BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Deskripsi hasil penelitian
4. Diskriminasi
Diskriminasi merupakan pembedaan perlakuan maupun hak dalam
masyarakat yang didasarkan pada perbedaan warna kulit, golongan, suku,
agama, dan sebagainya. Dalam diskriminasi orang cenderung hanya mau
berkomunikasi dengan anggota kelompoknya sendiri dan menganggap
anggota kelompok lain tidak baik. Perlakuan diskriminasi masyarakat
setempat terhadap mahasiswa pendatang dapat menghambat proses
29
Mahasiswa pendatang yang akan melanjutkan studi di tempat baru yang
memiliki perbedaan kebudayaan tentu harus menghadapi proses penyesuaian
sosial agar dapat diterima di lingkungan tersebut. Mereka tentu juga harus siap
untuk menghadapi problem-problem dalam proses penyesuaian sosial tersebut.
Untuk mengetahui problem-problem apa saja yang muncul dalam proses
penyesuaian sosial yang dialami mahasiswa pendatang dan melanjutkan studi di
Yogyakarta, maka akan digunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data.
Penelitian ini akan menggunakan kuesioner yang akan dibagikan secara langsung
kepada sejumlah mahasiswa yang dianggap sebagai kelompok yang representatif
dalam mewakili keseluruhan populasi yang akan diteliti. Pertanyaan-pertanyaan
dalam kuesioner akan disusun sesuai dengan apa yang akan diukur sehingga
jawaban yang diperoleh dapat mengungkap data-data yang diperlukan.
Jawaban-jawaban responden terhadap butir soal yang diberikan akan menunjukkan
jenis-jenis problem yang dihadapi mahasiswa pendatang dalam proses penyesuaian
sosial.
Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tanpa
skala dengan bentuk pertanyaan terbuka. Semua jawaban yang diperoleh melalui
kuesioner akan dicatat dan dikelompokkan sesuai dengan kategori.
D. Subyek Penelitian
Tiap penelitian memerlukan sejumlah orang yang harus diselidiki sebagai
subyek penelitian. Jumlah keseluruhan dari subyek penelitian disebut sebagai
subyek penelitian (Arikunto, 2006). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
mahasiswa baru Universitas Sanata Dharma angkatan 2007, yang berasal dari
luar kota Yogyakarta.
Mahasiswa baru dianggap sebagai populasi yang paling cocok karena
mereka baru saja datang untuk tinggal di lingkungan sosial yang masih asing bagi
mereka. Para pendatang harus menghadapi proses penyesuaian sosial agar dapat
diterima di lingkungan baru mereka sehingga mereka dapat menetap di
lingkungan tersebut.
Bila populasi terlalu besar kita dapat menggunakan sejumlah sampel
sebagai subyek yang representatif, yaitu yang mewakili keseluruhan populasi itu.
Ada berbagai macam teknik pengambilan sampel. Teknik yang digunakan dalam
penelitian ini adalah purposive sampling. Dalam purposive sampling, pemilihan
sekelompok subyek didasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang
dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri atau sifat populasi
yang sudah diketahui sebelumnya. Sebutan purposive menunjukkan bahwa teknik
ini digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Purposive sampling didasarkan
pada informasi yang mendahului tentang keadaan populasi (Hadi, 2004).
Sampel penelitian ini adalah para mahasiswa baru fakultas Psikologi,
Universitas Sanata Dharma. Banyak mahasiswa baru di fakultas Psikologi yang
berasal dari kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan yang ada di
Yogyakarta. Sebagian besar dari mereka merupakan pendatang yang berasal dari
31
karena itu, mahasiswa baru di fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma
dianggap sebagai sample yang cukup mewakili dalam penelitian.
Sampel penelitian akan dikhususkan pada mahasiswa pendatang yang
tinggal di daerah perkampungan (bukan daerah perumahan). Hal tersebut
dikarenakan daerah perkampungan dianggap masih memiliki masyarakat sebagai
penganut adat daerah yang cukup kuat. Tidak seperti masyarakat yang tinggal di
daerah perumahan dimana masyarakatnya sudah cenderung modern dan biasanya
menganggap adat daerah bukan hal yang penting.
