• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Analisa Hasil Penelitian

2. Distribusi Responden Berdasarkan jenjang pendidikan

Jenjang Pendidikan No Usia Frekuensi % 1 SD 1 1.16 2 SMP 4 4.65 0 10 20 30 40 50 60 Laki-laki Perempuan

3 SMA 45 52.33

4 D3 18 20.93

5 S1 18 20.93

Total 100 100

Gambar 4.2

Grafik Responden Berdasarkan Jenjang Pendidikan

Sumber : Data Penelitian 2014

Berdasarkan tabel diatas, jumlah responden menurut jenjang pendidikan yang paling banyak adalah lulusan SMA sebanyak 45 orang dengan persentase 52,33%. Kemudian S1 dan D3 sebanyak masing-masing 18 orang dengan persentase masing-masing 20,93%, SMP sebanyak 4 orang dengan persentase 4,65%, dan jumlah responden lulusan SD paling sedikit yakni hanya 1 orang dengan persentase 1,16%. 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 SD SMP SMA D3 S1

3. Uji Validitas

Suatu skala pengukuran dikatakan valid apabila skala tersebut digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.. Dikatakan valid jika dapat mengukur data dari variabel yang diteliti secara tepat. Data yang valid dapat dilihat jika koefisiennya > 0,3. Data angket setelah diolah dengan software SPSS versi 17 didapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 4.29 Uji Validitas

Soal Koefisien X Koefisien Y Validitas

1 0,815 0,818 Valid 2 0,912 0,690 Valid 3 0,838 0,720 Valid 4 0,409 0,497 Valid 5 0,733 0,818 Valid 6 0,840 0,388 Valid 7 0,941 0,614 Valid 8 0,900 0,641 Valid 9 0,833 0,818 Valid 10 0,709 0,547 Valid 11 0.409 0,818 Valid 12 0,733 0,690 Valid 13 0,840 0,503 Valid 14 0,941 0,614 Valid

15 0,900 0,641 Valid

Berdasarkan tabel diatas nilai koefisien semua soal lebih besar dari 0,3 sehingga semua soal dinyatakan valid.

4. Uji Rebilitas

Setelah dinyatakan valid melalui uji validitas, langkah selanjutnya adalah melakuikan uji reabilitas. Dikatakan reliabilitas jika nilai alpha > r tabel (α > r tabel). Setelah dilakukan pengujian reabilitas didapatkan hasil nilai alpha cronbach’s pada variable X dan Y lebih besar dari nilai R table dengan df-1(85) yakni 0,2108 sehingga data penelitian dinyatakan realibel. Nilai Reliabilitas dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.30 Uji Reliabilitas alpha cronbach’s X alpha cronbach’s Y R Tabel Reliabilitas 0,958 0,921 0,2108 Reliabel

5. Uji Normalitas Data

Uji normalitas di lakukan untuk mengetahui apakah sampel yang diteliti terdistribusi normal atau tidak. Untuk itu penulis dalam menguji normalitas menggunakan uji kolmogorof-Smirnov dengan SPSS 17.

Tabel 4.31 Uji Normalitas

Analisis uji normalitas dengan Kolmogorof smirnov adalah : Ho : Populasi berdistribusi normal

Ha : Populasi tidak berdistribusi normal

Dasar pengambilan keputusan adalah berdasarkan probabilitas. Jika nilai probabilitas > 0.05 maka Ho diterima dan jika nilai probabilitas <= 0.05 maka Ho ditolak.

Pada variabel Product Quality bahwa pada kolom signifikan (Asymp. Sig(2-tailed) adalah 0.057 atau probabilitas lebih dari 0.05 maka Ho diterima yang berarti populasi berdistribusi normal.

Pada variabel Customer Intention bahwa pada kolom signifikan (Asymp. Sig(2-tailed) adalah 0.066 atau probabilitas lebih dari 0.05 maka Ho diterima yang bearti populasi berdistribusi normal. Sehingga dapat

disimpulkan bahwa semua variable populasinya terdistribusi normal atau memenuhi syarat normalitas data.

