• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dongeng dalam Perpustakaan: Media Lisan dan Membaca

Dalam dokumen Ilmu Informasi, Perpustakaan, dan Kearsipan (Halaman 56-60)

PERKEMBANGAN BUDAYA LISAN DAN BACA-TULIS MENUJU MASYARAKAT INFORMASI INDONESIA

5. Dongeng dalam Perpustakaan: Media Lisan dan Membaca

Banyak hambatan yang dihadapi oleh pemerintah dan pihak lainnya untuk mengubah masyarakat Indonesia yang kelisananannya masih kental dan secara sporadis berubah menjadi masyarakat yang giat menulis dan membaca. Banyak hal yang menjadi pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan budaya baca-tulis, tidak hanya meningkatkan angka persentase program pemberantasan buta huruf, tetapi juga memperhatikan pengembangan perpustakaan-perpustakaan umum. Apabila Indonesia ingin mewujudkan masyarakat informasi, budaya baca-tulis merupakan suatu langkah paling awal dalam merintis masyarakat tersebut. Hal ini dikarenakan dalam masyarakat informasi, seluruh masyarakat perlu menyadari pentingnya informasi dan ilmu pengetahuan serta mengetahui bagaimana cara mengelola dan memanfaatkan informasi-informasi yang mereka dapatkan. Salah satu sarana yang dapat digunakan untuk meningkatkan budaya baca- tulis ini adalah perpustakaan.

Perpustakaan merupakan agen pengubah sebuah masyarakat. Agen pengubah ini akan berhasil jika ia pun berhasil dalam mengelola dirinya sendiri. Banyak perpustakaan, khususnya perpustakaan umum daerah yang isi koleksi mereka tidak sesuai dengan kebutuhan dari masyarakat sekitarnya. Lokasi perpustakaan juga menjadi faktor besar yang menentukan masyarakat untuk datang. Salah satu contohnya

yaitu salah satu perpustakaan umum daerah di Jakarta yang posisi bangunannya tidak strategis sebab berada di belakang sekolah dan akses ke perpustakaan tersebut yang kurang baik.

Bandingkan dengan perpustakaan-perpustakaan di luar negeri yang sangat mudah diakses oleh penggunanya serta nyaman untuk digunakan, bahkan siswa-siswi lebih memilih perpustakaan untuk mengerjakan tugas-tugas akhir mereka dibandingkan mengerjakan di rumah masing- masing. Di kota London, Inggris, perpustakaan tidak hanya menjadi gudang buku tetapi menjadi pusat kegiatan masyarakat. Salah satu perpustakaan lokal disana bahkan menjadikan

tempat mereka sebagai “nursery” atau “day care” (penitipan anak) pada hari-hari tertentu dan memanjakan pengunjung kecil mereka dengan bacaan yang menghibur dan juga menyediakan mainan-mainan bagi mereka. Bahkan ada salah satu perpustakaan umum di London ditutup karena adanya kerusakan fatal pada bangunan disebabkan oleh hujan yang terus-menerus dan banyak diprotes oleh masyarakat sekitar sebab mereka kehilangan tempat untuk membaca (Your Local Guardian, 2012). Salah satu komentar dari penduduk di sekitar perpustakaan yaitu sebagai berikut “I can’t get about very well and I’ve had to go to charity shop to get my books. The library is a vital service for elderly people – if it didn’t

reopen I wouldn’t know what to do”. Dari

pernyataan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa tidak hanya kaum muda, namun kaum senior juga senang berada di dalam perpustakaan karena mereka mendapatkan buku-buku yang mereka butuhkan. Selain itu menunjukan bahwa perpustakaan dan membaca telah menjadi media hiburan bagi mereka. Alangkah sempurnanya bila perpustakaan menjadi hal yang penting bagi masyarakat Indonesia seperti yang dilakukan oleh masyarakat London.

Dengan tingginya intensitas penyelenggaraan story telling atau mendongeng di perpustakaan- perpustakaan di Jakarta diharapkan bahwa kepeduliaan masyarakat untuk berkunjung dan memanfaatkan perpustakaan akan meningkat. Program dongeng ini secara tidak langsung

merupakan budaya lisan tetapi dapat mendorong minat baca masyarakat khususnya anak-anak kecil. Selain ada mediator yang menyuguhkan dongeng, dilakukan pula lomba mendongeng yang mendorong mereka untuk menceritakan kembali isi buku cerita yang mereka sukai. Program mendongeng ini juga merupakan promosi untuk mengenalkan perpustakaan kepada masyarakat Indonesia, khususnya untuk masyarakat kota besar dan dapat dijadikan pilihan rekreasi alternatif. Program mendongeng ini juga tidak terbatas di perpustakaan saja tetapi juga dilakukan di sekolah.

