• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat atau bisa disingkat STBM, adalah sebuah pendekatan untuk mengubah pola hidup masyarakat menjadi higienis melalui sebuah program yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah sebuah program yang dibuat oleh kementrian kesehatan, tujuan dibentuknya program ini adalah untuk menciptakan pola hidup masyarakat untuk paham dan akan sadar dengan lingkungan dan menjauhkan masyarakat dengan budaya perilaku masyarakat yang masih kurang dan sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan. Sanitasi bisa dijadikan bentuk pengawasan pemerintah kepada masyarakat

yang berpacu pada pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan harus mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.

Salah satu permasalahan sanitasi bukan hanya berkutat pada masalah pembangunan sarana dan prasarananya saja, tetapi permasalahan hiegienis masyarakatnya juga. Salah satu strategi untuk menciptakan dan meningkatkan accses sanitasi di kabupaten/kota bukan hanya dengan penyediaan sarana langsung secara fisik maupun secara non fisik tetapi harus berdasarkan pemberdayaan masyarakat.

Tentunya pemberdayaan masyarakat ini sangat penting mengingat program ini tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya jika tidak ada kebutuhan serta kemauan dari masyarakat itu sendiri.

Terkait dengan srategi program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yakni merubah pola hidup masyarakat dari kurang bersih menjadi lebih sehat lagi dan selalu menjaga kebersihan karena kebersihan ada keterkaitanya dengan budaya masyarakat itu sendiri, budaya harus sesuai dengan norma, nilai-nilai dan keyakinan individu yang ada karena untuk menjaga keseimbangan sosial. Dengan begitu faktor sosial budaya dan perilaku masyarakat sangat berpengaruh terhadap program ini bahkan program kemasyarakatan, selain dari peran dari pemerintah terkhusus Pemerintah Kabupaten Subang.

Salah satu faktor yang menunjang keberhasilan implementasi prgram Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah sikap implementor atau sikap para pelaksana kebijakan. Jika aparatur setuju dengan bagian-bagian isi dari kebijakan yang akan dan harus dilaksanakan maka mereka akan melaksanakan dengan senang hati tetapi jika pandangan aparatur pelaksana berbeda dengan pembuat kebijakan maka

proses implementasi akan mengalami banyak masalah dan tidak tercapainya program yang telah dibuat

Diposisi atau sikap pelaksana kebijakan dalam melaksanakan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dapat dilihat melalui tingkat kepatuhan pelaksana dan pemberian reward kepada para pelaksana kebijakan, jika pelaksana ingin efektif maka para pelaksana tidak hanya mengetahui apa yang akan dilakukan tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Disposisi ini merupakan keinginan dan kecenderungan sikap para pelaksana untuk melaksanakan secara sunguh-sungguh sehingga apa yang menjadi tujuan dapat diwujudkan. Disposisi ini akan muncul diantara para pelaksana, sehingga yang diuntungkan tidak hanya organisasinya saja melainkan diri sikap pelaksana tersebut.

Disposisi adalah watak atau karakteristik yang dimiliki oleh implementor.

Disposisi menentukan keberhasilan sebuah implementasi kebijakan. Apabila implementor memiliki disposisi yang baik maka dia akan dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan. Disposisi memegang salah satu peran penting dalam keberhasilan sebuah implementasi kebijakan. Hal ini dikarenakan dalam menjalankan tugasnya seseorang harus paham dan memiliki pandangan yang baik terkait dengan kebijakan tersebut (Budi Winarno, 2007:174).

Disposisi pada penelitian ini adalah tentang komitmen. Komitmen dibuktikan dengan melihat alasan implementor untuk dapat melaksanakan implementasi, tujuan/perubahan yang ingin dicapai, dan perubahan yang telah dicapai para implementor untuk implementasi program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) menjadi acuan nasional

untuk program sanitasi berbasis masyarakat sejak lahirnya Keputuna Menteri Kesehatan Nomor: 852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis masyarakat. Salah satu keunggulan program ini adalah satu-satunya program yang mengusung non subsidi untuk pembangunan sarana jamban tingkat rumah tangga.

