BAB IV. KEGIATAN OPERASIONAL
4.1. KARANTINA HEWAN
4.1.4. DOMESTIK KELUAR
Kegiatan operasional karantina hewan untuk domestik keluar di SKP Kelas II Manokwari tahun 2018 meliputi kegiatan pengeluaran media pembawa
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 56 antar pulau, antar area didalam negeri pada wilker Pelabuhan Laut Manokwari dan wilker Bandara Rendani, sedangkan pada wilker Pelabuhan Wasior dan wilker Pelabuhan Bintuni tidak terdapat kegiatan operasional domestic keluar.
Kegiatan Operasional Domestik Keluar pada masing-masing wilker hingga akhir tahun 2018 dapat dilihat berikut ini :
❖ Wilayah Kerja Bandara Rendani
• Hewan berupa pengeluaran DOC sebanyak 653 ekor (5 kali), entog sebanyak 2 ekor (1 kali), Ayam Buras/Bangkok sebanyak 114 ekor (43 kali), burung sebanyak 4 ekor ( 2 kali), kelinci sebanyak 2 ekor ( 1 kali), anjing sebanyak 7 ekor (5 kali), babi sebanyak 32 ekor (18 kali).
• Bahan Asal Hewan Pangan berupa pengeluaran Daging Ayam sebanyak 397 kg (6 kali), daging rusa sebanyak 77 kg (5 kali), daging sapi sebanyak 14.957 kg (120 kali), daging babi sebanyak 112 kg ( 2 kali), daging kelelawar sebanyak 10 kg (1 kali), dan tanduk sebanyak 2 kg (1 kali).
• Hasil Bahan Asal Hewan berupa pengeluaran Daging Sapi Olahan sebanyak 192 kg (8 kali).
• Benda Lain berupa pengeluaran Bahan Biologik sebanyak 24 pack (1 kali) dan bahan diagnostic sebanyak 2 kg ( 2 kali).
❖ Wilayah kerja Pelabuhan Laut Manokwari
• Hewan berupa pengeluaran DOC sebanyak 13.200 ekor (72 kali), Ayam Buras sebanyak 58 ekor (18 kali), babi sebanyak 384 ekor (51 kali), kambing sebanyak 1 ekor (1 kali), kucing sebanyak 5 ekor( 1 kali).
• Bahan Asal Hewan Pangan berupa pengeluaran Daging Ayam Beku sebanyak 161.666 kg (290 kali), daging sapi sebanyak 16.827 kg ( 79 kali), jerohan sebanyak 60 kg (1 kali), kulit sapi sebanyak 27.640 kg (4 kali), tanduk sebanyak 947 kg ( 1 kali), dan telur ayam sebanyak 8.870 kg ( 21 kali).
• Hasil Bahan Asal Hewan Pangan berupa pengeluaran Daging Sapi Olahan sebanyak 2.242 kg (23 kali) dan daging ayam olahan sebanyak 195 kg (2 kali).
• Media Pembawa Lain berupa pengeluaran Pakan Hewan Ternak sebanyak 52.643 kg (117 kali).
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 57
❖ Wilayah kerja Pelabuhan Wasior
• Tidak ada kegiatan domestik keluar atau nihil.
❖ Wilayah kerja Pelabuhan Bintuni
• Tidak ada kegiatan domestik keluar atau nihil.
4.1.5. Penggunaan Formulir Karantina Hewan
Penggunaan formulir dalam rangka pelaksanaan operasional tindakan karantina hewan baik domestik masuk maupun domestik keluar selama tahun 2018, dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.1. Penggunaan Dokumen Karantina Hewan di SKP Kelas II Manokwari tahun 2018.
