYARIAH tidak melakukan pembayaran klaim TLO sesuai asal 297 KUHD;
- Bahwa, dengan tidak melaksanakan kewajiban untuk membayar klaim TLO PT ASURANSI SYARIAH telah melakukan perbuatan melawan hukum sehingga menimbulkan kerugian materiil yang dikeluarkan oleh PT BANK SYARIAH sejumlah Rp 1,600,000,000.00 biaya investigasi kapal motor dan jasa pengacara;
- Bahwa atas dasar itu agar gugatan tidak illusoir PT BANK SYARIAH bermohon kepada Pengadilan Agama Jakarta Selatan agar meletakkan Sita Jaminan terhadap Tanah dan Bangunan asset PT ASURANSI SYARIAH yang terletak di Jl. Sudirman No 15 Jakarta Pusat;
Berdasarkan dalil-dalil tersebut PT BANK SYARIAH bermohon kepada Pengadilan Agama Jakarta Selatan untuk menjatuhkan putusan sebagai berikut;
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
2. Menyatakan sah dan beharga sita jaminan yang diletakkan terhadap Tanah dan Bangunan Asset Milik PT ASURANSI SYARIAH yang terletak di Jl. Sudirman No.15 Jakarta Pusat;
3. Menyatakan perbuatan PT ASURANSI SYARIAH adalah perbuatan melawan hukum; 4. Menyatakan PT BANK SYARIAH berhak atas pembayaran klaim Asuransi No. 1.902.06.400.000002 tanggal 1 September 2007 atas hilangnya Kapal Motor “KARUNIA 1903” telah terjadi Total Lost Only”;
170
5. Menghukum PT ASURANSI SYARIAH untuk membayar kerugian kepada PT BANK SYARIAH berupa:
5.1. Klaim asuransi pertanggungan sejumlah Rp 12.000.000.000,00;
5.2. Biaya proses klaim asuransi dan investigasi pencarian Kapal Mmotor “KARUNIA 1903” serta biaya jasa pengacara sejumlah Rp 1.600.000.000,00; 6. Menghukum PT. ASURANSI SYARIAH untuk membayar uang paksa (dwangsom)
sejumlah Rp 10.000.000,00 untuk setiap hari ia lalai menjalankan putusan ini;
7. Menyatakan putusan dalam perkara ini dapat dijalankan terlebih dahulu walaupun PT. ASURANSI SYARIAH naik banding, kasasi atau verzet;
8. Menghukum PT ASURANSI SYARIAH untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini;
Apabila Majelis Hakim berpendapat lain mohon putusan yang seadil-adilnya;
JAWABAN PT. ASURANSI SYARIAH DALAM EKSEPSI
1. Bahwa gugatan PT. BANK SYARIAH kurang pihak. Dalam hal ini pemilik Kapal Motor tersebut adalah PT. KARTIKA NUSANTARA RIEZKYTAMA dan yang mengasuaransikan Kapal Motor tersebut adalah PT. KARTIKA NUSANTARA RIEZKYTAMA sehingga pihak tertanggung utama dalam asuransi adalah PT. KARTIKA NUSATARA RIEZKYTAMA, walaupun dalam Polis Asuransi Nomor 1.902.06.400.000002 tanggal 1 September 2007 tercantum pihak tertanggung adalah PT. BANK SYARIAH QQ PT. KARTIKA NUSANTARA RIEZKYTAMA. Sehingga jika pun Kapal Motor tersebut benar hilang maka yang seharusnya mengajukan klaim pembayaran asuransi kehilangan (TLO) adalah PT. KARTIKA NUSANTARA RIEZKYTAMA. Oleh karena itu seharusnya PT KARTIKA NUSANTARA RIEZKYTAMA didudukkan sebagai pihak dalam perkara ini sehingga akan jelas apakah Kapal Motor tersebut hilang atau tidak. Dalam hal ini pihak PT KARTIKA NUSANTARA RIEZKYTAMA yang lebih mengetahui dengan pasti keberadaan Kapal Motor tersebut disebabkan ia pemilik dan pihak yang mengoprasikannya;
2. Gugatan PT. BANK SYARIAH prematur. Dalam hal ini PT BANK SYARIAH belum meminta penjelasan dari pihak pemilik dan Operator Kapal Motor dimaksud yaitu PT KARTIKA NUSANTARA RIEZKYTAMA apakah kapal tersebut benar hilang atau tidak. Disamping itu gugatan PT. BANK SYARIAH tidak menjelaskan apa penyebab hilangnya kapal tersebut berdasarkan hasil penyelidikan dari pihak yang berwenang sebagai mana yang tercantum dalam Polis Assuransi yang menyatakan bahwa “yang dijamin oleh asuransi adalah kehilangan disebabkan tenggelam, kebakaran, peledakan, perampokkan, tabrakan dengan intalasi nuklir, tabrakan dengan kapal lainnya. Oleh karena pihak PT. BANK SYARIAH tidak menjelas penyebab kehilangannya maka belum dapat diajukan klaim pertanggungan.