6. Uji Korelasi

Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel independen. Kekuatan pengaruh variabel bebas terhadap variasi variabel terikat dapat diketahui dari besarnya nilai koefisien determinan (R2), yang berada antara nol dan satu.

Tabel 4.32

Uji Koefisien Determinasi

Tabel diatas menunjukkan nilai R square sebesar 0,003. Hal ini berarti 0,3 persen Customer Intention dipengaruhi oleh variabel bebas Product Quality. Sedangkan sisanya 99,7 persen dipengaruhi oleh sebab-sebab lain di luar model.

7. Analisis Regresi Linier

Untuk mengetahui pengaruh faktor product quality dengan customer intention dapat diketahui dengan analisis regresi linier. Berikut hasil analisis dengan menggunakan Software SPSS 17

Tabel 4.32 Analisa Regresi Linier

Tabel Anova digunakan untuk menentukan taraf signifikansi atau linieritas dari regresi. Kriterianya dapat ditentukan berdasarkan uji F atau uji nilai Signifikansi (Sig.). Cara ini dilakukan menggunakan uji Sig., dengan ketentuan, jika Nilai Sig. < 0,05, maka model regresi adalah linier, dan berlaku sebaliknya. Berdasarkan tabel Anova, diperoleh nilai Sig. = 0,000 yang berarti < kriteria signifikan (0,05), dengan demikian model persamaan regresi berdasarkan data penelitian adalah signifikan artinya, model regresi linier memenuhi kriteria linieritas.

Tabel coefficients menginformasikan model persamaan regresi yang diperoleh dengan koefisien konstanta dan koefisien variabel yang ada di kolom Unstandardized Coefficients B. Berdasarkan tabel ini diperoleh model persamaan regresi : Y = 53,925 + 0,046X.

Persamaan regresi Customer intention atas product quality adalah linier positif atau ada pengaruh garis lurus antar variabel, dengan hasil ini persamaan regresi Y = 53,925 + 0,046X adalah signifikan dan berpola linier dalam arti jika product quality bertambah satu satuan, maka customer intention akan meningkat senilai 4,6%.

BAB V

PENUTUP

A.KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka kesimpulan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Lebih besar responden yang menyatakan bahwa quality product BSM Syariah cabang Tangerang ada pada kategori baik yakni 91,2% dibandingkan yang menganggap buruk yakni hanya 8,8% saja.

2. Lebih banyak responden yang customer intention pada BSM Syariah ada pada kategori tinggi yakni 76,74% dibandingkan yang ada pada kategori rendah yakni bernilai 23,26%.

3. Terdapat pengaruh antara Product Quality dengan Customer Intention pada nasabah BSM Cabang Tangerang namun cukup kecil yakni hanya 0,3% saja. Sedangkan sisanya 99,7 persen dipengaruhi oleh sebab-sebab lain di luar model.

B.SARAN

1. Sebaiknya pihak Bank Syariah Mandiri cabang Tangerang terus meningkatkan product qualitynya nya karena hal itu berpengaruh terhadap customer intention nasabah sehingga dapat meningkatkan performance keuangan Bank.

2. Sebaiknya customer intention nasabah BSM cabang Tangerang terus didorong untuk selalu loyal terhadap Bank tersebut baik dari segi kualitas produk bahkan dari segala sisi.

3. Sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan tentang factor-faktor lain yang mempengaruhi customer intention pada Bank Syariah Mandiri karena kontribusi product quality hanya sebesar 0,3% sehingga masih ada 99,7% di kontribusi oleh factor lain diluar penelitin ini.

