KETENTUAN UMUM
DOKSORUBISIN HIDROKLORIDA Doxorubicin Hydrochloride
Tambahan persyaratan
Logam berat <371> Metode IV Tidak lebih dari 10 bpj. Lakukan penetapan dengan menggunakan 2,0 g zat dan 2 ml Larutan baku timbal 10 bpj.
Perubahan
Susut pengeringan <1121> Tidak lebih dari 0,5 %;
lakukan pengeringan pada suhu 80º di atas fosfor pentoksida P pada tekanan tidak lebih dari 5 mmHg selama 2 jam, menggunakan 1 g zat.
Perubahan
Sisa pemijaran <301> Tidak lebih dari 0,2 %, lakukan penetapan menggunakan 1 g zat.
Perubahan
Senyawa sejenis Lakukan penetapan dengan cara Kromatografi lapis tipis seperti tertera pada Kromatografi <931>
Fasa gerak Campuran amonia aseton P-sikloheksana P (1:30:30).
Penjerap Campuran silika gel P GF254.
Larutan uji A Timbang saksama lebih kurang 0,20 g zat, masukkan ke dalam labu tentukur 10-ml, larutkan dan encerkan dengan metanol P sampai tanda.
Larutan uji B Pipet 1 ml Larutan uji A, masukkan ke dalam labu tentukur 10-ml, encerkan dengan metanol P sampai tanda.
Larutan baku A Timbang saksama lebih kurang 20,0 mg Disopiramida BPFI, masukkan ke dalam labu tentukur 10-ml, larutkan dan encerkan dengan metanol P sampai tanda.
Larutan baku B Pipet 0,5 ml Larutan uji B, masukkan ke dalam labu tentukur 20-ml, encerkan dengan metanol P sampai tanda.
Prosedur Totolkan secara terpisah masing-masing 10 µl larutan di atas pada lempeng kromatografi.
Masukkan lempeng ke dalam bejana kromatografi yang berisi Fase gerak. Biarkan Fase gerak merambat sampai 15 cm. Angkat lempeng, tandai batas rambat, keringkan dalam aliran udara hangat dan amati bercak di bawah cahaya ultraviolet 254 nm: bercak lain selain bercak utama Larutan uji A tidak boleh lebih intensif dari bercak utama Larutan baku B.
Perubahan
Penetapan kadar Timbang saksama lebih kurang 130 mg zat, larutkan dalam 30 ml asam asetat anhidrat P, tambahkan 0,2 ml larutan 1-naftol- benzein P 2% dalam asam asetat anhidrat. Titrasi dengan asam perklorat 0,1 N LV sampai terjadi perubahan warna dari kuning ke hijau.
Tiap ml asam perklorat 0,1 N setara dengan 16,97mg C21H29N3O
Tambahan persyaratan
Wadah dan penyimpanan Simpan dalam wadah tertutup baik, terlindung cahaya.
DOKSORUBISIN HIDROKLORIDA Doxorubicin Hydrochloride
Perubahan
(8S,10S)-10-[(3-Amino-2,3,6-trideoksi- -L-likso-heksopiranosil) oksi]-8-glikoloil-7,8,9,10-tetrahidro-6,8,11-trihidroksi-1-metoksi-5,12-naftasenedion hidroklorida [25316-40-9]
C27H29NO11.HCl BM 579,98 Doksorubisin Hidroklorida mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 102,0%, C27H29NO11.HCl, dihitung terhadap zat anhidrat, bebas pelarut. [Perhatian Hati-hati jangan terhirup partikel doksorubisin hidroklorida dan hindari pemaparan pada kulit.]
Pemerian Serbuk amorf atau hablur, merah jingga;
Baku pembanding Doksorubisin Hidroklorida BPFI; tidak boleh dikeringkan. Simpan pada lemari pembeku, terlindung cahaya dan diamkan pada suhu ruang sebelum dibuka. Aseton BPFI; Daunorubisin Hidroklorida BPFI; Daunorubisinon BPFI;
Doksorubisinon BPFI; Epirubisin Hidroklorida BPFI.
Identifikasi
A. Waktu retensi puncak utama kromatogram Larutan uji sesuai dengan Larutan baku seperti yang diperoleh pada Penetapan kadar.
Tambahan Persyaratan
B. Spektrum serapan inframerah zat yang didispersikan dalam kalium bromida P hanya menunjukkan maksimum pada bilangan gelombang yang sama seperti pada Doksorubisin Hidroklorida BPFI.
C. Menunjukkan reaksi Klorida cara A, B, dan C seperti tertera pada Uji Identifikasi Umum <291>.
pH <1071> Antara 4,0 dan 5,5; lakukan penetapan menggunakan larutan yang mengandung 5 mg per ml.
Air <1031> Metode I Tidak lebih dari 4,0%.
Sifat hablur <1091> Memenuhi syarat; kecuali jika pada etiket dinyatakan sebagai bentuk amorf, sebagian besar partikel tidak menunjukkan posisi
“birefringence and extinction”.