No. Jenis Dokumen Karantina Hewan Jumlah Target
1 Sertifikat Kesehatan Hewan (KH-09) 235 172 2 Sertifikat Sanitasi Produk Hewan (KH-10) 548 541 3 Surat Keterangan Untuk Benda Lain (KH-11) 122 75 4 Sertifikat Pelepasan Karantina (KH-12) 1919 1593
4.1.6. Penahanan, Penolakan dan Pemusnahan
Kegiatan tersebut berupa pemeriksaan terhadap semua media pembawa yang masuk maupun keluar untuk setiap komoditas hewan maupun tumbuhan di wilayah kerja (wilker) yang berada pintu pemasukan dan pengeluaran di bandara maupun di pelabuhan laut apakah setiap media pembawa yang dilalulintaskan sudah dilengkapi dengan persyaratan dokumen karantina pertanian. Hal ini merupakan tugas pokok dan fungsi SKP Kelas II Manokwari dalam rangka
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 58 mencegah masuk dan menyebarnya HPHK/OPTK dari dan atau keluar wilayah Propinsi Papua Barat mengingat wilayah Papua Barat masih terbebas dari penyakit Rabies, Flu Burung, Hog Kolera, dll. Ini perkuat dengan peraturan-peraturan gubernur, bupati, instruksi bupati maupun MoU tentang pelarangan pemasukan media pembawa terhadap penyakit tersebut yangdikeluarkan oleh pemerintah daerah setempat. Adapun tindakan penahanan, penolakan dan pemusnahan terhadap jenis media pembawa yang tidak dilengkapi dengan sertifikat kesehatan karantina hewan dari daerah asal maupun media pembawa yang dilarang masuk ke wilayah Papua Barat selama tahun 2018 dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.2. Penahanan, Penolakan dan Pemusnahan pada media pembawa No Jenis Media
Pembawa
Penahanan Penolakan Pemusnahan
Volume Frekwensi Volume Frekwensi Volume Frekwensi
1 Ayam Buras 78 ekor 15 6 ekor 1 72 14
2 Burung 11 ekor 3 5 ekor 1 6 2
3 Entog 1 ekor 1 - - 1 1
4 Anjing 3 ekor 3 2 ekor 2 1 1
5 Ulat
Hongkong 8 Kg 1 8 kg 1 - -
6 Daging Babi 10 Kg 1 10 kg 1 - -
Gambar 4.1. Tindakan Penahanan Terhadap Media Pembawa HPHK
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 59 Gambar 4.2. Pengemasan Media Pembawa Yang Akan Ditolak
Gambar 4.3. Kegiatan pemusnahan yang disaksikan oleh pihak kepolisian
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 60
Gambar 4.4. Kegiatan Pemusnahan yang disaksikan oleh Dinas Peternakan dan Kepala SKP Kelas II Manokwari.
Gambar 4.5. Kegiatan Pemusnahan Bersama Saksi
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 61
Gambar 4.6. Hasil Kegiatan Pemusnahan dimasukkan ke dalam tempat
pembakaran.
4.1.7. Kegiatan Pemantauan Daerah Sebar HPHK
Pemetaan penyakit hewan sangat diperlukan untuk menyajikan informasi yang tertulis dan akurat mengenai penyakit hewan. Manfaat yang diperoleh dengan adanya peta penyebaran penyakit antara lain dapat memberikan informasi mengenai macam-macam penyakit hewan serta distribusinya, sehingga dapat dijadikan masukan bagi pemerintah pusat dan instansi terkait di daerah dalam menyusun kegiatan dan kebijakan penanggulangan penyakit hewan menular, mempermudah proses pengambilan keputusan dalam pemberantasan penyakit hewan menular di masa mendatang, meningkatkan kualitas pelaporan penyakit hewan menular mulai dari tingkat desa, kecamatan sampai ke tingkat kabupaten dan propinsi untuk selanjutnya disampaikan ke tingkat pusat, Serta memvisualisasikan data penyakit hewan menular dalam bentuk spasial.
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 62 Menurut Surat Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor 207/Kpts/OT.160/L/02/2018 kegiatan ini difokuskan pada HPHK yang menimbulkan gangguan reproduksi (gangrep) pada sapi dan seluruh HPHK Golongan II sebagaimana diatur dalam Kepmentan Nomor 3238/Kpts/PD.630/9/2009 tentang penggolongan Jenis-jenis Hama Penyakit Hewan Karantina, Penggolongan dan Klasifikasi Media Pembawa.