171
3. Gugatan PT. BANK SYARIAH kabur (obscuurlibel) karena mencampur adukan antara wanprestasi dan perbuatan melawan hukum. Dalam hal ini PT. BANK SYARIAH dan PT. KARTIKA NUSANTARA RIEZKYTAMA disatu pihak dan PT. ASURANSI SYARIAH dipihak lain melakukan kesepakan pertanggungan asuransi TLO atas sebuah Kapal Motor “KARUNIA 1903”, dimana PT. ASUARANSI SYARIAH sebagai penanggung kerugian TLO dan PT. BANK SYARIAH DAN PT. KARTIKA NUSANTARA RIEZKYTAMA sebagai tertanggung. Oleh karenanya dalam kasus ini bukan kasus perbuatan melawan hukum, melainkan sengketa sebuah perjanjian dua pihak yang jika salah satu pihak tidak melaksanakan isi perjanjian adalah sengketa wanprestasi;
DALAM POKOK PERKARA
- PT ASURANSI SYARIAH menolak dalil gugatan PT BANK SYARIAH seluruhnya khususnya yang menyatakan kapal hilang. Dalam hal ini PT BANK SYARIAH tidak mengetahui secara pasti keberadaan Kapal Motor tersebut karena belum minta konfirmasi kepada pihak PT. KARTIKA NUSANTARA RIEZKYTAMA yang memiliki dan mengoprasikan Kapal Motor tersebut. Disamping itu PT. ASOKA BAHARI NUSANTARA tidak pernah melakukan investigasi mengenai keberadaan kapal Motor dimaksud melainkan hanya melakukan survey atau penelitian administratif yang berdasarkan surat faximailnya tanggal 28 Januari 2008 Nomor 004/FM/ABN/I/2008 menyatakan bahwa Kapal Motor “KARUNIA 1903” secara dekomentatif tidak hilang;
- Bahwa gugatan PT BANK SYARIAH hanya menyatakan Kapal Motor “KARUNIA 1903” hilang namun tidak menjelaskan penyebab kehilangannya. Seharusnya gugatan tersebut menyebutkan penyebab kehilangan Kapal Motor tersebut. Setelah diketahui penyebab hilangnya motor tersebut selanjutnya apakah penyebab hilangannya Kapal Motor tersebut termasuk penyebab yang di cover oleh asuransi sebagaimana yang termuat dalam Polis Asuransi. Hal lainnya adalah laporan hilang Kapal Motor saja kepada kepolisian bukanlah sebagai bukti hilangnya Kapal Motor tersebut, melainkan harus ada putusan Pengadilan Negeri yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan bahwa Kapal Motor tersebut hilang dengan sebab tertentu sebagai mana termuat dalam Polis Asuransi yang di cover kerugiannya oleh perusahaan asuransi.
DALAM REKONVENSI
- Bahwa gugatan PT. BANK SYARIAH tidak memiliki dasar hukum sehingga gugatan tersebut mengakibatkan kerugian materiil biaya pengacara yang di keluarkan oleh PT. ASUARANSI SYARIAH sejumlah Rp 600.000.000,00 biaya surveyor sejumlah Rp 250.000.000,00 dan kerugian immaterial sejumlah Rp 25.000.000.000,00
- Bahwa agar gugatan rekonvensi PT. ASUARANSI SYARIAH tidak illusoir mohon agar Pengadilan Agama Jakarta Selatan meletakkan sita jaminan atas asset PT. BANK
172
SYARIAH berupa tanah dan gedung yang terletak di Jalan Gunung Sahari Nomor 17 jakarta Utara.
Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut PT ASURANSI SYARIAH memohon kepada Pengadilan Agama Jakarta Selatan memutus sebagai berikut:
DALAM EKSEPSI
1. Menerima eksepsi PT. ASURANSI SYARIAH;
2. Menyatakan gugatan PT. BANK SYARIAH tidak dapat diterima; DALAM POKOK PERKARA:
1. Menolak gugatan PT BANK SYARIAH;
2. Menyatakan sita jaminan atas asset PT. ASURANSI SYARIAH tidak sah dan tidak berharga;
3. Menolak tuntutan ganti rugi materiil dari PT BANK SYARIAH;
4. Manyatakan PT. BANK SYARIAH tidak berhak untuk mengklaim pembayaran asuransi berdasarkan polis Nomor 1.902.06.400.000002 tanggal 1 September 2007 atas hilangnya kapal motor “KARUNIA 1903” telah terjadi Total Loss Only (TLO); 5. Menyatakan tuntutan pembayaran dwangsom ditolak;
6. Menghukum PT BANK SYARIAH untuk membayar biaya perkara; DALAM REKONVENSI
1. Mengabulkan gugatan rekonensi PT. ASURANSI SYARIAH seluruhnya;
2. Menyatakan PT. BANK SYARIAH telah melakukan perbuatan melawan hukum; 3. Menyatakan PT. BANK SYARIAH tidak berhak atas pembayaran klaim asuransi
bedasarkan Polis No.1.902.06.06.400.000002 dan proses klaim tidak dapat ditindak lanjuti;
4. Menghukum PT. BANK SYARIAH untuk membayar kerugian yang dialami oleh PT. ASYURANSI SYARIAH yaitu:
4.1.Biaya proses klaim asuransi termasuk membayar surveyor independen sejumlah Rp 250,000,000.00
4.2.Biaya jasa advokat sejumlah Rp 600,000,000.00
5. Menghukum PT. BANK SYARIAH untuk membayar kerugian immateriil yang dialami PT. ASURANSI SYARIAH sejumlah Rp25,000,000,000.00
6. Menyatakan sah dan berharga sita yang diletakkan atas asset PT. BANK SYARIAH; 7. Menghukum PT. BANK SYARIAH untuk mematuhi isi putusan dalam gugatan
rekonvensi;
8. Menyatakan putusan ini dapat dijalankan lebih dahulu;
9. Menghukum PT. BANK SYARIAH untuk membayar biaya perkara; Mohon putusan yang seadil-adilnya.
173
1. Fotokopi Akad Pembiayaan al-murabahah No.253 tanggal 15 Februari 2005 (bukti – P.1);
2. Fotokopi akad Pembiayaan akad Murabahah No.280 tanggal 25 Januari 2006 (bukti – P.2);
3. Fotokopi Suarat Kuasa Pembebabanan Hipotik No.254 tanggal 15 Pebruari 2005 (bukti – P.3);
4. Fotokopi Grose Akta Hipotik Pertama Nomor 06/2005 tanggal 20 Juni 2005 (Bukti- P.4)
5. Fotokopi Polis Asuransi PT. ASUARANSI SYARIAH no. 1.902.06.400.000002 (Bukti –P.5);
6. Fotokopi surat laporan kehilangan barang nomor Pol. STPLKB/29/III/2009 tanggal 13 Maret 2009 (P.7);
7. Fotokopi Surat Departemen Perhubungan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kantor Pelabuhan Batam Nomor UK.112/2/14/Kpl.Btm-09 tanggal 13 Maret 2009 (Bukti- P.8)
8. Fotokopi Surat Administrator Pelabuhan Utama Tanjung Priok Nomor GM.761/176/21/Ad.TPK-09 tanggal 17 Maret 2009 (Bukti-P.9);
9. Fotokopi Surat administrator Pelabuhan Pontianak Nomor PK.673/1/6/Ad.PTK-1009 tanggal 24 Maret 2009 (Bukti-P.10);
10.Fotokopi Surat Administrator Pelabuhan Gresik Nomor GM.7861/02/04/Ad.Gsk-09 tanggal 30 Maret 2009 (Bukti-P.11);
11.Fotokopi Surat PT. BANK SYARIAH No.257/BM1/C.BTM/VIII/2007 tanggal 28 Agustus 2007 tentang Klaim asuransi kepada PT. ASURANSI SYARIAH (Bukti- P.12);
12.Fotokopi Surat dari PT. ASURANSI SYARIAH Nomor DU.LO.081.08.08 tanggal 8 Agustus 2008 tentang penolakan klaim asuransi syariah (Bukti P.13);
BUKTI PT. ASURANSI SYARIAH
