• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

D. Drug Related Problems (DRPs)

Drug Related Problems (DRPs) merupakan masalah-masalah yang timbul

akibat pengobatan/ terapi yang dialami oleh pasien. Drug Related Problems

(DRPs) tersebut meliputi butuh tambahan terapi obat, tidak perlu terapi obat, obat

tidak tepat, dosis terlalu rendah, adverse drug reactions (ADR), dosis terlalu

tinggi, ketidakpatuhan pasien. Menurut Cipolle (1998), DRP’s dapat

dikategorikan sebagai berikut ini.

1. Butuh tambahan terapi obat, meliputi kondisi baru membutuhkan obat,

gangguan kronis yang memerlukan terapi obat lanjutan, kondisi yang

membutuhkan terapi obat kombinasi, kondisi dengan risiko yang memerlukan

terapi obat untuk mencegahnya.

2. Tidak perlu terapi obat, meliputi tidak adanya indikasi yang memerlukan

terapi obat, menelan obat atau zat kimia dalam dosis toksik, kondisi akibat

penyalahgunaan obat, kondisi yang lebih baik dirawat tanpa terapi obat,

pemakaian lebih dari satu macam obat dimana sebenarnya cukup dengan satu

macam obat saja, serta menggunakan obat untuk mencegah adverse reaction

yang sebenarnya dapat dihindari.

3. Obat tidak tepat, meliputi kondisi yang menyebabkan obat menjadi tidak

efektif, adanya alergi terhadap obat tertentu, obat yang digunakan bukan yang

paling efektif, faktor risiko kontraindikasi dengan obat, menerima obat yang

efektif namun bukan yang paling murah, menerima obat yang efektif namun

bukan yang paling aman, memiliki infeksi yang resisten terhadap obat,

mengalami refractory terhadap obat, menerima kombinasi obat yang tidak

perlu.

4. Dosis terlalu rendah, meliputi dosis obat yang diberikan terlalu rendah untuk

memberikan efek; konsentrasi obat dibawah rentang terapetik; obat, dosis,

rute, atau konversi formulasi yang tidak cukup; waktu pemberian untuk tujuan

pencegahan tidak memadai; dosis dan fleksibilitas interval tidak cukup.

5. Adverse drug reactions (ADR), meliputi obat dipejankan terlalu cepat, ada

reaksi alergi terhadap obat, memiliki faktor risiko sehingga obat terlalu

berbahaya bila diberikan, mengalami reaksi idiosinkrasi terhadap obat,

bioavailabilitas obat berubah karena interaksi dengan obat lain atau dengan

makanan, efek obat berubah karena induksi/ inhibisi enzim dari obat lain yang

dikonsumsi pasien, efek obat berubah karena substansi dalam makanan yang

dikonsumsi, hasil tes laboratorium berubah karena interferensi dari obat.

6. Dosis terlalu tinggi, meliputi dosis terlalu tinggi untuk pasien; konsentrasi

obat dalam plasma berada di atas rentang terapetik; dosis obat terlalu cepat

dinaikkan; obat, dosis, rute, konversi formulasi tidak sesuai untuk pasien;

dosis dan fleksibilitas interval yang tidak sesuai.

7. Ketidakpatuhan pasien, meliputi pasien tidak menerima obat sesuai aturan

karena medication errors, pasien tidak menaati petunjuk penggunaan obat,

pasien tidak menerima obat karena harganya terlalu mahal, pasien kurang

memahami petunjuk, pasien tidak menerima obat berkaitan dengan keyakinan

pasien.

E. Keterangan Empiris

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai

penatalaksanaan mual-muntah pasca kemoterapi pada pasien kanker payudara di

RSUP Dokter Sardjito Yogyakarta pada tahun 2005.

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian mengenai evaluasi penatalaksanaan mual-muntah pasca

kemoterapi pada pasien kanker payudara di RSUP Dokter Sardjito Yogyakarta

pada tahun 2005 merupakan jenis penelitian non eksperimental dengan mengikuti

rancangan deskriptif evaluatif yang bersifat retrospektif. Penelitian ini merupakan

penelitian non eksperimental karena tidak ada perlakuan terhadap subyek uji.