Metode Focus Group Discusion (FGD) yang digunakan oleh Tim Pemantauan Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Manokwari adalah dengan membuat kelompok diskusi antara tim pemantauan dan staf/pegawai dinas yang ditunjuk terutama petugas kesehatan hewan setempat dengan membahas tentang penyakit gangguan reproduksi pada sapi dan semua HPHK gol II. Selain itu menggunakan In Deep Interview (IDI) yaitu wawancara dengan menggali informasi sebanyak-banyaknya mengenai gejala klinis, kejadian penyakit dan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap petugas kesehatan hewan baik di dinas yang membidangi peternakan dan kesehatan hewan serta Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) di Wilayah Kerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Manokwari.
Pengumpulan informasi lebih diutamakan pada macam penyakit hewan yang ditemukan di suatu lokasi tertentu. Kategori dalam pengumpulan informasi dibagi dalam beberapa jenis hewan disesuaikan dengan jenis ternak yang ada yaitu: 1). Ruminansia (Sapi, Kambing, Domba, Kerbau); 2). Unggas (Ayam, Itik, Entok, Angsa, Burung dll); 3). Hewan Pembawa Rabies (Anjing, Kucing, Kera);
4). Babi; 5) Lain-Lain (ternak/hewan peliharaan lainnya seperti kelinci, kuda, dll).
Untuk wilayah atau tempat pengambilan data kuisioner antara lain : (1) Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Manokwari; (2) Fakultas Peternakan Universitas Papua (UNIPA); (3) Petugas Penyuluh Lapangan Distrik Prafi Kabupaten Manokwari; (4) Petugas Penyuluh Lapangan Distrik Masni Kabupaten Manokwari; (5) Petugas Penyuluh Lapangan Distrik Sidey Kabupaten Manokwari; (6) Dinas Pertanian Kabupaten Pegunungan Arfak; (7) Dinas Pertanian Kabupaten Manokwari Selatan; (8) Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Teluk Wondama; (9) Dinas Pertanian
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 63 Kabupaten Teluk Bintuni; (10) Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Papua Barat; (11) Balai Besar Veteriner Maros.
Dari data kuisioner yang didapatkan pada dinas terkait dimasing-masing kabupaten tersebut, beberapa spesies hewan termasuk atau mengarah ke penyakit Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) Golongan II. Data penyakit hewan tersebut dapat diketahui hanya berdasarkan gejala klinis atau bersifat dugaan sedangkan penyebab penyakitnya tidak diketahui karena diagnosanya tidak didukung oleh pemeriksaan lanjutan/pemeriksaan laboratorium aktif dari dinas terkait maupun kegiatan surveillans. Hasil pengambilan data dapat dilihat pada tabel berikut ini :
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 64 Tabel 4.3. Peta Matrik HPHK
MATRIKS HAMA PENYAKIT HEWAN KARANTINA REGIONAL PAPUA BARAT (MANOKWARI) Regional : Papua Barat (Manokwari)
No Propinsi Hewan Nama Penyakit (HPHK)
Hama Penyakit Hewan Karantina
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 65
b. Kerbau - - - - -
c. Unggas - - - - -
d. Anjing - - - - -
e. Kambing dan Domba Scabies √ - - -
f. Babi - - - - -
g. Kelinci - - - - -
- Kabupaten Manokwari Selatan a. Sapi - - - - -
b. Kerbau - - - - -
c. Unggas Newcastle Disease (Tetelo) √ - - -
d. Anjing Scabies √ - - -
e. Kambing dan Domba - - - - -
f. Babi - - - - -
g. Kelinci - - - - -
- Kabupaten Pegunungan Arfak a. Sapi - - - - -
b. Kerbau - - - - -
c. Unggas Newcastle Disease (Tetelo) √ - - -
d. Anjing - - - - -
e. Kambing dan Domba - - - - -
f. Babi Erysipelas √ - - -
g. Kelinci - - - - -
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 66 4.2. KARANTINA TUMBUHAN
4.2.1. Ekspor
Selama tahun 2018 terdapat 3 (tiga) kegiatan operasional karantina tumbuhan untuk ekspor. Komoditas yang diekspor adalah dari golongan hasil tanaman mati berupa akar wangi total volume 4,1 kilogram. Negara tujuan adalah Amerika Serikat dan Kanada.
