BAB V HASIL
C. Analisis Bivariat
1. Distribusi Keberadaan Jentik Aedes aegypti Berdasarkan Tempat
Hasil penelitian mengenai hubungan antara tempat perindukan nyamuk dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Benda Baru Tahun 2015 sebagai berikut.
Tabel 12
Distribusi Keberadaan Jentik Aedes aegypti Berdasarkan Tempat Perindukan Nyamuk di Kelurahan Benda Baru Tahun 2015
Tempat Perindukan Nyamuk
Keberadaan Jentik Aedes
aegypti Total Pvalue PR (95% CI) Ada Tidak N % N % N % Artificial 24 88,9 88 87,1 112 87,5 1,000 1,143 Artificial dan Natural 3 11,1 13 12,9 16 12,5 (0,388-3,365)
Berdasakan tabel 12 diketahui bahwa responden paling banyak memiliki tempat perindukan nyamuk artificial dan ditemukan jentik Aedes aegypti ada 24 orang (88,9%) dimana pada tabel 6 diketahui paling banyak ditemukan jentik Aedes aegypti pada dispenser responden (57,14%).
Dari hasil uji statistik diperoleh nilai P value sebesar 1,000 artinya pada tingkat kemaknaan 5% tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tempat perindukan nyamuk dengan keberadaan jentik Aedes aegypti. Selain itu, diperoleh nilai PR sebesar 1,143 ( CI 95% 0,388- 3,365), hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna diantara variabel tempat perindukan nyamuk terhadap keberadaan jentik Aedes aegypti.
2. Distribusi Keberadaan Jentik Aedes aegypti Berdasarkan Perilaku Menguras Tempat Penampungan Air
Hasil penelitian mengenai hubungan antara menguras tempat penampungan air dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Benda Baru tahun 2015 sebagai berikut.
Tabel 13
Distribusi Keberadaan Jentik Aedes aegypti Berdasarkan Perilaku Menguras Tempat Penampungan Air di Kelurahan Benda Baru Tahun 2015 Menguras
Tempat Penampungan Air
Keberadaan Jentik
Aedes aegypti Total
Pvalue PR (95% CI) Ada Tidak N % N % N % Tidak 24 88,9 37 36,6 61 47,7 0,000 0,114 (0,036-0,359) Ya 3 11,1 64 63,4 67 52,3
53
Berdasakan tabel 13 diketahui bahwa responden yang tidak menguras tempat penampungan air dan memiliki jentik Aedes aegypti ada 24 orang (88,9%). Sedangkan responden yang menguras tempat penampungan air dan ditemukan jentik Aedes aegyptiada 3 orang (11,1%).
Dari hasil uji statistik diperoleh nilai P value sebesar 0,000 artinya pada tingkat kemaknaan 5% terdapat hubungan yang bermakna antara menguras tempat penampungan air dengan keberadaan jentik Aedes aegypti. Selain itu, diperoleh nilai PR sebesar 0,114 (0,036-0,359), hal ini berarti bahwa responden yang menguras tempat penampungan air akan mengurangi risiko keberadaan jentik Aedes aegyptirumahnya dibandingkan dengan responden yang tidak menguras tempat penampungan air.
3. Distribusi Keberadaan Jentik Aedes aegypti Berdasarkan Perilaku Menutup Tempat Penampungan Air
Hasil penelitian mengenai hubungan antara menutup tempat penampungan air dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Benda Baru Tahun 2015 sebagai berikut.
Tabel 14
Distribusi Keberadaan Jentik Aedes aegypti Berdasarkan Perilaku Menutup Tempat Penampungan Air di Kelurahan Benda Baru Tahun 2015
Menutup Tempat Penampungan Air
Keberadaan Jentik
Aedes aegypti Total
Pvalue PR (95% CI) Ada Tidak N % N % N % Tidak 19 70,4 28 27,7 47 36,7 0,000 0,244 (0,116-0,514) Ya 8 29,6 73 72,3 81 63,3
Berdasakan tabel 14 diketahui bahwa responden yang tidak menutup tempat penampungan air dan memiliki jentik Aedes aegypti ada 19 orang (70,4%). Sedangkan responden yang menutup tempat penampungan air dan ditemukan jentik Aedes aegyptiada 8 orang (29,6%).
