BUKIT BARISAN SELATAN, PROVINSI LAMPUNG
MOHAMMAD FARIKHIN YANUAREFA
DEPARTEMEN
KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
BUKIT BARISAN SELATAN, PROVINSI LAMPUNG
MOHAMMAD FARIKHIN YANUAREFA
Skripsi
sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN
KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
Nature Conservation, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Provinsi Lampung. Dibimbing oleh: MIRZA DIKARI KUSRINI dan LILIK BUDI PRASETYO.
Efek tepi merupakan kecenderungan perbedaan komposisi jenis atau kelimpahan di daerah peralihan dan daerah inti. Kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) merupakan bagian dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Kawasan TWNC terdiri dari berbagai tipe habitat berbeda yang diduga akan mempengaruhi komposisi, keanekaragaman dan distribusi herpetofauna di wilayah tersebut. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan komposisi dan keanekaragaman serta distribusi jenis herpetofauna antar daerah peralihan dan daerah inti.
Penelitian dilakukan di TWNC dan Laboratorium Analisis Lingkungan dan Pemodelan Spasial Fakultas kehutanan IPB pada bulan Agustus 2009-Januari 2010. Metode untuk pengambilan data satwa yaitu Visual Encounter Survey (VES) dengan desain transek pada hutan pantai, hutan dataran rendah, kebun, daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah serta daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah.
Jumlah amfibi yang ditemukan adalah 19 jenis. Semua jenis amfibi ini ditemukan di dalam jalur pengamatan. Sementara itu untuk reptil, jumlah jenis yang ditemukan sebanyak 33 jenis diantaranya 18 jenis ditemukan di dalam jalur pengamatan dan 15 jenis ditemukan di luar jalur pengamatan.
Komposisi jenis herpetofauna berbeda pada setiap tipe habitat baik daerah peralihan maupun daerah inti. Pada daerah inti, hutan dataran rendah mempunyai jumlah jenis amfibi terbanyak (14 jenis), diikuti kebun (8 jenis) dan hutan pantai (3 jenis). Sedangkan untuk reptil, hutan dataran rendah dan hutan pantai mempunyai jumlah jenis yang sama (8 jenis) dan kebun (7 jenis). Daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah ditemukan 5 jenis amfibi dan 2 jenis reptil dan daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah ditemukan 2 jenis amfibi dan 2 jenis reptil.
Perbedaan tipe habitat tidak berpengaruh terhadap nilai keanekaragaman jenis herpetofauna akan tetapi mempengaruhi jumlah individu per jenis. Amfibi banyak dijumpai di hutan dataran rendah sementara reptil dijumpai terbanyak di habitat hutan pantai. Distribusi spasial pada amfibi cenderung mengelompok pada daerah hutan dataran rendah yang memiliki beragam mikro habitat, dekat dengan sumber air tawar dan terlindung dari kekeringan. Sedangkan distribusi reptil cenderung acak karena mempunyai mobilitas yang lebih tinggi daripada amfibi. Dengan sedikitnya herpetofauna yang ditemukan pada daerah peralihan dibandingkan dengan daerah inti maka efek tepi memberikan pengaruh negatif bagi distribusi herpetofauna terutama pada daerah yang terfragmentasi.
Conservation Area Bukit Barisan Selatan National Park, Lampung Province. Supervised by: MIRZA DIKARI KUSRINI and LILIK BUDI PRASETYO.
Edge effect is tendency of differences in species composition or abundance of the transition area and core area. Tambling Wildlife Nature Conservation Area (TWNC) is part Bukit Barisan Selatan National park. TWNC area consists of various types of habitats which are expected to affect composition, diversity and distribution of herpetofauna in the area. Research was carried out to determine differences in species composition, species diversity and distribution between the transition area and core area.
Research was carried out in Tambling Wildlife Nature Conservation and Laboratory of Environmental Analysis and Modelling of Spatial Faculty of Forestry IPB, in August 2009-January 2010. Amphibian and reptile were collected using Visual Encounter Survey (VES) with transect design method in coastal forests, lowland forests, gardens, transition area between the coastal forest and lowland forest as well as the transition area between the garden and lowland forest.
Total amphibians found are 19 species. All species of amphibians are found along transects. There were 33 species of reptiles, consisting of 18 species found in transects and 15 species outside transects.
Herpetofauna species composition differs among habitat types, as well as between transition area and core area. In core area, lowland forests have the highest number of amphibian species (14 species), followed by garden (8 species) and coastal forest (3 species). Lowland forests and coastal forest have the same number of species (10 species) of reptiles and garden (8 species). Number of species in transition area is 5 species of amphibians and 2 species of reptiles between coastal forest and lowland forest and 2 species of amphibians and 2 species of reptiles between garden and lowland forests.
Differences in habitat type did not influence the value of species diversity index except for number of individual. More amphibians are found in low land forest area whereas reptile is found more on coastal forest. Spatial distribution of amphibian tends to congregate in lowland forest area consisting more micro habitats, close to fresh water source and protected from dessication. Reptile tends to distributed randomly due to its higher mobility that amphibian. Lower number of herpetofauna found at the transition area compared to core area, show that edge effects is negatively impacted the distribution of herpetofauna especially in fragmented area.
Peralihan terhadap Distribusi Herpetofauna di Kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Provinsi Lampung adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pemimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi ataupun lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Juni 2010
M. Farikhin Yanuarefa
Provinsi Lampung
Nama : Mohammad Farikhin Yanuarefa NRP : E34052783
Menyetujui, Dosen Pembimbing
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Ir. Mirza Dikari Kusrini, M.Si. Dr. Ir. Lilik Budi Prasetyo, M.Sc. NIP. 196511 14 199002 2 001 NIP. 196203 16 198803 1 002
Mengetahui, Ketua Departemen
Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB
Prof. Dr. Ir Sambas Basuni, M.S. NIP. 195809 15 198403 1 003
Ichsan Hisjam dan Ibu Sri Mulyati. Penulis mulai pendidikan pada tahun 1992 di Taman Kanak-Kanak Busthanul Athfal dan lulus pada tahun 1993. Penulis melanjutkan ke Sekolah Dasar pada tahun 1993 di SDN Krajankulon II Kaliwungu, pada tahun 1997 pindah ke SDN Patukangan I Kendal dan lulus pada tahun 1999, kemudian pada tahun 1999 melanjutkan ke SLTPN II Kendal dan lulus pada tahun 2002, setelah itu melanjutkan ke SMAN I Kendal dan lulus pada tahun 2005. Pada tahun 2005 penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan pada tahun 2006 diterima pada program mayor Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dengan program minor Perlindungan Hutan.
Selama menempuh pendidikan di IPB penulis aktif di berbagai organisasi diantaranya aktif sebagai anggota Organisasi Mahasiswa Daerah Fokma Bahurekso Kendal (2005-2007), anggota Biro Pengembangan Sumber Daya Manusia HIMAKOVA (2006-2007), Kelompok Pemerhati Herpetofauna “Python” dan pernah menjadi ketua Kelompok Pemerhati Herpetofauna periode 2007-2008. Penulis juga pernah menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Ekologi Satwaliar (2008-2009) dan Analisis Spasial Lingkungan (2010). Pengalaman lapangan penulis meliputi Eksplorasi Flora dan Fauna Indonesia (RAFFLESIA) I di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi pada tahun 2007, RAFFLESIA II di Cagar Alam Gunung Simpang Cianjur pada tahun 2008, Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Sulawesi Selatan pada tahun 2007, SURILI di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Kalimantan Barat pada tahun 2008, Praktek Pengenalan Ekosistem hutan (PPEH) di Cagar Alam Leuweung Sancang dan Cagar Alam Kamojang pada tahun 2007, Praktek Umum Konservasi Ex-situ di PUSPIPTEK Tanggerang dan CV Megacitrindo Bogor pada tahun 2008, Praktek Kerja Lapang Profesi (PKLP) di Taman Nasional Alas Purwo Jawa Timur pada tahun 2009 dan pada tahun 2010 penulis menjadi surveyor satwaliar di Semenanjung Kampar, Riau.
Untuk menyelesaikan tugas sebagai syarat meraih gelar Sarjana Kehutanan, penulis melaksanakan penelitian yang berjudul “Pengaruh Daerah Peralihan terhadap Distribusi Herpetofauna di Kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Provinsi Lampung” dibimbing oleh Dr. Ir. Mirza Dikari Kusrini, M.Si. dan Dr. Ir. Lilik Budi Prasetyo, M.Sc.
Alhamdulillahirabbil `aalamiin. Puji dan syukur dipanjatkan ke-Hadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana. Salawat dan salam penulis sampaikan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, kepada keluarga dan para sahabatnya serta para pengikutnya.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Ir. Mirza Dikari Kusrini, M.Si. dan Dr. Ir. Lilik Budi Prasetyo, M.Sc. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan dorongan semangat, nasehat dan bimbingannya.
2. Orang tuaku tercinta yaitu Bapak Moch Ichsan Hisjam dan Ibu Sri Mulyati serta adik-adikku Akhmad Fadhlul Mubin dan Elsanti Rizki Amalia yang memberikan doa, dorongan serta semangat selama kegiatan penelitian ini. 3. Dr. Ir. Bachruni, MS sebagai dosen penguji dari Departemen Manajemen
Hutan, Effendi Tri Bachtiar, S.Hut, M.Si sebagai dosen penguji dari Departemen Hasil Hutan, Ir. Iwan Hilwan, MS sebagai dosen penguji dari Departemen Silvikultur. Terimakasih atas arahan dan masukan untuk penulis. 4. Pihak PT. Adhiniaga Kreasinusa atas kesediaannya memberikan fasilitas
kepada penulis untuk melaksanakan penelitian di kawasan TWNC. Penghargaan penulis untuk pimpinan Artha Graha Bapak Tomi Winata atas dana penelitian yang diberikan, Ibu Hannalilies, Ibu Intan, dr Lia, dr Nola, Mas Gilang, Pak Dadiel DK, Mas Daniel dan seluruh staf TWNC atas bantuannya di lapangan.
