KETUA RAPAT:
(RAPAT : SETUJU) DIRJEN OTDA (DJOHERMANSYAH JOHAN) : DIM No. 32 Pasal 3 tetap.
KETUA RAPAT:
(RAPAT : SETUJU) DIRJEN OTDA (DJOHERMANSYAH JOHAN) : DIM No. 33 tetap juga.
KETUA RAPAT:
(RAPAT : SETUJU) DIRJEN OTDA (DJOHERMANSYAH JOHAN) :
DIM No. 34 Cakupan Wilayah ada keterangan kita perlu dibuat penjelasan peta wilayah sesuai dengan kaidah pemetaan oleh Badan Informasi Geospasial.
KETUA RAPAT:
(RAPAT : SETUJU) DIRJEN OTDA (DJOHERMANSYAH JOHAN) : DIM No. 35 Pasal tetap.
KETUA RAPAT:
(RAPAT : SETUJU) DIRJEN OTDA (DJOHERMANSYAH JOHAN) : DIM No. 36 juga tetap.
KETUA RAPAT:
(RAPAT : SETUJU) DIRJEN OTDA (DJOHERMANSYAH JOHAN) : DIM No. 37 Bagian Ketiga Batas Wilayah tetap. KETUA RAPAT:
(RAPAT : SETUJU) DIRJEN OTDA (DJOHERMANSYAH JOHAN) : DIM No. 38 Pasal 5 tetap.
KETUA RAPAT:
(RAPAT : SETUJU) DIRJEN OTDA (DJOHERMANSYAH JOHAN) :
DIM No. 39 Kabupaten ….mempunyai batas-batas wipayah tetap tetap, tetapi kami ingin ada dibuat penjelasan secara rinci tingkatan pemerintahan yang langsug berbatasan kecamatan dan desa kelurahannnya.
KETUA RAPAT:
Jadi di DIM No. 39 ini tentang batas-batas itu perlu dibuat penjelasan secara rinci stingkatan pemerintah yang langsug berbatasan kecamatan dan desa kelurahannnya. Jadi jelas kalau kecamatan ini dengan kabupaten ini, tidak sebatas kecamatannya tetapi juga mencantumkan nama desanya, supaya clear ya, karena itu terjadi di Sumatera Barat.
DIRJEN OTDA (DJOHERMANSYAH JOHAN) :
Nias kejadian, Maluku Tengah kejadian, sudah beres ya pak. KETUA RAPAT:
Oke.
(RAPAT : SETUJU) DIRJEN OTDA (DJOHERMANSYAH JOHAN) :
Kemudian yang berikutnya yang huruf A, perlu kejelasan tetap, tetapi perlu kejelasan melalui kratifikasi batas wilayah antara kabupaten kota yang prosesnya dikoordinasikan dengan provinsi, kota yang berbatasan disepakati oleh daerah yang berbatasan. Kalau sudah ada peta sebenarnya sudah cukup ini, jadi artinya ini kembali ke peta, kalau sudah ada petanya sudah kita anggap cukup.
Disamping tadi kita mencantumkan penjelasan secara rinci kemudian juga soal kratifikasi batas wilayah itu melalui apa? Maka kalau ada peta ya cukup tidak perlu ada.
KETUA RAPAT:
Baik, terhadap DIM yang baru saja disampaikan ini jadi berkaitan dengan batas-batas wilayah saya pikir sekaligus saja pak. DIM No. 39, 40, 41, 42 sampai dengan Ayat (2) itu artinya bahwa keterangan yang mengikat kita itu bahwa perlu kejelasan melalui klarifikasi batas wilayah antar kabupaten kota yang prosesnya dikoordinasikan dengan provinsi dan pemerintah yang berbatasan disepakati oleh daerah yang berbatasan. Di Ayat (2), batas wilayah sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) digambarkan dalam peta wilayah lengkap dengan titik-titik kordinat dan telah mendapatkan persetujuan dari pihak-pihak terkait yang tercantum dalam lampiran dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam undang-undang ini. Artinya persetujuan atas pasal ini mewajibkan ada lampiran-lampiran dari sejumlah dokumen-dokumen yang tidak terpisahkan dalam kejelasan undang-undang ini. Karena atas dasar itulah kita nanti yang akan menetapkan pada akhirnya sebuah daerah itu bisa diloloskan atau tidak bisa diloloskan. Artinya jangan sampai nanti menimbulkan masalah ketika memang sudah ada masalah di situ, tetapi undang-undang tidak memberikan guiden, undang-undang tidak memberikan perintah, sehingga masalah itu jadi terkatung-katung tidak selesai.Contoh tadi seperti yang disampaikan oleh Bapak Gubernur Sumatera Selatan bapak Alex Noerdin itu yang soal sumur Suban 4, itu kan jalan keluarnya yang ditempuh oleh Bapak Gubernur, oke batasnya anda masuk ke sini tetapi hasil sumber daya alam dibagi 2, kedua belah pihak bersepakat setuju. Inilah dokumen-dokumen itu yang harus dilampirkan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengesahan kita itu.Itu catatan saja pak, sengaja kita ungkapkan ini agar terekam, agar kita juga dalam menentukan sebuah daerah itu clear.
