BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
D. Drug Related Problems (DRPs)
Drug Related Problems (DRPs) merupakan masalah-masalah yang timbul
akibat pengobatan/ terapi yang dialami oleh pasien. Drug Related Problems
(DRPs) tersebut meliputi butuh tambahan terapi obat, tidak perlu terapi obat, obat
tidak tepat, dosis terlalu rendah, adverse drug reactions (ADR), dosis terlalu
tinggi, ketidakpatuhan pasien. Menurut Cipolle (1998), DRP’s dapat
dikategorikan sebagai berikut ini.
1. Butuh tambahan terapi obat, meliputi kondisi baru membutuhkan obat,
gangguan kronis yang memerlukan terapi obat lanjutan, kondisi yang
membutuhkan terapi obat kombinasi, kondisi dengan risiko yang memerlukan
terapi obat untuk mencegahnya.
2. Tidak perlu terapi obat, meliputi tidak adanya indikasi yang memerlukan
terapi obat, menelan obat atau zat kimia dalam dosis toksik, kondisi akibat
penyalahgunaan obat, kondisi yang lebih baik dirawat tanpa terapi obat,
pemakaian lebih dari satu macam obat dimana sebenarnya cukup dengan satu
macam obat saja, serta menggunakan obat untuk mencegah adverse reaction
yang sebenarnya dapat dihindari.
3. Obat tidak tepat, meliputi kondisi yang menyebabkan obat menjadi tidak
efektif, adanya alergi terhadap obat tertentu, obat yang digunakan bukan yang
paling efektif, faktor risiko kontraindikasi dengan obat, menerima obat yang
efektif namun bukan yang paling murah, menerima obat yang efektif namun
bukan yang paling aman, memiliki infeksi yang resisten terhadap obat,
mengalami refractory terhadap obat, menerima kombinasi obat yang tidak
perlu.
4. Dosis terlalu rendah, meliputi dosis obat yang diberikan terlalu rendah untuk
memberikan efek; konsentrasi obat dibawah rentang terapetik; obat, dosis,
rute, atau konversi formulasi yang tidak cukup; waktu pemberian untuk tujuan
pencegahan tidak memadai; dosis dan fleksibilitas interval tidak cukup.
5. Adverse drug reactions (ADR), meliputi obat dipejankan terlalu cepat, ada
reaksi alergi terhadap obat, memiliki faktor risiko sehingga obat terlalu
berbahaya bila diberikan, mengalami reaksi idiosinkrasi terhadap obat,
bioavailabilitas obat berubah karena interaksi dengan obat lain atau dengan
makanan, efek obat berubah karena induksi/ inhibisi enzim dari obat lain yang
dikonsumsi pasien, efek obat berubah karena substansi dalam makanan yang
dikonsumsi, hasil tes laboratorium berubah karena interferensi dari obat.
6. Dosis terlalu tinggi, meliputi dosis terlalu tinggi untuk pasien; konsentrasi
obat dalam plasma berada di atas rentang terapetik; dosis obat terlalu cepat
dinaikkan; obat, dosis, rute, konversi formulasi tidak sesuai untuk pasien;
dosis dan fleksibilitas interval yang tidak sesuai.
7. Ketidakpatuhan pasien, meliputi pasien tidak menerima obat sesuai aturan
karena medication errors, pasien tidak menaati petunjuk penggunaan obat,
pasien tidak menerima obat karena harganya terlalu mahal, pasien kurang
memahami petunjuk, pasien tidak menerima obat berkaitan dengan keyakinan
pasien.
E. Keterangan Empiris
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai
penatalaksanaan mual-muntah pasca kemoterapi pada pasien kanker payudara di
RSUP Dokter Sardjito Yogyakarta pada tahun 2005.
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian mengenai evaluasi penatalaksanaan mual-muntah pasca
kemoterapi pada pasien kanker payudara di RSUP Dokter Sardjito Yogyakarta
pada tahun 2005 merupakan jenis penelitian non eksperimental dengan mengikuti
rancangan deskriptif evaluatif yang bersifat retrospektif. Penelitian ini merupakan
penelitian non eksperimental karena tidak ada perlakuan terhadap subyek uji.
