BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Penyesuaian sosial
1. Pengertian Penyesuaian Sosial
Menurut Salim (1998) penyesuaian sosial adalah proses penyesuaian diri
seseorang dengan lingkungan sosialnya sehingga ia dapat hidup dan berfungsi
dengan baik di lingkungannya. Mu’tadin (2002) mengatakan, setiap individu
hidup di dalam masyarakat. Di dalam masyarakat tersebut terdapat proses saling
mempengaruhi satu sama lain silih berganti. Dari proses tersebut timbul suatu
pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai dengan sejumlah aturan, hukum, adat,
dan nilai-nilai yang mereka patuhi, demi untuk mencapai penyelesaian bagi
persoalan-persoalan hidup sehari-hari. Proses ini dikenal dengan proses
penyesuaian sosial.
Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu
hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan tersebut
mencakup hubungan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, keluarga,
sekolah, teman atau masyarakat luas secara umum. Dalam hal ini individu dan
masyarakat sebenarnya sama-sama memberikan dampak bagi komunitas.
sementara masyarakat diperkaya oleh karya yang diberikan oleh sang individu
(Mu’tadin, 2002).
Mu’tadin juga mengungkapkan bahwa apa yang diserap atau dipelajari
individu dalam proses interaksi dengan masyarakat masih belum cukup untuk
menyempurnakan penyesuaian sosial yang memungkinkan individu untuk
mencapai penyesuaian pribadi dan sosial dengan cukup baik. Proses penyesuaian
sosial mencakup kemauan individu untuk mematuhi norma-norma dan peraturan
sosial kemasyarakatan. Setiap masyarakat biasanya memiliki aturan yang
tersusun denga sejumlah ketentuan atau norma atau nilai-nilai tertentu yang
mengatur hubungan individu dengan kelompok. Dalam proses penyesuaian
sosial, individu mulai berkenalan dengan kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan
yang ada lalu mematuhinya sehingga menjadi bagian dari dirinya dan agar
individu dapat berperilaku sesuai dengan pola tingkah laku kelompok.
Schneiders (1964) mendefinisikan penyesuaian sosial sebagai
kemampuan individu untuk bereaksi seefektif mungkin untuk mencapai
keseimbangan terhadap kenyataan dan situasi sosial. Individu mempunyai
penyesuaian yang baik bila mampu menyesuaikan diri dalam lingkungan
keluarga, pendidikan, atau masyarkat.
Penyesuaian sosial juga diartikan sebagai keberhasilan seseorang untuk
menyesuaikan diri terhadap orang lain dan terhadap kelompok. Artinya
bagaimana usaha individu tersebut untuk hidup dan bergaul dengan orang lain
serta hidup di dalam kelompok masyarakat, di mana dalam kelompok tersebut
11
usaha untuk menciptakan situasi dan kondisi yang serasi antara seorang individu
dengan individu lainnya atau seseorang dengan masyarakat sekitarnya sehingga
terjadi hubungan yang berbentuk timbal balik yag harmonis antara keduanya.
Menurut Gerungan (1986) penyesuaian sosial adalah perilaku mengubah
diri sendiri sesuai dengan keadaan lingkungan tanpa menimbulkan
konflik-konflik yang berarti. Dalam hal ini individu harus mampu menyesuaikan diri
dengan lingkungan sekitar sehingga keberadaannya dapat diterima.
Jadi penyesuaian sosial merupakan kemampuan individu dalam berusaha
untuk bertingkah laku tepat, untuk hidup, bergaul, dan berinteraksi pada
lingkungan sosial sesuai dengan norma-norma, aturan-aturan yang berlaku dalam
lingkungan sosialnya, serta memenuhi tuntutan yang ada dalam masyarakat agar
dapat diterima di lingkungan tersebut. Dan merupkan proses memahami
mengenai apa yang diinginkan individu ataupun lingkungan sosialnya.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi Penyesuaian Sosial
a. Faktor internal/dari dalam diri individu (Schneider, 1964)
Terdiri dari: (1) Kondisi fisik: berkaitan dengan penampilan fisik,
penampilan yang menarik cenderung dapat membuat seseorang lebih
mudah untuk bergaul dan diterima dalam pergaulan sehingga lebih mudah
menyesuaikan diri. (2) Perkembangan intelektual: berkaitan dengan
kestabilan emosi, kemampuan untuk bertindak untuk mencapai tujuan,
berpikir rasional, dan untuk berhubungan dengan lingkungan sosial secara
b. Keluarga (Hurlock, 1991)
Berupa perilaku yang muncul karena adanya bimbingan orang tua
atau timbul karena adanya perilaku meniru dari orang tua atau orang
dewasa lainnya dalam proses belajar.