E. Alat Pengumpulan Data dan Pertanggung Jawaban Mutu
1. Alat Pengumpulan Data
Pengumpulan data akan dilakukan dengan metode kuesioner. Pembagian
kuesioner bertujuan untuk memperoleh data yang dapat mengungkap fakta dan
kebenaran dari apa yang dialami oleh subyek. Kuesioner adalah suatu
penyelidikan mengenai suatu masalah yang umumnya banyak menyangkut
kepentingan umum (orang banyak), dilakukan dengan jalan mengedarkan daftar
pertanyaan secara tertulis kepada sejumlah subyek untuk mendapatkan jawaban
atau tanggapan (respon) tertulis seperlunya. Kuesioner merupakan metode
pengumpulan data yang digunakan untuk mengungkap prasangka, harapan, opini,
rasa tertekan, frustasi, dan lain-lain (Kartono, 1980).
Pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam kuesioner berupa pertanyaan
langsung yang terarah kepada informasi mengenai data yang hendak diungkap.
ini berkaitan dengan asumsi dasar penggunaan kuesioner, yaitu bahwa subyek
merupakan orang yang paling mengerti tentang dirinya sendiri (Azwar, 1999).
Jenis kuesioner yang akan digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner
tanpa skala (non-scaled questionnaire). Pertanyaan yang diberikan merupakan
pertanyaan terbuka (open-ended question), sehingga subyek memiliki kebebasan
dalam menjawab setiap pertanyaan yang diberikan.
Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner akan disusun dan
disesuaikan dengan apa yang akan diungkap, yaitu problem-problem yang
muncul dalam penyesuaian sosial. Pertanyaan-pertanyaan yang dipergunakan
dalam kuesioner diharapkan dapat mengungkap hal-hal yang berhubungan
dengan: perbedaan bahasa, perbedaan perilaku/kebiasaan, prasangka, dan
diskriminasi. Kuesioner tersebut diharapkan dapat mengungkapkan
problem-problem yang muncul dalam proses penyesuaian sosial yang dihadapi oleh
mahasiswa/i baru dan melanjutkan studi di Yogyakarta. Seluruh jawaban yang
didapatkan melalui kuesioner tersebut kemudian akan diolah agar dapat
33
Tabel 1
Distribusi Item
No Aspek Pertanyaan Jumlah
1 Perbedaan bahasa
1.Apakah Anda mengalami hambatan dalam berkomunikasi dengan masyarakat setempat? 2.Kesulitan apa saja yang Anda alami ketika
berkomunikasi dengan masyarakat setempat? 3.Apakah Anda mengerti apabila masyarakat
setempat berbicara kepada Anda dengan menggunakan bahasa Jawa?
4.Seberapa sering masyarakat menggunakan bahasa tersebut dalam berkomunikasi dengan Anda?
5.Bahasa apa yang paling sering digunakan oleh masyarakat setempat ketika berkomunikasi dengan Anda?
6.Apakah masyarakat setempat tidak suka bila Anda menggunakan bahasa daerah Anda? 7.Apakah Anda pernah mendapat teguran saat
menggunakan bahasa daerah Anda di Yogyakarta? Mengapa?
8.Apakah masyarakat setempat lebih menghargai bila Anda berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Jawa? Mengapa?
9.Apakah Anda dianggap sebagai anggota kelompok tertentu karena bahasa yang Anda gunakan?
10.Apakah Anda dituntut untuk menggunakan bahasa Jawa saat berkomunikasi oleh masyarakat setempat?
2 Perbedaan perilaku/ kebiasaan
1.Apakah cita rasa makanan/masakan yang ada di Yogyakarta tidak sesuai dengan Anda?
2.Apakah Anda merasa nyaman dengan cara/gaya berpakaian yang berlaku di Yogyakarta?
3.Apakah Anda pernah mendapat teguran mengenai cara/gaya berpakaian Anda?
Apa alasannya?
4.Apakah cara/gaya berbicara Anda tidak dibenarkan/diterima oleh masyarakat setempat?
5.Apakah Anda sering mendapat teguran karena melanggar kebiasaan yang berlaku di masyarakat setempat? Teguran dan kebiasaan apa?