Dari hasil uji statistik diperoleh nilai P value sebesar 0,000 artinya pada tingkat kemaknaan 5% terdapat hubungan yang bermakna antara menutup tempat penampungan air dengan keberadaan jentik Aedes aegypti. Selain itu, diperoleh nilai PR sebesar 0,244 (CI 95% 0,116-0,514), hal ini berarti bahwa responden yang menutup tempat penampungan air akan mengurangi risiko keberadaan jentik Aedes aegyptidi rumahnya dibandingkan dengan responden yang tidak menutup tempat penampungan air.
55
4. Distribusi Keberadaan Jentik Aedes aegypti Berdasarkan Perilaku Mengubur Barang Bekas
Hasil penelitian mengenai hubungan antara mengubur barang bekas dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Benda Baru Tahun 2015 sebagai berikut.
Tabel 15
Distribusi Keberadaan Jentik Aedes aegypti Berdasarkan Perilaku Mengubur Barang Bekas di Kelurahan Benda Baru Tahun 2015
Mengubur Barang Bekas
Keberadaan Jentik
Aedes aegypti Total
Pvalue PR (95% CI) Ada Tidak N % N % N % Tidak 24 88,9 94 118 118 92,2 0,439 1,475 (0,536-4,057) Ya 3 11,1 7 6,9 10 7,8
Berdasakan tabel 15 diketahui bahwa responden yang tidak mengubur barang bekas dan memiliki jentik Aedes aegypti ada 24 orang (88,9%). Sedangkan responden mengubur barang bekas dan ditemukan jentik Aedes aegyptiada 3 orang (11,1%).
Dari hasil uji statistik diperoleh nilai P value sebesar 0,439 artinya pada tingkat kemaknaan 5% tidak terdapat hubungan yang bermakna antara mengubur barang bekas dengan keberadaan jentik Aedes aegypti. Selain itu, diperoleh nilai PR sebesar 1,475 (CI 95% 0,536-4,057), hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna diantara variabel mengubur barang bekas terhadap keberadaan jentik Aedes aegypti.
5. Distribusi Keberadaan Jentik Aedes aegypti Berdasarkan Perilaku Penggunaan Abate
Hasil penelitian mengenai hubungan antara penggunaan abate dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Benda Baru Tahun 2015 sebagai berikut.
Tabel 16
Distribusi Keberadaan Jentik Aedes aegypti Berdasarkan Perilaku Penggunaan Abate di Kelurahan Benda Baru Tahun 2015
Penggunaan Abate
Keberadaan Jentik Aedes
aegypti Total Pvalue PR (95% CI) Ada Tidak N % N % N % Tidak 19 70,4 67 66,3 86 67,2 0,819 0,862 (0,412-1,805) Ya 8 29,6 34 33,7 42 32,8
Berdasakan tabel 16 diketahui bahwa responden yang tidak menggunakan bubuk abate dan memiliki jentik Aedes aegypti ada 19 orang (70,4%). Sedangkan responden yang menggunakan bubuk abate dan ditemukan jentik Aedes aegyptiada 8 orang (29,6%).
Dari hasil uji statistik diperoleh nilai P value sebesar 0,819artinya pada tingkat kemaknaan 5% tidak terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan abate dengan keberadaan jentik Aedes aegypti. Selain itu, diperoleh nilai PR sebesar 0,862 (0,412-1,805), hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna diantara variabel penggunaan abateterhadap keberadaan jentik Aedes aegypti.
57
6. Distribusi Keberadaan Jentik Aedes aegypti Berdasarkan Perilaku Memelihara Ikan Pemakan Jentik
Hasil penelitian mengenai hubungan antara memelihara ikan pemakan jentik dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di Kelurahan Benda Baru Tahun 2015 sebagai berikut.
