• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 PERPUSTAKAAN UMUM INDONESIA DARI PERSPEKTIF

4.4 Pendanaan dan Layanan Perpustakaan Umum Indonesia

Perpustakaan Umum Indonesia memang didanai oleh pemerintah namun tidak berarti bahwa pemerintah mesti harus melakukan kontrol ketat kepada perpustakaan. Di Indonesia dana perpustakaan umum diperoleh dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) maupun APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) tetapi di dalam kegiatannya perpustakaan idealnya tetap independen terhadap pemerintah maupun kekuatan-kekuatan lainnya. Cerminan dari sikap ini bisa kita lihat dari tidak adanya perlakuan deskriminatif terhadap pengguna perpustakaan. Siapa saja bisa menggunakan perpustakaan umum. Selain dari hal tersebut, di perpustakaan terdapat kebebasan di dalam kegiatan pengadaan bahan perpustakaan dan kepada siapa bahan perpustakaan dapat dipinjamkan.

Perpustakaan idealnya menjadi tempat yang memadai untuk semua pihak setiap orang bebas menyampaikan pendapatnya dalam suatu diskusi atau diskursus, tempat untuk mencapai konsensus untuk sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang melampaui kebaikan dari persepsi masing-masing peserta diskursus. Seperti diskusi yang terjadi di kedai-kedai minum yang dijelaskan Habermas, di perpustakaan hendaknya diusahakan agar kebebasan bicara, berkumpul dan

17

Ada yang menggunakan dana perpustakaan untuk keperluan di luar kegiatan perpustakaan misalnya perjalanan dinas; ada yang memanfaatkan diskon pembelian buku; menekankan pencitraan secara berlebihan dan melupakan pembelian buku; mengalihkan ke e-book dengan biaya yang sangat tinggi yang sebenarnya hanya dimanfaatkan oleh segelintir pengguna.

berpartisipasi dalam debat politik atau debat lainnya dijunjung tinggi. Perpustakaan juga berfungsi menyediakan bahan informasi sehingga masing-masing peserta diskusi benar-benar paham mengenai permasalahan yang sedang menjadi perhatian mereka. Dalam pengertian ini perpustakaan berfungsi meningkatkan kualitas pemahaman peserta diskursus dan sekaligus memperjelas bahan yang didiskursuskan.

Hikmat Darmawan18, dalam tulisannya tentang perpustakaan sebagai ruang publik menyatakan, “… perpustakaan menjadi sebuah wahana membangun kesadaran publik- sesuatu yang secara gawat sedang hilang di kehidupan bermasyarakat kita… Berpikir dalam sudut pandang publik berarti berpikir melampaui batas-batas kepentingan individu- (sebisa mungkin) tanpa mengorbankan individualitas.

Pendapat Hikmat Darmawan ini perlu diberikan catatan. Dari perspektif Habermas, RUU yang adalah produk kebijakan untuk publik tidak serta merta bersifat publik sejauh itu bukan hasil suatu diskursus yang melampaui kepentingan dari masing-masing pihak.

Jaringan perpustakaan dapat dianggap mencerminkan suatu ruang publik karena cirinya yang mirip dengan unsur-unsur ruang publik. Informasi disediakan bagi siapa saja, akses dijamin tanpa adanya biaya yang dibebankan kepada pengguna dan dilakukan kapan saja. Jaringan perpustakaan ditangani oleh pustakawan profesional yang menyediakan jasa pakar kepada pengguna sebagai jasa publik, tanpa prasangka terhadap orang-orang dan tanpa motif tersembunyi.

Masyarakat yang dilayani perpustakaan umum mempunyai hak yang sama untuk [a]memperoleh layanan serta memanfaatkan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan [b]mengusulkan keanggotaan Dewan Perpustakaan [c]mendirikan dan/atau menyelenggarakan perpustakaan [d]berperan serta dalam pengawasan dan evaluasi terhadap penyelenggaraan perpustakaan. Masyarakat di daerah terpencil, terisolasi, atau terbelakang sebagai akibat faktor geografis berhak memperoleh layanan perpustakaan yang disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan masing-masing

59

Koleksi perpustakaan diseleksi, diolah, disimpan, dilayankan, dan dikembangkan sesuai dengan kepentingan pengguna. Pengembangan koleksi perpustakaan dilakukan sesuai dengan standar nasional perpustakaan. Koleksi nasional diinventarisasi, diterbitkan dalam bentuk katalog induk nasional dan didistribusikan oleh Perpustakaan nasional. Koleksi nasional yang berada di daerah diinventarisasikan, diterbitkan dalam bentuk katalog induk daerah (KID) dan didistribusikan oleh perpustakaan umum provinsi dengan memperhatikan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi

Ciri di atas paling tidak merupakan sebagian dari ciri ruang publik sebagaimana telah diungkapkan oleh Fank Webster,

“The upshot of such developments was the formation of the bourgeois

public sphere by the mid nineteenth century with its characteristic features of open debate, critical scrutiny, full reportage, increased accessibility, and independence of actors from crude economic interest as well as from state control. “19

Ciri kepublikan dari ruang publik seperti dijelaskan di atas pantas untuk dijadikan sebagai dasar filosofis bagi kegiatan suatu perpustakaan umum.

