TINJAUAN PUSTAKA
4. Struktur Birokrasi
2.3. Diskresi Kebijakan Publik
Diskresi merupakan celah kosong yang tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan dalam rangka fungsi pemerintah dalam melaksanakan pelayanan masyarakat untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya.
Menurut Ramdhani dan Ramdhani (2017), diskresi hanya dapat dilakukan apabila memenuhi indikator-indikator yang ditetapkan oleh undang-undang yaitu:
melancarkan penyelenggaraan pemerintahan, mengisi kekosongan hukum, dan mengatasi stagnasi pemerintahan dalam keadaan tertentu guna kemanfaatan dan kepentingan umum.
Menurut Atmosudirjo (Ansori, 2015), yang mendefinisikan diskresi sebagai kebebasan bertindak atau mengambil keputusan dari pejabat administrasi negara yang berwenang menurut pendapat sendiri. Selanjutnya dijelaskan bahwa diskresi diperlukan sebagai pelengkap dari asas legalitas, yaitu asas hukum yang menyatakan bahwa setiap tindakan atau perbuatan administrasi negara harus berdasarkan ketentuan undang-undang untuk mengatur segala macam kasus posisi dalam praktek kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, perlu adanya kebebasan atau diskresi dari administrasi negara.
Menurut Lumbuna (Alamsyah,2013), mendefinisikan diskresi adalah kebijakan dari pejabat Negara pusat sampai daerah yang intinya membolehkan pejabat publik melakukan sebuah kebijakan yang melanggar dengan undang-undang, dengan tiga syarat, yakni, demi kepentingan umum, masih dalam batas wilayah kewenangannya, dan tidak melanggar asas-asas umum pemerintahan yang baik.
Diskresi merupakan pengambilan keputusan yang dipengaruhi oleh penilaian pribadi, yang tidak terikat dengan hukum yang berlaku. Diskresi adalah kebebasan yang diberikan yang diberikan kepada pelaksana kebijakan publik dalam rangka penyelenggaraan kebijakan publik, sesuai dengan meningkatnya tuntutan pelayanana publik yang harus diberikan negara kepada masayarakat yang semakin kompleks (Pradana, 2016).
Menurut Marbun (Mustamu, 2011) agar servis publik dapat dilaksanakan dan mencapai hasil maksimal, kepada administrasi negara diberikan suatu kemerdekaan tertentu untuk bertindak atas inisiatifnya sendiri menyelesaikan berbagai permasalahan pelik yang membutuhkan penanganan secara tepat, sementara terhadap permasalahan itu tidak ada; atau masih belum dibentuk suatu dasar hukum penyelesaiannya oleh Lembaga Legislatif yang kemudian dalam hukum administrasi diberikan kewenangan bebas berupa diskresi.
Dalam melaksanakan kebebasan ini administrator harus didukung oleh suatu kondisi memaksa dan atau kejadian yang tidak diperkirakan sebelumnya. Menurut Bagir Manan (Firdaus & Erliyana, 2020) menyatakan bahwa unsur kegentingan yang memaksa harus menunjukkan 2 (dua) ciri umum, yaitu ada kisis (crisis) dan ada kemendesakan (emergency). Menurutnya suatu keadaan krisis apabila terdapat gangguan yang menimbulkan kegentingan dan bersifat mendadak (a grave and sudden disturbunse). Kemendesakan (emergency), apabila terjadi berbagai keadaan yang tidak diperhitungkan sebelumnya dan menuntut suatu tindakan segera tanpa menunggu permusyawaratan terebih dahulu, atau telah ada tanda-tanda permulaan yang nyata dan menurut nalar yang wajar apabila tidak diatur segera akan
menimbulkan gangguan baik bagi masyarakat maupun terhadap jalannya pemerintahan.
Menurut Kumalaningdyah (2020), Berdasarkan UU Administrasi Pemerintahan, terkait dengan penggunaan diskresi karena peraturan perundang-undangan tidak memberikan aturan dengan penjelasan, yang dimaksud dengan
“peraturan perundang-undangan tidak memberikan aturan” adalah ketiadaan atau kekosongan hukum yang mengatur penyelenggaraan pemerintahan dalam suatu kondisi tertentu atau di luar kebiasaan.