Tabel 17
Distribusi Keberadaan Jentik Aedes aegypti Berdasarkan Perilaku Memelihara Ikan Pemakan Jentik di Kelurahan Benda Baru Tahun 2015
Memelihara Ikan Pemakan Jentik
Keberadaan Jentik
Aedes aegypti Total
Pvalue PR (95% CI) Ada Tidak N % N % N % Tidak 23 85,2 91 90,1, 114 89,1 0,492 1,416 (0,573-3,501) Ya 4 14,8 10 9,9 14 10,9
Berdasakan tabel 17 diketahui bahwa responden yang tidak memelihara ikan pemakan jentik dan memiliki jentik Aedes aegypti ada 23 orang (85,2%). Sedangkan responden yang memelihara ikan pemakan jentik dan ditemukan jentik Aedes aegyptiada 4 orang (14,8%).
Dari hasil uji statistik diperoleh nilai P value sebesar 0,492 artinya pada tingkat kemaknaan 5% tidak terdapat hubungan yang bermakna antara memelihara ikan pemakan jentik dengan keberadaan jentik Aedes aegypti. Selain itu, diperoleh nilai PR sebesar 1,416 (0,573-3,501), hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna diantara variabel memelihara ikan pemakan jentik terhadap keberadaan jentik Aedes aegypti.
BAB VI PEMBAHASAN
A. Keterbatasan Penelitian
Pada pelaksanaan penelitian terdapat kelemahan yang menjadi keterbatasan penelitian, yakni waktu penelitian dilakukan pada saat musim kemarau (kering) yakni bulan september sehingga mempengaruhi beberapa variabel seperti keberadaan tempat perindukan nyamuk dan keberadaan jentik Aedes aegypti.
B. Keberadaan Jentik Aedes aegypti di Kelurahan Benda Baru Tahun 2015 Berdasarkan Permenkes Nomor 374/Menkes/Per/III/2011 tentang pengendalian vektor, diketahui bahwa vektor adalah arthropoda yang dapat menularkan, memindahkan dan atau menjadi sumber penular penyakit terhadap manusia. Aedes aegypti merupakan vektor penular penyakit DBD. Keberadaan jentik di suatu daerah merupakan indikator terdapatnya populasi nyamukAedes aegyptidi daerah tersebut.
Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa dari 128 rumah yang diperiksa terdapat 27 rumah responden (21,1%) yang ditemukan jentik. Keberadaan jentik Aedes aegypti ditemukan paling banyak di tempat perindukan nyamuk artificialyakni dispenser. Keberadaan jentik Aedes aegyptidipengaruhi oleh beberapa faktor yakni faktor lingkungan dan faktor perilaku masyarakat terkait pemberantasan sarang nyamuk (Suyasa dkk, 2007). Faktor lainnya yang mempengaruhi keberadaan jentik yakni musim.
59
Kepadatan nyamuk ini akan meningkat pada waktu musim hujan, dimana terdapat banyak genangan air bersih yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti (Hadinegoro dan Satari, 2002). Hal ini yang mungkin menyebabkan jentik tidak banyak ditemukan, karena penelitian dilakukan pada musim kemarau (kering) yakni bulan september.
Keberadaan jentik di suatu wilayah dapat diketahui dengan indikator AngkaBebas Jentik (ABJ). Data ABJ di wilayah Kerja Puskesmas Benda Baru pada tahun 2014 melebihi target (≥95%) yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan Indonesia yakni 99%. Akan tetapi, berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ABJ di Kelurahan Benda Baru tahun 2015 belum mencapai target, yakni 78,9 %. Rendahnya ABJ mengindikasikan bahwa kepadatan jentik masih tinggi (Depkes RI, 2005). Dengan demikian, memungkinkan banyak peluang untuk proses transmisi virus (Hasyimi dkk, 2005).ABJ yang tidak mencapai target merupakan indikator ketidakberhasilan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)(Brahim dan Hasnawati, 2010). Hal ini dimungkinkan karena masyarakat kurang melaksanakan PSN dengan baik dan rutin. Oleh karena itu, perlu ditingkatkan kesadaran masyarakat dalam memberantas sarang nyamuk di rumah serta koordinasi antara masyarakat, kader juru pemantau jentik dan puskesmas dalam pengecekan jentik nyamuk Aedes aegypti secara rutin agar dapat memutus rantai perkembangbiakan nyamuk.