Ruang publik terdiri atas organ-organ penyedia informasi dan perdebatan politis seperti surat kabar dan jurnal; lembaga-lembaga diskusi politis seperti parlemen, klub-klub politik, klub-klub sastra, perkumpulan-perkumpulan publik, rumah minum dan warung kopi, balaikota, dan tempat-tempat publik lainnya yang menjadi ruang terjadinya diskusi sosial politik. Perpustakaan umum seyogyanya menyediakan satu ruang khusus yang digunakan untuk berdiskusi. Fenomena yang sering terjadi di ruang baca adalah adanya meja baca dalam bentuk study carrell yang dimaksudkan untuk kebutuhan baca individual dan meja panjang yang disediakan agar para pengguna perpustakaan dapat berdiskusi. Meskipun begitu pustakawan seringkali tidak menyadari ini seperti halnya kasus di perpustakaan Perpumda DKI (Perpustakaan Umum Daerah DKI) yang selalu mengingatkan agar pengunjung tidak berisik. Tindakan yang kontradiktif dengan fungsi dari penyediaan mebeler perpustakaan tersebut.

19

Webster, Frank. Theories of The Information Society. London : Routledge, 1995 hal 103

Perpustakaan umum sebagai ruang publik dapat dipahami sebagai tempat di mana informasi dapat digali termasuk didalamnya informasi hasil perdebatan publik di DPR dan forum lainnya yang tersimpan sebagai prosiding, laporan diskusi maupun buku. Jadi di perpustakaan informasi disediakan atau disebarluaskan kepada publik pengguna perpustakaan. Atau dengan kata lain di perpustakaanlah Publik memperoleh akses terhadap informasi

…Habermas points to paradoxical features of the bourgois public sphere which led ultimately to what he calls its refeudalisation in some areas. The first centres around the continuing aggrandisement of capitalism… A second, related, expression of refeudalisation comes from changes within the system of mass communications. …The media’s function changes as they increasingly become arms of capitalist interest, shifting towards a role of public opinion former and away from that of information provider.20

Refeudalisation yang menampak pada sejarah ruang publik gejalanya

dapat dirasakan juga di dunia perpustakaan. Contoh yang paling mudah dilihat adalah eksistensi dari perpustakaan British Council, American Cultural Center yang pernah beroperasi di Indonesia yang menyediakan koleksi karya-karya hasil budaya negara masing-masing (termasuk didalamnya politik dan kebijakan negaranya), dan tidak menyajikan informasi yang berimbang bagi masyarakat pemakainya. Keadaan di atas membuat sifat kepublikan menjadi hilang karena membatasi akses pengguna dari informasi dengan cara membatasi koleksi perpustakaan hanya pada publikasi mengenai negaranya dan publikasi dari negaranya. Perpustakaan umum yang mengedepankan kepentingan pemerintah dan instansi perpustakaan sendiri melebihi kepentingan kliennya juga dapat kita kategorikan sebagai ruang iklan.

Perpustakaan umum memiliki ruang fisik yang berupa gedung perpustakaan yang kadang kala cukup megah. Di tempat tersebut segenap lapisan masyarakat baik dewasa maupun anak-anak dengan tanpa membeda-bedakan tingkat pendidikan, gender, ras bisa memanfaatkannya. Mereka bisa mengakses informasi, mendiskusikan dan berdebat tentang hal-hal yang penting dalam hidup

61

mereka. Mereka selain dapat memperoleh informasi, dapat mengembangkan pendidikannya dalam konsep pendidikan seumur hidup.

Namun dalam kenyataannya Perpustakaan umum Indonesia bukanlah gambaran ideal seperti di atas. Menurut Putu Laksman Pendit Perpustakaan Umum Indonesia adalah "lembaga pemerintah", dan sama sekali bukan tempat populer bagi anggota masyarakat untuk mendiskusikan hal-hal penting dalam hidup mereka. Selain itu, Perpustakaan Umum Indonesia sama sekali tidak berkaitan dengan "opini non-pemerintah". Sulit membayangkan pegawai-pegawai negeri yang mengelola perpustakaan umum itu memiliki visi dan misi non-pemerintah. Apalagi kemudian mereka juga tidak sepenuhnya melaksanakan fungsi-fungsi pustakawan, melainkan lebih sebagai administrator atau birokrat. Selanjutnya oleh Putu dipertanyakan kalau memang Perpustakaan Umum Indonesia bukan ruang publik, ruang apakah sebenarnya ia? Mengapa kata "umum" yang melekat di nama institusi ini tidak sertamerta dapat diartikan sebagai "publik" dalam pemikiran Habermas?21

Perpustakaan umum menyediakan pengetahuan-pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh siapa pun juga yang hendak berkunjung, namun dalam kenyatannya kebanyakan perpustakaan umum Indonesia tidak populer untuk semua lapisan, lebih mirip institusi elit atau institusi untuk anggota kelas tertentu di masyarakat.22