• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Hasil Penelitian

5.2 Diskusi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh tipe kepribadian dan self control

secara bersama-sama terhadap agresivitas. Hal ini sesuai dengan penelitian Glass

(dalam Baron & Byrne, 2005) yang menyimpulkan bahwa faktor kepribadian

berperan penting dalam perilaku agresif. Menurutnya bahwa kecenderungan

seseorang untuk berperilaku agresif dapat dilihat dari kepribadiannya. Senada dengan

teori Anderson & Bushman (2002) yang menyatakan bahwa faktor kepribadian

adalah faktor manusia yang dianggap cukup berperan dalam perilaku agresif, karena

kepribadian merupakan salah satu variabel person (variabel masukan) yang dapat

menyebabkan terjadinya perilaku agresif. Selain itu, kepribadian juga dapat

mengaktivasi konsep-konsep yang berhubungan dengan agresi di dalam memori yang

dapat mempengaruhi cognition, affect, dan arrousal yang dapat mempengaruhi hasil

akhir tingkah laku. Variabel person (kepribadian) dapat mempengaruhi kognisi

dengan membuat konsep agresi lebih mudah diakses di dalam memori. Di dalam

memori tersebut, jaringan asosiatif menghubungkan pikiran, agresi, emosi dan

kecenderungan untuk bertingkah laku. Dengan demikian individu yang memiliki sifat

agresi, sehingga konsep-konsep agresi tersebut menjadi semakin mudah untuk

diakses dan lebih siap untuk teraktivasi pada situasi lain, yang dapat membimbing

tingkah laku di masa yang akan datang.

Dalam penelitian ini, tipe kepribadian yang dimaksud adalah big five. Dimana

neuroticism, agreeableness dan conscientiousness memiliki pengaruh yang signifikan

terhadap agresivitas. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Denson,

dkk (2006) yang menunjukkan bahwa trait neuroticism, agreeableness, dan

conscientiousness dalam kepribadian big five memberikan pengaruh yang signifikan

terhadap agresivitas.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Furnham dan Saipe (1993) mengenai

hubungan antara agresi pengemudi dengan tiga model faktor (three factor model),

disimpulkan bahwa perilaku agresif berkorelasi positif dengan tipe Extraversion dan

Neuroticism dalam tiga model faktor kepribadian. Hal ini menjelaskan bahwa

perbedaan faktor (trait) menyebabkan perbedaan korelasi antara trait yang ada dengan

agresivitas sebagai dependent varibelnya. Jika dalam penelitian Furnham dan Saipe

(1993) yang berkorelasi adalah faktor extraversion dan neuroticism, maka dalam

penelitian yang dilakukan, yang berkorelasi adalah faktor neuroticism, agreeableness

dan conscientiousness. Dimana neuroticism dan agreeableness berkorelasi secara

positif dengan agresivitas. Sedangkan conscientiousness berkorelasi negatif terhadap

seseorang maka semakin tinggi tingkat agresivitasnya, namun semakin tinggi skor

conscientiousness maka semakin rendah tingkat agresivitasnya, begitupun sebaliknya.

Diteorikan (Costa & McCrae, 1997) bahwa karakteristik individu yang memiliki skor

neuroticism tinggi merupakan individu yang mudah cemas, gugup, emosional, merasa

tidak aman, merasa tidak mampu, mudah panik. Hal ini sesuai dengan teori

agresivitas (Buss dan Perry, 1992; Anderson & Bushman, 2001; Berkowitz, 1993)

yang menyatakan bahwa agresivitas merupakan kecenderungan untuk terlibat dalam

agresi fisik dan verbal, rasa permusuhan dan rasa kemarahan. Kesesuain ini juga

ditunjukkan oleh teori Geen (1998) yang menyatakan bahwa agresif adalah setiap

tindakan yang menyakiti atau melukai individu lain dengan mengabaikan niat dari

individu itu sendiri.

Penelitian menunjukkan bahwa trait agreeableness mempengaruhi secara positif

terhadap agresivitas. Hal ini tidak sesuai dengan teori (Costa & McCrae, 1997) yang

menyebutkan bahwa karakteristik individu dengan skor agreeableness tinggi yang

mengindikasikan seseorang yang ramah, memiliki kepribadian yang selalu mengalah,

menghindari konflik dan memiliki kecenderungan untuk mengikuti orang lain.

Berdasarkan survey, seseorang yang memiliki skor agreeableness yang tinggi

digambarkan sebagai seseorang yang memiliki sifat suka membantu, forgiving

(mudah memaafkan), dan penyayang. Ketidaksesuaian ini mugkin terjadi karena

sampel pada penelitian adalah satpol pp. Dimana dalam menjalankan beberapa

yang agreeableness maka tindakan agresif tersebut hanya dilakukan saat bekerja.

Agresivitas seperti ini dimasukkan dalam tipe agresi prososial, yaitu tindakan agresi

yang sebenarnya diatur atau di setujui oleh norma sosial seperti polisi memukul

penjahat (Taylor & Peplau, 2009). Sifat agreeableness juga dapat dimasukkan dalam

tipe agresi yang disetujui (sanctioned aggression), dimana jenis agresi ini termasuk

tindakan yang tidak diharuskan oleh norma social tetapi ada di dalam batas-batasnya.

Tindakan ini tidak melanggar standar moral yang diterima luas. Misalnya, pelatih

yang menghukum pemain tim dengan menyuruhnya push-up biasanya dianggap

bertindak sesuai dengan haknya dan masih dalam batas yang diterima.

