• Tidak ada hasil yang ditemukan

81DNPI 5 TAHUN

Dalam dokumen Buku 5 Tahun DNPI Perubahan Iklim dan Ta (Halaman 96-98)

iklim khususnya bagi kelompok masyarakat paling

terdampak seperti petani dan nelayan kecil. Studi yang dilaksanakan atas kerjasama antara DNPI dan UKAID ini mencakup kajian literatur dan diskusi kelompok terfokus dengan para pelaku industri asuransi nasional. Studi ini menyimpulkan bahwa minat industri asuransi sangat tinggi namun pengembangan skema asuransi perubahan iklim masih menghadapi kendala data ilmiah mengenai dampak perubahan iklim dan insentif dari pemerintah.

● Studi untuk menguji kemungkinan penggunaan beberapa metodologi penghitungan kebutuhan adaptasi, termasuk cost-benefit analysis, cost- effectiveness analysis, dan multi-criteria analysis. Studi tersebut difokuskan untuk mengetahui kemungkinan penggunaan beberapa metologi tersebut untuk menghitung biaya adaptasi di tingkat sub-nasional.

3. Mendorong Keterlibatan

Swasta

Pemerintah Indonesia telah menyusun Rencana Aksi Nasional Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) yang telah dikukuhkan kerangka hukumnya melalui Peraturan Presiden No 61 tahun 2011. Rencana tersebut bertujuan untuk mendukung target pengurangan emisi yang telah ditetapkan oleh Presiden RI pada tahun 2009, yaitu 26 persen dengan sumber daya sendiri dan hingga 41 persen dengan bantuan internasional pada tahun 2020 dihitung dari proyeksi business as usual. Daftar kegiatan yang diidentifikasi dalam RAN-GRK umumnya berasal dari sektor publik (kementerian pemerintah) dan belum mencakup bagaimana peran sektor swasta dalam pencapaian target tersebut. Pentingnya pihak swasta dilibatkan cukup besar, apalagi mengingat kebutuhan dana publik untuk pemenuhan kebutuhan pembangunan mendasar, masih cukup besar.

Pokja pendanaan DNPI telah melakukan upaya untuk meningkatkan pemahaman mendalam mengenai model-model pembiayaan yang memanfaatkan skema kerjasama publik dan swasta, mekanisme pasar dan kebijakan insentif. Kegiatan yang telah dilakukan antara lain:

● Serangkaian diskusi pada tahun 2011, yang difokuskan pada pertemuan tersebut difokuskan bagi kalangan pemerintah untuk meningkatkan

pemahaman mengenai skema public-private partnership dalam proyek perubahan iklim. ● Diskusi terfokus mengenai “peran sektor swasta

dalam pembiayaan aksi mitigasi dengan pendekatan pasar dan non pasar” pada tahun 2012. Hasil diskusi tersebut dan diskusi informal lainnya memberi masukan bagi DNPI dalam kegiatan- kegiatan terkait selanjutnya, termasuk pengembangan model pendanaan berbasis hasil yang melibatkan pihak swasta.

4. Model Pendanaan Berbasis

Hasil dan Swasta

Untuk mendukung kesiapan Indonesia dalam pembiayaan perubahan iklim berbasis hasil yang melibatkan sektor swasta, Pokja Pendanaan bekerjasama dengan Bank Pembangunan Jerman KfW sejak tahun 2011 mulai menjajaki pengembangan proyek percontohan “Carbon-Linked Incentive Scheme (CLS)”. Melalui skema CLS, perusahaan peserta proyek—usaha kecil dan menengah (UKM)—akan mendapatkan pinjaman lunak untuk kegiatan pengurangan emisi dan akan mendapatkan insentif atas pengurangan emisi yang telah dicatat secara terukur dan dapat diverifikasi.

Pendanaan untuk proyek percontohan tersebut di dukung oleh European Union Commission melalui Asia Investment Facility yang pada akhir 2012 menyetujui pemberian hibah untuk bantuan teknis dan insentif yang akan diberikan kepada UKM. Sementara itu, KfW akan menyediakan pinjaman lunak kepada UKM yang bersedia menjadi peserta proyek percontohan tersebut. Skema ini diharapkan akan beroperasi pada tahun 2014 dan dikelola oleh lembaga keuangan nasional yang akan diidentifikasi pada tahun 2013.

