el 4.2 Distribusi Sampel Berdasarkan Umur
4.4 Distribusi Sampel Berdasarkan Pekerjaan Jumlah
Dari Tabel 4.4 d terbanyak adalah swasta terkecil adalah Pelajar / M B. Analisis Bivariat Uj
Data dalam pe dapat diketahui apak
5% 25%
Gambar 4.
li
dan Gambar 4.3 didapatkan tingkat pendidikan s A sebanyak 23 orang (38,3%), sedangkan tingkat
LTP sebanyak 9 orang (15%).
4.4 Distribusi Sampel Berdasarkan Pekerjaan Jumlah 7 11 24 4 iraswasta 6 1 siswa 3 ngga 15 2 5 8 60 1
dan Gambar 4.4 didapatkan persentase pekerja sta 24 orang (40%), sedangkan persentase pekerja
/ Mahasiswa sebanyak 5 orang (8,3%). Uji Tabulasi Silang atau Chi Square
penelitian ini dianalisa dengan uji chi square, de pakah hubungan yang teramati antara kedua var
12% 40% 10%
8%
4.4Persentase Sampel Menurut Pekerjaan PNS Swasta Pedagang/W Pelajar/ Ma Ibu Rumah Pensiunan n sampel yang kat pendidikan % 11,7 40 10 5 25 8,3 100 erjaan sampel erjaan sampel
dengan uji itu ariabel secara g/Wiraswasta Mahasiswa
lii
statistik bermakna. Penelitian ini mengamati hubungan antara variabel tergantung kualitas tidur dengan variabel bebas kontrol asma dan variabel perancu riwayat penyakit penyerta, umur, riwayat konsumsi zat. Adanya variabel perancu berpengaruh terhadap hasil analisis data yang didapat. Untuk mengendalikannya, dilakukan analisis regresi logistik. Setelah hasil uji chi square didapat,maka dapat dilihat nilai signifikansinya. Hubungan signifikan jika p<0,05. Selain itu, jika p<0,25, maka variabel tersebut memenuhi syarat analisis regresi logistik.
Tabel 4.5 Analisis Bivariat tentang Kualitas Tidur antara Pasien Asma Terkontrol dengan Tidak Terkontrol
Variabel Kualitas Tidur Total Crude OR X 2 p Baik n(%) Buruk n(%) Asma Terkontrol 17(56,7) 13(43,3) 30(100) - - - Asma Tidak Terkontrol 7(23,3) 23(76,7) 30(100) 4,3 6,94 0,008
liii
Dari Tabel 4.5 dan Gambar 4.5 didapatkan kelompok asma terkontrol sampel dengan kualitas tidur baik sebanyak 17 orang (56,7%) dan kualitas tidur buruk sebanyak 13 orang (43,3%). Pada kelompok asma tidak terkontrol, sampel dengan kualitas tidur baik sebanyak 7 orang (23,3%) dan kualitas tidur buruk sebanyak 23 orang (76,7%). Analisis bivariat terhadap hubungaan antara tingkat kontrol asma dengan kualitas tidur menunjukkan hubungan yang signifikan (p<0,05) dan memenuhi syarat analisis regresi logistik (p< 0,25) sehingga variabel kontrol asma dapat dianalisis regresi logistik. Pasien asma tidak terkontrol memiliki risiko untuk mengalami kualitas tidur buruk empat kali lebih besar daripada asma terkontrol (OR=4,3; CI95% 1,3 s.d. 14,7), tetapi hasil ini belum mengontrol pengaruh dari variabel perancu.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Asma Terkontrol Asma Tidak Terkontrol
P ers en ta se K u a li ta s T id u r B u ru k ( % )
Keadaan Kontrol Asma
liv
Tabel 4.6 Analisis Bivariat tentang Kualitas Tidur antara Pasien yang disertai dengan riwayat penyakit penyerta dan tidak
Variabel Kualitas Tidur Total Crude OR X 2 p Baik n(%) Buruk n(%)
Tanpa penyakit penyerta 21(63,6) 12(36,4) 33(100) - - - Ada penyakit penyerta 3(11,1) 24(88,9) 27(100) 14 17,07 <0,001
Dari Tabel 4.6 dan Gambar 4.6 didapatkan pada kelompok tanpa riwayat penyakit penyerta, sampel dengan kualitas tidur baik sebanyak 21 orang (63,6%) dan kualitas tidur buruk sebanyak 12 orang (36,4%). Pada kelompok adanya riwayat penyakit penyerta, sampel dengan kualitas tidur baik sebanyak 3 orang (11,1%) dan kualitas tidur buruk sebanyak 24 orang (88,9%). Analisis bivariat terhadap hubungan antara riwayat penyakit penyerta dengan kualitas tidur
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Tanpa Penyakit Penyerta Ada Penyakit Penyerta
P er se n ta se K u a li ta s T id u r B u ru k
Keberadaan Riwayat Penyakit Penyerta
Gambar 4.6 Persentase Kualitas Tidur Buruk Menurut Keberadaan Riwayat Penyakit Penyerta
lv
menunjukkan hubungan yang signifikan (p<0,001) dan memenuhi syarat analisis regresi logistik (p<0,25) sehingga variabel perancu riwayat penyakit penyerta dapat dianalisis regresi logistik. Pasien asma dengan riwayat penyakit penyerta berisiko mengalami kualitas tidur buruk empat belas kali lebih besar daripada tanpa riwayat penyakit penyerta (OR=14; CI95% 3,5 s.d. 56,4), tetapi hasil ini belum mengontrol pengaruh dari variabel lain.
