• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

B. Disiplin

1. Pengertian Disiplin

Menurut kamus bahasa Arab-Indonesia, disiplin diambil dari kata yang artinya menjadi tersusun, teratur, terangkum.24

22

Baharuddin, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), h. 80.

23 Zaidah Kusumawati Dkk, Ensiklopedia Nabi Muhammad SAW Sebagai Pendidik, (Jakarta: Lentera Abadi, 2011), h. 7 – 9.

24 A.W Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab Indonesia Terlengkap, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), Ed. Ke-2, Cet. 14, h. 1435.

18

Ditinjau dari asal katanya, kata disiplin berasal dari bahasa Latin discere yang berarti belajar. Dari kata ini kemudian muncul kata disciplina yang berarti pengajaran atau pelatihan. Seiring perkembangan waktu, kata disciplina mengalami perkembangan makna. Kata disiplin sekarang ini dimaknai secara beragam. Ada yang mengartikan disiplin sebagai kepatuhan terhadap peraturan atau tunduk pada pengawasan dan pengendalian. Ada juga yang mengartikan sebagi latihan yang bertujuan mengembangkan diri agar dapat berperilaku tertib.

Disiplin adalah kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu sistem yang mengharuskan orang untuk tunduk kepada keputusan, perintah, dan peraturan yang berlaku. Dengan kata lain disiplin adalah sikap menaati peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan tanpa pamrih. 25

Ali Imron membagi disiplin menjadi tiga. Pertama disiplin yang dibangun berdasarkan konsep otoritarian. Menurut konsep ini peserta didik dikatakan memiliki kedisiplinan yang tinggi jika mau duduk tenang sambil memperhatikan penjelasan guru saat KBM berlangsung. Peserta didik diharuskan mengiyakan saja terhadap apa yang dikehendaki guru serta tidak boleh membantah. Dengan demikian, guru dapat dengan bebas memberikan tekanan kepada peserta didik agar peserta didik takut dan terpaksa mengikuti apa yang diinginkan oleh guru.

Kedua, disiplin yang dibangun berdasarkan konsep permissive, menurut konsep ini peserta didik haruslah diberikan kebebasan seluas-luasnya. Tata tertib dan aturan-aturan dilonggarkan dan tidak perlu mengikat peserta didik. Peserta didik dibiarkan berbuat apa saja sepanjang itu baik. Dengan demikian, konsep permissive ini berlawanan dengan konsep otoritarian.

Ketiga, disiplin yang dibangun berdasarkan konsep kebebasan yang terkendali atau kebebasan yang bertanggung jawab. Disiplin demikian memberikan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk berbuat apa saja,

25

tetapi konsekuensi dari perbuatan itu haruslah ia tanggung. Konsep ini merupakan konvergensi dari konsep otoritarian dan permissive. Konsep ini umumnya dikenal dengan istilah konsep kebebasan terbimbing.26

Melihat definisi diatas, disiplin mempunyai arti yang luas daripada hukuman dan sanksi. Walaupun seringkali kita menghubungkan disiplin dengan hukuman, namun dengan peraturan dan tat tertib dimaksudkan untuk mencapai perbaikan dalam melakukan sebuah tindakan dan perubahan tingkah laku.

Dari beberapa pengertian yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa disiplin adalah suatu sikap mental yang menunjukkan kesediaan dan kemampuan untuk menaati serta melaksanakan suatu peraturan, ketentuan, nilai-nilai serta kaidah yang berlaku sehingga tercapai keseimbangan antara kehendak pribadi dengan lingkungannya.27

Sesuai dengan perintah Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 59:



























































Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa ayat 59)

Orang yang disiplin adalah orang yang dapat menahan diri, menguasai diri, patuh pada peraturan, nilai-nilai dan norma yang berlaku. Sikap seperti ini menunjukkan adanya rasa saling tanggung jawab. Seseorang yang disiplin akan melaksanakan tugas dengan baik dan penuh

26 Novan Ardy Wiyani, op. cit., h. 160 - 161.

27

20

dengan ketenangan, sekalipun tugas ini dirasa sebagai beban, namun sebaliknya akan membebani dirinya apabila ia tidak berbuat disiplin.