17

BAB II

KUALITAS PRODUK DAN MINAT NASABAH

A. Pengertian Kualitas

Menurut Kotler dan Amstrong, quality atau kualitas adalah karakteristik dari produk dalam kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang telah ditentukan dan bersifat laten.1 Sedangkan menurut Garvin dan A. Dale Timpe kualitas adalah keunggulan yang dimiliki oleh produk tersebut.2 Selanjutnya menurut Tjiptono, kualitas merupakan perpaduan antara sifat dan karakteristik yang menentukan sejauh mana keluaran dapat memenuhi prasyarat kebutuhan pelanggan atau menilai sampai seberapa jauh sifat dan karakteristik itu memenuhi kebutuhannya.3

Menurut Davis, kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Pendekatan yang digunakan Davis ini menegaskan bahwa kualitas bukan hanya menekankan pada aspek hasil akhir, yaitu produk dan jasa tetapi juga menyangkut kualitas manusia, kualitas lingkungan. Sangatlah mustahil menghasilkan produk dan jasa yang berkualitas tanpa melalui manusia dan proses yang berkualitas.4

1

Kotler, Philip dan Armstrong, Garry. Prinsip-Prinsip Pemasaran. Jilid 1. (Jakarta : Erlangga, 2008)

2

Alma, Buchari, Manajemen Pemasaran & Pemasaran Jasa. (Bandung : CV. Alfabeta,2007)

3

Tjiptono, Fandy, Strategi Bisnis Pemasaran. (Yogyakarta : Andi., 2008)

4

Yamit Zulian, Manajemen Kualitas Produk dan Jasa, Edisi 1, Cetakan 4 (Yogyakarta: Ekonisia, 2005), h. 8.

Menurut Fandy Tjiptono, ada lima macam perspektif kualitas yang berkembang dikalangan praktisi bisnis, yaitu : 5

1. Transcendental Approach

Kualitas dalam pendekatan ini adalah sesuatu yang dapat dirasakan, tetapi sulit didefinisikan dan dioperasionalisasikan maupun diukur. Perspektif ini umumnya diterapkan dalam karya seni seperti musik, seni tari, seni drama dan seni rupa.

2. Product-based Approach

Kualitas dalam pendekatan ini adalah suatu karakteristik atau atribut yang dapat diukur. Perbedaan kualitas mencerminkan adanya perbedaan atribut yang dimiliki produk secara objektif, tetapi pendekatan ini dapat menjelaskan perbedaan dalam selera dan preferensi individual.

3. User-based Approach

Kualitas dalam pendekatan ini didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada orang yang memandangnya, dan produk yang paling memuaskan preferensi seseorang atau cocok dengan selera (fitnes for used) merupakan produk yang berkualitas paling tinggi.

4. Manufacturing-based Approach

Kualitas dalam pendekatan ini adalah bersifat supply-based atau dari sudut pandang produsen yang mendefinisikan kualitas sebagai sesuatu yang sesuai dengan persyaratannya (conformance quality) dan prosedur.

5

5. Value-based Approach

Kualitas dalam pendekatan ini adalah memandang kualitas dari segi nilai dan harga. Kualitas didefinisikan sebagai ”affordable excellence”, oleh karena itu kualitas dalam pandangan ini bersifat relatif, sehingga produk yang memiliki kualitas paling tinggi belum tentu produk yang paling bernilai. Produk yang paling bernilai adalah produk yang paling tepat dibeli.

B. Pengertian Produk

Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan ,dimiliki, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan. Produk mencakup objek fisik, jasa, orang, tempat, organisasi dan gagasan. Produk adalah alat pemasaran yang paling mendasar menurut Kotler dan Amstrong menyatakan bahwa :”Produk adalah segala seuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan ,dimiliki, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan. Produk mencakup objek fisik, jasa, orang, tempat, organisasi dan gagasan.”6

Pengertian produk menurut David W, Produk adalah segala sesuatu yang memilki nilai disuatu pasar sasaran dimana kemampuannya memberikan manfaat dan kepuasan termasuk benda, jasa, organisasi, tempat, orang, ide”.

6

Kotler, Philip danArmstrong, Garry, Prinsip-Prinsip Pemasaran. Jilid 1.( Jakarta : Erlangga, 2008.) h. 11

Dapat disimpulkan bahwa produk adalah seperangkat atribut baik yang berwujud maupun tidak berwujud yang digunakan untuk memenuhikebutuhan konsumen.