Tabel 4.7 Tabel Uji normalitas data umur (numerik) menurut kontrol asma
Kontrol asma berdasarkan skor ACT
Kolmogorov-Smirnov Sig
Umur Terkontrol 0.200
Tidak Terkontrol 0.197
Tabel 4.7 menunjukkan hasil uji normalitas terhadap distribusi data umur secara analitik. Uji Kolmogorov Smirnov digunakan karena sampel berjumlah >50. Dari tabel didapatkan nilai sig untuk asma terkontrol= 0,200 sedangkan untuk asma tidak terkontrol nilai sig= 0,197; maka dapat diambil kesimpulan bahwa distribusi umur terhadap kontrol asma normal karena nilai sig>0,005. Distribusi data umur terhadap variabel kontrol asma normal, sehingga dapat dilakukan analisis data pengaruh variabel umur terhadap kualitas tidur.
Tabel 4.8 Karakteristik data umur
Variabel n Mean Median SD
lvi
Tabel 4.8 menunjukkan bahwa mean dan median dari umur keduanya berada pada umur 48 tahun sehingga dalam pengkategorian umur selanjutnya dalam dua kategori yakni < 48 tahun dan ≥48 tahun
Tabel 4.9 Analisis Bivariat tentang Kualitas Tidur antara Pasien yang berumur <48 tahun dan ≥48 tahun
Variabel Kualitas Tidur Total Crude OR X 2 p Baik n(%) Buruk n(%) <48 tahun 18(60) 12(40) 30(100) - - - ≥ 48 tahun 6(20) 24(80) 30(100) 6 10 0,002
Dari Tabel 4.9 dan Gambar 4.7 didapatkan pada kelompok umur < 48 tahun, sampel dengan kualitas tidur buruk sebanyak 12 orang (40%). Sedangkan kelompok umur ≥48 tahun, sampel dengan kualitas tidur buruk sebanyak 24 orang (80%). Analisis bivariat terhadap hubungan antara umur dengan kualitas tidur
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 <48 tahun ≥ 48 tahun P er se n ta se K u a li ta s T id u r B u ru k Umur
lvii
menunjukkan hubungan signifikan (p<0,05) dan memenuhi syarat analisis regresi logistik (p< 0,25) sehingga variabel umur dapat dianalisis regresi logistik. Pasien asma berumur ≥48 tahun berisiko mengalami kualitas tidur buruk enam kali lebih besar daripada umur <48 tahun (OR=6; CI95% 1,9 s.d. 19), tetapi hasil ini belum mengontrol pengaruh variabel lain.