Taman bermain di daerah Tangerang, setiap hari

Jum’at memberlakukan program Library Time, dimana siswa-siswi diminta untuk memilih satu bahan bacaan untuk dibacakan oleh guru. Dengan adanya program ini maka akan merangsang kepedulian anak-anak terhadap membaca. Pada saat mereka sudah dapat membaca, maka mereka akan termotivasi untuk mengetahui lebih lanjut mengenai isi sebuah buku. Ketika ditanya kepada sang guru apakah para murid antusias dalam program ini, si ibu guru ini menjawab bahwa sebagian besar senang mendengarkan cerita dari buku yang dibacakan. Program seperti ini tidak hanya merangsang minat baca tetapi juga meningkatkan daya tangkap serta konsentrasi anak kecil. Dengan program mendongeng ini dapat terlihat bahwa perkembangan budaya lisan dan budaya membaca bisa selaras. Perpustakaan dan sekolah sebenarnya telah menerapkan kedua budaya tersebut, namun memang yang lebih menonjol adalah budaya meningkatkan minat baca, padahal sebenarnya budaya lisan juga terselip dalam program tersebut. Mendongeng atau story telling dapat dijadikan sebagai media promosi dan sosialisasi cerita rakyat tradisional maupun mengenai pesan-pesan moral seperti bahaya merokok, sosialisasi tata lalu lintas atau bahkan pelajaran seks untuk anak-anak dan lainnya dapat dikemas secara menarik dan kreatif, yang mungkin saja sulit untuk dicerna jika diberikan secara tertulis.

Salah satu contoh dari budaya lisan adalah dongeng. Mendongeng merupakan hal yang paling mudah dan paling populer di masyarakat. Mendongeng tidak selalu dapat dilakukan secara tradisional tetapi juga dapat dilakukan dengan menggunakan sarana-sarana seperti papan tulis seperti yang dilakukan oleh Pak Raden, dengan dilatari alunan musik seperti yang dilakukan oleh Syukri Ramzan atau bahkan menggunakan puppet atau boneka seperti Ria Enes. Wayang kulit juga merupakan salah satu cara mendongeng tradisional yang menggunakan alat. Dalam Buku, Mendongeng dan Minat Baca karya Murti Bunanta (2004) dikatakan bahwa mendongeng sendiri sebenarnya memiliki beberapa jenis yaitu dongeng gambar (drawing stories) pada kebudayaan Walbiri dan Ananda (masyarakat asli Australia) dan suku bangsa Inuit (Eskimo), Jepang; dongeng tali ditemukan pada kebudayaan Inca dan beberapa wilayah Pasifik dan Afrika dan dongeng dengan sapu tangan yang dilakukan oleh masyarakat Belanda (Pellowski, 1984, 1993 dalam Bunanta, 2004). Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa mendongeng merupakan aktivitas yang telah dilakukan secara global oleh seluruh masyarakat di dunia. Hal ini dapat menjadi bukti bahwa budaya lisan tidak hanya berkembang di masyarakat Indonesia saja melainkan juga terdapat di negara lain.

Untuk mempertahankan budaya lisan, sekaligus meningkatkan budaya baca-tulis di Indonesia dapat digunakan metode mendongeng. Program mendongeng dapat dilakukan di banyak tempat seperti di perpustakaan, sekolah, pusat perbelanjaan bahkan rumah sakit. Program ini perlu mendapat perhatiaan banyak pihak, tidak hanya pemerhati anak, pengelola perpustakaan, orang tua tetapi pemerintah serta masyarakat luas perlu ikut andil dalam mempopulerkan serta mengembangkan program-program lainnya yang dapat mendukung peningkatan minat baca dan pelestarian budaya lisan Indonesia.

6. Kesimpulan

Perkembangan budaya lisan ke budaya baca-tulis di Indonesia dikarenakan adanya kesadaran dari masyarakat untuk melestarikan informasi yang

mereka miliki. Sedangkan dalam kaitannya dengan masyarakat informasi, faktor paling dominan yang menyebabkannya adalah faktor pekembangan teknologi dan pemanfaatannya. Perkembangan serta perubahan ini tidak dilakukan secara radikal melainkan secara perlahan sebab masyarakat perlu belajar dan memahami setiap kebudayaan baru yang hadir. Tulisan merupakan teknologi yang merubah peradaban dunia, tanpa adanya tulisan maka tidak akan ada perkembangan-perkembangan di bidang ilmu pengetahuan seperti saat ini. Oleh sebab itu, tulisan dapat dianggap sebagai cikal bakal terbentuknya masyarakat informasi. Di dalam masyarakat informasi, peran teknologi informasi dan komunikasi menjadi faktor utama sehingga individu atau kelompok yang memiliki informasi maka akan mudah mendominasi atau berkuasa. Walaupun masyarakat informasi belum terbentuk di Indonesia, akan tetapi dapat berkembang tidak hanya melihat dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saja, melainkan juga dapat berkembang dari budaya dan tradisi Indonesia. Banyaknya anggapan positif yang diberikan kepada budaya baca-tulis menyebabkan budaya lisan seolah-olah menjadi hal yang berdampak negatif bagi masyarakat Indonesia. Gagasan- gagasan untuk meningkatkan budaya baca-tulis lebih sering ditonjolkan dibandingkan untuk mempopulerkan tradisi lisan. Apabila budaya baca-tulis selalu dianggungkan akan berdampak pula dengan melemahnya pemaknaan pada budaya lisan di masyarakat. Lemahnya kepedulian mengenai dongeng cerita rakyat dalam tradisi lisan dapat menyebabkan generasi penerus akan kehilangan jati diri mereka. Dalam Bunanta (2004) disebutkan bahwa di Thailand ada usaha-usaha yang dilakukan untuk mempopulerkan dan mengenalkan kembali bahasa-bahasa yang hampir punah dengan metode mendongeng. Sedangkan di Indonesia budaya lisan dikesampingkan dibanding budaya baca-tulis. Budaya lisan tidak selalu membawa efek negatif dalam masyarakat, budaya lisan memiliki informasi yang memiliki nilai sejarah, religi, adat yang tidak kalah pentingnya dibanding budaya tulis-menulis. Hanya cara