C. Keberadaan Jentik Aedes aegypti berdasarkan Tempat perindukan Nyamuk di Kelurahan Benda Baru Tahun 2015
Aedes aegypti memiliki ciri berkembang biak di air yang bersih. Dalam siklus nya, Aedes aegypti akan menaruh telurnya di dinding tempat perindukannya. Tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti adalah tempat penampungan air yang bersih yang tidak bersinggungan dengan tanah atau langsung terkena sinar matahari (Hasyimi, 2004).
Aedes aegypti umumnya memiliki habitat di lingkungan perumahan, di mana terdapatbanyak genangan air bersih dalam bak mandi. Kelurahan Benda Baru merupakan wilayah permukiman yang cukup padat sehinggahasil observasi menunjukkan bahwa seluruh responden memiliki tempat perindukan nyamuk. Sebagian besar responden (87,5%) memiliki tempat perindukan nyamuk jenis artificial yakni sebanyak 112 rumah responden. Tempat perindukan nyamuk artificial yang paling banyak ditemukan yakni bak mandi (40,2%). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Ridha dkk (2013) serta Zubaedah dkk (2014), dimana diketahui bahwa bak mandi menjadi tempat penampungan air yang paling banyak.
Berdasarkan analisa tabel silang menunjukkan bahwa dispenser merupakan tempat perindukan yang banyak ditemukan jentik Aedes aegypti. Tempat perindukan yang bervolume kecil seperti dispenser dapat menjadi tempat potensial jentik Aedes aegypti untuk berkembang biak. Hal ini disebabkan karena masyarakat jarang membuang dan menguras air yang tertampung di dispenser.
61
Hasil uji univariat menunjukkan bahwa terdapat 16 rumah responden (12,5%) memiliki tempat perindukan nyamuk artificial dan natural. Ketersediaan tempat perindukan nyamuk natural lebih sedikit dibandingkan dengan artificial karena pelaksanaan penelitian dilakukan di musim kemarau sehingga tempat perindukan nyamuk jenis natural tidak banyak ditemukan. Akan tetapi, karakteristik wilayah Kelurahan Benda Baru banyak memiliki lahan pekarangan di rumah sehingga memiliki kecendrungan yang besar untuk menjadi tempat perindukan nyamuk jenis natural seperti pelepah daun dan tempurung kelapapada musim penghujan. Penyebaran populasi Aedes aegyptidipengaruhi oleh faktor musim, peningkatanbiasanya terjadi pada saat musim hujan, karena jentik membutuhkan air yang cukup untuk perkembangannya (Safar R, 2010).Ketersediaan tempat perindukan nyamuk baik artificial maupun natural sangat berperan dalam keberadaan vektor DBD, karena semakin banyak tempat perindukan maka akan semakin padat populasi vektor DBD (Sari dan Darnoto, 2012).
Berdasarkan uji statistik diketahui bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tempat perindukan nyamuk dengan keberadaan jentik Aedes aegypti. Diketahui bahwa paling banyak ditemukan jentik Aedes aegypti pada tempat perindukan nyamuk artificial responden (88,9%) khususnya pada dispenser (57,14%). Hasil ini sejalan dengan penelitianyang dilakukan oleh Nugroho (2009) yang menunjukkan bahwa tidak adahubungan antara tempat perindukannyamuk dengan keberadaan jentikAedes aegypti. Akan tetapi, penelitian ini tidak sejalan dengan Santi dkk (2015) ada hubungan antara tempat penampungan air dengan keberadaan jentik aedes aegypti di RW II
Kelurahan Sukorejo.Hal ini karena ditemukan tempat perindukan pada semua responden, sehingga dalam proses analisis tidak menunjukkan adanya hubungan antara tempat perindukan nyamuk dengan keberadaan jentik Aedes aegypti. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat mengurangi tempat penampungan air baik natural seperti pelepah daun dan tempurung kelapa maupun artificialkhususnya tampungan air di dispenser yang dapat menjadi tempat potensial perindukan nyamuk Aedes aegypti.