Tabel 4.10 Analisis Bivariat tentang Kualitas Tidur antara Pasien yang disertai dengan riwayat konsumsi zat tertentu dan tidak
Variabel Kualitas Tidur Total Crude OR X 2 p Baik n(%) Buruk n(%)
Tanpa riwayat konsumsi zat 19(40,4) 28(59,6) 47(100) - - - Ada riwayat konsumsi zat 5(38,5) 8(61,5) 13(100) 1,1 0,02 0,898
Dari Tabel 4.10 didapatkan pada kelompok tanpa riwayat konsumsi zat , sampel dengan kualitas tidur baik sebanyak 19 orang (40,4%) dan kualitas tidur buruk sebanyak 28 orang (59,6%). Pada kelompok ada riwayat konsumsi obat, sampel dengan kualitas tidur baik sebanyak 5 orang (38,5%) dan kualitas tidur buruk sebanyak 8 orang (61,5%). Analisis bivariat terhadap hubungan antara riwayat konsumsi zat dengan kualitas tidur menunjukkan hubungan yang tidak signifikan (p>0,05) dan tidak memenuhi syarat analisis regresi logistik (p>0.25).
lviii C.ANALISIS REGRESI LOGISTIK GANDA
Berdasarkan analisis bivariat, variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas tidur adalah kontrol asma, riwayat penyakit penyerta, dan umur. Ketiga variabel ini akan dilakukan analisis regresi logistik.
Tabel 4.11 Perbandingan Hasil Analisis Regresi Logistik Ganda dengan Analisis Bivariat tentang Perbedaan Kualitas Tidur antara Pasien Asma Terkontrol dengan Tidak Terkontrol
Variabel
Model 1
(Analisis Multivariat Regresi Logistik)
Model 2 (Analisis Bivariat) Adjusted OR p CI 95% Crude OR p CI 95% Batas bawah Batas atas Batas bawah Batas atas Kontrol Asma Terkontrol Tidak Terkontrol 1,0 7,4 - 0,009 - 1,7 - 32,9 - 4,3 - 0,008 1,3 14,7 Riwayat Penyakit Penyerta Tidak Ada Ada 1,0 15,8 - 0,002 - 2,8 - 89,9 - 14 - <0,001 3,5 56,4 Umur <48 tahun ≥48 tahun 1,0 2,1 - 0,309 - 0,5 - 9,3 - 6 - 0,002 1,9 19 N observasi 60 -2 log likelihood 51,9 Nagelkerke R2 51,7
Interpretasi dari Tabel 4.11: Pasien asma yang tidak terkontrol memiliki risiko untuk mengalami kualitas tidur buruk tujuh kali lebih besar daripada asma terkontrol (OR= 7,4; CI95% 1,7 s.d. 32,9). Hubungan tersebut secara statistik
lix
signifikan dan menunjukkan hubungan yang kuat serta telah mengontrol pengaruh dari riwayat penyakit penyerta dan umur.
Pasien asma yang disertai riwayat penyakit penyerta berisiko untuk mengalami kualitas tidur buruk enam belas kali lebih besar daripada pasien asma tanpa riwayat penyakit penyerta (OR=15,8; CI95% 2,8 s.d. 89,9). Pasien asma berumur ≥ 48 tahun berisiko mengalami kualitas tidur buruk dua kali lebih besar daripada umur <48 tahun (OR=2,1; CI95% 0,5 s.d. 9,3).
Bias pada variabel kontrol asma鰸 .퍠,0le . .⛸lr0 bel
퍠,0le 1 %
鰸4 3 7 44 3 1 % 鰸 72 1%
OR taksiran yang mengontrol kerancuan (OR adjusted) berbeda sebesar 72% dari OR taksiran kasar. Karena perbedaan crude OR dengan adjusted OR >10% maka OR tanpa mengontrol faktor perancu (Crude OR) telah mengalami bias negatif (mendekati OR = 1). Jika tidak mengontrol pengaruh penyakit penyerta dan umur, maka taksiran OR tentang perbedaan kualitas tidur pada pasien asma terkontrol dengan tidak terkontrol akan mengalami bias yang lebih kecil dari sesungguhnya. Taksiran OR yang digunakan adalah OR yang memperhitungkan pengaruh faktor perancu dengan model analisis regresi logistik.
Hasil analisis di atas memperlihatkan nilai -2 log likelihood sebesar 51,9 artinya perbedaan antara data sampel yang teramati dengan model analisis regresi
lx
yang diprediksi tidak terlalu besar (hampir sama karena mendekati nol dan nilainya berada pada kisaran antara 0 sampai 100).
Dengan model regresi logistik ganda, variabel tingkat kontrol asma, umur, dan riwayat penyakit penyerta mampu menjelaskan kualitas tidur pasien asma 52% (Nagelkerke R2 51,7%).
BAB V PEMBAHASAN
Penelitian yang berjudul “Perbedaan Kualitas Tidur pada Pasien Asma Terkontrol dengan Tidak Terkontrol” dilakukan sejak bulan Mei sampai dengan Juni 2010 di RSUD Dr. Moewardi Surakarta dan didapatkan 60 sampel yang terdiri dari 30 pasian asma terkontrol dan 30 pasien asma tidak terkontrol.