pengelolaan informasi yang membuat keduanya berbeda.

Mendongeng bukanlah satu-satunya cara yang digunakan untuk melestarikan budaya lisan Indonesia, oral tradition preservation perlu dilakukan dan disosialisasikan sebab ada beberapa hal yang tidak dapat ditulis secara mendetail dan perlu media lain untuk mengorganisasikan hal-hal yang tidak dapat dilukiskan dalam kata-kata seperti kegiatan adat, lantunan musik dan sebagainya. Untuk itu, tetap mendukung budaya lisan dan budaya baca-tulis adalah solusi yang bijak, dibandingkan memilih salah satunya. Bukanlah tidak mungkin dalam masyarakat informasi Indonesia nantinya terwujud tidak hanya disebabkan oleh perkembangan serta pemanfaatan teknologi, informasi dan komunikasi saja, tetapi juga berasal dari perkembangan budaya lisan dan baca-tulis di tanah air.

7. Daftar Acuan

Bunanta, Murti. (2004). Buku, mendongeng dan minat membaca. Jakarta: Pustaka Tangga.

Christiani, Lydia. Proyeksi teori public sphere terhadap peranan perpustakaan umum dalam masyarakat informasi. Jurnal Ilmu Informasi, Perpustakaan, dan Kearsipan Vol. 9 No. 1, April 2012, p. 5-10.

Detik-inet. (24 Maret 2014). 73% Masyarakat Indonesia Buta Internet. http://.m-

detik.com/inet/read/2014/03/24/154003/2534887/328 /73-masyarakat-indonesia-buta-internet . Diakses 25 Maret 2014.

Harian Pelita. (12 November 2011). TBM membangun budaya baca.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (11 Juli 2012).

Dalam penuntasan tuna aksara unesco puji prestasi Indonesia.

http://www.paudni.kemendikbud.go.id/bindikmas/arti kel/dalam-penuntasan-tuna-aksara-unesco-puji- prestasi-indonesia. Diakses 3 November 2013.

Koran Tempo. (9 September 2011). Refleksi hari aksara: menggelorakan budaya baca.

Laksmi, Fuad Gani dan Budiantoro. (2007). Manajemen perkantoran modern. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.

MPSS, Pudentia (Ed.). (1998). Metodologi kajian tradisi lisan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan.

Ong, Walter J. (2004). Kelisanan dan keaksaraan: teknologi kata. Pasuruan: Pedati.

Pendit, Putu Laxman. (2007). Mata membaca kata bersama. Jakarta: Cita Karyakarsa Mandiri. Primadesi, Yona. (2012). Preserving of information value

in oral tradition of Minangkabau society, West Sumatra, Indonesia. Makalah Tidak Diterbitkan. Rahadi, F. (1999). Mari ubah tradisi lisan jadi budaya

tulis.

http://www.frahadi.wordpress.com/2013/04/17/mari- ubah-tradsi-lisan-jadi-budaya-tulis-2/. Diakses 3 November 2013.

Rahmana, Siti. (2012). Tradisi lisan: aktualisasi, eksistensi dan transformasi, hasil budaya masa lampau. http://www.tempo-institute.org/tradisi-lisan- aktualisasi-eksistensi-transformasi-hasil-budaya- masa-lampau. Diakses 15 Oktober 2013.

Riady, Yasir. (2010). Mewujudkan masyarakat informasi Indonesia: dampak sosial, konsekuensi, dan

kemungkinan.http://www2.ukdw.ac.id/kuliah/si/.../mo dul4.pdf. Diakses 22 November 2013.

Tempo. (26 Mei 2011). Penyebab anak malas membaca. http://m.tempo/read/news/2011/05/26/060336985/pen yebab-anak-malas-membaca. Diakses 10 November 2013.

Widiawati, Harifiyah. (2002). Regulasi memori dalam pengarsipan: rekonstruksi sejarah. Wacana Vol. 4 No. 2, p. 162-172.

Your Local Guardian. (17 Januari 2012). Fears West Norwood library will be permanently closed. http://www.yourlocalguardian.co.uk/news/topstories/ 9474903.Fears_library_will_be_permanently_closed/. Diakses 5 November 2013.

Persyaratan Penulisan Artikel Jurnal Informasi, Perpustakaan, dan

Dalam dokumen Ilmu Informasi, Perpustakaan, dan Kearsipan (Halaman 56-60)

Dokumen terkait