Menurut Kotler, produk dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu :7

1. Berdasarkan wujudnya, produk dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok utama, yaitu :

a. Barang

Barang merupakan produk yang berwujud fisik, sehingga bisa dilihat, diraba atau disentuh, dirasa, dipegang, disimpan, dipindahkan, dan perlakuan fisik lainnya.

b. Jasa

Jasa merupakan aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual (dikonsumsi pihak lain). Seperti halnya bengkel reparasi, salon kecantikan, hotel dan sebagainya.

Perbedaan antara kelompok barang dan jasa adalah pada kelompok barang berwujud fisik dan langsung dirasakan dampaknya sedang pada kelompok jasa adalah tak berbentuk fisik dan hanya didapatkan manfaat atau kepuasannya saja. Berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan bahwa produk Bank Syariah Mandiri termasuk dalam kelompok jasa.

2. Berdasarkan aspek daya tahannya produk dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :

7

a. Barang tidak tahan lama (nondurable goods) Barang tidak tahan lama adalah barang berwujud yang biasanya habis dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali pemakaian. Dengan kata lain, umur ekonomisnya dalam kondisi pemakaian normal kurang dari satu tahun. Contohnya: sabun, pasta gigi, minuman kaleng dan sebagainya. b. Barang tahan lama (durable goods)

Barang tahan lama merupakan barang berwujud yang biasanya bisa bertahan lama dengan banyak pemakaian (umur ekonomisnya untuk pemakaian normal adalah satu tahun lebih).

3. Berdasarkan tujuan konsumsi yaitu didasarkan pada siapa konsumennya dan untuk apa produk itu dikonsumsi, maka produk diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :

a. Barang konsumsi (consumer’s goods)

Barang konsumsi merupakan suatu produk yang langsung dapat dikonsumsi tanpa melalui pemrosesan lebih lanjut untuk memperoleh manfaat dari produk tersebut.

b. Barang industri (industrial’s goods)

Barang industri merupakan suatu jenis produk yang masih memerlukan pemrosesan lebih lanjut untuk mendapatkan suatu manfaat tertentu. Biasanya hasil pemrosesan dari barang industri diperjual belikan kembali

C. Pengertian Kualitas Produk

Kotler dan Armstrong mendefinisikan product quality atau kualitas produk sebagai salah satu sarana positioning utama pemasar.8 Kualitas memiliki dampak langsung pada kinerja produk atau jasa. Untuk mencapai kualitas produk yang diinginkan maka diperlukan suatu standarisasi kualitas. Cara ini dimaksudkan untuk menjaga agar produk yang dihasilkan memenuhi standar yang telah ditetapkan sehingga konsumen tidak akan kehilangan kepercayaan terhadap produk yang bersangkutan. Pemasar yang tidak memperhatikan kualitas produk yang ditawarkan akan menanggung tidak loyalnya konsumen sehingga penjualan produknya pun akan cenderung menurun. Jika pemasar memperhatikan kualitas, bahkan diperkuat dengan periklanan dan harga yang wajar maka konsumen tidak akan berpikir panjang untuk melakukan pembelian terhadap produk Kotler dan Amstrong.9

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kualitas produk adalah salah satu sarana positioning utama pemasar yang memiliki standarisasi kualitas, di mana tujuan dari standarisasi kualitas ini adalah agar konsumen tidak akan kehilangan kepercayaan terhadap produk yang bersangkutan, karena produk yang dihasilkan telah memenuhi standar yang telah ditetapkan.

8

Philip Kotler, dan Amstrong, Garry. Prinsip-Prinsip Pemasaran (Jakarta : Erlangga, 2008)h.272

9

D. Indikator Kualitas Produk

Menurut Parasuraman, Zeithaml, dan Berry dalam Tjiptono dan Chandra, terdapat lima dimensi utama pada kualitas jasa, dan jasa yang dimaksud dalam hal ini adalah jasa produk perbankan. Adapun dimensi-dimensi tersebut adalah sebagai berikut :10

1. Bukti Fisik (tangible)

Berkenaan dengan daya tarik fasilitas fisik, perlengkapan, dan material yang digunakan perusahaan, serta penampilan karyawan.

