• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 PERPUSTAKAAN UMUM INDONESIA DARI PERSPEKTIF

4.2 Diskursus Dalam Perpustakaan

Kesadaran saja tidak dapat menjadi kriteria keberlakuan universal sebuah norma moral. Menurut Habermas, apakah sebuah norma dapat diperlakukan secara universal hanya dapat dipastikan melalui diskursus di mana semua yang bersangkutan terlibat. Itulah inti diskursus. Diskursus adalah, perbincangan bersama di mana semua yang bersangkutan boleh ikut, tanpa ada tekanan apapun. Etika diskursus adalah metode untuk memastikan kembali arti norma-norma moral yang dipertanyakan. Etika diskursus mau menjawab pertanyaan “apa yang adil?” Habermas juga memperlihatkan bahwa orang yang betul-betul mau menemukan apa yang adil dan bersikap terbuka, artinya yang masih bersedia belajar, dan bukannya datang dengan pandangan yang sudah harga mati, dengan sendirinya akan menyetujui aturan diskursus12

Etika diskursus perlu diangkat di ranah perpustakaan dalam mencapai kesepakatan di lingkungan perpustakaan. Pustakawan tidak selayaknya menjadi anak manis yang patuh begitu saja kepada kemauan pihak penguasa/pemberi dana tanpa menggunakan dasar rasionalitas. Mestinya pustakawan mengedepankan kepentingan pengguna. Pustakawan akan mempersoalkan tindakan penyensoran di lingkungannya dengan mendasarkan pada kebebasan intelektual atau dengan mengedepankan rasa keadilan; tidak begitu saja menyerahkan bahan perpustakaan yang disensor ke pada pihak penyensor.

Diskursus antara pustakawan dan pengguna perpustakaan maupun masyarakat luas harus tercermin dalam antara lain pedoman-pedoman yang dihasilkan oleh pustakawan dipublikasikan secara luas. Misalnya pengelompokan bidang-bidang ilmu di dalam Dewey Decimal Classification, penggunaan Daftar-Daftar Tajuk Subjek, Anglo American Cataloguing Rules dan pedoman-pedoman lain hendaknya tidak hanya terbatas pada pustakawan tetapi juga dibuka kepada masyarakat untuk memberikan komentar sehingga penggunaan dari pedoman-pedoman tersebut dapat dilakukan semaksimal mungkin.

Perpustakaan umum mengedepankan diskursus sebagai sarana mencari apa yang adil; perpustakaan umum juga berfungsi sebagai tempat diskursus bukan hanya antar pengguna tetapi juga antara pengguna dengan opini / informasi yang

12

Frans Magnis-Suseno, “75 Tahun Jürgen Habermas” dalam Basis no 11-12, tahun ke 53, Nov-Des 2004 hal 10, 11

terkemas di dalam buku atau media lainnya. Kesadaran akan fungsinya sebagai tempat yang dapat memfasilitasi terjadinya diskursus antar berbagai pihak, perpustakaan bisa membantu memecahkan masalah-masalah publik, misalnya dengan menyediakan ruang diskusi, menyelenggarakan kegiatan diskusi, menyediakan sarana untuk mengakses informasi misalnya katalog & bibliografi. Dalam katalog dan bibliografi ada fungsi kolokasi artinya fungsi mengumpulkan karya dalam subjek sejenis, mengumpulkan karya-karya oleh pengarang tertentu, atau yang diterbitkan oleh suatu penerbit atau yang diterbitkan dalam tahun tertentu. Ini membantu pengguna didalam mengakses informasi secara komprehensif. Diskursus tidak langsung dapat dilakukan antara pengguna dengan buku yang nantinya akan menghasilkan tulisan baru yang kemungkinan akan ditanggapi lagi oleh si penulis buku pertama atau oleh orang lain. Para pustakawan perpustakaan umum tidak jarang karena menginginkan ketenangan di ruang perpustakaan melarang pengguna berisik di ruang perpustakaan tanpa menyadari adanya kebutuhan bagi pengguna untuk melakukan diskusi di ruang tersebut. Pustakawan seharusnya memikirkan perlunya suatu ruang diskusi yang tidak menggangu pengguna lainnya.

Perpustakaan menyediakan dan menyebarluaskan informasi yang diperlukan untuk dialog publik, menyediakan akses pada informasi ke pemerintahan dan menjadi tempat berkumpulnya komunitas untuk berbagi kepentingan dan perhatian. Dalam buku Libraries & Democracy: The Cornerstones of Liberty ditegaskan pentingnya perpustakaan di dalam mendukung demokrasi sebagai berikut

Democracies need libraries. An informed public constitutes the very foundation of a democracy; after all, democracies are about discourse— discourse among the people. If a free society is to survive, it must ensure the preservation of its records and provide free and open access to this information to all its citizens. It must ensure that citizens have the resources to develop the information literacy skills necessary to participate in the democratic process. It must allow unfettered dialogue and guarantee freedom of expression. Libraries deepen the foundation of democracy in our communities. Libraries are for everyone, everywhere. They provide

55

safe spaces for public dialogue. They disseminate information so the public can participate in the processes of governance. They provide access to government information so that the public can monitor the work of its elected officials and benefit from the data collected and distributed by public policy makers. They serve as gathering places for the community to share interests and concerns. They provide opportunities for citizens to develop the skills needed to gain access to information of all kinds and to put information to effective use. Ultimately, discourse among informed citizens assures civil society…13

Sebagai pendukung dialog publik yakni lembaga penyedia dan penyebarluasan informasi, perpustakaan melakukannya melalui 4 proses

[a] Sosialisasi yakni proses transfer informasi di antara pengguna perpustakaan melalui percakapan, diskusi; transfer dari tacit

knowledge ke tacit knowledge14.

[b] Eksternalisasi, yaitu transfer dari tacit ke explicit knowledge15. Ini terjadi ketika pengguna perpustakaan datang ke sana untuk menulis artikel, skripsi atau buku.

[c] Kombinasi merupakan transfer dari explicit knowledge ke explicit

knowledge misalnya ketika pustakawan menyusun bibliografi atau

ketika pengguna menyiapkan diri membuat tinjauan buku.

[d] Internalisasi adalah transfer dari explicit ke tacit knowledge. Misalnya, ketika pengguna perpustakaan membaca buku, jurnal atau bahan perpustakaan lainnya.

Kegiatan transfer pengetahuan tersebut difasilitasi perpustakaan dengan adanya kegiatan penyusunan katalog, bibliografi dan indeks. Kegiatan tersebut masuk di dalam kategori bibliographic control yakni kegiatan mengendalikan terbitan atau bahan terekam agar bisa diketahui keberadaannya baik entitasnya maupun lokasinya. Di tingkat nasional, kegiatan bibliographic control sebenarnya

13

Libraries & Democracy: The Cornerstones of Liberty, hal v

14

Tacit knowledge adalah pengetahuan yang ada dalam kepala manusia. Ia bersifat personal, prosedural, kacau, soft (lunak), tersimpan di otak, informal dan biasanya tentang kecakapan atau ketrampilan

15

Explicit knowledge adalah pengetahuan manusia yang berada di luar kepalanya. Bentuknya bisa berupa dokumen, buku, jurnal dan lain-lain. Sifat dari explicit knowledge adalah tercetak dalam kode-kode, deklaratif, formal dan hard

merupakan salah satu fungsi utama bagi Perpustakaan Nasional RI namun sayangnya justru fungsi yang penting ini tidak populer atau tidak dijadikan prioritas utama oleh institusi tersebut.