6.Apakah Anda mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang berlaku di Yogyakarta? Seberapa sering Anda mengalaminya?
7.Apakah menurut Anda jam malam yang berlaku secara umum saat ini (pk. 21.00 WIB) terlalu awal?
8.Apakah perilaku Anda sering kali tidak dibenarkan oleh masyarakat setempat? Perilaku yang bagaimana?
9.Apakah Anda merasa sulit untuk diterima oleh masyarakat setempat karena memiliki perilaku/kebiasaan yang berbeda?
10.Hal-hal apa saja (yang bertentangan mengenai kebiasaan) yang berlaku di daerah asal Anda
35
namun tidak berlaku di Yogyakarta?
3 Prasangka 1.Apakah Anda mendapat sikap negatif dari masyarakat setempat? Sikap yang bagaimana? 2.Apakah Anda selalu dipandang negatif karena berasal dari luar Yogyakarta oleh masyarakat setempat?
3.Apakah masyarakat setempat tidak menyukai pendatang?
4.Apakah Anda sering/pernah mendapat sebutan (negatif) tertentu karena berasal dari daerah tertentu? Sebutan apa yang Anda dapatkan? 5.Apakah masyarakat setempat selalu mencurigai
pendatang dalam banyak hal?
6.Apakah Anda dianggap sebagai pendatang karena berasal dari daerah tertentu?
7.Apakah anda sering dianggap sebagai orang asing yang mengganggu oleh masyarakat setempat? Jelaskan!
8.Apakah Anda sering menjadi tersangka bila ada kasus kehilangan oleh masyarakat setempat?
9.Apakah masyarakat setempat sering mengejek/menghina suku/ras pendatang?
10.Apakah Anda pernah dianggap memiliki sifat yang tidak baik karena berasal dari daerah tertentu? Sifat seperti apa?
10
4 Diskriminasi 1.Apakah Anda mengalami perlakuan berbeda dari masyarakat setempat? Apa saja yang Anda alami?
2.Apakah Anda sering dijauhi oleh masyarakat 10
setempat?
3.Apakah sebagai pendatang, Anda sering tidak dihargai oleh masyarakat setempat?
4.Apakah Anda sering mendapat perlakuan tidak ramah dari masyarakat setempat?
5.Apakah Anda mendapat perlakuan tidak adil dari masyarakat setempat? Seperti apa?
6.Apakah Anda tidak diterima oleh masyarakat setempat sebagai pendatang?
7.Apakah Anda sering kali tidak dilibatkan dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh masyarakat setempat? Mengapa?
8.Apakah Anda mendapat perlakuan kasar dari masyarakat setempat?
9.Apakah Anda merasa dipersulit oleh masyarakat setempat dalam bersosialisasi?
10.Apakah Anda mengalami kesulitan ketika menghadapi aparat desa? Kesulitan seperti apa?
TOTAL 40
2. Pertanggung jawaban mutu
a. Validitas
Validitas berasal dari kata validity yang memiliki arti
ketepatan suatu instrument pengukur (tes) dalam melakukan fungsi
ukurnya (Azwar, 1996). Suatu alat pengukur dikatakan valid, jika alat itu
37
Penelitian ini menggunakan validasi isi. Validasi isi merupakan
validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis
rasional atau lewat professional judgement. Pertanyaan yang dicari
jawabannya dalam validitas isi adalah sejauh mana item-item tes
mewakili komponen-komponen dalam dalam keseluruhan kawasan isi
obyek yang hendak diukur dan sejauh mana item-item mencerminkan ciri
perilaku yang hendak diukur (Azwar, 1999). Validitas ini, dimaksudkan
bahwa bahan yang diuji relevan dengan kemampuan, pengetahuan,
pelajaran, pengalaman atau latar belakang subyek (Nasution, 1982).