2. Empati (empathy)

Berarti bahwa perusahaan memahami masalah para pelanggannya dan bertindak demi kepentingan pelanggan, serta memberikan perhatian personla kepada para pelanggan dan memiliki jam operasi yang nyaman. 3. Reliabilitas (reliability)

Berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk memberikan layanan yang akurat sejak pertama kali tanpa membuat kesalahan apapun dan menyampaikan jasanya sesuai dengan waktu yang disepakati.

4. Daya Tanggap (responsiveness)

Berkenaan dengan ketersediaan dan kemampuan para karyawan untuk membantu para pelanggan dan merespon permintaan mereka, serta menginformasikan kapan jasa akan diberikan dan kemudian memberikan jasa secara cepat.

10

Tjiptono, Fandy dan Chandra, Gregorius. Service, Quality & Satisfaction. Edisi 3.

5. Jaminan (assurance)

Yakni perilaku para karyawan mampu menumbuhkan kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan dan perusahaan bisa menciptakan rasa aman bagi para pelanggannya.

E. Teori Minat Nasabah

Menurut Assael dalam Ikhwan Susila dan Faturrahman, minat (intention) adalah suatu kecenderungan untuk melakukan tindakan terhadap obyek.11 Sedangkan dalam Kamus Besar bahasa Indonesia, minat diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu.12 Selanjutnya Slameto menyatakan bahwa minat merupakan suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat merupakan kekuatan pendorong yang menyebabkan seseorang menaruh perhatian pada orang lain, pada aktivitas atau objek lain.13

Menurut Setyawan dan Ihwan, beberapa pengertian mengenai minat dapat dirangkum dalam empat pernyataan, yaitu sebagai berikut :14

1. Minat dianggap sebuah ‘perangkap’ atau perantara antara faktor-faktor motivasional yang mempengaruhi perilaku.

2. Minat mengindikasikan seberapa jauh seseorang mempunyai kemampuan untuk mencoba.

11

Ikhwan Susila dan Fatchurrahman, Service Value : Sebuah Variabel Pemediasi Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Minat Beli. Empirika. Vol. 17. No.1. Juni 2004

12

Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi 3.( Jakarta : Balai pustaka, 2008) h.583

13

Slameto. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2010) h.180

14

Setyawan, Anton A. dan Ihwan Susila. Pengaruh Service QualityPerceptionTerhadap Purcase Intention. Usahawan. No. 07. Tahun XXXI11. Juli 2004

3. Minat menunjukkan pengukuran kehendak seseorang. 4. Minat berhubungan dengan perilaku yang terus-menerus.

Yamit mengungkapkan bahwa nasabah adalah orang yang berinteraksi dengan perusahaan setelah proses produksi selesai, karena mereka adalah pengguna produk.15 Sedangkan menurut Kasmir, nasabah merupakan konsumen yang membeli atau menggunakan produk yang dijual atau ditawarkan oleh bank.16 Selanjutnya pengertian minat nasabah menurut Kanuk adalah pengaruh eksternal, kesadaran akan kebutuhan, pengenalan produk dan evaluasi alternatif adalah hal yang dapat menimbulkan minat beli konsumen. Pengaruh eksternal ini terdiri dari usaha pemasaran dan faktor sosial budaya.17

F. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat

Menurut Kotler, beberapa faktor yang membentuk minat adalah sebagai berikut : 18

1. Sikap orang lain, sejauh mana sikap orang lain mengurangi alternative yang disukai seseorang akan bergantung pada dua hal yaitu, intensitas sifat negative orang lain terhadap alternatif yang disukai konsumen dan motivasi konsumen untuk menuruti keinginan orang lain.