Rancangan penelitian ini bersifat deskriptif karena penelitian ini bertujuan

melakukan eksplorasi secara deskriptif terhadap fenomena yang terjadi

(Pratiknya, 2001). Di dalam penelitian dilakukan pula evaluasi yaitu untuk

melihat apakah timbul gejala mual-muntah pasca kemoterapi dan bagaimana

penatalaksanaannya kemudian mengidentifikasikannya ke dalam Drug Related

Problems (DRPs). Penelitian ini bersifat restropektif karena data yang digunakan

dalam penelitian ini diambil dengan melakukan penelusuran terhadap dokumen

terdahulu, yaitu data lembar rekam medis pasien.

B. Definisi Operasional

1. Evaluasi adalah melihat, menganalisis penatalaksanaan mual-muntah pasca

kemoterapi pada pasien kanker payudara apakah sudah sesuai dengan

prosedur standar yang ada, dan mengidentifikasi DRPs yang timbul serta

memberikan rekomendasi sesuai dengan guideline yang digunakan.

2. Pasien kanker payudara adalah seseorang yang didiagnosis menderita kanker

payudara berdasarkan rekam medis dan dirawat di RSUP Dokter Sardjito

Yogyakarta untuk menjalani kemoterapi pada tahun 2005.

3. Golongan obat adalah kelompok obat yang diberikan kepada pasien yang

dikelompokkan berdasarkan efek terapi dari setiap kelas terapi yang diberikan

kepada pasien.

4. Jenis obat adalah nama obat yang diresepkan untuk pasien dalam nama

generik, kecuali untuk obat kombinasi menggunakan nama paten.

5. Drug Related Problems (DRPs) pada penelitian ini berupa masalah yang

timbul dari pemberian obat yang digunakan selama terapi meliputi pilihan

obat tidak tepat, dosis terlalu tinggi, dosis terlalu rendah, tidak perlu terapi

obat, butuh tambahan terapi obat.

6. Tidak perlu obat jika tidak ada indikasi medis yang valid yang mengharuskan

pasien mendapatkan suatu obat atau pemberian obat yang tidak sesuai dengan

guideline NCCN.

7. Pilihan obat tidak tepat apabila obat yang diberikan tidak sesuai dengan

kondisi pasien atau obat yang diberikan tidak sesuai dengan guideline NCCN.

8. Dosis terlalu rendah adalah pasien mendapatkan obat dengan dosis yang tidak

mencukupi atau kurang menurut literatur IONI 2000.

9. Dosis terlalu tinggi yaitu apabila pasien mendapatkan obat dengan dosis

berlebih atau terlalu tinggi menurutliteratur IONI 2000.

10.Butuh tambahan terapi obat jika terjadi kondisi dimana pasien membutuhkan

obat tambahan agar proses terapi berjalan sempurna.

11.Rekam medis adalah lembar catatan dokter, apoteker, dan perawat yang berisi

data klinis pasien kanker payudara di RSUP Dokter Sardjito Yogyakarta.

12.Mual yaitu berupa perasaan tidak enak atau sakit pada perut, serta perasaan

ingin muntah yang merupakan salah satu efek samping dari kemoterapi.

13.Muntah yaitu salah satu efek samping kemoterapi berupa pengosongan perut

secara paksa melalui mulut akibat adanya rangsangan pada pusat muntah di

otak.

14.Dampak pasien kemoterapi yaitu antara lain sembuh, belum sembuh serta

membaik sesuai yang tertulis pada lembar rekam medis di RSUP Dokter

Sardjito Yogyakarta pada tahun 2005.

15.Dampak pasien setelah menjalani terapi mual-muntah yaitu mual, membaik

dan sembuh.

16.Dampak pasien mual setelah menjalani terapi mual-muntah yaitu apabila

pasien masih mengalami mual namun sudah tidak muntah lagi setelah terapi.

17.Dampak pasien membaik setelah menjalani terapi mual-muntah yaitu apabila

pasien mengalami perbaikan kondisi setelah terapi.

