• Tidak ada hasil yang ditemukan

(SKORS RAPAT DICABUT PUKUL 20.10 WIB) Selamat malam,

Assalamua'laikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Dengan senantiasa memanjatkan mohon hidayah dan rahmatnya dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, pada malam hari ini panitia kerja pembahasan Rancangan Undang-undang tentang pembentukan daerah otonom baru kita lanjutkan dengan agenda pembicaraan awal untuk pembahasan Rancangan Undang-undang untuk pemekaran calon Kabupaten Pegunungan Arfak dan calon Kabupaten Manokwari Selatan sebuah daerah otonom baru dari pemekaran kabupaten induknya yaitu Kabupaten Manokwari.

Bapak Dirjen Otda yang kami hormati, Pimpinan dan anggota panja yang terhormat.

Pada malam hari ini dihadapan kita telah hadir Bapak Gubernur Provinsi Papua Barat, Bapak Abram, juga hadir kami mohon kalau Pak Gubenur sudah hapal semua tetapi yang lainnya angkat tangan saja supaya seluruh anggota panja bisa mengetahui kehadiran. Berikutnya Bapak Yosef Jeauri Ketua DPR Papua Barat, kemudian Pak Be Salabay Bupati Manokwari, masih gagah saja Pak Bupati masih ganteng. Jumpa awal mengunakan jas sekarang tidak mengunakan tambah ganteng. Kemudian juga hadir saya bacakan saja ya satu persatu sesuai dengan daftar hadir yang ditandatanggani, Bapak Fitalis Yumbe Ketua MRP, kemudian Bapak Jod Elisa, Kepala Biro Pemerintahan di Provinsi Papua Barat, kemudian Ibu Anike TH Sabani, Wakil Ketua MRP Barat, kemudian Bapak Obet.A. Ayok tokoh masyarakat Arfak, kemudian C.Jarula Jambeda, Bapak Assisten 1 pemerintahan, kemudian Bapak Daud Indolo, Ketua Tim, kemudian Pak Anton Jepari, Sekertaris tim pemekaran, kemudian Ibu Lewi Inden, Ibu Yuli Wonemseba, kemudian Bapak Yance Mandacan juga tokoh masyarakat adat, berikutnya Ketua DPR Manokwari Bapak Yosea Sanoi. Kalau dengan Pak Yosea ini beberapa waktu yang lalu datang ke ruangan saya, bapak cepat selesaikan ini dua kabupaten. Pak Herminus Saiba, anggota MRB, kemudian B.Paiki dari tim pemekaran, kemudian Pak Risamasu. Itu pimpinan dan anggota panja yang kami hormati, rombongan yang begitu besar dari Provinsi Papua Barat yang dipimpin oleh Bapak Gubernur dan dari pemerintah Kabupaten Manokwari, baik dari jajaran eksekutifnya maupun dari jajaran legislatifnya sudah hadir dihadapan kita semua.

Untuk itu tentunya yang pertama tentunya dalam pembahasan ini, pemerintah dalam hal ini yang diwakili oleh Pak Dirjen Otonomi Daerah Prof Johermansyah, sebelum memulai rapat hari ini perkenankanlah kami dari meja pimpinan, menyampaikan beberapa hal terlebih dahulu, terutama kepada para tamu undangan dari Provinsi Papua Barat dan Kabupaten Manokwari sebagai kabupaten induk. Kami ingin menyampaikan bahwa pada hari Jumat yang lalu, kita sudah mengadakan rapat pembicaraan antara Komisi II DPR RI dengan pemerintah yang diwakili oleh Dirjen Otonomi Daerah menyepakati bahwa dalam menyelesaikann 19 usulan daerah otonom baru ini yang terbagi menjadi dua bagian. 9 daerah otonom baru dibahas pada kesempatan masa sidang ini dan insya Allah sisanya dikerjakan di masa sidang yang akan datang Desember. Dan