Distribusi subyek penelitian berdasarkan jenis kelamin (Tabel 4.1) didapatkan bahwa penderita asma yang terbanyak adalah wanita, berjumlah 33 orang (55%) dibandingkan dengan laki-laki yang berjumlah 27 orang (45%). Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya bahwa pada orang dewasa dengan asma kebanyakan penderitanya adalah wanita (Sundaru dan Sukamto, 2007). Hal ini dikarenakan jenis kelamin merupakan faktor predisposisi asma. Perempuan lebih rentan terhadap stress dan mengalami masalah hormonal (menstruasi, premenstruasi, kehamilan) yang menjadi faktor pencetus asma (Surjanto, 2001).
lxi
Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa dalam penelitian ini, penderita asma paling banyak didapatkan pada kelompok umur 41-50 tahun, berjumlah 23 orang (38,3%). Penelitian epidemiologi yang dilakukan Center for Disease Control (CDC) tahun 1998 di Amerika Serikat juga menunjukkan bahwa penderita asma dewasa paling sering ditemukan pada usia 45 – 47 tahun.
Pada penelitian ini, persentase tingkat pendidikan (Tabel 4.3) tertinggi pada tingkat pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) sebanyak 23 orang (38,3%). Prevalensi tingkat pendidikan sedikit berbeda dengan hasil penelitian Sastrawan et al. (2008), dalam penelitianya, didapatkan distribusi sampel pada tingkat pendidikan SLTA sebesar 36,1%. Hal ini disebabkan perbedaan pengambilan lokasi penelitian dimana penelitian Sastrawan mengambil sampel pada populasi umum di Desa Tenganan sedangkan penelitian ini dilakukan hanya di RSUD Dr Moewardi Surakarta sehingga didapatkan prevalensi tingkat pendidikan yang berbeda.
Faktor pekerjaan merupakan salah satu faktor risiko pencetus asma (Karjadi, 2003). Prevalensi di masyarakat umum tidak diketahui pasti, tetapi di Amerika Serikat ± 15% populasi penderita asma bronkial mempunyai hubungan dengan faktor lingkungan kerjanya (Yeung dan Malo, 1995). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase pekerjaan sampel terbanyak adalah swasta 40% atau 24 orang (Tabel 4.4). Pekerjaan yang dikategorikan swasta sebagian besar adalah buruh
lxii
bangunan dan pabrik yang lingkungan kerjanya banyak terdapat agen polutan pencetus asma seperti gas, debu, kabut, uap, bahan kimia, dan iritan.
Hubungan asma dengan tidur telah diidentifikasi dalam beberapa penelitian. Pasien asma lebih sering mengalami kesulitan memulai tidur, mempertahankan tidur, mengalami rasa kantuk di siang hari (daytime sleepiness), terbangun terlalu pagi (early morning awakening), mengeluhkan tidur kurang menyegarkan, dan penurunan efisiensi tidur yang signifikan dibandingkan subjek normal (Fitzpatrick et al., 1991; Janson et al., 1996; Martin dan Schlegel, 1998). Polisomnografi pasien asma nokturnal menunjukkan penurunan efisiensi tidur (waktu lama tidur dibanding waktu di kasur) dan peningkatan frekuensi terbangun (Casey et al., 2007).
Asma sering memburuk pada malam hari atau dikenal dengan asma nokturnal. Gejala asma nokturnal seperti batuk, dispneu dapat mengganggu tidur. Turner-Warwick (1988) melaporkan hasil studinya bahwa 64% pasien asma mengalami serangan minimal tiga malam per minggu, 40% pasien asma mengalami serangan tiap malam serta 53% kematian asma terjadi antara tengah malam sampai jam 8 pagi.
Pada asma, resistensi saluran pernapasan bawah meningkat secara progresif sepanjang malam dengan peningkatan lebih besar selama tidur. Fungsi paru dan responsivitas saluran napas bervariasi sesuai ritme sirkadian, dengan titik terendah dalam fungsi paru terjadi kira-kira jam 4 pagi (Rusli, 1992). Jumlah sel inflamasi dan level mediator inflamasi pada paru pun terlihat meningkat selama malam hari. Pada beberapa pasien asma, variasi sirkadian dari fisiologi saluran napas memberikan
lxiii
peningkatan tercetusnya sleep disordered breathing antara tengah malam sampai jam 8 pagi (Martin dan Schlegel, 1998).
