BAB IV. KEGIATAN OPERASIONAL
4.2. KARANTINA TUMBUHAN
4.2.6. KEGIATAN PEMANTAUAN OPTK
Saat ini dimana semakin meningkatnya lalulintas hewan maupun tumbuhan, dari suatu area ke area lain di dalam wilayah Negara Republik Indonesia, baik dalam rangka perdagangan, pertukaran maupun penyebarannya semakin membuka peluang bagi kemungkinan masuk dan menyebarnya hama dan penyakit hewan, dan organisme pengganggu tumbuhan yang berbahaya. Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Manokwari
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 70 mempunyai peran yang sangat penting dan strategis di dalam menjaga dan melindungi kelestarian sumber daya alam hayati hewani dan nabati dari ancaman terhadap resiko masuknya Hama dan Penyakit Hewan Karantina (HPHK) dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) di Propinsi Papua Barat. Oleh sebab itu pencegahan masuk dan tersebarnya hama dan penyakit atau organisme pengganggu dari luar negeri dan dari area yang tertular ke area lain yang masih bebas di dalam negeri (kategori A2) diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 93/Permentan/OT.140/12/2011. Salah satu cara untuk memperoleh data perkembangan daerah sebar hama dan penyakit atau organisme pengganggu tersebut adalah dengan pemantauan. Pemantauan itu sendiri merupakan salah satu kegiatan yang harus dilakukan dalam rangka sertifikasi Karantina Tumbuhan dan Pengawasan Keamanan Hayati Nabati. Pelaksanaan pemantauan tersebut mengacu kepada ISPM No. 6 Tahun 1997.
Benefit atau keuntungan secara langsung diharapkan dapat mendeteksi OPTK (kategori A2) sedini mungkin di lingkup wilayah kerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Manokwari dan dapat menjadi panduan dalam setiap tindakan karantina selanjutnya.
Secara nasional, dapat mengetahui daerah sebaran OPTK tersebut di dalam wilayah Negara Republik Indonesia.
Kegiatan pemantauan OPTK tahun 2018 dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juli 2018 di beberapa distrik yang berada di 2 (dua) kabupaten. Kabupaten Manokwari Selatan yang meliputi Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari yang meliputi Distrik Masni, Sidey dan Prafi.
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 71 Gambar 4.7. Pengamatan Langsung di Lapangan
Gambar 4.8. Pengambilan sampel OPTK Tahun 2018
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 72 Gambar 4.9. Pemantauan OPTK Tahun 2018
Dari hasil pengamatan di lapangan dan pemeriksaan di laboratorium Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Manokwari, terhadap sampel di keempat daerah pemantauan diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 4.5. Hasil Pemantauan Hama/Penyakit Lapang
NO. JENIS TANAMAN
OPT/ OPTK TEMUAN LOKASI (Distrik)
1 Padi Aphelenchoides besseyi (N) Oransbari, Prafi Burkhloderia glumae (B) Prafi
Rhizoctonia solani (C) Oransbari, Prafi, Masni
Nephotettix virescens(S) Oransbari, Sidey, Masni
Cnaphalocrosis medinalis (S) Oransbari, Sidey, Masni, Prafi Euscyrtus concinnus (S) Oransbari Leptocorisa oratorius (S) Oransbari, Sidey,
Masni, Prafi Melanitis ledaismene (S) Oransbari
Orselia oryzae (S) Oransbari
Oxya spp. (S) Oransbari, Prafi
Scipophage incertulas (S) Oransbari, Prafi, Sidey Naranga aenescens (S) Oransbari
Curvularia lunata (C) Oransbari, Masni
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 73 Nigrospora sp. (C) Oransbari, Sidey,
Masni
Fusarium oxysporum (C) Oransbari, Sidey, Masni
Drechslera sp. (C) Masni
Pithomyces sp.(C) Oransbari, Masni
