• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN

5.2 Diskusi

Berdasarkan perhitungan dan analisis statistik, dapat dilihat bahwa ada pengaruh

yang signifikan antara iklim organisasi terhadap keterlibatan kerja karyawan PT.

Hero Swalayan Bintaro dengan sumbangan sebesar 65,1%. Hal ini sesuai dengan

penelitian Parker (2003, dalam Riyanti dan Dahesihsari, 2008) mengatakan iklim

organisasi memiliki kaitan yang kuat dengan sikap kerja, motivasi dan kinerja

karyawan, dalam hal ini keterlibatan kerja termasuk dalam sikap kerja. Begitu

pula dengan Brown dan Leigh (1996, dalam McCook, 2002) dalam penelitiannya

menemukan pengaruh iklim organisasi memiliki dampak langsung terhadap

keterlibatan kerja.

Artinya semakin positif iklim organisasi yang dirasakan oleh karyawan,

iklim organisasinya negatif, maka akan rendah keterlibatan kerjanya. Hal ini

sesuai dengan pendapat Brown dan Leigh (1996, dalam McCook: 2002) yang

mengatakan ketika karyawan merasa lingkungan organisasi (iklim organisai)

positif, mereka akan lebih terlibat dalam pekerjaan mereka dan akan lebih

menunjukkan kinerjanya, yang mengarah ke prestasi kerja yang lebih tinggi.

Sebaliknya, ketika karyawan merasa lingkungan organisasi (iklim organisasi)

negatif, mereka akan kurang terlibat dan mengerahkan usaha yang lebih sedikit,

sehingga prestasi kerjanya menurun.

Meningkatkan keterlibatan kerja merupakan tujuan organisasi penting

karena banyak peneliti mempertimbangkan untuk menjadi penentu utama

efektivitas organisasi Pfeffer (1994, dalam Ali, 2008) dan motivasi individu

Hackman & Lawler (1971, dalam Ali, 2008).

Disinilah peran perusahaan untuk meningkatkan keterlibatan kerja

karyawannya agar lebih terlibat dalam pekerjanya dengan cara menciptakan iklim

organisasi yang positif. Menurut Siegel & Hall (1970, dalam Anik & Arifuddin,

2003) mendefinisikan keterlibatan kerja sebagai tingkatan dimana seseorang

memandang seberapa penting pekerjaannya.

Variabel kejelasaan organisasi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap

keterlibatan kerja, dengan sumbangan pengaruh sebesar 4,5 %. Dengan arah

hubungan positif, artinya semakin tinggi penghargaan seseorang, maka semakin

tinggi pula keterlibatan kerjanya dan juga sebaliknya. Hal ini menunjukkan bahwa

kejelasan organisasi dalam sebuah organisasi dapat mempengaruhi keterlibatan

berbeda dengan karyawan yang tidak mengetahui peranya atau tugasnya didalam

sebuah organisasi, keterlibatan kerjanya rendah. Menurut Klob, et.al (dalam

Satria, 2005) jika anggota organisasi merasa bahwa segala hal di organisasi

terorganisir dengan baik dan memiliki tujuan organisasi yang jelas maka akan

lebih terlibat dalam pekerjaanya.

Variabel dukungan dan kepemimpinan memberikan pengaruh yang

signifikan terhadap keterlibatan kerja, dengan sumbangan pengaruh sebesar 3,6

%. Dengan arah hubungan positif, artinya semakin tinggi dukungan dan

kepemimpinan seseorang, maka semakin tinggi pula keterlibatan kerjanya dan

juga sebaliknya. Sesuai dengan Klob, et.al (dalam Satria, 2005) dukungan dan

kepemimpinan merefleksikan perasaan percaya dan saling mendukung terus

berlangsung diantara kelompok kerja. Dukungan tinggi jika anggota organisasi

merasa mereka bagian dari tim yang berfungsi dengan baik dan merasa

memperoleh bantuan baik dari atasannya, jika mengalami kesulitan dalam

melakukan tugas.