Perubahan sitokin akibat asma berkontribusi pada perubahan tidur dengan memengaruhi neurokimiawi otak yang meregulasi tidur. Majde dan Kruger (2005) menyatakan mediator inflamasi yang memperantarai gangguan tidur pada pasien hipersensitivitas yakni IL-4, IL-1, dan TNF-α. Sitokin IL-4 dan IL-1 meningkat pada pasien alergi dan berhubungan peningkatan masa latensi tidur REM dan merendahkan keseluruhan kualitas tidur. Studi Fang et al. (1997) menunjukan IL-1 dan TNF-α meningkatkan intensitas dan durasi tidur NREM serta menahan tidur REM.
Barnes et al. (1982) dalam Casey et al. (2007) menyatakan teofilin secara umum dianggap sebagai pengobatan asma nokturnal yang efektif, terutama jika jadwal dosis pemberian dibangun guna mencapai level puncak pada malam hari ketika pembatasan saluran napas terbesar. Namun, teofilin sendiri termasuk golongan metilxantin yang memiliki efek samping seperti kafein yakni mengganggu tidur.
Pasien yang mengalami gangguan tidur sekunder akibat penyakit somatik dapat memperbaiki kualitas tidurnya dengan mengontrol keluhan penyakit yang timbul (Parish, 2009). Penderita asma yang mampu mengontrol keadaan asmanya dapat mengurangi gejala asma nokturnal berupa sesak napas, batuk atau wheezing di malam hari sehingga diharapkan dapat memperbaiki kualitas tidurnya.
Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kualitas tidur pada pasien asma terkontrol dengan tidak terkontrol. Tabel 4.5 menggambarkan distribusi subjek penelitian berdasarkan kualitas tidur. Pada kelompok asma terkontrol, sampel dengan
lxiv
kualitas tidur baik berjumlah 17 orang (56,7%) dan kualitas tidur buruk sebanyak 13 orang (43,3%). Pada kelompok asma tidak terkontrol, sampel dengan kualitas tidur baik sebanyak 7 orang (23,3%) dan kualitas tidur buruk sebanyak 23 orang (76,7%).
Pada penelitian ini, pasien asma yang tidak terkontrol memiliki risiko untuk mengalami kualitas tidur buruk tujuh kali lebih besar daripada asma terkontrol (OR=7,4; CI95% 1,7 s.d. 32,9). Hubungan tersebut secara statistik signifikan dan menunjukkan hubungan yang kuat serta telah mengontrol pengaruh dari riwayat penyakit penyerta dan umur.
Pengaruh kontrol asma terhadap tidur pernah dilakukan dalam beberapa penelitian. Hasil penelitian ini juga relevant dengan penelitian yang sebelumnya telah dilakukan. Penelitian Mastronarde et al. (2008) menyimpulkan gangguan tidur sering terjadi pada pasien asma dan berhubungan dengan kontrol asma dan kualitas hidup. Para klinisi yang merawat pasien perlu melengkapi riwayat tidur terutama pada asma tidak terkontrol. Dosis rendah teofilin tidak menimbulkan gangguan tidur.
Braido et al. (2009) dalam penelitiannya yang berjudul “Sleep disturbances and asthma control: a real life study” menyatakan kontrol asma berhubungan dengan keberadaan gangguan tidur. Pasien dengan kontrol asma yang baik melaporkan gangguan tidur lebih ringan dan jarang dibandingkan subjek yang tidak terkontrol. Walau demikian masih terdapat sekitar 11-20% dari kelompok pasien asma terkontrol baik yang mempunyai keluhan gangguan tidur dan kualitas hidup yang menurun. Oleh karena itu, kasus asma dengan gangguan tidur perlu investigasi lebih lanjut apakah gangguan tidur tersebut akibat asma atau penyakit penyerta lainnya.