Validitas isi memiliki dua tipe, yaitu: validitas muka dan validitas
logis. Validitas muka diselidiki dengan cara meminta seseorang, mulai
dari pakar sampai subyek yang dites itu sendiri, memeriksa dan
menyimpulkan apakah pertanyaan-pertanyaan yang digunakan memberi
kesan mengukur sifat yang mau diukur (Supratiknya, 1998). Uji validitas
muka dilakukan dengan cara melakukan wawancara singkat kepada
beberapa subyek untuk menanyakan apakah kuesioner yang digunakan
mampu mengungkap apa yang ingin diukur dalam penelitian ini. Hasil
yang didapat adalah bahwa subyek-subyek tersebut menyatakan bahwa
kuesioner telah memberikan kesan mampu mengukur apa yang ingin
diukkur. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa validitas muka telah
terpenuhi.
Sedangkan validitas logis dilaksanakan dengan merumuskan apa
penting dari penelitian dan pihak yang berkompeten/professional
judgement akan menganalisis secara rasional apakah item-item tersebut
telah mencerminkan wilayah penting dari penelitian tersebut (Azwar,
1999). Uji validitas logis dilakukan dengan cara mengajukan kuesioner
yang akan digunakan kepada Dr. A. Supratiknya selaku professional
judgement untuk menilai apakah item-item yang ada telah mencakup
semua aspek yang digunakan dalam penelitian. Kuesioner tersebut telah
dinyatakan memenuhi kriteria sehingga dapat dikatakan valid.
b. Reliabilitas
Reliabilitas mengacu pada konsistensi atau kepercayaan hasil
ukur, yang mengandung makna kecermatan pengukuran. Pengukuran
yang tidak reliabel akan menunjukkan hasil penelitiann yang tidak dapat
dipercaya (Azwar, 1999). Teknik reliabilitas yang digunakan dalam
penelitian ini adalah teknik ulangan (test-retest). Dalam teknik ulangan,
alat pengukuran yang sama digunakan pada sejumlah subyek yang sama
pada saat yang berbeda dan dalam kondisi pengukuran yang relatif sama.
Teknik ini juga mengasumsikan bahwa gejala yang diukur tidak berubah
selama tenggang waktu pengukuran pertama dan pengukuran yang kedua
(Hadi, 2004).
Pengambilan data pertama dilakukan pada bulan April, dan
pengambilan data ke-2 dilakukan satu bulan kemudian kepada beberapa
39
saat pengambilan data pertama dan kedua dapat memberikan bukti
mengenai reliabilitas. Apabila jawaban subyek sama atau tidak jauh beda
antara pengambilan pertama dan kedua maka dapat dikatakan reliabilitas
telah tercapai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum
jawaban subyek dalam dua kali pengambilan data relatif konsisten. Oleh
karena itu dapat dikatakan bahwa reliabilitas dalam penelitian ini bisa
dipertanggungjawabkan.
F. Analisis Data
Data hasil penelitian ini akan dianalisis dengan menggunakan pendekatan
kuantitatif. Analisis kuantitatif akan melalui dua tahap. Tahap pertama adalah
mengkoding dan mengkategorisasikan semua jawaban yang telah didapat. Tahap
kedua adalah menghitung frekuensi dan prosentasenya
Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam menganalisis data.
Langkah-langkah tersebut adalah:
1. Mengkoding jawaban. Koding akan didasarkan pada jawaban yang
diberikan responden dalam menjawab soal-soal mengenai
problem-problem dalam proses penyesuaian sosial.
2. Membuat kategorisasi berdasarkan koding yang telah dibuat.
3. Menghitung frekuensi dan prosentase.
4. Membuat diagram untuk memudahkan melihat prosentase per kategori
5. Menganalisis data untuk mendapatkan gambaran secara utuh sehingga
pertanyaan dalam penelitian dapat terjawab.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan
Penelitian dilakukan dengan cara membagikan kuesioner sebagai alat pengumpul data kepada subyek penelitian yang telah ditentukan sebelumnya sesuai dengan kebutuhan. Subyek penelitian ini adalah seluruh mahasiswa/i pendatang angkatan 2007 Fakultas Psikologi, yang tinggal/kost di daerah perkampungan dan bukan daerah perumahan.