Pemimpin yang berpartisipatif atau mendukung karyawanya akan

menanyakan gagasan-gagasan karyawan tentang melaksanakan perubahan dan

akan membantu memecahkan solusi permasalahan tentang pekerjaan yang telah

dihadapi oleh karyawanya. Dukungan oleh atasan sering menghilanghkan rasa

permusuhan atau jarak maupun perlawanan dan sebaliknya, serta dapat

menciptakan iklim-iklim sikap kerja sama yang cinderung meningkatkan

Variabel tanggung jawab memberikan pengaruh yang tidak signifikan

terhadap keterlibatan kerja dengan sumbangan pengaruh sebesar 20,7%. Dengan

arah hubungan positif, artinya semakin tinggi tanggung jawab seseorang, maka

semakin tinggi pula keterlibatan kerja dan juga sebaliknya. Hasil penelitian ini

berbeda dengan penelitian Mogaji (2002) yang mengatakan variabel tanggung

jawab memiliki hubungan yang positif signifikan terhadap keterlibatan kerja.

Menurut Klob, et.al (dalam Satria, 2005) persepsi tanggung jawab tinggi

menunjukkan anggotanya merasa didorong memecahkan problemnya sendiri.

Tanggung jawab rendah menunjukkan bahwa pengambilan keputusan dan

percobaan terhadap pendekatan baru tidak diharapkan. Adanya perbedaan hasil

penelitian ini dapat dimungkinkan karena responden memiliki tanggung jawab

yang rendah sehingga tidak memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaanya jadi

keterlibatan kerjanyapun menjadi rendah.

Variabel standar memberikan pengaruh yang tidak signifikan terhadap

keterlibatan kerja, dengan sumbangan pengaruh sebesar 8,8%. Dengan arah

hubungan positif, artinya semakin tinggi standar seseorang, maka semakin tinggi

pula keterlibatan kerjanya dan juga sebaliknya.

Variabel penghargaan memberikan pengaruh yang tidak signifikan

terhadap keterlibatan kerja, dengan sumbangan pengaruh sebesar 3,7%. Dengan

arah hubungan positif, artinya semakin tinggi penghargaan seseorang, maka

semakin tinggi pula keterlibatan kerjanya dan juga sebaliknya. Menurut Klob,

et.al (dalam Satria, 2005) penghargaan mengidikasikan bahwa anggota organisasi

merupakan ukuran penghargaan yang dihadapkan dengan kritik dan karakteristik

keseimbangan antara kritik dan imbalan. Penghargaan rendah artinya penyelesaian

pekerjaan baik dihargai secara tidak konsisten. Tidak adanya penghargaan yang

diberikan oleh perusahaan atas kinerja yang dilakukan karyawan dapat membuat

keterlibatan kerja karyawan rendah.

Variabel kehangatan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap

keterlibatan kerja, dengan sumbangan pengaruh sebesar 0,5%. Dengan arah

hubungan positif, artinya semakin tinggi penghargaan seseorang, maka semakin

tinggi pula keterlibatan kerjanya dan juga sebaliknya. Bertolak belakang dengan

penelitian Mogaji (2002) yang mengatakan kehangatan memiliki hubungan yang

signifikan namun negatif. Menurut Klob, et.al (dalam Satria, 2005) yang

menyatakan perlakuan dan perhatian yang baik menyebabkan karyawan merasa

mendapatkan perlindungan dan pengayoman. Persahabatan dan kekeluargaan

merupakan norma dalam organisasi yang bersangkutan. Anggota merasa percaya

dan memberikan dukungan terhadap satu sama lainnya. Dalam situasi seperti ini,

hubungan baik tercipta dalam lingkungan kerja sehingga iklim organisasi yang

dirasakan para anggotanya sangat menyenangkan atau positif bagi dirinya.

Tingkat kehangatan yang baik sesama karyawan maupun atasan dapat

memperdulikan rekan kerja atau atasan yang mendapat kesulitan dalam

melaksanakan tugas, sehingga keterlibatan kerja karyawan pada perusahaan dapat

tercipta.