c. Lingkungan masyarakat
Lingkungan mempengaruhi perilaku individu dengan adanya
budaya, aturan/norma yang berlaku. Salah satu kesulitan yang dihadapi
individu dalam mempelajari perilaku sosial adalah bahwa setiap
kelompok memiliki normanya sendiri mengenai hal-hal yang dapat
diterima dan tidak dapat diterima dalam kebudayaannya.
Kebudayaan merupakan: (1) hasil kegiatan dan penciptaan
manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat-istiadat; (2) hasil berpikir
atau akal budi yang didapat dari alam sekeliling yang digunakan untuk
kesejahteraan manusia (Salim,1998). Matsumoto (2004) mendefinisikan
budaya sebagai sebuah konstruk sosiopsikologis, suatu kesamaan dalam
sekelompok orang dalam fenomena psikologis seperti nilai, sikap,
keyakinan dan perilaku. Budaya juga didefinisikan sebagai tatanan
pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki,
agama, waktu, peranan, hubungan ruang, konsep alam semesta,
objek-objek materi dan milik yang diperoleh sekelompok orang dari generasi ke
13
Nilai-nilai budaya yang mempengaruhi pola pikir dan perilaku
termasuk penyesuaian sosialnya. Salah satu kesulitan yang dihadapi
individu dalam mempelajari perilaku sosial yang dapat diterima
msyarakat adalah bahwa setiap budaya dalam masyarakat memiliki
ketentuan sendiri mengenai apa yang dapat diterima atau tidak oleh
masyarakatnya. Dan masyarakat itu sendiri menentukan standar perilaku
sosial yang dapat diterima atau tidak dapat diterima.
3. Problem-problem Penyesuaian Sosial
Proses penyesuaian sosial dapat terjadi dengan mudah bila kebudayaan
yang satu dapat menyesuaikan dengan kebudayaan lainnya, namun tidak semua
perbedaan kebudayaan yang ada dapat disesuaikan dengan mudahnya.
Perbedaan-perbedaan pada setiap kebudayaan dapat menimbulkan
problem-problem dalam proses penyesuian sosial. Menurut Kartono & Gulo (1987)
problem dapat diartikan sebagai suatu situasi yang sulit untuk dipahami dan
memerlukan pemecahan untuk menyelesaikannya.
Problem-problem yang muncul dalam proses penyesuaian sosial yang
harus dihadapi oleh para pendatang tentu juga memerlukan penyelesaian agar
proses tersebut dapat terlaksana. Lewat komunikasi kita menyesuaikan diri dan
berhubungan dengan lingkungan kita (Samovar & Porter, 1982). Bahasa
merupakan sarana komunikasi yang digunakan saat berinterkasi dengan orang
lain. Melalui bahasa, budaya diturunkan dari generasi ke generasi. Para
berinteraksi dan memahami budaya setempat yang berlaku. Masalah akan timbul
apabila interaksi yang terjadi menggunakan bahasa yang berbeda, seperti yang
dialami oleh para pendatang. Perbedaan bahasa akan menghambat proses
pemahaman antar individu yang berperan di dalamnya (Matsumoto, 2004).
Menurut Berry, Poortinga, Segall, dan Dasen (1999) hubungan/interaksi
antar individu yang memiliki perbedaan budaya dalam suatu kelompok
masyarakat dapat mengacu pada sikap kategorisasi/diskriminasi pada individu
lain yang bukan merupakan anggota kelompoknya. Setiap anggota kelompok
merasa harus melestarikan kebiasaan atau budayanya agar selalu dianggap ada.