didasarkan atas kesepakatan antara Komisi II DPR RI dengan pihak pemerintah ada beberapa hal yang memang dijadikan dasar kebijakan yang disepakati oleh kami bersama dalam menuntaskan daerah otonom ini. Yang pertama kami tetap mengedepankan semangat, landasan hukum PP 78, dimana ada 4 faktor utama dan 7 faktor pendukung yang menjadi dasar pertimbangan bahwa sebuah daerah itu bisa dimekarkan atau tidak. Namun dalam perkembangan beirkutnya disepakati pula bahwa pendekatan-pendekatan itu dilengkapi dengan langkah-langkah pendekatan lainnya lebih komprehensif, sehingga pertimbangan geo strategis, pertimbangan geo politis, geografis, jangkauan, kemanfaatan, sampai dengan prinsip-prinsip dalam pembentukan daerah otonom ini menjadi pertimbangan yang secara menyeluruh. Karena sesungguhnya apa yang akan kita kerjakan itu bukanlah sesuatu hal seperti kita membuat Undang-undang yang hanya bersifat pengaturan. Kalau kita membuat Undang-undang tentang jalan yang mengatur tentang jalan, Undang-undang tentang kelautan mengatur tentang potensi kelautan kita, Undang-undang wilayah perbatasan yang mengatur tentang wilayah perbatasan.

Namun Undang-undang yang sedang kita kerjakan inilah, Undang-undang yang sesungguhnya adalah menciptakan sesuatu, kalau boleh dikatakan menciptakan manusia baru. Dengan nama baru, dengan wilayah baru yang sebuah pemerintahan itu mengelompokan sejumlah komunitas dengan nama baru, dengan wilayah baru yang tentunya memiliki sejumlah hak-hak dan kewajiban baru, yang berbeda dengan Undang-undang yang lainnya. Dengan dasar pertimbangan itulah Komisi II DPR RI dan pemerintah menyepakati, agar dalam setiap proses pembentukannya sungguh-sungguh tidak ada celah, tidak ada kekurangan, tidak ada kealphaan, ibaratkan kita mau melahirkan, diharapkan lahirnya itu tidak dipaksakan, lahirnya normal-normal saja, kalaupun dia lahir, lahir dengan normal tanpa cacat, lahir sempurna. Itu sebuah daerah otonom, oleh karena itu Komisi II DPR RI dalam melakukan ini bersepakat dengan pemerintah untuk sungguh-sungguh memperhatikan berbagai pertimbanga-pertimbangan itu semua agar yang lahir itu kalau wajahnya begitu lahir itu cakap, ganteng seperti Bupati Manokwari, punya badan gagah seperti Bupati Papua Barat begitu kan.

Nah jadi yang ingin kita lahirkan itu pak dan kita ingin melahirkan ini bukan juga sebuah daerah yang begitu lahir lalu ditinggalkan oleh yang melahirkan dan itu terjadi dimana-mana ada ibu yang kurang ajar. Sudah dia enak-enak sama bapaknya, lalu dia lahirkan anaknya ditinggalkan begitu saja dan itu terjadi dan kita tidak mau. Jangan lalu orang yang melahirkan itu lalu tidak tanggung-jawab, wah itu namanya kurang ajar. Bentuk-bentuk seperti itulah yang disepakati pertama data-data untuk memenuhi PP 78 itu menjadi wajib adanya. Namun kalau data-data yang harus di up date itu harus dilengkapi serta merta pada saat itu, ini bisa klenger. Oleh karena itulah kita menyepakati lebih baik dihadirkan dan didatangkan provinsi induk yang mengusulkan. Karena kita juga akan mengecek ini satu daerah berkasnya segeda ini, ini harus kita sortis, harus kita cek, harus kita lihat daripada capek lihat satu-satu lebih baik kita tanya saja, ini dokumen yang bapak kirim benar tidak ini. Nah jadi itulah maksud kami, kami merasa bersyukur pimpinan disini ada Pak Taufik, ada Pak Hakam, satu pimpinan lagi yang sesungguhnya dia adalah Ketua Panja, mohon maaf sekaligus kita mohon doanya saja mudah-mudahan beliau pada malam hari ini pun sedang melaksanakan kewajiban ibadah haji di tanah suci, mudah-mudahan beliau menjadi haji yang mabrur Bapak Ganjar Pranowo. Disini lengkap ada Pak Nanan dari Demokrat, ada Pak Arif Wibowo dari PDIP, ada Pak Thaib dari PPP, ada Pak Salim Menga dari Demokrat, ada Pak Gamari Sutrisno dari PKS dan ada juga Wakil kami yang ganteng seperti Bupati Manokwari, Pak Markus Nari tidak kalah gantengnya sama bapak. Berikutnya juga ada srikandi kami yang cantik jelita dari Papua, Ibu Agustina Basik-basik, ini yang selalu bolak-balik datang keruangan Pak Agun bagaimana perkembangannya Pak Agun. Bolak-balik untuk apa punya wakil ada di Jakarta, ngurus pemekaran bertahun-tahun tidak selesai, saya bolak balik capek Pak Agun, itu Ibu Basik-Basik Pak Gubenur.