4.2.2. Impor
Hingga akhir 2018 tidak terdapat kegiatan operasional karantina tumbuhan untuk impor.
4.2.3. Domestik Masuk
Kegiatan operasional karantina tumbuhan untuk domestik masuk dan keluar pada masing-masing wilayah kerja yang ada di SKP Kelas II Manokwari tahun 2018 meliputi kegiatan pemasukan komoditas antar pulau, antar area didalam negeri yang secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Tanaman Hidup dan Benih
Untuk pemasukan bibit/benih tanaman secara keseluruhan dari wilayah kerja yang ada di SKP Kelas II Manokwari adalah sebanyak 102.667 Batang dan 27.026 Kilogram, 600 gram dan 26 koli dengan frekwensi sebanyak 597 kali.
Pemasukan bibit/benih terbanyak adalah melalui wilayah kerja (wilker) Bandara Rendani dengan volume sebanyak 100.121 batang dan 18.161 kilogram serta frekwensi sebanyak 575 kali dengan komoditi antara lain berupa pemasukan Bibit Pala sebanyak 10.000 batang dan 15.000 kg (3 kali), benih Kelapa Sawit sebanyak 2.743 kilogram dan 26 koli kemudian Bibit Kakao sebanyak 24.400 batang (5 kali). Pelabuhan Laut Manokwari berupa bibit bawang merah sebanyak 7.700 kilogram (4 kali) dan bibit bawang bombay 500 kilogram. Pelabuhan Laut Wasior dengan pemasukan antara lain Bibit mangga sebanyak 330 kilogram dan benih kubis sebanyak 250 kilogram serta bibit kakao sebanyak 1.000 batang. Untuk Pelabuhan Bintuni dengan pemasukan bibit Alpukat sebanyak 115 batang dan bibit Mangga sebanyak 100 batang.
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 67 b. Hasil Tanaman Hidup Bukan Benih
Jumlah pemasukan komoditi dari hasil tanaman hidup bukan benih secara keseluruhan adalah sebanyak 2.023.138 kilogram dan 276 batang (3.143 kali) dengan pemasukan komoditi terbanyak melaui wilayah kerja pelabuhan laut dengan volume sebanyak 1.641.160 kilogram (999 kali) dengan komoditi antara lain berupa pemasukan Bawang Merah sebanyak 496.530 kilogram (242 kali), Bawang Putih sebanyak 324.460 kilogram (135 kali), dan Buah Jeruk sebanyak 188.664 kilogram (87 kali). Untuk wilker Pelabuhan Wasior, berupa pemasukan Bawang Merah sebanyak 48.350 kilogram (87 kali), Kedelai sebanyak 18.000 kilogram (17 kali) dan Tomat sebanyak 15.780 (103 kali). Sedangkan untuk wilayah kerja Bandara Rendani pemasukan komoditi terbanyak adalah berupa pemasukan Sirih sebanyak 90.327 kilogram dan 80 batang (907 kali), Buah Rambutan sebanyak 16.002 kilogram (84 kali) dan Cabe sebanyak 12.893 kilogram (93 kali). Dan untuk wilayah kerja Pelabuhan Bintuni berupa pemasukan Bawang Merah sebanyak 47.080 kilogram (139 kali) dan Bawang Putih sebanyak 22.692 kilogram (102 kali) dan Kentang sebanyak 9.610 kilogram.
c. Hasil Tanaman Mati yang Tidak Diolah/Telah Diolah
Untuk pemasukan keseluruhan dari 4 (empat) wilayah kerja yang ada sebanyak 88.315 kilogram, 25 batang (124 kali), dengan jumlah pemasukkan komoditi terbanyak adalah melalui wilayah kerja (wilker) Pelabuhan Laut Manokwari sebanyak 77.970 kilogram dan 25 batang (86 kali) dan komoditi terbanyak yang dimasukkan antara lain berupa Gula Merah sebanyak 41.070 kilogram (47 kali), Pinang Kering sebanyak 23.200 kilogram (8 kali), Kemiri sebanyak 11.850 kilogram (22 kali). Untuk wilker pelabuhan Wasior berupa pemasukan Gula Merah sebanyak 7.400 kilogram (8 kali) sementara untuk wilker Pelabuhan Bintuni berupa pemasukan Gula Merah sebanyak 1.000 kilogram (10 kali) dan Kemiri sebanyak 1.915 kilogram (18 kali). Sementara itu untuk wilker Bandara Rendani hanya berupa pemasukan Lada Biji sebanyak 30 kilogram (2 kali).