5. Bang Icuk, Bang Dede, Bang Kastari, Bang Hafizon, Bang 2 Hendra, Bang Rofik, Bang Forhan, Bang Khoirudin, Bang Maruza, dan abang-abang Security Group Artha (SGA) lainnya yang telah menemani dan mendampingi penulis selama di lapang.
6. Bapak Kurnia Rauf, Bapak Afrizal, Ibu Tri, Mas Dono, Mas Mardiansyah, Bapak Khoirudin, Bapak Endang, Bapak Fitrik beserta seluruh staf TNBBS atas izin dan bantuan selama penelitian.
kebersamaan di lapangan melewati hari-hari penuh pelajaran berharga.
9. Teman-Teman Laboratorium Katak yang telah memberikan saran dan masukannya.
10. Teman-teman Laboratorium SDAF atas bantuannya dan semangat perjuangannya.
11. Keluarga besar HIMAKOVA dan KPH ”Python”, khususnya periode kepengurusan tahun 2006-2008 atas segala kebersamaan, kekompakan, serta pengalaman yang telah dilalui.
12. Keluarga besar KSHE 42 tanpa terkecuali, atas segala kebersamaan, kekompakan, kekeluargaan, persaudaraan, persahabatan, suka duka, serta semua hal yang telah dilakukan bersama hingga menjadi pengalaman dan pembelajaran hidup yang sangat berarti bagi penulis.
13. Keluarga Wisma Evergreen (Rino, Rifka, Aji, Taufik, Eka, Bayu, Revan, Jowo, Andi & Alfa), Kelurga Pondok Mandala (Ardi, Berry dan Jamal) dan Kelurga Wisma Taman Surga (Harri, Budi, Iqbal, Fadli, Dera, Willi, dan Mahe) atas kebersamaannya melewati hari-hari penuh pengalaman dan kenangan.
14. Keluarga besar DKSHE atas bantuannya yang sudah membantu penulis selama menimba ilmu di IPB.
15. Dian Thursina atas motivasi, semangat, dan bantuan yang diberikan kepada penulis selama penelitian.
16. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah memberikan bantuan dan dukungan dalam penyelesaian skripsi ini apapun bentuknya.
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penyusun panjatkan ke-Hadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. Salawat dan salam penyusun panjatkan kepada suri tauladan kita Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya. Penelitian ini berjudul “Pengaruh Daerah Peralihan terhadap Distribusi Herpetofauna di Kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Provinsi Lampung” yang dibimbing oleh Dr. Ir. Mirza Dikari Kusrini, M.Si. dan Dr. Ir. Lilik Budi Prasetyo, M.Sc.
Kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) merupakan wilayah bagian dari kawasan TNBBS. Pengelolaan kawasan ini dilakukan oleh PT Adhiniaga Kreasi Nusa (Artha Group), melalui kerja sama operasional (KSO). Sebagai suatu kawasan konservasi dengan pengelolaan intensif, TWNC membutuhkan data dan informasi tentang keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya agar pengelolaannya lebih optimal. Oleh karena itu penulis mencoba melakukan penelitian tentang distribusi herpetofauna di berbagai habitat baik daerah inti maupun daerah peralihan di TWNC.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu segala bentuk kritik dan masukan yang bertujuan untuk memperbaiki skripsi ini sangat diharapkan penulis. Akhir kata penulis hanya dapat berharap semoga karya yang telah dibuat ini dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi semua pihak yang membutuhkan.
Bogor, Juni 2010
DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR TABEL ... iv DAFTAR GAMBAR ... vDAFTAR LAMPIRAN ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Tujuan ... 2
1.3. Manfaat ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1. Ekologi dan Penyebaran Herpetofauna di Sumatera ... 4
2.1.1. Amfibi... 4
2.1.2. Reptil ... 8
2.2. Edge (Daerah Peralihan) dan Core (Daerah Inti) ... 10
2.3. Penginderaan Jauh, Sistem Informasi Geografis dan Aplikasinya ... 12
BAB III METODE PENELITIAN ... 16
3.1. Waktu dan Lokasi ... 16
3.2. Alat dan Bahan ... 17
3.3. Jenis Data ... 17
3.3.1. Data Primer ... 17
3.3.2. Data Sekunder ... 17
3.4. Metode Pengumpulan Data ... 17
3.4.1. Data Primer ... 17
3.4.2. Data Sekunder ... 22
3.5. Analisis Data ... 22
3.5.1. Analisis Data Satwa ... 22
3.5.2. Analisis Data Habitat ... 24
BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN ... 26
4.1. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan ... 26
4.2. Tambling Wildlife Nature Conservation ... 28
4.2. Karakteristik Habitat Lokasi Peneltian ... 29
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 34
5.1. Hasil ... 34
5.1.1. Komposisi Jenis dan Respon Jenis terhadap Daerah Peralihan ... 34
5.1.2. Indeks Keanekaragaman Jenis ... 41
5.1.3. Indeks Kesamaan Jenis ... 43
5.1.4. Uji Beda Keanekaragaman Jenis ... 46
5.1.5. Distribusi Spasial ... 47
5.2. Pembahasan ... 72
5.2.1. Komposisi Jenis dan Respon Jenis terhadap Daerah Peralihan ... 72
5.2.2. Indeks Keanekaragaman dan Kesamaan Jenis ... 78
5.2.3. Distribusi Spasial ... 81
5.2.4. Status Jenis Herpetofauna... 81
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 84
6.1. Kesimpulan ... 84
6.1. Saran ... 84
DAFTAR PUSTAKA ... 85
DAFTAR TABEL
No. Halaman
1. Alat dan Bahan yang Digunakan dalam Penelitian ... 17
2. Rincian Waktu Pengambilan Data Satwa pada Jalur Penelitian ... 21
3. Distribusi Herpetofauna di Daerah Inti dan Daerah Peralihan di TWNC . 35 4. Jumlah Individu Herpetofauna yang Ditemukan pada Jalur di TWNC .... 37
5. Jenis-Jenis Herpetofauna Spesialis yang Dijumpai pada Lokasi Penelitian ... 39
6. Jenis-Jenis Herpetofauna Generalis yang Dijumpai pada Lokasi Penelitian ... 39
7. Nilai t Hitung antar Tipe Habitat ... 46
8. Distribusi Herpetofauna pada Jalur Daerah Peralihan ... 47
DAFTAR GAMBAR
No. Halaman
1. Daerah inti dan daerah peralihan berdasarkan ukuran bentuk patch ... 11
2. Berbagai respon spesies terhadap daerah peralihan ... 12
3. Peta kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation ... 16
4. Ilustrasi penentuan daerah peralihan ... 18
5. Ilustrasi jalur pengamatan herpetofauna ... 20
6. Diagram alur penelitian ... 25
7. Kondisi lokasi pengamatan pada daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah. ... 30
8. Kondisi lokasi pengamatan pada daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah ... 31
9. Kondisi lokasi pengamatan di hutan pantai ... 32
10. Kondisi lokasi pengamatan di hutan dataran rendah ... 33
11. Kondisi lokasi pengamatan di hutan kebun ... 33
12. Kurva akumulasi jenis herpetofauna ... 41
13. Indeks keanekaragaman jenis (H’) pada jalur daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah ... 42
14. Indeks keanekaragaman jenis (H’) pada jalur daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah... 43
15. Indeks keanekaragaman jenis (H’) pada daerah inti di setiap tipe habitat 43 16. Dendrogram kesamaan jenis (a) amfibi dan (b) reptil pada jalur daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah ... 44
17. Dendrogram kesamaan jenis (a) amfibi dan (b) reptil pada jalur daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah ... 45
18. Dendrogram kesamaan jenis (a) amfibi dan (b) reptil pada daerah inti di setiap tipe habitat ... 45
19. Peta distribusi herpetofauna pada jalur daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah di Sekawat I ... 48
20. Peta distribusi herpetofauna pada jalur daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah di Sekawat II ... 49
21. Peta distribusi herpetofauna pada jalur daerah peralihan antara hutan
pantai dan hutan dataran rendah di Blambangan I ... 50
22. Peta distribusi herpetofauna pada daerah jalur peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah di Blambangan II ... 51
23. Jumlah (a) amfibi dan (b) reptil yang ditemukan pada jalur daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah ... 52
24. Jumlah (a) amfibi dan (b) reptil yang ditemukan pada jalur daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah ... 54
25. Peta distribusi herpetofauna pada jalur daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah di Tanjung Mas I ... 55
26. Peta distribusi herpetofauna pada jalur daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah di Tanjung Mas II ... 56
27. Peta distribusi herpetofauna pada jalur daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah di Penangkaran I ... 57
