Terapi radiasi merupakan terapi yang menggunakan radiasi ionisasi tinggi yang digunakan untuk mengganggu pertumbuhan selular. Terapi ini merupakan terapi local yang digunakan sendiri atau kombinasi dengan terapi lain (Otto, 2005).
Radioterapi adalah jenis terapi yang menggunakan radiasi tingkat tinggi untuk menghancurkan sel-sel kanker. Baik sel-sel normal maupun sel-sel kanker bisa dipengaruhi oleh radiasi ini. Radiasi akan merusak sel-sel kanker sehingga proses multiplikasi ataupun pembelahan sel-sel kanker akan terhambat (Tjkronagoro,2001).
2.9.2 Tujuan Radioterapi
Pengobatan secara radikal, sebagai terapi paliatif yaitu untuk mengurangi dan menghilangkan rasa sakit atau tidak nyaman akibat kanker dan sebagai adjuvant yakni bertujuan untuk mengurangi risiko kekambuhan dari kanker. Dengan pemberian setiap terapi, maka akan semakin banyak sel-sel kanker yang mati dan tumor akan mengecil. Sel-sel kanker yang mati akan hancur, dibawa oleh darah dan diekskresi keluar dari tubuh. Sebagian besar sel-sel sehat akan bisa pulih kembali dari pengaruh radiasi.
2.9.3 Jenis Radioterapi
Dikenal beberapa jenis radioterapi, yaitu radioterapi eksternal dimana terdapat jarak antara sumber radiasi dengan kulit penderita dengan Cobalt 60 atau linear accelerator. Lapangan operasi digambar lebih dahulu sebelumnya atau pada hari radiasi dan penderita disuruh datang pada jam yang telah ditentukan tanpa persiapan khusus. Brachiterapi yaitu sumber radiasi ditempelkan pada tumor, contohnya brachiterapi intracavitair karsinoma serviks dan radiasi internal dengan memasukkan cairan radioaktif secara oral ataupun intravena. Misalnya dengan menggunakan Jodium 131 radioaktif untuk terapi adenokarsinoma papiliferum dan folikular tiroid.
Radioterapi merupakan suatu jenis pengobatan yang menggunakan atau memanfaatkan sinar pengion (sinar-x,sinar gamma) dan partikel lain (neutron,proton) untuk mematikan sel – sel kanker.Penggunaan sinsr-x untuk terapi kanker kulit sudah di rintis oleh J.E. Gilman ilmuwan eropa sejak akhir abad 19.Cara – cara penyinaran kanker tergantung pada letak kanker dan jenis pesawat yang digunakan saat ini adalah pesawat linear accelerator (LINAC).Metode radioterapi di sesuaikan dengan tujuan yaitu tujuannya yaitu pengobatan kuratif ialah mematikan sel kanker serta sel yang telah menjalar keseluruh tubuh yang lain atau bermetastasis ke kelenjar getah bening dengan tetap mempertahankan sebanyak mungkin jaringan sehat di sekitar nya.Radioterapi dengan dosip kuratif diberikan pada kanker stadium 1 sampai III B.Sedangkan radioterapi dengan tujuan paliatif bertujuan untuk memberikan kualitas hidup yang lebih baik dan radioterapi ini diberikan secara selektif pada stadium IV A.
Sejarah Radioterapi penemuan sinar-x Wilhelm Conrad Rontgen (Bulan nopember tahun 1895) merupakan suatu revolusi baru dalam dunia kedokteran.Wilhelm Conrad Rontgen dalam penyelidikannya menemukan hampir semua sifat sinar rontgen yaitu adalah sifat – sifat fisika dan kimianya.Namun ada satu sifat yang tidak sampai diketahuiannya yaitu sifat biologik yang dapat merusak sel – sel hidup.Sejalan dengan berjalannya waktu itu belum sampai terpikirkan bahwa sinar ini dapat membahayakan dan merusak sel hidup manusia.Namun pada abad ke-20 ternyata banyak pioneer menjadi korban sinar ini.Kelainan biologic yang di akibatkan sinar-x adalah merupakan kerusakan pada sel – sel hidup yang merupakan dalam tingkat diri nya hnya sekedar perubahan warna sampai menghitamnya kulit bahkan rambut menjadi rontok .Dosis sinar yang terlalu tinggi dapat mengkibatkan terjadinya iritasi kulit kadang sampai nekrosis bahkan bila dilanjutkan penyinaran bias menjadi tumor kulit.