Trait conscientiousness yang memberikan pengaruh negatif terhadap agresivitas.

Artinya, semakin tinggi skor conscientiousness maka semakin rendah tingkat

agresivitas, begitupun sebaliknya. Hal ini sesuai dengan teori (Costa & McCrae,

1997) yang menyebutkan bahwa karakteristik individu conscientiousness memiliki

sifat yang mampu mengontrol tingkah laku terhadap lingkungan sosialnya, berpikir

sebelum bertindak, menunda kepuasan, mengikuti peraturan dan norma, terencana,

terorganisir, dan memprioritaskan tugas. Sedangkan agresivitas memiliki sifat

sebaliknya.

Hasil penelitian juga menyebutkan bahwa self control memberikan pengaruh terhadap

agresivitas seseorang. Dimana variabel behavior control memiliki nilai regresi

sebesar 0,107 dan sig. 0,160. Artinya variabel behavior control tidak mempengaruhi

sumbangan ini tidak signifikan dengan F hitung. Cognitif control memiliki nilai

regresi sebesar -0,362 dan sig. 0,000. Artinya variabel cognitif control

mempengaruhi secara negatif terhadap agresivitas. Jika cognitif control nya tinggi

maka agresivitasnya rendah, dan sebaliknya. Variabel ini memberikan sumbangan

sebesar 8,1 % dan signifikan dengan F hitung. Sedangkan decisional control

memiliki nilai regresi sebesar 0,207 dan sig. 0,003. Artinya variabel cognitif control

mempengaruhi secara positif terhadap agresivitas. Jika decisional control nya tinggi

maka agresivitas juga tinggi, dan sebaliknya. Variabel ini memberikan sumbangan

sebesar 2,7 % dan signifikan dengan F hitung. Hasil penelitian yang dilakukan

Stephen W. Baron (2003) yang menyebutkan bahwa rendahnya self control dapat

memprediksi tindakan kriminal, yang identik dengan perilaku agresif. Penelitian

Nurfaujiyanti (2010) juga menunjukkan hal yang sama, bahwa ada hubungan yang

negatif antara self control dengan agresivitas anak jalanan, dengan korelasi sebesar

-0,529. Hal ini mendukung teori Calhoun dan Acocella (1990) yang mendefinisikan

kontrol diri (self-control) sebagai pengaturan proses-proses fisik, psikologis, dan

perilaku seseorang, dengan kata lain serangkaian proses yang mebentuk dirinya

sendiri. Golfried dan Merbaum juga mendefinisikan kontrol diri sebagai suatu

kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur, dan mengarahkan bentuk

perilaku yang dapat membawa individu kearah konsekuensi positif. Kontrol diri juga

menggambarkan keputusan individu yang melalui pertimbangan kognitif untuk

menyatukan perilaku yang telah disusun untuk meningkatkan hasil dan tujuan tertentu

Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa variabel usia tidak mempengaruhi

agresivitas. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan Wiesenthal, dkk

(2000; dalam Tremblay, 2002) yang menemukan bahwa pengemudi yang lebih muda

(usia 18-23) memiliki skor agresivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan

pengemudi yang lebih tua (usia 24-66) pada the Driving Vengeance Questionnaire.

Hasil penelitian juga menyebutkan bahwa etnis/suku bangsa mempengaruhi

agresivitas. Dimana sumbangannya sebesar 26,1%. Hal ini sesuai dengan pendapat

ahli dari berbagai bidang ilmu seperti antropologi dan psikologi, (seperti Segall,

Dasen, Berry dan Poortinga, 1999; Kottak, 2006; Groos, 1992; Price dan Crapo,

2002; dalam Sarwono, 2009) yang menyebutkan bahwa lingkungan geografis

mempengaruhi agresivitas. Masyarakat yang hidup di pantai/pesisir, menunjukkan

karakter lebih keras daripada masyarakat yang hidup di pedalaman. Dalam penelitian

di Amerika Serikat, diketahui bahwa masyarakat di bagian selatan Amerika Serikat

mempunyai Agresivitas lebih tinggi. Hal ini diketahui melalui angka pembunuhan

yang tinggi (Taylor, Peplau, dan Sears, 2009). Penelitian Dewi Suryani Ekawati

(2007; dalam Nashori, 2008) juga menyatakan ada perbedaan perilaku agresif antara

mahasiswa etnis Jawa dan mahasiswa etnis Batak yang tinggal di Yogyakarta.

Dimana mahasiswa etnis Batak memiliki perilaku agresif yang lebih tinggi dibanding

mahasiswa etnis Jawa.

Sebelum dilakukan analisis item, pada variabel big five terdapat 50 item yang terdiri

Agreeableness, 10 item Conscientiousness. Namun setelah dilakukan analisis faktor

konfirmatori, maka item yang digunakan untuk uji hipotesis adalah 3 item

Neuroticism, 5 item Extraversion, 3 item Openness, 2 item Agreeableness, dan 5 item

Conscientiousness. Pada variabel agresivitas dari 40 item, hanya 18 item yang valid

dan dipakai dalam uji hipotesis. Kemungkinan hal ini terjadi dalam pembuatan item

yang mengukur lebih dari satu faktor atau pada sampel yang tidak mengerti dengan

kalimat dalam skala item yang diberikan, atau dikarenakan dalam pengisian kuesioner

yang asal-asalan.

Dokumen terkait