1. Fotokopi (Marine Hull) Institute Time Clauses – Hulls (Total Loss Only) (Bukti-T.1); 2. Fotokopi Berita Acara Pertemuan tanggal 30 April 2009 antara PT. BANK SYARIAH
dan PT. ASURANSI SYARIAH (Bukti-T.2);
3. Fotokopi Faximail PT. ASUKA BAHARI NUSANTARA
No.1338/FM/ABN/XII/2007 tanggal 13 Desember 2007 penjelasan hasil survey (Bukti-T.3);
4. Fotokopi Faximail PT. ASUKA BAHARI NUSANTARA No.0069/FM/ABN/I/2008 tanggal 18 Januari 2008 penjelasan hasil survey (Bukti-T.4);
5. Fotokopi Faximail PT. ASUKA BAHARI NUSANTARA No.0094/FM/ABN/I/2008 tanggal 28 Januari 2008 penjelasan hasil survey (Bukti-T.5);
6. Fotokopi Grose Akta Balik Nama Kapal Nomor 1903 tanggal 7 Maret 2005 (Bukti- T.6);
174
STUDI KASUS II
SENGKETA NASABAH MURABAHAH DENGAN BANK SYARIAH GUGATAN PENGGUGAT
- Penggugat pada tahun 2003 adalah debitur sebuah Bank Konvensional, yang pada Juni 2003 posisi hutang Penggugat sejumlah Rp 483,233,530.00
- Usaha Penggugat mengalami penurunan sehingga kesulitan untuk melakukan cicilan utang kepada Bank Konvensional tersebut, selanjutnya Penggugat mengajukan permohonan kredit kepada Bank Syariah untuk menutupi utang kepada Bank Konvensional dimaksud;
- Bank Syariah menyetujui permohonan Penggugat dan membuat perikatan murabahah yang dituangkan dalam Akte Murabahah No. 2 tanggal 2 Juli 2003 (Bukti-P.1), yang diikat dengan Surat Hutang No.3 tanggal 2 Juli 2003 (Bukti-P2) dan Surat Kuasa membebankan hak Tanggungan No.4 tanggal 2 Juli 2003 (Bukti-P.3) dan Akte Pemberian Hak Tanggungan No. 119/ABTB/2003 (Bukti-P4);
- Bank Syariah tersebut berdasarkan Akta Murabahah No.2 tanggal 2 Juli 2003 tersebut seolah-olah menyediakan barang dengan harga pembelian Rp 500,000,000.00 dan menjualnya kepada Penggugat seharga Rp 794,816,460.00 dengan mengambil keuntungan Rp 294,816,460.00 dengan kewajiban kepada Penggugat untuk mencicil dalam jangka waktu 60 bulan;
- Dalam kenyataannya Bank Syariah tersebut tidak menjual barang kepada Penggugat melainkan menyerahkan uang sejumlah Rp 500,000,000.00 dan tergugat harus mengembalikan uang tersebut ditambah keuntungan yang ditetapkan sejumlah Rp 294,816,460.00 seluruhnya berjumlah Rp 794,816,460.00
- Untuk meningkatkan usahanya, Penggugat mengajukan pinjaman ulang untuk belanja barang modal, yang disetujui oleh Bank Syari’ah. Dimana bank Syariah seolah-olah menyediakan barang seharga Rp 350,000,000.00 dan menjualnya kepada Penggugat dengan harga Rp 581,230,044.00 dengan menentukan keuntungan sejumlah Rp231,230,044.00 yang dituangkan dalam Akta Jual beli Murabahah No.43 tanggal 27 Agustus 2003 (Bukti-P.5) yang diikat dengan Surat Hutang No.43 tanggal 27 Agustus 2003 (Bukti-P.6) dan Akte Pemberian Hak Tanggungan No.139/2003 tanggal 27 Agustus 2003 (Bukti-P.7) untuk dicicil dalam jangka waktu 60 bulan;
- Dalam kenyataannya dalam akad murabahah kedua inipun, Bank Syariah tersebut tidak menjual barang kepada Penggugat melainkan menyerahkan uang sejumlah Rp 350,000,000.00 dan tergugat harus mengembalikan hutang tersebut ditambah
175
keuntungan yang ditetapkan sejumlah Rp 231,230,044.00 seluruhnya berjumlah Rp 794,816,460.00;
- Kedua akad tersebut bertentangan dengan syariah Islam yang tertuang dalam surah al- Baqarah ayat 275 bahwa “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.
