HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1.5. Distribusi Spasial
Parameter yang dibandingkan yaitu indeks keanekaragaman jenis (H’) pada masing-masing habitat di setiap jalur pengamatan. Tabel berikut merupakan hasil perhitungan uji t antara daerah peralihan dengan daerah inti serta antar daerah inti (Tabel 7).
Tabel 7 Nilai t Hitung antar Tipe Habitat
Habitat
HP HDR KB Amfibi Reptil Amfibi Reptil Amfibi Reptil
DP HP-HDR Amfibi *ns 3,73 s Reptil * ns 0,58 ns DP KB-HDR Amfibi * ns * ns Reptil 0 ns 0,43 ns HP Amfibi 3,93 s 0,78 ns Reptil 0,7 ns 0,13 ns HDR Amfibi 1,96 ns Reptil 0,6 ns Keterangan:
* : All values in column are identical ns : non significat
s : significant
Berdasarkan Tabel 7, terdapat 4 perbandingan keanekaragaman antar tipe habitat yang tidak menghasilkan nilai. Perbandingan tersebut terdapat pada hutan pantai dengan daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah baik amfibi maupun reptil, amfibi pada kebun dengan daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah, serta amfibi pada hutan dataran rendah dengan daerah peralihan antara kebun dengan hutan daratan rendah. Semua uji menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan antar habitat kecuali amfibi pada hutan dataran rendah dengan daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah serta amfibi pada hutan pantai dengan hutan dataran rendah.
5.1.5. Distribusi Spasial
Herpetofauna yang terdapat pada jalur antara hutan pantai dan hutan dataran rendah tersebar pada 4 jalur pengamatan yaitu Sekawat yang terdiri dari 2 jalur pengamatan dan Blambangan yang juga terdiri dari 2 jalur pengamatan. Sedangkan herpetofauna yang terdapat pada daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah tersebar pada 4 jalur yaitu 2 jalur di Penangkaran dan 2 jalur
Tanjung Mas. Distribusi herpetofauna pada jalur darah peralihan disajikan berikut ini (Tabel 8; Gambar 19-22 dan Gambar 25-28).
Tabel 8 Distribusi Herpetofauna pada Jalur Daerah Peralihan
Habitat Jalur Amfibi Reptil Total
Jenis Individu Jenis Individu Jenis Individu
DP HP-HDR Sekawat I HP 0 0 1 1 1 1 DP 0 0 2 3 2 3 HDR 6 10 1 3 7 13 Sekawat II HP 0 0 1 1 1 1 DP 1 1 0 0 1 1 HDR 4 10 2 2 6 12 Blambangan I HP 1 1 0 0 1 1 DP 4 6 0 0 4 6 HDR 8 24 1 1 9 25 Blambangan II HP 0 0 0 0 0 0 DP 0 0 0 0 0 0 HDR 7 17 2 5 9 22 DP HP-HDR Tanjung Mas I KB 1 1 4 6 5 7 DP 0 0 0 0 0 0 HDR 5 12 2 2 7 14 Tanjung Mas II KB 3 6 1 1 4 7 DP 1 1 2 2 3 3 HDR 2 3 1 1 3 4 Penangkaran I KB 0 0 1 1 1 1 DP 1 2 0 0 1 2 HDR 8 17 1 1 9 18 Penangkaran II KB 3 3 1 1 4 4 DP 0 0 0 0 0 0 HDR 0 0 0 0 0 0
(a)
(b)
Gambar 23 Jumlah (a) amfibi dan (b) reptil yang ditemukan pada jalur daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah.