lxv
Investigasi lebih lanjut mengenai riwayat penyakit penyerta, umur telah dilakukan dan dianalisis bersama variabel kontrol asma. Hal inilah yang menjadi kelebihan dalam penelitian ini yakni penggunaan analisis regresi logistik ganda sebagai teknik analisis data untuk mengontrol variabel perancu secara statistik. Model analisis regresi logistik dapat mencegah terjadinya bias dalam penelitian. Bias dalam penelitian ini sebesar -72,1%. Karena terdapat perbedaan antara OR sebesar > 10% yakni -72%, maka OR tanpa mengontrol faktor perancu telah mengalami bias negatif (mendekati OR = 1). Jadi, jika tidak mengontrol pengaruh riwayat penyakit penyerta dan umur, maka taksiran OR tentang perbedaan kualitas tidur pada pasien asma terkontrol dengan tidak terkontrol akan mengalami bias yang lebih kecil dari sesungguhnya (underestimate). Dengan demikian, taksiran OR yang digunakan adalah OR yang dihitung dengan model analisis regresi logistik yang memperhitungkan pengaruh faktor perancu.
Log likelihood menunjukkan perbedaan antara model analisis regresi yang digunakan dan data sampel. Makin kecil nilai log likelihood, maka model yang digunakan makin baik yakni berkisar antara nilai 0 s.d. 100. Dengan demikian, model analisis regresi yang dipilih cukup mendekati data sampel penelitian karena nilai -2 log likelihood mendekati nol dan masih berada di kisaran nol sampai seratus yakni sebesar 51,9.
Dengan model regresi logistik ganda, variabel tingkat kontrol asma, umur, dan riwayat penyakit penyerta mampu menjelaskan kualitas tidur pasien asma 52% (Nagelkerke R2 51,7%).
lxvi
Beberapa faktor risiko insomnia yang dilaporkan dalam State-of-the-Science Conference pada bulan Juni 2005 antara lain umur, gender, penyakit morbiditas, kelainan psikiatri, dan bekerja pada malam hari. Faktor risiko ini perlu dikenali karena berpengaruh secara tidak langsung sebagai penyebab insomnia.
Umur merupakan salah satu hal yang berpengaruh terhadap kualitas tidur. Pola tidur-bangun berubah sesuai dengan bertambahnya umur. Pada penelitian ini mengambil batas umur 18 tahun ke atas. Berdasarkan analisis bivariat antara pengaruh umur dengan kualitas tidur pada Tabel 4.9, kelompok umur < 48 tahun, sampel dengan kualitas tidur buruk sebanyak 12 orang (40%), sedangkan pada kelompok umur ≥48 tahun, kualitas tidur buruk sebanyak 24 orang (80%). Umur berpengaruh cukup signifikan (p=0,002) terhadap kualitas tidur sehingga dapat menjadi faktor perancu dalam penelitian ini yang hasilnya akan dianalisis secara regresi logistik bersama variabel bebas dan perancu lainnya.
Pada penelitian di laboratorium tidur, orang usia dewasa tua dan usia lanjut mengalami peningkatan frekuensi terbangun di malam hari, waktu tidur yang dalam (delta sleep) lebih pendek, sedangkan tidur stadium 1 dan 2 lebih lama. Hasil uji dengan alat polisomnografik didapatkan penurunan yang bermakna dalam slow wave sleep dan rapid eye movement (REM) (Danesi, 2003).
Hasil survey pada masyarakat lanjut usia di Amerika didapatkan orang usia lanjut membutuhkan waktu lebih lama untuk masuk tidur (berbaring lama di tempat tidur sebelum tertidur) dan mempunyai lebih sedikit waktu tidur nyenyaknya. Orang usia lanjut juga lebih sering terbangun di tengah malam akibat perubahan fisis karena
lxvii
usia dan penyakit yang dideritanya sehingga kualitas tidur menurun secara nyata. Selain itu, mereka membutuhkan waktu lebih banyak untuk tidur pada siang hari karena sangat mengantuk (Hudson dan Alessi, 2008).
Orang usia lanjut mengalami perubahan fisiologis dalam pengaturan tidur. Pada usia lanjut terjadi perubahan pada irama sirkadian tidur normal yaitu menjadi kurang sensitif dengan perubahan gelap terang. Dalam irama sirkadian normal terdapat peranan pengeluaran hormon dan perubahan temperatur badan selama siklus 24 jam. Ekskresi kortisol dan Growth Hormone serta perubahan suhu tubuh berfluktuasi dan kurang menonjol. Melatonin, hormon yang diekskresikan pada malam hari dan berhubungan tidur menurun dengan meningkatnya umur (Rahayu, 2007).