Ustilaginoidea sp.(C) Oransbari, Prafi Pomacea speciosa (M) Oransbari, Masni,
Sidey
2 Jagung Drechslera sp. (C) Prafi, Sidey
Fusarium oxysporum (C) Oransbari, Prafi, Sidey Curvularia lunata (C) Oransbari, Sidey
Nigrospora sp. (C) Sidey
3 Cabai Colletotrichum capsici (C) Oransbari
Fusarium oxysporum (C) Oransbari, Masni, Sidey
6 Jeruk Syncephalastrum sp. (C) Oransbari
Fusarium sp. (C) Oransbari
7 Ceratocystis paradoxa(C) Prafi
Tabel 4.6. Hasil Pemantauan Lalat Buah
NO LALAT BUAH TEMUAN LOKASI METODE
1 Bactrocera umbrosa Oransbari Trapping (ME)
2 Bactrocera papaya Oransbari Trapping (ME)
3 Bactrocera cucurbitae Oransbari Trapping (CUE)
4 Bactrocera frauenfeldi Oransbari Trapping (CUE)
5 Bactrocera curvifera Oransbari Trapping (ME)
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 74 A. Pembahasan Hama Dan Penyakit Lapang
1. Sexava nubila
Klasifikasi Ilmiah dan ciri morfologi Klasifikasi
Kingdom : Animalia Philum : Arthropoda Class : Insecta Ordo : Orthoptera Family : Tettigonidae Genus : Sexava
Spesies : Sexava nubila (Chandra, 2011) Ciri morfologi
Telur
Bentuk dan warna telur Sexava nubila seperti buah padi masak (gabah). Telur yang baru diletakkan sangat tipis dengan alur yang dalam (Gambar 4.10.a, b1) kemudian embrio berkembang sehingga membengkak (Gambar 4.10.b3). Telur berumur 2 hari, panjannya 12 mm dan lebarnya 2 mm. Salah satu ujung telur lancip dan lainnya bulat.
Telur tua, panjangnya sampai 13 mm dan lebarnya 3 mm. Lama stadium telur di Talaud ± 50 hari (Tjoa, 1953), atau 45 hari (Sakhn, 2000).
(a) (b1) (b2) (b3)
Gambar 4.10. Telur Sexava nubila: telur baru diletakkan (a); telur bernas, embrio sudah berkembang dalam telur (b1); telur terparasit Leefmansia bicolor terlihat lobang tempat keluar parasitoid (b2); dan telur
menetas, terlihat lobang tempat keluar nimfa instar pertama (b3).
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 75 Nimfa
Nimfa yang baru ditetaskan, panjangnya 12 mm dan bentuknya sama dengan S.
coriacea. Antenanya halus seperti rambut dan panjangnya sampai 9 cm. Nimfa muda dan
tua berwarna hijau, tetapi kadang-kadang berwarna coklat. Panjang nimfa jantan tua sampai 6 cm dan panjang antena 14 cm dan sudah terlihat bakal sayapnya. Lama stadium nimfa 70 hari (Tjoa, 1953), atau 108 hari (Warouw, 1981).
Belalang dewasa (Imago)
Imago berwarna hijau, antena merah muda dan matanya abu-abu. Bentuknya hampir sama dengan S. coriacea. Alat peletak telur (ovipositor) berwarna hijau pada bagian pangkalnya yaitu sepertiga dari panjang ovipositor, sepertiga lagi berwarna kemerahan dan bagian ujungnya berwarna hitam. Panjang imago betina (kepala + badan + ovipositor) antara 9.5 – 10.5 cm. Panjang ovipositor 3 – 4.5 cm dan panjang antena 16 cm. Panjang imago jantan 6 – 9.5 cm dan antenanya 14-16 cm.
Gambar 4.11. (a) Bentuk morfologi Sexava nubila (b) Gejala pada Kelapa Sawit
a. Gejala Serangan Hama Sexava nubila
a b
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 76 Hama Sexava spp. (Orthoptera: Tettigoniidae) dapat menyebabkan kerusakan serius pada tanaman kelapa. Belalang Sexava terdiri dari empat spesies yaitu Sexava nubila Stal, Sexava coriacea Linnaeus, Sexava karnyi Leefmans dan Sexava novae-guineae Brancsik
(Kalshoven, 1981: Lever, 1969; Tjoa,1953). Nimfa dan imago menyerang daun, bunga betina dan buah muda sehingga dapat mempengaruhi produksi kelapa. Beberapa teknik pengendalian sudah diterapkan tetapi sampai sekarang populasi hama ini masih merupakan hambatan utama dalam meningkatkan produksi kelapa di daerah sebaran hama Sexava spp (Hosang, 1989).