Jumlah total individu yang ditemukan pada jalur daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah yaitu 85 individu yang terdiri dari 69 individu dari 11 jenis amfibi dan 16 individu dari 5 jenis reptil (Gambar 23). Amfibi yang terdapat di hutan pantai pada jalur ini hanya 1 individu, sedangkan untuk reptil dijumpai 2 individu dari 2 jenis. Pada daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah ditemukan 7 individu dari 5 jenis amfibi dan 3
individu dari 2 jenis reptil. Sedangkan hutan dataran rendah mempunyai jumlah individu terbanyak yaitu 72 individu yang terdiri dari 61 individu dari 10 jenis amfibi dan 11 individu dari 3 jenis reptil. Berdasarkan gambar 23 (a), daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah mempunyai jumlah jenis dan jumlah individu yang lebih tinggi dibandingkan dengan hutan pantai, tetapi lebih rendah jika dibandingkan dengan hutan dataran rendah. Terlihat bahwa kelimpahan individu kecil pada hutan pantai (posisi 0-100 meter) dan bertambah pada daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah (100-200 meter), kemudian bertambah pada hutan dataran rendah (200-900 meter). Kelimpahan tertinggi terdapat pada posisi 500-600 meter. Sedangkan untuk reptil (Gambar 23 b), sebaran individu di ke tiga habitat cukup merata tiap 100 meter. Hanya saja hutan dataran rendah yang mempunyai jalur lebih panjang mempunyai kelimpahan dan jumlah jenis yang lebih tinggi di bandingkan dengan hutan pantai serta daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah.
Jumlah total individu yang ditemukan pada jalur daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah yaitu 60 individu yang terdiri dari 45 individu dari 13 jenis amfibi dan 15 individu dari 8 jenis reptil (Gambar 24). Amfibi yang terdapat di kebun pada jalur ini yaitu 10 individu dari 6 jenis, sedangkan untuk reptil dijumpai 9 individu dari 6 jenis. Pada daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah ditemukan 3 individu dari 2 jenis amfibi dan 2 individu dari 2 jenis reptil. Sedangkan hutan dataran rendah mempunyai jumlah individu terbanyak yaitu 36 individu yang terdiri dari 32 individu dari 10 jenis amfibi dan 4 individu dari 4 jenis reptil. Berdasarkan gambar 24 (a), daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah (400-600 m) mempunyai jumlah individu dan jenis amfibi yang lebih rendah dibandingkan dengan kebun (0-400 m) dan hutan dataran rendah (600-900 m). Jumlah individu amfibi ketika mendekati daerah peralihan mengalami kenaikan. Hal itu terlihat pada jalur 300-400 m yang lebih tinggi dibandingkan pada jalur 0-300 m. Habitat hutan dataran rendah memiliki jumlah individu yang terbanyak diantara habitat kebun maupun daerah peralihan antara kebun dah hutan dataran rendah. Sedangkan untuk reptil (Gambar 24 b), jumlah individu dan jenis lebih banyak terdapat pada habitat kebun. Sedangkan daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah mempunyai jumlah jenis
dan individu paling rendah dibandingkan dengan habitat kebun dan hutan dataran rendah.
(a)
(b)
Gambar 24 Jumlah (a) amfibi dan (b) reptil yang ditemukan pada jalur daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah.
Di jalur habitat inti, jumlah herpetofauna total yang ditemukan 146 individu yang terbagi kealam 3 habiat inti yaitu hutan pantai sebanyak 29 individu, hutan dataran rendah sebanyak 94 individu dan kebun sebanyak 23 individu. Distribusi herpetofauna pada jalur habitat inti disajikan sebagai berikut (Tabel 9; Gambar 29-40).
Tabel 9 Distribusi Herpetofauna pada Jalur Daerah Inti
Habitat Jalur Amfibi Reptil Total