Hilangkan persyaratan
Kemurnian kromatografi Jumlah cemaran tidak lebih dari 2,0%. Lakukan penetapan seperti tertera pada Penetapan kadar, kecuali gunakan Larutan uji yang dibuat dengan melarutkan zat uji dalam Fase gerak hingga kadar lebih kurang 0,5 mg per ml. Dari kromatogram Larutan uji, hitung persentase cemaran dengan rumus: utama; r adalah respons puncak utama.
Tambahan persyaratan
Cemaran Organik Lakukan penetapan dengan cara Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada
Kromatografi <931>.[Catatan Larutan mengandung doksorubisin harus terlindung dari cahaya.]
Fase gerak, Pengencer, dan Larutan kesesuaian sistem. Lakukan seperti tertera pada Penetapan kadar.
Larutan baku Timbang saksama sejumlah Doksorubisin Hidroklorida BPFI, Doksorubisinon BPFI, Daunorubisin Hidroklorida BPFI, dan Daunorubisinon BPFI, masukkan ke dalam labu tentukur yang sesuai, larutkan dan encerkan dengan Pengencer hingga kadar masing-masing lebih kurang 0,002 mg per ml.
Larutan uji Timbang saksama sejumlah zat, larutkan dan encerkan dengan Pengencer hingga kadar lebih kurang 0,4 mg per ml
Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera pada Penetapan kadar. Lakukan kromatografi terhadap Larutan kesesuaian sistem, rekam kromatogram dan ukur respons puncak seperti tertera pada Prosedur:
resolusi, R, antara doksorubisin dan epirubisin tidak kurang dari 1,5. Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku, rekam kromatogram dan ukur respons puncak seperti tertera pada Prosedur: simpangan baku relatif pada penyuntikan ulang tidak lebih dari 5,0 %.
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah volume sama (lebih kurang 2 μl) Larutan baku dan Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam kromatogram dan ukur semua respons puncak.
Hitung persentase doksorubisinon dalam zat dengan rumus: doksorubisinon dalam Larutan uji dan Larutan baku;
CS adalah kadar Doksorubisinon BPFI dalam mg per ml Larutan baku; CU adalah kadar doksorubisin hidroklorida dalam mg per ml Larutan uji berdasarkan bobot yang ditimbang; P adalah potensi doksorubisinon dalam mg per mg Doksorubisinon BPFI. Hitung persentase daunorubisinon dalam zat dengan rumus: doksorubisin hidroklorida dalam mg per ml Larutan uji berdasarkan bobot yang ditimbang; P adalah potensi daunorubisinon dalam mg per mg
Daunorubisinon BPFI. Hitung persentase daunorubisin dalam zat dengan rumus:
100
CS adalah kadar Daunorubisin BPFI dalam mg per ml Larutan baku; CU adalah kadar doksorubisin hidroklorida dalam mg per ml Larutan uji berdasarkan bobot yang ditimbang; P adalah potensi daunorubisin dalam µg per mg Daunorubisin Hidroklorida BPFI; F adalah faktor konversi, 0,001 mg per µg. Hitung persentase masing-masing cemaran lain dalam zat dengan rumus:
100
ri adalah respons puncak masing-masing cemaran lain dalam Larutan uji; rS adalah respons puncak doksorubisin dalam Larutan baku; CS adalah kadar Doksorubisin BPFI dalam mg per ml Larutan baku;
CU adalah kadar doksorubisin hidroklorida dalam mg per ml Larutan uji berdasarkan bobot yang
Doksorubisinon 1,08 0,5
Daunorubisin 1,23 0,5
Daunorubisinon 1,35 0,5
Cemaran lain - 0,5
Total cemaran - 2,0
Perubahan
Aseton dan Etanol Aseton tidak lebih dari 0,5%;
jumlah aseton dan etanol tidak lebih dari 2,5%.
Lakukan penetapan dengan cara Kromatografi gas seperti tertera pada Kromatografi <931>.
Larutan baku internal Buat larutan dioksan P dalam air dengan kadar 1 mg per ml.
Larutan baku Timbang saksama sejumlah Aseton BPFI dan etanol mutlak P, masukkan dalam labu tentukur yang sesuai, encerkan dengan Larutan baku internal hingga kadar berturut-turut 0,2 mg per ml dan 0,3 mg per ml.
Larutan uji Timbang saksama lebih kurang 200 mg zat, larutkan dalam 3,0 ml Larutan baku internal.