Hama Sexava nubila dapat merusak daun, bunga dan buah muda sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan produksi buah. Tanaman kelapa yang terserang secara berkesinambungan, pertumbuhannya terhambat seperti batang mengecil, lama berproduksi dan lama kelamaan tanaman akan mati (Hosang, 1989).
Hama Sexava nubila menyebabkan dua tipe kerusakan pada tanaman kelapa yaitu (a) langsung merusak bunga dan buah muda, apabila serangan ringan buah dapat berkembang sampai siap dipanen tetapi serangan berat buah akan gugur, dan (b)merusak daun sehingga kehilangan luas daun secara tidak langsung mempengaruhi produksi pada tanaman dewasa, sedangkan pada tanaman muda pertumbuhannya akan terhambat. Serangan berat dari hama ini dapat menyebabkan tanaman mati (Zelazny dan Hosang, 1988). Tanaman kelapa yang belum berproduksi apabila terserang hama ini secara berkesinambungan maka pertumbuhannya akan terhambat, lambat berproduksi atau tidak berproduksi dan lama kelamaan tanaman akan mati.
Menurut Naro pada tahun 2007, masa perkembangan Sexava nubila 40 hari. Gejala:
(1) merusak daun tua dan dalam keadaan terpaksa juga merusak daun muda, kulit buah dan bunga-bunga; (2) merajalela pada musim kemarau; (3) pada serangan yang hebat daun kelapa tinggal lidi-lidinya saja.
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 77 2. Aphelenchoides besseyi
Serangan nematoda Aphelenchoides besseyi Christie pada awalnya menyebabkan ujung daun padi berwarna kuning pucat kemudian menjadi putih (White tip) sekitar 2-5 cm. Pada gejala lanjut akan menimbulkan nekrotik pada daun dan daun menjadi menggulung. Nematoda ini juga dapat menyebabkan daun bendera akan menutup malai yang kemudian dapat mengakibatkan bulir padi menjadi lebih kecil dari bulir padi yang normal. Selain menyerang daun, nematoda A.besseyi Christie ini juga dapat menginfeksi bulir padi sehingga akan terjadi bercak coklat pada bulir dan sun spot pada beras.
Nematoda A.besseyi Christie adalah seed transmitted nematode, dimana nematoda ini dapat terbawa oleh benih.
Inang utama dari nematoda ini adalah padi dan strowberry. A. besseyi Christie juga dapat ditemukan pada Boehmeria nivea atau sering juga disebut Chiness grass atau ramie, pada beberapa tanaman ornamen (termasuk chrysanthemum, Ficus elastica, Hibiscus sp, Polianthes tuberosa dan Saintpaulia ionantha), dan juga pada rumput-rumputan (Panicum sp, Pennisetum sp, Setaria sp, Sporobolus sp).
Pada tanaman padi, nematoda ini berasal dari benih yang telah terinfestasi. Pada saat benih padi ditanam maka nematoda tersebut akan menjadi aktif dan bergerak menuju ujung daun dan tunas. Nematoda A.besseyi Christie umumnya bersifat ektoparasit yaitu menyerang tanaman dari bagian luar. A. besseyi Christie dapat berkembang secara parthenogenesis. Pertumbuhan yang optimum dari nematoda ini adalah pada suhu 21-25 ºC . Siklus hidupnya berlangsung selama 10 hari pada suhu 21 ºC dan 8 hari pada suhu 23 ºC.
Pada satu benih padi yang terinfeksi nematode A. besseyi bisa ditemukan sampai 14 juvenile nematoda. A.besseyi Christie memiliki ukuran tubuh yang ramping dengan
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 78 panjang 0,44-0,88 mm dan lebar 14-22 µm. Nematoda betina biasanya lebih panjang dari pada jantan. Bagian mulut lebih lebar dari bagian leher, stylet (spear) berukuran 10 µm.
Ekor bebentuk pita dengan ujung yang meruncing dan terdapat mukrons pada ujung ekor.
Morfologi nematoda A.besseyi Christie.
3. Burkholderia glumae
Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bakteri seringkali dikelompokkan dengan nama penyakit penyimpangan warna gabah (grain discoloration) karena bakteri
patogennya mengakibatkan gabah menjadi berubah warna coklat atau hitam. Beberapa bakteri menjadi penyebab rusaknya biji padi dan dikenal dengan nama penyakit busuk biji (grain rot), diantara penyebabnya adalah bakteri Burkholderia glumae.