Jenis Individu Jenis Individu Jenis Individu
Hutan Pantai Sekawat 3 4 3 12 6 16 Seyleman 0 0 2 2 2 2 Blambangan 1 2 5 8 6 10 Belimbing 1 1 0 0 1 1 Jumlah Total 3 7 8 22 11 29 Hutan Dataran Rendah Duku Satu I 8 24 6 8 14 32 Duku Satu II 8 14 0 0 8 14 Way Seyleman I 5 26 4 5 9 31 Way Seyleman II 4 11 4 6 8 17 Jumlah Total 14 75 8 19 22 94 Kebun Pulau-Pulau I 2 2 2 2 4 4 Pulau-Pulau II 7 9 4 5 11 14 Penangkaran 0 0 3 3 3 3 Pengekahan 1 1 1 1 2 2 Jumlah Total 8 12 7 11 15 23
5.2 Pembahasan
5.2.1. Komposisi Jenis dan Respon Jenis terhadap Daerah Peralihan
Jumlah jenis herpetofauna yang ditemukan pada daerah peralihan baik daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah serta daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah ternyata lebih rendah jika dibandingkan dengan daerah inti yang mengapitnya (hutan pantai, hutan dataran rendah dan kebun). Hal ini tidak sesuai dengan teori efek tepi yang menyatakan bahwa jumlah jenis dan kepadatan populasi dari beberapa jenis lebih besar di daerah peralihan daripada di komunitas yang mengapitnya (Odum 1993). Hal tersebut terjadi karena luasan daerah peralihan yang lebih sempit dibandingkan dengan daerah yang mengapitnya sehingga habitat tersebut hanya dapat menampung jenis yang lebih sedikit dibandingkan dengan daerah yang mengapitnya. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Schlaepfer and Gavin (2001) dan Lehtinen et al. (2003) yang menyatakan bahwa herpetofauna, terutama amfibi, umumnya lebih menyukai daerah inti karena mempunyai suhu yang lebih dingin, lebih lembab sehingga lebih kondusif untuk kelangsungan hidup khususnya selama periode kering. Hillers et al. (2008) juga menyatakan bahwa degradasi habitat akan membentuk suatu daerah peralihan sehingga menyebabkan berkurangnya serasah yang membuat penurunan populasi dari katak serasah. Sedangkan menurut penelitian Dawson and Hostetler (2008) tidak menemukan perbedaan nyata dalam komposisi dan kekayaan jenis pada daerah peralihan dan daerah inti. Menurut Urbina-Cardona et al. (2006) tutupan tajuk, tutupan serasah, kepadatan tumbuhan bawah, kedalaman serasah, dan variasi suhu yang mempengaruhi perbedaan komposisi dan kekayaan jenis herpetofauna antara daerah peralihan dan daerah inti.
Berbeda dengan satwa lain, beberapa herpetofauna merupakan satwa yang mempunyai habitat yang spesifik dengan kondisi iklim yang berbeda dengan iklim di daerah sekitarnya, atau dikenal dengan istilah mikrohabitat. Herpetofauna seperti ini disebut sebagai herpetofauna spesialis. Selain itu ada juga jenis herpetofauna generalis (hidup pada habitat yang umum, bahkan pada kondisi habitat yang tercemar). Dengan adanya perbedaan tersebut, membuat herpetofauna sangat baik jika digunakan sebagai bioindikator kesehatan
lingkungan. Mereka pada umumnya dianggap sebagai indikator biologi karena mereka tinggal pada habitat yang spesifik dan mempunyai kepekaan/ sensifitas yang tinggi terhadap perubahan lingkungan. Secara fisiologis, herpetofauna khususnya amfibi mempunyai telur dan kulit yang memiliki sifat permeabilitas, dimana air dan gas dapat keluar masuk dan dapat menyerap polutan/ bahan pencemar seperti bahan kimia beracun, dan unsur lain dari sekitar lingkungan (Stebbins and Cohen 1997). Suatu lingkungan yang masih baik tentu terdapat jenis-jenis herpetofauna spesialis yang biasa hidup pada kondisi yang tertentu masih alami. Jika terjadi kerusakan lingkungan maka jenis-jenis herpetofauna spesialis tersebut akan hilang dan akan tergantikan oleh jenis-jenis yang mampu bertahan terhadap lingkungan yang tercemar atau rusak.