28. Peta distribusi herpetofauna pada jalur daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah di Penangkaran II ... 58
29. Peta distribusi herpetofauna pada jalur hutan pantai di Sekawat ... 60
30. Peta distribusi herpetofauna pada jalur hutan pantai di Seyleman ... 61
31. Peta distribusi herpetofauna pada jalur hutan pantai di Blambangan ... 62
32. Peta distribusi herpetofauna pada jalur hutan pantai di Belimbing ... 63
33. Peta distribusi herpetofauna pada jalur hutan dataran rendah di Duku Satu I ... 64
34. Peta distribusi herpetofauna pada jalur hutan dataran rendah di Duku Satu II ... 65
35. Peta distribusi herpetofauna pada jalur hutan dataran rendah di Way Seyleman I... 66
36. Peta distribusi herpetofauna pada jalur hutan dataran rendah di Way Seyleman II ... 67
37. Peta distribusi herpetofauna pada jalur kebun di Pulau-Pulau I ... 68
38. Peta distribusi herpetofauna pada jalur kebun di Pulau-Pulau II ... 69
39. Peta distribusi herpetofauna pada jalur kebun di Penangkaran ... 70
DAFTAR LAMPIRAN
No. Halaman
1. Data Iklim (Suhu Udara, Kelembaban dan Cuaca) di Lokasi Penelitian .. 92
2. Indeks Keanekaragaman (H’) dan Kemerataan (E) Jenis pada Jalur Daerah Peralihan antara Hutan Pantai dan Hutan Dataran Rendah ... 94
3. Indeks Keanekaragaman (H’) dan Kemerataan (E) Jenis pada Jalur Daerah Peralihan antara Kebun dan Hutan Dataran Rendah ... 95
4. Indeks Keanekaragaman (H’) dan Kemerataan (E) Jenis pada Daerah Inti ... 96
5. Pehitungan Indeks Kesamaan Jenis pada Jalur Daerah Peralihan antara Hutan Pantai dan Hutan Dataran Rendah ... 97
6. Pehitungan Indeks Kesamaan Jenis pada Jalur Daerah Peralihan antara Kebun dan Hutan Dataran Rendah... 98
7. Pehitungan Indeks Kesamaan Jenis pada Daerah Inti ... 99
8. Uji Statistik pada Jalur Daerah Peralihan antara Hutan Pantai dan Hutan Dataran Rendah ... 100
9. Uji Statistik pada Jalur Daerah Peralihan antara Kebun dan Hutan Dataran Rendah ... 102
10. Uji Statistik antar Daerah Inti ... 104
11. Deskripsi Jenis Amfibi yang Dijumpai di Kawasan TWNC ... 107
1.1. Latar Belakang
Fragmentasi habitat adalah peristiwa yang menyebabkan habitat yang luas diperkecil atau dibagi menjadi dua atau lebih fragmen. Fragmentasi habitat yang disebabkan oleh aktivitas manusia diyakini merupakan ancaman utama bagi keanekaragaman hayati di muka bumi. Fragmentasi memberi efek bagi keanekaragaman hayati dalam bentuk pembentukan habitat yang terpisah satu sama lain dengan luas yang semakin kecil dari kondisi semula. Kondisi ini selanjutnya akan menimbulkan dampak berupa hadirnya efek tepi (Primack et al. 1998). Efek tepi merupakan kecenderungan perbedaan komposisi jenis atau kelimpahan di daerah peralihan dan daerah inti (Forman 1981). Lingkungan mikro daerah peralihan berbeda dengan lingkungan mikro di bagian tengah hutan. Oleh karena jenis tumbuhan dan hewan biasanya beradaptasi untuk suhu, kelembaban dan intensitas cahaya tertentu (Yoza 2005). Fragmentasi banyak memberikan dampak negatif bagi habitat sehingga menyebabkan terjadinya penurunan bahkan kepunahan jenis pada habitat tersebut, tetapi seringkali jumlah jenis dan kepadatan populasi dari beberapa jenis lebih besar di daerah peralihan daripada di komunitas yang mengapitnya karena daerah peralihan dianggap sebagai daerah berbeda yang mempunyai jenis gabungan dari jenis asli daerah peralihan dan jenis tambahan yang berasal dari komunitas yang mengapitnya (Odum 1993). Menurut Prasetyo (2007), respon satwa terhadap daerah peralihan pada prinsipnya dibagi menjadi dua yaitu menyukai daerah peralihan (edge exploiter) dan menghindari daerah peralihan (edge avoider).
Bukit Barisan Selatan ditetapkan sebagai Taman Nasional melalui surat keputusan Menteri Pertanian No.736/Mentan/X/1982. Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) meliputi areal seluas ± 365.000 hektar yang membentang dari ujung selatan bagian barat Provinsi Lampung sampai bagian selatan Provinsi Bengkulu. TNBBS mempunyai potensi keragaman hayati yang sangat tinggi, hingga saat ini telah terindentifikasi 200 jenis pohon, 126 jenis anggrek, 17 jenis rotan dan 15 jenis bambu. Sedangkan kekayaan fauna kawasan
ini menyimpan 83 jenis mamalia, 300 jenis burung, 59 jenis herpetofauna (amfibi dan reptil) dan 51 jenis ikan (Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam 2004). TNBBS mempunyai keanekaragaman jenis herpetofauna cukup tinggi. Menurut penelitian HIMAKOVA IPB (2004) yang hanya melakukan pengamatan di satu lokasi dalam TNBBS, ditemukan 26 jenis herpetofauna yang terdiri dari 13 jenis amfibi dan 13 jenis reptil sedangkan Ul-Hasanah (2006) dan Endarwin (2006) yang melakukan penelitian di areal yang lebih luas dari penelitian HIMAKOVA IPB, menemukan 44 jenis amfibi dan 51 jenis reptil.
Kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) merupakan wilayah bagian dari kawasan TNBBS. Kawasan ini mempunyai luas ± 45.000 hektar. Pengelolaan kawasan ini dilakukan oleh PT Adhiniaga Kreasi Nusa (Artha Group), melalui kerja sama operasional (KSO). Kawasan TWNC terdiri dari berbagai tipe habitat yaitu mulai dari hutan pantai sampai hutan hujan dataran rendah. Perbedaan habitat tersebut diduga akan mempengaruhi komposisis, keanekaragaman dan distribusi herpetofauna di wilayah tersebut, selain itu terdapat perbedaan pada daerah peralihan (edge) antar tipe habitat. Sebagai suatu kawasan konservasi dengan pengelolaan intensif, TWNC membutuhkan data dan informasi tentang keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya agar pengelolaannya lebih optimal. Informasi tentang kondisi daerah peralihan baik vegetasi dan satwanya diperlukan bagi pengelolaan di TWNC, salah satunya herpetofauna. Informasi ini dapat menjadi masukan kepada pengelola dalam melakukan kegiatan konservasi untuk menghindari kepunahan herpetofauna.
1.2. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui: 1. Perbedaan komposisi jenis antar daerah peralihan dan daerah inti. 2. Perbedaan keanekaragaman jenis antar daerah peralihan dan daerah inti. 3. Distribusi herpetofauna di setiap tipe habitat
1.3. Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Melengkapi data dan informasi mengenai jenis, distribusi serta karakteristik habitat herpetofauna.
2. Memberikan masukan kepada pengelola terutama dalam pengambilan keputusan untuk pengelolaan keanekaragaan jenis herpetofauna.
2.1. Ekologi dan Penyebaran Herpetofauna di Sumatera 2.1.1. Amfibi
Amfibi merupakan satwa poikilotherm atau ektotermik yang berarti amfibi tidak dapat menggunakan proses metabolisme di dalam tubuhnya untuk dijadikan sebagai sumber panas, tetapi amfibi memperoleh sumber panas dari lingkungan untuk mendapatkan energi, oleh karena itu amfibi mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap kondisi lingkungan (Mistar 2003). Satwa poikiloterm mempunyai metabolisme yang rendah, oleh karena itu mereka mampu tidak makan dalam waktu yang relatif lama. Namun demikian, beberapa jenis katak makan setiap hari atau beberapa hari sekali, kecuali pada saat dorman dimana mereka bisa tidak makan sampai beberapa bulan (Kusrini 2009). Keadaan dorman dilakukan pada saat kondisi lingkungan tidak mendukung kehidupan amfibi (Cogger 1999).
Suhu dan kelembaban merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi lingkungan. Suhu dan kelembaban yang sesuai sangat diperlukan bagi kehidupan amfibi. Menurut Duellman and Trueb (1994) bangsa salamander di Amerika Utara dan Selatan mempunyai kisaran suhu -2-30 ºC untuk dapat hidup, sedangkan bangsa anura mempunyai kisaran suhu antara 3-35,7 ºC yang dapat ditolerir untuk menunjang kehidupannya. Beberapa jenis amfibi di iklim dingin berjemur untuk menaikkan suhu tubuh agar tetap stabil (Cogger 1999). Kebanyakan amfibi nokturnal dan hanya aktif ketika kondisi lingkungannya cukup lembab untuk mengurangi dehidrasi pada tubuhnya (Cogger and Zweifel 2003). Kelembaban dibutuhkan untuk membuat kulit amfibi tidak kering karena kulit berfungsi sebagai alat pernafasan. Selain itu kulit katak bersifat permeabel dimana berungsi sebagai tempat keluar masuk air dan udara (Cogger 1999).