Sejalan dengan perkembangan diagnostic mulai juga perkembangan di bidang terapi.Sinar-x di temukan pada bulan Maret tahun 1896.Uranium di temukan oleh Bacquere dan M.Curie secara bersamaan,namun tidak di ketahuian apa kegunaannya.Sekitar 3 dasawarsa Radium memancarkan radiasi gamma,baru lah digunakan untuk terapi kanker.Sekitar tahun 1951 usaha peningkatan kwalits
radiasi sinar-x kilovolt menjadi radiasi gamma Co 60 di mulai.Perkembngan teknologi didunia kedokteran talah membantu penderita penyakit kanker untuk sembuh dari sakit yang dideritanya. Cukup banayak penderita kanker yang berobat kerumah sakit menerima terapi radiasi. Radiasi yang diterima dapat berupa terapi tunggal dan kadang dikombinasikan. Terapi radiasi umumnya bertujuan untuk : kuratif yakni, secara langsung mencegah terjadinya metatase yang jauh. Mengecilkan tumor, mengatasi pendarahan, menghilangkan gejala neulogik akibat metatase ( Suhartono,1990 ).
Radioterapi atau disebut juga terapi radiasi adalah terapi menggunakan radiasi yang bersumber dari energi radioaktif.
Terapi radiasi yang juga disebut radioterapi, irradiasi, terapi sinar-x, atau istilah populernya "dibestral" ini bertujuan untuk menghancurkan jaringan kanker. Paling tidak untuk mengurangi ukurannya atau menghilangkan gejala dan gangguan yang menyertainya.
Tidak hanya sel kanker yang hancur oleh radiasi. Sel normal juga. Karena itu dalam terapi radiasi dokter selalu berusaha menghancurkan sel kanker sebanyak mungkin, sambil sebisa mungkin menghindari sel sehat di sekitarnya. Tetapi sekalipun terkena, kebanyakan sel normal dan sehat mampu memulihkan diri dari efek radiasi. Radiasi bisa digunakan untuk mengobati hampir semua jenis tumor padat termasuk kanker otak, payudara, leher rahim, tenggorokan, paru-paru, pankreas, prostat, kulit, dan sebagainya, bahkan juga leukemia dan limfoma. Cara dan dosisnya tergantung banyak hal, antara lain jenis kanker, lokasinya, apakah jaringan di sekitarnya rawan rusak, kesehatan umum dan riwayat medis penderita, apakah penderita menjalani pengobatan lain, dan sebagainya.
Radioterapi disebut sebagai prosedur utama penanganan kanker otak. Buat teman teman yang sedang menimbang pengobatan kanker otak yang mau dipilih, maka mungkin info tentang alat/teknik radioterapi ini bisa bermanfaat :
Brachytherapy adalah radioterapi yang bersifat internal. Partikel radioaktif (yang berbentuk biji kecil) dimasukkan lewat kateter ke dalam organ tubuh tempat lokasi tumor berada.
Setelah berada di posisi, radioaktif kemudian segera dilepaskan untuk membakar sel sel tumor.
Brachytherapy bisa dilakukan pada kanker: prostat, payudara, usus, paru, serviks, rektum, sarkoma, serta kanker leher dan kepala.
Teknik bedah dengan memanfaatkan sinar laser ini memungkinkan para penderita kanker, khususnya kanker otak, tidak perlu melakukan operasi pembedahan kepala (buka tempurung kepala) demi mengobati tumornya.
Operasi ini melibatkan penggunaan robot canggih dan sinar laser yang diarahkan tepat ke daerah tumor tuk membakar tumornya.
Istilah lain adalah Cyberknife. Cyberknife digunakan untuk memperlambat pertumbuhan tumor otak yang masih kecil ukurannya, tetapi posisinya sulit dijangkau (jauh di dalam otak).
Jenis jenis tumor yang dapat diatasi dengan Cyberknife ini antara lain: • Kanker yang telah metastase ke otak (dari organ lain)
• Tumor syaraf yang pertumbuhannya lambat (accoustic neuroma) • Tumor pituitari
• Tumor saraf belakang (spinal cord tumor)
2.9.4 Efek Samping Radioterapi
Efek samping radioterapi bervariasi pada tiap pasien. Secara umum efek samping tersebut tergantung dari dosis terapi, target organ dan keadaan umum pasien. Beberapa efek samping berupa kelelahan, reaksi kulit (kering, memerah, nyeri, perubahan warna dan ulserasi), penurunan sel-sel darah, kehilangan nafsu makan, diare, mual dan muntah bisa terjadi pada setiap pengobatan radioterapi. Kebotakan bisa terjadi tetapi hanya pada area yang terkena radioterapi. Radiasi tidak menyebabkan kehilangan rambut yang total. Pasien yang menjalani radiasi eksternal tidak bersifat radioaktif setelah pengobatan sehingga tidak berbahaya bagi orang di sekitarnya. Efek samping umumnya terjadi pada minggu ketiga atau keempat dari pengobatan dan hilang dua minggu setelah pengobatan selesai.
