Hubungan antara peluang timbulnya efek biologi tertentu akibat penerimaan dosis ekivalen pada suatu jaringan juga bergantung pada organ atau jaringan yang tersinari. Untuk menunjukkan keefektifan radiasi dalam menimbulkan efek tertentu pada suatu organ diperlukan besaran baru yang disebut besaran dosis efektif. Besaran ini merupakan penurunan dari besaran dosis ekivalen yang dibobot. Faktor pembobot dosis ekivalen untuk organ T disebut faktor bobot jaringan, wT. Nilai wT dipilih agar setiap dosis ekivalen yang diterima seragam di seluruh tubuh menghasilkan dosis efektif yang nilainya sama dengan dosis ekivalen yang seragam itu. Jumlah faktor bobot jaringan untuk seluruh tubuh sama dengan satu.
Dosis efektif dalam organ T, HE yang menerima penyinaran radiasi dengan dosis ekivalen HT ditentukan melalui persamaan :
HE = wT . HT
ICRP melalui Publikasi ICRP Nomor 60 Tahun 1990 menetapkan nilai wT yang dikembangkan dengan menggunakan manusia acuan dengan jumlah yang sama untuk setiap jenis kelamin dan mencakup rentang umur yang cukup lebar.
4. Paparan
Paparan pada mulanya merupakan besaran untuk menyatakan intensitas sinar-X yang dapat menghasilkan ionisasi di udara dalam jumlah tertentu. Berdasarkan difinisi tersebut, maka paparan (X) dapat dirumuskan dengan :
X = dQ / dm
dengan dQ adalah jumlah muatan elektron yang timbul sebagai akibat interaksi antara foton dengan atom-atom udara dalam volume udara bermassa dm. Besaran paparan ini mempunyai satuan Coulomb per kilogram-udara (C.kg-1) dan diberi nama khusus Roentgen, disingkat R.
Satuan Roentgen semula hanya berlaku untuk sinar-X. Namun pada tahun 1937 satuan ini didifinisikan ulang sehingga berlaku juga untuk sinar-g. Pengertian baru dari Roentgen ini adalah bahwa : 1 R merupakan kuantitas radiasi sinar-X atau sinar-x yang menghasilkan 1 esu ion positif atau negatif di dalam 1 cm3 udara
∆x ∆t
normal (NPT). Dari difinisi baru tersebut, energi sinar-X atau sinar-gyang terserap di dalam 1 gram udara dapat menjadi :
1 R = 87,7 (erg/gr) = 0,00877 (J/kg) satuannya adalah roentgen atau R 1 Roentgen (R) = 2,58 x 10-4 Coulomb/Kg Udara
1 Roentgen (R) = 1,610 x 10-12 Pasangan ion/gr udara. 1. Kecepatan Pemaparan
Kecepatan pemaparan (ER) adalah besar pemaparan persatua waktu. Satuannya adalah R/Jam
ER =
ER = Kecepatan pemaparan (R/jam)
∆x = Pemaparan (R) 2. Dosis Serap
Adosis serap (D) adalah energi rata-rata yang diberikan oleh radiasi pengion sebesar dE kepada bahan yang dilaluinya dengan massa dm. Satuan yang digunakan sebelumnya adalah rad. Satu rad adalah energi rata-rata sebesar 100erg yang diserap bahan dengan massa 1 gram yang didefenisikan sebagai : 1 rad : 100 erg/gr
1gray (Gy) : 100 rad
Satuan dosis erap dalam SI adalah Joule/Kg atau sama dengan gray (Gy). Satu gray adalah dosis radiasi yang diserap dalam satu joule per kilogram.
1 gray (Gy) = 1 joule/Kg 3. Laju Dosis Serap
Adalah dosis serap persatuan waktu.satuan laju dosis serap dalam SI adalah joule/KG.Jam atau gray/jam (GY/jam) dan dalam satuan lama adalah rad/jam. 4. Distribusi Dosis Kedalaman
Distribusi dilakukan pada pasien, dosis yang di serap akan bervariasi sesuai dengan keadaaan,variasi ini bergantug pada banyak nya kondisi seperti ; sinar, keadaan, luas lapngan, jark dari sumber dan sistem kolimasi sinar.demikian juga kalkulasi dosis pada pasien melibatkan pertimbangan dalam perhatian parameter-parameter dan efek-efek lain pada distribusi dosis kedalaman.
Dd
Dma
Dd
PDD
5. Persentase dosis kedalaman
Jumlah radiasi yang diserap oleh badan atau jaringan disebut dosis serap dan banyaknya radiasi yang diserap oleh badan atau jaringan pada suatu kedalaman tertentu disebut persentse dosis kedalaman (PPD).
Persentase dosis kedalaman adalah hasil bagi dari dosis serap pada suatu kedalaman tertentu (Dd) dengan dosis serap pada suatu kedalaman tertentu dengan dosis serap pada kedalaman maksimum (Dmax) yang dinyatakan dalam perentasi dengan rumus :
PPD = x 100%
Dimana : Dd = dosis serap pada suatu kedalaman Dmax = dosis serap pada kedalaman maksimum.
Persentase dosis kedalam dipengaruhi oleh energi, luas lapangan, SSD daan komposisi medium yang diradiasi. Dalam praktek klinik puncak dosis serap pada sumbu utama disebut juga dosis maksimum. Dosis maksimum dari dosis yang diberikan atau dapat dirumuskan sebagai berikut :
Dmax = x 100%
Distribusi dosis pada sumbu utama dalam pasien atau fantom yang dikenal sebagai PDD di normalisasikn dengan dosis maksimum (Dmax) = 100% yakni, dosis pada kedalaman maksimum (dmax).