Tujuan utama CLS adalah menyiapkan infrastruktur untuk skema pembiayaan pengurangan emisi berbasis hasil yang melibatkan dunia usaha dengan kerangka pengukuran, pelaporan dan verifikasi (MRV) dan yang dikaitkan dengan target, kebijakan dan aturan pemerintah. Termasuk dalam infrastruktur tersebut adalah kesiapan lembaga finansial lokal dalam pembiayaan proyek-proyek hijau (green project financing). Hal ini penting untuk mengantisipasi trend ke depan dimana peran lembaga keuangan nasional akan meningkat dalam pengelolaan dana perubahan iklim dari sumber- sumber internasional.

5. Mendukung Perundingan

Internasional

Di tingkat internasional, dalam lima tahun terakhir, isu pendanaan perubahan iklim merupakan salah satu topik terpenting dan paling banyak mengundang perhatian dan kontroversi. Negosiasi di UNFCCC sejak COP13 di Bali (2007) menekankan bahwa salah satu aksi yang perlu ditingkatkan adalah penyediaan pendanaan dari negara maju ke negara berkembang. Di satu sisi, negara berkembang bersikeras bahwa tanpa pendanaan tersebut, aksi yang akan dilakukan di negaranya tidak dapat maksimal. Di sisi lain, sebagian besar negara maju mengalami krisis finansial yang cukup parah sehingga memberikan berbagai dalih untuk menunda komitmennya.

Dalam mendukung fungsi DNPI sebagai focal point UNFCCC dan forum internasional lain terkait perubahan iklim, Pokja Pendanaan memimpin berbagai diskusi untuk mempersiapkan Delegasi RI yang akan menegosiasikan isu pendanaan. Berbagai pertemuan koordinasi dilaksanakan untuk merumuskan posisi Indonesia. Selain itu, untuk memberikan penjelasan

kepada para pemangku kepentingan kunci di Indonesia mengenai p e r k e m b a n g a n isu-isu pendanaan yang dibahas dalam negosiasi multi lateral, Pokja Pendanaan m e m a n f a a t k a n pertemuan, media massa dan juga penerbitan buku khusus.

Kiprah internasional Indonesia dalam isu perubahan iklim tidak berhenti setelah menjadi tuan rumah COP13. Dalam isu pendanaan, delegasi dari Indonesia diminta menjadi pimpinan sidang (Co-Chair atau Co-Facilitator) yang membahas berbagai agenda pendanaan. Selama tahun 2011-2012 Sekretaris Pokja Pendanaan mendapatkan kepercayaan untuk menjadi Co-Facilitator negosiasi pendanaan di bawah Ad-Hoc Working Group on Long-term Cooperative Action (AWG-LCA) yang mengupayakan tercapainya agreed outcome untuk penyelesaian putaran perundingan pendanaan di bawah AWG-LCA. Di samping itu, selama tahun 2012-2013, Sekretaris Pokja Pendanaan diminta menjadi Co-Chair untuk persidangan Subsidiary Body for Implementation (SBI), terkait berbagai isu pendanaan. Selain pertemuan UNFCCC, juga terdapat beberapa pertemuan internasional, regional dan bilateral lain mengenai perubahan iklim dimana Pokja Pendanaan DNPI sebagai wakil pemerintah Indonesia memainkan peran penting.

Keterwakilan dan kontribusi Indonesia dalam kelembagaan pendanaan internasional juga telah diwujudkan dengan menempatkan wakil dari Indonesia sebagai anggota Board of the Green Climate Fund (GCF) sejak pertengahan 2012. GCF adalah dana multilateral baru yang dibentuk oleh UNFCCC melalui keputusan COP16 di Cancun, Meksiko pada tahun 2011. Indonesia diwakili oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan yang juga merupakan Ketua Pokja Pendanaan DNPI. Selain GCF, Pokja Pendanaan DNPI juga telah berhasil menempatkan Wakil Ketua Pokja Pendanaan sebagai anggota Executive Board dari Clean Development Mechanism, untuk periode 2013-2014. (*)

83

Dalam dokumen Buku 5 Tahun DNPI Perubahan Iklim dan Ta (Halaman 96-98)

Dokumen terkait