Pada lokasi penelitian, amfibi spesialis yang ditemukan pada lokasi pengamatan berjumlah 8 jenis yang terdiri dari 7 jenis spesialis hutan dataran rendah yaitu Microhylla sp, Kaloula baleata, Rana chalconota, Rana picturata, Limnonectes crybetus, Polypedates macrotis dan Rhacophorus appendiculatus Satu jenis lagi yaitu Fejervarya cancrivora yang merupakan amfibi spesialis kebun. Menurut Iskandar (1998), jenis ini bukan hanya ditemukan di daerah kebun saja tetapi jenis ini merupakan jenis yang banyak ditemukan pada daerah terganggu. Pada hutan pantai tidak dijumpai amfibi spesialis karena air yang terdapat pada hutan pantai yaitu air asin sehingga tidak begitu baik untuk menunjang kehidupan amfibi. Menurut Iskandar (1998), tidak ada jenis katak yang tahan terhadap air asin dan air payau kecuali pada dua jenis katak salah satunya yaitu Fejervaria cancrivora. Jenis-jenis amfibi lain yang ditemukan di hutan pantai kebanyakan ditemukan pada tempat yang dekat dengan kubangan. Kubangan tersebut merupakan kubangan sementara yang sumber airnya berasal dari air hujan. Banyaknya jenis amfibi spesialis yang ditemukan pada hutan dataran rendah karena hutan dataran rendah lebih menunjang kehidupan bagi amfibi dibandingkan dengan habitat lainnya dengan mempunyai berbagai macam strata tajuk, sehingga sinar matahari yang sampai pada dasar hutan menjadi sedikit. Dengan keadaan ini hutan dataran rendah mempunyai kondisi dalam hutan (mikrohabitat) yang lebih dingin dan sejuk dibandingkan dengan habitat lainnya. Hal tersebut yang membuat amfibi lebih memilih pada hutan dataran rendah
karena kebanyakan jenis amfibi hidup di kawasan berhutan karena membutuhkan kelembaban yang cukup untuk melindungi tubuh dari kekeringan. Struktur vegetasi hutan merupakan salah satu bentuk pelindung yang digunakan oleh satwaliar untuk tempat penyesuaian terhadap perubahan suhu (thermal cover) (Alikodra 2002). Selain itu hutan dataran rendah mempunyai lebih banyak jenis vegetasi dibandingkan dengan habitat lain. Semakin tinggi keanekaragaman jenis vegetasi maka semakin tinggi pula keanekaragaman satwaliarnya (Odum 1993; Primack et al. 1998; Alikodra 2002).
Pada reptil, jenis spesialis yang ditemukan berjumlah 9 jenis yang terdiri dari 2 jenis spesialis hutan pantai yaitu Psammodynastes pictus dan Cerberus rynchops, 3 jenis spesialis hutan dataran rendah yaitu Aplopeltura boa, Cyrtodactylus cf fumosus dan Gonocephalus camelianthinus serta 4 jenis spesialis kebun yaitu Lycodon subcinctus, Ahaetulla prasina, Hemydactylus frenatus dan Draco volans. Banyaknya jenis spesialis pada habitat kebun karena kebanyakan jenis reptil lebih menyukai daerah yang tidak terlalu tertutup. Daerah terbuka diperlukan agar sinar matahari dapat masuk ke dasar. Banyak jenis reptil yang mengeksposekan sebagian besar tubuhnya dibawah terik sinar matahari pada waktu pagi dan siang hari. Sinar matahari diperlukan untuk membuat tubuh menjadi panas sehingga panas tersebut dapat digunakan menjalankan proses metabolisme pada reptil. Perilaku ini dikenal dengan istilah basking (berjemur), dan dilakukan kebanyakan oleh jenis kadal-kadalan (Cogger 1999).
Sedangkan pada jenis generalis (jenis yang ditemukan di beberapa tipe habitat) terbagi menjadi dua macam jika dilihat responnya terhadap daerah peralihan yaitu jenis generalist edge avoider dan jenis generalist edge exploiter. Amfibi yang termasuk ke dalam generalist edge avoider yaitu Bufo quadriporcatus, Leptophryne borbonica, Limnonectes macrodon dan Limnonectes blythii. Keempat jenis ini tidak ditemukan pada daerah peralihan, tetapi ditemukan pada daerah inti pada habitat hutan dataran rendah dan kebun. Sedangkan amfibi yang termasuk ke dalam generalist edge exploiter terdiri dari 7 jenis yaitu Bufo biporcatus, Bufo melanostictus, Microhylla palmipes, Polypedates leucomystax, Occidozyga sumatrana, Rana nicobariensis dan Fejervarya limnocharis. Diantara semua jenis amfibi generalis, terdapat 3 jenis yang mempunyai penyebaran paling
luas yaitu Microhylla palmipes, Polypedates leucomystax dan Rana nicobariensis. Ketiga jenis amfibi ini tersebar pada 4 dari 5 tipe habitat yang diteliti termasuk daerah peralihan. Polypedates leucomystax ditemukan pada kebun, hutan dataran rendah, daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah serta daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah. Sedangkan Microhylla palmipes dan Rana nicobariensis ditemukan pada seluruh habitat kecuali pada daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah. Ketiga jenis ini merupakan jenis yang umum dijumpai bahkan bisa hidup pada habitat terganggu di dekat hunian manusia. Selain itu ketiga jenis ini mempunyai penyebaran yang luas (Iskandar 1998).