18.Dampak pasien sembuh setelah menjalani terapi mual-muntah yaitu apabila

pasien sudah tidak mengalami gejala mual-muntah setelah terapi.

C. Subyek Penelitian

Subjek yang digunakan dalam penelitian ini yaitu seluruh kasus pasien

kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP Dokter Sardjito Yogyakarta pada

tahun 2005 sebanyak 72 kasus. Subyek untuk evaluasi DRPs yang digunakan

dalam penelitian ini yaitu kasus pasien yang mengalami mual-muntah dalam satu

kali kemoterapi di RSUP Dokter Sardjito Yogyakarta pada tahun 2005 sebanyak

36 kasus.

D. Bahan penelitian

Bahan penelitian yang digunakan adalah rekam medis pasien kanker

payudara pasca kemoterapi di RSUP Dokter Sardjito Yogyakarta pada tahun

2005. Pengumpulan data dilakukan dengan menelusuri dan mengevaluasi lembar

rekam medis tersebut.

E. Lokasi Penelitian

Penelitian mengenai penatalaksanaan mual-muntah pasca kemoterapi pada

pasien kanker payudara di RSUP Dokter Sardjito Yogyakarta pada tahun 2005 ini

dilakukan di RSUP Dokter Sardjito Yogyakarta Jalan Kesehatan 01 Sekip

Yogyakarta 587333.

F. Tata Cara Penelitian

Penelitian mengenai penatalaksanaan mual-muntah pasca kemoterapi pada

pasien kanker payudara di RSUP Dokter Sardjito Yogyakarta dilakukan dalam

tiga tahap yaitu tahap penelusuran pustaka, tahap pengambilan data dan tahap

pengolahan data.

1. Tahap penelusuran pustaka

Pada tahap penelusuran pustaka ini dilakukan pencarian landasan teori yang

mendukung permasalahan yang akan diteliti, sehingga diperoleh gambaran acuan

yang jelas mengenai permasalahan tersebut.

2. Tahap pengambilan data

a. Penelusuran data

Tahap penelusuran data ini dilakukan di RSUP Dokter Sardjito Yogyakarta

bagian rekam medis. Proses pengambilan data ini dimulai dengan melakukan

penelusuran data tentang kasus mual-muntah pada pasien kanker payudara setelah

menjalani kemoterapi. Caranya dengan mencatat nomor rekam medis, tanggal

masuk dan tanggal keluar pasien pada lembar peminjaman dokumen rekam medis.

Lembar peminjaman ini akan dijadikan panduan dalam proses penelusuran data

rekam medis pasien pada ruang penyimpanan dokumen.

b. Pengambilan data

Tahap pengambilan data ini dilakukan untuk semua pasien kanker payudara

yang menjalani kemoterapi pada tahun 2005. Pada tahap ini diperoleh 72 pasien

kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Dari 72 pasien tersebut diperoleh 36

pasien mengalami mual-muntah.

c. Pencatatan data

Tahap pencatatan data ini dilakukan guna mempermudah tahap pengolahan

data, yaitu dengan cara mencatat nomor rekam medis, umur pasien, tanggal masuk

dan keluar rumah sakit, diagnosis utama, riwayat penyakit, riwayat pengobatan

yang meliputi jenis obat, jumlah obat, dosis dan cara pemakaian obat serta data

laboratorium dan non laboratorium, serta keadaan pasien selama menjalani

kemoterapi hingga pasien keluar dari rumah sakit.

3. Tahap pengolahan data

Pada tahap pengolahan data ini dilakukan evaluasi dari data yang telah

diperoleh secara deskriptif retrospektif. Data yang diperoleh disajikan dalam

bentuk tabel dan gambar beserta penjelasannya demikian pula untuk data analisis

Drug Related Problems (DRPs). Analisis untuk data Drug Related Problems ini

lebih menitikberatkan pada setiap kasus yang muncul dari penatalaksanaan

mual-muntah yang terjadi pada pasien kanker payudara dalam setiap kali kemoterapi.