Variabel lama bekerja tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap

hubungan positif, artinya semakin lama bekerja seseorang, maka semakin tinggi

pula keterlibatan kerjanya dan juga sebaliknya. Berbeda dengan Schultz & Schultz

(1990) yang mengatakan semakin lama individu bekerja akan semakin baik

penyesuaian dirinya terhadap unsur-unsur pekerjaan, sehingga akan semakin

mudah kemungkinannya bagi individu terlibatan terhadap pekerjaan, daripada

mempunyai masa kerja yang singkat.

Bagi sebagian besar orang dewasa dini, mereka yang baru masuk dalam

perusahaanya dan terutama mereka yang kurang mempunyai pengalaman kerja

atau bahkan bagi yang belum pernah bekerja selama masih sekolah perlu

menyesuaikan diri dengan sifat dan macam pekerjaanya tersebut yang antara lain

meliputi jenis kerjanya, penyesuain terhadap teman sejahwat dan para atasan,

dengan lingkungan tempat ia bekerja (iklim organisasi), dan penyesuain dengan

peraturan serta batasan yang berlaku selama waktu kerja, sering mengalami

banyak kesulitan dalam menyusaikan diri dengan pekerjaanya yang diemban.

Berbeda dengan mereka yang sudah lama bekerja dan yang mempunyai cukup

pengalaman kerja dapat memperoleh kepuasan yang jauh dan terlibat dalam

pekerjannya karena mereka merasa bagian dari perusahaanya, dibandingkan

dengan mereka yang kurang mempunya pengalaman kerja dan dengan mereka

karyawan baru Hurlock (1980).

Variabel usia tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap

keterlibatan kerja. Penelitian ini dimulai dari responden yang masa usianya adalah

dewasa dini, dimana pada masa dewasa dini merupakan periode penyesuaian diri

dewasa muda diharapkan memainkan peranan baru, seperti peran suami/istri,

orang tua, pencari nafkah, mengembangkan sikap-sikap baru, keinginan-keinginan

baru, dan nilai-nilai baru sesuai dengan tugas-tugas baru ini. Periode ini sangat

sulit sebab selama ini mereka selalu dibantu oleh orang tuanya tetapi sebagai

orang yang dewasa mereka harus hidup mandiri Hurlock (1980). Pada masa ini

seseorang harus sudah menentukan kemantapan pilihan bekerja. Pada usia masa

18 sampai 20 tahunan mungkin seseorang bekerja hanya untuk memenuhi

perannya saja sebagai seseorang yang baru beranjak dewasa sehingga dia tidak

begitu berperan aktif pada pekerjaanya, berbeda dengan seseorang yang mulai

berusia 30 tahun yang sudah mulai memikirkan masa depanya apalagi jika dia

sudah berkeluarga, kerja baginya bukan hanya untuk memenuhi peran barunya

saja sebagai seseorang yang mulai beranjak dewasa, tetapi kerja baginya adalah

kebutuhan sehingga dia akan lebih berperan aktif dalam pekerjaan yang dia

lakukan.

Begitu pula dengan variable tingkat pendidikan tidak memiliki pengaruh

yang signifikan terhadap keterlibatan kerja. Dengan arah hubungan negatif,

artinya semakin rendah tingkat pendidikan seseorang, maka semakin tinggi

keterlibatan kerjanya dan juga sebaliknya. Tidak sesuainya seseorang dalam

memilih jenis pekerjaan yang berhubungan dengan keterampilan pribadi yang

tercermin dalam jurusan yang diambil dalam tingkat SLTA atau akademis, pilihan

yang tidak atau kurang relevan dengan minat dan jurusan pendidikkanya

menyebabkan seseorang tidak puas dan merasa terpaksa akan pekerjaan yang dia

keputusannya dan merasa terlibat akan pekerjaanya jika dia bekerja sesuai dengan

jurusan atau tingkat pendidikan yang dia ambil Hurlock (1980).