Rancangan penelitian ini bersifat deskriptif karena penelitian ini bertujuan
melakukan eksplorasi secara deskriptif terhadap fenomena yang terjadi
(Pratiknya, 2001). Di dalam penelitian dilakukan pula evaluasi yaitu untuk
melihat apakah timbul gejala mual-muntah pasca kemoterapi dan bagaimana
penatalaksanaannya kemudian mengidentifikasikannya ke dalam Drug Related
Problems (DRPs). Penelitian ini bersifat restropektif karena data yang digunakan
dalam penelitian ini diambil dengan melakukan penelusuran terhadap dokumen
terdahulu, yaitu data lembar rekam medis pasien.
B. Definisi Operasional
1. Evaluasi adalah melihat, menganalisis penatalaksanaan mual-muntah pasca
kemoterapi pada pasien kanker payudara apakah sudah sesuai dengan
prosedur standar yang ada, dan mengidentifikasi DRPs yang timbul serta
memberikan rekomendasi sesuai dengan guideline yang digunakan.
2. Pasien kanker payudara adalah seseorang yang didiagnosis menderita kanker
payudara berdasarkan rekam medis dan dirawat di RSUP Dokter Sardjito
Yogyakarta untuk menjalani kemoterapi pada tahun 2005.
3. Golongan obat adalah kelompok obat yang diberikan kepada pasien yang
dikelompokkan berdasarkan efek terapi dari setiap kelas terapi yang diberikan
kepada pasien.
4. Jenis obat adalah nama obat yang diresepkan untuk pasien dalam nama
generik, kecuali untuk obat kombinasi menggunakan nama paten.
5. Drug Related Problems (DRPs) pada penelitian ini berupa masalah yang
timbul dari pemberian obat yang digunakan selama terapi meliputi pilihan
obat tidak tepat, dosis terlalu tinggi, dosis terlalu rendah, tidak perlu terapi
obat, butuh tambahan terapi obat.
6. Tidak perlu obat jika tidak ada indikasi medis yang valid yang mengharuskan
pasien mendapatkan suatu obat atau pemberian obat yang tidak sesuai dengan
guideline NCCN.
7. Pilihan obat tidak tepat apabila obat yang diberikan tidak sesuai dengan
kondisi pasien atau obat yang diberikan tidak sesuai dengan guideline NCCN.
8. Dosis terlalu rendah adalah pasien mendapatkan obat dengan dosis yang tidak
mencukupi atau kurang menurut literatur IONI 2000.
9. Dosis terlalu tinggi yaitu apabila pasien mendapatkan obat dengan dosis
berlebih atau terlalu tinggi menurutliteratur IONI 2000.
10.Butuh tambahan terapi obat jika terjadi kondisi dimana pasien membutuhkan
obat tambahan agar proses terapi berjalan sempurna.
11.Rekam medis adalah lembar catatan dokter, apoteker, dan perawat yang berisi
data klinis pasien kanker payudara di RSUP Dokter Sardjito Yogyakarta.
12.Mual yaitu berupa perasaan tidak enak atau sakit pada perut, serta perasaan
ingin muntah yang merupakan salah satu efek samping dari kemoterapi.
13.Muntah yaitu salah satu efek samping kemoterapi berupa pengosongan perut
secara paksa melalui mulut akibat adanya rangsangan pada pusat muntah di
otak.
14.Dampak pasien kemoterapi yaitu antara lain sembuh, belum sembuh serta
membaik sesuai yang tertulis pada lembar rekam medis di RSUP Dokter
Sardjito Yogyakarta pada tahun 2005.
15.Dampak pasien setelah menjalani terapi mual-muntah yaitu mual, membaik
dan sembuh.