Diskresi dalam hal peraturan perundang-undangan tidak lengkap atau tidak jalas berarti Diskresi pejabat publik atas alasan peraturan peraturan perundangundangan tidak lengkap atau tidak jelas dapat dipraktikkan apabila terdapat peraturan perundang-undangan masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut, peraturan yang tumpang tindih, dan peraturan yang membutuhkan peraturan pelaksanaan, tetapi belum dibuat. Oleh karena itu, diskresi kewenangan diberikan untuk membuat kebijakan. Tujuannya adalah agar pejabat publik tidak menolak hal tertentu dengan alasan tidak ada undang undang yang mengaturnya, walaupun tindakan pemerintah seharusnya berdasarkan undang-undang. Sebab, dalam urusan pemerintah, tidak pada setiap urusan ada undang undangnya sehingga diberikanlah kewenangan diskresi kepada pejabat publik tersebut (Benny, Kumalaningdyah, 2020).
Selanjutnya Benny (Kumalaningdyah, 2020) menyebutkan Diskresi karena adanya stagnasi pemerintahan Berdasarkan penjelasan UU Administrasi Pemerintahan terhadap kriteria tentang adanya stagnasi pemerintahan yang terkait dengan kepentingan yang lebih luas, yang dimaksud dengan “kepentingan yang
lebih luas” adalah kepentingan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, penyelamatan kemanusiaan dan keutuhan negara, antara lain bencana alam, wabah penyakit, konflik sosial, kerusuhan, pertahanan dan kesatuan bangsa.
Pejabat publik dari beberapa keadaan memungkinkannya menggunakan diskresi dengan memperhatikan kriteria diskresinya. Diskresi atas keadaan adanya peraturan perundang-undangan memberikan pillihan, tidak lengkap atau tidak jelas, dan tidak memberikan aturan mengenai suatu hal kongkrit, jelas memerlukan suatu analisis, penelitian, dan penelusuran peraturan perundang-undangan, sehingga ketika suatu diskresi digunakan, misalnya karena peraturan perundangundangan tidak lengkap, padahal sebenarnya lengkap, tetapi dinyatakan tidak lengkap karena tidak melakukan penelusuran hukum. Begitu juga dengan diskresi karena perundang-undangan tidak memberikan aturan.
Menurut Scott, 1994 (Astuti, 2019), kriteria yang patut dijadikan indikator atau parameter utama diskresi adalah kesesuaian dengan ketentuan hukum yang lebih luas (legal), disamping pertimbangan-pertimbangan normatif lain yang menjadi parameter bagi penggunaan ruang diskresi yakni : tidak bertentangan dengan nilai-nilai etika dan moral (ethical), kepentingan publik (citizen/public interest) yang lebih luas, dan prinsip-prinsip profesionalisme (professionalism) serta disiplin ilmu (knowledge) sebagaimana diilustrasikan dalam gambar berikut.
Gambar. 5 : Parameter Normatif Sebagai Dasar Pertimbangan Dalam Penggunaan Ruang Diskresi Birokrasi
Sumber : diadaptasi dari Scott, 1994 (Astuti, 2009)
Pendapat Scott di atas merupakan parameter dari diskresi kebijakan publik yang terdiri dari legal, ethical, professional, public interest, dan knowledge sudah terdapat pada UU Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan : a) kepastian hukum; bahwa asas dalam negara hukum yang mengutamakan
landasan ketentuan peraturan perundang-undangan, kepatutan, keajegan, dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggaraan pemerintahan.
b) kemanfaatan; manfaat yang harus diperhatikan secara seimbang antara kepentingan individu yang satu dengan kepentingan individu yang lain, kepentingan individu dengan masyarakat, kepentingan warga masyarakat dan masyarakat asing, kepentingan kelompok masyarakat yang satu dan kepentingan kelompok masyarakat yang lain, kepentingan pemerintah dengan warga masyarakat, kepentingan generasi yang sekarang dan kepentingan generasi mendatang, kepentingan manusia dan ekosistemnya, serta kepentingan pria dan wanita.