Data yang diperoleh kemudian dianalisis dan dibandingkan dengan referensi serta

guideline yang sesuai.

G. Analisis Hasil

Analisis hasil dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif dan disajikan

dalam bentuk tabel atau gambar.

1. Umur pasien kanker payudara dikelompokkan dalam 6 interval umur, yaitu

24-30 tahun, 31-37 tahun, 38-44 tahun, 45-51 tahun, 52-58 tahun, 59-65tahun

dan 66-72 tahun. Data yang diambil adalah data semua pasien yang menjalani

kemoterapi yaitu sebanyak 72 pasien, lalu dari data tersebut diambil untuk

dibahas lebih lanjut mengenai penatalaksanaan mual-muntah pasca

kemoterapi. Terdapat 36 pasien mengalami mual-muntah dan dari 36 pasien

tersebut terdapat 112 kali kemoterapi dengan 38 kasus kemoterapi yang

mengalami DRPs.

2. Stadium kanker payudara meliputi stadium I, II, IIIA, IIIB dan IV. Persentase

stadium kanker payudara dihitung dengan cara menghitung jumlah pasien

setiap stadiumnya kemudian dibagi dengan jumlah keseluruhan pasien kanker

payudara kemudian dikalikan 100 %.

3. Terapi yang diterima oleh pasien kanker payudara meliputi kemoterapi;

operasi dan kemoterapi; operasi, kemoterapi dan terapi alternatif; radioterapi

dan kemoterapi; operasi, kemoterapi dan radioterapi. Persentase kombinasi

terapi dihitung dengan cara menghitung jumlah pasien yang melakukan terapi

kemudian dibagi dengan jumlah keseluruhan kanker payudara kemudian

dikalikan 100%.

4. Kelas terapi obat yang digunakan mengikuti pembagian kelas terapi obat

menurut Formularium RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta 2006 dan

Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000. Persentase kelas terapi obat

dihitung dengan cara menghitung jumlah keseluruhan kelas terapi obat yang

digunakan kemudian dibagi jumlah keseluruhan pasien kanker payudara

dikalikan 100%.

5. Jenis obat yang digunakan disajikan menurut tiap golongan obat dan dihitung

berdasarkan jumlah jenis obat yang digunakan dibagi jumlah seluruh pasien

kanker payudara dikalikan 100%.

6. Analisis Drug Related Problems dalam penelitian ini dilakukan dengan

melihat setiap kasus kanker payudara pasca kemoterapi, terkait dengan

kejadian mual-muntah, kemudian dibandingkan dengan standar atau guideline

oleh National Comprehensive Cancer Network (NCCN) Clinical Practice

Guidelines in Oncology Antiemesis 2007; Standar Pelayanan Medis RSUP

Dr. Sardjito Yogyakarta edisi 2 tahun 2006, serta Informatorium Obat

Nasional Indonesia 2000 (IONI 2000).

H. Kesulitan Penelitian

Kesulitan yang dihadapi dalam penelitian mengenai evaluasi

penatalaksanaan mual-muntah pada kasus kanker payudara pasca kemoterapi di

RSUP Dr. Sardjito tahun 2005 adalah adanya kendala dalam proses pengambilan

data rekam medis yaitu penulis kesulitan dalam membaca tulisan dalam rekam

medis tersebut serta adanya istilah-istilah medis yang sulit dimengerti oleh

penulis. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, penulis mencoba untuk bertanya

kepada dokter, perawat dan apoteker terkait serta mencari informasi mengenai

istilah-istilah medis yang sukar untuk dipahami tersebut.

A. Profil Pasien Kanker Payudara

1. Persentase pasien kanker payudara berdasarkan kelompok umur

Penentuan dosis obat antikanker didasarkan pada luas permukaan tubuh

(LPB), namun pengelompokan pasien berdasarkan umur penting juga dilakukan.