Penyebab peningkatan risiko gangguan tidur pada usia tua dapat disebabkan penurunan fisiologis fungsi pengontrol tidur dan yang terpenting adalah keberadaaan penyakit penyerta yang meningkatkan prevalesi insomnia secara signifikan di usia tua (Roth, 2007). Penyakit kronik merupakan risiko terjadinya insomnia. Katz dan McHorney (1998) menyatakan sekitar 75-90 % penderita insomnia memiliki faktor risiko penyakit morbiditas seperti kondisi yang menyebabkan hipoksemia, dispneu, penyakit refluks gastroesofagus, nyeri, dan penyakit neurodegeneratif.
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang terlihat pada Tabel 4.6 didapatkan pada kelompok dengan riwayat penyerta, sampel dengan kualitas tidur buruk sebanyak 24 orang (88,9%) dibandingkan dengan kelompok tanpa riwayat penyakit penyerta, sampel dengan kualitas tidur buruk hanya 12 orang (36,4%). Analisis bivariat terhadap hubungaan antara riwayat penyakit penyerta dengan kualitas tidur
lxviii
menunjukkan hubungan yang sangat signifikan dengan p<0,001. Setelah dianalisis bersama variabel kontrol asma dan umur dengan analisis regresi logistik, variabel riwayat penyakit penyerta mempunyai pengaruh yang kuat. Berdasarkan Tabel 4.11, pasien asma dengan riwayat penyakit penyerta memiliki risiko untuk mengalami kualitas tidur buruk 16 kali lebih besar daripada tanpa adanya riwayat penyakit penyerta (OR=15,8; CI95% 2,8 s.d. 89,9).
Riwayat penyakit penyerta merupakan variabel perancu yang paling kuat pengaruhnya. Variabel umur yang sebelumnya dalam analisis bivariat menunjukkan hubungan signifikan (p=0,002), setelah dianalisis bersama faktor perancu lainnya dalam analisis regresi logistik menunjukkan hubungan yang tidak signifikan (p=0,3). Selain itu terjadi penurunan OR variabel umur dari 4 menjadi 2,1, sehingga umur ≥48 tahun memiliki risiko dua kali lebih besar mengalami kualitas tidur buruk dibandingkan umur <48 tahun. Hal ini dikarenakan pada usia lanjut banyak disertai riwayat penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit nyeri sendi (osteoarthritis, rheumatoid arthritis) sehingga pengaruh variabel perancu riwayat penyakit penyerta lebih kuat daripada umur. Hollbrook et al. (2000) juga mereview dalam beberapa penelitian terbaru bahwa gangguan tidur insomnia berkorelasi lebih rendah dengan umur dibandingkan dengan beberapa kondisi penyakit morbiditas seperti nyeri, nokturia, dispnea, kejang malam, dan kondisi psikopatologis.
Ketika timbul keluhan gangguan tidur yang dominan, gangguan tidur karena zat dapat menjadi salah satu diagnosis banding. Sebagian besar zat yang terkait adalah
lxix
penyalahgunaan alkohol, obat hipnotik-sedatif, dan stimulant. Pengaruh riwayat konsumsi zat terhadap kualitas tidur pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.10. Kelompok tanpa riwayat konsumsi zat, sampel dengan kualitas tidur buruk sebanyak 28 orang (59,6%). Pada kelompok ada riwayat konsumsi zat, kualitas tidur buruk sebanyak 8 orang (61,5%).
Berdasarkan analisis bivariat terhadap hubungan antara riwayat konsumsi zat dengan kualitas tidur didapatkan hubungan yang tidak signifikan (p>0,05). Hal ini kemungkinan disebabkan beberapa hal. Kira-kira hanya 4% pengunjung pusat klinik gangguan tidur terdiagnosis gangguan tidur akibat zat sehingga jarang ditemukan di masyarakat (Buysse, 1994). Selain itu, dalam penelitian ini hanya ditanyakan riwayat narkoba, obat antihipertensi, obat anticemas (benzodiazepin, barbiturat) alkohol, rokok, kemoterapi, dan kafein. Dari data yang didapat obat antihipertensi paling sering dikonsumsi dan sisanya pengonsumsi kafein. Tidak ditemukan pengguna narkoba, obat anticemas, rokok, dan kemoterapi.
Gangguan psikiatri merupakan morbiditas paling umum ditemukan dalam insomnia. Dalam studi populasi National Institute of Mental Health Epidemiologic Catchment Area Study dengan kuisioner yang didasarkan DSM-III dari 7954