Variabel jenis kelamin tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap

keterlibatan kerja. Berdasarkan uji beda yang dilakukan terhadap jenis kelamin,

ditemukan bahwa mean laki-laki sebesar 83.0408 dan mean perempuan sebesar

81.7692 yang berarti bahwa keterlibatan kerja pada laki-laki lebih besar

dibandingkan perempuan. Hal ini sesuai dengan pernyatan Schultz & Schultz

(1990) pekerja laki-laki mempunyai keterlibatan kerja lebih tinggi dibandingkan

wanita. Begitu pula dengan apa yang dikemukan Ying (2009) yang menyatakan

terdapat perbedaan antara keterlibatan kerja guru laki-laki dengan perempuan.

Sosialisasi peran jenis kelamin maskulin dan androgini mengakibatkan

tertanam orientasi nilai yang berhubungan dengan pekerjaan. Sedangkan

sosialisasi peran jenis kelamin feminin mengakibatkan tertanam orientasi nilai

yang berhubungan dengan rumah tangga. Nilai-nilai ini terinternalisasi dalam diri

individu dan menjadi bagian dari kepribadiannya. Ketika individu berusaha

memenuhi kebutuhan melalui pekerjaan yang dihadapinya, nilai-nilai ini turut

berpengaruh dengan memperkuat atau memperlemah keterlibatan kerja.

Nilai-nilai maskulin dan androgini dituntut untuk sukses dalam dunia kerja sehingga

mengarahkan kepeda keterlibatan kerja yang lebih tinggi daripada nilai-nilai

feminin.

Variabel status pernikahan tidak memiliki pengaruh yang signifikan

terhadap keterlibatan kerja. Berdasarkan uji beda yang dilakukan terhadap status

sebesar 82.8077 dan mean karyawan yang statusnya belum menikah sebesar

82.1304 yang berarti bahwa keterlibatan kerja pada karyawan yang sudah

menikah lebih besar dibandingkan karyawan yang belum menikah. Berbeda

dengan apa yang dikemukan Ying (2009) guru yang belum menikah memperoleh

skor yang lebih tinggi daripada guru yang sudah menikah, yang dapat dijelaskan

oleh kenyataan bahwa guru yang belum menikah memiliki lebih banyak waktu

dan energi untuk menghabiskan waktu pada pekerjaannya, karena memiliki waktu

yang singkat dalam mengajar, guru laki-laki merasa segar ketika mereka bekerja,

dan ini akan memperkuat keterlibatan mereka dalam mengajar.

Wanita dewasa dini cenderung kurang mantap dalam pekerjaan yang

dipilihnya dibandingkan pria, terutama karena (wanita berkeluarga) secara

proporsional lebih banyak di bentuk oleh tekanan sebagai pekerjaan wanita

sehingga harus lebih sering melakukan penyesuaian pekerjaan yang ia sukai

sesuai dengan tanggung jawab rumah tangganya, atau ditukar untuk disesuaikan

dengan tugas suaminya (Hurlock, 2001).

Pada penelitian ini, peneliti menghitung sumbangan signifikan

masing-masing IV terhadap DV, hasilnya adalah sebagai berikut: variabel konformitas

signifikan dengan sumbangan sebesar 20,7%, variabel tanggung jawab signifakan

dengan sumbangan sebesar 20,7%, variabel stadar signifikan dengan sumbangan

8,8%, variabel penghargaan signifikan dengan sumbangan sebesar 3,7%, variabel

kehangatan signifikan dengan sumbangan sebesar 4,5%, variabel kejelasan

organisasi tidak signifikan dengan sumbangan sebesar 0,5%, variabel dukungan

bekerja signifikan dengan sumbangan sebesar 0%, variabel usia tidak signifikan

dengan sumbangan sebesar 01%, variabel pendidikan tidak signifikan dengan

sumbangan sebesar 62,5%, variabel jenis kelamin tidak signifikan dengan

sumbangan sebesar 2,1%, dan variabel status pernikahan signifikan dengan

sumbangan sebesar 0,1%.

Dokumen terkait