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 68 4.2.4. Domestik Keluar
a. Tanaman Hidup dan Benih.
Domestik keluar berupa pengeluaran komoditi pada tanaman hidup dan benih di SKP Kelas II Manokwari tahun 2018 melalui tiga (tiga) wilker adalah sebanyak 34.866 batang, 43.408 kilogram, 270 gram dan 286 kemasan (206 kali). Sedangkan untuk wilker Pelabuhan Teluk Bintuni dan Pelabuhan Wasior tidak ada kegiatan domestik keluar atau nihil. Pengeluaran komoditi bibit/benih yang terbanyak dari masing-masing wilker secara umum antara lain berupa bibit Kayu Trembesi sebanyak 10.600 batang dan 10.600 kilogram (1 kali), benih sagu sebanyak 4.940 batang, 4.940 kilogram, 47 gram dan 47 koli (2 kali), bibit Kayu Masohi sebanyak 3.900 batang dan 3.900 kilogram (2 kali) di wilker Bandara Rendani, sedangkan pada wilker Pelabuhan Laut berupa pengeluaran benih Padi sebanyak 15.600 batang (4 kali), bibit stek akar sukun sebanyak 6.000 batang (1 kali).
b. Hasil Tanaman Hidup Bukan Benih
Pengeluaran komoditi pada hasil tanaman bukan benih di tahun 2018 berjumlah 546 batang, 7.255.369 kilogram, 100.337 gram dan 98.124 koli dengan frekwensi 1.499 kali yang melalui pintu pengeluaran dari wilker Bandara Rendani, Pelabuhan Laut Manokwari dan Pelabuhan Wasior dan Pelabuhan Teluk Bintuni. Komoditi yang dikeluarkan melalui wilker Pelabuhan Laut Manokwari antara lain berupa pengeluaran Kernel Sawit sebanyak 6.037.000 kilogram (33 kali), Jagung sebanyak 567.000 kilogram (14 kali) dan Kakao biji 539.000 (19 kali). Untuk wilker Bandara Rendani secara umum antara lain berupa pengeluaran Cabai sebanyak 556 kilogram, 74.067 gram dan 73.551 koli (448 kali), Buah Durian sebanyak 915 kilogram, 9.337 gram, 8.477 koli (95 kali), Bawang Daun sebanyak 1.328 kilogram, 4.405 gram dan 3.343 koli (52 kali). Wilker Pelabuhan Bintuni berupa pengeluaran Pala Biji sebanyak 9.026 (1 kali) dan Bunga Pala 1.695 (1 kali) sedangkan Pelabuhan Wasior antara lain pengeluaran Pala Biji 2.700 (3 kali), Mahoni sebanyak 1.000 kilogram (1 kali), buah pisang sebanyak 1.000 kilogram (1 kali) sedangkan
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 69 c. Hasil Tanaman Mati Yang Tidak Diolah/Telah Diolah
Untuk pengeluaran komoditi hasil tanaman mati yang tidak diolah/telah diolah di tahun 2018 di SKP Kelas II Manokwari adalah berjumlah 3.034 batang, 115.640 kilogram, 1.297 gram dan 1.422 koli (80 kali). Dari wilker Pelabuhan Laut Manokwari jenis komoditi yang dikeluarkan terbanyak berupa Minyak Sawit Mentah sebanyak 100.000 kilogram (1 kali), Kayu Gaharu 12.620 kilogram dan 3.034 batang (7 kali) serta Kopra sebanyak 3.000 kilogram (1 kali). Dari wilker Bandara Rendani jenis komoditi yang dikeluarkan antara lain berupa pengeluaran Kayu Gaharu 846 gram dan 846 koli, Sarang Semut sebanyak 19 kilogram (35 kali), 205 gram dan 275 koli serta Rumput Kebar sebanyak 206 gram dan 217 koli. Kemudian untuk wilker Pelabuhan Wasior dan Teluk Bintuni tidak ada kegiatan domestik keluar atau nihil.