Benih hampa, bulir yang kosong sebagai akibat dari kegagalan pengisian, bintik-bintik coklat pada malai, bibit membusuk. Butir yang terinfeksi menyusut dan pucat-hijau, Gambar 4.12. Gejala Pada Benih Padi yang disebabkan oleh Nematoda Aphelencoides
besseyi
Gambar 4.13. Nematoda Aphelencoides besseyi dengan stilet pada bagian anterior stilet
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 79 kemudian menjadi kuning sampai coklat dan sangat kering (Webster dan Gunnell, 1992).
Lesiwarna abu-abu putih kemudian coklat gelap dan akhirnya menjadi kekuning-kuningan.
Suhu tinggi berkepanjangan selama musim tanam adalah kondisi lingkungan yang baik untuk perkembangan bakteri hawar malai (NCBI, 2010) layu bakteri berbeda dari layu jamur di mana jamur tetap di jaringan pembuluh sampai kematian tanaman, sedangkan bakteri sering merusak bagian dinding sel dalam pembuluh xilem. Ketika menderita layu bakteri, jaringan pembuluh yang sakit pada batang dan akar berubah menjadi cokelat, dan cairan bakteri mengalir(Jeong et al, 2003; Nandakumar et al, 2009).
Gambar 4.14. Gejala pada benih padi yang disebabkan oleh Bakteri Burkholderia glumae
4. Nephotettix virescens (Wereng Hijau)
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 80 Gambar 4.15. Nephotettix virescens
Kerajaan : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Homoptera Famili : Cicadellidae Genus : Nephotettix
Spesies : Nephotettix virescens
Wereng hijau merupakan salah satu hama penting pada tanaman padi karena menularkan virus tungro yang dapat menurunkan hasil hingga puso. Penyakit tungro menyebabkan jumlah anakan berkurang dan kehampaan gabah yang tinggi (Anonim, 2015).
Merupakan vektor/ penular virus tungro pada tanaman padi. Di Indonesia hama ini sudah kosmopolit. Nephotettix virescens (wereng hijau) menghisap cairan dari tanaman yang menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat. Nimfa awalnya makan sangat sedikit sehingga menyebabkan kerusakan kecil pada tanaman. Tanaman akan mengalami kerusakan bila banyak nimfa akhir dan imago pada tanaman, karena terhisapnya unsur-unsur hara dan cairan tanaman.
Perkembangan wereng hijau dari telor sampai dewasa melalui 3 stadia yaitu telor, nimfa dan dewasa. Nimfa dari telor yang menetas akan segera bergerak menuju ke bagian atas tanaman dan berkumpul pada bagian bawah daun tua. Pada instar ke-2 dan seterusnya
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 81 nimfa-nimfa tersebut merata pada daun padi. Pada tanaman yang layu, nimfa berkumpul pada bagian pangkal pelepah daun. Wereng hijau yang baru menjadi dewasa berwarna kuningan. Warna tersebut secara bertahap berubah menjadi hijau kekuning-kuningan yang akhirnya berubah menjadi hijau dalam waktu kurang lebih 3 jam.
5. Cnaphalocrosis medinalis (Hama Putih Palsu)
Dewasa meletakkan telur di permukaan daun dekat tulang daun. Larva makan jaringan daun, pada saat menjadi tua, larva melipat daun membentuk tabung. Pembentukan pupa terjadi di dalam bagian daun yang melipat (Ayi Kusmayadi, 1995). Hama putih palsu menyerang bagian daun tanaman padi, larva akan memakan jaringan hijau daun dari dalam lipatan daun meninggalkan permukaan bawah daun yang berwarna putih. Tanda pertama adanya infestasi adalah kehadiran ngengat di sawah. Ngengat berwarna kuning coklat, pada bagian sayap depan ada tanda pita hitam sebanyak tiga buah yang garisnya lengkap atau terputus. Pada saat beristirahat, ngengat berbentuk segitiga.
Gambar 4.16. Bentuk Imago dan Larva Cnaphalocrosis medinalis.