2. Urgensi Pembinaan Disiplin

Orangtua dan guru selalu memikirkan cara tepat menerapkan disiplin bagi anak sejak mereka balita hingga masa kanak-kanak dan sampai usia remaja. Tujuan disiplin adalah untuk mengarahkan anak agar mereka belajar mengenai hal-hal baik yang merupakan persiapan bagi masa dewasa. Diharapkan, kelak disiplin akan membuat hidup mereka bahagia, berhasil dan penuh kasih sayang.28

Para ahli mengemukakan ada tujuh prinsip dalam membina dan membangun disiplin anak, yaitu:

a. Hormati martabat/harga diri anak.

b. Bangun jiwa pro sosial, disiplin diri dan kepribadian. c. Tingkatkan partisipasi aktif anak.

d. Hormati kebutuhan tumbuh kembang dan kualitas hidup anak.

e. Hargai motivasi dan pandangan anak. f. Jamin rasa keadilan dan tegakkan hukum. g. Kembangkan semangat solidaritas.29

Dalam membina kedisiplinan pada peserta didik, guru sebagai manajer memiliki peran untuk mengarahkan apa yang baik, menjadi teladan, sabar dan penuh pengertian. Guru harus mampu menumbuhkan kedisiplinan peserta didik, terutama disiplin diri. Untuk kepentingan tersebut guru harus mampu melakukan hal-hal sebagai berikut.

a. Membantu mengembangkan pola perilaku dalam dirinya. b. Membantu peserta didik meningkatkan standar perilakunya.

28 Sylvia Rimm, Mendidik dan Menerapkan Disiplin pada Anak Prasekolah, Terj. dari Raising

Preschoolers Parenting for Today oleh Lina Jusuf, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003), h. 47.

29 Sugianto, “Pendidikan Islam Disiplin Tanpa Kekerasan”, Jurnal LEKTUR, (Cirebon: STAIN, 2005), h. 66-69.

c. Menggunakan pelaksanaan tata tertib sebagai media untuk menegakkan kedisiplinan.

Dengan kedisiplinan, peserta didik bersedia untuk tunduk dan mengikuti tata tertib dan menjauhi berbagai larangan. Kesediaan semacam ini harus dipelajari dan harus secara sadar diterima guna memelihara kepentingan bersama. Hanya dengan menghormati tata tertib sekolah peserta didik dapat belajar menghormati aturan-aturan umum lainnya, belajar mengembangkan kebiasaan dan mengendalikan diri. Inilah fungsi yang sebenarnya dari disiplin.

Fungsi utama disiplin adalah untuk mengendalikan diri dengan mudah, menghormati dan mematuhi otoritas. Dalam mendidik peserta didik perlu disiplin dan tegas. Disiplin perlu dibina pada diri peserta didik agar mereka dengan mudah dapat:

a. Memberikan pengetahuan dan pengertian sosial secara mendalam pada dirinya.

b. Mengerti dengan segera untuk menjalankan kewajibannya dan mengerti larangan-larangan yang harus ditinggalkannya. c. Mengerti dan dapat membedakan perilaku yang baik dan

yang buruk.

d. Belajar mengendalikan keinginan dan berbuat sesuatu tanpa adanya peringatan dari orang lain.30

3. Teknik Pembinaan Disiplin

Dalam rangka menyukseskan pendidikan, guru harus mampu menumbuhkan disiplin peserta didik, terutama disiplin diri (self discipline). Guru harus mampu membantu peserta didik untuk mengembangkan pola perilakunya, meningkatkan standar perilakunya, dan melaksanakan aturan sebagai alat untuk menegakkan disiplin.

Untuk mendisiplinkan peserta didik perlu dimulai dengan prinsip yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, yakni sikap demokratis,

30

22

sehingga peraturan disiplin perlu berpedoman pada hal tersebut. Yakni dari, oleh dan untuk peserta didik. Sedangkan guru tut wuri handayani. Soelaeman (1985:77) mengemukakan bahwa guru berfungsi sebagai pengemban ketertiban, yang patut digugu dan ditiru, tapi tidak diharapkan sikap yang otoriter.31

Berdasarkan ketiga konsep disiplin yang telah dibahas, yaitu konsep otoritarian, permissive dan konsep terbimbing maka terdapat tiga macam teknik pembinaan disiplin antara lain:

a. Teknik external control

Teknik external control merupakan suatu teknik yang mana disiplin peserta didik haruslah dikendalikan dari luar peserta didik. Peserta didik senantiasa terus diawasi dan dikontrol agar tidak terbawa dalam kegiatan destruktif dan tidak produktif.

b. Teknik internal control

Teknik internal control mengusahakan agar peserta didik dapat mendisiplinkan diri sendiri. Dalam teknik ini peserta didik disadarkan akan pentingnya disiplin.

c. Teknik cooperative control

Dalam teknik cooperative control ini antara guru dengan peserta didik harus saling bekerja sama dengan baik dalam menegakkan disiplin. Guru dan peserta didik lazimnya membuat kontak perjanjian yang berisi peraturan yang disepakati bersama.32

Dokumen terkait