Reptil yang tergolong ke dalam jenis generalist edge avoider terdiri dari 6 jenis yaitu Dendrelaphis caudolineatus, Dendrelaphis pictus, Psammodynastes pulverulentus, Natrix trianguligera, Macropisthodon rhodomelas dan Varanus salvator. Sedangkan reptil yang tergolong ke dalam jenis generalist edge exploiter terdiri dari 3 jenis yaitu Takydromus sexlineatus, Draco melanopogon dan Eutropis multifasciata. Eutropis multifasciata merupakan jenis reptil generalis yang mempunyai penyebaran paling luas. Jenis ini ditemukan pada semua tipe habitat yang diteliti termasuk daerah peralihan. Menurut Cox et al. (1998), Eutropis multifasciata merupakan jenis yang umum dijumpai dekat dengan hunian manusia dan hutan dataran rendah. Jenis ini tersebar luas mulai dari India Timur sampai Hainan dan Papua Nugini.
Jenis spesialis merupakan jenis yang lebih rentan mengalami kepunahan jika terjadi gangguan dan perubahan lingkungan dibandingkan dengan jenis generalis karena jenis spesialis hanya mampu hidup pada habitat spesifik, jika terjadi gangguan pada habitat tersebut maka jenis-jenis spesialis tidak mampu berpindah dan hidup di habitat yang baru. Sedangkan jenis generalis merupakan jenis yang mampu bertahan di berbagai tipe habitat karena jenis generalis biasanya mempunyai kemampuan adaptasi dan toleransi terhadap lingkungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis spesialis. Jenis-jenis spesialis tersebut merupakan jenis yang harus menjadi prioritas dalam suatu pengelolaan karena kerentanannnya terhadap kepunahan jika terjadi gangguan. Menurut Lehtinen et al. (2003) yang melakukan penelitian pada amfibi dan reptil
Madagaskar menyatakan bahwa jenis yang ditemukan di pedalaman hutan, yang cenderung menghindari tepi lebih rentan terhadap kepunahan.
Pada (Gambar 11) kurva akumulasi jenis reptil dan amfibi, terlihat bahwa dari seluruh total jenis reptil dan amfibi yang ditemukan terus mengalami peningkatan jumlah jenis di setiap minggunya. Hal tersebut dikarenakan oleh penemuan jumlah reptil yang terus meningkat. Terus meningkatnya jumlah reptil pada kurva diduga disebabkan oleh sifat dan keberadaan reptil yang lebih sulit dijumpai dari pada amfibi, Reptil mempunyai mobilitas yang tinggi dibandingkan dengan amfibi sehingga selalu memungkinkan untuk menemukan jenis-jenis baru. Oleh karena itu dibutuhkan waktu penelitiannya yang lebih lama untuk mendapatkan kondisi kurva yang stabil atau mendatar. Menurut informasi dari masyarakat terdapat jenis-jenis reptil yang ada pada kawasan TWNC tetapi tidak ditemukan pada saat penelitian diantaranya yaitu labi-labi (Dogonia sublana), ular kobra (Naja sp), ular koros (Pytas korros), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), ular viper (Trimeresurus hageni), ular weling (Bungarus candidus) dan kadal perut hijau (Dasia olivacea). Sementara kurva akumulasi jenis amfibi dari tiap minggunya mengalami peningkatan dan diakhiri dengan kondisi stabil pada akhir minggu pengamatan. Hal tersebut dikarenakan oleh penemuan amfibi yang lebih mudah kita jumpai, namun hasil tersebut masih memungkinkan untuk menemukan jenis baru jika waktu penelitiannya dilakukan lebih lama.