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang
Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa karbon dioksida dari jaringan tubuh ke paru-paru.Kadar hemoglobin dapat dipakai salah satu indicator penurunan status gizi seseorang. Molekul hemoglobin terdiri dari globin, dengan satu atom besi. apoprotein dan empat gugus heme, suatu moleku organik (Kurniada,2009). Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah berwarnah merah.
Hemoglobin atau Hb merupakan gabungan dari 2 kata yaitu heme (besi) dan globin (protein).warna darah di sebabkan karena adanya hemoglobin. Kadar Hb dalam darah manusia dewasa, pria : 13 – 18 g/dl, wanita 12 – 16 g/dl keadaan dimana kadar Hb kurang dari nilai normal disebut sebagai anemia.Kadar hemoglobin pada pasien karsinoma nasofaring sebelum dan sesudah mendapat radioterapi hal ini akan berpengaruh juga pada asupan makan dan gizi pasien yang mendapat radioterapi penelitian pengaruh penyinaran radioterapi terhadap pasien karsinoma nasofaring dapat mengetahui sejauh mana radioterapi berefek pada kadar hemoglobin pasien. Penelitian lebih lanjut akan mengarah pada kadar hemoglobin pada pasien karsinoma nasofaring sebelum dan sesudah radioterapi. (Hilman,2005).
Radioterapi merupakan pengobatan penyakit dengan radiasi pingion atau disebut juga penyinaran dan dipilih sebagai salah satu metode pengobatan pada pasien karsinoma nasofaring. Radioterapi dapat mengakibatkan penurunan status gizi pada pasien kanker nasofaring, penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya analisis efek perubahan jumlah hemoglobin (HB) pasien radioterapi. Dimana karsinoma nasofaring termasuk dalam lima besar tumor ganas dengan frekwensi tertinggi sedangkan di daerah Rosenmuller pada nasofaring yang merupakan daerah trassisional dimana epitelkuboid berubah menjadi epitel skuamosa. Penanggulangan karsinoma nasofaring sampai saat ini masih merupakan suatu problem,hal ini karena etiologi yang masih belum pasti, gejala
dini yang tidak khas serta letak nasofaring yang tersembuyi, sehinggah diagnosis sering terlambat.
Pada stadium dini radioterapi masih merupakan pengobatan pilihan yang dapat diberikan secarah tunggal dan memberikan angka kesembuahan yang cukup tinggi. Pada stadium lanjut, diperlukan terapi tambahan kemoterapi yang dikombinasi dengan radioterapi.oleh karena itu diagnose dini merupakan salah satu tindakan yang di lakukan untuk mengetahui lebih awal dan bagaimana penanggulangannya.( Demizu,2006).
Limfosit adalah jenis sel darah putih, yang merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh. Limfosit dapat mempertahankan tubuh terhadap infeksi karena mereka bisa membedakan sel-sel tubuh sendiri dari sel-sel asing. Setelah mereka mengenali bahan asing dalam tubuh, mereka memproduksi bahan kimia untuk menghancurkan sel asing terebut.Sebuah diagram yang menunjukkan berbagai jenis sel darah putih, termasuk limfosit. Ada dua jenis limfosit yang diproduksi di sumsum tulang sebelum kelahiran. Limfosit B, juga disebut sel B, ada di dalam sumsum tulang sampai mereka dewasa. Setelah matang, mereka menyebar ke seluruh tubuh dan berkonsentrasi dalam limpa dan kelenjar getah bening. Limfosit T, atau sel T, meninggalkan sumsum tulang dan matang dalam timus, kelenjar yang ditemukan didada dan Hanya limfosit dewasa dapat melakukan respon imun. Semua limfosit mampu memproduksi bahan kimia untuk melawan molekul asing. Setiap molekul yang di deteksi oleh tubuh sebagai benda asing disebut antigen. setiap limfosit, apakah B atau T, spesifik hanya untuk satu jenis antigen.
1.2 Perumusan Masalah
Bagaimana analisis pengaruh radiotrapi pada karsinoma nasofaring terhadap nilai hemoglobin dan limfosit.
1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan :
1. Untuk mengetahui dosis penyinaran pada pasien karsinoma nasofaring.
2. Untuk mengetahui efek pemberian dosis radioterapi terhadap hemoglobin dan limfosit pada penderita karsinoma nasofaring.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Dapat memberikan informasi bahwa penyinaran radioterapi dapat mempengaruhi nilai hemoglobin dan limfosit.
2. Untuk meningkatkan kesadaran pasien tentang faktor resiko terjadinya karsinoma nasofaring.
3. Data atau informasi hasil penelitian ini dapat di manfaatkan oleh pasien karena hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai eduksi pada pasien tentang penyakit ini agar dapat berobat lebih awal.
4. Dapat di gunakan sebagai acuan penelitian selanjutnya.
1.5 Batasan Masalah
Penelitian ini dibatasi dengan pengaruh penyinaran terhadap nilai hemoglobin dan limfosit pada karsinoma nasopharing.
1.6 Sistematika penulisan
Sistematik penulisan skripsi ini terdiri dari bab bab yang memuat beberapa sub bab. Untuk memudahkan pembacaan dan pemahaman maka skripsi ini di bagi menjadi beberapa bab yaitu: