TINJAUAN PUSTAKA
4. Struktur Birokrasi
2.5. Penyelenggaraan Pascabencana
Penanggulangan bencana pada fase pascabencana merupakan fungsi strategis dimana Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan upaya-upaya pemulihan kehidupan masyarakat dalam perspektif pembangunan berkelanjutan (suistainable development).
Rehabilitasi dan rekonstruksi merupakan sebuah konsepsi yang tidak terpisah dalam perspektif penanggulangan bencana pada fase pascabencana. Menurut Peraturan Pemerintah N0. 21 tahun 2008, pada Bab I, pasal 1, nomor 10 dan 11 disebutkan, Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana.
Selanjutnya Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana.
Fokus dalam Rehabilitasi dan Rekonstruksi pascabencana adalah sebagai berikut : Perbaikan lingkungan daerah bencana; Perbaikan prasarana dan sarana umum; Pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat; Pemulihan sosial psikologis; Pelayanan kesehatan; Rekonsiliasi dan resolusi konflik; Pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya; Pemulihan keamanan dan ketertiban; Pemulihan fungsi pemerintahan; dan Pemulihan fungsi pelayanan publik.
Fokus dalam Rekonstruksi pascabencana adalah : Pembangunan kembali prasarana dan sarana; Pembangunan kembali sarana sosial masyarakat;
Pembangkitan kembali kehidupan sosial nudaya masyaarkat; Penerapan rancang bangun yang tepat dan penggunaan peralatan yang lebih baik dan tahan bencana;
Partisipasi dan peran serta lembaga dan organisasi kemasyarakatan, dunia usaha dan masyarakat; Peningkatan kondisi sosial, ekonomi dan budaya; Peningkatan fungsi pelayanan publik atau Peningkatan pelayanan utama dalam masayarakat.
Rehabilitasi berkaitan dengan pemulihan pada pranata sosial, ekonomi, dan pelayanan publik, serta terkait konstruksi untuk pemulihan dengan kerusakan ringan. Sedangkan Rekonstruksi adalah perbaikan untuk kerusakan yang mendasar, yang berhubungan dengan konstruksi serta memiliki kerusakan sedang sampai berat, sehingga apabila tidak diperbaiki, maka tidak dapat difungsikan kembali.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, pasal 2, disebutkan penyelenggaraan rehabilitasi dan rekonstruksi bertujuan untuk:
a. Terwujudnya penyelenggaraan rehabilitasi dan rekonstruksi yang merupakan satu kesatuan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana dan terintegerasi dalam perencanaan pembangunan nasional
b. Terwujudnya penyelenggaraan rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan dengan tata kelola penyelenggaraan administrasi pemerintahan yang baik dan benar
c. Terwujudnya penyelenggaraan rehabilitasi dan rekonstruksi yang memberikan peluang, dan atau kesempatan untuk peran serta masayarakat termasuk lembaga internasional.
Selanjutnya, pada pasal 3 ayat (3), sasaran substansial rehabilitasi dan rekonstruksi adalah :
a. Aspek kemanusiaan, yang antara lain terdiri dari sosial psikologis, pelayanana kesehatan, pelayanana pendidikan, rekonsiliasi dan resolusi konflik, keamanan dan ketertiban, partisipasi dan peran serta lembaga dan organisasi kemsayarakatan, dunia usaha dan masayarakat
b. Aspek perumahan dan permukiman, yang trdiri dari perbaikan lingkungan daerah bencana, pemberian bantuan perbaikan rumah masayarkat dan pembangunan kembali sarana sosial masyarakat.
c. Aspek infrastruktur pembangunan, antara lain terdiri dari perbaikan prasarana dan sarana umum, pemulihan fungsi pemerintahan, pemulihan fungsi pelayanan publik, pembangunan kembali sarana dan prasarana, penerapan rancang bangun yang tepat dan penggunaan peralatan yang lebih baik dan tahan bencana, peningkatan fungsi pelayanan publik dan peningkatan pelayanan utama dalam masyarakat.
d. Aspek ekonomi yang antara lain terdiri dari pemulihan sosial ekonomi, dan budaya, peningkatan kondisi sosial, ekonomi dan budaya, mendorong
peningkatan ekonomi lokal seperti pertanian, perdagangan, industri, pariwisata dan perbankan.
e. Aspek sosial antara lain terdiri dari pemulihan konstruksi sosial dan budaya, pemulihan kearifan dan tradisi masyarakat, pemulihan hubungan antar budaya dan keagamaan dan pembangkitan kembali kehidupan sosial budaya masyarakat.
Uraian di atas dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel-2 : Ruang Lingkup Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana
No S e k t o r Sub-Sektor
1 Permukiman - Permukiman
- Prasarana Lingkungan Permukiman
2 Infrastuktur
- Transportasi darat, Laut dan Udara - Energi
- Pos dan Telekomunikasi - Air dan sanitasi
- Infrastruktur pertanian (irigasi) - Sumber Daya Air (pantai dan sungai)
3 Sosial
- Kesehatan - Pendidikan - Agama
- Budaya dan bangunan bersejarah - Lembaga Sosial
4 Ekonomi Produktif
- Pertanian, Perkebunan dan Peternakan
- Kelautan dan perikanan - Industri kecil dan menengah - Perdagangan (pasar) Sumber : Direktur Pemulihan Fisik, BNPB, 2016
Dari aspek-aspek di atas, pelaksanaan rehabilitasi dilakukan dilakukan secara terencana dan terintegerasi dan memang infrastuktur atau kondisi sosial yang
mau dipulihkan harus melalui mekanisme dan prosedur yang berbasis bencana, sebagaimana tertuang dalam Perka BNPB No 17 tahun 2010 tentang Rehabilitasi dan Rekonstruksi, pasal 4 ayat (3), manajemen penyelenggaraan rehabilitasi dan rekonstruksi adalah :
a. Input (masukan) merupakan kajian kebutuhan pascabencana terdiri dari : - Pengkajian dan penilaian akibat bencana
- Analisis dampak bencana
- Perkiraan kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi b. Proses, berupa:
- Penyusunan rencana aksi dan penentuan prioritas - Pengalokasian sumber daya
- Pelaksanaan
- Pemantauan dan evaluasi - Pelaporan
c. Output (hasil) berupa hasil rehabilitasi dan rekonstruksi.
d. Outcome (keluaran) berupa manfaat yang dirasakan oleh korban bencana dan/atau daerah
e. Impact (dampak) terhadap pencapaian rencana pembangunan daerah dan nasional.
Pengkajian secara teknis yang berbasis kebencanaan sebelum program rehabilitasi dilakukan menurut Peraturan Kepala BNPB No. 15 thn 2011 tentang Pedoman Pengkajian Kebutuhan Pascabencana, disebutkan Pengkajian Kebutuhan Pascabencana/Post Disaster Need Assesment (PDNA) adalah suatu rangkaian kegiatan pengkajian dan penilaian akibat, analisis dampak, dan perkiraan
kebutuhan, yang menjadi dasar bagi penyusunan rencana aksi rehabilitasi dan rekonstruksi. Pengkajian dan penilaian meliputi identifikasi dan perhitungan kerusakan dan kerugian fisik dan non fisik yang menyangkut aspek pembangunan manusia, perumahan atau pemukiman, infrastruktur, ekonomi , sosial dan lintas sektor. Analisis dampak melibatkan tinjauan keterkaitan dan nilai agregat (total) dari akibat-akibat bencana dan implikasi umumnya terhadap aspek-aspek fisik dan lingkungan, perekonomian, psikososial, budaya, politik dan tata pemerintahan.
Perkiraan kebutuhan adalah perhitungan biaya yang diperlukan untuk menyelenggarakan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi.
PDNA bertujuan agar upaya-upaya pemulihan pascabencana berorientasi pada pemulihan harkat dan martabat manusia secara utuh. Semangat ini tertuang pada ketiga komponen PDNA sebagai berikut.
1. Pengkajian akibat bencana 2. Pengkajian dampak bencana; dan 3. Pengkajian kebutuhan pascabencana.
Komponen-komponen dalam PDNA di atas memiliki kesaling-terhubungan dalam rangka memandu proses penyusunan Rencana Aksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi maupun untuk melakukan upaya pemulihan pascabencana.
Hubungan antar komponen-komponen dalam PDNA tampak pada diagram dibawah ini :
Gambar.6 : Alur Proses PDNA
Rehabilitasi dan Rekonstruksi pascabencana bertujuan untuk memullihkan semua aspek kehidupan (life) dan penghidupan (liflyhood) masyarakat. Seluruh aspek ini direalisasikan dalam bentuk program kepada pemulihan atau perbaikan kepada 5 (lima) sektor, yaitu : sektor permukiman, sektor infrastruktur, sektor ekonomi produktif, sektor sosial dan sektor Lintas Sektor.
Rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana erupsi Gunung Sinabung pada 5 (lima) sektor di atas secara berkelanjutan dilaksanakan secara bertahap. Pada bencana erupsi Gunung Sinabung Kabupaten Karo rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana lebih memprioritaskan pembangunan relokasi/permukiman bagi masyarakat korban, disamping sektor-sektor lainnya. Sektor Permukiman Salah satu yang memerlukan Sehubungan dengan penelitian ini memfokuskan kepada rehablitasi dan rekonstruksi program sektor permukiman.