BAB 3 RUANG PUBLIK DAN PERPUSTAKAAN
3.1 Transformasi dan Refeodalisasi Ruang Publik
Mencermati tulisan Habermas tentang ruang publik akan membawa kita ke pemahaman lebih jelas mengenai dinamika dan arahnya. Menurut Habermas ruang publik borjuis muncul sebagai akibat dari ciri utama masyarakat kapitalis pada abad ke-18. Dengan menggunakan kekayaan dan pendidikan yang mereka
1
Lihat Webster, Frank. Theories of the Information Society. London : Routledge, 1995 hal 101
miliki, para pengusaha kapitalis mampu berjuang dan melepaskan ketergantungannya dari gereja dan negara. Pada awalnya kehidupan publik didominasi para biarawan dan pihak kerajaan di mana tata krama yang menggambarkan relasi feodal dipertontonkan dan menjadi topik perhatian sehari-hari, tetapi para kapitalis-baru berhasil meruntuhkan keadaan tersebut. Ini terjadi antara lain karena para kapitalis memberikan dukungan ekstra kepada dunia sastra - teater, kesenian, kedai-kedai kopi, novel dan kritik - dan melalui cara itu ketergantungan kepada pihak pembimbing (patron) menjadi berkurang dan memunculkan ruang yang dengan sepenuh hati melakukan kritik yang terpisah dari kekuasaan tradisional. Menurut pengamatan Habermas, di sini percakapan berubah menjadi kritik dan kata-kata indah berubah menjadi adu argumen.
Dari arah lain, muncul dukungan yang semakin kuat kepada kebebasan berbicara dan reformasi parlemen sebagai konsekuensi dari perkembangan pasar. Karena kapitalisme berkembang dan terkonsolidasi dan juga memperoleh kebebasan yang lebih besar dari negara, kapitalisme semakin meningkatkan tuntutan terhadap perubahan negara, paling tidak memperluas perwakilan guna mendapatkan kebijakan yang secara lebih efektif mendukung ekspansi ekonomi pasar. Perjuangan mereformasi parlemen, tentunya mencakup juga kebebasan pers, karena pers merupakan poros roda perjuangan reformasi, supaya kehidupan politik bisa diawasi oleh publik yang lebih luas. Sebagai contoh adalah didirikannya Hansard di abad pertengahan 18 untuk memberikan rekaman prosiding yang akurat di parlemen.
Perjuangan guna membangun surat kabar yang independen mendapat banyak rintangan dari pihak pemerintah, meskipun demikian usaha tersebut terbantu oleh biaya produksi yang relatif murah. Melalui cara-cara yang menggugah pikiran, pers pada abad ke 18 dan 19, tidak saja menyampaikan secara luas opini, tetapi dengan sepenuh hati memberitakan secara penuh kegiatan parlemen. Ini merupakan indikasi bahwa terjadi pihak-pihak yang mengkapanyekan kerjasama antara pers dan pihak-pihak yang mengkampanyekan reformasi parlemen. Yang paling penting dari gabungan kekuatan ini, tentunya, adalah matangnya oposisi politis, yang mendorong adu argumen dan debat yang
29
dibentuk melalui desakan perkembangan baru, yaitu suatu kebijakan yang bisa diterima-secara-rasional.
Hasil dari perkembangan tersebut adalah terbentuknya ruang publik borjuis pada pertengahan abad ke 19. Ciri khas dari ruang publik tersebut adalah adanya debat terbuka, kupasan kritis, reportase penuh, aksesibilitas yang semakin meningkat dan kebebasan para peserta di ruang publik dari kepentingan ekonomi dan kebebasan dari kendali negara. Habermas menekankan bahwa perjuangan untuk independen dari negara merupakan unsur pokok dari ruang publik borjuis. Ini berarti kapitalisme awal harus berhadapan dengan negara karena alasan tersebut, pokok perjuangannya adalah pers bebas, reformasi politis, dan perwakilan yang lebih besar.
Dalam analisis historisnya lebih lanjut, Habermas menunjukkan ciri-ciri paradoks ruang publik borjuis yang pada akhirnya mengarah ke refeodalisasi di sejumlah bidang. Yang pertama memusat di seputar perluasan kapitalisme lanjut. Habermas mencatat bahwa telah lama terjadi saling penyusupan antara kepemilikan privat dan ruang publik, dan ia berpendapat bahwa penyusupan condong ke arah kepemilikan privat selama dekade akhir dari abad ke 19. Seiring dengan perkembangan kekuatan dan pengaruh kapitalisme, para pendukungnya bergerak dari tuntutan reformasi menuju pengambilalihan kekuasaan negara dan menggunakan pengambilalihan kekuasaan itu untuk melanjutkan tujuan mereka.
Habermas tidak bermaksud mengatakan bahwa arah gejala ini menggambarkan secara langsung kembalinya ke epos sebelumnya. Menurut pandangannya humas dan budaya lobi-melobi merupakan bukti mencolok dari unsur-unsur penting ruang publik namun hal tersebut tidak lagi ditujukan pada usaha memperoleh pengakuan terhadap bidang di mana debat politik harus dilakukan untuk mendapatkan legitimasi. Apa yang dilakukan humas, ketika memasuki debat publik adalah menyembunyikan kepentingan yang diwakilinya (misalnya dengan menyatakan demi ‘kesejahteraan masyarakat’ atau demi ‘kepentingan nasional’), sehingga debat kontemporer tidak lain dari suatu versi palsu ruang publik. Dalam pengertian itulah Habermas mengadopsi istilah refeodalisasi, yang artinya ada indikasi tentang cara dimana masalah-masalah publik menjadi sesuatu yang ditampilkan dari kekuasaan (menggunakan cara yang
analog dengan yang digunakan kerajaan pada abad pertengahan) bukannya ruang kompetisi kebijakan–kebijakan dan aneka macam pandangan.