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 82 Cara pengendalianya yaitu tidak diperkenankan menyemprot insektisida sebelum tanaman berumur 30 hst atau 40 hari setelah sebar benih. Tanaman padi yang terserang pada fase ini, dapat pulih apabila air dan pupuk dikelola dengan baik. Atau dengan mencegah penggenangan lahan secara terus menerus dan mengeringkan sawah selama beberapa hari untuk membunuh larvanya (Anonim.2015).
6. Curvularia lunata
Menurut Loekas Soesanto dan Muljo Wachjadi (2001), terdapat 14 jenis jamur tular benih pada varietas padi gogo yang hampa, salah satunya adalah Curvularia lunata.
Jamur-jamur ini menyebabkan kegagalan tumbuh suatu benih, menjadi sumber inoculum pada masa tanam berikutnya, menghasilkan toksin selama masa penyimpanan, pembusukan, aborsi, mempengaruhi laju kenaikan respirasi, dan pembentukan asam lemak bebas, yang akan menurunkan viabilitas benih (McGee dan Christensen, 1970; Neergaard, 1977).
Gambar 4.17. Curvularia lunata pada padi
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 83 Gambar 4.18. Curvularia lunata pada Jagung
Kerajaan : Fungi
Divisio : Ascomycotina Sub-divisio : Ascomycota Kelas : Euascomycetes Ordo : Pleosporales Famili : Pleosporaceae Genus : Curvularia Spesies : Curvularia lunata
Menurut Loekas Soesanto dan Muljo Wachjadi (2001), terdapat 14 jenis jamur tular benih pada varietas padi gogo yang hampa, salah satunya adalah Curvularia lunata.
Jamur-jamur ini menyebabkan kegagalan tumbuh suatu benih, menjadi sumber inoculum pada masa tanam berikutnya, menghasilkan toksin selama masa penyimpanan, pembusukan, aborsi, mempengaruhi laju kenaikan respirasi, dan pembentukan asam lemak bebas, yang akan menurunkan viabilitas benih (McGee dan Christensen, 1970; Neergaard, 1977).
Pada jagung di Indonesia terdapat bercak daun yang disebabkan oleh jamur Curvularia spp. Bahkan di Sulawesi Selatan serangan jamur ini tergolong penyakit yang dominan, yang disebut sebagai penyakit bercak mata. Gejala pada umumnya ditemukan pada upih dan daun jagung. Mula-mula bercak berwarna kuning, kemudian menjadi
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 84 cokelat kehitaman (Semangun, 2008). Bercak terutama terdapat pada bagian bawah tanaman. Patogen jamur ini sudah kosmopolit di Indonesia.
7. Nigrospora sp.
Gambar 4.19. (a) Nigrospora sp.pada padi (b) Nigrospora sp.pada jagung
Kerajaan : Myceteae
Divisi : Amastigomycota Kelas : Deuteromycetes Ordo : Moniliales Famili : Dematiaceae Genus : Nigrospora Spesies : Nigrospora sp.
Beberapa peneliti menyebutkan bahwa cendawan Nigrospora sp. merupakan pathogen tanaman, terutama dari kelompok tanaman gramineae terutama jagung dan rumput-rumputan (Lawrie, 2011 dan Hesseltine & Bothast, 1977 dalam Andree Saylendra & Dewi Firnia, 2013). Tetapi, hasil penelitian dari Budiprakoso menunjukkan cendawan Nigrospora sp. yang diisolasi dari perakaran tanaman padi, dapat menginduksi ketahanan
tanaman padi terhadap wereng coklat, selain itu cendawan ini dapat meningkatkan perkecambahan benih padi (Andree Saylendra & Dewi Firnia, 2013).
a b
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 85 Menurut Rahma Utami Yulia (2012), Nigrospora sp. merupakan cendawan penyebab penyakit terbawa benih tanaman padi. Pada umumnya merupakan penyebab busuknya biji-biji. Konidiofornya pendek, sel-selnya agak besar, kebanyakan sederhana, konidia berwarna hitam, terdiri atas satu sel, bulat agak tumpul atau datar, terletak pada ujung konidiofor. Konidia bulat seperti bola dan hialin (Barnett, 1960).
Menurut Loekas Soesanto dan Muljo Wachjadi (2001), terdapat 14 jenis jamur tular benih pada varietas padi gogo yang hampa, salah satunya adalah Nigrospora sp.