c) ketidakberpihakan; asas yang mewajibkan badan dan/atau pejabat pemerintahan dalam menetapkan dan/atau melakukan keputusan dan/atau tindakan dengan mempertimbangkan kepentingan para pihak secara keseluruhan dan tidak diskriminatif
d) kecermatan; asas yang mengandung arti bahwa suatu keputusan dan/atau tindakan harus didasarkan pada informasi dan dokumen yang lengkap untuk mendukung legalitas penetapan dan/atau pelaksanaan keputusan dan/atau tindakan sehingga keputusan dan/atau tindakan yang bersangkutan dipersiapkan dengan cermat sebelum Keputusan dan/atau tindakan tersebut ditetapkan dan/atau dilakukan.
e) tidak menyalahgunakan kewenangan; asas yang mewajibkan setiap badan dan/atau pejabat pemerintahan tidak menggunakan kewenangannya untuk kepentingan pribadi atau kepentingan yang lain dan tidak sesuai dengan tujuan pemberian kewenangan tersebut, tidak melampaui, tidak menyalahgunakan, dan/atau tidak mencampuradukkan kewenangan.
f) Keterbukaan; asas yang melayani masyarakat untuk mendapatkan akses dan memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif dalam penyelenggaraan pemerintahan dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia negara.
g) kepentingan umum; asas yang mendahulukan kesejahteraan dan kemanfaatan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, selektif, dan tidak diskriminatif.
h) pelayanan yang baik; asas yang memberikan pelayanan yang tepat waktu, prosedur dan biaya yang jelas, sesuai dengan standar pelayanan, dan ketentuan peraturan perundang-undangan
Dari kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa dalam diskresi tujuan untuk mengoptimalkan pelayanan publik untuk kepentingan masyarakat secara umum.
Peraturan kebijakan (beleid regels) adalah merupakan produk hukum yang lahir dari kewenangan mengatur kepentingan umum secara mandiri atas dasar prinsip Freies Ermessen. Artinya ketika Freies Armessen atau diskresi ini dituangkan dalam bentuk tertulis, ia menjadi peraturan kebijakan, yakni peraturan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintahan berkenan dengan pelaksanaan wewenang pemerintahan terhadap warga negara atau terhadap instansi.
Pemerintahan lainnya dan pembuatan peraturan tersebut tidak memiliki dasar yang tegas dalam UUD dan undang-undang formal baik langsung maupun tidak langsung (Anshori, 2015).
Menurut Thomas J. Aaron (Wati, dkk, 2019), diskresi adalah suatu kekuasaan atau wewenang yang dilakukan berdasarkan hukum atau pertimbangan dan keyakinannya dan lebih menekankan pertimbangan moral daripada pertimbangan hukum.
Selanjutnya Timothy Endicott (Wati, 2019), diskresi memilih ada 2 (dua) pengertian, pertama diskresi adalah kebebasan memilih pada pihak pembuat keputusan. Kedua diskresi berarti memiliki makna yang sama dengan kepatutan dan kesusilaan. Dari berbagai pendapat dan regulasi di atas, diskresi merupakan kewenangan untuk mengambil keputusan untuk menyelesaikan persoalan yang belum diatur oleh peraturan perundangan dengan penuh pertanggungjawaban.
Sebagaimana ditegaskan Frederickson (Astuti, 2009) bahwa dalam menentukan langkah-langkah operasional apakah yang harus dilakukan agar kebijakan dapat berjalan efektif sesuai dengan tujuan yang ditetapkan, birokrasi
dituntut bekerja atas dasar profesionalisme dan menjunjung tinggi nilai-nilai etika administrasi negara seperti mengutamakan kepentingan publik, transoaran adil dan berempati.
Secara praktis kekuasaan diskresi pemerintahan ini, melahirkan bentuk-bentuk kebijaksanaan yang memiliki 2 (dua) aspek penting, seperti dikemukakan oleh Sadjijino (Wati, 2019), yaitu :
1. Kebebasan untuk menafsirkan yang berkaitan dengan ruang lingkup dan batas-batas wewenang yang dirumuskan dalam peraturan dasar pemberian wewenang, dimana kebebasan tersebut dengan kebebasan untuk menilai berdasarkan sifat objektif, jujur, benar dan adil; dan
2. Kebebasan untuk menentukan sikap tindak, artinya bertindak atau tidak berdasarkan penilaian sendiri dengan cara bagaimana dan kapan wewenang yang dimiliki tersebut dilaksanakan, penilaian ini memiliki sifat subjektif, yakni berdasarkan nuraninya sendiri dalam mengambil keputusan.