Oleh karena itu kami merasa senang kehadiran Pak Gubernur dengan segenap jajarannya, bersama Bupati dengan segenap jajarannya, tanpa diwakilkan. Begitu pula dari MRP tidak diwakilkan ketuanya pun hadir dan sebagainya. Ini memberikan gambaran bahwa kami di Komisi II DPR RI sebagai pengusul dan juga bersama-sama dengan pemerintah membahas ini sesunguhnya kita ingin undang ini tidak bisa diperlakukan seperti kita membuat Undang-undang tentang pendidikan, tentang kesehatan tetapi kita melahirkan sesuatu yang baru. Itu yang sangat fundamental, jangan sampai jadi kejadian ketika mekar itu jadi yang pusing Bapak Mendagri, sampai hari ini Pak Mendagri itu punya urusan yang tidak selesai-selesai di berbagai daerah pak. Satu ada daerah yang sudah mekar dalam komitmen persyaratannya memberikan dukungan, bantuan, dana awal penyelenggaraan pemerintahan daerah, tertulis pak, kenyataannya bodong nah itu terjadi. Nah saya juga mau dengar Pak Gubernur Papua Barat juga sudah memberikan komitmennya untuk memberikan dana awal pemerintahan daerah untuk pilkada, ini lebih baik dihadapan kita semua, berucap, berbicara tidak hanya sekedar. Jadi kehadiran bapak dan ibu semua dari Provinsi Papua Barat dan dari Kabupaten Manokwari semata-mata dihadirkan disini adalah untuk merubah pola penyelesaian Rancangan Undang-undang. Kalau yang terdahulu mungkin hampir-hampir tidak pernah melibatkan secara langsung pak. kalau Kali ini kami mengundang seluruh pemerintahan Provinsi dan Kabupaten induk yang memekarkannya untuk secara langsung kami mengecek satu persatu, apa benar, apa betul apa begini. Nah sepanjang itu semuanya clear, sepanjang PP 78 terpenuhi berbagai halnya bisa diselesaikan maka tidak ada alasan bagi pemerintah maupun bagi Komisi II DPR RI untuk tidak mengatakan ya. Oleh karena itu kembali semuanya kepada kita, apa yang kita kerjakan ini.

Bapak Gubernur dengan rombongan yang kami hormati.

Yang dalam posisi kesempatan ini, dibawah koordinasi Bapak Dirjen Otda, hal-hal ini kami sampaikan semata-mata dalam rangka pembicaraan awal karena setelah kami mendengar, kami mengetahui, kami mendalami, setelah ini selesai, insya Allah setelah itu kami akan memulai draft pembahasan Rancangan Undang-undangnya, yang dalam schedule kami diharapkan pada Hari Senen itu semua dituntaskan, sudah ada rapat kerja pengambilan keputusan tingkat pertama. Mudah-mudahan juga agendanya pada tanggal 24 disetujui oleh Bamus sudah berkirim surat, bisa diambil keputusan disidang paripurna untuk sah menjadi sebuah daerah otonom baru. Untuk itulah ada beberapa hal yang kami harapkan nanti dibawah koordinasi pemerintah Bapak Dirjen Otda, kami ingin menyampaikan beberapa hal yang kami ingin juga mendapatkan, tanggapan, jawaban, mulai dari Bapak Gubernur, Pak Ketua DPRD Provinsi, kemudian dari Bupati Manokwari, Ketua DPR Manokwari, termasuk juga mungkin dari Ketua MRP bagaimana atas hal-hal yang mungkin kami pertanyakan.

Yang pertama pak, karena ini sekaligus saja, dua-duanya kami sampaikan. Yang pertama soal nama, kami mulai dengan Kabupaten Pegunungan Arfak, apakah betul namanya itu Kabupaten Pegunungan Arfak, apa memang tidak ada nama lain. Jangan sampai nanti dikemudian hari ketika ketok palu, ada yang protes, oh namanya bukan Arfak tetapi Arfuk, ini saya

joke tetapi ini penting. Nama itu juga sebuah terlahir Yosef ya Yosef.