16.Dampak pasien mual setelah menjalani terapi mual-muntah yaitu apabila
pasien masih mengalami mual namun sudah tidak muntah lagi setelah terapi.
17.Dampak pasien membaik setelah menjalani terapi mual-muntah yaitu apabila
pasien mengalami perbaikan kondisi setelah terapi.
18.Dampak pasien sembuh setelah menjalani terapi mual-muntah yaitu apabila
pasien sudah tidak mengalami gejala mual-muntah setelah terapi.
C. Subyek Penelitian
Subjek yang digunakan dalam penelitian ini yaitu seluruh kasus pasien
kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP Dokter Sardjito Yogyakarta pada
tahun 2005 sebanyak 72 kasus. Subyek untuk evaluasi DRPs yang digunakan
dalam penelitian ini yaitu kasus pasien yang mengalami mual-muntah dalam satu
kali kemoterapi di RSUP Dokter Sardjito Yogyakarta pada tahun 2005 sebanyak
36 kasus.
D. Bahan penelitian
Bahan penelitian yang digunakan adalah rekam medis pasien kanker
payudara pasca kemoterapi di RSUP Dokter Sardjito Yogyakarta pada tahun
2005. Pengumpulan data dilakukan dengan menelusuri dan mengevaluasi lembar
rekam medis tersebut.
E. Lokasi Penelitian
Penelitian mengenai penatalaksanaan mual-muntah pasca kemoterapi pada
pasien kanker payudara di RSUP Dokter Sardjito Yogyakarta pada tahun 2005 ini
dilakukan di RSUP Dokter Sardjito Yogyakarta Jalan Kesehatan 01 Sekip
Yogyakarta 587333.
F. Tata Cara Penelitian
Penelitian mengenai penatalaksanaan mual-muntah pasca kemoterapi pada
pasien kanker payudara di RSUP Dokter Sardjito Yogyakarta dilakukan dalam
tiga tahap yaitu tahap penelusuran pustaka, tahap pengambilan data dan tahap
pengolahan data.
1. Tahap penelusuran pustaka
Pada tahap penelusuran pustaka ini dilakukan pencarian landasan teori yang
mendukung permasalahan yang akan diteliti, sehingga diperoleh gambaran acuan
yang jelas mengenai permasalahan tersebut.
2. Tahap pengambilan data
a. Penelusuran data
Tahap penelusuran data ini dilakukan di RSUP Dokter Sardjito Yogyakarta
bagian rekam medis. Proses pengambilan data ini dimulai dengan melakukan
penelusuran data tentang kasus mual-muntah pada pasien kanker payudara setelah
menjalani kemoterapi. Caranya dengan mencatat nomor rekam medis, tanggal
masuk dan tanggal keluar pasien pada lembar peminjaman dokumen rekam medis.
Lembar peminjaman ini akan dijadikan panduan dalam proses penelusuran data
rekam medis pasien pada ruang penyimpanan dokumen.
b. Pengambilan data
Tahap pengambilan data ini dilakukan untuk semua pasien kanker payudara
yang menjalani kemoterapi pada tahun 2005. Pada tahap ini diperoleh 72 pasien
kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Dari 72 pasien tersebut diperoleh 36
pasien mengalami mual-muntah.
c. Pencatatan data
Tahap pencatatan data ini dilakukan guna mempermudah tahap pengolahan
data, yaitu dengan cara mencatat nomor rekam medis, umur pasien, tanggal masuk
dan keluar rumah sakit, diagnosis utama, riwayat penyakit, riwayat pengobatan
yang meliputi jenis obat, jumlah obat, dosis dan cara pemakaian obat serta data
laboratorium dan non laboratorium, serta keadaan pasien selama menjalani
kemoterapi hingga pasien keluar dari rumah sakit.
3. Tahap pengolahan data
Pada tahap pengolahan data ini dilakukan evaluasi dari data yang telah
diperoleh secara deskriptif retrospektif. Data yang diperoleh disajikan dalam
bentuk tabel dan gambar beserta penjelasannya demikian pula untuk data analisis
Drug Related Problems (DRPs). Analisis untuk data Drug Related Problems ini
lebih menitikberatkan pada setiap kasus yang muncul dari penatalaksanaan
mual-muntah yang terjadi pada pasien kanker payudara dalam setiap kali kemoterapi.