Untuk mengurangi efek samping radioterapi beberapa hal perlu dilakukan. Bila terdapat kelelahan, pasien dianjurkan untuk tetap beraktivitas seperti biasa, bila memang diperlukan maka aktivitas bisa dikurangi, usahakan untuk bisa tidur nyenyak di malam hari serta beristirahat yang cukup. Bila terjadi kehilangan nafsu makan maka sebaiknya pasien dianjurkan untuk makan segala makanan yang
diinginkan, makan dalam jumlah kecil tetapi sering, hindari memakan makanan yang kering, minum banyak air, bisa diberikan makanan suplemen untuk meningkatkan nafsu makan. Perubahan kulit yang terjadi bisa dikurangi dengan tidak menggunakan produk-produk pada kulit sebelum radioterapi, menggunakan baju yang tidak terlalu sempit, menggunakan sabun yang lembut dan air hangat pada saat membasuh tubuh, dilarang menggosok terlalu keras pada area yang terkena radioterapi, hindari temperatur yang terlalu panas atau terlalu dingin serta hindari sinar matahari langsung.
Pada umumnya efek samping dari radioterapi akan hilang dengan sendirinya setelah pengobatan dihentikan. Tetapi pada beberapa kasus yang jarang akan terjadi efek samping yang berkepanjangan karena radiasi menyebabkan kerusakan pada organ dalam yang berhubungan atau berdekatan dengan tempat tumor.
Sedangkan radiasi pascabedah pada umumnya sama dengan diatas dengan kelebihan tidak menghilangkan pola gambaran histopatologik sehingga dapat diperoleh diagnosis patologik anatomik dn stadium yang akurat.
Radiasi eksterna ini terutama diperlukan pada kasus dengan gradiasi diferensiasi tinggi. Salah stu dari banyak penelitian melaporkan bahwa tumor dengan gradiasi diferensiasi tinggi mempunyai kecenderungan yang tinggi pula untuk terjadinya invasi miometrium yang dalam serta keterlibatan kelenjar getah bening parailiakal dan dalam presentase yang lebih rendah ke paraaortal.
Brakhiterapi harus diberikan setelah radiasi eksterna pada kasus pascabedah yang masih dijumpai sel tumor pada margin operasi.
Kombinasi pembedahan dan radioterapi telah menurunkan kemungkinan kambuh vagina menjadi 0-8% dibandingkan apabila tidak memperoleh radiasi pascabdeah sebanyak 2—18%. Kekambuhan pada pelvis tercatat sebanyak 120%. Apabila pasien menjalani pembedahan saja, angka ini menurun menjadi 0-6,5% apabila pembedahan ini diikuti dengan radiasi. Sedangkan kekambuhan lokoregional dijumpai pada pasien yang memperoleh operasi saja sebanyak 14-31%, tetapi menjadi 8,7%-25% apabila operasi diikuti dengan radiais.
2.10 Radioterapi
Sampai saat ini radioterapi masih memegang peranan penting dalam
penatalaksanaan karsinoma nasofaring (Perez C.A, 2004). Penatalaksanaan pertama untuk karsinoma nasofaring adalah radioterapi dengan atau tanpa kemoterapi. Radioterapi adalah metode pengobatan penyakit-penyakit maligna dengan menggunakan sinar pengion, bertujuan untuk mematikan sel-sel tumor sebanyak mungkin dan memelihara jaringan sehat di sekitar tumor agar tidak menderita kerusakan terlalu berat.
Karsinoma nasofaring bersifat radioresponsif sehingga radioterapi tetap merupakan terapi terpenting (Gunadi dan Amriatun, 1996). Strategi pengobatan radioterapi konvensional untuk karsinoma nasofaring lokoregional lanjut adalah radiasi eksterna dengan total dosis mencapai 66-70 Gy untuk T1-T2 dan 70-75 Gy untuk T3-T4, selama 7 minggu, 5 kali penyinaran dalam seminggu dengan 2 Gy perfraksi. Pada saat dosis mencapai 40 Gy, medulla spinalis harus dikeluarkan dari lapangan radiasi, sedangkan dosis untuk leher bawah dan fosa supraklavikula dengan lapangan dari anterior sampai dengan 50 Gy dengan 2 Gy perfraksi
2.11 Teknik Radioterapi Dapat Dilakukan Dengan Cara :