Amfibi hidup selalu berasosiasi dengan air (Iskandar 1998). Air dapat menjaga perubahan temperatur pada tubuhnya sehingga amfibi selalu berada dekat dengan air. Jumlah air dalam tubuh kira-kira 70-80 % dari berat tubuh amfibi (Hofrichter 2000). Ada beberapa jenis amfibi tinggal di daerah yang jauh dari air,
sehingga mereka mengembangkan berbagai strategi untuk mempertahankan kandungan air dalam tubuhnya. Cyclorana platycephalus mempunyai kandung kencing sangat besar dan dapat menyimpan air sampai separuh berat badannya, hal ini dilakukan untuk menyimpan cadangan air pada musim kemarau (van Hoeve 1992).
Amfibi dewasa bernafas menggunakan paru-paru, sedangkan pada amfibi muda (saat baru menetas disebut sebagai berudu) umumnya bernafas dengan insang. Pada saat metamorfosis, terjadi perubahan dari segi morfologis dimana bentuk serupa ikan pada berudu yang bernafas dengan insang ini berubah menjadi vertebrata bertungkai yang bernafas dengan paru-paru. Air sangat dibutuhkan oleh amfibi pada saat fase berudu. Menurut Mistar (2003) fase berudu merupakan bagian dari proses evolusi amfibi yang paling kompleks, dan apabila gagal dalam fase ini maka selamanya tidak akan pernah menjadi katak/ kodok
Untuk mempertahankan diri dari pemangsa dan penyakit, amfibi mempunyai berbagai bentuk mekanisme pertahanan diri. Menurut Kusrini (2009) mekanisme pertahanan diri tersebut antara lain pewarnaan pada warna kulit amfibi. Pewarnaan berfungsi sebagai kamufalse atau memperingatkan predator bahwa amfibi tersebut beracun/ berbahaya. Beberapa jenis amfibi yang tidak berbahaya kadang-kadang mempunyai warna yang serupa dengan amfibi berbahaya, hal tersebut digunakan untuk mengelabuhi predator mereka. Bentuk dan warna amfibi yang menyerupai lingkungan sekitar juga digunakan amfibi untuk menyulitkan predator memangsa mereka, seperti yang dilakukan oleh katak terestrial yang hidup di lantai hutan biasanya mempunyai bentuk yang mirip dengan serasah (Duellman and Trueb 1994). Amfibi mempunyai kulit yang tetap lembab yang berfungsi untuk mencegah masuknya bakteri atau patogen lainnya. Beberapa jenis katak mempunyai kelenjar beracun, racun tersebut berwarna susu atau bening akan dikeluarkan oleh katak jika mengalami gangguan/ ancaman (van Hoeve 1992). Penelitian yang dilakukan oleh Daly et al. (2004) di Thailand, beberapa jenis amfibi dari bangsa anura mempunyai zat bioaktif pada kulitnya yang berfungsi sebagai racun. Amfibi juga mempunyai mekanisme pertahanan diri dengan cara menggigit, terdapat beberapa jenis katak yang menggigit jika dipegang seperti Asterophrys turpicola dari Niugini, Ceratobatrachus guantheri
dari Solomon serta marga Hemipharactus dan Ceretophrys dari Amerika (Iskandar 1998).
Amfibi hidup pada daerah yang dekat dengan air. Tetapi ada beberapa jenis yang hidup pada daerah yang jauh dari air seperti pada amfibi terestrial dan katak pohon (Iskandar 1998). Amfibi mempunyai habitat yang bervariasi mulai dari habitat sawah, rawa dan kolam (Fitri 2002), sedangkan menurut Iskandar (1998) habitat amfibi bervariasi mulai di sawah, rawa, sekitar sungai di dataran rendah sampai tinggi, bahkan di pundak pohon di hutan-hutan pegunungan. Hampir 5,000 jenis amfibi di dunia tergantung pada hutan sebagai tempat hidupnya. Habitat terestrial lain tidak begitu disukai oleh amfibi khususnya tempat yang kering, seperti padang rumput dan gurun (IUCN 2008).
Beberapa jenis amfibi merupakan jenis-jenis yang mempunyai habitat/ hanya dapat hidup pada daerah yang spesifik (mikrohabitat) yang masih alami amfibi seperti ini disebut amfibi spesialis. Contoh dari amfibi spesialis ini yaitu kongkang jeram (Huia massonii) yang hanya hidup pada daerah yang masih alami dimana hidup didaerah yang beraliran deras dan mempunyai air yang jernih. Beberapa jenis lagi merupakan amfibi yang dapat hidup dalam tekanan/ dekat lingkungan yang tercemar/ dekat dengan hunian manusia. Jenis ini merupakan jenis-jenis amfibi yang semakin banyak seiring dengan meningkatnya populasi manusia dimana dalam hidupnya jenis-jenis ini mampu bertahan atau bahkan dapat hidup baik dengan kondisi lingkungan yang sudah tidak alami. Jenis-jenis amibi ini umumnya merupakan jenis yang umum dijumpai atau disebut sebagai amfibi generalis. Contoh dari amfibi generalis yaitu kodok buduk (Bufo melanostictus) dan kongkang kolam (Rana chalconota).
Menurut Mistar (2003), secara umum menurut tipe habitat dan kebiasaan hidupnya amfibi terbagi menjadi empat kelompok yaitu:
1) Terestrial - hidup diatas permukaan tanah, diantaranya Megophrys nasuta, Megophrys montana, Megophrys aceras, Bufo quadriporcatus, Bufo parvus, Pedostibes hosii, Kalophrynus pleurostigma, Kalophrynus punctatus
2) Arboreal - kelompok yang hidup diatas pohon diwakili oleh famili Rhacophoridae, dua spesies famili Microhylidae dan satu spesies katak puru pohon Pedostibes hosii
3) Akuatik - amfibi yang sepanjang hidupnya selalu terdapat di sekitar sungai atau air diantaranya Bufo asper, Bufo juxtasper, Occidozyga sumatrana, Rana kampeni, Rana signata, Limnonectes spp.
4) Fossorial - kelompok yang hidup di dalam lubang-lubang tanah diwakili oleh famili Microhylidae
Menurut penelitian van Kampen pada tahun 1923, di Pulau Sumatera tercatat 61 jenis amfibi. Tetapi seiring banyaknya survei, di temukan banyak jenis baru di Sumatera, seperti penelitian Inger and Iskandar (2005) yang menemukan jenis baru di Sumatera Barat yaitu Megophrys parallela. Publikasi terbaru menunjukkan bahwa Pulau Sumatera mempunyai 85 jenis amfibi dan 23 jenis diantaranya merupakan endemik (Inger 2005). Sedangkan amfibi yang ditemukan di Sumatera terdiri atas Ichtyophidae, Bufonidae, Megophryidae, Microhylidae, Ranidae, Rhacophoridae (Iskandar and Colijn 2000).
Mistar (2003) mencatat 69 jenis amfibi di kawasan ekosistem Leuser. Sementara Darmawan (2008) melakukan penelitian di Eks-HPH PT Rimba Karya Indah Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi dan menemukan 37 jenis amfibi dari 5 famili yang terdiri dari Bufonidae, Megophrydae, Microhylidae, Ranidae dan Rhacophoridae. Jumlah jenis yang ditemukan tergantung dari luasan wilayah yang diteliti dan usaha pencarian. Sebagai contoh, HIMAKOVA (2004) menemukan 13 jenis amfibi dari Ordo Anura di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, sedangkan di lokasi yang sama Ul-Hasanah (2006) menemukan 44 jenis amfibi yang terdiri dari Bufonidae, Megophryidae, Microhylidae, Ranidae dan Rhacophoridae. Di Taman Nasional Kerinci Seblat penelitian intensif yang dilakukan oleh Kurniati (2007) menemukan 70 jenis amfibi, Sudrajat (2001) menemukan 25 jenis amfibi dari Ordo Anura di Musi Banyuasin, Lahat dan Musi Rawas Sumatera Selatan. Widyananto (2009) melakukan penelitian di kawasan Siberut Conservation Program dan menemukan 14 jenis amfibi. HIMAKOVA (2006) menemukan 18 jenis amfibi dari Ordo Anura di Taman Nasional Way Kambas.
2.1.2. Reptil
Reptil mempunyai berbagai macam bentuk, ukuran dan strategi yang mengesankan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, seperti kura-kura dengan tubuhnya yang diselimuti cangkang, ular dengan dengan tubuhnya yang panjang dan berkelok-kelok, gerakan lincah dari kadal dan tubuh yang besar dari buaya (Cogger and Zweifel 2003). Reptil adalah satwa ektotermal, yaitu mereka memerlukan sumber panas eksternal untuk melakukan kegiatan metabolismenya (Cogger and Zweifel 2003). Pada saat kondisi lingkungan panas, reptil khususnya kadal memperoleh panas dengan cara berjemur dibawah sinar matahari atau berpindah ke tempat yang panas dengan cara mengekspose sebagian besar tubuhnya sehingga memperoleh panas dengan optimal. Sedangkan pada saat kondisi lingkungan dingin, kadal hanya mengekspose sebagian kecil tubuhnya untuk menyimpan panas (Cogger 1999). Sebagian besar kadal mengatur suhu tubuhnya dengan cara mengubah warna tubuhnya. Pada waktu pagi hari dan sore hari, kulit dari kadal berwarna lebih gelap sehingga dapat menyerap panas dari sinar matahari secara optimal dan pada waktu tubuhnya telah panas, maka warna kulitnya berubah menjadi lebih terang. Beberapa jenis kadal dan ular di daerah tropis aktif pada malam hari karena suhu pada waktu malam hari lebih stabil (Cogger 1999). Berbeda dengan semua reptilia lain, yang baru aktif benar pada suhu antara 20oC dan 40oC, tuatara terasa nyaman pada suhu 12oC (van Hoeve 1992).