Proses penelitian dilaksanakan pada hari Selasa, 1 April 2008 dan Rabu, 2 April 2008. Lokasi penelitian bertempat di Fakultas Psikologi, Kampus III Universitas Sanata Dharma, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kuesioner dibagikan kepada seluruh subyek yang berjumlah 74 orang, dan kuesioner tersebut kembali dengan jumlah yang sama setelah diisi.
B. Prosedur Pengolahan Data
Pengolahan data yang dilakukan melalui beberapa tahap. Tahap yang dilakukan adalah:
1. membuat koding atas jawaban yang telah diberikan oleh subyek
2. mengelompokkan jawaban subyek yang telah dikoding ke dalam kategori-kategori yang muncul
3. menghitung prosentase dari setiap frekuensi kategori jawaban yang ada dengan rumus:
×100% ΣN
N
N = jumlah jawaban subyek setiap kategori ∑N = jumlah seluruh subyek
C. Deskripsi Hasil Penelitian
Data yang diperlukan diambil dengan cara membagikan kuesioner kepada subyek penelitian. Subyek penelitian yang digunakan adalah para mahasiswa/i baru (tanpa memandang perbedaan jenis kelamin) yang berasal dari luar Yogyakarta, karena mereka memiliki perbedaan kebudayaan yang cukup kentara dengan kebudayaan yang berlaku di Yogyakarta. Mahasiswa yang masuk dalam kategori baru adalah mereka yang belum cukup lama (< 1 tahun) tinggal di Yogyakarta.
Kuesioner yang telah diisi akan menyajikan data mentah yang akan diolah untuk dianalisis. Langkah pertama adalah proses koding. Setelah data dikoding, maka akan dikelompokkan ke dalam kategori-kategori yang muncul dari jawaban subyek. Langkah berikutnya adalah menghitung besarnya prosentase dengan rumus yang telah ditentukan.
43
Berikut penjabaran tabel ringkasan kategorisasi beserta perhitungan prosentasenya:
1. Bahasa
Tabel 2
Ringkasan kategorisasi item 1
Bahasa yang digunakan masyarakat setempat dalam berkomunikasi: Kategori jawaban Frekuensi %
Indonesia 32 43 Jawa 23 31 Keduanya 19 26 Jumlah 74 100 Diagram 1 Item 1 43% 31% 26% Indonesia Jaw a Keduanya
Dari tabel 2 dapat dilihat dari 74 jawaban mahasiswa/i, sebanyak 32 mahasiswa (43%) menjawab menggunakan bahasa Indonesia, 23 mahasiswa (31%) menjawab penggunaan bahasa Jawa, sisanya 19 mahasiswa (26%) menjawab menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa ketika masyarakat berkomunikasi dengan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa lebih banyak masyarakat yang menggunakan bahasa Indonesia saat berkomunikasi dengan mahasiswa pendatang.
Tabel 3
Ringkasan kategorisasi item 2
Intensitas masyarakat menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan pendatang:
Kategori jawaban Frekuensi %
Jarang 24 32 Kadang-kadang 14 19 Sering 36 49 Jumlah 74 100 Diagram 2 Item 2 32% 19% 49% Jarang Kadang-kadang Sering
Dari tabel 3 terlihat bahwa 24 mahasiswa (32%) menjawab masyarakat jarang menggunakan bahasa Jawa saat berbicara dengan mereka, 14 mahasiswa (19%) merasa masyarakat hanya kadang-kadang saja menggunakan bahasa Jawa, sedangkan 36 mahasiswa (49%) menjawab masyarakat sering menggunakannya. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat lebih sering menggunakan bahasa Jawa saat berkomunikasi dengan mahasiswa pendatang.
Tabel 4
Ringkasan kategorisasi item 7
Kemampuan mahasiswa/i pendatang dalam mengerti/memahami ketika masyarakat menggunakan bahasa Jawa:
Kategori jawaban Frekuensi %
Mampu 34 46
Cukup 12 16
Sedikit/tidak mampu 28 38
45 Diagram 3 Item 7 46% 16% 38% Mampu Cukup Sedikit/tidak mampu
Dari tabel 4 dapat dilihat bahwa 34 mahasiswa (46%) mampu mangerti/memahami, 12 mahasiswa (16%) cukup memahami dan 28 mahasiswa (38%) hanya sedikit memahami atau bahkan tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh masyarakat setempat ketika berkomunikasi. Hal itu menunjukkan bahwa cukup banyak mahasiswa yang mampu untuk mengerti/memahami pembicaraan yang mereka lakukan ketika berkomunikasi dengan masyarakat setempat.
