BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Kanker Payudara 7. Stadium Klasifikasi kanker payudara menurut American Joint Committee on Cancer menggunakan sistem klasifikasi TNM yaitu ukuran tumor (T/Tumor size), kelenjar getah bening (N/ palpable nodes) dan metastasis (M) (Anonim, 2004b). Tabel I. Klasifikasi kanker payudara berdasarkan TNM Tumor Primer Tx Kebut. Min untuk menilai tumor primer tidak ditemukan To Tanpa bukti tumor primer Tis T1 Carcinoma insitu Diameter tumor terbesar ≤ 2 cm Tmic Diameter tumor terbesar ≤ 0,1 cm T1a Diameter tumor terbesar > 0,1 cm dan ≤ 0,5 cm T1b Diameter tumor terbesar > 0,5 cm dan ≤ 1 cm T1c Diameter tumor terbesar > 1 cm dan ≤ 2 cm T2 Diameter tumor terbesar > 2 cm dan ≤ 5 cm T3 Diameter tumor terbesar > 5 T4 Tumor dengan perluasan langsung ke dinding dada atau kulit T4a Fiksasi ke dinding dada T4b Peau d’orange, ulserasi kulit atau nodul satelit T4c T4a dan T4b T4d Inflammatory carcinoma Status limfonodi Nx Kebut. Min untuk menilai kel. regional tidak dapat ditemui No Tidak ada metastase ke Inn. axillaris ipsilateral N1 Metastase ke Inn. axillaris ipsilateral yang masih mobil N2 Metastase ke Inn. axillaris ipsilateral yang sudah fixed N3 Metastase ke Inn supraclavicularis atau infraclavicularis ipsilateral atau edema lengan Metastase jauh Mx Kebut, min untuk menilai metastase tidak ditemui Mo Tidak ada bukti metastase jauh Tabel II. Stadium klinis kanker payudara Stadium T N M 0 Tis No Mo I T1 No Mo IIA To T1 T2 N1 N1 No Mo Mo Mo IIB T2 T3 N1 No Mo Mo IIIA To T1 T2 T3 N2 N2 N2 N1,N2 Mo Mo Mo Mo IIIB T4 Setiap T Setiap N N3 Mo Mo IV Setiap T Setiap N M1 Stadium klinis kanker payudara dapat ditentukan setelah dilakukan pemeriksaan fisik untuk melihat ukuran tumor, melihat riwayat medis, dan mamografi bilateral. Semakin tinggi stadium yang diderita pasien maka keberhasilan kesembuhan akan semakin kecil. Menurut Jardines, et al tahun 2001, angka ketahanan hidup untuk 8 tahun penderita kanker payudara berdasarkan stadium klinis dapat dilihat pada tabel III. Tabel III. Angka ketahanan hidup 8 tahun berdasarkan stadium klinis Stadium Angka ketahanan hidup 8 tahun (%) I 90 II 70 III 40 IV 10 8. Terapi a. Tujuan Terapi kanker payudara ditujukan guna terapi kuratif dan paliatif. Terapi kuratif ialah tindakan untuk menyembuhkan penderita, umumnya untuk sebagian kanker pada stadium dini, operable, kemosensitif dan radiosensitif. Terapi paliatif ialah semua tindakan aktif guna meringankan beban penderita kanker terutama bagi yang tidak mungkin disembuhkan lagi. b. Sasaran Pengobatan kanker dilakukan dengan membunuh sel-sel kanker dengan obat-obat sitostatika yang menghambat perkembangan dan pertumbuhan sel sehingga sel-sel kanker tersebut mati. c. Strategi Terapi Pendekatan terapi berdasarkan stadiumnya yaitu sebagai berikut: 1) Stadium dini/ operable (stadium I, II, IIIA) Pada stadium ini ada tiga pilihan terapi yang dapat dilakukan yaitu operasi, radiasi dan adjuvan terapi. Operasi dapat dikategorikan menjadi dua yaitu mastektomi radikal modifikasi dan Breast Conversing Treatment (BCT). Radiasi dilakukan untuk mencegah kekambuhan dan dikerjakan apabila radikalitas diragukan (pada tumor bed dan KGB Regional). Adjuvan terapi diberikan kemoterapi 6 siklus (CMF) atau hormonal terapi tergantung status menstruasi, diberikan jika KGB aksilla positif. 2) Stadium lanjut (stadium IIIB dan IV) Terapi untuk stadium IIIB dengan kemoterapi 3-4 siklus kalau mungkin (simple mastectomy atau mastektomi radikal modifikasi). Kalau tidak mungkin dioperasi dapat dilakukan kemoterapi, radiasi dan hormonal. Radiasi berupa loko regional. Kemoterapi yang dilakukan adalah kuratif 12 siklus (CAF/CEF). Hormonal yang diberikan tergantung pemeriksaan reseptor estrogen (ER). a). Pre menopause : ooforektomi bilateral. Jika respon (+) tunggu relaps kemudian diberikan tamoksifen atau lainnya. Jika (-) kemoterapi CMF/CAF b). 