15

Yamit, Zulian, Manajemen Kualitas Produk dan Jasa. Edisi Pertama, Cetakan Keempat.( Yogyakarta : Ekonisia, 2005)

16

Kasmir. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Edisi Revisi.( Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2008) h.94

17

Kanuk, Leslie Lazar dan Schiffman, Leon, Consumer Behaviour Perilaku Konsumen,

Edisi 7.( Jakarta : PT. Indeks, 2008) h.25

18

2. Faktor situasi yang tidak terantisipasi, faktor ini nantinya akan dapat mengubah pendirian konsumen dalam melakukan pembelian. Hal tersebut tergantung dari pemikiran konsumen sendiri, apakah dia percaya diri dalam memutuskan akan membeli suatu barang atau tidak.

G. Motif Minat Nasabah

Menurut Walgito, bahwa didalam minat terkandung unsur motif dan perhatian. Adapun unsur-unsur tersebut mengandung hal-hal di bawah ini: 19 a. Awareness (kesadaran)

Receiver atau penerima pesan dengan sadar menerima rangsangan berupa

pesan yang dikirim oleh komunikator yaitu perusahan yang menawarkan produknya melalui media cetak atau elektronik.

b. Interest (Minat)

Bagaimana agar penerima pesan (calon pembeli) berminat dan ingin tahu lebih jauh. Kesadaran akan meningkat sebagai perhatian dan timbul rasa ingin tahu secara lebih rinci. Untuk itu membujuk mereka agar mau mengikuti pesan yang disampaikan.

c. Desire (Keinginan)

Menggerakan dan membangkitkan keinginan untuk memiliki atau menikmati produk.

19

d. Action (Tindakan)

Membujuk calon pembeli agar sesegera mungkin melakukan tindakan pembelian. Bujukan yang diberikan berupa harapan agar calon pembeli segera mungkin pergi melihat-lihat di showroom. Dalam hal ini diharapkan adanya tindakan pembelian.

H. Indikator Minat Nasabah

Indikator-indikator dari minat dijelaskan oleh komponen dari Schiffman dan Kanuk. Komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut :20

1. Faktor kebutuhan individu 2. Faktor eksternal

I. Teori Bank

Fungsi bank secara umum adalah menghimpun dana dari masyarakat luas (funding) dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman atau kredit untuk berbagai tujuan. Fungsi bank secara lebih spesifik menurut Y. Sri Susilo, Sigit Triandaru, A. Totok Budi Santoso, yaitu sebagai berikut :

1. Agent of Trust

Dasar kegiatan utama kegiatan perbankan adalah trust atau kepercayaan, baik dalam hal menghimpun dana maupun penyaluran dana. Masyarakat akan mau menitipkan dananya di bank apabila dilandasi oleh unsur kepercayaan.

20

Kanuk, Leslie Lazar dan Schiffman, Leon, Consumer Behaviour Perilaku Konsumen. Edisi 7. (Jakarta : PT. Indeks, 2008)

2. Agent of Development

Tugas bank sebagai penghimpun dana dan penyaluran dana sangat diperlukan untuk kelancaran disektor riil. Kegiatan bank tersebut memungkinkan masyarakat melakukan investasi, distribusi dan juga konsumsi yang selalu berkaitan dengan penggunaan uang.

3. Agent of Service

Jasa-jasa yang ditawarkan oleh bank ini erat kaitanya dengan kegiatan perekonomian secara umum. Jasa-jasa bank antara lain berupa jasa pengiriman uang, jasa penitipan barang berharga, jasa pemberian jaminan bank dan jasa penyelesaian tagihan.

Manurut Budi Santoso dan Triandaru, bank dilihat sebagai segi imbalan atau jasa penggunaan dana, baik simpan maupun pinjam dapat dibedakan menjadi :

1. Bank konvensional, yaitu bank yang dalam aktivitasnya, baikpenghimpunan dana maupun dalam rangka penyaluran dananya,memberikan dan mengenakan imbalan berupa bunga atau sejumlahimbalan dalam persentase tertentu dari dana untuk suatu periodetertentu. Persentase tertentu ini biasanya ditetapkan pertahun. 2. Bank syariah, yaitu bank yang dalam aktivitasnya, baik

penghimpunandana maupun dalam rangka penyaluran dananya memberikan danmengenakan imbalan atau dasar prinsip syariah yaitu jual beli dan bagi hasil.