Dalam menjalankan organisasi pemerintahan melekat jabatan yang dipimpin oleh pejabat dalam jabatan itu melekat suatu kewenangan. Menurut Sadjijono, 2011 (Wati, 2019), wewenang pemerintahan berdasarkan sifatnya dapat dibagi sebagai berikut :
1. Wewenang yang bersifat terikat, yakni kewenangan yang harus sesuai dengan aturan dasar yang menentukan waktu dan keadaan wewenang tersebut dapat dilaksanakan, termasuk rumusan dasar isi dan keputusan yang harus diambil.
Syarat ini mengikatkan bagi organ pemerintahan ketika akan menjalankan wewenangnya dan mewajibkan sesuai dengan aturan dasar dimaskud ketika wewenang dijalankan. Contoh penyidik mengehentikan penyidikan.
Penghentian penyelidikan merupakan wewenang penyidik yang bersifat terikat, karena penyidik dapat melakukan penghentian penyelidikan dengan syarat : a) perkara hukum merupakan perbuatan hukum; b) tidak cukup bukti unsur pidananya; dan c) tersangka meninggal dunia;
2. Wewenang bersifat fakultatif yaitu wewenang yang dimiliki badan atau pejabat administrasi, namun demikian tidak ada kewajiban atau keharusan untuk menggunakan wewenang tersebut dan sedikit banyak amsih ada pilihan lain.
Walaupun pilihan tersebut hanya dapat dilakukan dalam hal dan keadaan tertentu berdasarkan aturan dasarnya. Contoh polisi tidak menjatuhkan tilang kepada pelanggar dijalan. Dalam hal ini tidak melakukan tilang ini adalah pilihan lain di dasari alasan-alasan yang masih dalam lingkup kewenangan;
3. Dan wewenang bersifat bebas yakni wewenang badan atau pejabat pemerintahan (administrasi) dapat menggunakan wewenang nya secara bebas untuk menentukan sendiri mengenai isi dari keputusan yang akan dikeluarkan, karena peraturan dasarnya memberikan kebebasan kepada penerima wewenang tersebut. Contoh polisi menentukan ditempak atau tidaknya tersangka ketika ditangkap. Tindakan ditembak atau tidaknya tersebut didasari penilaian bebas dan anggota polisi yang bertugas melakukan penangkapan.
Ridwan, 2009 (Ansori, 2015), Kebebasan mempertimbangkan ini ada yang bersifat subjektif dan bersifat objektif. Kebebasan mempertimbangkan yang bersifat subjektif (subjectieve beordelingsruimte), yaitu kebebasan untuk menentukan sendiri dengan cara bagaimana dan kapan wewenang yang dimiliki itu dilaksanakan. Sedangkan kebebasan mempertimbangkan yang bersifat objektif (objectieve beordelingsruimte) yaitu kebebasan menafsirkan mengenai ruang
lingkup wewenang yang dirumuskan dalam peraturan dasar wewenangnya. Ketika kebebasan pemerintah atau freies ermessen ini dituangkan dalam bentuk tertulis, ia akan menjadi peraturan kebijakan.
Menurut Diana Halim , 2004 (Mustamu, 2011), mengartikan freis ermessen sebagai kemerdekaan bertindak administrasi Negara atau Pemerintah (eksekutif) untuk menyelesaikan masalah yang timbul dalam keadaan kegentingan yang memaksa, dimana peraturan penyelesaian untuk masalah ini belum ada.
Dengan adanya freies ermessen ini berarti bahwa sebagian kekuasaan yang dipegang oleh badan pembentuk undang-undang dipindahkan ke dalam tangan pemerintah/administrasi negara, sebagai badan eksekutif. Jadi supremasi badan legislatif diganti oleh supremasi badan eksekutif karena administrasi negara melakukan penyelesaian masalah tanpa harus menunggu perubahan undang-undang dari badan legislatif. Hal tersebut karena pada prinsipnya Badan/Pejabat administrasi pemerintahan tidak boleh menolak untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan alasan hukumnya tidak ada ataupun hukumnya ada tetapi tidak jelas, sepanjang hal tersebut masih menjadi kewenangannya, (Anshori, 2015).