- Bahwa Penggugat sudah melakukan angsuran sejumlah Rp 363,611,240.00, akan tetapi Pengadilan Negeri (A) memberitahukan kepada Penggugat bahwa pada tanggal 16 Agustus 2006 tanah dan bangunan rumah milik Penggugat yang diagunkan akan dijual lelang;
- Bahwa Penggugat sudah mengingatkan bahwa kedua akta jual beli murabahah yang dibuat oleh Bank Syariah tersebut bertentangan dengan Syariah, oleh karenanya kedua akad murabahah tersebut batal demi hukum sehingga kalau dilakukan lelang maka lelang tersebut juga batal demi hukum karena didasarkan pada akta murabahah yang batal deisebabkan tidak sesuai dengan syariat;
- Bahwa Pejabat Lelang Negara telah melakukan lelang pada tanggal 16 Agustus 2006 sebagaimana tertuang dalam Surat Salinan Risalah Lelang Nomor 161/2006 tanggal 16 Agustus 2006 (Bukti-P.8) berdasarkan Penetapan Ketua Pengadilan Negeri (A) Nomor 03/PDT.EKS/2006/PN.A tanggal 4 Juli 2006;
- Penjualan lelang tersebut batal demi hukum karena:
1. Kedua akta murabahah tersebut bertentangan dengan syariah Islam sehingga batal demi hukum;
2. Penetapan Pengadilan Negeri tersebut melampaui wewenang absolute karena dengan di undangkannya UU No 3 Tahun 2006 tanggal 20 Maret 2006 Pengadilan Negeri tidak berwenang menangani sengketa ekonomi syariah, oleh karenanya penetapan eksekusi lelang Nomor 03/PDT.EKS/2006/PN.A tanggal 4 Juli 2006 batal demi hukum;
3. Pembeli asset milik Penggugat dalam jual lelang tersebut adalah orang dalam Bank Syariah sendiri sehingga lelang tersebut tidak fair dimana pembeli telah mengetahui lebih dahulu harga lelang yang ditetapkan;
4. Harga lelang tersebut dibawah standar harga pasaran dimana asset tersebut menurut harga pasaran adalah seharga Rp 2,500,000,000.00 dan hanya dilelang dengan harga 993,600,000.00
- Oleh karena demikian Penggugat dengan terjadinya lelang tersebut telah dirugikan secara materiil 1,506,400,000.00
- Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut Penggugat menuntut agar Pengadilan Agama Memutus sebagai berikut:
176
1. Mengabulkan gugatan Penggugat;
2. Menyatakan Akte Murabahah No. 2 tanggal 2 Juli 2003, Surat Hutang No.3 tanggal 2 Juli 2003 dan Surat Kuasa membebankan hak Tanggungan No.4 tanggal 2 Juli 2003 serta Akte Pemberian Hak Tanggungan No. 119/ABTB/2003 adalah tidak sah dan batal demi hukum;
3. Menyatakan Akta Jual beli Murabahah No.43 tanggal 27 Agustus 2003, Surat Hutang No.43 tanggal 27 Agustus 2003 dan Akte Pemberian Hak Tanggungan No.139/2003 tanggal 27 Agustus 2003 adalah tidak sah dan batal demi hukum; 4. Menyatakan bahwa hubungan Penggugat dan Bank Syariah adalah hubungan
pinjam meminjam uang menurut hukum;
5. Menyatakan jumlah sisa hutang Penggugat kepada bank Syariah adalah Rp 486,388,760.00;
6. Menyatakan lelang yang termuat dalam Salinan risalah lelang No.161/2006 tanggal 16 Agustus 2006 atas tanah dan bangunan rumah milik Penggugat tidak sah dan batal demi hukum;
7. Menyatakan Bank Syariah dan Kantor Lelang Negara serta Pemenang lelang telah melakukan perbuatan melawan hukum;
8. Memerintahkan Pemenang lelang untuk mengsongkan tanah dan bangunan milik Penggugat;
9. Menyatakan putusan perkara ini dapat dilaksanakan lebih dahulu walaupun ada upaya hukum lainnya;
10.Menyatakan sah dan berharga sita revindikatoir;
11.Menghukum para Tergugat untuk membayar biaya perkara; Mohon putusan yang seadil-adilnya;
JAWABAN TERGUGAT: DALAM EKSEPSI:
1. Bahwa kasus ini berawal dari Penggugat dan Bank Syariah melakukan akad murabahah yang tertuang dalam Akta Murabahah No. 2 tanggal 2 Juli 2003, yang diikat dengan Surat Grose Hutang No.3 tanggal 2 Juli 2003. Jumlah utang tersebut adalah Rp 500,000,000.00 dan Bank Syariah mengambil keuntungan dari murabahah tersebut sejumlah Rp294,816,460.00. Sehingga jumlah utang keseluruhan yang didasarkan Akta Murabahah Nomor 2 tanggal 2 Juli 2003, yang diikat dengan Surat Grose Hutang No.3 tanggal 2 Juli 2003 seluruhnya berjumlah Rp 794,816,460.00 Utang tersebut diikat dengan hak tanggungan berupa Tanah dan Rumah diatasnya milik Penggugat yang tertuang dalam Akte Pemberian Hak Tanggungan No. 119/ABTB/2003.