Menggigit merupakan perilaku paling umum dijumpai dari reptil untuk mempertahankan diri dari gangguan. Tetapi terdapat berbagai strategi yang digunakan reptil seperti ular dari famili elapidae dan viperidae memproduksi racun untuk mempertahankan diri. Beberapa jenis kadal memipihkan, mengembangkan dan meninggikan tubuhnya untuk membuat meraka kelihatan menjadi lebih besar. Beberapa jenis ular dan bunglon menyamarkan diri menyerupai dengan lingkungan sekitarnya (Cogger and Zweifel 2003).
Reptil hampir ditemukan di seluruh dunia sampai ketinggian lebih dari 4.500 meter diatas permukaan laut. Mereka tersebar di semua benua kecuali Antartika, bahkan beberapa reptil ditemukan pada pulau yang terpencil. Mereka hidup di hutan hujan, hutan tanaman, savana, padang rumput, gurun, dan semak
belukar (Cogger and Zweifel 2003). Reptil jika dibagi berdasarkan habitatnya, menurut Cogger and Zweifel (2003) terdiri dari reptil terstrial, reptil arboreal, reptil subterranean, reptil akuatik, dan reptil di pulau terpencil. Kebanyakan jenis reptil dijumpai pada daerah tropis dan sub tropis. Di daerah beriklim sedang, reptilia melaksanakan hibernasi selama musim salju. Ini terpaksa dilakukannya karena tak mampu mengatur suhu badannya sendiri. Lagi pula, selama musim itu tidak tersedia makanan. Pada musim semi, reptilia muncul kembali dan segera mulai musim kawin (van Hoeve 1992).
Penyu hidup di laut daerah temperate dan tropis, sedangkan kura-kura air tawar hidup air tawar seperti kolam, danau, sungai besar maupun anak sungai. Tuatara hidup di hutan dataran rendah dan semak belukar, biasa ditemukan bersembunyi di lantai hutan. Semua buaya hidup secara semiakuatik dan tidak pernah jauh dari air. Kebanyakan buaya hidup di air tawar tetapi beberapa spesies yang hidup di daerah yang mempunyai salinitas tinggi seperti di rawa dan muara. Kadal dapat ditemukan diberbagai tipe habitat. Beberapa hidup di daerah temperate, beberapa hidup di daerah sangat panas dan sangat dingin. Amphisbaenia menghabiskan waktunya di bawah tanah. Mereka lebih memilih daerah yang lembab sebagai tempat tinggalnya. Ular tersebar hampir di seluruh dunia kecuali daerah yang sangat dingin (Cogger 1999).
Penelitian tentang reptil di Sumatera berkembang bersamaan dengan penelitian amfibi di Sumatera karena biasanya penelitian reptil selalu dilakukan bersamaan dengan penelitian amfibi. Beberapa contoh penelitian keanekaragaman reptil yang ada di Sumatera antara lain penelitian di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dilakukan oleh HIMAKOVA (2004) dan menemukan 13 jenis reptil sedangkan (Endarwin 2006) melakukan peneltian yang lebih luas pada kawasan yang sama dan menemukan 51 jenis reptil. Pada kawasan Musi Banyuasin, Lahat dan Musi Rawas Sumatera Selatan, terdapat 27 jenis reptil (Sudrajat 2001). Di Taman Nasional Kerinci Seblat penelitian intensif yang dilakukan oleh Kurniati (2007) menemukan 38 jenis reptil. HIMAKOVA (2006), menemukan 13 jenis reptil di Taman Nasional Way Kambas. Pada kawasan Siberut Conservation Program ditemukan 26 jenis reptil (Widyananto 2009),
Yusuf (2006) melakukan penelitian di di Eks-HPH PT Rimba Karya Indah Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi dan menemukan 31 jenis reptil.
2.2. Edge (Daerah Peralihan) dan Core (Daerah Inti)
Odum (1993) mendefinisikan daerah peralihan sebagai peralihan antara dua atau lebih komunitas yang berbeda. Sedangkan menurut Forman (1981) daerah peralihan berarti bagian dari suatu ekosistem yang berdekatan dengan garis kelilingnya (perimeter) dimana pengaruh-pengaruh dari patches yang berdekatan dapat menyebabkan perbedaan lingkungan antara daerah inti suatu patch dengan tepinya. Efek tepi (edge effect) ini meliputi perbedaan komposisi spesies atau kelimpahan di bagian luar patch. Komunitas daerah peralihan biasanya banyak mengandung organisme dari masing-masing komunitas yang saling tumpang tindih dan sebagai tambahan organisme-organisme yang khas dan sering kali terbatas hanya pada daerah peralihan. Sering kali, jumlah jenis dan kepadatan populasi dari beberapa jenis lebih besar di daerah peralihan daripada di komunitas yang mengapitnya. Kecenderungn untuk meningkatnya keanekaragaman dan kepadatan pada pertemuan komunitas dikenal sebagai pengaruh tepi (edge effect) (Odum 1993). Di dalam lanskap yang kontinyu, seperti suatu hutan ke daerah berkayu yang terbuka, lokasi daerah peralihan pastinya kabur dan kadang-kadang dibedakan oleh gradien lokal melalui suatu ambang batas, seperti halnya suatu titik dimana penutupan pohon menurun di bawah 35 persen (Turner et al. 2001)
Bentuk, luas dan konfigurasi spasial daerah peralihan mempengaruhi proses ekosistem pada daerah peralihan. Daerah peralihan yang sempit akan mempunyai tingkat biodiversity yang rendah. Matriks yang terfragmentasi, akan menimbulkan banyak daerah peralihan. Fragmentasi adalah proses perubahan dari matriks homogen yang kompak, menjadi matriks heterogen yang terpecah-pecah. Kondisi matriks yang terpecah ini akan berbeda dengan matriks awal dalam hal: (a) matriks yang terfragmen akan mempunyai area daerah peralihan yang lebih luas (b) jarak pusat matriks dengan daerah peralihan menjadi lebih dekat (c) daerah inti menjadi lebih sempit. Perbedaan inilah yang menyebabkan perbedaan komposisi atau biodiversitasnya (Prasetyo 2007).
Ukuran dan bentuk patch beragam, ada yang membulat (isodiametric) dan memanjang (elongated). Isodiametric patch memiliki areal daerah inti yang lebih besar daripada daerah peralihannya, sebaliknya elongated patch memiliki daerah peralihan area yang lebih luas. Dengan kata lain isodiametric patch menampung fauna interior lebih banyak dari elongated patch. Sebaliknya elongated patch akan memiliki keunggulan dari keanekaragaman spesies interiornya. Untuk mengukur bentuk patch ini, biasanya digunakan perhitungan interior-to-edge-ratio. Semakin besar nilai perhitungan interior-to-edge-ratio nya maka bentuk patch tersebut semakin mendekati lingkaran/ membulat (Farina 2000). Gambar 1, memberikan gambaran daerah inti dan daerah peralihan.
Gambar 1 Daerah inti dan daerah peralihan berdasarkan ukuran bentuk patch.
Menurut Sisk et al. 1997, terdapat tiga kategori respon fauna terhadap daerah peralihan yaitu meningkat kelimpahannya (b), beberapa menurun (c) dan beberapa secara relatif tidak terpengaruh (a) (Gambar 2).
Small Intermediete Large
Isodiametric Elongated Narrow Elongated
Patch Edge Patch
Interior Size
Gambar 2 Berbagai respon jenis terhadap daerah peralihan.
2.3. Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Georafis serta Aplikasinya Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau fenomena yang dikaji (Lillesand and Kiefer 1990). Menurut Lo (1996), penginderaan jauh merupakan suatu teknik untuk mengumpulkan informasi mengenai objek dan lingkungannya dari jarak jauh tanpa sentuhan fisik. Prahasta (2008) mengemukakan remote sensing sebagai ilmu (dan seni) dalam mendapatkan informasi objek, luasan (area), atau bahkan suatu fenomena alamiah melalui suatu analisis terhadap data yang diperoleh dari perangkat (sensor dan platform) tanpa kontak (menyentuh) langsung.
Sedangkan menurut Soenarmo (2003), penginderaan jauh secara umum didefinisikan ilmu, teknik, seni untuk memperoleh informasi atau data mengenai kondisi fisik suatu benda atau objek, target, sasaran maupun daerah dan fenomena tanpa menyentuh atau kontak langsung dengan benda atau target tersebut. Sensor yang digunakan adalah sensor jauh yaitu sensor yang secara fisik berada jauh dari benda atau obyek tersebut. Untuk itu digunakan sistem pemancar (transmitter)
Daerah 1 DP Daerah 2 a).Edge Neutral c). Edge Avoider Daerah 1 DP Daerah 2 b). Edge Exploiter Daerah 1 DP Daerah 2
dan penerima (receiver). Ilmu disini menggambarkan ilmu atau sains yang diperlukan baik dalam konsep, perolehan data maupun pengelolaan dan analisis, untuk mendapatkan teknik pelaksanaan pengambilan data yang tepat dan baik serta sesuai dengan tujuan perolehan data. Sedangkan teknik, menunjukkan bahwa teknologi INDERAJA memerlukan kemampuan merancang bangun untuk semua peralatan yang menyaing baik wahana, sensor, sistem sensor, stasiun di bumi maupun sistem penerimaan data dan pengolahannya. Karena data yang diperoleh pada umumnya berbentuk keruangan atau spasial, maka dalam pengolahannya memerlukan seni tampilan yang serasi, menarik dan mudah dimengerti (Soenarmo 2003).