D. Keberadaan Jentik Aedes aegypti berdasarkan Perilaku Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di Kelurahan Benda Baru Tahun 2015
1. Keberadaan Jentik Aedes aegypti berdasarkan Perilaku Menguras Tempat Penampungan Air
Menguras tempat penampungan air merupakan salah satu cara fisik dalam pemberantasan terhadap jentik nyamuk Aedes aegypti. Kegiatan ini perlu dilakukan minimal seminggu sekali agar nyamuk tidak berkembang biak (Depkes RI, 2013). Pengurasan dilakukan dengan cara menyikat dinding tempat penampungan air dan menggunakan sabun agar bersih dari telur Aedes aegypti.
Berdasarkan hasil uji univariat diketahui bahwa masyarakat yang melakukan kegiatan pengurasan tempat penampungan air lebih banyak yakni 67 responden (52,3%). Akan tetapi, masyarakat yang tidak melakukan pengurasan pun masih terbilang banyak yakni 61 responden (47,7%). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Nomitasari dkk (2012) yang menunjukkan bahwa lebih banyak masyakarat yangtelah
63
melakukan praktik menguras tempat penampungan air dengan baik (64,4%). Namun pada penelitian Jaya dkk (2013) diketahui bahwa responden yang menguras tempat penampungan air sama jumlahnya dengan responden yang tidak menguras tempat tempat penampungan air(50.0%).
Berdasarkan hasil analisa tabel silang, responden yang tidak menguras tempat penampungan air dan memiliki jentik Aedes aegypti(88,9%) lebih banyak dibandingkan responden yang tidak menguras tempat penampungan air dan tidak ditemukan jentik Aedes aegypti(36,6%).Secara rinci diketahui bahwa ditemukan jentik pada responden yang menguras > 1 minggu (57,1%) dan cara menguras tempat penampungan air yang salah yakni tidak menggunakan sikat dan sabun (57,1 %). Berdasarkan uji Chi Square diketahui bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara menguras tempat penampungan air dengan keberadaan jentik Aedes aegypti. Hasil penelitian tersebut didukungdengan penelitian sebelumnyayakni Lintang, dkk (2010) yang dilakukan di Kota Semarang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara menguras tempat penampungan air (TPA) dengan keberadaan jentik Aedes aegypti. Meskipun demikian, hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Syarief (2008) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara menguras tempat penampungan air dalam rumah dengan keberadaan jentik Aedes aegypti.
Hasil observasi di lapangan menunjukkan bahwa responden tidak melakukan kegiatan pengurasan karena tempat penampungan air
memiliki ukuran yang kecil dimana air yang ditampung digunakan untuk keperluan sehari-hari sehingga air sering diganti setiap hari. Perkembangbiakan telur nyamuk memerlukan waktu 1-2 hari untuk menjadi jentik (Depkes RI, 2005). Dengan penggunaan tempat penampungan air yang kecil atau secara terus menerus setiap hari maka menyebabkan tidak ditemukan jentik pada tempat penampungan air yang tidak dikuras.
Kegiatan menguras tempat penampungan air dengan cara menyikat menggunakan sabun dinding tempat penampungan air dimaksudkan untuk menghilangkan telur-telur nyamuk yang menempel pada dinding tempat penampungan air (Depkes RI, 2004b).Seperti yang diketahui bahwa, telur yang masih menempel tersebut akan berkembang menjadi jentik dan nyamuk dewasa. Perkembangbiakan tersebut memerlukan asupan makanan bagi jentik.