1-2 tahun menopause : diperiksa efek estrogen. Jika efek (+) sesuai dengan yang diatas yaitu diberikan tamoksifen atau lainnya. Jika (-) diberikan obat-obatan hormonal aditif/inhibitif. c). Post menopause : obat-obatan hormonal aditif/inhibitif. Apabila gagal diberikan kemoterapi. Kemoterapi diberikan apabila keadaan umum memungkinkan (CAF/CEF) 3) Keadaan khusus a). Metastase otak, jika penderita simptomatik, diberikan radiasi otak total dengan kombinasi kortikosteroid. b). Karsinomatosis meningeal, pilihan terapi adalah instilasi MTX intratekal berulang. c). Kompresi medula spinalis, laminektomi dilanjutkan radiasi. d). Hiperkalsemia, karena destruksi tulang bisa spontan atau akibat hormonal terapi. e). Anemia myeloptisik, pada penderita post-menopause, reseptor estrogen positif harus dicoba hormonal terapi. Penderita lain memerlukan kombinasi kemoterapi atau perawatan suportif lain. f). Metastase terlokalisir, diberikan radioterapi likoregional. g). Rasa sakit karena metastase tulang, bila hormon atau kemoterapi tidak cepat, radioterapi sangat efektif. h). Fraktur yang mengancam biasanya dikerjakan fiksasi bedah dengan radioterapi. i). Terapi kanker payudara dengan kehamilan memerlukan konsultasi khusus (Anonim, 2006c) 9. Faktor Prognostik Pengetahuan mengenai faktor prognostik turut menentukan kelompok pasien yang bisa ikut dalam satu penelitian, memilih di antara beberapa kemungkinan cara terapi, respons pasien terhadap pengobatan, dan mengevaluasi hasil. Faktor prognostik ini antara lain klinis/epidemiologik/demografik misalnya usia, ras, status haid; anatomis misalnya ukuran tumor, kelenjar getah bening yang terkena, metastatis; hormonal misalnya reseptor estrogen dan progesteron (Anonim, 2003a). B. Kemoterapi Salah satu pengobatan kanker payudara yaitu dengan kemoterapi. Tujuan dari kemoterapi adalah mengendalikan dan mengurangi jumlah sel kanker. Kemoterapi dilakukan dengan obat sitotoksik yang akan merusak DNA atau bertindak sebagai inhibitor umum pada pembelahan sel. Kemoterapi dapat dilakukan secara tunggal maupun kombinasi (Prayogo, 2003). Pemberian obat kemoterapi tidak sama dengan pemberian obat lain. Obat- obat kemoterapi merupakan toksik untuk semua sel sehingga selain membunuh sel-sel kanker juga mengganggu sel normal. Mekanisme kerja obat antikanker pada umumnya berdasarkan atas gangguan pada salah satu proses sel yang normal, karena tidak ada perbedaan kualitatif antara sel kanker dengan sel normal maka semua antikanker bersifat mengganggu sel normal (sitotoksik). Mekanisme beberapa obat antikanker tersebut adalah: 1. alkilator, mekanisme kerjanya dengan memindahkan gugus alkil ke bagian-bagian sel tumor. Alkilasi DNA diduga merupakan interaksi utama yang dapat membunuh sel tumor. 2. antimetabolit, anti purin dan anti pirimidin mengambil tempat dari purin dan pirimidin dalam pembentukan nukleosida, sehingga mengganggu berbagai reaksi penting dalam tubuh. Metabolisme purin dan pirimidin lebih tinggi pada sel kanker daripada sel normal sehingga penghambatan sintesis DNA sel kanker oleh obat ini lebih kuat dibanding terhadap sel normal. Contoh dari obat golongan ini adalah metotreksat, antagonis purin (6-thiopurin, fludarabin fosfat, kladribin), antagonis pirimidin (fluororasiol, sitarabin, azatidin). 3. antibiotik antikanker, golongan obat ini terikat pada DNA dan menghambat sintesis RNA dan DNA menyebabkan rantai DNA terputus dan mengganggu replikasi sel. Contoh dari golongan obat ini adalah antrasiklin, daktinomisin, plikamisin, mitomisin dan bleomisin. 4. alkaloid tanaman, contoh dari obat ini adalah vinblastin dan vinkristin. Mekanisme kerja vinblastin meliputi depolimerisasi mikrotubulus yang merupakan bagian penting untuk rangka sel dan spindle mitotic. Mekanisme kerja vinkristin identik dengan vinblastin. Vinkristin dikatakan juga merupakan racun spindel yang menyebabkan terhentinya siklus mitotik. 