• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dua Cara Berada:être-en-soi dan être-pour-soi

LATAR BELAKANG PEMIKIRAN JEAN PAUL SARTRE

B. Pemikiran dalam Ada dan ketiadaan

1. Dua Cara Berada:être-en-soi dan être-pour-soi

Sartre mengistilahkan être-en-soi (being itself Ada pada dirinya) merupakan sebuah kesadaran yang terdapat pada Ada-nya fenomena-fenomena atau Ada begitu saja untuk menunjukkan Ada. être-en-soi identik dengan dirinya sendiri, être-en-soi tidak aktif, tidak pasif, tidak afirmatif, tidak negatif, hal-hal tersebut dapat memiliki makna pada saat di kaitkan dengan manusia. être-en-soi tidak mempunyai masa silam, masa depan, ataupu tidak mempunyai kemungkin dan tujuan. être-en-soi muncul begitu saja, tanpa fundamen, tanpa diciptakan, tanpa diturunkan dari suatu yang lain. Kesadaran tidak dapat dipisahkan dari dunia, kesadaran tidak dapat kita samakan dengan benda.14 Yang di maksud être-en-soi semacam berada an-sich, berada dalam dirinya, berada itu sendiri. Filsafat mengacu pada sebuah realitas yang ada, sebab realitas yang ada itu yang kita hadapi, kita tangkap, kita mengerti. Ada banyak yang berada seperi pohon-pohon, manusia dan binatang, seluruhnya itu

12T.Z. Lavine, Sartre Filsafat Eksistensialisme Humanis, h. 53-54.

13Save M. Dagun. Filsafat Eksistensialisme., h. 98-99.

14K. Bertens, Sejarah filsafat kontemporer perancis,h. 91-92.

39

berbeda-beda, banyak ragamnya, akan tetapi semuanya itu ada atau berada. Berada mewujudkan ciri segala benda jasmaniah, segala materi. Semua benda ada dalam diri atau ada dalam dirinya sendiri. Tidak alasan atau dasar mengapa benda-benda itu berada begitu saja. Semuanya yang dikatan padat, beku, tertutup, yang satu lepas dari pada yang lain, tanpa saling berhubungan. Être-en-soi mengikuti prinsip identitas, benda-benda tidak mempunya hubungan dengan keberadaan.15

Être-en-soi atau Being-in-itself (ada dalam dirinya) merupakan ada manusia atau kesadaran yang tidak stabil. Dapat di cirikan oleh tiadanya sebuah struktur yang menentukan terhadap keterbukaannya pada masa depan dan juga sebuah potensi. Semua benda itu ada pada dirinya sendiri tersebt tidak mempunyai alasan atau dasar mengapa benda-benda berada begitu saja. Prinsif être-en-soi mentaati prinsif identitas. Dalam arti benda itu tidak mempunyai hubugan dengan keberadaannya. kita tidak dapat mengatakan, bahwa suatu benda itu dapat bertanggung jawab atas fakta bahwa ia adalah benda, bahwa ia warna demikian dan sebagainya. Seandainya sesuatu itu terdapat perkembangan, seperti dari benih, berkembang menjadi besar, bila demikian perkembangan itu disebabkan oleh suatu hal yang telah ditentukan. Perubahan-perubahan itu merupakan perubahan-perubahan yang kaku. Menurut Sartre cara berada dalam diri sendirinya sendiri disebut sebagai Sartre dengan istilah nauseant. Benda-benda itu kita lihat sebagai de-facto demikian, seperti adanya tanpa alasan hal apapun, lepas dari segala arti yang kita berikan kepadanya dalam kehidup sehari-hari, akan tampak sangat memuakkan.

Sartre mengistilahkan être-en-soi menunjukan eksistensi di dalamnya seseorang yang bertindak sebagai sesuatu yang ada begitu saja, tanpa menyadari pilihannya otentik, bebas terbuka bagi segala tindakan seseorang. Kualitas yang ada pada dirinya sendiri adalah miliki semua benda dan manusia sejauh mereka bertindak sebagai obyek yang diam.16

Meskipun ada dua wilayah keberadaan eksistensi dan kesadaran, “keberadaan”

mengacu di dalam bagian ini yang dimana kebaradaan itu sendiri menyadari ada didalam dirinya sendiri. Sartre mencatat ada dua poin penting.

15Harun Hadiwijono, Sari sejarah filsafat Barat 2, h. 157-158.

16Save M. Dagun. Filsafat Eksistensialisme, h. 100-102.

40

1. Pada gambaran sekarang keberadaan digambarkan hanya dengan keberadaan penomena, atau ada dalam dirinya (Being in-itself) dan digambarkan secara radikal dengan dibedakannya keberadaan kesadaran atau ada dalam dirinya.

