PRIORITAS DALAM PERKARA YANG DILARANG
DOSA-DOSA BESAR
Setelah kekufuran dan berbagai tingkatannya, maka di bawahnya ada kemaksiatan, yang terbagi menjadi dosa-dosa besar, dan dosa-dosa kecil. Dosa besar ialah dosa yang sangat berbahaya, yang dapat menimbulkan kemurkaan, laknat Allah, dan neraka Jahanam. Orang yang melakukannya kadang-kadang harus dikenai hukum had di dunia ini.
Para ulama berselisih pendapat dalam memberikan batasan terhadap dosa besar ini. Barangkali yang paling dekat ialah kemaksiatan yang pelakunya dapat dikenakan had di dunia, dan diancam dengan ancaman yang berat di akhirat kelak, seperti masuk neraka, tidak boleh memasuki surga, atau mendapatkan kemurkaan dan laknat Allah SWT. Itulah hal-hal yang menunjukkan besarnya dosa itu.
Ada pula nash-nash agama yang menyebutkan batasannya secara pasti dan
mengatakannya ada tujuh 22 macam dosa besar setelah kemusyrikan; yaitu: Membunuh orang yang diharamkan oleh Allah untuk membunuhnya kecuali dengan alasan yang benar; sihir; memakan riba; memakan harta anak yatim; menuduh perempuan mukmin melakukan zina; melakukan desersi dalam peperangan. Sedangkan hadits-hadits shahih lainnya menyebutkan: Menyakiti kedua hati orang tua, memutuskan tali silaturahim, menyatakan kesaksian yang palsu, bersumpah bohong, meminum
khamar, berzina, melakukan homoseksual, bunuh diri, merampok, mempergunakan barang orang lain secara tidak benar, mengeksploitasi orang lain, menyogok, dan meramal.
Termasuk dalam kategori dosa besar ini ialah meninggalkan perkara-perkara fardu yang mendasar, seperti: meninggalkan shalat, tidak membayar zakat, berbuka tanpa alasan di bulan Ramadhan, dan tidak mau melaksanakan ibadah haji bagi orang yang memiliki kemampuan untuk pergi ke tanah suci.
Bahan Tarbiyyah Online – Mendidik Jiwa Muslim 134
Dosa-dosa besar yang disebutkan oleh pelbagai hadits banyak sekali macamnya. Oleh karena itu, benarlah apa yang dikatakan oleh hadits, "Tidakkah telah saya beritahukan kepada kamu semua mengenai dosa-dosa besar?"23 Kemudian beliau menyebutkan berbagai dosa besar setelah kemusyrikan: menyakiti hati kedua orangtua, dan mengucapkan persaksian yang palsu.
Dalam sebuah hadits shahih dikatakan bahwa Nabi saw bersabda.
"Sesungguhnya, yang termasuk salah satu dosa besar ialah orang yang melaknat kedua orang tuanya." Kemudian ada seorang sahabat yang bertanya: "Bagaimana mungkin seseorang dapat melaknat kedua orang tuanya?" Nabi saw menjawab, "Seorang lelaki, mencela ayah seorang lelaki, yang lainnya, kemudian lelaki yang ayahnya dicela itu mencela ayah orang yang mencelanya, dan mencela ibunya."24
Yakni orang yang ayahnya dicela itu, kemudian membalasnya dengan mencela ayah dan ibunya.
Hadits Nabi saw menganggap bahwa pencelaan terhadap kedua orangtua secara tidak langsung termasuk salah satu jenis dosa besar, dan bukan hanya termasuk sesuatu yang diharamkan; lalu bagaimana halnya dengan orang yang langsung mencela dan menyakiti hati kedua orangtuanya? Bagaimana halnya dengan orang yang langsung menyiksa dan memukul kedua orang tuanya?
Bagaimana pula dengan orang yang membuat kehidupan mereka bagaikan neraka jahim karena kekerasan dan perbuatan yang menyakitkan hati?