Namun disisi lain hal tersebut akan membuat anggota kelompok lain akan
menganggap adanya perbedaan diantara mereka sehingga mereka akan memberi
perlakuan yang berbeda pada individu yang bukan anggota kelompoknya.
Berry, Poortinga, Segall, dan Dasen (1999) juga menambahkan
munculnya prasangka dari kelompok satu yang ditujukan pada kelompok lain
yang memiliki perbedaan pandangan atau kebudayaan. Keyakinan yang tertanam
dalam pola pikiran setiap individu akan membuat individu tersebut merasa selalu
waspada terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan pola pikir tersebut.
Kewaspadaan yang dimiliki tersebut dapat mengambat sistem interaksi dengan
individu lain yang memiliki perbedaan dengannya.
Perbedaan bahasa, perbedaan perilaku/kebiasaan tentu dapat menghambat
proses tersebut. Selain itu adanya pandangan-pandangan negatif mengenai
kebudayaan lain juga dapat menimbulkan problem-problem seperti prasangka,
15
a. Perbedaan Bahasa
Bahasa adalah sarana utama untuk berkomunikasi dengan orang lain dan
menyimpan informasi. Bahasa juga merupakan sarana utama dalam pewarisan
budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bahkan, tanpa bahasa, budaya
sebagaimana yang kita kenal tidak akan ada. Bahasa yang satu dapat sangat
berbeda dengan bahasa yang lain, dan perbedaan-perbedaan ini terkait dengan
beberapa perbedaan-perbedaan penting dalam kebiasaan dan perilaku pada
budaya yang menaungi bahasa tersebut (Matsumoto, 2004).
Para pendatang yang ingin menyesuaikan diri biasanya akan mengalami
kesulitan karena adanya perbedaan bahasa. Mereka akan sulit memahami
kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat apabila tidak memahami bahasa yang
berlaku, karena sarana utama untuk berkomunikasi adalah bahasa. Matsumoto
(2004) juga mengatakan, pemahaman kita mengenai bahasa dan hubungannya
dengan perilaku dan budaya menjadi hal yang penting. Dalam era globalisasi
seperti sekarang ini, pengetahuan mengenai lebih dari satu bahasa menjadi alat
yang vital dalam memahami dan berkomunikasi dengan orang dari budaya lain.
Samovar & Porter (1982) mengungkapkan, lewat komunikasi kita
menyesuaikan diri dan berhubungan dengan lingkungan kita, serta mendapatkan
keanggotaan dan rasa memiliki dalam berbagai kelompok sosial yang
mempengaruhi kita. Proses komunikasi menjadi faktor yang cukup penting dalam
penyesuaian sosial. Sebagaimana masyarakat setempat memperoleh pola
kebudayaan melalui komunikasi dari generasi sebelumnya, para pendatang juga
dalam banyak kasus, bahasa yang digunakan sebagai sarana komunikasi sangat
berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut sering merintangi timbulnya saling
pengertian antara para pendatang dengan masyarakat setempat.
Melalui pengalaman berkomunikasi yang terus-menerus, para pendatang
akan memperoleh kecakapan berkomunikasi yang ia butuhkan untuk menghadapi
lingkungan barunya. Kecakapan pendatang dalam berkomunikasi akan berfungsi
sebagai seperangkat alat penyesuaian sosial. Kecakapan berkomunikasi
pendatang nantinya akan mempermudah semua aspek penyesuaian dalam
masyarakat setempat (Samovar & Porter, 1982) .
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa bahasa sebagai
sarana utama dalam berkomunikasi. Para pendatang perlu berkomunikasi dengan
masyarakat setempat agar dapat memahami pola-pola kebudayaan yang berlaku
sehingga dapat menyesuaikan diri dalam proses penyesuaian sosial. Tetapi
bahasa yang digunakan dalam satu daerah dapat sangat berbeda dengan daerah
yang lainnya.
b. Perbedaan perilaku/kebiasaan
Dayakisni & Yuniardi (2004) mendefinisikan budaya sebagai seperangkat
nilai, sikap, keyakinan dan perilaku yang dimiliki oleh sekelompok orang.
Budaya ada dalam diri individu, salah satu bentuk dari budaya adalah
perilaku/kebiasaan pada individu tersebut. Setiap budaya memiliki pola perilaku
17
Individu harus dapat berperilaku sesuai dengan norma yang berlaku dalam
kelompoknya agar dapat diterima dalam masyarakat tersebut. Bila perilaku
seorang individu tidak sesuai dengan kebiasaan yang berlaku, maka individu
tersebut akan dianggap sebagai orang luar atau tidak diakui sebagai anggota
kelompok tersebut.
Para pendatang tentu memiliki pola perilaku/kebiasaan sendiri yang
berbeda dengan kebiasaan yang berlaku di Yogkakarta, karena mereka memiliki
kebudayaan yang berbeda pula. Apa yang berlaku di suatu daerah belum tentu
juga berlaku di daerah lain. Agar dapat diterima oleh masyarakat setempat, tentu
para pendatang harus mampu mengubah perilaku/kebiasaannya dan berusaha
untuk menyesuaikan dengan kebiasaan yang ada. Tetapi proses penyesuaian
tersebut dapat menimbulkan kesulitan, perilaku yang sudah melekat pada diri
individu sekian lama tentu akan sulit untuk diubah. Oleh karena itu, perbedaan
perilaku/kebiasaan juga dapat menjadi penghalang dalam proses penyesuaian
sosial yang dihadapi oleh para mahasiswa pendatang.
c. Prasangka sosial
Prasangka dapat diartikan sebagai sikap yang tidak baik dan dapat
dianggap sebagai suatu predisposisi untuk mempersepsi, berpikir, merasa dan
bertindak dengan cara-cara yang menentang atau menjauhi dan bukan
menyokong atau mendekati orang lain, terutama sebagai anggota kelompok
Prasangka adalah sebuah sikap (biasanya negatif) terhadap anggota
kelompok tertentu, semata berdasarkan keanggotaan mereka dalam kelompok
tersebut. Seseorang yang memiliki prasangka terhadap kelompok sosial tertentu
cenderung mengevaluasi anggotanya dengan cara yang sama (biasanya secara
negatif) semata karena mereka anggota kelompok tersebut. Prasangka dapat
melibatkan perasaan negatif atau emosi pada orang yang dikenai prasangka ketika
mereka hadir atau hanya dengan memikirkan anggota kelompok yang tidak
mereka sukai. Prasangka juga dapat menyebabkan munculnya kecenderungan
untuk bertingkah laku secara negatif terhadap mereka yang menjadi obyek
prasangka (Baron & Byrne, 2003).
Ahmadi (1991) mengatakan bahwa prasangka sosial adalah suatu sikap
negatif yang diperlihatkan oleh individu atau kelompok terhadap individu lain
atau kelompok lain. Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya
prasangka, diantaranya adalah:
1. Prasangka timbul karena adanya perbedaan, dimana perbedaan akan
menimbulkan perasaan superior. Perbedaan di sini dapat meliputi:
a. Perbedaan phisik/biologis, ras.
b. Perbedaan lingkungan/geografis.
c. Perbedaan kekayaan.
d. Perbedaan status sosial.
e. Perbedaan kepercayaan.
19
2. Prasangka timbul karena kesan yang menyakitkan atau pengalaman
yang tidak menyenangkan.
3. Prasangka timbul karena adanya anggapan yang sudah menjadi
pendapat umum atau kebiasaan di dalam lingkungan tertentu.
Perbedaan-perbedaan tersebut dapat menjadi penyebab timbulnya
prasangka. Individu/masyarakat biasanya hanya melihat seseorang dari apa yang
nampak dari luar untuk menilai seseorang tanpa mau mengenal pribadi orang
tersebut. Banyak orang hanya melihat phisik/ras dari individu lain untuk memberi
penilaian. Bila penilaian itu positif maka untuk selanjutnya tidak akan terjadi
masalah. Seorang individu dapat diperlakukan berbeda bila ia berasal dari
golongan tertentu. Misalnya bila masyarakat setempat memiliki pandangan bila
orang Cina itu pelit/orang Batak itu keras, meskipun mereka tidak mengenalnya
namun karena masyarakat sudah berpandangan seperti itu, maka bila mereka
melihat orang Cina/Batak akan menganggap orang itu pelit atau keras.
Di lain pihak, pengalaman juga dapat menjadi penyebab seseorang
diperlakukan berbeda. Misalkan bila seseorang medapatkan pengalaman yang
tidak menyenangkan dengan orang dari suku/ras lain. Maka bila ia bertemu
dengan orang lain yang berasal dari suku yang sama dengan orang tadi, secara
otomatis akan menganggap orang tersebut memiliki sifat yang sama dengan
orang yang membuatnya mendapat pengalaman buruk. Ia tidak akan peduli lagi
bahwa kepribadian setiap orang tidaklah sama.
Dalam prasangka setiap situasi dianggap berkaitan. Atas dasar keyakinan
dipandang/ditafsirkannya dari segi keyakinan tersebut. Akibatnya orang tidak
mau tahu terhadap kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai dengan prasangka itu.
Prasangka sosial biasanya terdiri atas sikap negatif terhadap golongan lain
dan mempengaruhi tingkah lakunya terhadap golongan manusia lain tadi.
Prasangka sosial yang pada mulanya merupakan sikap-sikap perasaan negatif itu
lambat laun dapat berubah menjadi tindakan diskriminatif terhadap orang yang
termasuk golongan yang diprasangkai itu, tanpa ada alasan-alasan obyektif yang
mendasari. Prasangka-prasangka yang timbul biasanya dapat menghambat proses
penyesuaian diri yang dilakukan seseorang (Sears, 1985).
Jadi prasangka sosial merupakan suatu sikap atau perasaan negatif yang
diperlihatkan oleh individu atau kelompok terhadap individu lain, suatu
predisposisi untuk mempersepsi, berpikir, merasa dan bertindak dengan cara-cara
yang menentang atau menjauhi dan perasaan negatif itu lambat laun dapat
berubah menjadi tindakan diskriminatif terhadap orang yang termasuk golongan
yang diprasangkai itu, tanpa ada alasan-alasan obyektif yang mendasari. Proses
penyesuaian sosial dapat terhambat bila prasangka-prasangka tersebut muncul.
d. Diskriminasi
Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara
berdasarkan perbedaan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dan lain
sebagainya (KBBI, 1998:208).
Prasangka sosial yang pada mulanya merupakan sikap-sikap perasaan
21
orang yang termasuk golongan yang diprasangkai itu, tanpa ada alasan-alasan
obyektif yang mendasari. Tindakan diskriminatif diartikan sebagai perilaku
menerima atau menolak seseorang berdasarkan (atau setidaknya dipengaruhi
oleh) keanggotaan kelompoknya (Sears, 1985). Diskriminasi merupakan tingkah
laku negatif yang ditujukan kepada anggota kelompok sosial yang menjadi obyek
prasangka (Baron & Byrne, 2003). Gerungan (1986) mendefinisikan tindakan
diskriminatif sebagai tindakan yang bercorak menghambat, merugikan, bahkan
dapat mengancam kehidupan pribadi orang hanya karena mereka termasuk dalam
golongan orang yang diprasangkai itu.
Menurut Theodorson & Theodorson (1979) diskriminasi adalah perlakuan
yang tidak seimbang terhadap perorangan, atau kelompok, berdasarkan sesuatu,
biasanya bersifat kategorikal, atau atribit-atribut khas, seperti berdasarkan ras,
suku bangsa, agama, atau keanggotaan kelas-kelas sosial. Sedangkan Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) mengemukakan diskriminasi mencakup perilaku apa saja,
yang berdasarkan perbedaan yang dibuat secara alamiah atau pengkategorian
masyarakat, yang tidak berhubungan dengan kemampuan yang dimiliki individu
yang dikenai perlakuan diskriminasi. Diskriminasi mengandung perlakuan yang
tidak sama terhadap sekelompok orang.
Jadi diskriminasi merupakan tingkah laku negatif yang yang tidak
seimbang yang ditujukan pada seseorang atau kelompok tertentu karena individu
atau kelompok tersebut merupakan bagian dari anggota masyarakat yang