Saya kira demikian Bapak Dirjen, Bapak Nanang silakan. F-PD (Ir. NANANG SAMODRA KA., M.Sc):
Bapak Dirjen, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah pada saat kita membahasa DIY kemarin itu dilampirkan ada peta yang dibuat oleh Kementerian Dalam Negeri kalau tidak salah PUM, yang menentukan batas-batas wilayahnya itu dengan skala tertentu. Harapan saya dalam pemekaran ini juga dibuat seperti itu kalau memang sudah ada, hanya kalau belum ada saya tidak tahu apa yang harus kita lakukan, karena sulit Bapak Ketua kalau belum ada, takutnya nanti belakangan ada masalah.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Saya rasa apa yang disampaikan oleh Bapak Nanang itu memang komitmen kita pak, jadi artinya bahwa dalam konteks pemekaran ini sepanjang tidak ada masalah dengan peta itu selesai, tidak ada masalah, karena memang selama ini pun tidak ada masalah. Yang menjadi persoalan ini ketika sebuah daerah kita tentukan batas-batasanya jelas, ininya jelas, tetapi ketika fisiknya jelas yang terkandung didalamnya ini tidak jelas.itu yang saya katakan ada suatu daerah, missal saja di batas darat atasnya iotu seperti ini, tetapi ketika kedalaman laut sumber daya alam yang ada dibawahnya itu ternyata dia ngegeroaknya ambil ke wilayah lain, sebut saja tambang, itu bisa saja terjadi seperti itu. Dalam hal yang terjadi seperti itu, contoh jadi ini menjadi persyaratan ini Bapak Dirjen, seperti Sumatera Selatan itu, akhirnya solusinya itu, hasil sumber daya alamnya di bagi 2 ke Banyu Asin sama ke Musi Rawas. Jangan sampai nanti penegasan-penegasan itu, dokumen-dokumen itu yang menurut hemat kami harus dilengkapi, termasuk yang disampaikan oleh Bapak Nanang.Jadi dokumen-dokumen itu kalau pun bisa tuntas itu ada tetapi penegasan dalam undang-undang ini sudah ada guiden untuk menuntaskan.
Saya kira itu sebagai catatan Bapak Dirjen, supaya kita enak dalam menyelesaikan, menyeleksi mana yang bisa dan mana yang tidak bisa.Oke, lanjut.
DIRJEN OTDA (DJOHERMANSYAH JOHAN) :
Berikutnya yang Ayat (2) Batas Wilayah sebagaimana dimaksud pada Ayat (1). KETUA RAPAT:
Itu sudah pak.
DIRJEN OTDA (DJOHERMANSYAH JOHAN) :
Sudah tetap, lalu ada tambahan kami di DIM No. 41 Ayat (3) itu adanya klausul penegasan batas wilayah kabupaten….secara pasti sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) dan Ayat (2), ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri paling lambat 5 tahun sejak peresmian Kabupaten Mamuju….ini soal penegasan batas yang diatur di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2006. Sehingga dengan demikian ini ada kewajiban untuk mengikatnya, untuk menyelesaikan atau memberikan kepastian tentang batas-batas wilayah ini, ini usulan kami pak.
KETUA RAPAT:
Pertanyaan saya ini bisa dua pengertian yang berbeda ini, penegasan batas ini diartikan hanya untuk mewajibkan pemerintah bikin pagar, bikin patok atas sesuatu daerah yang sudah jelas dipatok saja supaya tidak ini, itu bisa diartikan begitu, kalau diartikan sebatas itu menurut saya tidak problem, itu perintah. Tetapi kalau penegasan batasnya ini ada sesuatu yang belum
clear, ada rumusan ini, ini yang cukup potensinya salah. Ini mohon saya dijelaskan dahulu pak.
DIRJEN OTDA (DJOHERMANSYAH JOHAN) :
Ini tidak dimaksudkan seperti membuka ruang untuk kalau ada kasus atau ada permasalahan, tetapi ini adalah untuk memberi penegasan tentang patok-patok, bahwa memang itu akan ada penegasan batas dilihat dari patok-patok itu saja, berlaku secara keseluruhannya, jadi tidak dalam konteks kasuistik.
KETUA RAPAT:
Jadi clear sebenarnya maksudnya itu tetapi kita cari kalimatnya yang lebih bagus jangan kalimatnya seperti ini. Penegasan ini kata-kata penegasan ini bisa diartikan ada sesuatu yang belum tegas.Silakan Bapak Laoly.
F-PDIP (DR. YASSONNA H. LAOLY, SH, M.Sc):
Barangkali tanggapan saya ini berkaca dari pengalaman Departemen Dalam Negeri dalam berbaai kasus-kasus sebelumnya, saya mau contoh tadi diangkat masalah ini.Ada 5 desa yang seharusnya masyarakatnya tidak apa, hanya karena penyebutan kecamatan yang sebetulnya kecamatan ini sejak awal itu kabupaten masih dalam wilayah Kabupaten Nias. Memang dengan membuka ruang itu fasiltasi dari Kementerian Dalam Negeri ini bisa selesai pak, tetapi dengan tadi itu barangkali ada yang kasus seperti di Nias itu memang agak unik ini.Tetapi seperti kita katakan tadi, kita sudah tegas, batas desanya, antar desanya, sudah langsung kordinat, sebenarnya kalau kordinat sudah ada ini sudah tuntas. Yang saya khawatir Bapak Dirjen, kalau ini harus jela tafsirannya kalau perlu dibuat penjelasannya, harus jelas supaya nanti tidak membuka ruang lagi ada yang ini masih dimungkinkan penetapan 5 tahun oleh Kemendagri yan tegas ini.