Mikroorganisme merupakan sumber makanan bagi jentik. Mikroorganisme yang menjadi makanan jentik tumbuh pada dinding tempat penampungan air (Hadi dkk, 2006). Dengan berkurangnya sumber makanan bagi jentik peluang jentik untuk mempertahankan hidupnya sangatlah kecil. Sehingga kegiatan menguras tempat penampungan air dengan menyikat dinding tempat penampungan air dengan menggunakan sabun dapat memperkecil kesempatan telur nyamuk untuk berkembang menjadi nyamuk dewasa. Selain itu, Kebiasaan menguras tempat penampungan air lebih dari seminggu sekali dapat memberikan kesempatan telur Aedes aegyptimenjadi nyamuk
65
dewasa karena telur nyamuk Aedes aegypti dapat bertahan hidup dalam waktu beberapa bulan dalam kondisi kering dan akan menetas setelah terisi air kembali. Dengan demikian, masyarakat diharapkan untuk menguras tempat penampungan air sehingga dapat menghambat pertumbuhan telur menjadi nyamuk dewasa yang berkisar antara 7-14 hari.
2. Keberadaan Jentik Aedes aegypti berdasarkan Perilaku Menutup Tempat Penampungan Air
Masyarakat memiliki kebiasaan menggunakan tempat penampungan air jenis ember/drum dalam penyimpan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. JentikAedes aegypti ditemukan di tempat penampungan air di rumah yang kurang memperhatikan kebersihannya. Keberadaan tempat penampungan air tersebut merupakan potensi bagi Aedes aegypti sebagai tempat untuk berkembangbiak. Hal ini menjadi lebih buruk lagi dengan perilaku responden yang tidak menutup tempat- tempat penampungan air. Menurut Hasyimi dkk (2009), ketersediaan tempat penampungan air yang terbuka menyebabkan nyamuk bebas masuk ke dalam penampungan air untuk berkembang biak.
Berdasarkan hasil uji univariat diketahui bahwa mayoritas responden menutup tempat penampungan air dengan rapat yakni 81 orang (63,3%). Hal ini serupa dengan penelitian Jaya dkk (2013) yakni sebanyak 75 rumah (75.0%) menutup rapat tempat penampungan air. Hasil analisa tabel silang menunjukkan bahwa diantara responden yang
memiliki jentik Aedes aegypti, lebih banyak responden yang tidak menutup tempat penampungan air (70,4%) dibanding responden yang menutup tempat penampungan air (29,6%).
Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa tempat perindukan nyamuk jenis artificial yang banyak ditemukan berupa bak mandi dan ember. Dari observasi diketahui bahwa bak mandi merupakan tempat penampungan air yang tidak memiliki penutup, sehingga responden tidak melakukan kegiatan penutupan tempat penampungan air. Akan tetapi, pada jenis ember yang merupakan tempat penampungan air dan memiliki penutup. Beberapa responden tidak menutup dengan rapat tempat penampungan air tersebut karena jenis ember dengan volume kecil sehingga air selalu habis. Keberhasilan perkembangbiakan nyamuk Aedes didukung oleh ukuran tempat penampungan air yang cukup besar dan air yang berada didalammya cukup lama (Hasyimi, 2004). Dengan demikian, ember tersebut tidak dapat menjadi tempat perkembangbiakan bagi nyamuk Aedes aegypti. Sedangkan untuk tempat perindukan jenis natural tidak di lakukan kegiatan penutupan sehingga dapat menjadi perkembangbiakan natural. Pelaksanaan penelitian yang tidak dilakukan pada musim hujan menyebabkan Aedes aegypti tidak dapat berkembangbiak pada tempat perindukan nyamuk natural. Hal ini didukung dengan penelitian Yanti (2004) yang menyatakan bahwa jumlah hari hujan yang sedikit dengan curah hujan tinggi tetapi waktunya panjang akan menambah tempat perindukan nyamuk dan meningkatkan populasi nyamuk.
67
Hasil uji Chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara menutup tempat penampungan air dengan keberadaan jentik Aedes aegypti. Penelitian ini didukung dengan penelitian Jaya dkk (2013) bahwa menutup rapat tempat penampungan air berhubungan dengan keberadaan larva Aedes aegyptidengan p=0.000. Penelitian yang dilakukan oleh Badrah (2011) juga menyatakan bahwa ada hubungan antara kondisi TPA dengan keberadaan jentik dengan p=0.000. Akan tetapi, hal ini bertolak belakang dengan penelitian Benvie (2005) dan Desniawati (2014) yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara menutup tempat penampungan air (TPA) dengan keberadaan larva Aedes aegypti.