Jamur-jamur ini menyebabkan kegagalan tumbuh suatu benih, menjadi sumber inoculum pada masa tanam berikutnya, menghasilkan toksin selama masa penyimpanan, pembusukan, aborsi, mempengaruhi laju kenaikan respirasi, dan pembentukan asam lemak bebas, yang akan menurunkan viabilitas benih (McGee dan Christensen, 1970; Neergaard, 1977).
8. Rhizoctonia solani
Gejala penyakit dimulai pada bagian pelepah daun dekat permukaan air sampai daun bendera. Bercak pertama timbul dari pelepah daun bagian bawah dan selanjutnya berkembang ke pelepah atau helai daun bagian atasnya. Pada awalnya bercak berwarna kelabu kehijau-hijauan, berbentuk oval atau elips dengan panjang 1-3 cm, pada pusat bercak warna menjadi putih keabu-abuan dengan tepi berwarna coklat. Ciri khas cendawan ini adalah tidak membentuk konidia, hifa muda tidak berwarna, hifa dewasa berwarna putih, hingga coklat kehitaman, panjang hifa 8-12 μm, memiliki septa. Hifa biasanya membentuk percabangan dengan sudut 90°. Kumpulan hifa membentuk sklerotia yang mengumpul terpusat pada satu titik dan menyebar dikoloni.
Pembentukan sklerotia dirangsang oleh faktor peningkatan suhu Tanaman inang jamur
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 86 Rhizoctonia solani sangat luas, meliputi famili Leguminoceae (kedelai, kacang tanah,
kacang hijau, kacang merah, buncis), Gramineae (padi, jagung, sorgum, terigu, rumput teki), Solanaceae (tomat, terung, kentang), Cucurbitaceae (kelompok labu), kapas, kubis, wortel, bit gula, bawang merah, krisan, dan tembakau (Semangun, 2008).
Gambar 4.20. Rhizoctonia solani pada padi
9. Fusarium oxysporum Klasifikasi
Kerajaan : Fungi
Filum : Ascomycota
Kelas : Sordariomycetes
Ordo : Hypocreales
Famili : Nectriaceae
Genus : Fusarium
Spesies : Fusarium oxysporum
Jamur Fusarium oxysporum merupakan salah satu jenis jamur yang sangat penting untuk diketahui dalam melaksanakan budidaya tanaman. Jamur jenis ini, menjadi inang
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 87 demikian banyak jenis tanaman, mulai dari tanaman yang berarti strategis sampai tanaman pagar di kebun petani. F. oxysporum mempunyai variasi spesies yang tinggi, yaitu sekitar 100 jenis dan menyebabkan kerusakan secara luas dalam waktu singkat dengan intensitas serangan mencapai 35% (Sudantha,2009). Jamur F. oxysporum adalah salah satu jenis patogen tular tanah yang mematikan, karena patogen ini mempunyai strain yang dapat dorman selama 30 (tiga puluh) tahun sebelum melanjutkan virulensi dan menginfeksi tanaman.
Di Indonesia penyakit layu sudah lama dikenal. Gejala pertama dari penyakit ini adalah menjadi pucatnya tulang-tulang daun, terutama daun-daun sebelah atas, kemudian diikuti dengan merunduknya tangkai, dan akhirnya tanaman menjadi layu secara keseluruhan. Kadang-kadang kelayuan didahului dengan menguningnya daun, terutama daun-daun sebelah bawah. Tanaman menjadi kerdil dan merana tumbuhnya. Pada tanaman yang masih sangat muda, penyakit dapat menyebabkan matinya tanaman secara mendadak. Sedangkan apabila tanaman dewasa yang terinfeksi sering dapat bertahan terus dan membentuk buah, tetapi hasilnya sangat sedikit dan buahnya pun kecil-kecil
Gambar 4.21. Fusarium oxysporum
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 88 10. Colletotrichum capsici
Cendawan ini mempunyai banyak aservulus, tersebar, dibawah kutikula atau pada permukaan, garis tengahnya sampai 100 ,hitam dengan banyak seta. Seta coklat tua, bersekat, kaku, meruncing ke atas, 75- 100 x 2-6,2 . Konidium hialin, berbentuk tabung (silindris), 18,6- 25,0 x 3,5-5,3 , ujung-ujungnya tumpul, atau bengkok seperti sabit.