Pengetahuan, pemahaman menimbulkan sikap menerima, acuh tak acuh dan menolak terhadap kebijakan. Sikap menerima, acuh tak acuh dan menolak akan menimbulkan disposisi pada diri pelaksana kebijakan dan disposisi yang tinggi berpengaruh pada tingkat keberhasilan pelaksanaan tersebut. Karakteristik dari sikap pelaksana kebijakan dalam melaksanakan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dapat dilihat melalui komitmen, norma-norma atau aturan dan pola-pola hubungan yang terjadi dalam birokrasi, jika pelaksanaan ingin efektif maka para pelaksana tidak hanya mengetahui apa yang akan dilakukan tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk melaksanakan. Komitmen yang ditunjukan oleh aparatur selalu diimbangi dengan pola-pola hubungan-hubungan antar sesama aparatur dan hubungan bawahan kepada pimpinan yang baik agar mendukung proses implementasi program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Kecenderungan perilaku atau karakteristik dari pelaksana kebijakan berperan penting untuk mewujudkan implementasi kebijakan yang sesuai dengan tujuan atau sasaran. Karakter penting yang harus dimiliki oleh pelaksana kebijakan misalnya komitmen yang tinggi. sedangkan komitmen yang tinggi dari pelaksana kebijakn akan membuat mereka selalu antusias dalam melaksanakan tugas, wewenang, fungsi, dan tanggung jawab sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan

Sikap dari pelaksana program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Mayangan Kecamatan Legonkulon akan sangat berpengaruh dalam implementasi program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Apabila implementator memiliki sikap yang baik maka dia akan dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan, sebaliknya apabila sikapnya tidak mendukung maka implementasi tidak akan terlaksana dengan baik. Seperti hasil wawancara penulis dengan Kepala Seksi Pembangunan & Pemberdayaan Masyarakat Desa mengenai sikap para petugas kesehatan dengan adanya kebijakan program STBM, yang menjelaskan bahwa:

Sikap dalam mengimplementasikan kebijakan program STBM yaitu dengan mendorong tercapaianya keberhasilan program STBM dalam menciptakan srategi kemandirian masyarakat dengan cara pendekatan terhadap tokoh masyarakat dan masyarakat itu sendiri yang belum memahami tentang STBM melalui sosial budaya. Selama ini program tersebut kurang didukung karena mungkin belum memamahami terutama sektor lain yang sebenamya terkait, mudah-mudahan dikemudian hari dukungan ini seratus persen

Menurut hasil wawancara dengan Kepala Seksi Pembangunan &

Pemberdayaan Masyarakat Desa dapat disimpulkan bahwa dalam aspek komitmen para pelaksana dalam pelaksanaan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Mayangan Kecamatan Legonkulon sudah bisa dibilang cukup baik dalam hal tanggung jawab dan kemampuan yang dimiliki dalam menjalankan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), karena dalam menjalankan pekerjaan seluruh pihak yang terlibat sudah sesuai dengan aturan dan standar yang berlaku. Kemampuan dan tanggung jawab para stakeholder sudah cukup baik untuk menyakinkan masyarakat wajib pajak bahwa program ini sudah jelas secara teknis maupun non teknis. Kemudian untuk pemahaman maksud dan tujuan dalam program Sanitasi Total

Berbasis Masyarakat (STBM) pihak Pemerintah Kecamatan Legonkulon dan Puskesmas Legonkulon selaku pelaksana kebijakan tersebut sudah memberikan pemahaman yang jelas terkait maksud dan tujuan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) tersebut.

Diposisi pelaksana adalah sifat dan karakteristik dari pihak pelaksana dalam menjalankan sebuah kebijakan. Pihak pelaksana harus memiliki tanggung jawab yang baik dan kemampuan yang mumpuni dalam menjalankan sebuah program. Pihak pelaksana juga harus memahami terlebih dahulu maksud dan tujuan yang akan diterapkan agar nantinya bisa disosialisasikan kepada masyarakat secara jelas. Dalam program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Mayangan Kecamatan Legonkulon, pihak Puskesmas Legonkulon selaku salah satu pihak pelaksana dalam program ini sudah memiliki tanggung jawab yang baik dan kemampuan yang mumpuni, seperti yang diungkapkan oleh Kepala Puskesmas Legonkulon yang menyakatan sebagai berikut:

Karena program STBM ini merupakan program yang sangat bagus sekali terhadap kebijakan STBM ini kita berharap kepada masyarakat bisa berperan aktif dalam melakukan perilaku hidup bersih dan sehat, mengingat pada saat ini pemerintah telah memfasilitasi sarana dan prasarana sanitasi yang baik kepada masyarakat Kabupaten Subang

Berdasarkan hasil wawancara diatas, diperoleh informasi bahwa pihak Puskesmas Legonkulon sangat mendukung program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), karena dapat meningkatkan pola hidup sehat masyarakat di pedesaan. Pihak Puskesmas Legonkulon dalam pelaksanaan pembinaan kepada masyarakat dengan pendekatan keluarga, yaitu salah satu cara Puskesmas untuk meningkatkan jangkauan sasaran dan mendekatkan/meningkatkan akses pelayanan

kesehatan di wilayah kerjanya dengan mendatangi setiap keluarga untuk memberikan penyuluhan tentang program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Puskesmas Legonkulon tidak hanya menyelenggarakan pelayanan kesehatan saja, melainkan dengan melakukan kunjungan kepada keluarga di wilayah kerjanya. Kunjungan rumah dilakukan secara terjadwal dan rutin, dengan memanfaatkan data dan informasi dari profil kesehatan keluarga (family folder).