30 BAB III

PROFIL BANK SYARIAH MANDIRI CABANG TANGERANG A. Obyek Penelitian

Objek yang dipilih dalam penelitian ini adalah Bank Syariah Mandiri (BSM). Pendirian Bank Syariah Mandiri dilandasi oleh beberapa alasan, diantaranya:

1. Memenuhi kebutuhan umat Islam di Indonesia yang cenderung menghindari dari hal riba dalam kegiatan muamalahnya.

2. Memberikan alternatif kepada umat Islam dalam mempergunakan jasa perbankan.

3. Mengentaskan kemiskinan

Dalam operasional dan tugas utama perusahaan adalah menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup mereka, di samping menawarkan beberapa jasa keuangan lain.

B. Sejarah Singkat Bank Syariah Mandiri

Pada saat terjadinya krisis ekonomi dan moneter pada tahun 1997-1998, industri perbankan nasional yang didominasi oleh bank-bank konvensional mengalami krisis luar biasa yang menyebabkan pemerintah mengambil tindakan dengan merestrukturisasi dan merekapitalisasi sebagian bank-bank di Indonesia. Salah satu bank konvensional, PT Bank Susila Bakti (BSB) berusaha keluar dari situasi tersebut dengan melakukan

penggabungan (merger) dengan beberapa bank lain. Disaat yang bersamaan, pemerintah melakukan penggabungan (merger) 4 (empat) bank, yaitu: Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Exim, dan Bapindo, yang kemudian menjadi bank baru bernama PT Bank Mandiri (Persero) pada tanggal 31 Juli 1999. Kebijakan tersebut juga menetapkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Sebagai pemilik mayoritas baru PT Bank Susila Bakti (BSB).

Sebagai tindak lanjut dari keputusan tersebut, Bank Mandiri ingin mengembangkan layanan perbankan syariah di kelompok perusahaan Bank Mandiri, sebagai respon atas diberlakukannya UU No. 10 tahun 1998, yang memberi peluang bank umum untuk melayani transaksi syariah (dual banking system). Dengan adanya pemberlakukan undang-undang tersebut merupakan momentum yang tepat untuk melakukan konversi PT Bank Susila Bakti dari bank konvensional menjadi bank syariah. Setelah melalui proses, perubahan kegiatan usaha BSB menjadi bank umum syariah dikukuhkan oleh Gubernur Bank Indonesia melalui SK Gubernur BI No. 1/24/KEP.BI/1999 pada 25 Oktober 1999. Selanjutnya, melalui Surat Keputusan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia No. 1/1/KEP.DGS/1999, Bank Indonesia menyetujui perubahan nama menjadi PT Bank Syariah Mandiri. Setelah itu pada hari senin tanggal 25 Rajab 1420 H atau tanggal 1 November 1999, PT Bank Syariah Mandiri secara resmi mulai beroperasi sebagai salah satu Bank Umum Syariah yang beroperasi di Indonesia.

1. Profil Perusahaan

Nama : PT Bank Syariah Mandiri

Alamat : Wisma Mandiri I, Jl. MH. Thamrin No. 5 Jakarta 10340 Indonesia

Telepon : (62-21) 2300 509, 3983 9000 (Hunting) Faksimili : (62-21) 3983 2989

Situs Web : www.syariahmandiri.co.id Tanggal Berdiri : 25 Oktober 1999

Tanggal Beroperasi : 1 November 1999 Modal Dasar : Rp2.500.000.000.000,- Modal Disetor : Rp858.243.565.000,-

Kantor Layanan : 630 kantor, yang tersebar di 33 provinsi di seluruh Indonesia

Kepemilikan saham Bank Syariah Mandiri dimiliki oleh PT Bank

Dokumen terkait