5. obat hormon, hubungan antara hormon dan tumor tergantung yang pada hormon dijelaskan pertama kali tahun 1896 oleh Beaston dimana ovariektomi akan memperbaiki pasien kayudara yang sudah lanjut. Sekarang ini hormon kelamin dan hormon adrenokortikal dipakai untuk mengobati berbagai neoplasma. Karena hormon kelamin memacu dan mengatur proliferasi dan fungsi jaringan tertentu termasuk kelenjar payudara dan prostat, kanker yang timbul dari jaringan ini dapat dihambat atau dipacu dengan perubahan kesetimbangan hormon yang sesuai. Beberapa hormon ynag dipakai sebagai antikanker adalah hormon steroid, agonis gonadotropin-releasing hormone, inhibitor aromatase, dan inhibitor estrogen (Nafrialdi dan Sulistia, 1995). Pengobatan kemoterapi ada 4 jenis yaitu: 1. Pengobatan induksi Untuk terapi primer tumor-tumor non solid atau kasus lanjut karena tidak ada pilihan yang lain. Disebut juga pengobatan penyelamatan (salvage). 2. Kemoterapi adjuvan Pengobatan tumor primer dikontrol dengan cara lain (bedah atau radiasi) tetapi diyakini masih ada sisa sel-sel kanker yang sukar dideteksi sehingga diperlukan tambahan kemoterapi. 3. Kemoterapi primer Pengobatan kemoterapi diberikan terlebih dahulu sebelum pengobatan yang lain (bedah atau radiasi). 4. Kemoterapi neoadjuvan Pengobatan kemoterapi diberikan lebih dulu setelah itu pengobatan lain (bedah atau radiasi) dilanjutkan kemoterapi lagi (Sutarni, 2003). Efek samping akibat kemoterapi diakibatkan oleh efek non-spesifik dari obat sitotoksik yang menghambat proliferasi tidak hanya sel tumor tetapi juga sel-sel normal. Konsekuensinya, efek samping paling sering dapat dilihat pada jaringan dengan aktivitas proliferasi tinggi yaitu sumsum tulang, epitel traktus gastrointestinalis dan folikel rambut. (Anonim, 2003a). Manifestasi klinik dari kerusakan sel-sel tubuh yang normal akibat obat kemoterapi adalah mual-muntah, diare, stomatitis, rambut rontok, perubahan status hematologi dan beberapa efek samping lainnya yang dapat mempengaruhi pasien serta terapi yang akan diberikan. Umumnya efek samping kemoterapi dibagi menjadi: 1. Efek samping yang segera terjadi (immediate side effects) yang timbul dalam 24 jam pertama, misalnya mual-muntah. 2. Efek samping yang awal terjadi (early side effects) yang timbul dalam beberapa hari sampai minggu kemudian, misalnya netropenia dan stomatitis. 3. Efek samping yang terjadi belakangan (delayed side effects) yang timbul dalam beberapa minggu sampai bulan, misalnya neuropati perifer, nefropati. 4. Efek samping yang terjadi kemudian (late side effects) yang timbul beberapa Intensitas efek samping tergantung dari karakteristik obat, dosis pada setiap pemberian maupun dosis kumulatif, selain itu setiap pasien dapat mengalami efek samping berbeda walaupun dengan dosis dan obat yang sama (Sutarni, 2003). C. Mual-muntah 1. Definisi Mual adalah perasaan tidak enak atau sakit pada perut, serta perasaan ingin muntah. Mual sering kali diikuti dengan muntah. Muntah yaitu pengosongan perut secara paksa melalui mulut. Gelombang rasa muntah berasal dari area epigastrium, tenggorokan belakang, dan seluruh abdomen. Muntah ini dilanjutkan dengan takikardi, bradikardi, hipotensi, lemah, pusing, pucat, dan nafas cepat (Anonim, 2006a). Obat-obat sitotoksik dibagi dalam empat kelas berdasarkan potensinya mengakibatkan mual-muntah (Anonim, 2002). Tabel IV. Obat-obat sitotoksik yang potensial menyebabkan mual-muntah dan frekuensi kejadian mual-muntah Kelas Frekuensi kejadian mual-muntah Obat sitotoksik I (minimal) Kurang dari 10% Bleomisin Busulfan Fludarabina Melfalan Vinblastin II (rendah) 10%-30% Fluorourasil Kapesitabina Mitomisin Paklitaksel Topotekan III (sedang) 30%-90% Daunorubisin Doksorubisin Epirubisin Ifosfamid Oksaliplatin IV (tinggi) Lebih dari 90% Carmustin Dakarbasin Prokarbasin Siklofosfamid Sisplastin Obat-obat sitotoksik dapat mengakibatkan mual-muntah, hal ini karena kerja dari obat tersebut yang menghambat proliferasi tidak hanya sel tumor tetapi juga sel-sel normal termasuk sel epitel traktus gastrointestinalis serta akibat adanya rangsangan langsung dari Chemoreseptor Trigger Zone (Anonim, 2002). Dalam dokumen EVALUASI PENATALAKSANAAN MUAL-MUNTAH PASCA KEMOTERAPI PADA PASIEN KANKER PAYUDARA DI RSUP DOKTER SARDJITO YOGYAKARTA PADA TAHUN 2005 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) Program Studi Ilmu Farmasi (Halaman 30-39)