2. Disamping itu Penggugat dan Bank Syariah melakukan perikatan ke dua yang tertuang dalam Akta Jual beli Murabahah No.43 tanggal 27 Agustus 2003, yang diikat dengan Surat Hutang No.43 tanggal 27 Agustus 2003, yang jumlah utangnya adalah Rp 300,000,000.00 dan Bank syariah mengambil keuntungan sejumlah Rp231,230,044.00. Yang jumlah keseluruhan utang penggat kepada Bank Syariah
177
dalam Akta Jual beli Murabahah No.43 tanggal 27 Agustus 2003, yang diikat dengan Surat Hutang No.43 tanggal 27 Agustus 2003 adalah Rp581,230,044.00. Utang tersebut diikat dengan hak tanggungan berupa tanah dan rumah diatasnya milik Penggugat, yang tertuang dalam Akte Pemberian Hak Tanggungan No.139/2003 tanggal 27 Agustus 2003.
3. Bahwa Penggugat mengalami kemacetan untuk menyicil dua jumlah utang kepada Bank Syariah, sehingga Bank Syariah melakukan teguran untuk pelunasan utang tersebut akan tetapi tidak dilakukan oleh Penggugat.
4. Oleh karena utang tersebut dituangkan dalam Grose Akta pengakuan utang Bank Syariah mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri (A) untuk melelang Tanah dan Rumah milik penggugat. Pengadilan Negeri sudah melakukan aanmaning dan setelah itu dilakukan sita eksekusi pada tanggal 10 september 2004 sebagaimana tertuang dalam Berita Acara Sita Eksekusi Nomor 02/PDT.EKS/2004/PN.A. Terhadap sita eksekusi Penggugat mengajukan usul damai dengan Bank Syariah berupa penundaan eksekusi dan Penggugat akan mengangsur hutangnya kembali, akan tetapi kesepakan damai tersebut tidak dilaksanakan oleh Penggugat. Sehingga Bank Syariah mengajukan permohonan eksekusi ulang.
5. Atas dasar permohonan eksekusi ulang tersebut Pengadian Negeri (A) melaksanakan sita eksekusi kembali terhadap objek sengketa. Dan terhadap sita jaminan tersebut Penggugat mengajukan perlawanan kepada Pengadilan Negeri (A) akan tetapi ditolak dengan putusannya Nomor 08/PDT.BTH/2004/PN.A.
6. Selanjutnya berdasarkan Penetapan Eksekusi Pengadilan Negeri A Nomor 03/PDT.EKS/2006/PN. A, Juru lelang Negara melaksanakan lelang pada tanggal 16 Agustua 2006 sebagaimana tertuang dalam Risalah Lelang yang di buat oleh Pejabat Lelang Negara Nomor 161/2006 tangggal 16 Agustus 2006.
7. Bahwa oleh karena demikian Pengadilan Agama tidak berwenang mengadili perkara a quo kerena ne bis in idem;
DALAM POKOK PERKARA:
1. Penggugat dan Bank Sayariah telah melakukan akad murabahah yang tertuang dalam Akte Murabahah No. 2 tanggal 2 Juli 2003, yang diikat dengan Surat Hutang No.3 tanggal 2 Juli 2003 dan Akte Pemberian Hak Tanggungan No. 119/ABTB/2003 yang bernilai Rp 794,816,460.00. Serta Akta Murabahah No.43 tanggal 27 Agustus 2003 yang diikat dengan Surat Hutang No.43 tanggal 27 Agustus 2003 dan Akte Pemberian Hak Tanggungan No.139/2003 tanggal 27 Agustus 2003.