Cendawan ini membentuk banyak sklerotium dalam jaringan tanaman sakit atau dalam medium biakan. Foto aservulus dan konidia dari cendawan ini dapat dilihat pada Gambar di bawah ini
Gambar 4.22. Colletotrichum capsici pada tanaman cabe
11. Leptocorisa oratorius
Gambar 4.23. Leptocorisa oratorius
Antena lebih panjang dari kepala. Kepala lebih pendek dan lebih sempit dari pronotum. Memiliki ocelli. Memiliki membran sayap depan dengan banyak vena. Tarsal
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 89 claw berpaut pada bagian ujung tarsus dan ruas terakhir tarsus tidak terbelah. Memiliki kelenjar bau yang bermuara di atas coxa tengah dan belakang dan biasanya berwarna gelap.
12. Scirpophaga innotata
Proboscis (struktur mulut yang memanjang) tidak ada. Memiliki sayap kecil yang berwarna putih. Memiliki ocelli. Panjang betina 13 mm, sedangkan panjang jantan 11 mm.
Tertarik pada cahaya. Foto imago serangga ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 4.24. Scirpophaga innotata 13. Bactrocera musae
Lalat buah Bactrocera musae merupakan jenis OPTK A2 dengan daerah sebar Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Memiliki kisaran tanaman inang yaitu pisang, pepaya, dan jambu biji. Spesies ini terperangkap pada feromom Methyl Eugenol (ME).
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 90 Gambar 4.25. Morfologi Bactrocera musae
Bactrocera musae merupakan spesies lalat buah berukuran sedang, warna dominan
oranye sampai hitam, facial spot berukuran sedang (Gambar 4.25b), mesopleural stripe mencapai atau mendekati pertengahan dari anterior notopleuron, sayap dengan pola costal band coklat kemerahan yang tipis pada apeks dan anal streak(Gambar 4.25c), mikrotricia hanya terdapat pada sudut second costal. Memiliki warna skutelum kuning dengan band yang tipis pada bagian basal (gambar 4.25d), abdomen terga III-V dengan fariasi keseluruhannya orange kecoklatan atau orange dengan medial longitudinal hitam kemerahan atau hampir hitam dan anterolateral hitam kemerahan dibagian pinggir terga III (gambar 4.25e).
14. Bactrocera bryoniae
Spesies ini merupakan OPTK A2 dengan daerah sebar di Pulau Kalimantan, Maluku Utara, Papua. Terperangkap pada feromon Culure (CU), dengan tanaman inang mangga, markisa, pisang, dan cabai.
LAPORAN TAHUNAN SKP KELAS II MANOKWARI 2018 91 Gambar 4.26. Morfologi lalat buah Bactrocera bryoniae.
Morfologi spesies B. bryoniae antar lain terdapat spot berbentuk sirkular yang tidak beraturan (Gambar 4.26a), Prosponotum lobe dan notopleuron kuning, skitum hitam, mesopleural stripe sedikit lebih lebar daripada notopleuron, lateral postsutural yellow vittae berhenti tepat pada intra alar (Gambar 4.26b), sayap dengan costal band dan cubital streak yang berwarna coklat-kemerahan, sayap dengan costal band yang confluent atau overlapping di sepanjang R4 + R5 (Gambar 4.26c). Pada abdomen terga III –V coklat orange dengan satu medial dan dua lateral longitudinal band yang gelap sepanjang bagian anterior terga III hingga menutupi bagian lateral sampai terga V (Gambar 4.26d).
Morfologi spesies B. bryoniae antar lain terdapat spot berbentuk sirkular yang tidak beraturan (Gambar 4.26a), Prosponotum lobe dan notopleuron kuning, skitum hitam, mesopleural stripe sedikit lebih lebar daripada notopleuron, lateral postsutural yellow vittae berhenti tepat pada intra alar (Gambar 4.26b), sayap dengan costal band dan cubital streak yang berwarna coklat-kemerahan, sayap dengan costal band yang confluent atau overlapping di sepanjang R4 + R5 (Gambar 4.26c). Pada abdomen terga III –V coklat orange dengan satu medial dan dua lateral longitudinal band yang gelap sepanjang bagian anterior terga III hingga menutupi bagian lateral sampai terga V (Gambar 4.26d).