Data yang diperoleh kemudian dianalisis dan dibandingkan dengan referensi serta
guideline yang sesuai.
G. Analisis Hasil
Analisis hasil dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif dan disajikan
dalam bentuk tabel atau gambar.
1. Umur pasien kanker payudara dikelompokkan dalam 6 interval umur, yaitu
24-30 tahun, 31-37 tahun, 38-44 tahun, 45-51 tahun, 52-58 tahun, 59-65tahun
dan 66-72 tahun. Data yang diambil adalah data semua pasien yang menjalani
kemoterapi yaitu sebanyak 72 pasien, lalu dari data tersebut diambil untuk
dibahas lebih lanjut mengenai penatalaksanaan mual-muntah pasca
kemoterapi. Terdapat 36 pasien mengalami mual-muntah dan dari 36 pasien
tersebut terdapat 112 kali kemoterapi dengan 38 kasus kemoterapi yang
mengalami DRPs.
2. Stadium kanker payudara meliputi stadium I, II, IIIA, IIIB dan IV. Persentase
stadium kanker payudara dihitung dengan cara menghitung jumlah pasien
setiap stadiumnya kemudian dibagi dengan jumlah keseluruhan pasien kanker
payudara kemudian dikalikan 100 %.
3. Terapi yang diterima oleh pasien kanker payudara meliputi kemoterapi;
operasi dan kemoterapi; operasi, kemoterapi dan terapi alternatif; radioterapi
dan kemoterapi; operasi, kemoterapi dan radioterapi. Persentase kombinasi
terapi dihitung dengan cara menghitung jumlah pasien yang melakukan terapi
kemudian dibagi dengan jumlah keseluruhan kanker payudara kemudian
dikalikan 100%.
4. Kelas terapi obat yang digunakan mengikuti pembagian kelas terapi obat
menurut Formularium RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta 2006 dan
Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000. Persentase kelas terapi obat
dihitung dengan cara menghitung jumlah keseluruhan kelas terapi obat yang
digunakan kemudian dibagi jumlah keseluruhan pasien kanker payudara
dikalikan 100%.
5. Jenis obat yang digunakan disajikan menurut tiap golongan obat dan dihitung
berdasarkan jumlah jenis obat yang digunakan dibagi jumlah seluruh pasien
kanker payudara dikalikan 100%.
6. Analisis Drug Related Problems dalam penelitian ini dilakukan dengan
melihat setiap kasus kanker payudara pasca kemoterapi, terkait dengan
kejadian mual-muntah, kemudian dibandingkan dengan standar atau guideline
oleh National Comprehensive Cancer Network (NCCN) Clinical Practice
Guidelines in Oncology Antiemesis 2007; Standar Pelayanan Medis RSUP
Dr. Sardjito Yogyakarta edisi 2 tahun 2006, serta Informatorium Obat
Nasional Indonesia 2000 (IONI 2000).
H. Kesulitan Penelitian
Kesulitan yang dihadapi dalam penelitian mengenai evaluasi
penatalaksanaan mual-muntah pada kasus kanker payudara pasca kemoterapi di
RSUP Dr. Sardjito tahun 2005 adalah adanya kendala dalam proses pengambilan
data rekam medis yaitu penulis kesulitan dalam membaca tulisan dalam rekam
medis tersebut serta adanya istilah-istilah medis yang sulit dimengerti oleh
penulis. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, penulis mencoba untuk bertanya
kepada dokter, perawat dan apoteker terkait serta mencari informasi mengenai
istilah-istilah medis yang sukar untuk dipahami tersebut.