Tabel 5
Ringkasan kategorisasi item 8
Apakah Anda mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan masyarakat sekitar?
Kategori jawaban Frekuensi % Tidak ada 39 53 Ada 35 47 Jumlah 74 100 Diagram 4 Item 8 53% 47% Tidak ada Ada
Dari tabel 5, dapat dilihat bahwa 39 mahasiswa (53%) menyatakan mereka tidak mengalami kesulitan saat berkomunikasi dengan masyarakat sekitar, dan 35 mahasiswa (47%) merasa tidak mengalami kesulitan ketika berkomunikasi. Hal tersebut menunjukan bahwa lebih banyak mahasiswa yang merasa tidak mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan masyarakat setempat, meski tidak sedikit pula mahasiswa yang mengalami kesulitan.
Tabel 6
Ringkasan kategorisasi item 9
Hambatan dalam berkomunikasi dengan masyarakat setempat: Kategori jawaban Frekuensi % Tidak ada 39 53 Perbedaan bahasa 20 27 Kurangnya interaksi 7 9 Perasaan asing 8 11 Jumlah 74 100 Diagram 5 Item 9 53% 27% 9% 11% Tidak ada Perbedaan bahasa Kurangnya interaksi Perasaan asing
Dari tabel 6, nampak bahwa sebanyak 39 mahasiswa (53%) tidak menemui hambatan dalam berkomunikasi, 20 mahasiswa (27%) merasa menghadapi masalah perbedaan bahasa yang menghambat komunikasi mereka. Interaksi yang kurang juga dapat menghambat komunikasi, hal
47
itu disampaikan oleh 7 mahasiswa (9%), sedangkan 8 mahasiswa (11%) sisanya merasa munculnya perasaan asing sebagai penghambat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lebih banyak mahasiswa yang tidak menemui hambatan dalam berkomunikasi dengan masyarakat setempat.
Tabel 7
Ringkasan kategorisasi item 19
Apakah mahasiswa pendatang mendapat teguran ketika menggunakan bahasa daerah oleh masyarakat sekitar? Mengapa?
Kategori jawaban Frekuensi % Tidak, pendatang berusaha menyesuaikan
bahasa yang digunakan
40 54 Tidak, masyarakat menerima perbedaan
bahasa
23 31 Ya, masyarakat tidak mau menerima bahasa
pendatang 11 15 Jumlah 74 100 Diagram 6 Item 19 54% 31% 15% Tidak, pendatang menyesuaikan bahasa yang digunakan Tidak, masyarakat menerima perbedaan bahasa Ya, masyarakat tidak menerima bahasa pendatang
Dari tabel 7, nampak 40 mahasiswa (54%) menyesuaikan bahasa yang digunakan masyarakat saat berbicara sehingga tidak mendapatkan teguran, 23 mahasiswa (31%) menyatakan masyarakat menerima perbedaan bahasa pendatang, sehingga tidak mempermasalahkannya. Selain itu 11 mahasiswa (15%) merasa masyarakat tidak mau menerima perbedaan bahasa dan hal itu menyebabkan adanya teguran ketika pendatang menggunakan bahasa daerahnya. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa lebih banyak mahasiswa yang dapat menyesuaikan penggunaan bahasa ketika berkomunikasi.
Tabel 8
Ringkasan kategorisasi item 20
Apakah masyarakat lebih suka bila pendatang menggunakan bahasa Jawa ketika berbicara? Mengapa?
Kategori jawaban Frekuensi % Ya, masyarakat merasa dihargai 25 34 Ya, komunikasi lebih lancar 9 12 Tidak, masyarakat menerima dengan
terbuka 49 54 Jumlah 74 100 Diagram 7 Item 20 30% 11% 59% Ya, masyarakat merasa dihargai Ya, komunikasi lebih lancar Tidak, masyarakat menerima dengan terbuka
Dari tabel 8, terlihat bahwa 25 mahasiswa (34%) menjawab bahwa masyarakat lebih suka bila pendatang mau menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan alasan mereka merasa lebih dihargai, dan 9 mahasiswa (12%) menjawab komunikasi akan lebih lancar dengan bahasa Jawa. Sedangkan 49 mahasiswa (54%) menjawab bahwa masyarakat tidak mempermasalahkan ketidakmampuan mahasiswa pendatang untuk berbicara dengan bahasa Jawa. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat mau menerima pendatang walaupun para pendatang tidak mampu menguasai bahasa Jawa.
49
Tabel 9
Ringkasan kategorisasi item 25
Apakah pendatang dianggap sebagai anggota kelompok tertentu karena bahasa yang digunakannya oleh masyarakat?
Kategori jawaban Frekuensi %
Ya 7 9 Tidak 67 91 Jumlah 74 100 Diagram 8 Item 25 9% 91% Ya Tidak
Dari tabel 9, terlihat bahwa sebanyak 7 mahasiswa (9%) merasa bahwa pendatang dianggap sebagai anggota kelompok tertentu karena bahasa yang mereka gunakan, dan 67 mahasiswa (91%) merasa tidak dianggap seperti itu oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa mahasiswa pendatang tidak dianggap sebagai anggota kelompok tertentu karena bahasa yang mereka gunakan oleh masyarakat.
Tabel 10
Ringkasan kategorisasi item 33
Apakah pendatang dituntut untuk menggunakan bahasa Jawa saat berkomunikasi dengan penduduk setempat? Apa alasannya?
Kategori jawaban Frekuensi % Ya, agar pendatang dapat beradaptasi 3 4 Tidak, kurangnya komunikasi 4 5 Tidak, masyarakat dan pendatang
saling memahami 28 38 Tidak, masyarakat menerima
perbedaan 39 53
Diagram 9 Item 33 4% 5% 38% 53% Ya, agar pendatang dapat beradaptasi Tidak, kurangnya komunikasi Tidak, masyarakat dan pendatang saling memahami Tidak, masyarakat menerima perbedaan
Dari tabel 10, dapat dilihat bahwa 3 mahasiswa (4%) menyatakan bahwa masyarakat menuntut pendatang untuk menguasai bahasa Jawa agar dapat beradaptasi. Di lain pihak, 4 mahasiswa (5%) menjawab bahwa masyarakat tidak menuntut pendatang karena mereka sangat jarang berkomunikasi satu sama lain. Sedangkan 28 mahasiswa (38%) menyatakan alasan pendatang dan masyarakat saling memahami. Dan sebanyak 39 mahasiswa (53%) merasa bahwa masyarakat menerima pendatang dengan perbedaan bahasa yang ada sehingga tidak diperlukan adanya tuntutan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendatang merasa bahwa mereka diterima oleh masyarakat tanpa tuntutan menguasai bahasa Jawa.
Tabel 11
Ringkasan kategorisasi item 34
Apakah masyarakat setempat menggunakan bahasa Jawa ketika berkomunikasi dengan pendatang? Apa alasannya?
Kategori jawaban Frekuensi % Ya, memperlancar komunikasi 15 20 Ya, pendatang berusaha menggunakan
bahasa Jawa 19 26 Tidak, masyarakat menerima
perbedaan 30 41
Tidak, kurangnya interaksi 10 13
51 Diagram 10 Item 34 20% 26% 40% 14% Ya, memperlancar komunikasi Ya, pendatang berusaha menggunakan bahasa Jaw a Tidak, masyarakat menerima perbedaan Tidak, kurangnya interaksi
Dari tabel 11, nampak 15 mahasiswa (20%) menyatakan masyarakat menggunakan bahasa Jawa saat berkomunikasi untuk memperlancar komunikasi dengan pendatang dan 19 mahasiswa (26%) menggunakan bahasa Jawa karena pendatang mau menggunakan bahasa Jawa. Sedangkan 30 mahasiswa (41%) menjawab, masyarakat tidak menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan alasan menghargai perbedaan bahasa dan 10 mahasiswa (13%) menyatakan