2. Sebenarnya ada dua dunia yang menghubungkan: keberadaan penomena dan keberadaan kesadaran.

Meskipun seharusnya kami mencoba setiap lembar, bahwa kebenaran sejati akan dipahami hanya pada saat hubungannya yang lain akan terungkap. Kami telah mengesampingkan keduanya solusi realistis dan idealis terhadap hubungan ini. Pertama beberapa interpretasi realistis, yang mana diklaim bahwasanya eksistensi bertindak atas penyebab ide di dalam kesadaran, telah dikeluarkan oleh analisis dari keseluruhan sikap spontanitas kesadaran tersebut. Kedua, posisi idealis yang mana diklaim dengan tingkat yang besar atau kecil, bahwasanya kritik pengetahuan mendahului suatu studi terkait keberadaan, telah dikesampingkan dengan menunjukkan bahwa keberadaan tidak memiliki makna. (khususnya, pada idealisme Berkeley dan Husserl yang telah menunjukan kesalahan dengan memperlihatkan kehadiran unsur sebuah objek fenomena).

Selanjutnya, sebuah pemeriksaan intensionalitas kesadaran yang telah memperlihatkan ketidaksesuaian keduanya pada posisi realistis dan idealis.17

Posisi Sartre akan menjadi tidak dapat dipahami kecuali satu hal: walaupun kesadaran mengungkapkan adanya pertentangan mendasar yang diatasnya dia telah membangun ontologi yang bukan hanya sebuah kesadaran dan keberadaan melainkan perbedaan antara dua wilayah keberadaan, hanya salah satu yang dikarakteristikan sebagai sebuah hubungan erat dengan kesadaran. Sebenarnya ada dalam dirinya (Being in-itself) dan ada bagi dirinya (Being for-itself). Tetapi sejauh ini ada bagi dirinya (Being for-itself), ia memiliki hal yang sama seperti ada dalam dirinya (Being in-itself). Hal ini dapat dibedakan hanya dengan kehadiran itu sendiri dari sebuah aktivitas negasi yang aktif yang kita alami sebagai sebuah kesadaran. Jadi dua hal ini tidak dapat kita pisahkan kecuali secara abstrak, dan pada kenyataannya perbedaan antara ada dalam dirinya (Being in-itself) dan ada bagi dirinya (Being for-itself) masih kurang jelas dan menjadi

17Joseph S. Catalano, A Commentary on Jean-Paul Sartre‟s Being and Nothingness, (United States of America: University of Chicago Press Chicago and London, 1985), h. 42.

41

lebih rumit dari pada yang pertama kali muncul. Saya kira itu sangat tepat untuk mengatakan dengan jelas bahwa être-en-soi merupakan ketidaksadaran keberadaan.18

Pemisahan utama Sartre, yang menjadi sandaran besar perbedaannya, antara être-en-soi dan être-pour-soi. Adapun être-être-en-soi, Sartre memberi tiga karakterisasi semua dalam gayanya sendiri yang sangat samar. Seperti yang dia katakana: keberadaan adalah menjadi apa adanya, dan keberadaan adalah dalam dirinya sendiri. Tetapi ada poin dari setiap pernyataan tersebut. “menjadi” merupakan keberadaan dalam dirinya itu actual (bukan perlu). Ini tidak berasal dari kemungkinan atau direduksi menjadi kebutuhan.

“menjadi” adalah apa adanya, karena tidak merujuk pada suatu yang lain dengan cara apapun, segala sesuatu yang tentang itu adalah instrinsik untuk itu daripada memperoleh berdasarkan beberapa hubungan yang dengan disengaja oleh sesuatu yang lain. Apa yang dirujuknya atau apa yang merujuk padanya bukanlah bagian dari keberadan être-en-soi.

Dan menjadi être-en-soi, tidak bergantung pada apapun misalnya keberadaan kita itu bukannlah sebuah konstruksi pikiran kita, dan itu tidak perlu dianggap ada. Keberadaanya berada dalam dirinya sendiri, bukan dalam kaitannya dengan atau pada dasarnya tergantung pada sesuatu yang lain.19

Bagi Sartre être-pour-soi (being-for-itself; ada-bagi-dirinya) yang dimana menunjukan kesadaran. Être-pour-soi tidaklah seperti benda dan sangatlah berbeda dengan être-en-soi. Karena être-pour-soi memiliki dua cara berada, dua mode of being yang sama kali berbeda être-en-s,oi dan être-pour-soi. Yang satu tidak bisa diasalkan kepada yang lain. Terkait être-en-soi tidak banyak dikatakan. Sehingga praktis buku Sartre berbicara terkait kesadaran, dan manusia. Secara ontologi pemikiran praktis Sartre menjadi ilmu antropologi. Dalam être-pour-soi kita dapat kembali pada pemikiran Sartre mengenai kesadaran dirinya terhadap segala sesuatu. Kehadiran dirinya adalah konstitutif terhadap kesadaran. Maksudnya seperti perasaan senang, sedih, atau sebagainya hanya akan sadar pada dirinya, Sartre menyamakannya seperti benda yang tidak mungkin berada kecuali memiliki tiga dimensi. Suatu kesadaran yang tidak sadar atau suatu aktivitas psikis mustahil tidak sadar. Tapi perlu diperhatikan baik bahwa akan ditulis

18Cristina Howells, The Cambridge Companion to Sartre, (London: Cambridge University Press, 1992). h. 15.

