C. Dispensasi Perkawinan
1. Pengertian Dispensasi Perkawinan
a. Pengertian Dispensasi
Pengertian Dispensasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dispensasi merupakan izin pembebasan dari suatu kewajiban atau larangan. Jadi Dispensasi merupakan kelonggaran terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak diperbolehkan menjadi diperbolehkan untuk dilakukan atau dilaksanakan.
b. Pengertian Dispensasi Dalam Perkawinan anak /dibawah umur
Dispensasi dalam perkawinan dibawah umur merupakan pemberian kelonggaran untuk melakukan perkawinan kepada calon mempelai yang belum mencapai syarat umur perkawinan sesuai dengan ketentuan Pasal 7 ayat 1 Undang-undang No 16 Tahun 2019 Perubahan atas Undang-Undang No 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.
21 Menentukan bahwa Pasal 7 ayat (1) Apabila penyimpangan terhadap terhadap ketentuan Pasal 7 ayat 1 maka dierangkan dalam Pasal 7 ayat (2) bahwa penyimpangan terhadap pasal 7 ayat (1) hasruslah dimintakan dispensasi kepada Pengadilan. Dengan demikian, Dispensasi dalam perkawinan diusia anak merupakan kelonggaran untuk melakukan perkawinan kepada calon mempelai yang belum mencapai syarat umur perkawinan sesuai dengan ketentuan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 yaitu untuk pria dan Wanita sama-sama sudah mencapai usia 19 tahun, yang seharusnya tidak diperbolehkan atau tidak diizinkan untuk melaksanakan perkawinan namun karena alasan tertentu maka perkawinan tersebut diperbolehkan / diizinkan.
c. Tujuan Dispensasi Perkawinan :
Tujuan pemberian Dispensasi Perkawinan pada dasarnya diberikan kepada calon mempelai yang hendak melaksanakan perkawinan yang sebenarnya belum memenuhi syarat sahnya perkawinan yaitu belum mencapai umur yang sesuai dengan yang diterangkan dalam Pasal 7 (1) Undang-undang No 16 Tahun 2019, namun karena ada tujuan untik kemaslahatan kehidupan manusia. Maka dispensasi perkawinan dapat diberikan kepada calon mempelai. Pemberian dispensasi terhadap perkawinan dibawah umur ini diharapkan dapat mengurangi akibat yang tidak baik dalam kehidupan yang akan dijalani calon mempelai bila tidak diberikan dispensasi.17
17 Penelitian Internal Dosen, Op.Cit.
22 d. Perma No 5 Tahun 2019
Untuk memberikan standar pemberian dispensasi, kemudian pemerintah mengeluarkan PERMA No 5 Tahun 2019 tentang Pedoman Mengadili Permohonan Dispensasi Kawin.
Tujuan diterbitkannya PERMA Nomor 5 Tahun 2019 :
Peraturan Mahkamah Agung secara khusus mengeluarkan petunjuk teknis penanganan perkara dispensasi kawin berupa Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) NO 5 Tahun 2019 Tentang Pedoman Mengadili Permohonan Dispensasi Kawin, salah satu tujuan dibuat peraturan ini adalah untuk menjamin standarisasi, hakim benar-benar serius dan berhati-hati dalam memeriksa perkara dispensasi sesuai dengan pedoman yang ada.18
PERMA dibuat khusus oleh Mahkamah Agung sebagai bentuk penjelasan mengenai permohonan dispensasi perekawinan yang memang belum diatur secara jelas dalam Pasal 7 Undang-undang No 16 Tahun 2019.
Ketentuan-ketentuan dalam PERMA No 5 Tahun 2019 dan keterkaitannya dengan Pencegahan Perkawinan usia Anak adalah Hakim harus mengadili permohonan dispensasi dengan mementingkan asas, kepentingan terbaik bagi anak, hak hidup dan tumbuh kembang anak, penghargaan atas pendapat anak, penghargaan atas harkat dan martabat manusia, non-diskriminasi.
Kesetaraan gender, persamaan didepan hukum, keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum, menjamin sitim peradilan yang melindungi hak anak, meningkatkan tanggungjawab orang tua dalam rangka pencegahan
18 Mughniatul Ilma, Regulasi Dispensasi Dalam Penguatan Aturan Batas Usia Kawin Bagi Anak Pasca lahirnya UU No 16 Tahun 2019, Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Islam, Vol 2(2), 2020, 133-166, hlm 151.