Dengan mengunjungi keluarga di rumahnya, Puskesmas Legonkulon dapat mengenali masalah-masalah kesehatan termasuk pola hidup sehat yang dihadapi oleh keluarga secara menyeluruh. Individu anggota keluarga yang perlu mendapatkan pelayanan kesehatan kemudian dimotivasi untuk menfaatkan Usaha Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang ada dan/atau pelayanan Puskesmas.

Keluarga juga dimotivasi untuk memperbaiki kondisi kesehatan lingkungan yang berkontribusi juga terhadap kejadian yang merugikan kesehatannya. Pemberdayaan keluarga bidang kesehatan yang dibentuk atas dasar kebutuhan masyarakat, dikelola oleh, dari, untuk, dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayaan masyarakat dan memberikan kemudahan dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar.

Sementara itu hasil wawancara dengan perwakilan masyarakat mengenai bagaimana sikap masyarakat terhadap program STBM ini, sebagai berikut:

Sikap kami di desa mendukung program STBM ini namun kondisi daerah kami yang memungkinkan tidak dapat membuat WC sehingga komitmen dari pemerintah juga sangat kami harapkan untuk mencari solusi terhadap daerah kami yang banyak pendatang berprofesi sebagai nelayanan yang tinggal dipinggir-pinggir pantai dan tidak memiliki WC sendiri.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut diperoleh informasi bahwa masyarakat bersikap mendukung dengan adanya program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) ini, tetapi masih ada masyarakat merasa kesulitan dalam memberikan penyuluhan terhadap masyarakat nelayan, karena sebagian besar merupakan pendudukan pendatang yang belum memiliki tempat tinggal tetap, sehingga memiliki prilaku buang air sembarangan, sehingga program ODF ini sedikit mengalami hambatan. Dengan adanya faktor kemanjaan masyarakat terhadap program pemerintah inilah sebagian desa di wilayah Kecamatan Legonkulon, meskipun sudah dilakukan berbagai pendekatan STBM tetap juga belum merubah perilaku masyarakat untuk BAB, belum lagi dengan kondisi dan kultur daerah yang rawan banjir, serta rawa yang memungkinkan perubahan perilakku tersebut membutuhkan perhatian dan sikap pemerintah untuk membantu pembuatan septitank komunal.

Komitmen masyarakat Desa Mayangan untuk Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) atau Open Defecation Free (ODF) adalah salah satu upaya yang ditujukan untuk mewujudkan perilaku masyarakat yang higienis dan saniter secara mandiri dalam rangka meningkatkan kesehatan lingkungan. Dengan danya komitmen Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) atau Open Defecation Free (ODF) merupakan wujud pemberdayaan masyarakat dengan kemandirian untuk mampu mengubah perilaku buang air besar disembarang tempat.

Komitmen masyarakat terhadap Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) atau Open Defecation Free (ODF) adalah bentuk apresiasi pemerintah kepada seluruh komponen masyarakat desa atas hasil kerja kerasnya dalam mencapai prestasi sebagai desa yang sukses melaksanakan pilar pertama dari 5 Pilar Semangat Program Sanitasi

Total Berbasis Masyarkat (STBM). Komitmen Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) atau Open Defecation Free (ODF) juga memiliki manfaat dan berkontribusi positif bagi peningkatan kualitas kesehatan dan lingkungan masyarakat Desa Mayangan Kecamatan Legonkulon. Dia berharap melalui deklarasi ini akan menjadi penanda perubahan perilaku dan komitmen warga untuk tidak melakukan pencemaran lingkungan melalui kebiasaan buang air besar sembarangan.

Sikap yang baik dan positif para pelaksana terhadap suatu kebijakan menandakan suatu dukungan yang mendorong mereka menunaikan kewajiban sebagaimana yang diinginkan oleh pembuat kebijakan. Demikian pula sebaliknya bila perilaku atau perspektif para pelaksana berbeda denga pembuat keputusan, maka proses melaksanakan suatu kebijakan akan sulit. Dalam penelitian ini, kecendrungan pelaksana kebijakan pelaksanaan implementasi kebijakan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dapat dilihat dari beberapa aspek antara lain dari program-program yang direncanakan dan yang direalisasikan, serta umpan balik dari masyarakat terhadap implementasi kebijakan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Mayangan Kecamatan Legonkulon yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku. Hal-hal tersebut cukup dapat merefleksikan perilaku pelaksana dalam rangka melaksanakan kebijakan.