Pada penelitian ini umur digunakan sebagai dasar menentukan terapi lain selain

terapi antikanker, misalnya terapi untuk penyakit penyerta pasien. Umur pasien

digunakan sebagai salah satu kriteria dalam memilih dan menentukan dosis obat,

jumlah obat, bentuk sediaan obat serta cara pemberian obat. Pemberian obat untuk

anak-anak dan orang lanjut usia tentu dosis, jumlah, bentuk sediaan serta cara

pemberian obat berbeda dengan orang dewasa. Hal ini terkait dengan fungsi

fisiologis pasien pada usia tersebut.

3

6

29 30

21

4

7

0

5

10

15

20

25

30

%

1

Umur Pasien

PERSENTASE INTERVAL UMUR

24 - 30 tahun

31 - 37 tahun

38 - 44 tahun

45 - 51 tahun

52 - 58 tahun

59 - 65 tahun

66 - 72 tahun

Gambar 3. Persentase interval umur pasien kanker payudara di RSUP Dr.

Sardjito tahun 2005

Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa persentase terbesar pasien

kanker payudara pada interval umur 45-51 tahun sebanyak 30%. Hal ini berarti

hasil penelitian sesuai dengan pernyataan yang mengatakan bahwa kanker ini

banyak menyerang wanita berumur antara 35–50 tahun (Van de Velde, 1999). Hal

ini terkait dengan banyak faktor yang berhubungan dengan munculnya kanker

payudara misalnya riwayat reproduksi dan riwayat keluarga.

Pada kasus kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP Dr. Sardjito,

100% dialami oleh wanita. Ada beberapa pasien laki-laki namun tidak menjalani

kemoterapi, sehingga tidak dibahas dalam penelitian ini. Hal ini sesuai dengan

pernyataan yang menyatakan bahwa kanker payudara dapat mengenai wanita dan

pria dengan perbandingan 100:1 (Anonim, 2004a).

2. Persentase pasien kanker payudara berdasarkan stadium

Pada penelitian ini, pembagian stadium kanker payudara pada kasus

kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP Dr. Sardjito mengikuti standar

pelayanan medis RSUP Dr. Sardjito tahun 2000. Stadium kanker payudara

ditentukan melalui pemeriksaan riwayat medis lengkap, pemeriksaan fisik,

pemeriksaan laboratorium, mammografi bilateral dan data bedah. Penentuan

stadium ini nantinya sangat berpengaruh pada proses terapi yang akan diterima

masing-masing pasien. Semakin tinggi stadiumnya maka tingkat kesembuhannya

akan semakin kecil.

Berikut data persentase pasien kanker payudara berdasarkan stadium di

RSUP Dr. Sardjito dapat dilihat pada tabel 5.

1

7

33

45

14

0

10

20

30

40

50

%

1

Stadium Kanker Payudara

PERSENTASE STADIUM KANKER PAYUDARA

Stadium 1

Stadium 2

Stadium 3

Stadium 4

Lain-lain

Gambar 4. Persentase stadium kanker payudara di RSUP Dr. Sardjito tahun 2005

Dari gambar dapat dilihat bahwa pada umumnya pasien datang ke

RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada stadium yang sudah lanjut. Sebanyak 45%

pasien datang ke rumah sakit dengan stadium IV dan 33% pasien dengan stadium

III. Hal ini kemungkinan karena keterlambatan pasien menyadari penyakitnya

serta mengabaikan tanda dan gejala kanker payudara.

3. Persentase pasien kanker payudara berdasarkan terapi

21

6

67

3 3

0

10

20

30

40

50

60

70

%

1

PERBANDINGAN JENIS TERAPI PASIEN

KANKER PAYUDARA

Kemoterapi Radioterapi + Kemoterapi Operasi + Kemoterapi Operasi + Kemoterapi + Radioterapi Operasi + Kemoterapi + Alternatif