Yang kedua istilah refeodalisasi muncul dari perubahan-perubahan dalam sistem komunikasi massa. Perlu diingat bahwa komunikasi massa diperlukan demi efektifitas ruang publik karena media terjadinya memungkinkan penelitian dan akses luas terhadap masalah-masalah publik. Namun, selama abad ini media massa telah berkembang menjadi organisasi-organisasi monopoli kapitalis dan ketika hal itu terjadi, kontribusi utamanya sebagai penyebar informasi handal dari ruang publik menjadi hilang. Media berubah menjadi alat kepentingan kapitalis, tidak lagi sebagai penyedia informasi.
Sementara kedua ciri tersebut di atas menggambarkan penyebaran dan penguatan kekuasaan kapitalisme atas hubungan-hubungan sosial, terdapatlah sesuatu kelompok yang berusaha menggunakan negara guna mendukung ruang publik. Kelompok yang melakukan kontribusi penting pada penciptaan dan penyebaran etos jasa publik di dalam masyarakat modern. Habermas melihat bahwa sejak masa–masa awalnya ruang publik borjuis telah menyediakan ruang bagi orang-orang yang menempati suatu posisi di antara pasar dan pemerintah; yakni, antara ekonomi dan politik; khususnya para profesional seperti para akademisi, ahli-ahli hukum, para dokter dan sejumlah pegawai negeri. Masih dapat diperdebatkan bahwa ketika kapitalisme mengkonsolidasikan cengkeramannya di masyarakat yang lebih luas dan di negara itu sendiri, pada saat yang sama unsur-unsur signifikan profesi-profesi menggerakkan dukungan negara untuk menjamin agar ruang publik tidak dirusakkan oleh dominasi kapital.
Habermas menyatakan hal itu khususnya dengan penyiaran di benaknya, sambil memperlihatkan bahwa industri penyiaran publik didirikan karena kalau tidak fungsi wartawannya tidak bisa dilindungi secara memuaskan dari pelanggaran batas fungsi kapitalistiknya. Tetapi argumen bahwa yang demikian itu merupakan tendensi menuju pengambilalihan oleh kepentingan kapitalis sehingga memunculkan perlunya keterlibatan negara untuk menjamin infrastruktur informasi bagi ruang publik yang bergairah dapat diperluas untuk menjelaskan ciri dari sejumlah institusi penting, seperti perpustakaan-perpustakan umum, jasa statistik pemerintah, museum-museum dan galeri – galeri seni. Tentu
31
saja, etos layanan publik, yang dipahami sebagai harapan yang, dalam ranah informasi paling sedikit menyajikan informasi dan pengetahuan tanpa memihak dan netral kepada publik seluas mungkin, terlepas dari kemampuan orang untuk membayar, dapat dianggap sangat sesuai dengan orientasi yang sangat esensial pada pemfungsian efektif ruang publik.
Ketika kita membaca sejarah ruang publik Jürgen Habermas, mau tidak mau kita akan menyimpulkan bahwa masa depannya akan sulit. Tulisan mengenai perkembangan akhir ruang publik terasa suram: kapitalisme menjadi pemenangnya, kapasitas pemikiran kritis menjadi minimal, tidak ada ruang riil untuk ruang publik di zaman konglomerat media trans nasional dan budaya iklan yang merembes. Sejauh yang berhubungan dengan informasi, perhatian terhadap pasar yang dijadikan prioritas oleh perusahaan-perusahaan informasi berarti mendedikasikan produk mereka kepada tujuan membuat penghasilan iklan maksimum dan mendukung perusahaan kapitalis. Akibatnya, isinya antara lain: petualangan tindakan, hal-hal yang sepele, sensasionalisme, personalisasi masalah, perayaan gaya hidup kontemporer. Ini semua, dipromosikan secara intensif dan berlebihan, menarik dan menjual, tetapi kualitas informasinya tak berarti. Yang dilakukan tidak lebih (dan tidak kurang) mewajibkan subjek para pirsawannya secara halus keterarahan terhadap konsumsi secara terus menerus.
Habermas melangkah lebih jauh lagi: sementara ruang publik diperlemah oleh invansi etika iklan, ia juga dilukai secara mendalam oleh penetrasi humas. Bagi Habermas, penyusupan humas menandai ditinggalkannya kriteria rasionalitas yang dulu pernah membentuk argumen publik, kriteria rasionalitas tersebut sangat kurang di dalam konsensus yang diciptakan oleh cetakan opini yang canggih yang mereduksi kehidupan politis ke kemegahan yang gemerlapan sebelum pengikutnya yang tertipu itu siap untuk mengikuti.
Ketika merenungkan keadaannya sekarang, Habermas tak henti-hentinya nampak muram. Hak pilih bersama barangkali telah membawa masing-masing kita ke dalam ranah politik, tetapi hak pilih juga mengangkat bidang keunggulan opini melebihi kualitas argumen nalar. Lebih buruk lagi membobot hak suara tanpa menilai kevalidan isu, perluasan pada setiap orang akan hak pilih bertepatan
dengan munculnya propaganda modern, dari sinilah, kemampuan mengelola opini dalam ruang publik yang dimanufaktur2.