Jumlah jenis amfibi yang ditemukan di TWNC dengan jumlah 19 jenis tergolong sedikit jika dibandingkan dengan penelitian lain yang ada di Sumatera. Jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan penelitian oleh Sudrajat (2001) sebanyak 26 jenis pada lokasi Musi Banyuasin, Rahat dan Musi Lawas Sumatera Selatan dan Darmawan (2008) pada lokasi Eks-HPH PT RKI kabupaten Bungo, Jambi sebanyak 37 jenis, Ul-Hasanah (2006) pada lokasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan sebanyak 44 jenis dan Kurniati (2007) pada lokasi Taman Nasional Kerinci Seblat sebanyak 70 jenis. Tetapi jumlah jenis amfibi di TWNC lebih banyak dibandingkan dengan penelitian Widyananto (2009) yang menemukan 14 jenis amfibi pada kawasan Siberut Conservation Program (SCP), Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Sedangkan untuk reptil di TWNC ditemukan 33 jenis reptil. Jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan
dengan Sudrajat (2001) pada lokasi Musi Banyuasin, Rahat dan Musi Lawas Sumatera Selatan yakni sebanyak 27 jenis. Yusuf (2008) pada lokasi Eks-HPH PT RKI kabupaten Bungo, Jambi sebanyak 31 jenis. Tetapi jumlah tersebut lebih sedikit jika dibandingkan dengan Kurniati (2007) pada lokasi Taman Nasional Kerinci Seblat sebanyak 38 jenis dan Endarwin (2006) pada lokasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan sebanyak 51 jenis.
Perbedaan jumlah jenis amfibi dan reptil yang ditemukan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor seperti perbedaan usaha dalam pencarian, lama waktu penelitian dan cakupan wilayah penelitian baik dalam ketinggian maupun luasan area. Pada lokasi penelitian di TWNC ketinggian mulai dari 0-117 mdpl. Sementara penelitian yang dilakukan di daratan Sumatera umumnya dilakukan pada ketinggian yang bervariasi dan luasan yang berbeda, seperti penelitian Endarwin (2006) dan Ul-Hasanah (2006) yang dilakukan pada ketinggian 50 - 1200 mdpl. Penelitian Widyananto (2009) pada ketinggian 15-20 mdpl serta penelitian Darmawan (2008) dan Yusuf (2008) pada ketinggian 350-550 mdpl. Adanya perbedaan ketinggian ini membuat jenis-jenis herpetofauna yang ada pada daerah dataran tinggi tidak ditemukan pada penelitian ini.
Herpetofauna merupakan satwa poikiloterm sehingga tidak dapat mengatur suhu tubuhnya sendiri. Panas tubuh didapatkan dari lingkungan, sehingga lingkungan sangat mempengaruhi kehidupan herpetofauna. Herpetofauna khususnya reptil biasanya mangeksposekan tubuhnya di bawah cahaya matahari dalam rangka meningkatkan temperatur badan mereka. Karena kebiasaan ini maka herpetofauna sangat peka terhadap radiasi sinar Ultra Violet (UV-B), jika terjadi peningkatan sinar UV-B maka akan membahayakan bagi kehidupan herpetofauna. Pengurangan lapisan ozon di atmosfer menyebabkan meningkatnya radiasi UV-B ke bumi. Sementara itu, tempat-tempat dengan ketinggian atau tempat dengan vegetasi jarang lebih rentan terhadap efek radiasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa radiasi UV-B ambient dapat membunuh beberapa telur amfibi, selain itu radiasi UV-B dapt menimbulkan kerentanan amfibi terhadap penyakit (Kusrini 2009).
Suhu dan kelembaban merupakan faktor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan herpetofauna. Pada lokasi pengamatan suhu udara yang diperoleh
berkisar 26° sampai 30°C. Jika dibandingkan dengan beberapa penelitian lainnya yang ada di Sumatera, suhu penelitian di TWNC tidak jauh berbeda, seperti penelitian Sudrajat (2001) di beberapa lokasi di Sumatera Selatan yaitu di Muara Banyuasin suhu berkisar antara 25° sampai 27°C, Lahat antara 23° sampai 25°C dan di Musi Rawas antara 24° sampai 27°C. Penelitian Endarwin (2006) dan Ul-Hasanah (2006) yang dilakukan di TNBBS mendapat kisaran suhu udara 19,46° sampai 25,77°C. Penelitian Darmawan (2006) dan Yusuf (2006) di lokasi Eks-HPH PT RKI kabupaten Bungo, Jambi suhu berkisar antara 20° sampai 32°C dan Widyananto melakukan penelitian di SCP dengan suhu berkisar antara 23° sampai 29°C. Hal tersebut sesuai dengan Goin and Goin (1971) yang menyatakan bahwa katak memiliki toleransi suhu antara 3° sampai 41°C. van Hoeve (2003) yang menyatakan reptil hidup aktif pada suhu antara 20° sampai 40°C.