Sistem Informasi Georafis atau Georaphic Information Sistem (GIS) merupakan suatu sistem informasi yang berbasis komputer, dirancang untuk bekerja dengan menggunakan data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Sistem ini menyimpan, mengecek, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisa, dan menampilkan data yang secara spasial mereferensikan kepada kondisi bumi (Aini 2007).
SIG adalah sistem komputer yang dapat merekam, menyimpan dan menganalisis suatu informasi tentang keadaan rupa bumi. Dengan menggabungkan data-data yang berhubungan dengan spesies ke dalam SIG, maka hasil itu dapat ditampilkan. Pada dasarnya, sistem informasi geografis adalah suatu sistem terdiri dari komponen-komponen yang saling terkait (berhubungan) dalam mencapai suatu sasaran, berdasarkan informasi (data, fakta, kondisi, fenomena) berbasis geografis (daerah, spasial, keruangan) yang dapat dicek posisinya di permukaan bumi (bergeoreferensi). Kedua jenis data, baik spasial maupun tabular/ tekstual disimpan dalam suatu sistem yang dikenal dengan basis data SIG. Sistem basis data ini merupakan komponen utama yang harus tersedia dalam SI, disamping komponen lain seperti komputer, sumberdaya manusia dan organisasi atau wadah pengelolaan yang mengendalikan penggunaan SIG (Soenarmo 2003). SIG merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa subsistem yaitu subsistem masukan data, subsistem proses subsistem keluaran data dimana data tersebut secara spasial terkait dengan muka bumi (Atmawijadja 1996). Data yang menjadi masukan data meliputi data inderaja maupun peta serta
data statistik. Secara umum data ini terdiri dari data titik, garis dan polygon. Sub sistem kedua adalah proses yang meliputi manipulasi, analisa, dan pengelolaannya dimana proses tersebut sekarang dilakukan menggunakan komputer. Sedangkan keluaran data meliputi data hasil proses yang dilakukan dapat berupa peta-peta modeling maupun pemantauan serta deskripsi peta-peta tersebut sehingga dapat digunakan untuk kegiatan evaluasi sumberdaya alam untuk pengambilan keputusan.
Tujuan utama penginderaan jauh adalah mengumpulkan data sumberdaya alam dan lingkungan. Penginderaan jauh diaplikasikan guna mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk mengartikan berbagai macam komponen lingkungan kita yang lebih baik. Penginderaan jauh terutama berperan penting sebagai alat dalam survei inventarisasi dan pemetaan pada kenampakan lingkungan (Lo 1996). Bidang-bidang ilmu yang biasanya memanfaatkan penginderaan jauh adalah meteorologi, klimatologi, oseanografi, studi pantai, sumberdaya air, teknik sipil, tata guna lahan, bencana alam, geologi, arkeologi dan antropologi serta kartografi (Soenarmo 2003). Sedangkan menurut Jensen (2000) remote sensing dapat diaplikasikan pada bidang ilmu geografi, taksonomi tanah, biogeografi, geologi, hidrologi, perencanaan kota, pertanian, kelautan dan kehutanan. Sedangkan dalam bidang ekologi, Odum (1993) menyatakan bahwa teknik penginderaan jarak jauh dapat diaplikasikan ke dalam empat kategori yaitu: 1. Inventarisasi dan pemetaan sumberdaya
2. Mengubah data lingkungan menjadi data kuantitatif 3. Mencandra aliran materi dan energi dalam ekosistem
4. Mengevaluasi perubahan yang terjadi serta penyelesaian alternatif untuk mengelola lingkungan.
Menurut Prahasta (2002), aplikasi SIG antara lain dapat digunakan dalam aspek sumberdaya alam, perencanaan, kependudukan, lingkungan dan pertahanan. Pada aspek sumberdaya alam, SIG digunakan dalam kegiatan inventarisasi, manajemen, serta analisis kesesuaian lahan untuk pertanian, kehutanan, perencanaan tata guna lahan, analisis daerah rawan banjir, dan lain sebagainya.
Penggunaan SIG untuk aplikasi konservasi satwa liar sudah mulai banyak dilakukan di Indonesia beberapa diantaranya seperti pemodelan spasial kesesuaian
habitat harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) (Rudiansyah 2007), pemetaan kesesuaian habitat banteng (Bos javanicus) (Destriana 2008) dan penggunaan ruang habitat oleh badak jawa (Rhinoceros sundaicus) (Muntasib 2002). Aplikasi SIG untuk herpetofauna di Indonesia belum banyak dilakukan, beberapa diantaranya yaitu Lubis (2006) tentang pemodelan spasial habitat katak pohon jawa (Rhacophorus javanus), Husna (2006) tentang sebaran spasial dan keanekaragaman ular di berbagai tipe penggunaan dan Purbatrapsila (2009) tentang studi keanekaragaman jenis dan sebaran spasial ular pada beberapa tipe habitat.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Lokasi
Penelitian dilaksanakan di kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan untuk kegiatan pengamatan dan pengambilan data (Gambar 3). Untuk pengolahan dan analisis data penelitian dilaksanakan di Laboratorium Analisis Lingkungan dan Pemodelan Spasial, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan yaitu pada bulan Agustus 2009 -Januari 2010. Kegiatan pengambilan data di lapang dilakukan pada empat bulan pertama dan dua bulan selanjutnya digunakan untuk kegiatan pengolahan dan analisis data.
3.2. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini dikelompokkan berdasarkan kegunaannya (Tabel 1).
Tabel 1 Alat dan Bahan yang Digunakan dalam Penelitian
No. Kegunaan Alat dan Bahan
1. Pembuatan jalur pengamatan Meteran (50 m), GPS (Global Positioning
System), flagging tape
2. Pengambilan data satwa GPS, headlamp, baterai, jam tangan/ stopwatch, kantong spesimen, spidol permanen, field
guides (buku panduan lapang amfibi dan reptil),
kaliper, timbangan pegas, kaca pembesar 3. Pengambilan data habitat Termometer, pH meter, Dry Wet
4. Dokumentasi Kamera digital, alat tulis, tally sheet
5. Analisis data Komputer dengan perangkat lunak ArcGis 9.3, Minitab 14 dan Microsoft Office 2007, peta rupa bumi, Citra Spot 5
3.3. Jenis Data 3.3.1. Data Primer
Data primer diperoleh dari hasil pengukuran di lapangan, antara lain: 1. Data satwa: nama jenis, jumlah individu jenis, waktu ditemukan, posisi
(vertikal dan horizontal), koordinat, substrat, aktivitas, ukuran panjang dan massa tubuh.
2. Data habitat: tanggal dan waktu pengambilan data, nama lokasi, substrat/lingkungan, komposisi vegetasi, suhu udara, kelembaban udara, penutupan tajuk dan data fisik lainnya.
3.3.2. Data Sekunder
Data sekunder yang dikumpulkan, antara lain: 1. Peta tipe penutupan lahan kawasan TWNC 2. Peta batas kawasan TWNC
3. Kondisi umum lokasi penelitian
3.4. Metode Pengumpulan Data 3.4.1. Data Primer
a. Data satwa
Metode yang digunakan dalam pengambilan data satwa yaitu Visual Encounter Survey (VES) dengan desain transek (Heyer et al., 1994) pada hutan
pantai, hutan dataran rendah, kebun, daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah serta daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah. Tahapan pengambilan datanya yaitu:
1. Survei pendahuluan
Survei pendahuluan dilakukan sebelum pengambilan data. Survei dilakukan dengan cara mendeliniasi kawasan sehingga jelas perbedaan antar tipe habitat. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan karakteristik habitat di setiap lokasi penelitian sehingga mempermudah penentuan lokasi.
2. Penentuan daerah peralihan
Daerah peralihan ditentukan dengan cara mengasumsikan daerah gabungan antara dua daerah inti yang mengapitnya. Luasan daerah peralihan terdiri dari setengah daerah inti 1 dan setengah daerah inti 2. Daerah peralihan merupakan gabungan daerah pinggir dari suatu habitat yang berbatasan langsung dengan daerah pinggir habitat lainnya sehingga mempunyai pengaruh dari kedua habitat yang mengapitnya (Gambar 4).
Gambar 4 Ilustrasi penentuan daerah peralihan. Daerah I DP Daerah I DP Daerah II Daerah Peralihan Daerah II
3. Pembuatan jalur
Jalur dibuat di setiap tipe habitat dan daerah peralihan antar tipe habitat. Tipe habitat yang diamati yaitu hutan pantai, hutan dataran rendah, kebun, daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah serta daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah. Jalur pengamatan dibuat sepanjang ± 900 meter, dan menandai jalur dengan GPS dan flagging tape untuk setiap 100 meter. Jalur ditempatkan secara acak pada setiap tipe habitat. Pada setiap tipe habitat dibuat 4 jalur dan dilakukan 2 kali ulangan untuk setiap jalurnya. Pada jalur daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah, jalur dibuat memotong mulai dari hutan pantai sampai masuk ke hutan dataran rendah. Daerah peralihan pada jalur ini tidak tampak jelas, daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah ditandai oleh mulai terjadi perubahan vegetasi dari vegetasi khas hutan pantai ke vegetasi hutan dataran rendah serta mulai hilangnya substrat pasir pada hutan pantai menjadi tanah. Berdasarkan kondisi lapangan, jalur diasumsikan terbagi menjadi 3 bagian habitat yaitu habitat hutan pantai sepanjang 100 meter, habitat daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah sepanjang 100 meter dan habitat hutan dataran rendah sepanjang 700 meter (Gambar 5). Pada jalur daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah, jalur dibuat memotong mulai dari kebun sampai masuk ke hutan dataran rendah. Pada habitat ini kebun tidak langsung berbatasan langsung dengan hutan dataran rendah. Tanaman kebun tidak ditanam dekat dengan hutan dataran rendah yang mempunyai pohon dengan tajuk yang besar dan rapat. Terdapat ruang kosong yang cukup lebar bekas bukaan untuk kebun yang tidak ditanami oleh tanaman yang memisahkan daerah antara kebun dan hutan dataran rendah sehingga daerah peralihan yang ada jelas terlihat. Jalur ini diasumsikan terbagi menjadi 3 bagian habitat yaitu habitat kebun sepanjang 400 meter, habitat daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah sepanjang 200 meter dan habitat hutan dataran rendah sepanjang 300 meter (Gambar 4). Sedangkan untuk jalur hutan pantai, kebun dan hutan dataran rendah dibuat total semuanya pada masing-masing habitat tersebut sepanjang 900 meter (Gambar 4).