2. Oleh karena Penggugat melakukan wanprestasi walaupun telah diberikan kesempatan penundaan eksekusi atas permohonan penggugat dan ia berjanji akan melaksanakan pembayaran utangnya kembali, akan tetapi Penggugat tidak memenuhi perjanjian tersebut sehingga Bank Syariah mengajukan permohonan eksekusi ulang kepada Pengadilan Negeri (A) dan Pengadilan Negeri (A) telah melakukan eksekusi lelang melalui Pejabat Kantor Lelang Kota (A) sehingga lelang tersebut sah karena telah memenuhi syarat lelang.
178
Dalam Eksepsi:
1. Menyatakan perkara tersebut ne bis in idem; Dalam Pokok Perkara:
1. Menolak seluruh gugatan Penggugat;
2. Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara; REPLIK PENGGUGAT:
1. Benar bahwa Penggugat telah mengajukan bantahan terhadap sita eksekusi yang dilaksanakan oleh Pengadilan Negeri A sebagaimana tertuang dalam Berita Acara Eksekusi Pengadilan Negreri A Nomor 02/Pdt.EKS/2004/PN.A tanggal 15 September 2004. Bantahan Penggugat tersebut telah diputus oleh Pengadilan Negeri (A) dengan Putusan Nomor 08/PDT.BTH/2004/PN.A dengan amar menolak bantahan dari Penggugat.
2. Gugatan Penggugat dalam kasus ini bukan mengenai perlawanan terhadap eksekusi akan tetapi mengenai lelang hak atas tanggungan Nomor 139/2003. Karena hak tanggungan ini didasarkan pada dua akad murabahah yakni akad Akta Murabahah No. 2 tanggal 2 Juli 2003, yang diikat dengan Surat Grose Hutang No. 3 tanggal 2 Juli 2003 dan Akta Murabahah No.43 tanggal 27 Agustus 2003, yang diikat dengan Surat Grose Hutang No.43 tanggal 27 Agustus 2003 yang bertentangan dengan syariah karena hakikat kedua akad murabahah tersebut adalah akad pemindahan hutang dan akad hutang murni (qardu al-hasan) akan tetapi pemindahan hutang dan aqad qardu al-hasan tersebut bertentangan dengan syariat Islam dimana Bank Syariah telah mengambil bunga dari kedua akan tersebut yang dilarang dalam syariat Islam.
179
STUDI KASUS III
BANK SYARIAH VS ARBITRASE SYARIAH dan PT.ATRIUMASTA SAKTI Gugatan Penggugat tanggal 10 November 2009, yang didaftar oleh Pengadilan Agama Jakarta Pusat pada tanggal 10 November 2009 dengan Nomor 792/PDT.G/PA.JP yang isinya sebagai berikut:
1. Bahwa Majelis Arbitrase Syariah telah memutus sengketa antara Bank Syariah dengan PT. ATRIUMASTA SAKTI pada tanggal 16 September 2009 Nomor 16/Tahun 2008/BASYARNAS/Ka.Jak. dan Putusan Tersebut telah didaftar di Kepaniteraan Pengadilan Agama Jakarta Pusat;
2. Bahwa Putusan Arbitrase Syariah diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa, disebabkan:
2.1.Salah satu butir amar putusan BASYARNAS adalah “Bank Sayariah telah melakukan cidera janji”. Yang dalam pertimbangan hukumnya BASYARNAS menyatakan bahwa Bank Syariah tidak melaksanakan pencairan kredit tahap ke dua. Sebenarnya yang cidera janji tersebut adalah pihak PT. ATRIUMASTA SAKTI, karena tidak dicairkannya kredit tahap kedua oleh Bank Syariah disebabkan PT. ATRIUMASTA SAKTI tidak menuhi persyaratan yang diperjanjikan yang tercantum dalam akta murabahah Nomor 53 tanggal 23 Februari 2005 sebagai persyaratan dicairkannya kredit tahap kedua, yakni:
2.1.1. Tidak memberikan fotocopi IMB dan tidak memperlihatkan asli IMB;