Sistem kromatografi Kromatograf gas dilengkapi dengan detektor ionisasi nyala dan kolom 4 mm x 2 m berisi bahan pengisi 8%-10% fase cair G16 dan 2% kalium hidroksida P pada penyangga S1A 100 mesh sampai 120 mesh. Pertahankan suhu kolom pada lebih kurang 60º, gunakan helium P sebagai gas pembawa. [Catatan Atur suhu kolom dan laju alir gas pembawa sehingga dioksan P tereluasi dalam waktu lebih kurang 6 menit.] Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku, rekam kromatogram dan ukur respons puncak seperti tertera pada Prosedur:
resolusi, R, antara puncak yang berdekatan tidak kurang dari 2,0; faktor ikutan puncak etanol tidak lebih dari 1,5; simpangan baku relatif perbandingan respons puncak aseton dengan dioksan dan etanol dengan dioksan pada penyuntikan ulang tidak lebih dari 4,0%. [Catatan Waktu retensi relatif untuk aseton, etanol dan dioksan berturut-turut lebih kurang 0,2; 0,5 dan 1,0.]
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah volume sama (lebih kurang 1 µl) Larutan baku dan Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung persentase bobot aseton, (CH3COCH3), dan etanol, (C2H5OH), dalam
RU dan RS berturut-turut adalah perbandingan puncak analit (aseton atau etanol) terhadap puncak dioksan yang diperoleh dari Larutan uji dan Larutan baku: CA
adalah kadar aseton atau etanol dalam mg per ml Larutan baku; CD adalah kadar dioksan dalam mg per ml Larutan baku; DU adalah bobot dioksan dalam mg Larutan uji berdasarkan bobot yang ditimbang; WU
adalah bobot zat dalam mg Larutan uji berdasarkan bobot yang ditimbang.
Perubahan
Penetapan kadar Lakukan penetapan dengan cara Kromatografi cair kinerja tinggi seperti tertera pada Kromatografi <931>.
Larutan A Encerkan 1,0 ml asam trifluoroasetat P hingga 1000 ml air. Kadar larutan lebih kurang 0,1%.
Larutan B Buat campuran asetonitril P–metanol P–
asam trifluoroasetat P (800:200:1).
Fase gerak Gunakan variasi campuran Larutan A dan Larutan B seperti tertera pada Sistem kromatografi.
Jika perlu lakukan penyesuaian menurut Kesesuaian sistem seperti tertera pada Kromatografi <931>.
Pengencer Buat campuran Larutan A–Larutan B (50:50). [Catatan Larutan mengandung doksorubisin harus terlindung cahaya.]
Larutan kesesuaian sistem Timbang saksama sejumlah Doksorubisin Hidroklorida BPFI dan
Epirubisin Hidroklorida BPFI masukkan ke dalam labu tentukur yang sesuai, larutkan dan encerkan dengan Pengencer hingga kadar masing-masing lebih kurang 0,1 mg per ml.
Larutan baku Timbang saksama sejumlah Doksorubisin Hidroklorida BPFI, larutkan dan encerkan dengan Pengencer hingga kadar lebih kurang 0,1 mg per ml.
Larutan uji Timbang saksama sejumlah zat, larutkan dan encerkan dengan Pengencer hingga kadar lebih kurang 0,1 mg per ml.
Sistem Kromatografi Kromatograf cair kinerja tinggi dilengkapi dengan detektor 254 nm dan kolom berukuran 2,1 mm × 10 cm, berisi bahan pengisi L1, dengan ukuran partikel 1,7 µm. Pertahankan suhu kolom pada 35 dan suhu “autosampler” pada 4. Laju alir lebih kurang 0,5 ml per menit. Kromatograf diprogram sebagai berikut :
Waktu (menit) Larutan A (%) Larutan B (%)
0 90 10
15 25 75
16 25 75
16,1 90 10
18 90 10
Lakukan kromatografi terhadap Larutan kesesuaian sistem, rekam kromatogram dan ukur respons puncak seperti tertera pada Prosedur: resolusi, R, antara doksorubisin dan epirubisin tidak kurang dari 1,5.
Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku, rekam kromatogram dan ukur respons puncak seperti tertera pada Prosedur: faktor ikutan antara 0,8 dan 1,5;
simpangan baku relatif pada penyuntikan ulang tidak lebih dari 0,73%.[Catatan Waktu retensi relatif doksorubisin dan epirubisin berturut-turut adalah 1,0 dan 1,05.]
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah volume sama (lebih kurang 2 μl) Larutan baku dan Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung persentase doksorubisin hidroklorida, C27H29NO11.HCl, dalam zat dengan rumus:
100
P F
C C r
r
U S S
U
rU dan rS berturut-turut adalah respons doksorubisin dalam Larutan uji dan Larutan baku; CS adalah kadar Doksorubisin Hidroklorida BPFI dalam mg per ml Larutan baku; CU adalah kadar doksorubisin hidroklorida dalam mg per ml Larutan uji berdasarkan bobot yang ditimbang; P adalah potensi doksorubisin dalam µg per mg Doksorubisin Hidroklorida BPFI; F adalah faktor konversi, 0,001 mg per µg.
Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat, pada suhu ruang terkendali, kecuali jika pada
etiket dinyatakan sebagai bentuk amorf, yang harus disimpan pada lemari pembeku.
Penandaan Jika bentuk amorf, cantumkan pada etiket.
DOKSORUBISIN HIDROKLORIDA UNTUK