• Tidak ada hasil yang ditemukan

● Jawa Barat : tercatat sebanyak 84 perkara permohonan dispensasi (November 2019- Mei 2020 )

● Jawa Tengah : tercatat sebanyak 106 perkara permohonan dispensasi ( sepanjang 2020)

● Nusa Tenggara Barat (NTB) : tercatat sebanyak 74 perkara permohonan dispensasi (November 2019-2020)

●Palu:tercatat sebanyak 46 perkara permohonan dispensasi (November 2019-mei 2020)

●Jawa Barat : tercatat sebanyak 84 perkara permohonan dispensasi ( November 2019-Mei 2020)

●Sigi dan Donggala,SULTENG : tercatat sebanyak 25 perkara permohonan dispensasi ( November 2019-Mei 2020)

38 Contoh-Contoh kasus Perkawinan Anak :

Sempat menjadi tren dikalangan anak muda, namun sayang konsep pacaran setelah menikah acapkali berakhir nestapa :

a. Muhammad Alvin Faiz, putra Alm KH Usd. Arifin Ilham yang menikah diusia 17 tahun, akhirnya digugat cerai oleh Larissa Chou istrinya, perkawinan hanya berlangsung 5 Tahun

b. Rizky Safarudin (Penyanyi Dangdut) dengan Nadya Mustika yang diawali taaruf singkat, juga sempat viral karena kemesraan mereka hanya berdurasi 1 bulan, dan berdasarkan pengakuan Rizky satu bulan pernikahan sudah menceraikan istrinya Nadya.

c. Kontroversi artis remaja perankan istri ketiga. Sinetron Suara Hati Istri-Zahra dikecam karena menampilkan artis usia 14 tahun sebagai istri ke tiga. Sebagian orang menilai sinetron tersebut sebagai upaya mempromosikan perkawinan anak. Atas Keputusan KPI berharap agar pihak rumah produksi memahami regulasi yang terkait dalam konten siaran. Bukan sekedar Undang-Undang Penyiaran, tapi juga Undang-Undang lainnya seperti Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Perkawinan.

d. Anak Anggota DPRD di Kota X Bernama AT (21) yang menjadi tersangka kasus permerkosaan terhadap anak dibawah umur, disarankan agar menikah dengan korbannya PU (15) . Salah satu tujuannya adalah untuk meringankan hukuman AT, dan rencananya karena PU masih dibawah umur akan mengajukan dispensasi ke Pengadilan Agama.

e. Kasus Perkawinan Tangkap /Perkawinan lari/Perkawinan Penculikan dengan mengatasnamakan tradisi dengan cara-cara yg tidak manusiawi yang terjadi di NTT :

39 - Menarik paksa ( tidak saling mengenal )

- Dipaksa oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan senjata tajam - Orang tua tidak tau

- sama-sama tidak cinta atau dijodohkan orang tua.

40 BAB IV

PENUTUP

A. SIMPULAN

1. Implikasi Dengan Berlakunya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Terkait Pencegahan Perkawinan Anak.

Dalam upaya pemetaan dan harmonisasi kebijakan terus dilakukan oleh Pemerintah untuk mencegah perkawinan anak. Harmonisasi diperlukan agar berbagai regulasi tingkat pusat dan daerah dapat selaras, saling mendukung dan efektif dalam pelaksanaannya dilapangan. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perkawinan masih perlu disinkronisasikan dengan Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 5 Tahun 2019 Tentang Pedoman Mengadili Permohonan Dispensasi Perkawinan. Upaya ini dilakukan untuk konsistensi dan ketegasan para Hakim dalam memutuskan perkara dispensasi sesuai dengan spririt mencegah atau menolak perkawinan anak. Artinya akan ada 2 macam keputusan yang akan dijatuhkan oleh Hakim yaitu Hakim mengabulkan Dispensasi dan Menolak Dispensasi.

Ada 3 Kebijakan Nasional terkait Pencegahan Perkawinan Anak :

a. Perpres No 18 Tahun 2020 Tentang Rencana Pembangunan Jangaka Menengah Nasional 2020-2024.

Upaya Pencegahan Perkawinan Anak dilakukan melalui penguatan koordinasi dan sinergi dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Indikator kinerja utamanya yakni penurunan proporsi perempuan umur 20-24 yang menikah sebelum berumur 19 tahun.

41 b. Sustainable Development Goals yaitu mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan, dimana salah satu sasarannya penghapusan perkawinan anak.

c. Strategi Nasional Pencegahan Perkawinan Anak ( Stranas PPA ) bertujuan untuk membangun sinergi rencana dan program pembangunan disetiap tingkatan pemerintahan melalui 5 strategi yakni 1) Optimalisasi kapasitas anak 2) lingkungan yang mendukung 30 aksebilatas layanan 4) penguatan regulasi, 5) penguatan koordinasi pemangku kepentingan ditingkat nasional maupun daerah.

2. Implementasi Dengan Berlakunya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Terkait Pencegahan Perkawinan Anak.

Walaupun Pemerintah berupaya untuk mencegah terjadinya Perkawinan anak dengan menerbitkan Undang-Undang No 16 Tahun 2019, ada aturan Dispensasi dan diikuti dengan dikeluarkannya PERMA No 5 Tahun 2019, namun dalam pelaksanaanya masih ditemui beberapa kasus perkawinan anak apalagi dimasa pandemic Covid -19 data yang diperoleh meningkat dengan beberapa faktor penyebabnya yaitu faktor social, agama, ekonomi, budaya, penerapan kegiatan belajar mengajar secara daring yang tidak efektif, dan akses terhadap konten negative media social dan internet telah meningkatkan perilaku online yang beresiko, seperti kekerasan saiber, predator dan sebagainya. Selain faktor-faktor tersebut ada semacam propaganda nikah muda dikalangan milineal “ Kenapa harus Nikah Muda ?” : Karena ingin menyempurnakan separoh Agama, Karena ingin memadukan potensi, Karena ingin menghindari maksiat dan Karena kebanyakan yang hizrah itu biasanya habis putus cinta, jadi nikah muda itu topik

42 yang menarik buat mereka. Mereka diarahkan untuk tidak pacaran, untuk menghindari zina jadi nikah muda merupakan solusi untuk tidak berzina.