Menurut Sihotang, dkk (2017), pemberian diskresi kepada pejabat pemerintah merupakan konsekuensi logis dari konsep negara kesejahteraan, tetapi dalam kerangka negara hukum, diskresi tidak dapat digunakan tanpa batasan. Atas dasar tersebut, diskresi memiliki unsur-unsur :
1) Sebagai bentuk dari konsekuensi dari konsep negara kesejahteraan;
2) Merupakan bentuk sikap dari campur tangan pemerintah atau pejabat administrasi negara;
3) Dimaksudkan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang manual secara tiba-tiba atau belum dimuat dalam ketentuan undang-undang;
4) Diambil berdasarkan inisiatif sendiri dari pemerintah;
5) Bertujuan untuk memberikan pelayanan publik;
6) Dimaksudkan untuk mengisi kekurangan peraturan perundang-undangan;
7) Tidak bertentangan dengan sistem hukum ataupun norma-norma dasar.
Secara prinsip ketujuh unsur diskresi di atas dilaksanakan pada situasi penting dan mendesak yang harus segera dilaksanakan. Menurut Mustamu (Marbun, 2001), persoalan-persoalan penting dan mendesak, sekurang-kurangnya mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
a. Persoalan-persoalan yang muncul harus menyangkut kepentingan umum, yaitu kepentingan bangsa dan negara, kepentingan masyarakat luas, kepentingan rakyat banyak/bersama, serta kepentingan pembangunan;
b. Munculnya persoalan tersebut secara tiba-tiba, berada diluar rencana yang telah ditentukan;
c. Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, peraturan perundang-undangan belum mengaturnya atau hanya mengatur secara umum, sehingga administrasi Negara mempunyai kebebasan untuk menyelesaikan atas inisiatif sendiri;
d. Prosedurnya tidak dapat diselesaikan menurut administrasi yang normal, atau jika diselesaikan yang normal justru kurang berdaya guna dan berhasil guna.
Selanjutnya menurut Ashiddiqie (Firdaus, Erliyana, 2020) terdapat 3 (tiga) unsur membentuk pengertian keadaan bahaya yang dapat menimbulkan kepentingan yang memaksa, yaitu adanya unsur ancaman yang membahayakan
(dangerous threat); adanya unsur kebutuhan yang mengharuskan (reasonable necessity); dan adanya unsur keterbatasan waktu (limited time) yang tersedia.
Dengan adanya kewenangan diskresi ini berarti bahwa sebagian kekuasaan yang dipegang oleh badan pembentuk undang-undang dipindahkan kedalam tangan pemerintah/administrasi Negara sebagai badan eksekutif. Jadi supremasi badan legislatif diganti oleh supremasi badan eksekutif (Siti Soetami, 2000:46), karena administrasi Negara melakukan penyelesaian masalah tanpa harus menunggu perubahan Undang-undang dari bidang legislatif (Diana Halim Koentjoro,2004:42). Hal tersebut karena pada prinsipnya Badan/Pejabat administrasi pemerintahan tidak boleh menolak untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan alasan hukumnya tidak ada ataupun hukumnya ada tetapi tidak jelas, sepanjang hal tersebut masih menjadi kewenangannya (Mustamu, 2011).
Menurut Ansori (2015), adapun secara keseluruhan Pejabat Administrasi Pemerintah yang memiliki kewenangan untuk menetapkan keputusan diskresi adalah Presiden, Para Menteru atau Pejabat setingkat Menteri, Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan Darat, Laut dan Udara, Kepala Kepolisian, Ketua Komisi/Dewan dan Lembaga setara, Gubernur, Bupati dan Walikota, Pejabat Eselon I di Pemerintah Pusat dan Provinsi, Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota, Pimpinan Badan serta pejabat operasional yang memiliki kewenangan untuk menetapkan keputusan diskresi karena tugasnya beruhubungan langsung dengan pelayanan masyarakat seperti Kepala resort Kepolisian Negara dan Camat.