Keberadaan penutup tempat penampungan air yang tidak rapat lebih disukai oleh nyamuk betina sebagai tempat bertelur, dibandingkan dengan tempat air yang terbuka. Karena masih terdapat celah akibat penutup tempat penampungan air yangtidak dipasang secara baik dan sering dibuka mengakibatkan ruang di dalamnya relatif lebih gelap (Soedarmo, 2005). Oleh karena itu, dianjurkan untukselalu menutup kembali tempat penampungan air setelah digunakan. Dengan demikian, masyarakat dapat meminimalisir kesempatan nyamuk Aedes Aegypti dalam peletakkan telur pada tempat penampungan air.
3. Keberadaan Jentik Aedes aegypti berdasarkan Perilaku Mengubur Barang Bekas
Kegiatan mengubur barang bekas dilakukan merupakan salah satu praktik pemberantasan sarang nyamuk DBD. Kegiatan ini dilakukan dengan cara mengubur barang-barang bekas yang berpotensi menampung air dan menjadi tempat perkembangbiakan jentikAedes aegypti. Barang bekas yang umumnya di temukan di rumah masyarakat yakni kaleng bekas, ban bekas, botol bekas.
Berdasarkan hasil uji univariat tabel 11 menunjukkan bahwamayoritas jenis barang bekas yang dimiliki responden di Kelurahan Benda Baru yakni botol/kaleng bekas (63,33%). Selain itu, diketahui bahwa mayoritas responden tidak mengubur barang bekas yakni sebanyak 118 orang (92,2%). Sedangkan hanya 10 orang lainnya (7,8%) yang mengubur barang bekas. Hal ini dimungkinkan terjadi karena responden tidak mempunyai cukup ruang dan kurangnya lahan yang digunakan untuk mengubur barang-barang bekas serta masyarakat cenderung mengumpulkan barang bekas kemudian di ambil oleh petugas kebersihan. Selain itu, faktor musim kemarau saat pelaksanaan penelitian mempengaruhi jumlah barang bekas yang menampung air sehingga tidak terdapat barang bekas yang memungkinkan bagi nyamuk Aedes aegypti untuk bertelur dan berkembangbiak. Hal ini didukung oleh Hadinegoro dan Satari (2002) yang menyatakan bahwa musim hujan, menimbulkan banyak genangan air bersih yang dapat menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegypti.
69
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara mengubur barang bekas dengan keberadaan jentik Aedes aegypti. Terdapatresponden yang tidak mengubur barang bekas dan memiliki jentik Aedes aegypti 24 orang (88,9%), sedangkan responden yang menutup tempat penampungan air dan ditemukan jentik Aedes aegyptiada 3 orang (11,1%). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Anggara (2005) di wilayah Kerja Puskesmas Dahlia Kota Makassar yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara mengubur barang-barang bekas dengan keberadaan larva Aedes aegypti.Hasil serupa ditunjukkan oleh Yudhastuti dan Vidiyani (2005) di Surabaya.
Hasil Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan Desniawati (2014), dimana terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku mengubur barang –barang bekas dengan keberadaan larva Aedes aegypti, serta penelitian yang dilakukan oleh Nomitasari dkk (2012) yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (p=0,001) antara praktik memusnahkan barang-barang bekas di kelurahan percontohan dan kelurahan non percontohan. Hal tersebut dikarenakan kepadatan penduduk yang tinggi sehingga tidak mempunyai cukup ruang untuk mengumpulkan barang-barang bekas.
Ketersediaan barang bekas yang menampung air mengindikasikan kepadatan nyamuk, sehingga dapat diprediksikan bahwa pada musim penghujan keberadaan sampah padat mempunyai resiko yang cukup besar sebagai tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti. Dengan demikian masyarakat diharapkan untuk mengurangi tempat perindukan nyamuk,
dalam hal ini barang bekas seperti botol/kaleng bekas serta ban bekas dengan menangani sampah padat melalui teknik yang efektif dan ramah