4.2.5. Penggunaan Formulir Karantina Tumbuhan
Penggunaan formulir dalam rangka pelaksanaan operasional tindakan karantina tumbuhan baik domestik masuk maupun domestik keluar selama tahun 2018, dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.4. Penggunaan Dokumen Karantina Tumbuhan di SKP Kelas II Manokwari tahun 2018.
No Jenis Dokumen Karantina Tumbuhan Jumlah Target
1 Sertifikat Pelepasan Karantina Tumbuhan Antar Area (KT-09) 2673 2816 2 Sertifikat Kesehatan Tumbuhan Antar Area (KT-12) 1221 639
4.2.6. Kegiatan Pemantauan OPTK
Saat ini dimana semakin meningkatnya lalulintas hewan maupun tumbuhan, dari suatu area ke area lain di dalam wilayah Negara Republik Indonesia, baik dalam rangka perdagangan, pertukaran maupun penyebarannya semakin membuka peluang bagi kemungkinan masuk dan menyebarnya hama dan penyakit hewan, dan organisme pengganggu tumbuhan yang berbahaya. Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Manokwari
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 70 mempunyai peran yang sangat penting dan strategis di dalam menjaga dan melindungi kelestarian sumber daya alam hayati hewani dan nabati dari ancaman terhadap resiko masuknya Hama dan Penyakit Hewan Karantina (HPHK) dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) di Propinsi Papua Barat. Oleh sebab itu pencegahan masuk dan tersebarnya hama dan penyakit atau organisme pengganggu dari luar negeri dan dari area yang tertular ke area lain yang masih bebas di dalam negeri (kategori A2) diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 93/Permentan/OT.140/12/2011. Salah satu cara untuk memperoleh data perkembangan daerah sebar hama dan penyakit atau organisme pengganggu tersebut adalah dengan pemantauan. Pemantauan itu sendiri merupakan salah satu kegiatan yang harus dilakukan dalam rangka sertifikasi Karantina Tumbuhan dan Pengawasan Keamanan Hayati Nabati. Pelaksanaan pemantauan tersebut mengacu kepada ISPM No. 6 Tahun 1997.
Benefit atau keuntungan secara langsung diharapkan dapat mendeteksi OPTK (kategori A2) sedini mungkin di lingkup wilayah kerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Manokwari dan dapat menjadi panduan dalam setiap tindakan karantina selanjutnya.
Secara nasional, dapat mengetahui daerah sebaran OPTK tersebut di dalam wilayah Negara Republik Indonesia.
Kegiatan pemantauan OPTK tahun 2018 dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juli 2018 di beberapa distrik yang berada di 2 (dua) kabupaten. Kabupaten Manokwari Selatan yang meliputi Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari yang meliputi Distrik Masni, Sidey dan Prafi.