Yang kedua juga kami ingin mempertanyakan berkaitan dengan ibukota. Apakah ibukota calon Kabupaten Arfak ini sesungguhnya posisinya itu dimana, apakah seperti apa yang sudah dihasilkan didalam usulan ini, persetujuan lokasi calon ibukota kabupaten yaitu di Pulong distrik angie. Yang kedua juga untuk Pegunungan Arfak ini, apakah benar memang cakupannya mencakup 10 distrik itu dengan batas-batasnya di utara, selatan, timur, barat ini kami ingin mengecek kembali pak. Nah termasuk juga apakah batas-batas wilayahnya untuk kabupaten Pegungan Arfak itu sudah clear, jangan sampai nanti batas-batas itu bermasalah dikemudian hari. Misalkan ada satu daerah yang nanti begitu lahir pak, kalau lahir kan utuh, jangan lagi nanti kalau

lahir, kakinya ditarik kesana kemari, itu kaki saya oh bukan ini kaki saya, akhirnya dia tidak bisa berjalan karena kaki yang satu dipegang-pegang.

Yang berikutnya juga berkenaan dengan pemberiaan hibah untuk penyelenggaraan pemerintahan daerah otonom baru, begitu pula untuk pelaksanaan pilkada yang pertama. Apakah memang konsekuensi, kesiapan memberikan pendanannya untuk Kabupaten Arfak ini yang dilakukan selama dua tahun berturut-turut, yang masing-masing tahun pertama diberikan Rp.5 Milyar yang kedua Rp.5 milyar.

Yang berikutnya pun untuk pemilukada pertama kali, kalau misalkan dua putaran di putaran pertama Rp.2 milyar sekian, putaran kedua Rp.2 milyar sekian. Berikutnya apakah memang pemerintah provinsi ini juga sudah sungguh-sungguh juga mempersiapkan konsekuensi itu semua, seperti lahir, apakah begitu lahir juga ada komitmen untuk merawat yang baru lahir itu, soal popoknya kan ada harus pokok yang bersih, lalu minum susunya memadai, jangan begitu lahir tidak disusui. Ini juga menjadi bagian yang harus dilakukan baik itu oleh pemerintah provinsi maupun oleh pemerintah kabupaten induk. Kami minta penjelasan-penjelasan itu semua, termasuk kesiapan, kesiapan dalam hal pelepasan aset-aset pak. Karena menjadi rumah sendiri maka dia harus mandiri, jangan lagi dibentuk pemerintahannya asetnya tidak diselesaikan, nah itu tidak boleh. Penyerahan aset itu sudah lengkap dengan dokumen-dokumen bahwa ini sudah milik anda sudah terpisah lagi jangan lagi digaet-gaet oleh induknya, ini Pak Bupati Manokwari. Jangan jadi setelah selesai begitu pas penyerahan aset, asetnya tidak mau dikasih-kasih dan itu terjadi pak di pemekaran-pemekaran yang lain. Oleh karena itu Pak Gubernur dengan jajarannya Pak Bupati dengan jajarannya termasuk dengan DPR nya diundang untuk kita dengar bersama untuk diantara kita semua, sehingga prinsip-prinsip keterbukaan, kebersamaan, semangat gotong-royong diantara kita melahirkan dua kabupaten ini selesai. Nah pertanyaan-pertanyaan yang sama kami tidak akan ulangi, juga kami sampaikan kepada Pak Gubernur, Ketua DPR Provinsi termasuk juga Bapak Bupati dan Ketua DPR Kabupaten Manowari, termasuk dari MRP nya, kami mohon itu dijawab nanti dibawah koordinasi Bapak Dirjen Otda untuk mempersilakan mengatur satu dan lainnya. Nah kalau tadi Pegunungan Arfak, berikutnya Manokwari Selatan, kami tidak akan menguraikan secara panjang lebar tetapi kami tinggal mengecek kesiapan-kesiapan itu mulai dari nama, lokasi ibukota, cakupan wilayah, batas-batas wilayah, penyerahan hibah tanggung-jawab termasuk penyerahan aset-aset tanah, bangunan termasuk penyiapan sumber daya manusianya. Nah provinsi juga tidak bisa lepas tangan pak, juga harus siap memberikan konsekuensi memberikan dukungan SDM nya baik dari provinsi maupun kabupaten induk sehingga dua kabupaten yang akan kita mekarkan dalam waktu yang tidak terlalu lama, dia bisa berjalan lari kencang untuk mengejar bersama-sama dengan kabupaten-kabupaten lainnya yang sudah lebih dahulu. Saya kira itu sebagai pengantar, kami persilakan kepada Dirjen Otda untuk memberikan tanggapan atau memberikan respon atas apa yang kami sampaikan.

Kami persilakan Pak Dirjen.

DIRJEN OTDA (DJOHERMANSYAH JOHAN) :