Gambar 5. Persentase terapi pasien kanker payudara di RSUP Dr. Sardjito

Berdasarkan standar pelayanan medis RSUP Dr. Sardjito tahun 2000,

terapi yang diberikan pada pasien kanker payudara adalah operasi, kemoterapi,

radiasi serta kombinasi terapi yang dilakukan berdasarkan stadiumnya. Data

tersebut menunjukan bahwa terapi yang paling banyak diterima oleh pasien

kanker payudara di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005 adalah kombinasi

operasi dan kemoterapi. Hal ini sesuai dengan kondisi sebagian besar pasien

dimana pasien sudah berada di stadium lanjut. Operasi dilakukan guna

mengangkat tumor yang ada, sedangkan kemoterapi ditujukan guna menghambat

metastasis dengan cara mengendalikan dan mengurangi jumlah sel kanker pada

jaringan. Untuk stadium lanjut non-operable, termasuk stadium IV yang banyak

diderita oleh pasien kanker payudara di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta,

pengobatan yang diberikan adalah dengan kemoterapi, radiasi, dan pemberian

obat-obat hormonal.

4. Jumlah penyakit penyerta pada pasien kanker payudara

Pada data rekam medik, ditemukan ada penyakit penyerta lain selain

kanker payudara pada pasien kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP Dr.

Sardjito Yogyakarta tahun 2005. Penyakit penyerta dalam kasus kanker payudara

pasca kemoterapi ini sudah diderita pada saat pasien masuk rumah sakit. Oleh

karena itu berpengaruh pula pada terapi obat yang akan diterima pasien yaitu

pasien memerlukan obat lain selain agen kemoterapi. Jumlah dan jenis penyakit

penyerta yang diderita oleh pasien kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP

Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005 dapat dilihat pada tabel 8.

Tabel IX. Jumlah dan jenis penyakit penyerta pasien kanker payudara pasca

kemoterapi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005

No Jenis penyakit Jumlah

1 Otitis media krobik benigna 1

2 Sepsis 1

3 Hipertensi 7

4 Diabetes 1

5 Asma presisten ringan 1

6 Dislipidemia 1

7 Hiperglikemi 1

8 AMI 1

B. Profil Obat-obatan yang Digunakan dalam Kasus Kanker Payudara

Pasca Kemoterapi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2005

Berdasarkan data yang diperoleh dari rekam medis, obat-obatan yang

digunakan pada kasus kanker payudara pasca kemoterapi tidak hanya obat

sitotoksik namun juga menggunakan obat-obat lain yang mendukung untuk

pengobatan pasien. Obat-obat tersebut biasanya diberikan kepada pasien untuk

mengatasi efek samping kemoterapi, mengatasi penyakit penyerta pasien, serta

sediaan-sediaan lain yang berfungsi meningkatkan kualitas hidup pasien kanker

payudara. Pada penelitian ini ditemukan ada 14 kelas terapi obat dalam kasus

kanker payudara pasca kemoterapi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005,

yaitu obat susunan saraf, obat kardiovaskuler, obat saluran nafas, obat saluran

cerna, obat ginjal dan saluran kemih, cairan untuk keseimbangan air elektrolit,

dialisis dan nutrisi, anti diabetik, vitamin, mineral dan metabolitropikum, anti

infeksi, imunosupresan dan imunomodulator, anti neoplastik, obat yang

mempengaruhi darah, anti emetik dan sediaan tambahan. Persentase kelas terapi

obat dihitung berdasarkan pasien yang menerima kelas terapi obat tertentu dibagi

jumlah seluruh pasien yang diteliti (72 pasien) kemudian dikalikan 100%.

34.7

19.4

5.5

48.6

1 4 3

63.8

26.3

11

100

12.5

65.3

13.8

0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

(%)

1

GOLONGAN OBAT

KELAS TERAPI Obat susunan saraf

obat kardiovaskuler

obat saluran nafas

obat saluran cerna

obat ginjal dan saluran kemih

cairan untuk keseimbangan air

elektrolit, dialisis dan nutrisi

antidiabetik

vitamin, mineral, dan

metabolitropikum

anti infeksi

imunosupresan dan imunodulator

antineoplastik

obat yang mempengaruhi darah

anti emetik

sediaan tambahan

Gambar 6. Persentase Kelas Terapi Obat yang Digunakan dalam Pengobatan

Kanker Payudara di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2005

Obat antineoplastik digunakan sebanyak 100% atau untuk semua pasien

kanker payudara pasca kemoterapi, karena menurut protokol kemoterapi RSUP

Dr. Sardjito obat antineoplastik digunakan dalam setiap kemoterapi kanker

payudara. Urutan kedua terbanyak dalam penggunaan obat pada kasus kanker

payudara pasca kemoterapi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005 adalah

antiemetik (65.3%). Antiemetik digunakan sesuai dengan protokol kemoterapi

RSUP Dr. Sardjito untuk mencegah efek samping mual-muntah pasca kemoterapi.