Syariah agama ini telah membedakan antara kemaksiatan yang didorong oleh suatu kelemahan dan kemaksiatan yang didorong oleh kezaliman. yang pertama ialah bagaikan zina, dan yang kedua ialah bagaikan riba. Dari riba adalah dosa yang paling berat di sisi Allah SWT, sehingga al-Qur'an tidak pernah mengatakan sesuatu maksiat sebagaimana yang dikatakannya dalam hal riba:
"... dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang- orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu ..." (al-Baqarah: 278-279)
Rasulullah saw yang mulia melaknat orang yang memakan riba, orang yang menyuruh orang lain memakan riba, penulisnya, dan kedua saksi atas perbuatan riba itu, sambil bersabda,
"Satu dirham riba yang dimakan oleh seorang lelaki dan dia mengetahui, maka hal itu lebih berat daripada tiga puluh enam kali berzina."25
Dan beliau membagi riba menjadi tujuh puluh macam, atau tujuhpuluh dua atau tujuh puluh tiga macam. Yang paling rendah dari berbagai macam bentuk itu ialah seorang lelaki yang menikahi ibunya.26
Bahan Tarbiyyah Online – Mendidik Jiwa Muslim 135
Catatan Kaki:
3 Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, Nasai, Ibn Hibban, dan Hakim dari Buraidah, sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir (4143)
4 Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibn Majah dari Jabir, ibid., (2848)
5 Lihatlah hadits~hadits ini dalam al-Mughni, 3:356; yang ditahqiq oleh Dr. Taraki dan Dr. Halwa.
6 Muttafaq 'Alaih dari Ibn Mas'ud, al-Lu'lu' wa al-Marjan (43) 7 Muttafaq 'Alaih dari Ibn Umar, ibid., 39
8 Lihat al-Mughni, 3:351-359
9 Diriwayatkan oleh Ahmad, dan Muslim dari Abu Hurairah r.a. (Shahih al-Jami' as-Shaghir: 138).
10 Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3904); Tirmidzi (135); dan Ibn Majah (939). 11 Diriwayatkan oleh Ahmad, Hakim, dari Abu Hurairah r.a. (Shahih al-Jami' as-Shaghir).
12 Muttafaq 'Alaih dari Jarir dan Ibn Umar, sebagaimana disebutkan dalam al-Lu'lu'wal-Marjan (44) dan (45).
13 Lihat rincian yang berkaitan dengan masalah ini dalam fatwa- fatwa yang terperinci dalam buku kami yang berjudul, Fatawa Mu'ashirah, juz 2, bagian Fatwa: al-Hukm bi ghair ma Anzala Allah.
14 Lihat Madarij as-Salikin, 1: 335-337 15 Surat as-Syu'ara', 97-98
16 Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim dari Ibn Umar (Shahih al-Jami' as-Shaghir, 8462)
17 Lihat Madarij as-Salikin, 1:344-346.
18 Muttafaq 'Alaih, dari Abdullah bin Umar; al-Lu'lu' wal-Marjan (37). 19 Muttafaq 'Alaih, dari Abu Hurairah r.a., ibid., (38).
20 Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a. dalam kitab al-Iman, 109, 110. 21 Madarij al-Salikin, 1: 358
Bahan Tarbiyyah Online – Mendidik Jiwa Muslim 136
22 Lihat makalah kami yang membahas tentang kemurtadan dan cara mengatasinya dalam masyarakat Islam; di dalam buku kami yang berjudul Malaamih Majtama' al-Muslim al-ladzi, Nansyuduh, bagian al-'Aqidah wa al-Iman, penerbit Maktabah Wahbah, Kairo.
23 Ada riwayat dari Abu Hurairah r.a. dalam as-Shahihain dan lain-lain, yang
mengisyaratkan tentang 41 dosa besar ini, yaitu hadits: "Jauhilah tujuh macam dosa besar (atau hal-hal yang dapat membinasakan)." Al-Lu'lu' wa al-Marjan (56).
24 Hadits Abu Bakar, yang diriwayatkan oleh Muttafaq 'Alaih; al-Lu'lu' wa al-Marjan (54).
25 Diriwayatkan oleh Ahmad, Thabrani dari Abdullah bin Hanzhalah, sebagaimane disebutkan dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir.
26 Diriwayatkan oleh Thabrani dari al-Barra'; al-Hakim dari Ibn Mas'ud; Ibn Majah dari Abu Hurairah r.a. sebagaimanadisebutkan dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir (3537) (3539) dan (3541)