23 perkawinan anak, mengindentifikasi ada tidaknya paksaan yang melatarbelakangi pengajuan permohonan dispensasi kawin di Pengadilan.
Ada beberapa peraturan daerah atau kebijakan daerah yang diterapkan sebelum diterbitkannya Undang-undang No 16 Tahun 2019 antara lain 17 Peraturan Daerah di Kota dan Kabupaten, 12 peraturan ditingkat desa, 20 Surat Edaran tingkat desa/Kelurahan, semuanya perlu dilihat dan disesuaikan dengan perkembangan kebijakan yang ada, dan rata-rata pengaturan perkawinan anak dalalam Perauran Daerah masih bersifat himbauan, pemberitahuan jika praktik perkawinan anak adalah hal yang harus diwaspadai Bersama.19
e. Kebijakan Nasional Tentang Pencegahan Perkawinan Anak.
Pemerintah sedang dan telah banyak berupaya untuk mencegah perkawinan anak ini. Di tataran Nasional, telah ada kebijakan terkait Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden ( Perpres ) Nomor 18 Tahun 2020. Dalam Stanas Pencegahan Perkawinan Anak ( PPA), pemerintah secara spesifik menargetkan penurunan angka perkawinan anak dari 11,21
% (2018 ) menjadi 8,74 % pada akhir tahun 2024.
Pemetaan dan harmonisasi kebijakan terus dilakukan oleh Pemerintah untuk mencapai target penurunan angka perkawinan anak. Harmonisasi diperlukan agar berbagai regulasi ditingkat pusat dan daerah dapat selaras, saling mendukung dan efektif dalam pelaksanaannya dilapangan. Sinkronisasi antara Undang-undang No 16 tahun 2019 Tentang Perkawinan masih perlu
19 Koalisi Perempuan Indonesia, “Pencegahan Perkawinan Anak dan Covid-19”, Januari 2021
24 disinkronkan dengan Peraturan Mahkamah Agung (perma) No 5 Tahun 2019 Tentang Pedoman Mengadili Permohonan Dispensasi Perkawinan. Upaya ini dilakukan untuk konsistensi dan ketegasan para hakim dalam memutuskan perkara dispensasi sesuai dengan spirit mencegah atau menolak perkawinan anak.20
Sinkronisasi antara Undang-undang No 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum dengan Undang-undang no 16 Tahun 2019 dilakukan agar agar ada konsistensi terkait ketentan pemilih yang masih menggunakan Batasan usia 17 tahun atau sudah kawin atau sudah pernah kawin. Selain itu ada Undang-undang Nomor 24 Tahun 2013 Tentang Administrasi Kependudukan, masih pula menggunakan Batasan 17 tahun atau pernah kawin bagi warga negara yang wajib memiliki KTP elektronik. Pemerintah berupaya keras agar kedua Undang-Undang tersebut tidak berpotensi membuka celah toleransi atau pelonggaran terhadap praktik perkawinan anak.
Visi untuk melindungi hak anak dan pembangunan sumber daya manusia generasi masa depan bangsa menjadi aspek fundamental dari 3 kebijakan nasional terkait pencegahan perkawinan anak. Pertama Perpres No 18 Tahun 2020 tentang RPJMN 2020-2024. Upaya Pencegahan anak dilakukan melalui penguatan koordinasi dan sinergi dengan melibatkan bernagai pemangku kepentingan indikator kinerja utamanya yakni penurunan proporsi perempuan umur 20-24 tahun yang menikah sebelum berumur 18 tahun. Kedua, Sustainable Development Goals ( SDGs). Perkawinan anak masuk kedalam tujuam ke 5 : mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan, dimana salah satu sasarannya penghapusan perkawinan anak, perkawinan dini dan paksa.
Indikator utamanya yakni proporsi perempuan umur 20-24 tahun yang
20 Yayasan Plan Internasional Indonesia “ Perkawinan Anak di Masa Pandemik Covid-19”, Policy Brief , Februari 2021, hlm. 2.