Ini barangkali yang perlu kita waspadai Bapak Ketua, jadi saya mohon penjelasan juga supaya lebih konkrit, karena kita tahu setiap ada peluang apalagi nanti baru ketahuan ada sumber daya alam di dalam itu biasanya langsung ribut.Jadi ini barangkali perlu penegasan Bapak Dirjen, apa maksud dan apanya bila perlu ada penjelasan dari pasal ini disamping sehingga bisa lebih konkrit.
Terima kasih. KETUA RAPAT: Bapak Nanang.
F-PD (Ir. NANANG SAMODRA KA., M.Sc): Terima kasih Bapak Ketua.
Konkrit saja supaya penegasan batas wilayah yang dimaksud di sini dijelaskan penegasan wilayah Kabupaten Mamuju Tengah, menurut ketentuan yang telah disepakati dalam undang-undang ini ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri paling lambat 5 tahun, jadi yang telah ditetapkan dalam undang-undang ini. Kalau bicara masalah kordinat saya ragu, kordinat tergantung kerapatan titik-titiknya, kalau titiknya banyak bisa sampai puluhan ribu kordinat batas wilayah itu, tetapi kalau mengambil yang pokok-pokok kalau kebetulan di hutan atau di batas alam, mungkin itu akan lebih mudah, tetapi saya ingin minta dulu kejelasan kepada Bapak Dirjen apakah daerah ini sudah ada batas wilayahnya atau belum, kalau sudah ada tidak ada masalah, tetapi kalau belum dibuatkan harus lebih tegas lagi kelurahan, nama kelurahan atau desa yang berbatasan langsung tadi itu harus disebutkan, sebab kalau tidak akan berbahaya, sebab kalau kita menunggu petanya selesai juga waktunya sangat lama. Kami ingin kejelasan apakah peta ini sudah ada atau belum.
Terima kasih. KETUA RAPAT: Silakan Bapak Dirjen.
DIRJEN OTDA (DJOHERMANSYAH JOHAN) :
Baik, Bapak Nanang tadi ada juga Bapak Laolu soal maksud dari Ayat (3) ini, kalau memang ini harus kita sempurnakan redaksi atau kita tambahkan penjelasan, pada dasarnya kami tidak keberatan Bapak Ketua, jadi kita perbaiki, disempurnakan supaya jelas, kalau perlu kita tambahkan dipenjelasan, apa yang dimaksud dengan penegasan batas wilayah itu.
Untuk yang kedua, tadi Bapak Nanang soal penegasan batas wilayah ini mungkin saya minta bantuan dari PUM ini, yang biasa menangani masalah ini, bisa ditambahkan, silakan.
PUM:
Terima kasih Bapak Dirjen.
Pimpinan yang terhormat serta hadirin sekalin,
Saya ingin menjelaskan sedikit mengenai berkaitan dengan penegasan batas, penegasan batas daerah secara pasti dilapangan ini kita mengacu kepada Permendagri No. 1 Tahun 2006 Tentang Pedoman Penegasan Batas Antar Daerah. Biasa yang kita lakukan melalui tahapan-tahapan selama ini adalah dengan 5 tahapan-tahapan, melalui penelitian dokumen, kemudian pelacakan dilapangan, kemudian pemasangan pilar, pengukuran dan pembuatan peta batas.
Kemudian dalam rangka penegasan ini produk akhirnya adalah Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Batas Antar Daerah.jadi setiap segmen batas antar daerah yang berbatasn itu kita tuangkan pada akhirnya adalah Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Batasan antar Daerah. Jadi mungkin kasus seperti peta Jogya ini mungkin sangat baik sebagai contoh, kebetulan batas-batas antar daerah antara Provinsi Jawa Tengah dengan Provinsi DIY ini sebagai salah satu contoh yang sudah selesai.Jadi secara keliling dia sudah diukur kordinatnya, dipetakan dan dipasangkan pilar.
Kemudian masalah kordinat pak, itu sebenarnya jumlahnya itu tergantung kondisi garis itu dilapangan, idealnya adalah setiap terjadi perubahan arah dan asimut itulah kita beri titik kordinat sehingga jelas nanti baik di peta maupun dilapangannya bisa jelas.itulah tujuan akhir dari penegasan batas dilapangan, seperti itu, mungkin tambahan kami.
F-PD (Ir. NANANG SAMODRA KA., M.Sc):
Pertanyaannya apakah peta batas wilayah sudah ada apa belum di Mamuju ini, hanya itu saja.
DIRJEN OTDA (DJOHERMANSYAH JOHAN) :