Persepsi Masyarakat terhadap Undang-Undang No 16 Tahun 2019 :

a. 59% tanggapan responden menyatakan masyarakat sebenarnya belum terlalu terpapar dengan adanya UU No 16 Tahun 2019, bahkan masih menganggap perkawinan anak adalah hal yang lumrah.

b. Namun beberapa wilayah ( Jawa Barat, DIY, Sulawesi Selatan ) dimana terdapat program pencegahan perekawinan anak yang cukup intens, masyarakat menyatakan bahwa perkawinan anak harus dicegah

c. Responden masyarakat awam, seperti pedagang di pasar, pejabat layanan public (Disdukcapil ) beberapa tokoh masyarakat menyatakan bahwa belum mengetahui bahwa telah ada perubahan/revisi UU.

B. Saran

1. Karena polarisasi praktik perkawinan anak kecenderungannya terjadi di tingkat daerah-desa, maka disimpulan sementara bahwa daerah dan desa sebenarnya garda penting dalam upaya pencegahan perkawinan anak, namun harus ada komitmen dari pemerintah daerah – desa untuk sama-sama memposisikan aturan pencegahan yang massive.

2. Perlu mendorong Kementrian Dalam Negeri menerbitkan Permen Intruksi kepada Pemda-Pemdes untuk mengeluarkan kebijakan sejalan dengan UU No 16 Tahun 2019, atau sector pemerintah lainnya yang berkaitan dengan aspek pencegahan peerkawinan anak (KEMENKES, KEMENDIKBUD, KOMINFO, KEMENDES).

43 DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah, Mohammad Kamil, Pembaharuan Hukum Oleh Mahkamah Agung Dalam Mengisi Kekosongan Hukum Acara Perdata di Indonesia, Jurnal Ilmiah Kebijakan Hukum, Vol 14 No.2, Juli 2020.

Eleanora, Fransiska Novita dan Andang Sari. Pernikahan Anak Usia Dini Ditinjau Dari Perspektif Perlindungan Anak. PROGRESIF: Jurnal Hukum, 14(1).

Ilma, Mughniatul, Regulasi Dispensasi Dalam Penguatan Aturan Batas Usia Kawin Bagi Anak Pasca lahirnya UU No 16 Tahun 2019, Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Islam, Vol 2(2), 2020.

Indonesia, Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

Koalisi Perempuan Indonesia “ Pencegahan Perkawinan Anak dan Covid – 19 Januari 2021.

Kushidayati, Lina, Judicial Review atas UU No 1/1974 dan Implikasi Hukumnya.

Comferrence Proceedings AICIS XII 2816.

Laporan Penelitian “Perkawinan Anak Dalam Perspektif Islam, Katolik, Protestan, Budha, Hindu dan Hindu Khaharingan. Studi Kasus di Kota Palangkaraya dan Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah. Jakarta November 2016.

Lubis, Amami, “Langkah MUI dalam Upaya Pendewasaan Usia Perkawinan “ Seminar Nasional dan Deklarasi Gerakan Nasional Pendewasaan Usia Perkawinan.

Mubasyaroh, STAIN Kudus, Analisis Faktor Penyebab Pernikahan Dini Dan Dampaknya Bagi Pelakunya, Jurnal Hukum Pemikiran dan Penelitian Sosial Keagamaan

Penelitian Internal Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasila. “Analisis Perkawinan Di Bawah Umur (Studi Kasus Permohonan Dispensasi Kawin Yang Terjadi Di Desa Cipenjo, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor)” 2020.

Pramadya, Yan, Hukum, (Semarang: Aneka Ilmu, 1977).Soekanto Soerjono, dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, (Jakarta: Rajawali,1986),

Wakil Presiden Republik Indonesia. Sambutan Seminar dan Deklarasi Gerakan Nasional Pendewasaan Usia Perkawinan Untuk meningkatkan kualitas anak, Pemuda, Perempuan dan Keluarga. 18 Maret 2021.

Webinar “ Penghapusan Praktik Perkawinan Anak di Indonesia dari aspek Sosial, Agama dan Hukum Pasca Pengesahan Undang-Undang No 16 Tahun 2019.”

44 Yayasan Plan Internasianal Indonesia “Setelah Perubahan Undang-Undang

Perkawinan Pemetaan Singkat Kebijakan terkait Perkawinan Anak “ 2021.

Yayasan Plan Internasional Indonesia “ Perkawinan Anak di Masa Pandemik Covid-19”, Policy Brief , Februari 2021

Yumarni, Ani dan Endeh Suhartini. Perkawinan Bawah Umur dan Potensi Perceraian (Studi Kewenangan KUA Wilayah Kota Bogor) JH Ius Quia Lustum Volume 26 Issue 1 Januari 2019 ; pp 193211 copyright @ 2019 Jurnal Hukum Ius Quia Lustum Faculty of Law, Universitas Islam Indonesia.

Zulfiani, Kajian Hukum Terhadap Perkawinan Anak dibawah umur Menurut Undang-Undang No 1 Tahun 1974, Jurnal Hukum Samudra Keadilan , Vol 12

Dokumen terkait