Keterangan DP HP-HDR HP HDR 700 m 100 m 100 m
: Jalur daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah
DP
KB-HDR HDR
KB
400 m 200 m 300 m
: Jalur daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah : Jalur hutan pantai
HP 900 m
: Jalur hutan dataran rendah HDR
900 m : Jalur kebun
KB 900 m
Gambar 5 Ilustrasi jalur pengamatan herpetofauna.
4. Pengumpulan data satwa
Pengumpulan data satwa dilakukan pada tanggal 15 Agustus 2009 – 13 November 2009. Penangkapan dan pengumpulan sampel dilakukan dengan mendatangi jalur pengamatan pada siang dan malam hari selama dua kali ulangan untuk setiap jalur. Pengamatan siang hari dilakukan pada pukul ±09.00-12.00 WIB sedangkan pengamatan malam hari dilakukan pada pukul ±20.00-23.00 WIB. Pengamatan dimulai pada titik nol pada jalur dan difokuskan pada tempat-tempat yang diperkirakan menjadi sarang atau tempat-tempat persembunyian herpetofauna, seperti ranting pohon, di bawah kayu lapuk, diantara akar-akar pohon, di celah-celah batu, di lubang dalam tanah, di bawah tumpukan serasah, atau di tepi sungai. Pengamatan dilakukan dengan jumlah pengamat sebanyak 2 orang. Berikut merupakan rincian waktu pengambilan data satwa selama penelitian (Tabel 2).
Tabel 2 Rincian Waktu Pengambilan Data Satwa pada Jalur Penelitian
Bulan Tanggal Jalur
Usaha Pencarian (Jam/Orang) Siang Malam Total Agustus 15 H Pantai-H Dataran Rendah (Sekawat I) 3 3 6
17 H Pantai (Sekawat) 3 3.3 6.3
18 H Pantai-H Dataran Rendah (Sekawat II) 2.8 3.2 6
21 Kebun-H Dataran Rendah (Tj Mas I) 3 3 6
23 Kebun-H Dataran Rendah (Tj Mas II) 2.5 2.7 5.2
30 H Pantai (Seyleman) 2.3 2.8 5.1
September 6 Kebun (Pulau-Pulau I) 2.5 2.7 5.2
7 Kebun (Pulau-Pulau II) 3 3.2 6.2
Oktober 13 H Pantai-H Dataran Rendah (Blambangan I) 2.7 3 5.7
15 H Pantai (Blambangan) 2.5 2.8 5.3
16 H Pantai-H Dataran Rendah (Blambangan II) 3 3 6 23 H Dataran Rendah (Duku Satu I) 2.3 2.8 5.1 25 H Dataran Rendah (Duku Satu II) 3 3.2 6.2
27 H Dataran Rendah (Way Seyleman I) 3 3 6
28 H Dataran Rendah (Way Seyleman II) 2.8 3.2 6
November 3 Kebun (Penangkaran) 2 3 5
4 Kebun-H Dataran Rendah (Penangkaran II) 3 3 6 5 Kebun-H Dataran Rendah (Penangkaran II) 3 3 6
7 Kebun (Pengekahan) 2.7 2.8 5.5
13 H Pantai (Belimbing) 2.7 2.8 5.5
Total 54.8 59.5 114.3
Setiap individu yang tertangkap pada jalur pengamatan dimasukan ke dalam kantong dan dicatat datanya Jenis herpetofauna yang ditemukan diluar jalur dan waktu pengamatan juga tetap dicatat datanya. Data yang dicatat meliputi
jenis, koordinat, waktu ditemukan, aktivitas, posisi horizontal dan vertikal, subtrat. Herpetofauna yang berhasil dikumpulkan,dibawa untuk diukur panjang dan massa tubuhnya lalu diidentifikasi. Identifikasi satwa dilakukan dengan menggunakan buku Kura-kura dan Buaya Indonesia dan Papua Nugini (Iskandar 2000), Panduan Lapang Amfibi Kawasan Ekosistem Leuser (Mistar 2003), Amfibi Jawa dan Bali (Iskandar 1998), A Photographic Guide to Snakes and Other Reptiles of Peninsular Malaysia, Singapore and Thailand (Cox et al. 1998), Snakes of Malaya (Tweedie 1983) dan The Reptiles of the Indo-Australian Archipelago (d’Rooij 1915).
b. Data habitat
Komponen habitat yang yang diamati meliputi suhu udara, kelembaban udara, substrat, komposisi vegetasi dan penutupan tajuk. Suhu udara dan kelembaban udara dicatat sebelum dan sesudah pengamatan pada jalur pengamatan. Sedangkan substrat, komposisi vegetasi dan penutupan tajuk dicatat pada siang hari setelah melakukan pengamatan pada siang hari.
3.4.2. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dengan cara studi pustaka dan wawancara dengan pengelola dan masyarakat yang dijumpai di kawasan tentang kondisi umum lokasi penelitian. Sedangkan untuk peta penutupan lahan didapatkan dari hasil proses gabungan antara delineasi lapang dan pengolahan Citra Spot 5.
3.5. Analisis Data
3.5.1. Analisis Data Satwa 1. Kekayaan Jenis
Untuk menduga besarnya kekayaan jenis total pada seluruh habitat di lokasi penelitian digunakan Indeks Kekayaan Jenis Jackknife (Krebs 1985). Persamaan indeks ini yaitu:
Keterangan :
S : Indeks kekayaan jenis Jackknife s : Total jumlah jenis yang teramati
n : Banyaknya unit contoh
k : Jumlah jenis yang unik (yang hanya ditemukan pada satu unit contoh)
Adapun keragamaman dari nilai dugaan (S) tersebut dihitung dengan persamaan berikut :
Keterangan :
var (S) : Keragaman dugaan Jackknife untuk kekayaan jenis
f j : Jumlah unit contoh di mana ditemukan jenis unik ( j = 1, 2, 3,…..s) k : Jumlah jenis unik
n : Jumlah total unit contoh
dengan demikian, maka penduga selang bagi indeks kekayaan jenis Jackknife adalah sebagai berikut :
di mana tα diperoleh dari tabel t-student dengan nilai derajat bebas = n-1
2. Keanekaragaman Jenis
Jenis yang ditemukan ditentukan Indeks Keanekaragaman Jenis dengan menggunakan Indeks Shannon-Wiener (Odum 1994):
Keterangan :
H’ : Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener ni : Jumlah individu jenis ke-i
N : Jumlah individu seluruh jenis dengan kriteria :
H’ < 1 : Menunjukan tingkat keanekaragaman jenis yang rendah 1 < H’ < 3 : Menunjukan tingkat keanekaragaman jenis yang sedang H’ > 3 : Menunjukan tingkat keanekaragaman jenis yang tinggi
3. Kesamaan Jenis
Indeks kesamaan jenis digunakan untuk mengetahui kesamaan komunitas antar lokasi pengamatan berdasarkan tipe habitat. Kesamaan lokasi pengamatan dianalisis dengan menggunakan Ward’s Linkage Clustering dalam program Minitab 14.
4. Uji Statistik
Uji-t digunakan untuk mengetahui apakah keanekaragaman jenis amfibi dan reptil antara daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah, daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah, hutan pantai, hutan dataran rendah dan kebun berbeda pada tingkat kepercayaan 95% dengan menggunakan keputusan hipotesa:
H0 : tidak ada perbedaan keanekaragaman jenis amfibi maupun reptil pada habitat 1 dan habitat 2.
H1 : ada perbedaan keanekaragaman jenis amfibi maupun reptil pada habitat 1 dan habitat 2.
Jika t hitung < t tabel, maka terima H0
Jika t hitung > t tabel, maka tolak H0 dan terima H1, dengan: Perhitungan digunakan Software Minitab 14.
3.5.2. Analisis Data Habitat
Data habitat yang telah dikumpulkan dianalisis secara deskriptif berdasarkan kondisi lokasi sampel amfibi dan reptil yang ditemukan di lapangan
3.6. Diagram Alur Pembuatan Peta Distribusi Herpetofauna
Langkah-langkah pembuatan peta sebaran herpetofauna di lokasi penelitian disajikan pada Gambar 5.