Golongan dan jenis obat yang digunakan dalam pengobatan pasien kanker

payudara pasca kemoterapi dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Obat Susunan Saraf

Golongan obat yang bekerja pada susunan saraf pusat yang biasa

digunakan dalam penelitian ini antara lain analgetik-antipiretik, analgetik narkotik

dan hipnotika sedatif.

Tabel X. Golongan dan jenis obat susunan saraf pada pasien kanker payudara di

RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005

No Golongan obat Jenis obat Jumlah

kasus

Persentase

(%)

1 Analgetik-Antipiretik Asam mefenamat

Parasetamol

Sistenol

®

Tramadol

3

2

7

3

4

3

10

4

2 Antiinflamasi non steroid,

antipirai

Alopurinol

Ibuprofen

Na Diklofenak

Ketoprofen

Nimesulid

1

1

1

3

2

1

1

1

4

3

3 Analgetik narkotik Fentanil

Garam morfin

1

6

1

8

4 Anestetik lokal Lidokain HCl 1 1

5 Anestetik umum Isofluoran 1 1

6 Induksi anestesi Natrium tiopental 3 4

7 Anti ansietas & anti insomnia Alprazolam

Zolpidem tartat

1

1

1

1

8 Hipnotika sedatif dan lain-lain Diazepam 4 5,5

Analgetik-antipiretik dan analgetik narkotik diberikan pada pasien

kanker payudara untuk mengatasi nyeri akibat kanker, demam dan sakit kepala.

Pemakaian golongan obat hipnotik sedatif yaitu diazepam (4 kasus) perlu

diperhatikan dosis dan jadwal pemberian karena diazepam termasuk golongan

psikotropik dan bersifat adiktif. Golongan obat anti inflamasi non steroid (AINS)

merupakan analgesik dan anti inflamasi yang efektif namun belum dimanfaatkan

secara semestinya dalam penatalaksanaan nyeri kanker. Obat ini dapat segera

meredakan nyeri akibat metastasis ke tulang dimana pemberian morfin saja tidak

dapat membantu. Namun obat golongan ini mempunyai banyak efek samping

diantaranya rasa tidak nyaman pada saluran cerna, mual, reaksi hipersensitivitas,

gagal ginjal. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bahwa AINS yang berisiko lebih

rendah harus lebih diutamakan pemakaiannya.

2. Obat kardiovaskuler

Obat kardiovaskuler diberikan pada pasien kanker payudara dengan

riwayat hipertensi. Obat kardiovaskuler merupakan kelompok obat yang

mempengaruhi dan memperbaiki sistem kardiovaskular baik secara langsung

maupun tidak langsung.

Golongan obat yang paling banyak digunakan adalah golongan ACE

inhibitor yaitu kaptopril sebanyak 5 kasus atau 7%. ACE inhibitor bekerja dengan

cara menghambat pembentukan angiotensin I menjadi angiotensin II. Menurut

IONI 2000, obat ini efektif dan pada umumnya dapat ditoleransi dengan baik.

Selain itu golongan diuretik juga banyak digunakan yaitu sebanyak 5,5%

masing-masing untuk hidroklorotiasid dan furosemid.

Tabel XI. Golongan dan jenis obat kardiovaskuler pada pasien kanker payudara

di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2005

No Golongan obat Jenis obat Jumlah

kasus

Persentase

(%)

1 ACE inhibitor Kaptopril

Lisinopil

5

1

7

1

2 Angiotensin Reseptor Bloker Irbesartan 1 1

Dokumen terkait