A. Profil Pasien Kanker Payudara
1. Persentase pasien kanker payudara berdasarkan kelompok umur
Penentuan dosis obat antikanker didasarkan pada luas permukaan tubuh
(LPB), namun pengelompokan pasien berdasarkan umur penting juga dilakukan.
Pada penelitian ini umur digunakan sebagai dasar menentukan terapi lain selain
terapi antikanker, misalnya terapi untuk penyakit penyerta pasien. Umur pasien
digunakan sebagai salah satu kriteria dalam memilih dan menentukan dosis obat,
jumlah obat, bentuk sediaan obat serta cara pemberian obat. Pemberian obat untuk
anak-anak dan orang lanjut usia tentu dosis, jumlah, bentuk sediaan serta cara
pemberian obat berbeda dengan orang dewasa. Hal ini terkait dengan fungsi
fisiologis pasien pada usia tersebut.
3
6
29 30
21
4
7
0
5
10
15
20
25
30
%
1
Umur Pasien
PERSENTASE INTERVAL UMUR
24 - 30 tahun
31 - 37 tahun
38 - 44 tahun
45 - 51 tahun
52 - 58 tahun
59 - 65 tahun
66 - 72 tahun
Gambar 3. Persentase interval umur pasien kanker payudara di RSUP Dr.
Sardjito tahun 2005
Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa persentase terbesar pasien
kanker payudara pada interval umur 45-51 tahun sebanyak 30%. Hal ini berarti
hasil penelitian sesuai dengan pernyataan yang mengatakan bahwa kanker ini
banyak menyerang wanita berumur antara 35–50 tahun (Van de Velde, 1999). Hal
ini terkait dengan banyak faktor yang berhubungan dengan munculnya kanker
payudara misalnya riwayat reproduksi dan riwayat keluarga.
Pada kasus kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP Dr. Sardjito,
100% dialami oleh wanita. Ada beberapa pasien laki-laki namun tidak menjalani
kemoterapi, sehingga tidak dibahas dalam penelitian ini. Hal ini sesuai dengan
pernyataan yang menyatakan bahwa kanker payudara dapat mengenai wanita dan
pria dengan perbandingan 100:1 (Anonim, 2004a).
2. Persentase pasien kanker payudara berdasarkan stadium
Pada penelitian ini, pembagian stadium kanker payudara pada kasus
kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP Dr. Sardjito mengikuti standar
pelayanan medis RSUP Dr. Sardjito tahun 2000. Stadium kanker payudara
ditentukan melalui pemeriksaan riwayat medis lengkap, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan laboratorium, mammografi bilateral dan data bedah. Penentuan
stadium ini nantinya sangat berpengaruh pada proses terapi yang akan diterima
masing-masing pasien. Semakin tinggi stadiumnya maka tingkat kesembuhannya
akan semakin kecil.
Berikut data persentase pasien kanker payudara berdasarkan stadium di
RSUP Dr. Sardjito dapat dilihat pada tabel 5.
1
7
33
45
14
0
10
20
30
40
50
%
1
Stadium Kanker Payudara
PERSENTASE STADIUM KANKER PAYUDARA
Stadium 1
Stadium 2
Stadium 3
Stadium 4
Lain-lain
Gambar 4. Persentase stadium kanker payudara di RSUP Dr. Sardjito tahun 2005
Dari gambar dapat dilihat bahwa pada umumnya pasien datang ke
RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada stadium yang sudah lanjut. Sebanyak 45%
pasien datang ke rumah sakit dengan stadium IV dan 33% pasien dengan stadium
III. Hal ini kemungkinan karena keterlambatan pasien menyadari penyakitnya
serta mengabaikan tanda dan gejala kanker payudara.
3. Persentase pasien kanker payudara berdasarkan terapi
21
6
67
3 3
0
10
20
30
40
50
60
70
%
1
PERBANDINGAN JENIS TERAPI PASIEN
KANKER PAYUDARA
Kemoterapi Radioterapi + Kemoterapi Operasi + Kemoterapi Operasi + Kemoterapi + Radioterapi Operasi + Kemoterapi + Alternatif