19Ron McClamrock, Final Lecture on Sartre, https://www.al bany.edu/~ron/papers/Sartre.html, (tanggal 6 Agustus 2021), (15:30 Wib).

42

dalam tanda miring. Kehadiran pada dirinya sendiri yang mengkaitkan kesadaran itu bersifat non-tematis. Pertanyaanya apakah mungkin manusia tidak langsung sadar akan dirinya? Jawabannya. Kalau saya sadar akan sesuatu, itu berarti saya bukan sesuatu, itu bahwa saya tidak persi dengan sesuatu. Ketika saya melihat kopi diatas meja dan lukisan di dinding, berarti saya sadar saya bukanlah kopi dan lukisan. Untuk melihat sesuatu saya harus dapat memiliki sayarat, adanya jarak. Bila sesuatu itu dekat dengan mata, atau apapun yang identik dengan mata, sayapun tidak akan dapat melihat. Dari semuanya ini dapat disimpulkan bahwa negativitas merupakan ciri khas dari être-pour-soi. Diri manusia sanggup untuk menghubungkan relasi yang tidak ada. Terkait être-pour-soi harus dikatakan it is not what it is. Kesadaran merupakan jarak, distansi, non-identitas.

Menurut Sartre kesadaran sama persis dengan kebebasan.20

Penjelasan être-pour-soi atau “berada untuk diri” merupakan keberadaan dengan sadar akan dirinya, yang beradanya manusia. Être-pour-soi tidak mengikuti sebuah prinsip identitas seperti halnya dengan être-en-soi, manusia memiliki hubungan dengan keberadaanya, dan ia juga bertanggung jawab atas keberadaannya. Ia akan bertanggung jawab atas fakta realitas bahwa ia seorang pegawai, pedagang dan juga seorang pencuri.

Sartre membicarakan kesadaran merupakan sebuah reflektif, ada yang menyadari dan ada yang disadari, ada subyek dan obyek. Hal demikian tidak akan ada pada sebuah benda, oleh karena itu benda adalah padat, penuh dengan dirinya sendiri, tertutup bagi yang lain, tanpa hubungan dengan yang lain. Dapat dikatakan benda adalah buta, gelap. Benda hanyalah benda, hanya ada saja, lain tidak. Benda merupakan dia sendiri. Tidak seperti halnya dengan manusia. Pada manusia ada kesadaran, yaitu kesadaran yang refreksif dan yang prarefleksif. Dalam pandangan Sartre kesadaran kita bukanlah sebuah kesadaran dirinya (conscience de soi), melainkan kesadaran-diri (conscience de soi). Jikalau kita secara reflesif menginsafi cara kita mengarahkan diri kita kepada sebuah obyek (melihat, mendengar, merusak, dll), kesadaran kita diberi dengan kesadaran akan diri. Di dalam kesadaran akan diri ini selalu ada jarak akan kesadaran dan diri. Akan tetapi jarak ini sebenarnya terdapat juga pada sebuah kesadaran yang prareflektif. Jadi setiap kesadaran aka nada jarak. Jarak yag senantiasa ada ini oleh Sartre disebut le nêant (ketiadaan). Di

20K. Bertens, Sejarah filsafat kontemporer perancis, h. 93-94.

43

dalam kesadaran kita senantiasa ada ketiadaan, yang dapat membuat kita dari dalam diri sendiri menajdi untuk diri sendiri.21

Kesadaran tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, ada sesuatu yang dapat berdiri sendiri, yang disebut sebagai kesadaran. Karena kesadaran dapat ditemukan sebagai latar belakang segala sesuatu. Orang yang sadar adalah orang yang berbuat. Kesadaran sebagai sebuah bentuk kesadaran pada diri sendiri berarti ada jarak di antara aku dan diriku, yaitu kesadaran suatu jarak yang tidak ada ukurannya dan tidak dapat dijembatani. Kesadaran bukanlah être (berada) dalam arti sepenuhnya, yang telah ada lobangnya. Sebenernya kesadaran adalah être (berada) dalam arti sepenuhnya, maka kesadaran adalah padat, tertutup, penuh dan tidak dapat berubah terhadap orang lain.

Kesadaran bukan “berada” dalam arti yang sepenuhnya, melainkan “pengempasan ada”

atau pengurangan tekanan “ada”. Manusia merupakan “berada untuk diri”. Oleh karena itu manusia terbentuk karena “berada” itu meniadakan diri. Manusia sebagai manusia, sebagai être-pour-soi terdiri dari peniadaan. Être-pour-soi (being-for-itself) adalah ADA yang berkesadaran dan “kosong” sehingga banyak “celah” dalam dirinya untuk

“menjadi”. Kesadaran meniadakan. Peniadaan suatu hal yang tampil di dalam kesadaran diri. Peniadaan ini terus menerus. Hal ini menyebabkan manusia terus menerus tersebut. . Tiap perbuatan adalah peniadaan, dalam tiap perbuatan manusia berpindah, bergerak, meninggalkan yang semula menuju ketempat yang lain, meninggalkan tempat yang berpijak semula menuju ke apa yang ada di depannya.22