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 71 Gambar 4.7. Pengamatan Langsung di Lapangan
Gambar 4.8. Pengambilan sampel OPTK Tahun 2018
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 72 Gambar 4.9. Pemantauan OPTK Tahun 2018
Dari hasil pengamatan di lapangan dan pemeriksaan di laboratorium Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Manokwari, terhadap sampel di keempat daerah pemantauan diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 4.5. Hasil Pemantauan Hama/Penyakit Lapang
NO. JENIS TANAMAN
OPT/ OPTK TEMUAN LOKASI (Distrik)
1 Padi Aphelenchoides besseyi (N) Oransbari, Prafi Burkhloderia glumae (B) Prafi
Rhizoctonia solani (C) Oransbari, Prafi, Masni
Nephotettix virescens(S) Oransbari, Sidey, Masni
Cnaphalocrosis medinalis (S) Oransbari, Sidey, Masni, Prafi Euscyrtus concinnus (S) Oransbari Leptocorisa oratorius (S) Oransbari, Sidey,
Masni, Prafi Melanitis ledaismene (S) Oransbari
Orselia oryzae (S) Oransbari
Oxya spp. (S) Oransbari, Prafi
Scipophage incertulas (S) Oransbari, Prafi, Sidey Naranga aenescens (S) Oransbari
Curvularia lunata (C) Oransbari, Masni
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 73 Nigrospora sp. (C) Oransbari, Sidey,
Masni
Fusarium oxysporum (C) Oransbari, Sidey, Masni
Drechslera sp. (C) Masni
Pithomyces sp.(C) Oransbari, Masni
Ustilaginoidea sp.(C) Oransbari, Prafi Pomacea speciosa (M) Oransbari, Masni,
Sidey
2 Jagung Drechslera sp. (C) Prafi, Sidey
Fusarium oxysporum (C) Oransbari, Prafi, Sidey Curvularia lunata (C) Oransbari, Sidey
Nigrospora sp. (C) Sidey
3 Cabai Colletotrichum capsici (C) Oransbari
Fusarium oxysporum (C) Oransbari, Masni, Sidey
6 Jeruk Syncephalastrum sp. (C) Oransbari
Fusarium sp. (C) Oransbari
7 Ceratocystis paradoxa(C) Prafi
Tabel 4.6. Hasil Pemantauan Lalat Buah
NO LALAT BUAH TEMUAN LOKASI METODE
1 Bactrocera umbrosa Oransbari Trapping (ME)
2 Bactrocera papaya Oransbari Trapping (ME)
3 Bactrocera cucurbitae Oransbari Trapping (CUE)
4 Bactrocera frauenfeldi Oransbari Trapping (CUE)
5 Bactrocera curvifera Oransbari Trapping (ME)
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 74 A. Pembahasan Hama Dan Penyakit Lapang
1. Sexava nubila
Klasifikasi Ilmiah dan ciri morfologi Klasifikasi
Kingdom : Animalia Philum : Arthropoda Class : Insecta Ordo : Orthoptera Family : Tettigonidae Genus : Sexava
Spesies : Sexava nubila (Chandra, 2011) Ciri morfologi
Telur
Bentuk dan warna telur Sexava nubila seperti buah padi masak (gabah). Telur yang baru diletakkan sangat tipis dengan alur yang dalam (Gambar 4.10.a, b1) kemudian embrio berkembang sehingga membengkak (Gambar 4.10.b3). Telur berumur 2 hari, panjannya 12 mm dan lebarnya 2 mm. Salah satu ujung telur lancip dan lainnya bulat.
Telur tua, panjangnya sampai 13 mm dan lebarnya 3 mm. Lama stadium telur di Talaud ± 50 hari (Tjoa, 1953), atau 45 hari (Sakhn, 2000).
(a) (b1) (b2) (b3)
Gambar 4.10. Telur Sexava nubila: telur baru diletakkan (a); telur bernas, embrio sudah berkembang dalam telur (b1); telur terparasit Leefmansia bicolor terlihat lobang tempat keluar parasitoid (b2); dan telur
menetas, terlihat lobang tempat keluar nimfa instar pertama (b3).
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 75 Nimfa
Nimfa yang baru ditetaskan, panjangnya 12 mm dan bentuknya sama dengan S.
coriacea. Antenanya halus seperti rambut dan panjangnya sampai 9 cm. Nimfa muda dan
tua berwarna hijau, tetapi kadang-kadang berwarna coklat. Panjang nimfa jantan tua sampai 6 cm dan panjang antena 14 cm dan sudah terlihat bakal sayapnya. Lama stadium nimfa 70 hari (Tjoa, 1953), atau 108 hari (Warouw, 1981).
Belalang dewasa (Imago)
Imago berwarna hijau, antena merah muda dan matanya abu-abu. Bentuknya hampir sama dengan S. coriacea. Alat peletak telur (ovipositor) berwarna hijau pada bagian pangkalnya yaitu sepertiga dari panjang ovipositor, sepertiga lagi berwarna kemerahan dan bagian ujungnya berwarna hitam. Panjang imago betina (kepala + badan + ovipositor) antara 9.5 – 10.5 cm. Panjang ovipositor 3 – 4.5 cm dan panjang antena 16 cm. Panjang imago jantan 6 – 9.5 cm dan antenanya 14-16 cm.