Dari regulasi yang dijabarkan di atas terjadi gap yang sangat berbeda dengan fakta yang sebenarnya bahwa sikap para pelaksana implementasi program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Mayangan Kecamatan Legonkulon ada sikap/kecenderungan (Disposition) dari para pelaksana. Pemahaman para pelaksana

tentang kebijakan yang diterapkan, bahwa petugas sebenarnya sangat memahami dalam mekanisme program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), namun masih ada kekurangannya dalam pelaksanaannya.

Hal lainya bahwa yang mempengaruhi implementasi kebijakan sehingga tidak berjalan dengan adalah diakibatkan karena kultur yang negatif yang berkembang di masyarakat tentang merubah perilaku sanitasi dan sanitasi dengan memberdayakan masyarakat melalui penggunaan metode pemicu. Ketika masyarakat tidak buang air besar sembarangan (BABS) atau buang air besar sembarangan (ODF), harus ada kondisi sanitasi yang menyeluruh.

Pemicuan ini merupakan metode yang menumbuhkan partisipasi masyarakat secara aktif dengan pengetahuan mereka dan diharapkan masyarakat mampu membuat rencana mengenai kondisi sanitasi mereka. Pemicuan berbeda dengan penyuluhan, karena masyarakat dituntut untuk lebih aktif dalam program Stop BABS ini. Fasilitator hanya sebagai perantara yang bertugas untuk memupuk semangat masyarakat dalam melaksanakan program. Metode ini memilki tujuan untuk mewujudkan kerjasama solid antara anggota pemicuan, fasilitator maupun instansi terkait dengan program Stop BABS ini serta seluruh masyarakat yang terlibat. Kerjasama ini bertujuan untuk tercapainya desa yang ODF di wilayah kerja Puskesmas Legonkulon.

Pembentukan sikap dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, institusi atau lembaga tertentu serta faktor emosi dalam diri individu yang bersangkutan (Sugiono, 2008). Pengetahuan yang baik akan ditunjukkan dengan sikap yang mendukung. Sikap masyarakat terhadap program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Mayangan Kecamatan

Legonkulon sebagian besar menyatakan sikap positif terhadap program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Masyarakat di Desa Mayangan Kecamatan Legonkulon menyambut baik adanya program STBM karena masyarakat telah mengatahui dampak terhadap kesehatan dan lingkungan jika Buang Air Besar Sembarangan (BABs). Hasil penelitian di Desa Mayangan Kecamatan Legonkulon menunjukkan bahwa seluruh masyarakat menyatakan siap untuk Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) atau Open Defecation Free (ODF). Sikap seseorang dipengaruhi oleh faktor eksternal dan

internal. Muncul rasa malu masyarakat Desa Mayangan Kecamatan Legonkulon jika buang air besar di sembarang tempat setelah dilakukan pemicuan. Hal inilah yang menjadi faktor internal yang memunculkan sikap positif masyarakat dalam bentuk pernyataan untuk menjadi desa dengan status ODF. Sehingga sebagian besar masyarakat di Desa Mayangan Kecamatan Legonkulon telah memberikan tanggapan positif terhadap ODF, namun masih ada faktor internal yang mempengaruhi.

Mengadopsi suatu hal yang baru, dimulai dalam diri seseorang melalui proses yang berurutan dalam beberapa tahap, yaitu tahap memahami, meminati, menilai, mencoba, dan mengadopsi. Tindakan masyarakat di Desa Mayangan Kecamatan Legonkulon telah sampai pada tahap adopsi terbukti dengan terbentuknya ODF di desa tersebut. Tetapi masih ada Desa Mayangan Kecamatan Legonkulon masih pada tahap meminati karena terkendala pada faktor kebiasaan dan ekonomi. Solusi faktor kebiasaan dilakukan dengan pemicuan oleh petugas kesehatan dan fasilatator STBM.

Faktor ekonomi solusinya dengan kebijakan dana pembangunan jamban yang telah dianggarkan dalam ADD (Anggaran Dana Desa).

Dalam implementasi program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Mayangan Kecamatan Legonkulon, kemauan dan kesungguhan para pelaksana dalam melakukan implementasi program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dinilai sudah baik. Walaupun dengan berbagai kekurangan dan kendala yang ada, mereka tetap berusaha untuk mensiasatinya seperti penggunaan fasilitas pribadi untuk menunjang kelancaran pelaksanaan kebijakan.

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 43-54)

Dokumen terkait