Menurut Basir Manan (Ansori, 2015), serig sekali ditemui dalam praktek keputusan diskresi itu dituangkan dalam bentuk Keputusan Presiden dan Keputusan
Menteri dalam hal ini dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) yaitu sebagai keputusan (beschikking), dan peraturan kebijakan (beleidsregel/policy rules). Oleh karena satu produk hukum berupa Keputusan Presiden dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) hal sebagaimana disebut di atas, maka konsekuensinya adalah bahwa untuk menguji suatu Keputusan Presiden tidak dapat dilihat pada nomenklaturnya saja, akan tetapi harus dilihat materi muatannya apakah sebagai keputusan (beschikking), atau peraturan kebijakan (beleidsregel/policy rules), sebab secara substansi pengujiannya akan berebda. Peraturan kebijakan bukan peraturan perundang-undangan sehingga tidak dapat diuji secara hukum (wetmatigheid). Pengujian terhadap peraturan kebijakan lebih diarahkan kepada doelmatigheid dan karena itu batu uji adalah asas-asas umum penyelenggaraan
pemerintah yang baik.
Esmi Warassih mengatakan bahwa dalam rangka pelaksanaan kebijaksanaan publik, para birokrat dapat menentukan kebijaksanaannya sendiri untuk menyesuaikan dengan situasi dimana mereka berada, terutama yang berkaitan dengan ketersediaan sumber daya serta informasi, tenaga ahli, tenaga-tenaga terampil maupun mengenai pengetahuan yang mereka miliki. Itu berarti diskresi merupakan fenomena yang amat penting dan fundamental, terutama didalam mengimplementasikan suatu kebijaksanaan publik. Dengan adanya diskresi diharapkan agar dengan kondisi yang ada dapat dicapai suatu hasil atau tujuan yang maksimal, (Taufiqurrahman, 2019).
Efektivitas diskresi tergantung dari tipe kebijakan publik atau keputusan yang ditetapkan oleh pengambil kebijakan. Menurut Morgan, Shinn, dan Green (Astuti, 2009), terdapat keterkaitan antara logika kebijakan publik dengan
jenis-jenis diskresi untuk memastikan agar suatu kebijakan dapat dilaksanakan dengan baik dan tujuan kebijakan dapat dicapai.
a. Kebijakan bersifat distributif (Distributive Policy)
Diperlukan diskresi teknikal (Technical Discretion) misalnya kebijakan di bdiang pembangunan fisik (jalan, jembatan, saluran irigasi dan lain-lain).
Dalam hal ini birokrasi (yang seharusnya terdiri dari para teknokrat) dituntut memiliki kemampuan dan pengetahuan teknis yang relevan diperlukan dalam pelaksanaan kebijakan dibanding dengan kemampuan para politisi.
b. Kebijakan redistributif (Redistributive Policy)
Kebijakan redistributif (Redistributive Policy), jenis diskresi politis (Political Discretion) lebih diperlukan. Seperti kebijakan perpajakan, pengentasan kemiskinan, dan pemberdayaan wanita lebih banyak didelegasikan kepada administrator bukan karena alasan kurangnya kemampuan para legislator namun lebih dikarenakan bahwa solusi yang ditawarkan terhadapnya masalah-masalah tersebut rawan mengundang “lawan” politik (Political Enemics).
Pertimbangan menjadidasar diskresi dalam hal ini bisa menggunakan semua aspek terutama etika dan moral yang didalamnya terkandung prinsip social equality.
c. Kebijakan Pengaturan (Regulatory Policy)
Memerlukan diskresi perencanaan sosial (Social Planning Discretion).
Kenijakan ini dapat mengundang banyak kepentingan berbeda sehingga mengandung kerumitan yang relatif tinggi. Kebijakan tipe ini menuntut para administrator untuk memadukan baik pertimbangan-pertimbangan teknis profesional maupun etika dan kepentingan publik (Client), terutama ketika
pengambil kebijakan melekat mereka yang terkena dampak keputusan atas tindakan diskresi tersebut.
d. Kebijakan tentang pembatasan (Self Regulatory Policy)
Kebijakan tentang pembatasan atau pengawasan pada masalah-masalah tertentu bagi orang atau kelompok tertentu, menghasilkan diskresi profesional (Profesional Discretion). Diskresi jenis ini adalah hasil dari kebijakan yang didelegasikan dari legislator kepada para birokrat profesional sebagaimana dilakukan para profesional seperti dokter dan lawyer sehingga apa yang diputuskan adalah murni pertimbangan profesional dan sesuai dengan relevansi disiplin ilmu.
Tabel.1 : Klasifikasi Tipe Kebijakan, Diskresi dan Dasar Pertimbangannya Policy Type Type of Discretion Considerations Distibutive policy Sumber : diadaptasi dari Morgan, Shinn, dan Green (Astuti, 2009).