25 berstatus kawin atau berstatus hidup Bersama sebelum umur 15 tahun dan sebelum umur 18 tahun sebanyak 6,94 % ( 2030). Ketiga, Strategi Nasional Pencegahan Perkawinan Anak ( Stranas PPA ). Stranas PPA bertujuan untuk membangun sinergi rencana dan program pembangunan disetiap tingkatan pemerintah melalui lima strategi yakni : 10 Optimalisasi kapasitas anak; 2) lingkungan yang mendukung; 3) aksesibilitas layanan; 4) penguatan regulasi dan kelembagaan; 5) penguatan koordinasi pemangku kepentingan di tingkat nasional maupun daerah.21
21 Ibid., hlm. 2
26 Strategi Nasional Pencegahan Perkawinan Anak : ( gambar )
27 Sinergitas, komitmen dan peran aktif pemerintah daerah akan memberikan kontribusi besar trerhadap efektivitas pelaksanaan PPA ke dalam perncanaan pembangunan daerah dapat dilakukan melalui penggunaan beberapa instrument kebijakan perencanaan pembangunan daerah propinsi dan kabupaten kota sebagai berikut :
Pertama, Undang-Undang nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah ( Pasal 260-262) . Pada tahapan perumusan kebijakan PPA, pemerintah daerah propinsi dan kabupaten kota dapat mensinergikan, mengharmonisasi dan mengintegrasikan PPA kedalam RPJMD ( Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah ).
Kedua, Permendagri Nomor 90 tahun 2019 tentang Penyusunan Program dan Kegiatan Pembangunan Daerah. Penyusunan program dan kegiatan PPA ditingkat propinsi dapat mengacu pada Nomenklatur urusan provinsi yakni urusan pemerintahan bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
Ketiga, Permendagri Nomor 40 Tahun 2020 Tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Pemerintah Daerah dapat merumuskan prioritas pembangunan (PPA), arah kebijakan, tujuan/sasaran dan target PPA dalam RKPD tahun 2022.
Keempat, Permendagri nomor 64 Tahun 2020 Tentang Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Melalui instrument Kebijakan penganggaran ini pemerintah daerah dapat Menyusun merinci pelaksanaan urusan pemerintahan dibidang pemberdayaan dan perlindungan anak menjadi 6 program utama yakni : 10 pengarusatamaan gender dan perberdayaan perempuan , 2) perlindungan perempuan, 3) peningkatan
28 kwalitas keluarga, 4) penelolaan sitem data gender dan anak, 5) pemenuhan hak anak, dan 6) perlindungan khusus anak.22
Selain itu, untuk memperkuat aspek kelembagaan PPA, pemerintah daerah dapat mengacu pada Surat Edaran (SE) Mendagri Nomor 060/1416/OTDA tanggal 10 Maret 2020 tentang Pembentukan Kelembagaan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak. Pembentukan UPTD tersebut diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan koordinasi dan sinergitas program dan kegiatan PPA ditingkat Provinsi, kabupaten dan kota.
23
Sebagai isu kebijakan yang bersifat ,multi dimensional, maka pencegahan perkawinan anak memerlukan strategi kebijakan yang terpadu, menyeluruh (holistic), multi pihak, mengedepankan kesetaraan gender, parsitipatif, inklusif dan berkelanjutan sebagai berikut: 24
a. Membangun Narasi kontekstual dan Kerangka kereja lintas pemangku kepentingan.
Bappenas mengkoordinasikan upaya pembangunan PPA dengan melibatkan secara aktif Kemendagri, Kementrian PPPA, MA, BKKBN, Kemenkes, Kemendikbud, Kemensos, Kemenkeu, DPR?DPRD, pemerintah daerah, pemerintah desa, anak orangf tua, sekolah NGO, perguruan tinggi dan masyarakat dalam pelasnaan stranas PPA di berbagai
22 Ibid., hlm. 3
23 Ibid.
24 Ibid.
29 tingkatan pemereintah. Bappenas akan memimpin pembuatan rencana aksi inovatif Bersama PPA yang berisi pembagian tugas dan peran spesifik kepada para pemangku kebijakanterkait. Secara khusus, BKKBN perlu diberikan peran aktif untuk mensinergikan program peningkatan kualitas Kesehatan reproduksi, pembinaan ketahanan remaja, penurunan angka kelahiran remaja, peningkatan median usia kawin pertama perempuan dan sebagainya.
b. Optimalisasi Kapasitas Anak
Kelopmpok Perlindungan Anak Desa (KPAD) perlu diperkuat kapasitasnya agar mampu berperan sebagai agen perubahan sosial untuk PPA. Peningkatan kapasitas perlu dilakukan melalui pemberian Pendidikan kecakapan hidup, edukasi dan informasi mengenai implikasi perkawinan anak, dan penguatan peran kelompok sebaya (peer group ) mereka. Selain itu, anak perlu diberikan ruang lebih besdar untuk terlibat dalam proses pengambilan kebijakan PPA diberbagai tingkatan pemerintahan.
Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( KPPPA ) dapat lebih berperan untuk memperkuat fungsi PATBM ( Perlindungan Anak Total Berbasis Masyarakat ) dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan khususnya anak dan perempuan dan berbagai pembuat kebijakan atau pemikik kuas ditingkat desa atau komunitas. KPPPA juga perlu menggandeng berbagai pihak untuk memperkuat forum anak dalam rangka meningkatkan kapasitas dan agensi anak khususnya anak perempuan dalam rangka mencegah perkawinan anak.
c. Sinkronisasi dan Harmonisasi Kebijakan Pencegahan Perkawinan Anak
30 Dengan adanya Stranas PPA maka perlu segera didorong kolaborasi antara para pemangku kebijakan di tingkat pusat/nasional dengan daerah.
Beberapa Langkah kebijakan yang dapat dilakukan antara lain :
Pertama, Kementrian Dalam Negeri melalui Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah mengkoordinasikan upaya sinkronisasi Sranas PPA ke dalam Rencana Pembangunan Daerah. Bersama BAPPEDA pemerintah provinsi/kabupaten/kota selanjutnya Menyusun Rencana Aksi Daerah (RAD) Pencegahan Perkawinan Anak sebagai turunan dari Stranas PPA, serta mengintregasikannya ke dalam Rencana kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun 2022.
Kedua Bappenas Bersama Kemendikbud, Kemensos, dan Kemendes Menyusun Rencana Aksi Bersama Perbaikan Akses Pendidikan Anak.
Hal ini sebagai suatu kebijakan dan program untuk meningkatkan pemberian bea siswa sekolah dan perbaikan infrastuktur Pendidikan di desa-desa miskin yang banyak terdapat kasus perkawinan anak.
Program ini bertujuan untuk mensinergikan upaya pengurangan angka kemiskinan dengan pencegahan perkawinan anak di desa miskin.
d. Mengembangkan Inovasi Kegiatan Sosialisasi
Bapennas Bersama Plan Indonesia dan KPI perlu merancang strategi kegiatan sosialisasi Stranas PPA yang inovatif. Mengacu hasil survai yang dilakukan oleh KPI menemukan fakta bahwa 59% responden tidak
31 mengetahui kebijakan/regulasi terkait Perkawinan anak seperti UU No 16 Tahun 2019 Tentang Perkawinan, serta menganggap perkawinan anak sebagai sesuatu yang lazim dilakukan. Kondisi ini mencerminkan persoalan sistemik edukasi, diseminasi informasi dan soasialisasi kebijakan PPA yang perlu diperbaiki melalui program knowledge sharing dan kampanye penyadaran public bekerjasama dengan media, komunitas penggiat, anak, kaum muda, dan pemerintah daerah.
Persepsi masyarakat terhadap Undang-undang No 16 Tahun 2019 :25
1) 59% tanggapan responden menyatakan masyarakat sebenarnya belum terlalu terpapar dengan adanya Undang-Undang No 16 Tahun 2019, bahkan masih menganggap bahwa perkawinan anak adalah hal yang lumrah.
2) Namun beberapa wilayah (Jawa Barat, DIY, Sulawesi Selatan) dimana terdapat program pencegahan perkawinan anak yang cukup intens, masyarakat menyatakan bahwa perkawinan anak harus dicegah.
3) Responden masyarakat awam, seperti pedagang di pasar, pejabat layanan public (Disdukcapil)beberapa tokoh masyarakat, menyatakan bahwa belum mengetahui telah ada perubahan/revisi Undang-Undang Perkawinan.
25 Koalisi Perempuan Indonesia “ Pencegahan Perkawinan Anak dan Covid – 19 Januari 2021.
32 BAB III
IMPLEMENTASI DENGAN BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NO 16