Gambar 4.11. (a) Bentuk morfologi Sexava nubila (b) Gejala pada Kelapa Sawit
a. Gejala Serangan Hama Sexava nubila
a b
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 76 Hama Sexava spp. (Orthoptera: Tettigoniidae) dapat menyebabkan kerusakan serius pada tanaman kelapa. Belalang Sexava terdiri dari empat spesies yaitu Sexava nubila Stal, Sexava coriacea Linnaeus, Sexava karnyi Leefmans dan Sexava novae-guineae Brancsik
(Kalshoven, 1981: Lever, 1969; Tjoa,1953). Nimfa dan imago menyerang daun, bunga betina dan buah muda sehingga dapat mempengaruhi produksi kelapa. Beberapa teknik pengendalian sudah diterapkan tetapi sampai sekarang populasi hama ini masih merupakan hambatan utama dalam meningkatkan produksi kelapa di daerah sebaran hama Sexava spp (Hosang, 1989).
Hama Sexava nubila dapat merusak daun, bunga dan buah muda sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan produksi buah. Tanaman kelapa yang terserang secara berkesinambungan, pertumbuhannya terhambat seperti batang mengecil, lama berproduksi dan lama kelamaan tanaman akan mati (Hosang, 1989).
Hama Sexava nubila menyebabkan dua tipe kerusakan pada tanaman kelapa yaitu (a) langsung merusak bunga dan buah muda, apabila serangan ringan buah dapat berkembang sampai siap dipanen tetapi serangan berat buah akan gugur, dan (b)merusak daun sehingga kehilangan luas daun secara tidak langsung mempengaruhi produksi pada tanaman dewasa, sedangkan pada tanaman muda pertumbuhannya akan terhambat. Serangan berat dari hama ini dapat menyebabkan tanaman mati (Zelazny dan Hosang, 1988). Tanaman kelapa yang belum berproduksi apabila terserang hama ini secara berkesinambungan maka pertumbuhannya akan terhambat, lambat berproduksi atau tidak berproduksi dan lama kelamaan tanaman akan mati.
Menurut Naro pada tahun 2007, masa perkembangan Sexava nubila 40 hari. Gejala:
(1) merusak daun tua dan dalam keadaan terpaksa juga merusak daun muda, kulit buah dan bunga-bunga; (2) merajalela pada musim kemarau; (3) pada serangan yang hebat daun kelapa tinggal lidi-lidinya saja.
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 77 2. Aphelenchoides besseyi
Serangan nematoda Aphelenchoides besseyi Christie pada awalnya menyebabkan ujung daun padi berwarna kuning pucat kemudian menjadi putih (White tip) sekitar 2-5 cm. Pada gejala lanjut akan menimbulkan nekrotik pada daun dan daun menjadi menggulung. Nematoda ini juga dapat menyebabkan daun bendera akan menutup malai yang kemudian dapat mengakibatkan bulir padi menjadi lebih kecil dari bulir padi yang normal. Selain menyerang daun, nematoda A.besseyi Christie ini juga dapat menginfeksi bulir padi sehingga akan terjadi bercak coklat pada bulir dan sun spot pada beras.
Nematoda A.besseyi Christie adalah seed transmitted nematode, dimana nematoda ini dapat terbawa oleh benih.
Inang utama dari nematoda ini adalah padi dan strowberry. A. besseyi Christie juga dapat ditemukan pada Boehmeria nivea atau sering juga disebut Chiness grass atau ramie, pada beberapa tanaman ornamen (termasuk chrysanthemum, Ficus elastica, Hibiscus sp,
Inang utama dari nematoda ini adalah padi dan strowberry. A. besseyi Christie juga dapat ditemukan pada Boehmeria nivea atau sering juga disebut Chiness grass atau ramie, pada beberapa tanaman ornamen (termasuk chrysanthemum, Ficus elastica, Hibiscus sp,