Gambar 6 Diagram alur penelitian. Pembuatan Jalur
pengamatan Herpetofauna Inventarisasi
Peta Distribusi herpetofauna di TWNC
Peta Penutupan Lahan TWNC
4.1.Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) meliputi areal seluas ± 365.000 hektar yang membentang dari ujung selatan bagian barat Provinsi Lampung sampai bagian selatan Provinsi Bengkulu yang secara geografis terletak pada 4o29’-5o57’ LS dan 103o24’-104o44’BT. Kawasan TNBBS terletak di ujung Selatan dari rangkaian pegunungan Bukit Barisan, sehingga memiliki topografi yang cukup bervariasi yaitu mulai datar, landai, bergelombang, berbukit-bukit curam dan bergunung-gunung dengan ketinggian berkisar antara 0-1964 mdpl. Lereng timurnya cukup curam sedangkan lereng barat ke arah Samudera Hindia agak landai. Daerah berdataran rendah (0-600 mdpl) dan berbukit (600-1.000 mdpl) terletak di bagian selatan taman nasional sementara daerah pegunungan (1.000-2.000 mdpl) terletak di bagian tengah dan utara taman nasional. Keadaan lapangan bagian utara bergelombang sampai berbukit-bukit dengan kemiringan bervariasi antara 20-80%. Bagian selatan merupakan daerah yang datar dengan beberapa bukit yang agak tinggi dan landai dimana makin ke selatan makin datar dengan kemiringan berkisar antara 3-5% (Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam 2004)
Kawasan TNBBS merupakan kawasan yang dapat menghasilkan keseimbangan iklim. Pengaruh rantai pegunungan Bukit Barisan Selatan mengakibatkan kawasan ini memiliki dua tipe iklim (tipe iklim A di sisi barat taman nasional dan tipe iklim B yang lebih kering di sisi timur taman nasional). Di bagian barat taman nasional curah hujannya cukup tinggi, yaitu berkisar antara 3.000-3.500 mm per tahun dan bagian timur taman nasional berkisar antara 2.500-3.000 mm per tahun. Musim hujan berlangsung dari bulan Novemper sampai Mei. Musim kemarau dari bulan Juni sampai Agustus. Bulan agak kering adalah September sampai Oktober. Jumlah hari hujan di musim penghujan rata-rata tiap bulannya 10-16 hari dan dimusim kemarau 4-8 hari. Keadaan angin musim hujan lebih besar dari musim kemarau dan taman nasional mempunyai kelembaban
udara antara 80% sampai 90% dan temperatur berkisar antara 20ºC-28ºC (Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam 2004)
Secara umum di TNBBS telah teridentifikasi 514 jenis pohon dan tumbuhan bawah dengan jenis dominan dari famili Dipterocarpaceae, Euphorbiaceae, Lauraceae, Myrtaceae, Fagaceae, Annonaceae, dan Meliaceae. Terdapat sedikitnya 15 jenis bambu dari 5 marga, yaitu Bambussa, Dendrocalamus, Dinochloa, Gigantochloa, dan Schizatochyum, 26 jenis rotan serta 126 jenis anggrek dari 59 genus yang beberapa diantaranya telah dibudidayakan, diantaranya anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis), anggrek kalung (Coelogyne dayana), dan anggrek merpati (Dendrobium crumenatum). Selain itu terdapat 11 flora endemik Sumatera yaitu Baccaurea multiflora, Madhuca magnifolia, Memecylon multiflorum, Drypetes subsymetrica, Drypetes simalurensis, Ryparosa multinervosa dan lain-lain (Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam 2004).
Fauna yang telah teridentifikasi sedikitnya 90 jenis mamalia termasuk 7 jenis primata, 322 jenis burung termasuk 9 jenis rangkong, 51 jenis ikan dan 52 jenis herpetofauna hidup di kawasan ini. Mamalia antara lain badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), harimau sumatera (Panthera tigris sumatrensis), ajag (cuon alpinus), gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), rusa sambar (Cervus unicolor), kancil (Tragulus javanicus), kerbau (Bubalus bubalis), tapir (Tapirus indicus), beruang madu (Helarctos malayanus), ungko (Hylobates agilis), siamang (H. syndactylus), simpai (Presbytis melalophos fuscamurina), cecah (Presbytis melalophos), tarsius (Tarsius bancanus), dan kalong (Pteropus vampyrus) (Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam 2004). Menurut Kartika (2008) terdapat 19 jenis kelelawar dari 5 famili yang dijumpai di kawasan TNBBS. Sedangkan jenis burung antara lain kuau kerdil (Polyplectron chalcurum), pitta raksasa (Pitta caeurella), dan juga terdapat jenis burung yang dilaporkan tidak pernah ditemukan lagi sejak tahun 1916 dan saat ini dijumpai di TNBBS, yaitu jenis tokthor sunda (Carpococyx viridis) (Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam 2004).
4.2. Tambling Wildlife Nature Conservation
Kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) yang dikenal dengan nama Tambling merupakan wilayah bagian dari kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Kawasan ini mempunyai luas ± 45.000 hektar dari luas lahan TNBBS yang sekitar adalah ± 356.800 hektar. Pengelolaan kawasan wisata Tambling mulanya dilaksanakan oleh PT Sac Nusantara di atas lahan seluas 100 hektar sesuai dengan SK Menteri Kehutanan Nomor: 415/Kpts-II/1992. Kawasan wisata Tambling kini dikelola oleh PT Adhiniaga Kreasi Nusa (Artha Group) melalui kerja sama operasional (KSO) dengan menjadikan kawasan ini sebagai kawasan konservasi (Tambling Wildlife Nature Conservation 2009)
Sejak dikelola oleh Artha Group berbagai jenis hewan dilepas di kawasan ini seperti berbagai spesies burung, buaya muara, kerbau liar sampai menjangan untuk melengkapi beberapa satwa yang telah ada sejak lama. Sebagai tambahan seekor penyu sisik berukuran besar juga siap dilepas. Kawasan ini pada nantinya diharapkan menjadi kawasan konservasi yang ideal dengan beragam hewan dan tumbuhan hutan (Tambling Wildlife Nature Conservation 2009).
Kawasan ini terdiri dari ekosistem hutan pantai sampai hutan hujan dataran rendah yang relatif masih asli, yang merupakan habitat penting bagi berbagai jenis flora penyusun hutan pantai dan hutan hujan dataran rendah. Jenis-jenis satwa liar langka yang berada di kawasan ini seperti rusa (Cervus unicolor), kerbau liar (Bubalus bubalis), mentok rimba (Caerina sp.), gajah sumatera (Elephas maximus sumateranus), binatang hantu (Tarsius bancanus), tapir (Tapirus indicus), beruang (Helarctos malayanus), dan ratusan jenis burung (Tambling Wildlife Nature Conservation 2009).
Di kawasan Muara Way Sleman terdapat Pulau Endapan yang didominasi oleh jenis Nipah (Nypa fruticans) dan merupakan tempat mencari makan bagi populasi kalong yang jumlahnya ribuan ekor. Selain itu dapat dijumpai pantai pasir yang panjang dan indah habitat bagi penyu belimbing. Pantai Karang Sawang Bajau, savana Kobakan Bandeng, Way Sleman, Way Blambangan, Danau Menjukut (habitat buaya), mercusuar setinggi 70 meter yang dibangun Belanda pada tahun 1879 pada masa pemerintahan Z.M. Willem III, pusat penangkaran
rusa, dan enklave Pemekahan (habitat bagi lobster) (Tambling Wildlife Nature Conservation 2009).
4.3. Karakteristik Habitat Lokasi Peneltian
Habitat yang menjadi lokasi penelitian dibedakan menjadi dua tipe, yang pertama yaitu habitat daerah peralihan (edge) yang terdiri dari daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah serta daerah peralihan antara kebun dan hutan dataran rendah. Sedangkan yang kedua yaitu habitat inti (core area) yang terdiri dari hutan pantai, hutan dataran rendah dan kebun.
Habitat daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah yang dijadikan lokasi pengamatan terdiri dari dua lokasi yaitu Sekawat yang terdiri dari dua jalur pengamatan dan Blambangan yang juga terdiri dari dua jalur pengamatan. Pada habitat ini jalur dibuat memotong dari hutan pantai menuju hutan dataran rendah sehingga melewati daerah peralihan diantara keduanya. Daerah peralihan antara kedua habitat ini diasumsikan sebagai daerah yang terdiri dari hutan pantai yang masih mendapat pengaruh dari hutan dataran rendah dan hutan dataran rendah yang dianggap masih terpengaruh oleh hutan pantai. Daerah peralihan dari hutan pantai menuju hutan dataran rendah mempunyai substrat pasir yang mulai menghilang dan vegetasi pantai yang tergantikan dengan vegetasi hutan dataran rendah. Topografi pada hutan pantai datar dan agak miring dan bergelombang pada saat mulai memasuki hutan dataran rendah. Habitat ini mempunyai ketinggian 5-58 mdpl. Vegetasi yang ada pada habitat ini terdiri dari campuran vegetasi yang ada di hutan pantai dan vegetasi yang ada di hutan dataran rendah. Vegetasi pada hutan pantai mempunyai strata ketinggian tajuk yang hampir sama, sedangkan ketika mulai memasuki hutan dataran rendah strata tajuk mulai bervariasi. Jalur pada daerah Blambangan mempunyai penutupan tajuk yang lebih rapat serta kondisi lantai hutan yang lebih lembab dan basah dibandingkan dengan jalur pada daerah Sekawat. Berikut ini merupakan kondisi lokasi pengamatan pada daerah peralihan antara hutan pantai dan hutan dataran rendah (Gambar 7).